[KaiNa Piece] His 23rd Birthday

kaina his23.jpg

© IMA 2016

Kim Jongin — Lee Hana

Please kindly read Lee Hana’s profile before read this story

©INDAYLee’s staffs 2015

.

3 years ago I gave you a shirt and cap

2 years ago I gave you cake and my photos

1 year ago I gave you two coupons of everything and Be Natural dance

What do you want for your birthday this year?

.

.

Can we celebrate your birthday again next year?

[KaiNa Piece] His 23rd Birthday

January 12th, 2015

04.21 PM KST

Sehari setelah perjalanan pulang kembali ke Korea dari Singapore, Kai berniat untuk mengunjungi Hana di apartemennya. Namun ia mendapatkan jadwal mendadak untuk melakukan photoshoot majalah ELLE di pagi hari lalu melanjutkan latihan bersama member EXO untuk acara Seoul Music Awards dua hari lagi. Dan keinginannya untuk bertemu Hana harus kembali ditunda. Mungkin Kai bisa menunggu hingga jam tengah malam setelah selesai latihan untuk mengunjungi Hana, mengingat ia tidak lagi berada di satu gedung yang sama dengan gadis itu.

Latihan selama lebih dari tiga jam sudah dilakukan sambil menunggu Kyungsoo kembali dari movie screening film terbarunya. Beberapa member mengusulkan untuk memberi kue pada Kyungsoo di ruang latihan, namun sebagian besar menginginkan di dorm saja agar bisa langsung istirahat. Lagipula Kyungsoo masih beberapa jam lagi tiba di sana, dan mereka akan selesai latihan sebentar lagi. Jika merayakan di dorm, mungkin keinginannya untuk mengunjungi  Hana kembali ditunda.

Besok juga Kai harus latihan lagi.

Sementara di tanggal 14 yang bertepatan dengan hari ulang tahunnya, ia harus menghadiri acara Seoul Music Awards.

Entah Kai harus menunda sampai kapan.

“Hei, Jong In,” Kai yang baru saja menghempaskan tubuhnya ke sofa dikagetkan dengan panggilan tiba-tiba dari Baekhyun.

Mwo?” Kai meluruskan kakinya dengan punggung bersandar di sofa dan menatap langit-langit ruang latihan dengan napas terengah.

“Undang uri dongsaeng nanti malam. Kita rayakan ulang tahun Kyungsoo,” ucapan Baekhyun seolah membawa angin segar bagi Kai yang saat itu masih mencari jalan untuk bertemu Hana.

“Ah, matda! Kenapa aku tidak kepikiran?” Kai menepuk keningnya sendiri sambil mengangkat ibu jarinya ke arah Baekhyun. “Gomawo, hyung.”

“Chi, pasti kau mau kabur ke apartemen Hana tapi tidak tahu kapan ‘kan? Undang Nayeon dan Jae Hee juga sekalian,” Baekhyun menambahkan sambil beranjak dari lantai kayu ruang latihan dan menyangkutkan handuk kecil ke bahunya. “Aku mau ke kamar mandi sebentar.”

“Aku tidak punya kontak Nayeon. Kalian ada yang punya?” Kai tiba-tiba duduk bersemangat dengan ponsel di tangannya dan sudah bersiap-siap dengan kontak Hana di layar ponselnya.

“Err, Jongdae hyung sih harusnya punya,” ujar Sehun sambil melirik Chen yang sibuk dengan ponselnya di sudut ruang latihan. “Tapi tidak tahu sekarang setelah –kau-tahu-apa-yang-terjadi- pada Jongdae hyung. Nayeon ‘kan sedang perang dingin dengan Jongdae hyung.”

Ucapan penuh kode dari Sehun sontak membuat sang pemilik nama mengangkat kepala dan melirik sinis. “Jangan sok tahu, bocah. Nanti aku yang hubungi Nayeon.”

Senyum geli muncul di bibir Kai begitu melihat Sehun mencibir sambil membelakangi Chen, disusul suara tawa pelan dari Xiumin dan Chanyeol. Sementara Suho sudah sibuk dengan ponselnya sendiri –dan mungkin menghubungi kekasihnya untuk mengundang ke acara Kyungsoo nanti malam. Kai kemudian beranjak dari sofa dan melangkah keluar ruang latihan, ia berdiri sambil bersandar di koridor dengan ponsel yang menempel di telinga. Berusaha menghubungi Hana.

Begitu nada ketiga menyahut, ia mendengar suara parau Hana yang menjawab teleponnya.

‘Hmm?’ suara Hana hanya terdengar menggumam, tidak bersemangat menjawab teleponnya.

Chi, kau pasti sedang tidur, ya?” Kai memasukkan tangan kirinya yang bebas ke dalam saku celana trainingnya. Ia mendengar suara grasak-grusuk dari seberang sana, hingga terdengar suara Hana yang lebih jelas.

‘Sekarang bangun karena teleponmu, kkaman. Ada apa?’

“Nanti malam datang ke dorm, eoh? Kita mau buat pesta untuk Kyungsoo,” Kai mengusap bagian belakang lehernya sambil menunggu balasan dari Hana. Berharap gadis itu memiliki pikiran yang sama : Ingin bertemu dengannya.

‘Nanti malam eomma, Jiho oppa, dan Min Kyu oppa mau makan malam di sini. Eomma bilang…… dia mau bawa temannya makan malam di rumah,’ nada bicara Hana yang melambat di ujung kalimat membuat sebelah alis Kai terangkat. Tiba-tiba saja ia merasa ada yang tidak beres dari gadis itu.

Araseo, nanti aku beritahu mereka kalau kau tidak bisa datang,” Kai diam-diam menghela napas panjang, merasa sedikit frustasi karena keinginannya untuk bertemu Hana masih harus ditunda entah sampai kapan.

‘Ne, aku harus bereskan apartemen sekarang huhuw TT.TT Aku tutup dulu teleponnya, kkaman. Kkeutna.’

Kai hanya bergumam sebelum menurunkan ponsel dan memutus sambungan teleponnya dengan Hana. Setelah pertemuan mereka satu minggu lalu –dan mengungkapkan apa yang mengganjal dalam hubungan mereka setelah dua bulan lebih tak bertemu, Kai selalu berusaha untuk terus mengetahui keadaan Hana. Mereka sama-sama sepakat untuk memperbaiki diri dan Kai juga berusaha memperbaiki sifat ketidakpeduliannnya pada apapun itu agar menjadi sedikit lebih peduli. Setidaknya ia harus memulai perubahan sifatnya dari member EXO dan Hana.

