{Another Sooyeon} 비행기

qqY4ilinbL3PBO53

잠깐 멈춰봐 시간 많잖아
내일도 있잖아 그녀를 내려줘 아님 나도 태워줘
하루만 한 시간만 딱 일 분만 한마디만 하게

잠깐 멈춰봐

© Zi

*****

“Kau tahu apa yang kupelajari dari hubungan kita?”

“Apa itu?”

“Sesuatu yang didapatkan pada hubungan yang dipisahkan oleh jarak dan waktu, yaitu prasangka, curiga, dan rindu. Dan yang kupelajari adalah ketika diri yang lain menjadi rapuh, rindumu memerangkapmu menjadi tangguh.”

“Tenanglah, kau tidak perlu berpura-pura tangguh. Karena seperti yang kujanjikan, aku datang dan kita kembali bersama. Iya kan?”

*PS: D-;day-, M-;Minute-, D+;Day+* 

D-7

“Kita tidak keluar untuk merayakan chuesok, nih?”

Pertanyaan tersebut membuatku beralih dari manga yang tengah kubaca, “Maaf, apa yang tadi kau katakan?”

Aku melihat kerutan kecil di dahinya, ekspresi kecil yang kutahu bahwa ia tengah jengkel dengan sikap tidak-peka-ku, namun ekspresinya lambat laun melembut. Berganti menjadi seringai kecil khas yang menjadi favoritku. Yang dapat membuatku mau melakukan segala hal untuknya meskipun permintaan-nya adalah hal mustahil  agar bisa melihat seringai kecil itu, mungkin jika ia memintakanku untuk memindahkan Athena Patronus –sebuah miniatur Dewi Athena di Kota Athena, Yunani, kota yang selalu ia puja selain tempat kelahirannya- ke kota tempat kami tinggal, permintaan itu bakal kukabuli agar bisa membuat eksperi wajah itu.

“Aku bilang,” ucapanya dengan nada manja yang sukses membuatku menaikan alisku, terheran karena biasanya ia selalu berbicara denganku dengan nada monoton ataupun jengkel karena tingkahku padanya. “Bagaimana jika kita keluar untuk merayakan chuseok? Aku juga ingin makan songpyeon, nih.”

Hey, tumben sekali kau ingin keluar,” ucapku geli seraya mencubit pipi indahnya, meninggalkan warna pink cantik dan menambah warna pada wajah pucatnya. “Biasanya disaat seperti ini kau memilih untuk menggulung di tempat tidur layaknya kucing. Kenapa mendadak kau mengajak keluar?”

Garis mukanya berubah, membentuk ekspresi tidak mengerti dengan kerlipan tidak percaya kepadaku,”Kau lupa?” tanyanya masih dengan ekspresi tersebut, “Aku ingin merayakannya karena mungkin saja ini hari terkahir aku merayakan chuseok disini. Kau benar-benar tidak ingat, ya?”

Aku merasakan ikatan otot pada bibirku yang tadinya mengencang lambat laun melemah. Perlahan-lahan sebuah fakta kecil menari-menari di lobusku, benar juga, ini bisa dikatakan chuseok terakhirnya. Bersamaku.

“Bagaimana?” tanyanya sekali lagi dengan nada gembira, seakan aksi mendadak muramku adalah sebuah hal sepele. “Kita keluar hari ini?”

“Ya,” ucapku mantap, menyembunyikan perasaan sedihku,karena aku takut kesedihanku menjadi alasan mengapa sinar kegembiraanya sirna. Aku mengenggam tangan lembutnya,”Ayo. Ada perayaan yang harus kita rayakan.”

D-3

“Kau tahu,” ia berdesis jengkel, kulihat kedua tangganya ia letakkan dipinggangnya dan lagaknya  ia tengah kesal. “Aku tidak tahu berbenah bakal serumit ini. Bagaimana jika aku membawa pakaianku sekaligus beserta lemari pakaian-nya?”

“Ide menarik,” akuku seraya menghampiri dirinya yang masih mendelik kepada lemarinya seakan menyuruh pakaiannya untuk berbenah dengan sendirinya.

“Jika kau ingin mengirim lemari pakaian itu, artinya aku juga ikut pergi bersamamu karena semua barangku juga terdapat didalam sana.”

