.:JunHee Veiled:. Special Day

specialday

Special Day || JunHee Universe, Romance, Friendship, Comedy || Oneshot || PG

Oh Jaehee || Kim Joonmyun / EXO Suho || Zhang Yixing / EXO Lay || EXO Members || IDL Girls

© neez

Rasanya, seperti kembali ke masa-masa saat ia dan Joonmyun putus, yang terjadinya padahal belum lama ini. Terkadang, jika perasaannya memburuk, atau ketika ia sedang tidak memiliki banyak pekerjaan, ia akan mengutuki Joonmyun dan Hana. Joonmyun terutama. Banyak kalimat-kalimat keji yang terkadang Jaehee rutukkan di kepalanya seperti ’Dasar playboy! Tak mungkin pria haus belaian sepertinya puas hanya dengan satu wanita!’ atau ’Fine, setelah semua yang kuberikan kepadanya hingga bagian terkecil dalam diriku, kini dia mencari gadis lain, shit!’ tetapi, ketika hatinya yang sensitif itu kembali merenung, ia menyesali kata-kata itu. Ia yakin ia belum menjadi kekasih yang baik, ia menyesali mengapa tidak bisa lebih bersabar, atau melakukan apa yang Joonmyun mau.

   Ia bahkan melarikan diri, agar Joonmyun tidak memutuskan hubungan mereka. Sekali lagi, ia rela—meski tahu ia bodoh, ia rela di duakan begitu saja oleh Joonmyun. Akal sehatnya sudah ditendang jauh-jauh jika menyangkut cinta, dan ini berbahaya, Jaehee mulai ngeri sendiri.

   Untunglah, begitu tiba di Cina, Jaehee dijemput secara langsung oleh Yixing yang sangat bahagia bahwa dirinya bersedia bekerja bersamanya. Setelah itu, Jaehee langsung dibawa ke kantor dimana workshop Yixing berada, dan langsung diperkenalkan begitu saja pada seluruh pegawainya, bahwa dirinya adalah asisten personal Yixing sekaligus merangkap stylist personal Yixing. Sayangnya perkenalan itu dalam bahasa Cina, dan Jaehee tidak mengerti satu kata pun akan apa yang Yixing ucapkan. Kemampuan bahasa Cina-nya hanya terbatas pada da ja hou (entah tulisannya benar atau tidak, Jaehee masa bodoh yang penting orang mengerti apa yang ia katakan), lalu wo ai ni (ini jelas tidak akan Jaehee katakan pada siapa pun disini), dan bao bei (apalagi yang ini).

   Dua hari sejak Jaehee mulai bekerja di studio milik Yixing, rasanya ia mulai merasakan aura-aura iri hati yang dipancarkan beberapa pegawai Yixing kepadanya. Terang saja, dengan segala perlakuan Yixing kepadanya, seolah dirinya lah yang memiliki studio ini, terang saja pegawai-pegawainya merasa tersaingi. Sebenarnya Yixing adalah bos yang baik, ramah, dan bahkan memperlakukan mereka semua layaknya keluarga, akan tetapi, kehadiran Jaehee, yang diberikan jabatan khusus, membuat semua orang curiga.

   Tapi biarlah, Jaehee sudah terbiasa jadi bahan iri hati banyak orang, sejak ia di Amerika dulu zaman masih berkencan dengan Pirath, hingga saat ia sudah mulai menjalankan Lovelyixing, karena Yixing selalu mengenalinya dimana pun mereka bertemu.

   Pada kenyataannya toh, ia dan Yixing sama sekali tidak memiliki hubungan spesial selain sahabat. Meski ia tahu dalam hatinya, bahwa ia sangat mencintai Kim Joonmyun, seorang Zhang Yixing selalu memiliki tempat hangat di hati dan pikirannya. Jika dikatakan Jaehee tidak pernah menganggap Yixing sebagai seorang laki-laki, tentu saja itu salah besar. Yixing itu spesial, namun dalam cara yang berbeda dengan Joonmyun.

   Ah omong-omong soal Joonmyun lagi, pria itu mengiriminya pesan begitu kakinya baru saja melangkah di negeri tirai bambu ini.

From    : Myeonie

            Kau ke cina? Kenapa tidak bilang apa-apa?

   Dan Jaehee tidak tahu harus membalas apalagi saat melihat isi pesan Joonmyun tersebut. Sebagian besar hatinya, memaksa jari-jarinya untuk mengetikkan balasan bahwa ia pergi karena Joonmyun memilih bersama gadis lain, yang tak lain dan tak bukan adalah Hana hmph, tetapi ia berhasil menahan godaan itu dan memilih mengabaikan pesan itu. Hingga satu minggu, tak ada pesan yang datang dari Joonmyun.

   Jaehee semakin putus asa. Pekerjaannya semakin banyak, karena jadwal Yixing di Cina rupanya cukup banyak, tapi tetap saja tidak begitu menyita pikiran-pikiran buruk tentang kemungkinan Joonmyun yang berselingkuh. Ia bahkan membayangkan bahwa Joonmyun akan begitu bahagia, karena kini ia sudah tidak ada di Seoul.

   Ia masih terngiang-ngiang dengan kata-kata Joonmyun saat di gerai Cartier kepada Hana. ”Dia selalu menggangguku sudah dua minggu ini, Hana-ya,” keluh Joonmyun lagi, ”Eotokhe? Kalau begini terus… aku benar-benar tidak bisa melanjutkan semua ini.” Ia hanya tidak pernah mengira, bahwa panggilan-panggilannya dan pesan-pesannya membuat Joonmyun begitu merasa terganggu. Rasanya hubungan mereka berdua baru memasuki tahun kedua, tetapi Joonmyun sudah begitu merasa terganggu.

   Bagaimana nanti? Jaehee menghela napasnya dalam-dalam sambil membereskan guntingan-guntingan pola di hadapannya, dan melirik ponselnya lagi. Ponsel itu hidup dua puluh empat jam, tujuh hari dalam seminggu. Tapi, Kim Joonmyun rasanya tidak merasa bahwa dirinya perlu menggunakan waktu barang lima menit saja untuk menghubungi Jaehee balik.

   Dan ari ini, semua beban pikiran yang dibiarkannya bertumpuk seolah-olah menuntut penyelesaian darinya. Mungkin juga karena Jaehee sangat sibuk hari ini, sehingga perasaannya jauh lebih sensitif. Hari ini, Yixing melakukan beberapa pemotretan majalah dan wawancara, sekaligus pembicaraan kontrak dengan beberapa produser. Jaehee yang menjabat sebagai asisten pribadi Yixing terpaksa harus stand by setiap saat, dan fakta bahwa ia tidak dapat tidur semalaman membuat kantung matanya semakin terlihat jelas meski ia sudah memakai nyaris satu botol Urban Decay Concealer. Dan tanpa ia sadari, saat ia sudah berhenti melamun, staff dari lighting hingga wardrobe telah berkemas.

   Mengulurkan lengannya untuk melihat arlojinya, Jaehee mengernyit. Ini bahkan kurang dari dua jam sebelum waktu pemotretan berakhir. Biasanya malah bisa memakan waktu lebih lama. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, tapi yang ia dapatkan hanyalah tatapan membunuh dari beberapa staff wanita Yixing, yang sudah biasa ia dapatkan, dan untungnya juga Yixing menghampirinya pada saat itu dan menepuk bahunya.

   ”Sudah selesai? Cepat sekali…” komentar Jaehee heran.

   Yixing hanya tersenyum.

   ”Apa ada yang membatalkan jadwal?” tanya Jaehee sambil menarik buku jadwalnya yang terletak di atas meja kerjanya yang besar. Yixing menggeleng, dan mendadak tangan Yixing yang berada di bahunya memberinya remasan lembut. ”Kenapa?”

   ”Kau bisa pingsan kalau pekerjaan ini tidak kuhentikan sekarang,” sahut Yixing lembut.

   ”Mwo?!” seru Jaehee kaget. ”Jangan bilang kau menghentikan pemotretan karena aku?”

   Yixing menarik kursi dan meregangkan otot-ototnya, ”Aku pun ingin istirahat, dan rupanya produser terakhir juga memiliki jadwal lain, dan saat aku meminta reschedule meeting mereka setuju. Win win solution, kan?”

   ”Jeongmal?” tanya Jaehee menatap Yixing dengan tatapan tidak percaya.

   Yixing mengangguk, ”Kemari, duduklah… kau sudah makan? Aku tidak bisa konsentrasi melihatmu merana terus disini.”

   ”Siapa yang merana?!” balas Jaehee sambil memukul bahu Yixing tidak terima. ”Aku baik-baik saja, hanya sedikit mengantuk… yang mana wajar, karena aku menungguimu.”

   ”Humph! Aku tidak percaya~ sudahlah, akui saja… kau merindukan Suho Hyung, kan?”

   ”Anhi!” jawab Jaehee spontan. Dan Yixing malah menertawainya habis-habisan. Sialan, entah kenapa jika di depan Yixing, seorang Oh Jaehee benar-benar menjadi buku yang terbuka. Yixing selalu pandai menebak perasaan yang mati-matian sudah ia sembunyikan.

   ”Sudahlah, kau sudah terlalu stress. Omong-omong Suho Hyung meneleponku tadi sebelum wawancara…”

   Jaehee hanya bergumam sambil mulai membereskan peralatannya, mencoba untuk tidak peduli, karena bisa saja Joonmyun menghubungi Yixing hanya menanyakan Yixing saja, tidak menanyakannya. Dan emosi Jaehee kembali merangkak naik karena—tentu saja, pria sialan itu bisa menelepon Yixing, tapi tidak dengan meneleponnya!!!

   ”Dia memarahiku, karena dia menduga aku memberimu banyak pekerjaan hingga kau tidak bisa membalas pesannya.”

   ”Heol!” desis Jaehee sambil memasukkan kembali perlengkapan penting ke dalam laci meja kerjanya, ”Apa-apaan itu malah bertanya kepadamu dan bukan menghubungiku sendiri. Kau tahu Zhang Yixing, dia hanya menghubungiku sekali, itu pun dengan pesan singkat. Dan dia berani mengeluh hanya karena ia mencoba menghubungiku sekali dan tidak kubalas? Pandai sekali dia!!!”

   ”Astaga, pelan-pelan… aku tidak paham,” Yixing meringis, menekankan jari telunjuk pada telinganya dan melempar pandangan sengit pada gadis di hadapannya yang bisa membuat telinganya tuli dengan suara ala lumba-lumanya. Jaehee menghela napas dalam-dalam berusaha mengendalikan emosinya. Tidak adil rasanya jika ia melampiaskan kemarahannya pada Zhang Yixing yang polos dan tak tahu apa-apa ini.

   ”Sudahlah lupakan saja,” Jaehee duduk di hadapan Yixing dan memberikan buku catatannya, ”Ini yang aku rekomendasikan untuk jadi inventaris make up. Kau periksa saja, kalau terlalu mahal nanti akan aku ganti…”

   Yixing membuka buku tersebut, dan hanya memandangnya selama beberapa saat sebelum mengembalikannya, ”Ya sudah beli saja, aku ikut kau saja…” CEO macam apa dia? ”Sekarang kita cari makan saja, aku harus memastikan kalau kau tetap makan tiga kali sehari, jadi saat nanti Suho Hyung melihatmu, kau tidak bertambah kurus atau aku akan digantung.”