***

07.35 PM KST

Sedikit terlambat dari jam makan malam yang seharusnya. Malam itu Jiho, Min Kyu, dan Hana menunggu kedatangan Ha Jung sambil menonton televisi bersama-sama di ruang tengah apartemen Hana. Kepala Hana bersandar pada bahu Min Kyu, sementara kaki ketiganya tergeletak di atas meja ruang tengah. Keripik kentang berukuran besar ada di pelukan Hana dan gadis itu bergantian menyuapkan potongan keripik pada mulut Min Kyu dan juga Jiho.

“Menurutmu eomonim mau bawa siapa?” tanya Min Kyu tiba-tiba, memecah keheningan ruang tengah.

Hana mengendikkan bahu. “Aku tidak mau menebak. Tidak biasanya eomma bawa teman ke rumah.”

“Apa mungkin eomma punya pacar baru?” tebakan Jiho sontak membuat Hana dan Min Kyu menoleh bersamaan ke arah laki-laki itu. “Memangnya salah? Aku ‘kan hanya menebak.”

“Jangan membuat moodku jelek, oppa,” Hana mengerucutkan bibir sambil menyandarkan kembali kepalanya pada bahu lebar Min Kyu.

Tiba-tiba saja rasa takut kembali menjalari Hana. Ia masih ingat dengan jelas rasa sakit yang dirasakan olehnya ketika mengetahui ayahnya sudah memiliki tunangan di LA sana. Ia bahkan melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana sang ayah menatap penuh cinta pada tunangannya. Dan Hana benci pengkhianatan, walaupun kedua orangtuanya sudah bercerai, ia tetap tidak suka dengan kehadiran orang baru.

“Ayo taruhan. Teman eomma nanti laki-laki atau perempuan,” Jiho menyikut Hana berkali-kali, menantang gadis itu agar menerima taruhannya. “Yang kalah harus memenuhi permintaan yang menang.”

“Laki-laki,” jawab Min Kyu seraya mengangkat tangannya yang bebas ke atas, ikut taruhan dengan Jiho tanpa menunggu persetujuan Hana.

“Perempuan,” jawab Hana, masih berusaha optimis dengan pikirannya.

“Laki-laki,” Jiho melemparkan senyum miring pada Min Kyu lalu melakukan high five dengan sahabatnya. Mereka akan mengalahkan Hana tentu saja.

Begitu suara click terdengar dari arah pintu depan, Hana cepat-cepat turun dari sofa dan berjalan cepat ke arah pintu depan. Ia melihat Ha Jung memasuki apartemen dengan beberapa tas plastik, yang langsung disambut Hana dan dibantu oleh gadis itu membawa tas-tas plastik berisi makanan itu ke atas meja.

“Dimana teman eomma?” tanya Jiho tak sabaran sambil mengintip ke arah pintu depan yang masih terbuka.

“Ah dia masih mengambil barang yang tertinggal di mobil,” Ha Jung menyunggingkan senyum sambil meletakkan tas kerjanya di atas kursi makan, sementara Hana saling melirik dengan Min Kyu dan Jiho.

“Min Kyu-ya, tolong kau tunggu di depan lift, eoh? Temanku tidak tahu nomor apartemennya,” Ha Jung sedikit berteriak dari dapur, dijawab Min Kyu dengan gumaman pelan dan langkah cepat keluar dari apartemen.

Tangan Hana mulai berkeringat dingin ketika ia menarik kursi makan di sebelah Jiho dan menunggu kedatangan teman ibunya. Ia melihat Ha Jung menaruh beberapa piring lauk –yang tadi dibawanya dari restoran cepat saji—ke atas meja makan. Wanita itu menyiapkan lima mangkuk nasi, lima gelas, dan lima pasang sumpit di atas meja yang diatur 3-2. Tiga mangkuk nasi di barisan Hana dan Jiho, serta dua mangkuk nasi di barisan Ha Jung.

Eomonim?” Min Kyu melangkah ragu ke dalam apartemen sambil menggaruk tengkuknya. “Apa teman eomonim laki-laki?”

Pertanyaan Min Kyu disusul kemunculan sosok laki-laki berstelan jas dari belakang tubuh lelaki itu, membuat Hana mengepalkan kedua tangannya secara tak sadar. Laki-laki paruh baya berusia tak jauh dari ibunya itu terlihat pas sekali memakai stelan jas, rambut hitam dengan aksen sedikit putih karena usia itu disisir rapi –namun tidak klimis—ke belakang, menampilkan keningnya yang tidak begitu lebar. Lelaki itu memiliki rahang yang tegas, bibir yang tipis, dan hidung mancung yang membuatnya terlihat semakin tampan –untuk seusianya.

Hana tanpa sadar meneguk  ludahnya begitu lelaki itu menyunggingkan senyum tipis sambil membungkukkan badan ke arahnya –dan Jiho.

Annyeonghaseyo, aku Baek Nam Hyuk, teman satu kantornya Ha Jung,” lelaki itu membungkuk dalam dan memperkenalkan diri dengan suara beratnya.

Dan Hana mendapati semburat merah yang samar-samar muncul di pipi Ha Jung. Seolah menandakan bahwa mereka bukan hanya sekedar teman. “Teman satu kantor?” tanya Hana memastikan sekali lagi.

Eoh, dia kepala divisi bagian produksi di perusahaan. Ah, silakan duduk, Nam Hyuk-ssi,” Ha Jung mempersilakan lelaki itu duduk di barisan yang memiliki dua mangkuk nasi, bersebelahan dengannya.

Sementara Hana, Jiho, dan Min Kyu duduk di baris yang sama dan diam-diam memperhatikan interaksi antara Ha Jung bersama lelaki bernama Nam Hyuk itu. Hana merutuk dalam hati ketika Jiho dan Min Kyu di kanan-kirinya membuat kerusuhan kaki di bawah meja, menendang-nendang kakinya dan mengingatkan bahwa ia kalah taruhan malam itu.  Dan Hana bersumpah bahwa ia melihat ibunya tersenyum malu ketika Nam Hyuk melakukan kontak mata lebih dari lima detik dengan wanita itu.

Membuat nafsu makan Hana menghilang seketika.

“Err, aku sudah kenyang, eomma. Apa aku boleh naik ke kamar?” tanya Hana seraya meletakkan sumpitnya ke atas meja.

