[KaiNa Piece] Deep Condolence

df8114d56cf65669d38af332df5e1235

© IMA 2018

Lee Hana — Kim Jongin

Please kindly read Lee Hana’s profile before read this story


May 7th, 2018

Seoul

Sibuk menyelesaikan tugas akhir, membuat Hana kesulitan untuk menemukan waktu senggang untuk sekedar bermain bersama teman-teman kampusnya. Ia lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan, toko buku, dan berselancar di internet untuk mencari literatur. Sebelum semester baru tiba, ia harus sudah lulus dan tidak membebani ibunya untuk membayar uang semester lagi. Ia benar-benar fokus menyelesaikan kuliah tepat waktu, tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain juga.

Mengenai hubungannya dengan Kai… Hana tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya. Banyak sekali yang ia pikirkan, termasuk bagaimana akhir dari hubungan mereka nanti jika mereka kembali bersama. Kai tentu akan memprioritaskan karir dan penggemarnya, belum lagi jika nanti ada skandal-skandal seperti kemarin. Setelah Kai meminta maaf hampir setahun yang lalu, Hana waktu itu akhirnya menghubungi lelaki itu untuk yang pertama kalinya. Hanya menjelaskan skandal yang pernah ada dan menyelesaikan masalah, namun tidak ada kata-kata mengarah ‘kembali berpacaran’. Hana yang menghindar tentu saja, ia tidak mau terikat hubungan yang sudah bisa dilihat jelas akhirnya akan seperti apa.

Lalu ia dan Kai tidak pernah saling menghubungi lagi.

Benar kata Yun Woo, pada akhirnya nanti mungkin hanya Hana yang akan tersakiti. Kai masih akan tetap bersinar dengan karir dan popularitasnya, sementara ia tetap akan menjadi gadis biasa. Lalu Kai akan hidup seperti tidak pernah mengenalnya, sementara ia setiap hari akan melihat lelaki itu di televisi dengan rasa hampa yang terus menggerogoti dari dalam. Memang itu konsekuensi yang harus ia terima sejak memutuskan untuk berpacaran dengan idol, namun ia lebih baik menghindar sebelum jatuh terlalu dalam dan mengancam karir lelaki itu ke depannya.

Hana merapikan bukunya ke dalam tas, pandangannya mengedar ke seluruh sudut perpustakaan kampus yang sudah sepi menjelang jam sembilan malam. Hanya ada dirinya dan seorang murid laki-laki yang duduk berjarak dua baris meja di depannya.

Melangkah meninggalkan perpustakaan, Hana –akhirnya mengecek ponsel setelah seharian ia tenggelamkan di dalam tas dalam mode silent agar tidak menganggu kegiatan belajarnya. Langkahnya di tengah anak tangga menuju lobi terhenti begitu melihat banyak sekali missed call dari Chanra maupun Jae Hee, serta beberapa nomor tidak dikenal yang tidak pernah disimpan olehnya. Kening Hana berkerut heran seraya membuka aplikasi chat –yang lagi-lagi dipenuhi oleh chat dari grup bersama Chanra dan Jae Hee yang selama hampir tiga bulan ini selalu sepi.

‘Hana! Angkat teleponnya!’

‘Lee Hana, ini serius!’

Hana melanjutkan langkahnya sambil menekan tanda panggilan di sebelah nama Jae Hee, hingga tidak butuh waktu lama bagi wanita itu untuk mengangkat teleponnya.

“YA! Kenapa seharian tidak bisa dihubungi?!”

“Ah, maaf eonni, aku seharian di perpustakaan jadi ponselnya di silent,” Hana membuka pintu keluar lobi depan, masih mendengar omelan Jae Hee –yang entah kenapa suaranya terdengar bergetar.

“Kau dimana sekarang?” tanya Jae Hee lagi, kali ini terdengar seperti mau menangis.

“Aku baru mau pulang, ini sedang jalan ke halte bus,” jawab Hana, masih tetap berjalan menyusuri halaman depan kampusnya yang sangat gelap dan hanya diterangi lampu-lampu taman.