   ”Humph!” dengus Jaehee. Memangnya Suho masih perduli padanya?

   ”Aiyaa… ciku ciku ciku,” Yixing menggelitik dagu Jaehee, seolah-olah Jaehee adalah anjing pudel yang sedang kesal karena Tuannya sibuk tidak memperhatikannya, ”Ayo, ayo… kita cari makan untuk melupakan keluh kesahmu, ckckckck.”

   Akhirnya, tanpa ada siapa pun, baik Manajer, atau pun staff dari workshop, Yixing dan Jaehee pergi ke sebuah jalan yang cukup terkenal dengan jajanan kaki limanya. Jaehee sempat was-was juga ketika Yixing tanpa penyamaran apa pun, dengan kasualnya melangkah di jalan tersebut, bahkan tak segan-segan menarik-narik dirinya kesana kemari untuk mencicipi berbagai jenis makanan yang menurutnya enak dan merupakan makanan khas daerah tersebut.

   ”Kau yakin tidak apa-apa?” tanya Jaehee sambil menggigit sebagian kecil permen kalajengking yang menurut Yixing sangat enak, meski awalnya Jaehee ngeri sendiri untuk mencobanya.

   Yixing, yang sibuk menikmati cemilannya hanya bergumam tidak jelas dan menyahuti, ”Tidak apa-apa kenapa? Siapa yang larang kita makan? Bukankah akan berbahaya kalau kita tidak makan?” tanyanya dengan wajah super duper polos yang entah bagaimana terlihat meyakinkan.

   ”Bukan itu!” desis Jaehee jadi emosi sendiri, entah kenapa kadang-kadang meski pengertian sebagai seorang sahabat, Jaehee sering dibuat habis sabar jika sikap polos Yixing sudah berada di stadium lanjut seperti ini. Semua ia pandang remeh dan serba datar. ”Bagaimana kalau ada yang melihat kita? Bukankah akan membahayakan kariermu? Karier EXO?”

   Yixing melirik Jaehee heran, ”Memang kenapa? Bukankah sekarang semua orang disini melihat kita… penjual makanan yang kita beli juga sudah melihat kita. Apa salahnya?”

   ”Serius lah sedikit!” Jaehee dengan gemas mencubit pipi Yixing dengan kekuatan ala ibu tiri yang biasa membuat pinggang Joonmyun biru.

    ”ADUH!” ringis Yixing. ”Kau ini!!!”

   ”Makanya serius!!!”

   ”Habisnya apa???” tanya Yixing balas frustasi. ”Memang kita tidak boleh dilihat?!”

   ”Tapi kan jalannya kita ini bisa menimbulkan kontroversi, Zhang Yixing! Masa begitu saja kau tidak paham?” tanya Jaehee nyaris mengurut dada.

   Yixing akhirnya mengerti apa maksud Jaehee dan mengangguk-angguk, ”Kalau itu maksudmu, seharusnya kau mengatakannya sejak tadi. Aku kan bingung kau berputar-putar~”

   ”Intinya, CEO Zhang, apa menurutmu kita aman jalan-jalan begini?”

   ”Heol! Kau sahabatku, kan?”

   ”Keurom!”

   ”Lalu, memang salah jalan dengan sahabat sendiri? Lagipula kita tidak pacaran, aku single~ selesai!”

   Jaehee terkekeh dan menghela napas pasrah, ”Kadang aku tidak tahu bagaimana harus menghadapimu, eoh?”

   ”Sudahlah, lebih baik kau lihat itu, ada roti yang di dalamnya kacang merah… ayo makan!”

   ”Kau akan membuatku gendut!!!”

   Keesokan harinya, ketika Jaehee melangkah memasuki studio workshop milik Yixing, ia kembali mendapatkan tatapan-tatapan dari para staff workshop. Namun entah mengapa, untuk pagi ini, tatapan mereka yang biasanya menusuk, dan penuh curiga, menjadi sedikit… takut-takut? Beberapa yang biasanya tidak pernah mau menyapanya, kini malah membungkuk-bungkuk, namun terburu-buru melarikan diri dan tidak mau menatap dirinya lebih lama.

   Sebenarnya, Jaehee ingin sekali menghiraukan staff-staff Yixing yang sudah terbiasa mengabaikan dan menatapnya penuh curiga sejak awal pertama ia menginjakkan kaki di studio ini, akan tetapi tatapan mereka hari ini benar-benar mengganggu, meski tidak dalam arti yang cukup buruk.

   ”Agassi…”

   Jaehee mendongak, kaget. Untuk pertama kalinya ada yang berbahasa Korea menyapa dirinya, selain Yixing. ”Ah… ye?” tanya Jaehee ragu-ragu menatap pria yang baru saja menyapanya itu.

   ”Apakah berita itu benar?” tanyanya, mendengar lafal Koreanya yang lancar, jauh dibanding Yixing, Jaehee bisa menduga bahwa pria ini orang Korea tulen seperti dirinya. Tetapi, kenapa ia baru melihat pria ini sekarang?

   ”Hmm…” menggaruk telinganya yang tidak gatal, Jaehee memperhatikan sekelilingnya dimana beberapa orang tengah memandang ia dan si penanya dengan tatapan ingin tahu yang sangat besar. ”Berita apa?”

   ”Berita yang sedang muncul di internet. Agassi bisa cek melalui situs-situs berita Korea.”

   Hati Jaehee mencelos. Menurut Yixing, orang-orang workshop mengenal Jaehee sebagai staff SM Korea Selatan yang khusus Yixing pilih untuk membantunya di Cina, maka mungkin saja kan staff disini menanyakan berita soal EXO di Korea sana padanya?

   Dengan hati-hati Jaehee membuka aplikasi browser pada ponselnya. Semalam setelah makan, ia begitu kelelahan dan untuk pertamakalinya, dan ia bisa tidur dengan nyenyak tanpa memikirkan Joonmyun. Dan hari ini—jarinya nyaris saja tergelincir saat melihat kolom pertama topik pencarian terbanyak dalam situ Naver.

   EXO Lay Spotted on a date with his fashion designer!

   ”A…apa ini?” tanya Jaehee dengan tangan gemetaran, membuka pencarian terbanyak itu. Rasanya perutnya seperti jungkir balik! Foto-foto Yixing dan dirinya yang sedang jalan-jalan, bahkan ada satu foto saat dirinya mencubit pipi Yixing, yang jika dilihat dari angle ini, sangat romantis!!!

   Ini malapetaka.

   ”Agassi dan Sajangnim ada di semua situs berita sejak tadi pagi. Sajangnim masih dalam perjalanan kesini…”

   ”Apa Yixing sudah tahu?”

   ”Sajangnim sudah tahu, tapi belum memberikan pernyataan apa-apa. Kalau Agassi tidak keberatan, Marketing perwakilan SM disini hendak menemui Agassi…” Belum sempat Jaehee menjawab, pintu studio sudah terbuka dan Yixing masuk dengan langkah tergesa-gesa, tentu saja seluruh pegawainya kini menatapnya dengan penasaran.

   Jaehee hanya bisa menatap Yixing pasrah.

   ”Kau sudah tahu beritanya? Tenang saja, aku sudah lakukan klarifikasi… kau tidak perlu menemui perwakilan SM disini.”

   Pria Korea di hadapan Jaehee nampak terkejut, ”Benarkah, Sajangnim? Tapi…”

   ”Aku sudah dapat izin langsung dari Soo Man Abeoji, kau tenang saja…” Yixing menepuk bahu staff Korea tersebut, ”Semua sudah diluruskan, dan kau tidak perlu memberikan pernyataan apa-apa.”

   ”Ah syukurlah,” Jaehee memperhatikan staff Korea itu pergi dengan tergesa-gesa, lalu para pegawai lainnya mengalihkan pandangan mereka dari dirinya dan Yixing. Yixing duduk di hadapannya sambil mengipasi dirinya dengan tangan, kentara sekali seperti orang yang baru terburu-buru. ”Kau bilang apa pada SM?” tanya Jaehee pelan.

   ”Apa lagi? Kita sahabat, tidak lebih.” Jawab Yixing enteng. ”Eh tapi, yang kupikirkan bukan skandal ini di mata publik. Aku lebih ngeri dengan reaksi Suho Hyung. Dia belum membalas pesanku sejak tadi…” bisik Yixing melirik ke kanan dan ke kiri, ”Apa dia membalas pesanmu? Atau mengirimimu pesan?” tambahnya buru-buru karena mendapati tatapan tajam Jaehee yang menusuk, karena Yixing jelas tahu betul kondisi hubungan Jaehee-Joonmyun yang sedang dingin beberapa pekan ini.

   Jaehee mengeluarkan ponselnya, ia menyadari banyak pesan masuk ditujukan untuknya. Sayangnya, tak ada satu pun dari kekasihnya sendiri. Bahkan setelah adanya pemberitaan ini.

   ”Kau jangan khawatir, sebentar lagi EXO akan kesini untuk konser… kau harus membicarakan masalah kalian, jangan selalu lari masalah, Jaehee-ya,” Yixing menepuk-nepuk bahu Jaehee pelan, ”Kalau aku tahu masalahnya akan panjang seperti ini, aku tidak akan memberimu jalan untuk kabur.”

   ”Kau tak tahu apa yang sudah Hyung-mu itu lakukan!” akhirnya dengan kesal, terlontar jugalah kalimat yang membuat rasa penasaran Yixing terusik, setelah beberapa lami Jaehee datang ke Cina, tidak mau membuka suara sedikit pun mengenai masalah yang mereka hadapi.

   Yixing menghela napas dalam-dalam, ”Keberatan kalau kau ceritakan padaku?”

   Jaehee langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Ia tidak bisa menceritakannya, setengah karena takut membuat Joonmyun dipandang buruk oleh Yixing, setengah lagi karena masih berharap bahwa apa yang ia saksikan tempo hari bukan sesuatu yang nyata.

   ”Kau sampai pergi ke Cina. Sebenarnya aku tidak terlalu yakin kau akan menerima tawaranku, tapi aku berharap kau mau melakukannya meski jauh dari Seoul. Nyatanya, tanpa uang kompensasi kau terbang sendiri ke Cina… Jaehee-ya, kau dan Joonmyun Hyung itu sudah dewasa. Berhenti bersikap seperti anak kecil, dan bicarakan hingga tuntas masalah kalian!”

   ”Aku tidak mau!!!”

   ”Tapi kenapa? Kau yakin kau akan bertahan lama dengan Hyung kalau kau terus bersikap seperti ini?!”

   Jaehee terdiam, tidak percaya menatap Yixing yang balas menatapnya dengan tajam. Kata-kata Yixing amat sangat menyinggung dirinya, kenapa jadi ia seolah yang disalahkan atas semua perbuatan bodoh Kim Joonmyun?

   ”Keurae! Mungkin memang karena sikapku ini Joonmyun meninggalkanku, dan memilih wanita lain di belakangku. Keurae! Kau benar sekali, Zhang Yixing!!!” Jaehee berdiri dan mengambil tasnya, kemudian keluar dari ruangan dengan air mata yang sudah tak tahan lagi untuk dibendung.

*           *           *

Okay, rehat satu jam makan, kembali lagi pukul lima!”

   Ketika instruksi tersebut selesai diucapkan oleh sang manajer, seluruh member EXO yang ada di ruang latihan mengucapkan hal yang sama, berterima kasih dan segera beranjak menuju tas mereka masing-masing. Baik mengeluarkan air mineral, ataupun ponsel.