Kening Ha Jung berkerut. “Kau belum menyentuh nasinya, Hana-ya. Memangnya kau sudah makan?”

“Aku sudah makan banyak keripik kentang tadi. Aku permisi ke kamar ya, eomma, ahjussi,” Hana bangkit dari kursi dan membungkuk singkat pada keduanya sebelum berjalan cepat memasuki kamarnya.

.

.

.

Hana tidak memedulikan ketukan pintu dari Ha Jung yang memintanya keluar ketika Nam Hyuk akan pulang.

Hana juga tidak bergeming ketika Jiho dan Min Kyu mengetuk pintu kamarnya secara tak sabar sambil berpamitan dan mengingatkannya tentang taruhan.

Bahkan ketika ponselnya terus berdering menandakan telepon masuk, Hana tetap tidak mau bergerak.

Karena Hana masih butuh waktu untuk dirinya sendiri.

***

January 13th, 2015

10.10 PM KST

Sudah lebih dari 24 jam sejak Hana terakhir kali membalas chatnya. Kai tidak tahu apa yang terjadi karena kemarin sore Hana masih terdengar baik-baik saja. Semalam Kai berusaha menghubungi, namun Hana tetap tidak mengangkat teleponnya. Jika itu bagian dari prank hari ulang tahunnya besok, mungkin Kai harusnya bersikap biasa saja. Namun entah kenapa ia merasa khawatir.

Setelah seharian menghabiskan waktu untuk latihan –lagi, Kai masih belum bisa beristirahat dengan tenang karena pikirannya masih dipenuhi Hana. Ia masih berusaha menelepon Hana dan mengirim chat tidak penting agar dibalas, namun Hana seperti menghilang ditelan bumi. Kai bersumpah jika Hana mengerjainya seperti tahun kemarin, gadis itu tidak akan selamat. Benar-benar akan habis di tangannya.

“Joonmyun hyung, Jae Hee noona dimana?” tanya Kai, masih duduk bermalas-malasan di sofa dan bertanya pada Joonmyun yang sedang mencari jus di dalam lemari es.

Molla,” jawab Joonmyun singkat, tidak menjawab pertanyaan Kai sama sekali.

“Apa aku boleh ke apartemen Hana malam ini?” tanya Kai seraya duduk tegak di sofa dan memperhatikan Sehun yang berbaring di sebelahnya sambil menonton televisi.

“Siapa yang mau mengantar? Manajer hyungdeul sudah pulang, sebagian lagi sudah pulang ke rumah,” protes Sehun seraya meluruskan kakinya ke atas meja dan menguap lebar  dengan mata tak lepas dari televisi.

“Naik taksi saja, boleh ‘kan hyung? Aku akan menginap di sana,” Kai setengah berteriak meminta persetujuan dari Joonmyun yang baru duduk di meja makan.

Joonmyun mengangkat kepalanya untuk membalas tatapan Kai –yang tertuju padanya dari arah ruang tengah. “Terserah. Besok pagi kita ambil rute lewat apartemen Hana untuk menjemputmu sebelum ke gedung SM.”

Joha! Gomawo, hyung!” Kai  beranjak dari sofa dan dengan langkah ringan memasuki kamar, berganti baju menjadi yang lebih layak, melapisi pakaiannya dengan hoodie dan jumper serta mengambil masker untuk menutupi wajah.

Perjalanan menuju apartemen Hana –di dalam taksi hanya diisi keheningan. Kai masih berusaha menghubungi Hana ketika –entah ke berapa kalinya tetap tidak diangkat dan diabaikan oleh gadis itu. Hembusan napas panjang keluar dari bibir Kai, ia mengetikkan banyak pesan pada Hana agar tidak menjahilinya seperti itu. Karena sungguh, Kai semakin merasa khawatir dengan keadaan gadisnya. Harusnya ia meminta nomor telepon Jiho pada Joonmyun agar bisa memiliki kontak orang lain yang dekat dengan Hana.

Begitu turun di basement gedung apartemen Hana –sekaligus dormnya yang lama, Kai dengan gelisah menunggu lift tiba di lantai basement. Ia memasuki lift yang langsung terbuka di basement dan menekan angka 8, menunggu dengan gelisah sambil melihat angka-angka yang bergantian menuju lantai apartemen kekasihnya. Ia menurunkan hoodie di kepalanya begitu keluar lift dan melangkah dengan kepala menunduk menyusuri  lorong menuju apartemen Hana.

“Oh, Jong In?” Kai yang bersiap menekan bel apartemen Hana dikejutkan dengan pintu apartemen yang tiba-tiba terbuka dan munculnya sosok ibunya Hana di sana.

Annyeonghaseyo,” Kai menurunkan maskernya dan membungkuk dalam pada Ha Jung. “Hana ada di dalam, eomonim?”

“Woah, aku bersyukur kau datang ke sini, Jong In. Hana tidak mau keluar kamar sejak kemarin malam,” ujar Ha Jung, membuat rasa khawatir Kai semakin menjadi.

“Kenapa, eomonim?” tanya Kai tidak mengerti.

Ha Jung mengendikkan bahu seraya melirik jam tangannya. “Kukira kalian sedang bertengkar, tapi sepertinya tidak. Aku harus pergi ke bandara sekarang, tolong titip Hana ya, Jong In.”

Kedua mata Kai memperhatikan Ha Jung yang melangkah keluar apartemen dengan tas jinjing sedang di tangan kiri, wanita itu menepuk bahunya beberapa kali sebelum melangkah cepat ke arah lift. Kai menghela napas panjang begitu menyadari bahwa Ha Jung semakin sibuk dan sering sekali meninggalkan Hana sendirian untuk tugas keluar kota. Bahkan Ha Jung sendiri tidak tahu kenapa Hana mengurung diri di dalam kamar sejak kemarin.

Dengan ragu Kai memasuki apartemen Hana, membuka sepatunya di belakang pintu masuk sambil membuka jumper yang melapisi hoodie dan meletakkannya di sandaran sofa ruang tengah. Ia melihat makanan tergeletak di atas meja makan dengan sebuah notes dari Ha Jung di sebelah piring nasi. Kai menggelengkan kepalanya lalu mendekati pintu kamar Hana, ia menempelkan telinganya ke daun pintu dan tidak mendengar suara apapun dari dalam.

“Han-ah?” panggil Kai ragu seraya mengetuk pintu kamar Hana beberapa kali. “Lee Hana, kau ada di dalam ‘kan?”