Kurasakan desiran halus ujung rambutnya dibahuku sebelum aku menatap kedua manik kehitaman itu. Bahu kami bersanding sangat berdekatan sehingga aku merasakan terdapat getaran antar bahu kami. Bergetar? Kagetku. Tergesa-gesa, kuturunkan pandanganku dan aku terperangah. Aku bisa melihat kedua ujung bibirnya membengkok dalam sudut yang aneh dan bibirnya bergetar. Kurasa, Ia menahan tangis.

“Jika aku bisa melakukannya, mungkin itu adalah hal yang bakal kulakukan-“ bisiknya sebelum kedua tanganku melingkar kepada tubuh kecilnya. Menjadikannya sebagai tempat dimana ia bisa mencurahkan ketakutan-nya.

D-1

“Kenapa kau menatap langit seintens itu?”

Ia bergeser lebih dekat dan membuat benda yang kami tiduri berdecit kecil, tanpa aku menengok pun aku sudah membayangkan dahinya tengah mengerut untuk  menilai raut wajahku.

Tanpa menjawab pertanyaanya, aku merengangkan lengan kananku dan tanpa ragu ia menyambutnya, tubuh kecilnya terasa nyaman dan pas di lenganku seakan lenganku diciptakan memang hanya untuk memeluk dirinya seorang.

Kukencangkan pelukanku hingga aku merasakan aroma khas tubuhnya –vanili yang selalu membuatku nyaman sekaligus terlindungi. Mengingatkanku akan rumah, dan ya, karena dia memang rumahku. Keheningan dalam kegelapan menyelimuti kami, membungkus kami yang hanya dipisahkan dalam sehelai lapisan, namun kegelapan pekat ini sama-sama tidak membuat kami terusik terusik, karena kurasa kami menikmatinya. Menikmati dan menambah satu momen untuk kami sendiri, sebelum semuanya direngut oleh jarak dan waktu.

“Jadi-“ bibir merahnya bergerak sekaligus menyapu pundakku, mengirim sensasi mengelitik dan menyenangkan. “Bisakah kau menceritakan kenapa kau menatap langit malam sedalam itu?”

Hembusan napas kecilku menyebabkan beberapa rambut hitamnya melayang dalam momen yang sangat lambat. Aku merunduk, untuk dapat menatap kerlipan penasaran matanya.

“Kau tahu,” bisikku lemah,”Aku memikirkan bagaimana langit akan menjauhkan dirimu denganku. Esok. Memisahkan kita berdua, dan sepertinya aku tidak sanggup.”

“Segalanya menjadi sulit,” bisiknya, aku tidak dapat memastikan apakah ia berbicara kepadaku atau kepada dirinya sendiri karena pandangannya telah terpaku pada gelapnya malam disebrang kami. “Namun jangan salahkan langit, ia tidak bakal menjauhkan dirimu denganku karena nantinya, toh, kita tetap di bawah langit yang sama. Ia hanya memisahkan raga kita, namun langit tidak dapat memisahkan perasaanku padamu.”

H-4

Basah.

Aku menggerakan kedua tanganku, menyapu pipiku, dan benar saja aku melihat pantulan tipis disana. Cahaya yang memantul pada permukaan tipis air. Sepertinya, hujan akan segera datang untuk menumpahi bumi ini.

“Hujan?” suara lemah dan bersirat kaget membuatku berpaling dari benda berair tersebut. Ia disana, sama sepertiku, terperangah, dengan satu tangannya memegang tas tosca kecilnya dan tangan yang lain mengadah seakan berusaha menampung turunnya air yang jatuh dari langit.” Hujan? Disaat seperti ini?” tanyanya sekali lagi, shyok sekaligus terpana.

“Kau tahu,” ucapku seraya mendekatinya kemudian memegang tangannya. Aku bisa merasakan basahnya air diantara cengkraman tangan kami.“Sepertinya hujan mengerti perasaanku,”

Terlihat alis matanya meninggi,”Tentang?”

“Bahwa aku akan melakukan segala cara agar dapat menahanmu bersamaku lebih lama. Dan sepertinya hujan ini mengerti karena ia turun untuk menahan kepergianmu meskipun hanya beberapa saat.”