“Kau naik taksi ke alamat yang aku share habis ini. Tolong ya Hana, aku mohon kau datang ke sini.”

“Memangnya kenapa, eonni?”

“Ayahnya Jong In….. Meninggal…. Hana-ya.”

Jantung Hana terasa seperti diremas dengan kuat hingga ia tidak sanggup melangkah lagi dan hanya terdiam di tempat. Seperti ada yang menghantam dadanya begitu keras sekali, kedua matanya terasa panas dan ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang.

“Jong In butuh support darimu juga. Kau mau datang kesini ‘kan?”

“I-iya, aku kesana sekarang.”

Hana menurunkan ponselnya, tanpa sadar kedua matanya berkaca-kaca dan ia segera berlari menuruni tangga menuju pedestrian. Ia memberhentikan taksi yang ia temukan, menunjukkan alamat yang diberikan Jae Hee dan menyuruh supir taksi itu membawa mobilnya secepat mungkin.

Kedua tangan Hana berkeringat dingin, dadanya terasa sesak karena menahan tangis, membayangkan situasi yang sedang dihadapi Kai saat itu. Mengingat bagaimana Kai selalu menceritakan ayahnya dengan mata berbinar, merasa bangga saat ayahnya menjadi pendukung terbesar dalam karirnya, dan satu-satunya tempat berbagi di keluarganya sebagai sesama laki-laki. Setelah ayahnya tiada, mungkin hanya Kai yang bisa diandalkan sebagai kepala keluarga untuk ibu dan kedua kakak perempuannya.

Begitu turun di lokasi yang di share Jae Hee, rumah duka tempat ayahnya Kai di semayamkan, Hana memperhatikan penampilannya sendiri. Memakai cardigan hitam dengan kaus putih di dalam dan celana jeans berwarna biru tua. Rasanya tidak pantas datang ke rumah duka seperti itu, namun ia tidak mau membuang waktu untuk sekedar berganti baju. Hana terpaksa merapatkan cardigan hitamnya, mengancingkan dari atas sampai bawah –agar sedikit tertutup lalu melangkah masuk ke gedung yang dipenuhi karangan bunga di depannya dan beberapa orang berpakaian hitam.

Berada di dalam dalam hall yang berisi beberapa ruangan, Hana mengikuti tiga orang laki-laki berpakaian hitam yang berjalan menuju ruangan yang ada di sudut. Tidak ada ruangan lain yang sedang berduka malam itu jadi ia berasumsi bahwa ketiga lelaki itu mau mengunjungi ayahnya Kai.

Langkah Hana terhenti di depan pintu masuk ruangan bertuliskan nama ayahnya Kai. Dadanya kembali terasa sesak, ia mengulum bibirnya sendiri sebelum membuka pintu geser itu dan menemukan beberapa orang ada di dalam ruangan itu. Berdiri di depan foto mendiang yang dihiasi banyak sekali bunga di sekelilingnya. Dari tempat berdirinya, ia melihat Kai dan keluarganya berdiri berderet memberikan salam pada tamu yang datang.

Ekspresi Kai terlihat terluka. Tidak menunjukkan kesedihan dan berusaha ramah pada tamu, namun ia jelas sekali melihat torehan luka yang dalam hanya dengan melihat sorot mata lelaki itu saja. Hana masih berdiri di dekat pintu ketika matanya bertemu pandang dengan lelaki itu hingga membuat dadanya terasa semakin sesak.

“Hana-ya.”

Jae Hee tiba-tiba mendekati entah dari mana, merangkul bahu Hana dan membantu gadis itu berjalan mendekati keluarga Kai.

Eonni. Aku tidak sempat ganti baju,” adu Hana, dengan suara bergetar dan kedua mata berkaca-kaca.