Tidak ada jawaban apapun yang terdengar dari dalam kamar gadisnya. Kai menghembuskan napas panjang lalu kembali mengetuk, dengan sedikit lebih keras. “Ya! Lee Hana, buka sekarang pintunya atau makanan di meja makan kuhabiskan sekarang juga!” ancamnya dan bersiap menggedor pintu kamar Hana lagi ketika mendengar suara kunci yang dibuka, dan daun pintu berwarna putih di hadapannya mengayun terbuka.

Di depannya berdiri seorang wanita yang rambut panjangnya terlihat berantakan, mata yang sembab, hidung merah, dan juga bibir yang bengkak –seperti habis menangis seharian.

Andwae… Aku lapar huhu,” Hana tiba-tiba merengek sambil membuat ekspresi sedih.

Dan Kai malah meledakkan tawa sambil memegangi perutnya, merasa konyol dengan tingkah gadisnya. “Wae? Kenapa mengurung diri kalau kau lapar, hah? Dasar bodoh.”

“Huff,” Hana menggembungkan pipinya tanpa membalas Kai lalu berjalan melewati laki-laki itu menghampiri meja makan.

Kai yang menyadari mood Hana sangat tidak bagus untuk diajak bergurau itu langsung menyusul, menarik kursi di sebelah Hana dan mengintip notes yang tergeletak di dekat mangkuk nasi. Hana terlihat memberengut kesal sebelum mencabut notes itu, meremasnya, dan membuangnya begitu saja ke belakang.

“Kenapa?” tanya Kai seraya memperhatikan Hana yang sibuk menyuapkan nasi dan menghabiskan lauk yang sudah disiapkan ibunya. Hana terlihat seperti orang kelaparan yang tidak makan berhari-hari…..

“Nhanthisajhaakhumakhandulhu,”Hana bergumam disela-sela mulutnya yang penuh. Bahkan ketika nasi di dalam mulutnya belum ditelan, gadis itu sudah menyuapkan telur gulung dan ikan panggang lagi.

“Pelan-pelan Lee Hana, kau ini –,” ucapan Kai menggantung di udara begitu melihat air mata yang menggenang di pelupuk mata Hana. “Han-ah?”

Masih dengan mulut yang menggembung, Hana menggigit bibir bawahnya sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri. Air mata yang menggenang pun perlahan mengalir di pipi Hana, membuat jantung Kai berkedut sakit melihat gadisnya begitu rapuh saat itu. Perlahan Kai beranjak dari kursi dan memasuki dapur, mengambil botol air dingin dari dalam kulkas lalu kembali ke meja makan lagi.

Wae? Ada apa sebenarnya?” tanya Kai khawatir saat Hana menelan semua makanan di mulutnya dengan bantuan air dan ia yang kembali duduk di sebelah gadis itu.

Namun Hana malah meloloskan setitik air mata lagi ketika mendengar pertanyaan dari Kai. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi makan sambil menyeka air mata di pipinya dengan kasar. “Aku sedang tidak mau membahasnya, Jong In.”

“Bagaimana kalau kita bahas ulang tahunku yang hanya tinggal satu setengah jam lagi?” pertanyaan Kai membuat Hana terdiam di kursinya. Tubuh gadis itu tiba-tiba menegang lalu dengan hati-hati menolehkan kepalanya, menatap tidak percaya ke arah Kai.

“Sekarang…. Tanggal berapa?” tanya Hana dengan bodohnya.

Kai mendengus kesal lalu menggeleng. “Tidak tahu. Lihat saja sendiri.”

Hana cepat-cepat bangkit dan berlari ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya. Gadis itu mengacak-acak tempat tidur, melempar bantalnya kemana pun untuk mencari ponsel yang ia tidak acuhkan sejak kemarin malam. Begitu menemukannya di dekat kaki tempat tidur, Hana mengambilnya dan mengecek puluhan panggilan tidak terjawab serta entah berapa banyak chat dari kontak yang sama: Kkaman. Kemarin malam Hana mengubahnya dalam mode silent karena tidak mau diganggu oleh siapa pun dan ia benar-benar lupa besok ulang tahun kekasihnya.

Setelah mengabaikan panggilan masuk, Hana melupakan ulang tahun Kai.

Pasti lelaki itu marah padanya.

“Err, kkaman,” Hana kembali ke meja makan dengan ponsel di tangannya, lalu dengan hati-hati kembali duduk di sebelah Kai.

“Kenapa tidak angkat teleponnya?” tanya Kai dingin dengan sebelah alis terangkat.

Mian. Semalam aku—.”

“Kenapa tidak membalas chat?”

Kkaman, aku tidak—.”

“Kau ini ditelan bumi atau apa?”

“Kim Jong In diam sebentar—.”

“Kenapa kau suka membuat orang lain khawatir, Lee Hana?”

Hening kemudian menyela perdebatan keduanya. Hana menaruh ponselnya di atas meja, balas menatap Kai lalu menghela napas panjang. Dan ia kembali harus mengalah agar perdebatan itu tidak menambah buruk suasana hatinya.

Mian,” Hana memijat pangkal hidungnya ketika merasakan pening mulai menyerang kepalanya. Ia terlalu banyak menangis sejak kemarin lalu Kai menambah pusing karena tiba-tiba datang dan mengajaknya berdebat.

“Tidak. Aku tidak akan menerima maaf darimu,” Kai menyandarkan punggungnya seraya melipat tangan di depan dada dan mengalihkan tatapannya ke arah lain.

“Ya sudah.”

Jawaban dari Hana membuat Kai mengernyit. Kenapa ia bisa memiliki kekasih yang sangat menyebalkan semacam Lee Hana?

Ya! Sebentar lagi ulang tahunku, Han-ah!” ujar Kai setengah merajuk.

“Lalu kenapa?”

Aish neo jinjja.”

.

.

.

Perdebatan yang membuat kepala Kai panas itu akhirnya mereda setelah ia dan Hana saling diam selama beberapa menit untuk menenangkan diri. Keduanya berakhir di sofa, memandangi televisi yang memutar ulang acara Music Core minggu kemarin. Tangan Hana terlipat di depan dada, sementara Kai berbaring dengan menggunakan paha Hana sebagai bantal.

Sesekali tangan Hana dengan iseng mengacak-acak rambut Kai dan merapikannya lagi. Rambut Kai jauh lebih pendek sekarang dan Hana menyukai potongan rambut kekasihnya yang seperti itu karena terlihat jauh lebih tampan.