M-30

“Sepertinya,” ia berbisik dan merunduk seakan kegiatan memainkan tas tangan yang ia bawa lebih menarik daripada menatapku. “Aku harus segera masuk,”

Aku memegang kedua tangan kecilnya sehingga ia berhenti memainkan kedua jarinya, sekaligus kontak itu membuatnya mengadah kepadaku. Aku tidak bisa membaca ekspresi wajahnya, isyarat wajahnya campur aduk tidak kumengerti. Namun tangannya, dingin. Seakan kehangatan aliran darah dibawah jaringan kulitnya memutuskan untuk tidak bekerja.

Yah, ini yang terakhir, saat terakhirku untuk menghentikan dirinya menghilang dibalik panel bergerak diseberang tempat duduk kami.

“Bisakah, kau tidak pergi?”

Aku tahu apa yang ia hendak jawab atas pertanyaan –dan permintaanku, dan benar saja, ia menggeleng pelan.

“Kau tahu aku tidak akan bisa,” jelasnya, seakan aku masih belum mengerti alasan kepergiannya. Padahal, ya, aku sangat tahu. “Ini kesempatanku dan kau tahu betapa penting ini bagiku.”

Jemariku tidak tahan berputar ditelapak tangannya, menelusuri tangan yang tidak sehalus wanita pada umumnya, konsekuensi pekerjaanya. “Atau… bisakah kau pergi satu jam lagi? Besok? Ataukah minggu depan?”

Aku tahu ia sudah kehabisan kata-kata. Ia hanya diam. Namun, kedua manik hitam itu. Kedua benda itu mengirimkan pesan kepadaku, kata-kata yang tidak bisa ia ucapkan karena jika ia mengucapkannya ia tidak akan bisa menariknya kembali. Tatapan itu berarti, Sesungguhnya ia tidak mau meninggalkanku dan ia tidak bisa, dan maafkan dirinya karena ia terdengar egois namun dia harus melakukan ini.

“Aku mengerti,” ucapku, berupaya tegas, namun yang kudengar adalah kehampaan pada suaraku. “Jika aku diposisimu, aku bakal melakukannya.” akhirku dengan nada seakan tidak terjadi sesuatu yang salah –yang sebenarnya tidak, dan melepaskan tanganku untuk menyentuh wajahnya, sebuah bentuk jika aku merelakannya –yang sebenarnya tidak.

Aku tidak bisa.

Ia menarik tanganku dari wajahnya kemudian memegang tanganku, erat, seakan ia tengah memberiku kekuatan melewati genggamannya dan memang itu membantuku. Kemudian, ia mengecupku. Singkat. Meskipun begitu, aku tahu ciuman kami mempunyai arti lebih daripada ciuman-ciuman kami yang lain, ciuman pertama kami, ciuman yang kami lakukan setiap pagi atau malam, ini berbeda. Saat bibir kami saling bersentuhan aku mengerti, ia mempercayai dirinya, ia mempercayai diriku, ia mempercayai kami. Ia percaya hubungan kami akan bertahan.

Ya, Ia percaya.

Jika ia percaya, maka akupun harus percaya.

Sebuah hubungan memang berdasar dari kepercayaan, kan?

“Aku mencintaimu,” bisiknya, diakhir ciuman kami dengan bibir kami yang masih bersentuhan. Aku bisa merasakan sentuhan napasnya di bibirku, begitu dekat, dan candu. “Aku mencintaimu.”

“Aku tahu,” balasku,”karena aku juga mencintaimu.”

D+ 1412

Sepertinya betapa kerasnya dering gawainya bernyanyi, betapa seringnya benda itu menari di kantong celana-nya, berarti semakin banyak alasan pria itu mengindahkan untuk menerima panggilan yang ditujukan untuknya. Ya, karena ada hal yang lebih penting daripada sekedar menerima informasi bagaimana hasil rapat yang ia tinggal pada saat pelaksanaanya –karena ia tidak sadar betapa cepat waktu berjalan, yang dulu ia sempat tidak mempercayainya- apakah klien yang ia pegang setuju menjadi anggota klien tetap mereka. Well, sebenarnya itu penting demi kelancaran perusaahan yang ia pegang, tapi toh, ia sudah memberikan kekuasaan sementara kepada Kim Jongin. Pasti pria itu bisa menghandle-nya.

Apakah aku terlambat? pikirnya. Pria itu tidak tahan untuk membandingkan waktu yang tertera di pergelangan tangannya dengan waktu yang terdapat panel dihadapannya. Ya, tepat waktu. Ia tidak melewati waktu-nya.