“Tidak apa-apa. Mereka pasti mengerti,” Jae Hee menyunggingkan senyum tipis, menepuk bahu Hana dan mundur selangkah menjauh dari Hana setelah berdiri di depan Kai.

Hana mengalihkan pandangannya, menatap kedua mata Kai yang terlihat sayu dan lelah. Entah sudah berapa lama mereka tidak bertemu, jantungnya masih saja berdetak menggila, namun terasa sesak di saat bersamaan. Ia merindukan Jong In-nya, namun tidak ingin bertemu di momen seperti itu. Ia tidak tahu harus melakukan apa, berdiri mematung dan bertukar pandang dengan laki-laki yang ternyata… Masih memberikan efek yang sama sejak enam tahun lalu. Berdebar.

Kkaman,” Hana menitikkan air matanya, tidak tahu harus bereaksi seperti apa karena ia turut merasa sedih saat membayangkan perasaan Kai saat itu. “Aku turut berduka cita.”

“Han-ah.”

Kata-kata yang membuat pertahanan Hana semakin runtuh. Hana kembali menitikkan air mata, berusaha untuk tidak terisak di hadapan keluarga Kai dan cepat-cepat menghapus jejaknya dari pipi.

“Aku turut berduka cita, eomeonim, eonni.

“Terima kasih.”

Sama halnya dengan Kai yang rasanya ingin memeluk Hana saat itu juga. Ia berusaha bersikap tegar, tidak ingin membuat kedua kakak perempuan dan ibunya khawatir, memberikan semangat pada mereka padahal ia juga merasa sangat terpukul. Beban berat semakin terasa di kedua bahunya, ditambah rasa sesak yang belum juga hilang sejak ia melihat ayahnya tidak sadarkan diri tadi siang. Ia ingin memeluk Hana, mengatakan bahwa ia tidak baik-baik saja dan butuh dukungan dari gadis itu.

“Jong In, kau bisa temani Hana sebentar,” sang kakak, Jung Ah, menyadari bahwa adiknya dan Hana tidak berhenti saling menatap sejak dua menit yang lalu. Tidak berbicara banyak dengan mulut, namun mereka seperti berbicara melalui tatapan.

Anhi, tidak apa-apa. Aku dengan Jae Hee eonni saja,” pamit Hana seraya membungkuk singkat lalu berdiri menghadap foto ayahnya Kai, membungkuk sembilan puluh derajat cukup lama sambil menyembunyikan tangisnya.

Hana menyeka kedua pipinya, lalu kembali berdiri, menatap pigura foto seorang laki-laki yang figur wajahnya mirip dengan Kai, lengkap dengan senyum ramah dan tatapan hangat. Senyum tipis Hana terukir, membalas senyum hangat milik ayahnya Kai untuk yang terakhir kali sebelum berbalik. Menghampiri Jae Hee dan Chanra yang duduk di lantai kayu dengan meja berisi makanan di depannya, ia melihat beberapa member EXO juga duduk di sana.

“Hana-ya,” Baekhyun yang pertama berdiri dan memberikan tempat duduknya –di sebelah Jae Hee pada Hana. Sementara gadis itu hanya menyunggingkan senyum tipis, mengusap punggung Baekhyun beberapa kali sebelum mengambil tempat lelaki itu.

“Kau pasti sangat kaget ya?” tanya Jae Hee seraya merangkul bahu kurus Hana dan menepuknya beberapa kali. “Aku panik tadi, jadi terdengar seperti marah-marah. Maaf ya.”

Gwenchana eonni. Aku yang tidak pegang ponsel dari pagi, wajar eonni marah-marah,” Hana kembali menyunggingkan senyum tipis lalu kembali menengok ke belakang, memperhatikan Kai yang berdiri dengan tatapan kosong sambil menyapa tamu yang bergiliran masuk.