“Sebenarnya ada apa?” Kai tidak tahan untuk tidak bertanya. Ia memutar tubuhnya menjadi berbaring telentang masih menggunakan paha Hana sebagai bantal lalu menatap mata Hana yang juga menatap lurus ke dalam matanya.

Eomma,” Hana menyingkirkan rambut yang menutupi kening Kai seraya tersenyum simpul. “Kau pasti tahu kenapa. Kau ingat kalau aku bilang akan ada makan malam dengan teman eomma?”

Ah, ara. Kau menghilang setelah makan malam,” Kai memejamkan kedua matanya, menikmati sentuhan Hana di kepalanya.

Eomma bawa teman laki-laki kemarin. Saat eomma memperkenalkan temannya dengan ekspresi malu-malu, aku tahu kalau mereka bukan hanya teman,” Hana masih mengingat dengan jelas ekspresi Ha Jung kemarin malam. Ia tidak bisa melupakan rasa sakit yang juga menyerang dadanya kala itu, ketika Ha Jung akhirnya kembali menemukan pengganti Jung Dae.

Tapi Hana belum siap.

Seharian ia merenung dan menyesali kehidupan keluarganya yang berantakan. Ia pernah berharap suatu saat nanti ayah dan ibunya bisa kembali bersatu. Namun sekarang rasanya benar-benar mustahil karena Jung Dae sudah memiliki tunangan, dan Ha Jung juga sudah memiliki pengganti ayahnya. Hana tidak tahu kenapa ia merasakan sakit yang sama saat Jung Dae memperkenalkan tunangan barunya dan saat Ha Jung memperkenalkan ‘teman kerja’nya semalam. Hana seperti dirinya pecah berkeping-keping.

Hana kesulitan mencari dirinya sendiri setelah kejadian tadi malam. Ia benar-benar merasa terpuruk dan menghindari dunia luar, terutama Ha Jung. Ia tidak membalas apapun ketika Ha Jung mengetk pintu kamar dan berpamitan untuk pergi beberapa hari ke Jepang.

“Kau sedih lagi?” tanya Kai memastikan tanpa bisa menyembunyikan ekspresi khawatir di wajahnya.

“Tidak sedih. Aku hanya kecewa. Kecewa pada appa, eomma, dan diriku sendiri. Harusnya aku tidak tinggal di Korea dan menemani mereka di Amerika saja agar kejadian ini tidak pernah terjadi. Mereka pasti akan tetap bersama kalau aku di Amerika, melerai perdebatan keduanya atau bahkan mencegah mereka untuk bercerai. Aku bisa apa sekarang? Aku dengan egoois tinggal di Korea, memilih bersama orang lain daripada bersama mereka. Sekarang aku baru merasa semuanya terlambat, tidak ada kesempatan untuk appa dan eomma kembali,” air mata kembali tergenang di pelupuk mata Hana, ia menggigit bagian dalam bibirnya untuk mencegah tangisan itu keluar dan terlihat lemah di depan kekasihnya.

Kai bangkit duduk di sofa, ia memperhatikan Hana yang tengah berusaha keras menahan tangisannya. ‘Aku dengan egoois tinggal di Korea, memilih bersama orang lain daripada bersama mereka.’. Ucapan Hana entah kenapa membuat Kai merasa sedih. Hana seperti menyesal sudah menghabiskan waktu bersamanya selama ini dan meninggalkan orangtuanya di Amerika.

“Tapi kita tidak akan bertemu kalau kau tinggal di Amerika, Han-ah,” Kai bergumam pelan seraya menundukkan kepalanya. “Apa kau menyesal tinggal di Korea dan memilih bersama ‘orang lain’ ini daripada bersama orangtuamu?”

Molla,” Hana menjawab singkat sambil mengusap air mata yang kembali menetes membasahi pipinya. Uh, Hana benci menjadi lemah seperti itu. Tapi ia tidak tahu bagaimana meluapkan perasaan kecewanya selain menangis.

Kedua mata Hana membulat begitu menyadari apa yang baru saja dikatakan Kai. Ia mengangkat kepalanya, memperhatikan Kai yang terdiam dengan kepala tertunduk di sampingnya. Tidak, Hana tidak menyesal bertemu dan menghabiskan waktunya di Korea bersama Kai, Taemin, member EXO, dan juga member SHINee. Sungguh, Hana tidak pernah menyesal sedikit pun.

Kkaman,” Hana memiringkan kepalanya lalu memegangi lengan Kai, menarik lengan lelaki itu berkali-kali. “Aku tidak menyesal kok.”

Dwaesseo,” Kai menarik lengannya dari Hana sambil mendengus pelan. Ia tidak tahu kenapa ada rasa kesal mengganjal di dadanya ketika mendengar Hana seperti tadi. Apa Hana hanya menganggapnya sebagai bagian dari ‘orang lain´ selama ini?

Kai menghela napas panjang lalu bangkit dari sofa. Moodnya benar-benar sudah rusak malam itu untuk menghabiskan pergantian usianya bersama Hana. Hana juga sedang tidak mood untuk menghabiskan waktu dengannya. Mungkin ia lebih baik pulang ke dorm dan kembali lagi besok malam setelah Seoul Music Awards.

“Aku pulang dulu, Han-ah,” Kai mengulas senyum simpul sambil menepuk kepala Hana lalu mengambil jumpernya dari sandaran sofa.

“Jong In,” Hana ikut bangkit dari sofa dan menghampiri Kai yang berjalan menuju pintu depan sambil memakai jumpernya. Ia berdiri di belakang Kai yang tengah memakai sepatunya, kedua mata Hana mulai berair lagi saat memperhatikan punggung lelaki itu.

Hana membutuhkan seseorang untuk menghiburnya sekarang.

Hana membutuhkan seseorang untuk dijadikan sandaran saat sedang terpuruk.

Namun ia sendiri yang menghancurkan kesempatan itu.

Mianhae. Jangan pulang dulu, kkaman,” Hana merasakan kedua matanya memanas. Ia menjadi sangat sensitif sejak kejadian di LA waktu itu dan matanya mudah sekali memproduksi air mata dalam keadaan terdesak.