   Mata Joonmyun berkilat begitu melihat pesan yang baru saja ia terima dari seseorang yang membuatnya jengkel setengah mati setelah berita mengenai dirinya dan pacarnya jalan bersama di Cina. Awalnya, Joonmyun merasa bahwa kejengkelannya karena EXO rasanya tidak memerlukan banyak publikasi lagi setelah begitu banyaknya masalah yang sudah dihadapi sejak tahun lalu. Tetapi, sebenarnya ia jengkel pada Yixing karena cemburu juga!

Yixing : Hyung, kurasa kalian harus menyelesaikan masalah kalian. Aku tidak bisa mengajak Jaehee bekerja jika kondisinya terus seperti ini

    Joonmyun tidak mengerti. Apa maksudnya dengan ’kondisinya terus seperti ini’? Memang apa yang terjadi? Joonmyun menggaruk kepalanya dengan gatal, sepengetahuannya, Jaehee bukanlah gadis yang akan merajuk hanya karena ia tidak bisa menemui gadis itu. Tapi, firasatnya memang mengatakan kepergian Jaehee tempo hari ke Cina, dengan diantar Jongin, juga kata-kata sindirian Jongin mengartikan sesuatu!

   Tapi, selain menyembunyikan rencana surprise ulang tahun, Joonmyun tidak merasa melakukan salah apa pun pada kekasihnya. Jadi, ia tidak bisa mengira-ngira apa yang membuat Jaehee dalam keadaan ’kondisinya terus seperti ini’. Ia mengembuskan napasnya berat dan mengembalikan ponselnya kembali ke dalam tas selempang hitamnya yang tersohor, lalu duduk bersila menerima sebotol air pemberian Jongdae.

   ”Gomawo.”

   ”Jongin-ah, kau mau kemana?” tanya Jongdae setelah duduk bersila di samping Joonmyun dan melihat Jongin yang berjalan mendekati pintu, ”Duduk dulu, kita tidak berhenti menari sejak tiga jam lalu. Kau harus istirahat sebelum jalan-jalan!” serunya.

   Jongin menyeringai, ”Disini panas,” sahutnya sinis melirik ke arah Joonmyun, dan keluar dari dalam ruangan.

   ”Hyung, sebenarnya ada apa denganmu dan Jongin?” tanya Jongdae heran begitu Jongin sudah benar-benar meninggalkan ruangan, ”Kami bertanya-tanya beberapa minggu terakhir ini, kalian berdua seperti perang dingin. Oke, kami kira kalian akan berbaikan sendiri, karena biasanya pun seperti itu… tapi, maafkan aku yang penasaran hingga akhirnya bertanya, Hyung.”

   Joonmyun menghela napas dan menjawab, ”Kau kira hanya kau yang bingung? Aku juga bingung, Jongdae-ya. Dia mulai seperti itu beberapa minggu lalu, kukira dia hanya sedang tidak mood, tapi entahlah…” Joonmyun mengangkat bahu, ”Pesanku untuk bicara saja tidak dibalas, usahaku mengajaknya bicara juga nihil! Sama seperti Jaehee.”

   ”Tapi, Yixing Hyung kan sudah konfirmasi kalau dia dan Noona tidak ada hubungan apa-apa, Hyung.” Kata Jongdae menenangkan, ”Ya walaupun tidak banyak yang percaya, tapi setidaknya kita kan tahu kalau Yixing Hyung mengatakan yang sebenarnya.”

   Minseok, Baekhyun, Sehun, dan Chanyeol beberapa saat kemudian ikut bergabung bersamanya dan Jongdae di sudut ruangan, keempatnya mendengarkan dengan seksama pembicaraan antara dirinya dan Jongdae yang terlihat cukup serius itu.

   ”Molla. Aku heran dengan Jaehee dan Jongin, mereka berubah di saat yang bersamaan. Jaehee mendadak pergi ke Cina, dan Jongin mendadak dingin… apa kalian tidak ada yang diberitahu olehnya, mungkin aku melakukan sesuatu yang tidak ia sukai?”

   Kyungsoo bergumam dari sudut ruangan dimana ia tengah mengisi daya batrei ponselnya, ”Kira-kira apa yang bisa membuat anak itu kesal selain tidurnya diganggu, Hyung?”

   Joonmyun mengernyit.

   ”Hana, Hyung. Cuma Hana!” sahut Sehun tidak sabar. Kadang ia sangsi dengan segala prestasi yang Joonmyun miliki, kalau berpikir sederhana macam ini saja sepertinya sulit sekali.

   ”Tapi, apa hubungannya Hana dengan…ku?” suara Joonmyun perlahan-lahan menghilang. Ingatannya kembali pada malam ketika ia dan Hana pergi mencari hadiah untuk Jaehee.

   Sejak malam itu, Jaehee dan Jongin berubah!!!

   ”Seolma…” bisiknya ngeri.

   ”Wae? Kau tidak melakukan sesuatu yang aneh dengan Hana kan, Hyung?” tanya Baekhyun ngeri, sementara Chanyeol sudah bergidik ngeri. Minseok memelototinya, dan Jongdae terlihat kaget.

   Joonmyun masih berpikir ulang, ia ingat lagi kejadian saat Hana datang dan menanyakan kenapa Jongin berubah dingin kepadanya. Rasanya memang tidak masuk akal, kalau Jongin dan Jaehee marah karena dia dan Hana, tapi… kenapa tidak ada alasan lain yang lebih cocok untuk melengkapi kepingan puzzle bernama kemarahan Kim Jongin dan Oh Jaehee ini?

   ”Hyung!” seru Chanyeol, tidak sabar.

   Joonmyun berdiri tiba-tiba, membuat semua kawannya terlonjak. ”Kurasa aku harus bicara pada Jongin, langsung!” dan ia berlari keluar dari dalam ruangan untuk mencari dimana Kim Jongin berada. Ia mengenal Jongin sudah lebih lama dari usia EXO, tentu ia tahu dimana harus menemukan Jongin jika anak itu sedang tidak ingin diganggu, atau sedang dalam keadaan mood yang jelek.

   Dan benar saja, Jongin yang dulu, masih sama dengan Jongin yang sekarang. Yang duduk di sudut sebuah atap terbuka, yang tidak menghadap ke jalan raya, dengan minuman di tangannya, memandang matahari terik yang belum menunjukkan tanda-tanda akan terbenam meski sudah hampir pukul enam sore. Musim panas tentunya.

   Joonmyun duduk begitu saja di samping Jongin, tanpa berkata apa pun. Ia tahu mungkin Jongin akan langsung berdiri dan meninggalkannya, tetapi posisi Jongin sekarang tidak strategis untuk pergi. Tak lama setelah ia duduk, Joonmyun bisa merasakan tatapan Jongin padanya, dan tak lama kemudian dengusan kecil keluar dari mulut adiknya itu.

   Kim Jongin bukanlah pria yang tidak sopan. Ia salah satu adik Joonmyun yang paling menggemaskan /?/ karena meski terlihat galak dan tidak ramah, Jongin adalah pribadi yang hangat dan pemalu. Kini, Joonmyun yakin seratus persen, jika Jongin sudah berubah drastis seperti ini, penyebabnya hanya ada satu.

Cukup satu orang yang bisa merubah seorang Kim Jongin seratus delapan puluh derajat, dan itu adalah Lee Hana.

   ”Aku tahu kau marah padaku. Meskipun aku tidak terlalu yakin dengan alasannya,” kata Joonmyun pelan, tidak memandang mata Jongin. Bagaimana pun, tatapan Jongin yang tajam itu lebih mengerikan jika ia sedang marah, kan? ”Kenapa tidak kita bicarakan saja, supaya segera selesai?”

   Dan dengusan Jongin, yang membuat tangan Joonmyun gatal hendak menjitak kepala adiknya yang keras itu kembali terdengar. ”Membicarakan apa? Kau sendiri saja tidak tahu apa alasannya kan, Hyung?” tanyanya sedikit sinis. Joonmyun sudah muak dengan segala sindiran sinis Jongin, karena sindiran-sindiran itu selalu membuatnya merasa bersalah.

   Entah kenapa.

   Atau karena mengajak kekasih Jongin pergi diam-diam?

   ”Hana, kan?” tanya Joonmyun akhirnya. ”Semua ini, sikapmu ini… karena Hana, kan?”

   Jongin bungkam. Namun, Joonmyun sudah bisa menebak bungkamnya kali ini adalah jawaban.

   ”Jangan salahkan Hana. Semua salahku,” perlahan disentuhnya bahu Jongin, dan Jongin menghempaskan tangannya begitu saja, ”Tapi kau harus dengar penjelasanku dulu, Kim Jongin!” seru Joonmyun saat melihat Jongin sudah berdiri dengan mata yang berapi-api memandangnya marah. ”Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak tahu apa yang membuatmu tahu soal rencanaku dan Hana, tapi kurasa kau tidak tahu segalanya! Kau hanya menebak-nebak, iya kan?”

   ”Kalau begitu jelaskan!” tandas Jongin.

   ”Kau harus menjawab pertanyaanku dulu, Jongin-ah. Apa yang membuatmu marah, agar aku bisa menjelaskan dengan benar!”

   ”Kau masih bertanya, Hyung?”

   ”Karena aku benar-benar tidak punya bayangan yang pasti, kecuali ini pasti berhubungan dengan Hana!” seru Joonmyun tak kalah kerasnya. ”Tapi apa pun itu kau pasti salah!”

   ”Aku melihat kalian berdua, berangkulan keluar dari Cartier…” bisik Jongin berapi-api, karena sudah ketahuan, untuk apa lagi ia tahan-tahan emosinya yang sudah mau meledak sejak kejadian malam itu. Kalau beruntung malam ini ia bisa memberikan sebuah bogem mentah pada wajah Joonmyun yang sok polos di hadapannya kini. ”…bersama Jaehee Noona!”

   Dan Joonmyun memejamkan matanya rapat-rapat. Hatinya mencelos, perutnya seperti berjungkir balik, dan ingatannya melayang pada malam dimana ia dan Hana diam-diam ke sebuah department store untuk membelikan Jaehee hadiah. Ingatannya juga merekam dengan jelas bahwa khusus untuk hari itu, Jaehee benar-benar seperti pacar manja yang terus menerus menghubunginya, menanyakan keberadaannya, dan ingin dirinya datang ke rumah gadis itu.

   ”Dan disitu kau salah paham, Jongin-ah.” Sahut Joonmyun lirih, ia sendiri langsung membayangkan bagaimana reaksi Jaehee saat menyalah artikan sikapnya pada saat itu, ditambah dengan perginya dirinya dengan Hana, yang mengonfirmasi kebohongannya akan jadwal pada kekasihnya itu.

   Tak heran ia pergi ke Cina, dan menjadi sukar diraih lagi.

   ”Salah paham bagaimana? Sekarang jelaskan!” seru Jongin tajam. ”Kau membelikan Hana cincin Cartier, kau memaikan Hana cincin, di depan mata Jaehee Noona! Kau tidak tahu kan, Hyung, kalau Noona menyaksikan semua itu?!”