Malam semakin larut, member EXO yang hadir harus kembali ke dorm untuk mengurus sesuatu dan akan kembali besok pagi, sementara Jae Hee dan Chanra juga harus pulang karena ada kelas pagi besoknya. Hana masih duduk di tempat yang sama, tidak menyentuh makanan, dan hanya memperhatikan Kai yang sejak ia datang tadi, tidak menitikkan air mata sedikit pun. Jelas sekali berusaha tegar di depan kakak dan ibunya, namun ia malah merasa semakin sesak.

Begitu tamu mulai sepi, Hana melihat keluarga Kai duduk di hadapan pigura foto dan memberikan penghormatan terakhir dengan bersujud berkali-kali di sana. Hati Hana terasa sakit lagi, ia seperti mengalami dejavu rasa sakit yang sama, ketika mendengar kabar dan hadir di pemakaman Jonghyun Desember lalu.

Hana bangkit dari duduknya begitu ibunya Kai menghampiri dan tiba-tiba saja memeluknya. Membuat tubuh Hana membeku, namun perlahan tapi pasti balas memeluk wanita paruh baya itu. “Terima kasih sudah mau support Jong In, Hana-ya.”

Anhi, tidak perlu berterima kasih, eomeonim,” tolak Hana halus seraya mengusap-usap punggung nyonya Kim yang masih sedikit terisak.

Nyonya Kim melepaskan pelukan itu, mengusap bahu Hana beberapa kali sebelum kembali menghampiri kedua anak perempuannya dan keluar dari ruangan itu. Menyisakan Kai dan Hana yang berdiri berhadapan dengan jarak empat meter, saling bertatapan lagi tanpa mengatakan apapun.

“Jong In.”

Kai menundukkan kepala dengan hembusan napas panjang, berusaha meredakan rasa sesak yang mengganjal di kerongkongannya. “Han-ah.”

Melihat Kai yang seperti mau ambruk sontak membuat Hana melangkah lebar mendekati lelaki itu. Tubuh semampai dan kurus yang dibalut setelan jas hitam itu terlihat bergetar, hingga terdengar suara isak tangis yang memenuhi ruangan sedetik kemudian.

Tanpa mengatakan apapun, Kai maju beberapa langkah dan memeluk tubuh Hana yang lebih pendek darinya. Menenggelamkan wajahnya pada bahu mungil gadis itu, menumpahkan semua rasa sesak yang ia tahan hampir seharian. Ia tidak sempat menangis lepas, terlalu sibuk mengurus semua prosesi pemakaman dan rumah duka. Ia tidak mau semakin menambah kesedihan kedua kakak perempuan dan ibunya, namun ia malah membuat dadanya terasa semakin sesak.

Hana juga tidak bisa mengelak, ia hanya bisa membalas pelukan itu dan mengusap punggung Kai berkali-kali. Tidak tahu harus mengatakan apa karena ia belum pernah ada di posisi Kai, kehilangan ayah yang selalu dijadikan tempat bersandar dalam masalah apapun. Ia tidak mengerti dan ia tidak akan mengatakan apapun.

Tidak menyuruh Kai menjadi tegar, karena semua orang pasti sudah mengatakannya.

Tidak menyuruh Kai berhenti menangis, karena lelaki itu sudah menahannya seharian.

Tidak juga menyuruh Kai melepaskan pelukan  mereka, karena hanya tempat bersandar yang bisa Hana berikan sekarang.

Hampir sepuluh menit berlalu, sudah tidak terdengar suara isak tangis dan hanya tersisa baju Hana yang basah karena air mata. Bahu Hana sudah terasa pegal dan kaku, namun ia rela jika Kai masih belum puas menangis di bahunya. Anggap saja menebus rasa bersalah atas semua sikap pengecutnya selama ini yang selalu menghindari lelaki itu.

Kai melepaskan pelukannya, masih memegangi kedua bahu Hana dan menatap kedua mata gadis itu –yang terlihat basah karena air mata. “Terima kasih, Han-ah.”

Kedua alis Hana bertaut. “Untuk apa?”

“Untuk semuanya,” Kai menghapus air matanya sendiri menggunakan ujung lengan jasnya. “ Dan karena masih ada di sisiku sampai sekarang.”