Kai berbalik dan baru saja akan berpamitan pulang saat melihat Hana menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Oh, Kai selalu benci melihat Hana berkaca-kaca atau menangis karena ia pasti tidak akan bisa melakukan apapun dan menyerah pada permintaan gadis itu. Kai menghela napas panjang, melepas sepatunya kembali dan maju satu langkah untuk menenggelamkan Hana pada dada bidangnya. Ia memeluk Hana dengan erat, melingkarkan kedua tangannya pada punggung Hana dan menyandarkan dagunya pada puncak kepala gadis itu.

Hingga terdengar suara isak tangis Hana yang memenuhi keheningan apartemen dan air mata gadis itu yang membasahi hoodienya.

Mianhae. Hiks. Aku tidak menyesal bersamamu, kkaman—hiks,” Hana balas melingkarkan tangannya pada pinggang lelaki itu, diam-diam merutuk dalam hati karena hampir menyakit perasaan Kai.

Ara ara, aku juga minta maaf. Aku yang harusnya mengerti perasaanmu, Han-ah,” Kai mengusap-usap punggung Hana dan berusaha menenangkan gadisnya yang kembali menangis. Harusnya ia yang mengerti perasaan Hana setelah mengalami kejadian buruk dari kedua orangtuanya dan tidak bersikap seperti tadi. Wajar saja jika Hana berkata aneh-aneh, ia yang harusnya tidak terlalu sensitif dengan ucapan gadis itu.

Hana mengangguk kecil sambil melepaskan diri dari pelukan Kai, ia mengusap kedua matanya dengan punggung tangan lalu memberanikan diri untuk menatap lelaki itu. “10 menit lagi ulang tahunmu tapi aku mengacaukan semuanya. Belum beli kue juga—hiks.”

Dwaesseo. Mau diapakan lagi, kau juga seperti ini,” Kai merapikan helaian rambut Hana yang berantakan menutupi wajah lalu menghela napas panjang –lagi. Bahkan dengan wajah bengkak seperti itu, Hana malah terlihat semakin menggemaskan di matanya.

.

Keduanya kembali duduk bersebelahan di sofa, kali ini Hana yang menyandarkan kepalanya pada bahu Kai dan menggamit lengan lelaki itu. “Eh tunggu sebentar.”

Hana tiba-tiba bangkit dari sofa sambil melirik jam di ruang tengah yang hanya tinggal beberapa menit menuju jam 12 malam. Kai memutar kepalanya mengikuti langkah Hana ke dalam dapur lalu mengendikkan bahu tak acuh, ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana lalu tersenyum geli begitu membaca pesan Chanyeol. Hyung yang menjadi fans nomor satunya itu sudah mengirimi pesan selamat ulang tahun padanya padahal belum memasuki tanggal 14.

11.59

00.00

00.01

Kai membuka pesan dari Chanyeol lalu sambil tertawa geli membalas pesan hyungnya dengan huruf ㅇ saja. Pasti Chanyeol kesal hanya dibalas seperti itu olehnya setelah berharap menjadi yang pertama mengucapkan ulang tahun padanya.

Saengil chukhahae!”

Kai hampir melempar ponselnya sendiri karena suara teriakan Hana yang mengagetkan. Ia menoleh dengan cepat dan mendapati Hana berjalan dari arah dapur mendekati sofa, dengan sebuah cup es krim yang dipasang lilin kecil di atasnya. Senyuman geli muncul di bibir Kai ketika Hana menyunggingkan senyum polos sambil duduk kembali di sebelahnya. Gadis itu menyilangkan kaki ke atas sofa menghadap ke arahnya seraya menyodorkan cup es krim dengan dua lilin kecil ke hadapannya.

“Masih ada es krim cup di kulkas dan ada sisa lilin dari ulang tahun Jiho waktu itu. Saengil chukhahae, kkaman. Semoga kau semakin sukses, tidak sakit atau cedera yang parah,  panjang umur, dan yang baik-baik lagi doanya. Ayo tiup lilinnya!!” Hana bergerak-gerak antusias sambil menunggu Kai meniup lilin.

Kai menutup kedua matanya sambil mengulum senyum geli, mengucapkan doa untuk dirinya, keluarganya, EXO, dan tentu saja hubungannya bersama Hana. Ia membuka matanya lagi dan meniup dua lilin kecil itu dalam satu kali hembusan yang langsung disambut teriakan heboh dari Hana.

Dan kembali lagi dengan Lee Hana bipolar yang bisa menjadi bahagia hanya dalam waktu beberapa menit.

“Hmm, karena aku tidak menyiapkan apa-apa, kau boleh minta apapun sebagai hadiah. Aku akan berusaha membelinya,” ujar Hana lalu meletakkan cup es krimnya ke atas meja ruang tengah.

Sebelah alis Kai terangkat. “Apapun?”

“Ya, apapun, asal tidak yang aneh-aneh. Lagipula kau pasti dapat semuanya dari fans, harusnya sih tidak butuh apa-apa lagi,” Hana mengendikkan bahu begitu Kai ikut menyilangkan kaki ke atas sofa menghadap ke arahnya.

“Apapun?”

“Iya, apapun Jong In.”

Bibir Kai yang terbuka untuk menjawab pertanyaan Hana pun tertutup kembali. Wajah Hana memerah hingga ke telinga, bahkan sebelum Kai mengucapkan apa permintaannya. Ia kembali tersenyum geli lalu melipat tangan di depan dada.

“Aku bisa dapat semuanya dari fans kecuali satu hal,” Kai menghentikan ucapannya lalu mengetuk-ngetukkan telunjuk ke bibirnya sambil menaik-turunkan alisnya ke arah Hana. “Kiseu.

“Ewwh! Tidak! Aku tidak akan memberikan kiseu!” pikiran Hana tentu bisa menebak apa yang diinginkan lelaki itu sebelum mengucapkannya. Itu juga yang berada di pikiran Hana sejak tadi hingga wajahnya terasa panas membayangkan kiseu bersama Kai.

“Kau bilang apapun ‘kan? Hanya itu yang tidak bisa aku dapat dari fans, Han-ah,” protes Kai dengan setengah merajuk seperti anak kecil. -.-

Dia kira memberikan kiseu sama seperti memberikan permen? Rutuk Hana dalam hati begitu melihat tingkah kekasihnya.

“Tidak akan,” Hana menegakkan duduknya sambil menyilangkan tangan di depan wajahnya. “Kau boleh minta yang lain.”

“Chi. Kau juga tidak bisa menolak kalau sudah kucium ‘kan? Apa perlu aku membuatmu mabuk lagi supaya kau memulainya duluan?” ucapan Kai sontak membuat wajah Hana semakin memerah, gadis itu memberengut kesal lalu memukulnya dengan bantal sofa.