   ”Demi Tuhan, semua itu tidak seperti yang kalian berdua bayangkan…” Joonmyun menghela napas putus asa, sorot matanya menjadi nanar. ”Sekarang aku jelaskan. Aku tahu, kurasa ini memang salahku dan merahasiakan ini darimu, padahal aku meminta tolong Hana. Hingga semua jadi berantakan seperti ini… tapi, cincin itu bukan milik Hana, Jongin-ah.”

   ”Lalu?”

   ”Milik Jaehee tentu saja!” seru Joonmyun frustasi, meskipun lebih pada dirinya sendiri. Astaga, bagaimana rasanya jadi Jaehee yang menyaksikan dirinya memakaikan cincin di jemari wanita lain? Sekalipun itu Hana. Joonmyun menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Jaehee akan ulang tahun pekan ini, Jongin-ah… dan aku mau membuat surprise untuknya… kau tahu, kalau aku bicara banyak semua akan gagal, dan Hana… Hana adalah adik yang cukup dekat dengan Jaehee, karena yang lain sedang sibuk…” Joonmyun mulai merepet, dan entah kenapa Jongin bisa melihat kejujuran saat Joonmyun terlihat benar-benar putus asa bahwa niat baiknya disalah artikan oleh gadis yang sangat-sangat ia ingin buatkan kejutan. ”Astaga, Jongin-ah…” Joonmyun kemudian menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya frustasi, rasanya matanya sudah mulai memanas karena jelas ia baru ingat ia tidak memikirkan perasaan banyak orang ketika mulai merencanakan hal ini.

   Ia tidak memperkirakan Jaehee akan tahu. Ia tidak memperkirakan bahwa Jongin akan tahu juga! Dan ia tidak bisa membayangkan jika ia yang ada di posisi Jaehee atau Joonmyun, apa yang akan ia lakukan saat itu juga! Jelas, mereka salah paham karena kejadian pemasangan cincin, karena mereka hanya melihat, dan mendengarkan banyak kebohongan sebelumnya.

   ”Aku tidak menyalahkanmu, Jongin-ah, aku pun kalau di posisimu mungkin akan marah dan tidak hanya diam seperti kalian…” Joonmyun menggosokan keua telapak tangannya pada wajahnya dengan frustasi, ”Aku hanya… aku hanya mau menyiapkan kejutan untuk Jaehee, tidak lebih, aku bersumpah! Kau tahu aku juga tidak terlalu rapi, aku tidak mau hadiah cincin untuk Jaehee yang sudah kusiapkan itu hilang di kamarku… kau tahu kamarku, kan?”

   Dan untuk pertamakalinya dalam dua minggu ini, Jongin tersenyum padanya, geli meski dengan campuran miris.

   ”Aku memasangkan cincin itu pada Hana, untuk mengira-ngira ukuran jari Jaehee, tidak bermaksud lain, Jongin-ah. Maafkan aku…”

   Jongin menggigit bibirnya, ”Kenapa kau hanya mengajak Hana, Hyung? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku, kalau aku tahu, aku bisa membantu kalian… juga menahan Noona.”

   ”Dan sekarang ia bekerja di Cina, bahkan tidak bilang apa-apa padaku… aku tahu ada yang tidak beres! Tapi tidak menyangka kalau dia pergi dari Seoul dengan pikiran bahwa aku mengkhianatinya… sumpah!”

   Jongin menepuk bahu Joonmyun pelan, ”Sudahlah. Kau memang salah karena tidak jujur dan terlalu berahasia, tapi kurasa untuk urusan ulangtahun Noona, kau pasti bisa melakukannya, Hyung. Sekaligus kau menjelaskan padanya soal salah paham ini…”

   ”Apa dia akan memaafkanku?” bisik Joonmyun khawatir.

   ”Hyung, kalau ada satu yang aku tahu pasti soal Noona dan aku, adalah satu… kami sama-sama bodoh dalam cinta. Karena apa? Kami memilih bungkam dalam pikiran jelek kami kalau kalian mengkhianati kami. Yang berarti, bahwa kami memilih disakiti daripada kalian berdua yang meninggalkan kami.” Jongin terkekeh dan menepuk-nepuk bahu Joonmyun, ”Bagaimana pun, meskipun ternyata ini kesalahpahaman bodoh, aku berharap jika suatu saat nanti kalian mau membuat sesuatu yang mencurigakan, kalian bisa jujur padaku…”

   ”Ne, maafkan aku, Jongin-ah…”

   Jongin mengedikkan kepalanya, seolah memberitahu Joonmyun bahwa itu bukan apa-apa.

   ”Tapi kau juga harus minta maaf pada Hana,” tegur Joonmyun menyenggol lengan Jongin saat keduanya berjalan beriringan hendak kembali ke ruang latihan. ”Hana hanya mau menolongku, dia sama sekali tidak tahu apa-apa… dan kau mengabaikannya.”

   ”Hah~” Jongin menghela napas dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ”Ini semua karena kalian tidak terus terang padaku!” gerutunya, ”Aku jadi harus minta maaf pada Lee Hana yang babo~”

*           *           *

July 16th 2015

Yixing’s Workshop

08.00 CST

   ”Ini daftar belanja make up untuk bulan depan, dan ini ada jadwal pemotretan Sajangnim berikutnya, lengkap beserta tempat pengambilan gambar, konsep pemotretan, dan yang ini adalah pengajuan sponsor pakaian yang akan Sajangnim kenakan untuk pemotretan…” staff dari Korea, yang tempo hari menemui Jaehee saat skandalnya dan Yixing merebak di Cina, kini telah diangkat menjadi asisten pribadi Jaehee setelah kejadian Jaehee marah pada Yixing tempo hari.

   Hubungan mereka tidak begitu dingin, namun tidak juga hangat setelah kejadian waktu itu. Yixing sadar, kalau mungkin ia sudah melampaui batas dengan menyalahkan Jaehee tanpa mengetahui masalah yang sebenarnya. Ia juga salut sebenarnya pada Jaehee yang tidak mau mengumbar apa sebenarnya masalahnya dengan Joonmyun, tetapi Yixing merasa ia perlu menegur gadis itu dan Hyung-nya dalam hal ini.

   Mereka berdua tidak bisa terus menerus melarikan diri setiap ada masalah. Mungkin tidak dengan Joonmyun, tapi Jaehee memiliki kebiasaan jelek seperti ini, dan ini harus segera diubah jika tidak mau hubungan mereka hancur di depan nanti. Sebagai salah satu orang terdekat dari keduanya, Yixing merasa perlu untuk mengetuk cangkang keras kepala Jaehee tersebut. Terakhir kali, hanya kesalahpahaman saja bisa membuat dua insan manusia itu bisa berpisah dan saling menyakiti diri sendiri dalam kurun waktu yang cukup lama. Dan Yixing tidak mau itu terjadi lagi, tidak untuk mereka berdua, tidak juga untuk dirinya dan member EXO yang pastinya akan ikut tertimpa kesialan jika leader mereka patah hati, lagi.

   Hari itu, Yixing hanya mengintip dari pintu kubikel kerja Jaehee yang akhirnya selesai di dirikan setelah hampir satu bulan gadis itu bekerja di workshop-nya. Jaehee menerima map dan kertas-kertas dari staff dari Korea Selatan yang biasa dipanggil Khun itu, dan dilihatnya Jaehee membacanya dengan seksama sebelum bertanya, ”Apa kata Yixing?”

   ”Sajangnim bilang kalau Jaehee Agassi sudah setuju, semua akan langsung di proses.” Jawab Khun sopan.

   Jaehee menghela napas dan meletakkan mapnya, ”Kalau begitu make up bulan ini bisa di proses, dan tolong bilang bagian inventaris untuk mengecek stok sebelum pesanan selesai di proses, jadi jika ada yang kurang bisa ditambahkan. Kalau untuk konsep biar aku baca dulu. Aku punya waktu berapa lama, Khun-ssi?”

   ”Hingga besok malam, Agaassi.”

   ”Kalau begitu kau kerjakan yang tadi saja dulu, Khun-ssi.”

   ”Ne.” Khun membungkuk dan segera keluar dari ruang kubikel Jaehee, membungkuk singkat pada Yixing yang tersenyum ramah padanya. Mata Yixing kembali beralih pada Jaehee yang memeriksa map-map yang diberikan oleh Khun padanya tadi.

   Berdeham, ia berhasil membuat Jaehee melepaskan pandangannya dari map dan menoleh kepadanya. Yixing tersenyum malu-malu, membuat Jaehee mengernyit, setengah geli tapi setengah sebal.

   ”Wae?!” tanya Jaehee sedikit tajam namun tidak bisa dipungkiri sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas, menahan senyum.

   Yixing menarik keluar sebuah buket mawar kuning, yang melambangkan persahabatan sambil tersenyum sumringah, ”Happy birthday, Oh Jaehee~”

   ”Aww,” seulas senyuman muncul di bibir dengan lipstik pink nude itu. Jaehee menerima buket mawar kuning dari tangan Yixing dan terkikik, ”Kau romantis sekali, astaga… aku belum pernah menerima satu bunga pun dari lelaki mana pun! Kau yang pertama, Yixing-ah!” serunya bersemangat.

   ”Jinjja? Eyy, jangan sampai Joonmyun Hyung tahu kau berkata begitu, atau aku bisa mati!”

   Jaehee mengabaikannya dan meletakkan buketnya, ”Tapi benar, kau pria pertama yang memberiku bunga, tahu!”

   ”Tidak dengan mantan pacarmu di Amerika dulu?”

   ”Kalau aku ulang tahun dia memberiku hadiah cium, mehrong~” Jaehee menjulurkan lidahnya dan Yixing berdecak, ”Lalu? Tidak ada hadiah lain, Yixing-ah? Mana kadonya? Cuma bunga?”

   Yixing menarik kursi untuk duduk di samping Jaehee dan memandang tumpukan kertas-kertas sketsa wajah dengan coretan warna dan daftar merk make up yang akan digunakan pada sketsa tersebut, ”Kau mau kado apa memangnya? Semua orang selalu bingung kalau harus membelikanmu kado… kau kan bisa membeli segalanya sendirian.”

   Jaehee memutar matanya, ”Tetap saja, meski aku mampu membeli apa pun, aku menghargai setiap hadiah.”

   ”Kalau begitu, kutraktir makan saja bagaimana?” alis Yixing naik-naik.

   Jaehee tergelak, memukul bahu Yixing. Senang di hari ulangtahunnya kali ini, ia mendapatkan kembali sahabat yang bisa membuatnya tertawa melupakan kesedihannya sejak malam tadi, karena tak ada tanda-tanda Joonmyun mengingat hari pentingnya ini.

   ”Jaehee-ya, perutmu itu terbuat dari apa?” Yixing ternganga menatap cara Jaehee melahap mandu. Hari itu, jam makan siang, Yixing menepati janjinya pada Jaehee untuk memberinya hadiah berupa traktiran makan, meski pada umumnya seharusnya yang berulangtahunlah yang mentraktir. Dan Jaehee benar-benar menggunakan hadiahnya dengan baik, menghabiskan tiga porsi mandu berisi daging babi cincang dalam waktu kurang dari setengah jam. ”Apa kau tidak takut perutmu meledak? Ya! Oh Jaehee!” Yixing sampai menahan tangan Jaehee yang hendak menyumpit sebuah mandu lagi.

   Jaehee mendongak, balas menatapnya heran, ”Memang kenapa? Aku lapar, Zhang Yixing!”