Semestinya wanita itu sudah keluar.

Tanpa bisa ditutupi kita tahu pria itu tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Pria itu juga merasakannya. Padahal ia sudah menanggalkan jas kantorannya dan menggulung lengan kemeja putihnya agar ia merasa lebih nyaman, cara itu tidak berhasil. Ia merasa gerah dan… cemas. Satu alasan membuat ia cemas dari ujung kaki hingga ubun-ubunnya, adalah… bagaimana jika wanita itu sudah melupakan dirinya?

Hanya satu saja, tetapi kecemasan itu cepat beranak dipikirannya.

Setelah sekian lama, apakah gadis itu  tetap mengingatnya?

Apakah gadis itu menyukai dirinya yang sekarang?

Atau yang mengerikan, membuat kepalanya menjadi lebih pening, apakah gadis itu masih tetap mencintainya? Seperti yang ia masih rasakan saat ini?

Baru saja pria itu hendak menghukum dirinya sendiri, buket bunga lily putih –favorit wanita itu, tertinggal persis di jok penumpang mobilnya. Ia lupa karena saking terburu-burunya. Bagaimana dia bisa jadi seceroboh ini? Ia baru saja hendak mengambil langkah kembali ke tempat kendaraanya terpakir, mengambil buket bunga itu, ia membayangkan raut wajah kecewa wanita itu karena ia hanya disambut  yang bisa dibilang secara kosong tanpa adanya perayaan atau persiapan apapun, sebelum ia mendengar sebuah suara. Suara yang selalu ia rindukan, sebuah suara yang melekat di lobusnya, suara wanita itu.

“Hai,”

Sapaan singkat. Sapaan pada umumnya. Sesingkat itu, namun memberikan kekuatan bagi jantung pria itu berhenti berdetak sementara. Ia menoleh, dan ia terpana.

Wanita itu berbeda. Rambut hitam panjangnya yang selalu ia tolak untuk dipendekkan, sekarang mengantung sebahu dengan warna yang masih sama. Pipi gendutnya yang selalu ia keluhkan, berubah menjadi agak tirus, menambah kesan dewasa pada setiap jengkal wajahnya. Kulitnya seputih susu menghilang menjadi coklat susu yang menawan. Gadis itu masih berbau vanili, meskipun pria itu masih bisa mencium bau cat sintesis yang lebih kuat karena digeluti wanita itu selama 4 tahun di Amerika. Wanita itu berbeda. Namun pria itu masih mengenal pancaran mata itu, pandangan yang selalu membuatnya jatuh hati kepadanya. Dan cara pandang wanita itu kepadanya yang selalu ia yakini bahwa gadis itu membalasnya, memandang pria itu dan merasakan hal yang sama, tulus tanpa paksaan. Berbeda, namun tidak berubah. Ia masih separuh hidup-nya

“Kau berbeda,” bisik gadis itu pelan, terlihat keraguan dimatanya sebelum ia mendaratkan sentuhan ringan ke wajah pria itu. “Kau terlihat berbeda.”

Wanita itu benar, pria itu juga berbeda. Rambut hitam arang-nya ia biarkan memanjang dan ditata dengan rapi, tidak lagi dengan potongan cepak pendek. Sekarang, pria itu selalu mengenakan setelan yang rapi –tuntutan pekerjaan, namun khusus pertemuan ini ia menanggalkan dasi dan jas resminya, hanya mengenakan kemeja putih yang ia gulung hingga siku, celana resmi berwarna biru dongker dilengkapi dengan sepatu fantofel mengkilat. Pembawaanya berbeda, lebih dewasa. Mungkin juga ditambah sosok pria itu yang lebih tegap dan terawat, membuat banyak mata berpaling akibat kharisma yang ia pancarkan hingga sekarang. Ia berbeda, namun wanita itu yakin ia masih tetap sama meskipun mereka terpisah oleh jarak dan waktu.

“Kau berbeda,” ucap wanita itu sekali lagi, dengan nada tidak percaya. “Tapi aku tahu bahwa ini tetap kau. Tidak ada yang berubah darimu, Do Kyungsoo.”

Kyungsoo mengenggam tangan wanita itu dari wajahnya. Ia bisa merasakan kedua ujung otot bibirnya melengkung, hal yang hanya bisa dirasakan jika ia melihat wanita itu. “Kau juga, Lee Nayeon. Kau masih gadis yang dulu kucintai.”