Byuntae!” Hana menghindari perbincangan aneh bersama Kai dan lebih memilih memukul Kai berkali-kali dengan bantal sofa.

Ya! Wajar kalau aku minta kiseu dari pacar sendiri! Kau mau aku minta kiseu dari perempuan lain?!” kedua tangan Kai terangkat untuk melindungi diri, namun sedetik kemudian pukulan bertubi Hana terhenti. Ia mengintip dari sela-sela perlindungannya lalu tersenyum geli ketika melihat Hana terdiam sambil menundukkan kepala.

Baiklah. Hana tidak mungkin berteriak pada Kai bahwa lelaki itu tidak boleh meminta kiseu dari wanita manapun selain dirinya. Tapi ia sendiri masih malu untuk memulai skinship lebih dulu. Uh, padahal mereka sudah hampir 4 tahun bersama dan ia masih tidak berani memulai lebih dulu. Ia juga sudah sering diberitahu oleh Jae Hee, teman satu kampusnya, dan bahkan hingga Yun Woo, bahwa Hana sekali-kali harus berinisiatif memulai duluan. Karena laki-laki tidak mungkin meminta terus dan harus wanita yang lebih peka.

Hana peka? Tidak.

Tapi Hana harus belajar lebih peka sekarang.

Atau seharusnya sejak kemarin-kemarin.

“Sudah berpikirnya?” tanya Kai, menggoda Hana yang kembali mengangkat kepala dengan wajah memerah.

“Aku hanya melakukannya di hari ulang tahunmu, eoh?” Hana menggembungkan pipinya, berusaha menyembunyikan kegugupannya karena ia akan menjatuhkan gengsinya sebentar lagi. “Tutup mata!”

Tanpa mengatakan apapun Kai menutup kedua matanya, mengantisipasi apa yang akan dilakukan gadis itu padanya. Darahnya mulai berdesir cepat, tubuhnya sudah mulai memanas bahkan sebelum Hana melakukannya. Apapun yang terjadi setelah ini, bukan sepenuhnya salah dirinya bukan?

Hana mengumpat dalam hati begitu melihat Kai memejamkan mata. Ia melirik bibir penuh milik Kai hingga berhenti di dagu lelaki itu yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Ia heran kenapa bulu-bulu halus di dagu dan kumis milik Kai mudah sekali tumbuh dibandingkan member EXO lainnya. Ia cepat-cepat menggeleng ketika pikirannya mulai mengarah ke yang aneh-aneh dan menarik napas dalam-dalam.

Perlahan Hana memajukan tubuhnya, kedua tangannya menumpu pada kedua lutut Kai –yang masih dalam posisi bersila di sofa—lalu melirik bibir Kai lagi. Hana meneguk ludah gugup, ikut memejamkan mata dan tepat sebelum mendaratkan bibirnya, Kai tiba-tiba saja menarik pinggangnya hingga keduanya jatuh ke sofa. Dan pikiran Hana seolah memflashback ingatan yang sama, ketika Kai berada di bawah tubuhnya. Saling menatap satu sama lain dalam jarak dekat dengan peningkatan suhu secara cepat di dalam tubuhnya.

“Kenapa diam? Ayo lanjutkan,” dengan senyum mengejek Kai kembali memejamkan kedua matanya, menunggu Hana.

Aku membencimu, Jong In.

Setelah melawan semua perdebatan di dalam kepala, Hana akhirnya memajukan wajahnya dan mendaratkan kecupan singkat hanya di sudut bibir lelaki itu. “Kkeut!”

Mwoya~,” Kai merengek seraya membuka kedua matanya, “Jangan pura-pura tidak tahu apa bedanya ppoppo dengan kiseu, Lee Hana.”

Cish, kalau kau tidak mau terima ya minta saja dari orang lain. Pokoknya aku sudah sel—.”

Ucapan Hana terhenti karena Kai secara tiba-tiba menarik tengkuknya dan mendaratkan ciuman di atas bibirnya. Tidak ada pergerakan apapun, hanya ciuman ringan sebelum Kai menjauhkan wajahnya kembali dan mengulas senyum miring.

“Untuk sekarang itu saja. Aku akan menagih sisanya nanti malam, pulang dari acara Seoul Gayo Daesang.

Tidak ada lagi habis ini!”

Anhi. Nanti malam masih tanggal 14 jadi kau masih harus memberikan hadiahnya.”

“-.- Uh, byuntae.

“Atau aku minta ke orang lain.”

“Terserah.”

[KaiNa Piece] His 23rd Birthday CUT


Ima’s Note :

HOLAAAA!!!!

KAINA IS BACK WAHAHAHA

Silakan dikomen mereka bagaimana

aku tau mereka absurd, but I miss them so much!!

Makasih yang masih mau baca♥

Jongin sayang kaliaaan/kiss kiss/

.

Regards,

IMA♥

Advertisements

44 thoughts on “[KaiNa Piece] His 23rd Birthday

  1. byunbaek says:

    ntah kenapa aku sedih pas bagian ibu hana sampe hana yg nangis minta jongin jangan pergi aku sedih sampe ngeluarin air mata (cuma sebelah doang). kai yah plis byuntaenya makin nambah

  2. rinhorinhae says:

    aku jg kngen kainaaaaaaaaaaaaa.. aakkkkkkkkkk ><
    ditunggu updteanny lg … ditunggu kaina momentnya lagiii.. kangen moment mreka yg manja2an lucuuuuu hihihi

  3. antheadellya says:

    astagaaaaa ngga nyangka udah ngikutin ini dr awal sampe 4taun mrk ngerayain ultah bareng dan bahkan mrk tetep sweet sampe skrg. mulai dr sama sama polos sampe sama sama dewasa wk. bisa diabetes ini lama lama :’))
    thanks imaaa buat updatenya!

  4. kmsl says:

    astagaaaaa ngga nyangka udah ngikutin ini dr awal sampe 4taun mrk ngerayain ultah bareng dan bahkan mrk tetep sweet sampe skrg. mulai dr sama sama polos sampe sama sama dewasa wk. bisa diabetes ini lama lama :’))
    thanks imaaa buat updatenya!

  5. adindacynthia says:

    Aaaaaaaaaa.. aku kangen banget sama KaiNa…
    Hahahahaha.. mereka mah selalu gitu ma.. kalo gak absurd bukan KaiNa namanya… ahahahaa…
    Ditunggu lanjutannya.. masih gantung nih ceritanya.. hihihi..