   ”Tapi ini sudah porsi ketiga, Jaehee-ya,”

   Jaehee hanya mengangkat bahunya, ”Ini kan hadiahmu, jadi aku harus menikmatinya selagi aku bisa!”

   ”Apa kata Joonmyun Hyung kalau dia melihatmu makan banyak begini, eoh?” tanya Yixing ngeri. ”Dia akan kesini besok, dan jika kau membulat seperti ukuran Baymax aku harus bilang apa padanya, Jaehee-ya?”

   Tiba-tiba saja Jaehee duduk tegak dan meletakkan sumpitnya, ”Bisakah kau tidak membicarkana Joonmyun? Selera makanku jadi hilang, Yixing-ah.”

   Yixing menghela napas, ”Baiklah, makanlah, makanlah… aku tidak akan membicarakannya lagi.”

*********

Setelah makan siang bersama, Yixing melakukan sebuah pemotretan untuk portofolio casting film. Maka Jaehee, bersama staff yang lain cukup sibuk untuk melakukan pekerjaan mereka sepanjang sore itu. Jaehee bersyukur, di hari ulangtahunnya kali ini, meski ia memiliki masalah yang menyita pikirannya, setidaknya sepanjang hari ini, ia selalu dibuat sibuk. Biarlah ia memikirkan masalahnya nanti malam saja, setelah ia siap tidur.

   Sesekali, jika para fotografer tengah mengambil gambar Yixing, Jaehee tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak mengecek ponselnya, berharap-harap cemas apakah Joonmyun akan sekedar memberinya ucapan selamat, namun harapannya harus menguap dengan sia-sia. Hanya ada ucapan dari orang-orang terdekatnya di Korea, termasuk trio Lovelyixing-nya yang kemarin sempat marah karena berita tentangnya dan Yixing, namun akhirnya toh memaafkannya juga setelah mendengar penjelasan Yixing bahwa mereka memang hanya benar-benar berteman. Dari kedua orangtuanya, dari Minkyu Oppa.

   Bahkan dari Jiho.

   ”Done!”

   Semua bertepuk tangan setelah Yixing berdiri dan membungkuk mengucapkan terima kasih kepada para fotografer, dan tentu saja kru film yang barusan meng-casting dirinya. Dan sekarang waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Kurang dari satu jam, ulangtahunnya akan berakhir, tanpa ucapan, tanpa pesan, dari Joonmyun.

   ”Kalian boleh pulang, terima kasih semua…” ucap Yixing dalam bahasa Cina pada seluruh staffnya.

   Meregangkan seluruh otot-otot tubuhnya yang kaku Jaehee beranjak ke dalam kubikelnya, merapikan barang-barangnya sebelum Yixing memanggilnya dan mengajaknya pulang ke kondominium yang disewakan Yixing untuknya selama di Cina.

   ”Kau muram sekali, Jaehee-ya. Ini kan ulangtahunmu, gwenchana? Kau tidak sakit, kan?”

   Tersenyum, bersandar pada kepala tempat duduknya di mobil yang dikendarai Yixing, ia menjawab, ”Hanya lelah.”

   ”Bukan hari ini saja aku melihatmu muram, Jaehee-ya. Sebenarnya, aku tidak mau mencampuri urusanmu… tapi aku benar-benar penasaran. Masalah kalian sebesar apa sampai kau seperti ini?”

   ”Ah, aku tidak punya tenaga menjawabnya, Zhang Yixing,” gumam Jaehee pelan seraya menguap, tepat ketika Yixing membelokkan mobilnya ke dalam pelataran townhouse tempat Jaehee tinggal.

   ”Apa… Joonmyun Hyung mengucapkan ulangtahun?” tanya Yixing pelan.

   Jaehee mendengus, menggeleng. ”Kami sudah tidak saling kontak lama, Yixing-ah.”

   Yixing tidak berkata apa-apa hingga ia menghentikan mobil tepat di depan kondo kecil Jaehee, dimatikannya mesinnya dan ia menoleh, ”Aku serius mengatakan bahwa kalian harus membicarakan masalah kalian. Kau janji akan bicara pada Hyung besok, kan?”

   ”Hmm,” Jaehee mengangguk, tersenyum tipis, karena sudah tidak ada tenaga.

   ”Baiklah, istirahatlah sekarang… besok libur, kau tidak perlu bekerja karena aku akan sibuk rehearsal. Kau mau ikut?”

   ”Lihat besok saja,” Jaehee tersenyum kecil sambil melepaskan sabuk pengamannya, ”Terima kasih sudah mengantarku pulang, hati-hati di jalan… jaljayoooong~

   Malamnya, Jaehee menatap nyalang ke langit-langit yang dihiasi dengan stiker-stiker glow in the dark bermotif lumba-lumba, di atas tempat tidurnya. Ia mengantuk, tetapi matanya tidak bisa terpejam. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu pagi, dan kali ini Joonmyun melewatkan ulang tahunnya.

   Ia tidak tahu apa yang tengah Joonmyun lakukan sekarang. Entah benar latihan, entah benar sibuk, atau justru menikmati ketidakberadaannya di Seoul sana untuk bersenang-senang—dengan Hana. Pikiran itu membuat hatinya dan dadanya nyeri, secara harfiah.

   Ia memikirkan masak-masak perkataan Yixing mengenai sikapnya yang kerap kali melarikan diri jika tengah memiliki masalah dengan Joonmyun. Bukan maunya untuk selalu pergi dan pergi. Upayanya pergi kali ini sebenarnya dari awal sudah di dasari dengan keinginannya untuk mandiri, karena orangtuanya sedikit ’meminta’ dirinya untuk tidak terlalu bergantung pada Joonmyun. Ya, Jaehee sadar betul bahwa keputusannya selama beberapa bulan belakangan untuk pekerjaan, selalu didasari dengan dimana Joonmyun, dan bagaimana Joonmyun. Ketika untuk pertama kalinya Jaehee ingin mencoba mandiri, Joonmyun mendadak memiliki affair dengan Hana.

   ”Molla.” Jaehee memiringkan badannya dan menggunakan remote control dinyalakannya iPod Touch-nya, suara merdu Craig David dengan volume lirih mulai memenuhi kamarnya. Dipejamkannya matanya, meresapi betapa benarnya kata-kata Craig David tersebut.

Never thought that I’d fall in love, love, love, love

But it grew from a simple crush, crush, crush, crush

Being without you girl (boy) I was all messed up, up, up, up

When you walked out said that you had enough-nough-nough-nough

Been a fool, girl I know

Didn’t expect this is how things would go

Maybe in time, you’ll change your mind

Now looking back i wish i could rewind

Because i can’t sleep til you’re next to me

No i can’t live without you no more

Oh i stay up til you’re next to me

Til this house feels like it did before

Feels like insomnia ah ah, Feels like insomnia ah ah

Feels like insomnia ah ah, Feels like insomnia ah ah

Ah, i just can’t go to sleep

Cause it feels like I’ve fallen for you

It’s getting way too deep

And i know that it’s love because

Insomnia – Craig David

*           *           *

The Mastercard Center

EXO’luXion Beijing Venue

17 Juli 2015

22.00 Beijing Standard Time

Mwo?!” pekik Yixing.

   Jongin tidak memandang kemanapun melainkan ke kakinya sendiri, sementara member lainnya hanya geleng-geleng kepala karena sudah mendengar perihal ini terlebih dahulu daripada Yixing, dan mereka tetap tidak bisa menyingkirkan rasa absurd mereka pada cerita ganjil yang super tidak romantis mengenai cinta segi empat yang salah sambung ini.

   ”Begitulah ceritanya,” Joonmyun mengakhiri kisahnya, setelah kesembilan member EXO tersebut selesai melakukan rehearsal di The Mastercard Center, tempat diselenggarakannya konser mereka besok. Hari ini, setibanya di Beijing, Joonmyun harus menerima bombardir pertanyaan menusuk dari Yixing, yang baru bisa ia jelaskan dengan baik seusai gladi bersih tersebut.

   Tentu saja Yixing ikut merasa tertipu! Berhari-hari ia harus menghadapi naik turun mood Jaehee, yang lebih banyak turun bahkan menukik tajam, dan tentu tidak jarang ia menjadi sasaran amukan gadis montok itu. Dan ternyata itu semua karena skenario saja!

   Sialan!!!

   ”Hyung, kau tahu kau sudah membuat hidupku merana!!!” seru Yixing merajuk seperti anak kecil, ”Kau kira mudah menghadapi Jaehee yang cemberut terus setiap hari?!”

   ”Hyung, kau menghadapi Noona yang cemberut tiap hari, kami menghadapi Jongin yang seperti gunung merapi mau meletus!” ujar Baekhyun tidak mau kalah, ”Bagi dua dong!”

   Chanyeol terkekeh geli.

   ”Masalah ini memang jadi merembet kemana-mana, dan jika aku tahu pada akhirnya aku harus menceritakan ini pada kalian, sejak awal saja sudah aku ceritakan agar tidak ada salah paham.” Desah Joonmyun merasa serba salah, ”Hana sekarang tidak mau menegur Jongin. Aku jadi merasa bersalah.”

   ”Kau memang salah, Hyung!” desis Jongin melipat tangannya, namun kali ini tak ada kesinisan dalam kalimatnya, hanya cemas dan sedikit jengkel. ”Kenapa kau tidak bilang padaku dari awal?!”

   ”Sudah, sudah…” Chanyeol menenangkan. ”Kita semua sudah belajar dari kesalahan masing-masing bukan sekarang? Move on, kita harus memikirkan rencana selanjutnya untuk Noona. Kalau mendengar cerita Yixing Hyung, kepala Noona bisa muncul tanduk karena kau tidak memberinya ucapan selamat ulangtahun, Suho Hyung.”

   Joonmyun menghela napas lagi, ”Kacau! Semua rencana jadi kacau!”

   ”Itu karena kau main rahasia dari awal, Suho Hyung!”

   Jongin mengangguk-angguk mengiyakan seruan Sehun barusan, tapi tak ia sangka Sehun berpaling menatapnya juga, dan mengacungkan jarinya, ”Kau juga! Kau sudah salah sangka pada Hana, minta maaf padanya! Dia kan hanya mau membantu Suho Hyung.”

   ”Kau tidak lihat Hana tadi? Mungkin kepalanya juga mau ditumbuhi tanduk,” Jongdae mengompori.

   ”Eyyy~ sudahlah kalian! Sekarang pikirkan bagaimana ulangtahun Noona, urusan Hana, Jongin bisa melakukannya sendiri. Iya kan, Kim Jongin?” Kyungsoo menatap adiknya dengan manis.

   Jongin meneguk ludahnya kuat-kuat dan tidak berani menolak tatapan Kyungsoo yang senyumannya selalu menyimpan makna lain.

   ”Aku tidak bisa membantu apa pun selain memberitahumu alamat Jaehee dimana, Hyung. Karena dia sepertinya tidak mau kesini saat kuajak tadi, mungkin sedang istirahat… tapi ya dia pasti menghindarimu.” Yixing berterus terang.

   ”Lebih baik setelah ini kita kesana, kalian bisa bawa perlengkapan pesta… tapi aku masuk duluan, setelah kami menyelesaikan masalah kami, kalian akan kupanggil untuk membawa kejutannya. Oke?”

   ”Menunggu kalian menyelesaikan masalah?”

   ”Kami menunggu diluar, begitu?”