Kali ini Hana yang menangis, tidak sampai terisak dan tersedu-sedu. Hanya menitikkan air mata berkali-kali begitu sadar bahwa pertahanan yang ia buat selama ini runtuh begitu saja.

Hana tidak ingin status apapun, cukup berada dalam hidup lelaki itu saja sudah membuatnya bahagia. Tidak peduli jika ia yang tersakiti sendirian nanti. Ia lelah menjadi pengecut yang selalu melarikan diri. Mereka sekarang sudah dewasa, mengingat usia yang menginjak hampir seperempat abad dan pasti sudah semakin memahami kesibukan masing-masing. Ia hanya ingin mengikuti hatinya yang mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja selama ia dan Kai saling membutuhkan satu sama lain.

Ya, semua akan baik-baik saja.



Ima’s Note :

Randomly ngelanjutin cerita yang malem itu aku ketik pas tahu ayahnya Jongin meninggal. Ngebayangin kalau Hana beneran ada dan gimana caranya bisa support Jongin. Apalagi aku tahu rasanya kehilangan orang tua, berusaha tegar tapi sebenernya yang ngerasa paling terpukul.

Anggep aja Hana itu kalian, kita, EXO-L, yang selalu bisa dijadiin tempat bersandar buat Jongin. Semoga Jongin selalu bahagia♥

f3e467e11e473a35d93870e6287e9c80.jpg

Anyway, kalian kangen mereka ngga? Harus didebutin lagi kah cerita canon mereka? hehehe

Btw sekarang aku, ra, sama ka neez bikin project baru di wattpad. Kalian boleh sekali-kali main atau baca cerita kita, masih upcoming jadi follow aja buat notif cerita yang bakal di post.

https://www.wattpad.com/user/wonderlustoryby

Aku sayang kalian!!!

Warm regards,

IMA♥

Advertisements

8 thoughts on “[KaiNa Piece] Deep Condolence

  1. H2 (penunggu setia) says:

    Ima un tau ga betapa bahagianya aku pas liat di indaylee ada post baru?
    Aku nungguin banget lanjutan ini… Hiks
    Mana bahas pas ayahnya jong meninggal. Kan jadi ikut sedih aku tuuu 😢

  2. riana says:

    Ya Allah eonn..akhirnya dirimu apdet kembali setelah sekian lama gk muncul²..
    kangen tauk😖😖😟
    ak suka baper kalo baca kai hana..jd pliss eonn jgn berhenti utk nulis crita kaina.

  3. nadnad0111 says:

    Kaaaaaaak imaaaa 💛💛
    Thank you for come backk 💛💛💛
    Aku sayang banget sama canon kainaaa 😭😭
    Jangan bosen bosen buat cerita kaina ya kak, aku udah ngikutin dari sma sampe sekarang udah mau tamat kuliah 💛😭😭 segitu cintanya aku sama cerita kakak 💛

  4. Winnurma says:

    Kak imaaaa
    Happy bgt tau kaka update lagi.
    Lanjuttt kak, ga kerasa ngikutin ff ini dari jaman hana masih sekolah sampe skrg udh jd mahasiswa tingkat akhir.
    Selalu sukaa sama couple ini
    Ku tunggu karyamu selanjutnya kak
    Smgt!!!

  5. Dyndrakm says:

    Kak ima sumpah aku masih suka cek2 kaina secara berkala.. tp aku blm cek lagi beberapa bln ini.. tiba2 ada ini:((pls lanjutkannnnnnn.. kaina itu ff kai terbaik yg pernah ku baca sejauh ini(

  6. natasya says:

    aku baru buka hp dan nge cek situs ini. omg,akhirnya update. kangen banget deh sumpah sama kai hanna. jangan stop nulis kak,aku always support kk.
    ditunggu kelamjutannya.
    dan plis,jgn ada kesedihan lagi. aku kangen kai hana manis2an huhuhu

Leave a Reply to riana Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s