  6. nayatiara says:

    it seems that something ain’t good always occur every time you guys meet :))
    i cant even remember the last time you met just to act lovey dovey kekeke
    anyway, its good to see that Hana no longer feeling blue, may happiness will always be with you Han!
    and Happy belated birthday KAIII!!! woooo!!! #throwsconfetti
    thank you for the hard work, waiting for the next one!

  7. Princess Bikini Pink says:

    Waahhh Happy JongIn Day :*
    Wish You All The Best KAI :*
    hihihi telat :v
    sudah yg 23 yaah ? Umur korea kn ?? Klau internasional msh 22 bukan ?? :/ yaa aku rasa bgtu :v

    pkoknya seru (y) kocak tapi romance juga 😀 the best lah couple yg satu ini (y) KaiNa..

    Ditunggu next partnya kk 🙂

  8. H2 Hana says:

    aduuuuh saengil chukkae jongjong semangatin hana nyaa terus nya.jangan lupa hana nya diurusin >.<

    ima un….ditunggu post yg lain

  9. wendy says:

    sempet sedih pas bagian hana yg kecewa ama ibunya. sempet ketawa juga pas bagian hana tiba tiba jadi bahagia dalam sekejap, ajaib wkwk.

  10. flo says:

    Lemah lemah iseng buka wp ini dpptt hadiaaaah KAINA pas ultah bang jong ._.
    Btw hapy bday bang gws yaa ._.
    Ouuwww pasngan gk tau bkin emes emes gittttu uwh uwh

  11. Ryeo Uci says:

    Uughh kai bisa nahan diri juga rupa nya hahaha
    Yaah walaupun blm cukup puas sm momen mereka tp ttp so sweet y hihii
    Ayo dong hana jgn sedih teruss
    Pasti emang udh jlnnya org tua meraka berpisah
    Huhu sedih y

  12. nadanada says:

    Omooooo kangen banget sama kainaa. Tiap hari bolak balik indaylee buat ngecek kainaa. Aduhhhh dan seneng banget pas baca ini. Semangaat kakaa 🙂 :*

  13. winnurma says:

    miss them so muchh eonii
    kgn momen momen absurd mereka, kgn byuntae jongin dan polosnya hana
    longlast ya kaina moga bisa ngerayain ultah jongin lgi tahun dpn
    fighting eonii buat update lagi hehe

  14. linda says:

    mereka emangg absurd bangeett 😁😁😁 hana galau lagi, hmm smoga jongin bisa ada buat hana.. cpet sembuh jg jonginnya ga cidera2 lagii🙏
    next chap tambahin sweet momentnya yaa imaa 😂😂😆 kgn liat jongin usaha romantis yg diancurin uri dongsaeng hhahahaa
    keep writing ima *xoxo

  15. yantie says:

    Aaaaaaaa sumpah
    Kangen bingit ama Kaina,,,hhahhahaa
    Omaigoooottt momen skiship mrka berdua tuh bukan hanya bikin gw deg2an,tp gue jg panas dingin,,,:hahahahahahaha
    #sarapnihgue

    Hihihihihihihhii entahlah,,, gk ada bosen2nya baca tiap series Kaina,,,hhehhehehehe
    Mrka berdua tuh so sweet parahhh…
    Semangat ya Ima,,, next seriesnya jgn lama2
    #kissnhug

  16. Lee soo man says:

    Kaina makin gemesin ajaa:33 yaampun aku nungguin dari tanggal 14 buat baca kaina special jongin’s birthday. Kai makin byuntae aja, kepolosan hana mulai hilang bhak

  17. Dana says:

    Super telat tp happy birthday jonginnn!!!
    Awet2 sama hana yaaa apapun yg terjadi semoga kalian tetap bertahan dan makin sweet
    Kaina luvvv❤

  18. lunara says:

    Sempet baper ih gegara ortunya itu T~T tp untungnya mood balik lagi jadi happy ^^
    dasar jongin udh mulai byuntae lagi haha

  19. Nadila says:

    Uuhhh long long time nono see eonni >< kalo bisa rajin rajin update ya eonni wkwkwk
    Keren lho ceritanya makin ke sini makin keren (y)

  20. Jung Hyun Mi says:

    Lucuuu bgt yaallahT_T
    So sweet-annya ala mereka tuh sederhana tapi ngena gituu
    Pengen bgt berharap jongin punya pacar beneran yg kaya hana
    Kalo bisa cerita ini sampe ke rl beneran deh ridho dahh gue mah😂😂😂

  21. dyndrakm says:

    Duh kasian hana terpuruk lg krn masalah kluarganyaㅠㅠ jongin selalu ada buat hana pas lg kyk gtu akh jd terharu♡ udahdeh kl rl nya bisa beneran pacaran kaina gapapadeh rela aku wkwkwkwkwkw harus lee hana tapi..gaboleh yg lain!! Ditunggu ya selanjutnya kak ima><

  22. handayaniwidya0 says:

    Asli nyesek kalo jadi hana. Ortunya gitu amat ya, kayak ga peduli sama psikologi anak mereka yg lagi labil. Tapi untung ada jongin. Hana jadi punya hiburan deh haha.
    Yang terakhir itu lho nganu haha. Bikin iri aja ni couple

  23. Wulan says:

    Hanna msh ttp blm peka…wahhh mereka udh mw 4 taun yach…g kerasa…dan mereka skrg udh bisa saling ngerti 1 sama lain…

  24. Ismiaty Rahayu says:

    Udah lama gak baca FF…. Eh pas buka ada lanjutan KaiNa.. Duh.. Senengnya malam minggu dibuat melting sama kai…😍

  25. syafirasl says:

    Aseekk..bisa aja deh bikin readernya melting..
    Jadi senyum senyum sendiri nih bacanya
    Keep writing..Fighting

  26. rahsarah says:

    untung pas kai mau pulang di cegah sma hana. sedih juga si pas hana bilang orang lain ke jongin huhu

    si hana masih malu nih wkwkw ya x harus mabuk dulu hananya baru biaa kiseu jongin hahaha

  27. hanhan31 says:

    Hana kisseu nya kurang greget nih😂 kasian kkaman nungguin kisseu nya 😂 tp couple ini emng kocak bgt 😂 agak nyess dikit paa hana bilang ‘oranglain’ buat kkaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s