   ”Dan masalah kalian selesai dalam waktu… lima tahun kemudian~”

   ”Diam! Sudah turuti saja!” desis Joonmyun serius, dan untuk waktu yang jarang, seluruh member terpaksa diam dan menuruti keinginan Joonmyun tanpa protes lebih lanjut.

*           *           *

Jaehee baru saja merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya. Hari ini ia menghabiskan waktu dengan tidur, menonton televisi, memasak, dan entah kenapa semua kegiatannya yang sebenarnya tidak seberapa itu, membuatnya cepat lelah dan matanya lebih berat ketika jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Padahal biasanya ia baru akan tidur lewat tengah malam sepulang bekerja dari workshop Yixing.

   Hari ini Yixing mengajaknya datang ke Mastercard Center untuk menonton EXO rehearsal. Yixing juga mengatakan bahwa Chanra, Nayeon, dan Hana semua ikut datang ke Cina untuk menemani EXO. Dan hati Jaehee seolah menggelinding turun ke arah perut begitu membaca bahwa Hana turut serta ke Cina bersama EXO!!!

   Pikirannya jadi melayang pada Jongin. Sudah lama sejak terakhir kali ia dan Jongin bertukar kabar melalui KakaoTalk. Bagaimana kabar anak itu, terakhir kali yang ia tahu Jongin juga tidak jauh berbeda keadaannya dengannya. Menimbang-nimbang apakah sebaiknya ia menghubungi Jongin sekarang, untuk menanyakan keadaannya, juga bagaimana hubungannya Hana ketika ponselnya mendadak berdering.

   Tangan Jaehee meraba-raba ke nakas di samping kanan tempat tidurnya, dimana iPhone 6-nya berada. Kedua matanya melebar kaget melihat nama siapa yang tertera disana.

Myeonie~

   Tanpa pesan, tanpa kabar, tanpa apa pun selama nyaris sebulan dan kini ia menelepon?! Sebenarnya memang Jaehee sudah rindu untuk mendengar suara Joonmyun, namun rasa gengsi dan kesalnya lebih menang. Dengan kesal ia mengembalikan ponselnya begitu saja ke atas nakas, bepura-pura tidak mendengar lantunan nada dering dari ponselnya, meski hatinya berdegup kencang karena kegirangan. Joonmyun ingat padaku…

   Joonmyun tidak menyerah. Sekitar enam kali ia terus berusaha menghubungi Jaehee tanpa hasil, barulah pria itu berhenti. Namun lima menit kemudian ponselnya kembali berdering, diliriknya ponselnya kembali, tetapi nama yang tertera disana sudah berubah.

Jongin

   ”Jongin?” Jaehee buru-buru duduk di tempat tidurnya dan memandangi ponselnya heran. Ia menggeser kursor dan meletakkan benda pipih itu pada telinganya, ”Jongin-ah?”

   ”Bagus! Aku yang menelepon tidak kau angkat, Jongin telepon kau angkat!

   Jaehee menutup mulutnya dengan tangan, kaget bukan main. Joonmyun menggunakan ponsel Jongin untuk menghubunginya? Kalau begini kan meja jadi terbalik!!!

   ”Kenapa diam?”

   ”Hanya… kaget,” jawab Jaehee seadanya, suaranya bahkan terdengar serak karena tidak digunakan sama sekali seharian. Ia sendirian di rumahnya, tidak ada yang mengajaknya bicara.

   ”Coba keluar balkon, lihat ke bawah…” pinta Joonmyun pelan.

   ”Mwo?”

   ”Keluar balkon.” Pip! Sambungan putus.

   Ia tidak salah dengar, kan? Joonmyun memintanya untuk keluar balkon? Apa Joonmyun ada disini? Buru-buru Jaehee turun dari tempat tidur, mengenakan sandal kamar bulunya, menyisiri rambutnya dengan tangan sebelum menggeser tirai kelabu yang menutupi pintu kaca gesernya. Ia tidak menemukan ada tanda-tanda kehidupan di luar.

   Kompleks kondominium yang Yixing sewakan untuknya memang terletak di sebuah townhouse eksklusif, dengan keamanan cukup ketat, sehingga privasi siapa pun yang tinggal disana takkan terganggu. Yixing bahkan menjamin seratus persen bahwa tetangga Jaehee disini tidak akan terganggu dengan dirinya yang selalu mengantar dan menjemput Jaehee setiap pagi dan malam.

   Angin malam menerpa wajah Jaehee, yang menyipit untuk melihat apa yang Joonmyun maksudkan saat memintanya untuk keluar ke balkon kondominiumnya. Dan begitu ia menunduk, sosok Joonmyun dalam balutan sweater, celana panjang hitam, dan topi balas menatapnya dari bawah.

   Bahkan setelah apa yang Joonmyun perbuat kepadanya, ia tetap tidak bisa menyingkirkan rasa rindunya, dan rasa bahagianya saat melihat pria itu hidup, bernapas, dan balas menatapnya dari bawah sana. Mata cokelat itu memandangnya, seolah menerawang ke dalam jiwanya.

   ”Apa yang kau lakukan disini?” tanya Jaehee akhirnya setelah mereka saling menatap nyaris lima menit, dan tak ada satu pun diantara mereka yang berkenan untuk membuka suara selama kontes adu tatap itu.

   ”Mengunjungimu. Apa lagi?”

   ”Kau sudah melihatku. Pulanglah,” gumam Jaehee.

   ”Kau tak mau mengajakku masuk? Mengajakku melihat bagaimana tempat tinggal barumu disini? Bercerita bagaimana pekerjaanmu? Bercerita apa saja yang kau lakukan selama sebulan ini?”

   Jaehee terkekeh miris, ”Masih banyak waktu untuk itu, kau pulang saja, ini sudah malam. Kau harus konser bukan besok?”

   ”Kau tahu aku mau konser besok, kau pasti tahu aku rehearsal hari ini, kan?”

   Tidak ada jalan lain selain menjawab pertanyaan itu melalui anggukan kecil. Jaehee dengan enggan harus mengakui bahwa senyuman kecil dari Joonmyun saja sudah bisa meluluhkan semua pertahanan, semua tembok yang berusaha ia bangun selama ini untuk menjaga dirinya agar tidak disakiti lagi.

   ”Kenapa tidak datang? Yixing bilang dia sudah mengajakmu untuk datang.”

   ”Aku sedang tidak merasa ingin datang.” Gumam Jaehee lagi.

   ”Kenapa? Apa karena aku?”

   Jaehee diam.

   ”Diam lagi. Kenapa tidak pernah bilang kalau marah? Kenapa tidak pernah berkata apa-apa jika aku berbuat salah? Kenapa diam dan diam, tapi pergi jika aku menyakiti hatimu?” tanya Joonmyun bertubi-tubi, dan suaranya semakin lama semakin keras.

   Jaehee menatap sekeliling. Memang tidak ada tetangga yang keluar, tapi ia khawatir jika Joonmyun terus bersikap seperti ini, tetangga sekitarnya akan tahu dan pasti akan berbahaya.

   ”Jaehee-ya, aku frustasi dengan sikapmu… kenapa kalau aku salah, aku berbuat salah… atau apa pun, yang kulakukan tidak berkenan di matamu, kau selalu diam tidak mengatakan apa-apa, tapi kemudian kau malah pergi tanpa pesan!” seru Joonmyun lagi. ”Apa ini hubungan yang kau mau? Kalau aku tidak datang padamu… apa kau akan dengan sukarela datang menemuiku?”

   ”Joonmyun-ah, ini sudah malam… suaramu bisa mengganggu tetanggaku!” desis Jaehee mulai memandang khawatir ke sekeliling, ”Kita tidak perlu membicarakan ini disini sekarang!”

   ”Sekarang! Tidak bisa ditunda!”

   ”Kalau begitu masuk! Aku akan bukakan pintu, tapi jangan teriak di bawah lagi!” Jaehee buru-buru meninggalkan balkon dalam keadaan terbuka untuk membukakan Joonmyun pintu di bawah. Ia berlari menuruni tangga, dua tangga sekaligus, dan nyaris tersandung di anak tangga paling bawah, sebelum ia berlari menyebrangi ruang tamu dan membuka gerendel pintu kondominiumnya.

   Tepat pada saat pintu kondominium terbuka, sepasang tangan hangat yang begitu Jaehee rindukan merengkuhnya ke dalam pelukan yang tak kalah hangatnya itu. Joonmyun membenamkan kepalanya pada lekukan leher Jaehee yang mematung karena terjekut akan pelukan yang begitu tiba-tiba itu.

   Pelukan Joonmyun begitu erat, kuat, seolah-olah takut jika ia mengendurkannya sedikit saja, Jaehee akan lenyap selamanya. Pelukan itu juga hangat, nyaman, dan Jaehee tidak pernah merasa bahwa ia pulang, sebelum merasakan pelukan ini. Kondominium ini mungkin rumah baginya, tapi ia benar-benar merasa ’pulang’ ketika Joonmyun memeluknya.

   Pelukan itu begitu nyata, hembusan hangat napas Joonmyun pada lehernya juga terasa nyata. Tangan Jaehee sendiri terangkat, namun ragu-ragu. Apa ia harus membalas pelukan laki-laki di hadapannya ini? Apakah ini nyata, ataukah Joonmyun sekali lagi hanya ingin mempermainkannya.

   Joonmyun sendiri merasakan tubuh Jaehee yang tegang begitu ia meraihnya ke dalam pelukan. Ia tidak peduli, apa Jaehee menganggapnya aneh atau maniak dengan aksi main peluknya sekarang. Ia merindukan gadis itu, dalam dekapannya! Ia merindukan aroma khas gadis itu, ia merindukan gadis itu, titik! Dan obat paling mujarab untuk mengobati semua itu hanya dengan memeluknya, mendekapnya erat dan berharap gadis itu balas memeluknya.

   Tapi tidak, ia bisa merasakan tangan Jaehee bergerak hendak memeluknya, namun tertahan. Gadis dalam pelukannya ini pastilah benar-benar terluka, pastilah ia benar-benar mengira bahwa dirinya sudah mengkhianati kepercayaannya, sekali lagi. Hati kecilnya sedikit terluka, sebenarnya, juga sedikit sedih karena merasa bahwa dirinya begitu kecil sekali dipandang oleh kekasihnya sendiri. Namun, mengingat kata-kata Jongin mengenai mereka melihat dirinya memasangkan cincin di jari Hana, Joonmyun berusaha mengerti posisi Jaehee.

   ”Tidak mau memelukku?” tanya Joonmyun lirih, ”Tidak merindukanku sama sekali?” tanyanya penuh harap.

   Akhirnya, selama sepersekian detik Jaehee berpikir, tapi kemudian ia membalas pelukan Joonmyun, sama eratnya. Ia melepaskan seluruh pertahanannya, ia siap untuk hancur dan melebur, jika ini kesempatan terakhirnya, ia ingin menghabiskannya dengan baik, di dalam pelukan pria ini, pikirnya.

   Joonmyun tersenyum kecil merasakan kedua tangan Jaehee yang jauh lebih kecil darinya memeluknya erat, ia mengecup pipi Jaehee yang sedikit terekspos dari tempatnya meletakkan kepala di ceruk leher kekasihnya itu. ”Aku sangat merindukanmu, Sayang.”

   ”Hmm,” Jaehee hanya bergumam.