“Yang dulu?” canda wanita itu, meskipun Kyungsoo tahu dibalik candaan itu terdapat maksud yang sangat serius, dan sensitif. “Bagaimana dengan sekarang, Kyungsoo~ssi? Apakah kau masih mencintai wanita ini?”

“Tentu saja. Tidak ada yang merubah perasaanku padamu meskipun dipisahkan oleh jarak dan waktu. Aku masih mencintaimu, dari dulu hingga saat ini, dan perasaan itu masih tetap ada setelahnya. Jika ada kehidupan setelah itu, aku akan tetap mencintaimu waktu itu.”

Mata hitam wanita itu berbinar, dan Kyungsoo baru pertama kali melihat binar itu di Nayeon. Nayeon tampak bahagia, bahagia yang melebihi segala kebahagian didunia ini. Dan Kyungsoo juga merasakan hal yang sama.

“Terima kasih, menungguku hingga selama ini, Do Kyungsoo.” ucap Nayeon dengan nada pelan. Kyungsoo tahu dibalik itu, wanita itu mengucapkan secara tulus. Benar-benar dari hatinya.

Kyungsoo tidak tahan tersenyum kecil. “Bagaimana… jika kita melanjutkan percakapan ini dirumah?”

“Baiklah. Mari kita pulang. Pulang kerumah kita.”

END

Zi note: 

Pertama-tama, terimakasih bagi inspirasi sebuah ide cerita ini yang ga tau darimana membuat aku gatel untuk menulis meskipun aku tahu tulisanku ini tidak sempurna. Kedua, terimakasih untuk para eonni-deul yang masih percaya dan friendly denganku meskipun sudah lama -terlalu lama malah, Zi tidak pernah terlihat oleh mereka. Ra, Ka Neez, Ka Ima, dan kakak2 lain yang masih belum bisa disebut namanya (;p) terimakasih karena sudah memberikan kepercayaan kepada Zi selama ini, menyemangati Zi, dan berusaha tetap menjalankan blog ini ditengah kesibukan mereka -tidak sepertiku, Terima kasih banyak! I Love you guys so much!

Dan buat para readers lama dan baru, aku ingin memperkenalkan diriku sekali lagi karena aku yakin kalian sudah tidak ingat denganku wkwk >///<. Aku, Zi, 1997 liner , author Sooyeon yang terakhir kali update sekitar 1 tahun lalu, wkwk -itupun kalau aku tidak salah. Maafkan atas ketidakhadiranku selama ini, karena kesibukanku, karena tidak adanya ‘percikan-semangat’ mengetik. Aku berharap kalian bisa memaklumi, karena, toh, namanya juga manusia wkwk. terakhir, terimakasih sudah menyempatkan diri membaca FF-ku, wkwk. Zi menerima kritik dan saran sebagai evaluasi karena jujur sudah terlalu lama tidak terjun ke dunia ini jadi aku membutuhkan semacam evaluasi –* hoho.

Sekali lagi, terima kasih untuk segalanya! Hope you guys enjoy my ff and the other series of my ff! :* 

Advertisements

8 thoughts on “{Another Sooyeon} 비행기

  1. H2 Hana says:

    uuaaaa akhirnya indaylee update lagi,terserah siapapun itu >.<
    ff nya sweet banget,nunggu cinta sejati eaaaa
    unni sooyeon nya lanjutin yaa….aku semangatin nih
    unni…Fighting!!

  2. Shazkiasw says:

    Ini bikin baper bgt eonni:”
    LDR memang selalu bikin baperr huaa:”
    Udaaah lamaa bgt sooyeon ga muncul,kangen,terakhir kayaknya pas kris keluar dari exo deh,kangeeeen aaaa:3
    Keep fighting eonni!!FF nyaa kereeen,kata2nya duh:”

    • indaylee says:

      Jangan baper, kalo baper mending makan! Lhaa #zijayus
      Iya, wkwk. udah lama banget sampe akupun lupa terakhir kapan ngepost
      Makasih hehooo, meskipun jalan ceritanya pasti gaje XD

  3. flo says:

    Pantesaan sooyeon series dikit ya :’) wellcomeback
    Aku juga readers bru . Penggemar bgt kaina tp suka binggo sm d.o dan suho sehun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s