   ”Kau tidak merindukanku?” Joonmyun kembali bertanya dan mendorong Jaehee perlahan ke dalam ruang tamu yang temaram, menutup pintu dengan kakinya, berjaga-jaga agar tidak ada yang melihat apa yang mereka berdua lakukan, atau EXO akan masuk berita, lagi!

   Jaehee sama sekali tidak menjawab.

   ”Tidak ada yang mau kau tanyakan padaku?” Joonmyun melepaskan pelukannya, dan Jaehee hanya menunduk, menggelengkan kepalanya. Tidak mau balas menatap matanya. Ia menghela napas dalam-dalam, ia masih tidak mengerti mengapa Jaehee tidak mendampratnya jika memang gadis itu merasa dirinya selingkuh? Joonmyun rasa ini salah satu sifat Jaehee yang belum ia ketahui. ”Sayang,” panggil Joonmyun sambil menangkup wajah kekasihnya dalam kedua tangannya, dan menengadahkannya agar dapat menatap kedua matanya.

   Mata Jaehee masih sama seperti saat terakhir kali ia menatap mata gadis itu. Cokelat kelam, nyaris hitam pekat. Mata itu menatapnya sendu, tak banyak yang bisa dikatakan selain sendu disana. Dan mata itu perlahan-lahan mulai berkabut oleh genangan air mata.

   ”Mianhae,” Jaehee melepaskan tangan Joonmyun dan menunduk untuk menutupi air matanya yang hampir tumpah.

   ”Kenapa menangis? Apa kau tidak suka melihatku disini?” tanya Joonmyun pelan.

   Jaehee menggeleng, ”Aku senang kau disini, aku senang,” sahutnya dengan suara sudah mulai parau. ”Tapi kau benar, kau harus pulang… ini sudah malam, dan kau harus latihan sejak pagi juga bukan?”

   ”Jaehee-ya, yakin tidak ada yang mau kau katakan kepadaku?”

   Jaehee menggeleng, masih menunduk dan mengusap-usap air matanya, ”Tidak, tidak ada, Joonmyun-ah.”

   ”Baiklah tapi ada yang mau kukatakan padamu. Sebelum aku mengatakannya, aku juga mau mengatakan sesuatu yang lain… selama menjadi kekasihmu nyaris dua tahun ini… aku tahu satu kebiasaan burukmu, yang aku harap dapat kau ubah di kemudian hari…”

   Seperti sebuah tinju melayang langsung pada dadanya, Jaehee mendongak dengan kaget. Apakah Joonmyun akan mengeluhkan hubungan mereka dan memutuskan hubungan mereka pada saat ini juga?!

   ”Kau selalu memanggilku ’Joonmyun’ jika kau tidak merasa nyaman denganku. Tidak merasa nyaman dengan sesuatu yang kulakukan… atau sedang kecewa kepadaku. Satu lagi yang aku amati, kau cenderung melarikan diri dari masalah… masalah kita. Kau tidak pernah menyukai konfrontasi…” tandas Joonmyun berusaha membaca ekspresi wajah Jaehee yang semakin lama semakin pias, layaknya maling tertangkap tangan. ”Aku tidak mengerti kenapa… perdebatan adalah sesuatu yang wajar dalam hubungan. Kau tidak bisa menghindarinya, kau hanya akan memperpanjang masalah…”

   Jaehee menggigit bibirnya, dan menggeleng-geleng.

   Joonmyun tersenyum lembut, ”Tapi rasanya kini aku tahu kenapa kau memilih pergi daripada membicarakan ini.”

   ”Kenapa?” tanya Jaehee heran, lirih.

   ”Untukku tahu, untukmu mencari tahu…” bisik Joonmyun. ”Dan yang ingin kukatakan kepadamu adalah…”

   Jaehee menunduk, seolah bersiap menerima vonis terburuk.

   ”Selamat ulang tahun, Sayangku…” dipejamkannya matanya, dan dikecupnya kening Jaehee dalam-dalam, berusaha menyalurkan segala yang ia rasakan pada kekasihnya itu. Frustasi, cemas, sayang, rindu, dan tentu saja yang ia rasakan begitu dalam pada gadis itu.

   Cinta.

   ”Hmm?” Jaehee seperti orang bingung setelah Joonmyun melepaskan ciuman di kening. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya menatap Joonmyun bingung, tidak menyangka.

   ”Kalau kau berpikir aku lupa pada ulangtahunmu, kau salah besar. Tidak pernah sedikit pun aku lupa soal ulangtahunmu. Bahkan sudah sejak satu bulan yang lalu aku ingat bahwa pada tanggal 16 Juli 1991, adalah hari lahir gadis yang kuharapkan suatu saat nanti bisa jadi pendamping hidupku… Ibu dari anak-anakku…” jelas Joonmyun lembut, ia menangkap semburat merah yang muncul di pipi tan gadisnya ini, ”Tapi, aku bodoh… aku terlalu bodoh untuk melakukan semuanya dengan sempurna seperti yang aku inginkan, karena aku malah menyakiti gadis yang kucintai. Aku merencanakan sebuah kejutan besar untuknya dari jauh-jauh hari, agar ia tidak menyadari kejutan yang kupersiapkan… tapi karena sikap penuh rahasiaku, aku membuatnya salah paham…” Joonmyun merogoh-rogoh kantungnya dan tiba-tiba saja sebuah kotak beludru hitam sudah muncul di hadapan Jaehee, ”Mungkin yang kau lihat aku memakaikan cincin pada gadis lain—pada Hana… tapi aku hanya berharap aku bisa memakaikan ini pada jarimu, dan melihat senyummu saat aku memberikannya…”

   ”Aku tidak membayangkan, sebelum melakukan ini… kau pergi karena mengira aku menduakanmu, pada Hana pula… tapi, mungkin sikapku yang menjauh menjadi pemicu juga. Aku tidak tahu kau sedang bingung soal karier dan masa depan yang harus kau pilih sendiri… saat aku hanya berpikir bagaimana bisa jadi pacar yang keren bagimu…” kekeh Joonmyun, ”Maafkan aku.”

   Air mata yang sejak tadi berusaha ditahan oleh Jaehee dan berhasil menghilang, kini kembali lagi membanjiri matanya, dan untuk kali ini, tidak tertahankan. Bagaimana bisa Joonmyun tahu soal dirinya yang melihat Joonmyun-Hana di gerai Cartier?!

   Tiba-tiba Joonmyun berlutut dengan satu kaki, mendongak dengan senyum lembutnya, tidak peduli bahwa Jaehee kini disimbahi oleh air mata. ”Aku belum bisa menjanjikan masa depan sampai sepuluh tahun ke depan. Kau tidak akan pernah jadi yang pertama dalam prioritasku selama sepuluh tahun ke depan. Kau tidak akan bisa kuakui di depan dunia selama sepuluh tahun ke depan… tapi aku tahu kau pasti bisa melaluinya. Kau selalu bersamaku, mendampingiku… bahkan dengan segala keterbatasan yang aku tawarkan, kau selalu menerimaku apa adanya. Aku egois, Jaehee-ya… aku takut saat kau mulai memikirkan masa depanmu, aku takut saat aku tidak ada di dalam rencanamu… padahal aku tidak bisa memasukkanmu dalam rencanaku.

   Aku tidak bisa menawarkan apa yang laki-laki biasa bisa tawarkan pada umumnya, tapi aku berharap aku mendapatkan apa yang wanita biasa berikan pada kekasihnya. Untuk itu, cincin ini adalah cincin janji… maukah kau, bertahan bersamaku… hingga aku bisa mendeklarasikan cintaku padamu, memberikan diriku seutuhnya untukmu?”

    ”Mwoya?!” seru Jaehee dengan air mata bercucuran, namun Joonmyun tidak peduli, ia terus berlutut dan mendongakkan kepalanya penuh harap. Karena akhirnya, apa yang harus ia katakan, kini telah terkatakan dengan gamblang, jelas dan lugas.

   ”Jawab aku, kumohon, Jaehee-ya… maukah kau bertahan denganku hingga aku bisa memberikan diriku seutuhnya kepadamu?”

   Jaehee mengusap matanya dan mengangguk-angguk, ”Keurom. Tentu saja!”

   Dan Joonmyun menyematkan Cartier yang terlalu besar di jari manis Hana, yang dikenakan Hana di jari telunjuk agar tidak hilang itu—ditempat dimana cincin itu seharusnya berada.

   Di jari manis tangan kiri Jaehee. Joonmyun sendiri nyaris menangis saat melihat betapa pasnya cincin itu dijemari kiri Jaehee.

   ”Maafkan aku, Myeonie, aku hanya… aku…” Jaehee terbata-bata sambil memandangi benda berkilauan pada jemarinya itu, dan Joonmyun kembali membawanya ke dalam pelukannya yang erat. ”Aku tidak tahu aku harus berkata apa saat melihat itu, dan… aku takut kalau itu benar, kalau… kau dan Hana memang… aku tidak mau kau meninggalkanku,” aku Jaehee lirih pada dada bidang Joonmyun, merasakan jantung kekasihnya berdetak cepat.

   Joonmyun terkekeh dan mengecup pipi Jaehee lagi, ”Ara, ara… tak perlu kau katakan, kini aku mengerti.”

   ”Maafkan aku,” isak Jaehee merasa tidak enak. ”Aku selalu mengambil kesimpulan sendiri, tanpa pernah mau menjelaskannya… aku kira aku sudah berubah tapi ternyata…”

   ”Ssshhh…” Joonmyun melepaskan pelukannya dan mempertemukan dahi mereka, mengecup puncak hidung Jaehee dan menyapa bibir Jaehee singkat. Memang tak cukup untuk menghapuskan rindu, ”Itu untuk kita perbaiki di kemudian hari… aku tahu tak mudah untuk keluar dari kebiasaan seperti itu, tapi aku disini selalu siap membantumu, oke?”

   Jaehee mengangguk, tersenyum lega untuk pertamakalinya.

   ”Sebenarnya aku masih ingin menghabiskan waktu berdua denganmu… tapi, ini bukan waktu yang tepat karena…”

   ”HAPPY BIRTHDAY NOONA!!!”

   ”SAENGILCHUKAHAMNIDA, SAENGILCHUKAHAMNIDA, SARANGHANEUN JAEHEE NOONA, SAENGILCHUKAHAMNIDA…”

   Terlonjak, Joonmyun dan Jaehee yang masih berpelukan di ruang tengah, terkaget-kaget (hanya Jaehee sebetulnya) melihat pintunya menjeblak terbuka, dan masuklah rombongan laki-laki, dan beberapa perempuan, membawa balon, konfeti, terompet, dan tetu saja kue ulang tahun.

    ”Apa kami menginterupsi sesuatu?” tanya Minseok sok polos.

   ”Aniya~” geleng Joonmyun jengkel.

   ”Kalau begitu, happy birthday, Cantik…”

   Jaehee terkikik.

   ”Make a wish!” seru Baekhyun, Chanyeol, dan Chanra bersamaan.

   Jaehee memejamkan matanya, mengatupkan kedua tangannya. Doa singkat yang mendalam, yang ia gantungkan pada langit, agar dikabulkan, dan dilancarkan. Dibukanya matanya, dan ia meniup angka 25 di atas kue cokelat itu kuat-kuat, diiringi sorak riuh dari member EXO dan para gadis.

   ”Gomawo, kalian baik sekali mau datang kesini… Chanra, Nayeonie, kukira kalian sedang sibuk-sibuknya… oh ya, dimana Hanji dan Chaerin?” tanya Jaehee penasarn mengenai absennya dua orang itu.

   ”Entahlah, Eonnie… Hanji tidak bisa dihubungi, sepertinya ia tidak di Korea, begitu juga dengan Chaerin Eonnie.” Sahut Nayeon, ”Anyway, selamat ulang tahun, Eonnie Sayang…” Nayeon dan Chanra memeluknya bersamaan, tapi Hana menatapnya takut-takut. Pasti masih merasa canggung dengan apa yang terjadi diantara mereka.

   ”Hana-ya, kau tidak mau memberiku selamat?” tanya Jaehee dengan senyum ramah, mencairkan suasana.

   Dan Hana menghambur, mengisak ke dalam pelukan Jaehee, ”Eonnie mianhaeyoooooo… aku tidak bermaksud melakukan hal aneh padamu, maafkan aku, Eonnie~”

   ”Aniya, gwenchana… semua hanya salah paham,” Jaehee terkekeh geli dan menepuk-nepuk punggung Hana.

   Chanra berdecak, ”Makanya jangan suka jalan sama pacar orang!”

   ”Ya!” omel Joonmyun, ”Chanra benar, Zhang Yixing! Kenapa kau jalan dengan Jaehee?!”

   Yixing yang sedang mencoba krim kue bersama The Beagles menoleh dengan kaget, ”Kenapa aku dibawa-bawa lagi?!”

   ”Aku yang salah paham, Hana-ya… kau dan Jongin tidak bertengkar lagi kan? Jongin-ah, maafkan aku, karena aku kau jadi ikut salah paham… kau tidak memarahi Hana lagi, kan?” tanya Jaehee pada Jongin masih sambil memeluk Hana. Keduanya menegang.

   Oke, jawabannya jelas rupanya.

   Sehun geleng-geleng.

   ”Sudah, yang penting sekarang kita makan ku…YA! Itu kue Noona, kenapa kalian yang makan?!” dan Kyungsoo menepuk kepala Chanyeol, Baekhyun, Jongdae bersamaan.

   Jaehee terkekeh. Pertengkaran ini begitu ia rindukan, suasana ini, dimana pun ia berada, inilah rumah. Inilah tempat ia pulang. Bersama Joonmyun, bersama EXO, bersama gadis-gadis adiknya. Ia hanya berharap, ulangtahunnya yang berikutnya, tidak perlu memakan air mata lagi seperti sekarang.

“Sepertinya pembicaraan kita harus ditunda, nanti… saat mereka,” Joonmyun melirik ke arah rombongan member dan gadis-gadis sambil berbisik di telinga Jaehee, “…sudah tidak ada.” Jaehee tersenyum kecil, mengangguk.

-Keutt-

Holaaaaa… sori lama banget apdetnya, FF Sinetron yang ngalahin Cinta Fitri, apalagi novel yang diangkat jadi film #congkak hahahaha, bercanda-bercanda… tulisan sepet begini kok ya ngaku-ngaku. Anyway, maaf banget atas keterlambatan posting FF-nya, seperti yang kalian tahu aku dua bulan terakhir sibuk deadline skripsi, dan dengan senang hati aku umumkan bahwa alhamdulillah aku sudah resmi lulus kuliah hoyyyeeeeee~ tapi mungkin kalau sebentar lagi dapet kerja, bakalan sendet-sendet lagi nih apdetnya.

Intinya terima kasih untuk semua yang udah mau baca, kritik, saran, makanan diterima dengan baik sama aku pokoknya… hehehe see you on next veiled~

xoxo

neez,

28 thoughts on “.:JunHee Veiled:. Special Day

  1. heeryaa says:

    Akhirnya ada post-an apdet lagiiiii~~~~ mahasiswa tahun akhir bgt ya kemaren~ uuuuugh ending di ultahnya jaehee tp akhirnya keliatan juga maksud dan tujuan si joonmyeon duh sok misterius siiih XD

  2. nayatiara says:

    finally they get over the misunderstanding!!!
    please always be happy you two my loveess
    and also the sneak peak for Kaina!!
    please get over this too you two love birds
    thank you for the hard work, waiting for the next one!!!

  3. coffeenerd says:

    Halo ka neeez^^
    Udah lama nih gaada update an di idl
    Akhirnyaaa junhee balik lagi yeay! joonmyeon sweet bgt aaaaaah semoga cepet cepet nikahin jaehee, kalo 10 taun klamaaan hehe

  4. Lisa says:

    Sebelumnya selamat kak atas kelulusan ya, wah udah ada gelar dong nih dibelakang namanya heheheee
    Well!! Ahhhh kangen banget sama pasangan ini huee, akhirnya mereka baikkan akhirnya junmen keinget salahnya dimana aduh bener2 deh leader satu ini ceroboh banget mau rahasiaan malah bikin orang salah paham ckckck
    Ciee jongin sama hana berantem wkwk pasti seru deh iniii
    Btw aku suka banget junmnyeon bersikap ke jaehee duh bahasanya itu loh romantis banget, abis member pulang mereka ngapain yaa… Jangan2… Hahaha aku kangen skinship merekanya nih kak hahaha
    Ditunggu next epsnya kak semangaaatttt

  5. rinhorinhae says:

    omg!! ternytaaaaa !! ini tohhh ini tohhh alasan knp kai jaehee hana jun kmrennnn.. ggra pkiran buruk yg menimbulkan presepsi bhwa ada sesuatu yg g bres jd nya aku gg bca ff kmrenn. aku gag bisa mnerima kenyataaan huhu maapkan aku kak nis imaa.. aku salah pham hahahhaa… tp tp hbis ini aku bca ff kmren hahahaha..
    ok skrg nunggu penyelesaian jongin hana kkkkk

  6. Nafff says:

    Aww romantis banget ultah nya jaehee, kata2 nya jongin romantis parah :3
    Akhirnya masalah mereka terselesaikan, tinggal masalah jongin sama hana nih. Gak bayangin betapa keselnya hana ke jongin, pingin cepet2 baca kaina :3

  7. winnurma says:

    bagaikan hujan di musim kemarau ni junhee soalnya indaylee sepiiii bgt hehe mungkin para penulis sdg sibuk.sibuknya
    junmyoon kata katanya ngena bgt, lucu ngebayangin muka polos yixing (?)
    dan tinggal menunggu cerita kaina nya /colek ima eonni
    selamat eonni udah lulus kuliah moga cpt diterima kerja, amin

  8. kyura park says:

    Akhirnya update again yeey haha. Unni aku readers disinii salam kenal lalala yeyeye. berhubung kalian lama apdetnya -sedih- , saya udah ngubek ngubek ni blog dan hampir baca sluruh ff nya. I like all of this couple YEAY! -tadinya cuma SeRin, trs nambah jadi KaiNa, sekarang demen semua YUHUU

    AKU MAU IKUT GRUP LINE KALIAN HUHUU
    Btw kasian biasku Baekhyun gada kapelnya boleh aku yang bikin couple buat dia /plak

    OKESIP KUTUNGGU APDET KALIAANN *^^*

  9. LEEDAESHI says:

    SELAMAT TINGGAL STATUS MAHASISWI DAN SELAMAT DATANG KE DUNIA YANG KEJAM KAKNISYAAAAAAA 🎉🎉🎉
    Kak, aku ga komen panjang ya kali ini.
    Langsung ke intisari aja.
    Jongin = Jaehee = Lemah tapi sok tegar
    Junmyeon = Ga peka, lama loading
    Yixing = super duper lama loading tapi berguna di kemudian hari 😂😂😂
    Dan mulai dari habis rehearsal sampe akhir, BUAHAHAHAHAHA. Konyol kak.
    Cuma krna hal sepele jadi merambat kemana2.
    Mana member gamau kalah merana dgn yixing.
    Segitu horornya ya Jongin slama patah hati 😪😪😪
    Dan cara Junmyeon minta maaf lol. Si papah yang biasanya begitu /youknowwharimean/ jadi begini bgt 😆😆😆
    Dan ada Nayeon, Chanra juga. Woaaah udh lama ga nongol mereka.
    Jongin Hana cepat baikaaaaaan. Junmyeon aja bisa tuh jd pangeran berkuda putih, sweet bgt gtu 😷
    Dan yg diakhir kak. Seakan akan member dan para gadis pengganggu bgt ya ampun 😂😂😂

  10. shazkiasw says:

    Kyaaaa~Sosweet bangett sihh joonmyun:3 aaa jadi envyyy gilaa keren banget sosweet banget 😀 kerenn deh pokonya eonnn.Terbayar sudah kesabaranku untuk menanti kesalahpahaman nin selesaii.Tapi Hana sama Jongin masih konpliiik bathin kayaknyaa wkwkwk.Ahh pokoknya jaehee sama joonmyun sweeettttttt:’3

  11. byunbaek says:

    akhirnya baikaaaannn yeeeyyyy…. aku ga nyangka suho di ff ini bakalan sweet banget ahhh pen jadi jaehee ><………… hana sama jongin masih diem2an? masih marahan? udah biasa…

  12. natasya says:

    akhirny terungkap yg sebenanry…wkwk…jongin kyk gunung meletus…
    it secara ga lgsg si suho ngelamar tp jaehee waiting 10 tahun XD
    tinggal waiting yg jongna couple..wkwkkw…

  13. Dana says:

    Finally update!!!!!!!!!
    Selamat ulamg tahun jaehee dan seperti biasa yaa joonmyun sweet abis duhhh gak kuatttttt
    Btw selamat atas kelulusannya kak nez!!! 🎉

  14. adindacynthia says:

    Huuuaa.. Ketinggalan.. Baru sempet.. -_-
    Akhirnya kesalahpahamannya lurus juga..
    Hubungan JunHee couple membaik kembali.. Tinggal kepoin KaiNa couple.. 😀
    Gara-gara Joonmyun, Jongin jadi kena imbasnya.. 😀

  15. tasya_vero says:

    Jinjja daebak eon!!^^
    Semuanya cuma salah paham ehe untung udah baikan semua, tinggal hana sama jongin nihh…… Keep writing eon><

  16. Aeni Ku says:

    Aku kira ff ini oneshot, eh ternyata ff series. Maklum reader baru hehe ☺
    Ini fanfic Junmyeon yang pertama kali aku baca di sini, dan duh suka banget apalagi JunHee couple ^^ aku pernah baca fanfic ka neez sebelumnya, makanya jadi suka JunHee ^^

  17. Widyyys says:

    Huaahhh… JunHee.. rindunya sama moment mereka T.T k’neez, JunHee nya kapan ada lagi?? Tuh, yg terakhir kata Joonmyun pembicaraannya harus ditunda. Hehhee.. hayoo d tunda smpe kapan kak? =)) percakapan Jaehee sm Joonmyun yaa ampun, bikin leleeeeeeehhh.. bertahan sama”, iyaaa.. reader mau kok bertahan nunggu smpe 10 tahun k dpan Junhee bersatu. Huehehhee…
    Good story, semangat k’neez 😉

  18. rahsarah says:

    mana mungkin jonmyoon selingkuh sama hana wkwkw
    jaehee jaehee udah ciut duluan ajaaaa
    aaaaa semoga masih ada kelanjutan junhae veiled

Leave a Reply to it'sme Min2 Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s