.:JunHee Veiled:. Attachment

15Attachment || JunHee Universe, Romance, Comedy || Oneshot || PG17 (If you know what I’m implying)

Kim Joonmyun / EXO Suho || Oh Jaehee / OC

© neez

”Joonmyun…”

   ”Hmm?”

   ”Bukankah sebaiknya kita bicara?”

   Sesuatu yang kurang nyaman seperti menggelinyar ke dalam setiap urat nadi Joonmyun mendengar kata-kata Jaehee barusan. Gadis itu kini dalam dekapannya, kepalanya ia letakkan tepat diatas puncak kepala Jaehee, membiarkan gadis itu dapat mendengar dan merasakan jantungnya yang berdetak di dadanya. Jika satu tangannya kini menjadi alas kepala Jaehee berbaring, sebelah tangannya lagi mendekap erat pinggul gadis itu agar tidak lepas dari pelukannya. Jaehee sendiri juga memeluknya di pinggang. Setelah mereka ’resmi’ berbaikan satu jam yang lalu, posisi ini tidak berubah.

   ”Apa lagi yang mau dibicarakan, hmm? Bukankah semua sudah baik-baik saja?” tanpa bisa dihindari, ada sedikit nada cemas, nada khawatir tersirat dalam kalimat Joonmyun barusan.

   Tetapi Jaehee terkekeh, getarannya terasa pada dada Joonmyun, tempat dimana wajah Jaehee berada saat ini, ”Kita tetap harus bicara, Joonmyun-ah. Ini tentang… kita…”

   ”Jaehee-ya,”

   ”Ne?”

   ”Aku mau kau memanggilku Myeonie lagi…” bisik Joonmyun pada puncak kepala Jaehee, sambil memejamkan matanya. ”Tak tahukah kau aku selalu merasa ada sesuatu yang bergerak-gerak tidak nyaman di dalam perutku jika mendengarmu memanggilku Joonmyun. Seperti—”

   ”Myeonie~” dendang Jaehee manis.

   Dan Joonmyun terkekeh, mengecup puncak kepala Jaehee. ”Gomawo. Jangan panggil aku Joonmyun lagi, oke?” dirasakannya kepala Jaehee mengangguk. ”Lalu, apa yang mau kau bicarakan?”

   Tiba-tiba saja Jaehee melepaskan pelukannya dan duduk di atas ranjangnya. Ranjang yang dibalut seprai putih, sama seperti gaun tidur putih yang ia kenakan. Mau tak mau, Joonmyun ikut duduk bersila menghadap Jaehee yang kini memain-mainkan jemarinya di dalam genggaman tangannya.

   ”Jangan buat aku takut,” Joonmyun mencoba bercanda, ”Kau tahu kita baru ’kembali’ satu jam.”

   Jaehee terkekeh kecil, ia merasa senang mendengar Joonmyun yang sedikit mencemaskan hubungan mereka, karena mereka baru saja resmi kembali menjalin hubungan, tetapi Jaehee merasa bahwa pembicaraan ini harus dilakukan sekarang. Tidak boleh ditunda-tunda lebih jauh, atau akan kembali membawa kesalahpahaman diantara mereka.

   ”Kita harus melakukan ini, Myeonie… kau harus tahu kalau aku melakukan ini untuk hubungan kita, arachi?”

   Joonmyun mengangguk.

   ”Oke,” menarik napas dalam-dalam, masih memilin-milin jemari Joonmyun, Jaehee menggigit bibirnya kemudian tersenyum pada Joonmyun, ”Kukira sekarang kau tahu bahwa… aku mengidap depresi.”

   Joonmyun mengangguk, ”Ya.”

   ”Dan aku minta maaf karena aku tidak pernah secara jujur mengatakannya kepadamu, dan kau tidak mengetahuinya langsung dari mulutku sendiri~” Jaehee melirik ke arah lain untuk menghindari mata Joonmyun, ”Kau tentu bisa menebak alasannya kenapa aku tidak sanggup mengatakannya… kau tahu, depresi itu seperti penyakit mental. Sekali saja aku salah dalam penanganan… mungkin aku—”

   ”—jangan katakan kau gila, Sayang!” potong Joonmyun lembut, namun kuatnya genggaman tangannya pada tangan Jaehee mengatakan hal yang sebaliknya. Ia seolah menguatkan dan meyakinkan gadis di hadapannya mengenai isi pikirannya.

   ”Kau baik sekali,” kekeh Jaehee, ”Bahkan dokterku tidak beranggapan demikian,” ia menghela napas kembali. ”Apakah kau tahu kenapa aku bisa pernah sampai mengalami depresi?”

   Joonmyun menggeleng, ”Aku… tidak bertanya, aku… tolong jangan salah paham, Jaehee-ya, aku tidak bertanya bukan karena aku tidak ingin tahu. Bukan juga karena aku takut mengetahui apa yang terjadi kepadamu, tetapi aku tidak bertanya karena… aku yakin topik depresimu itu adalah sesuatu yang sensitif, yang tidak mungkin dengan mudahnya kubicarakan dengan ibumu, atau ayahmu.” Joonmyun menjelaskan, ”Aku memang berharap… suatu saat, entah kau… entah ibumu atau ayahmu akan menceritakannya, tetapi kalau pun tidak, aku tidak akan keberatan. Hal yang membuatmu hingga depresi seperti itu pastilah bukan hal yang mudah untuk dibicarakan.”

   ”Memang,” Jaehee mengangguk terkekeh, ”Tapi aku harus melakukannya… saat ini aku harus melakukannya, Myeonie.”

   ”Kalau begitu, silakan katakan…”

   Jaehee menggigit bibirnya lagi, menghela napas lagi, dan dengan ragu-ragu ia mulai bercerita. ”Dulu, waktu aku tinggal di Arizona—aku tinggal disana sejak usiaku lima tahun, bahkan aku lahir disana… aku memiliki seorang sahabat.” Joonmyun mengangguk-angguk, matanya terfokus pada gadis di depannya yang serius, ”Dia kelahiran Korea Selatan dan Thailand… dia tinggal di samping rumahku di Arizona sana, lebih tua dua tahun dariku. Dan, laki-laki,”

   Alis Joonmyun terangkat, ia tidak menyangka bahwa cerita soal depresinya dimulai dari sini. Ia menebak bahwa mungkin saja Jaehee depresi karena sahabatnya meninggal karena sakit, tetapi ia tidak pernah menyangka bahwa sahabat kecil Jaehee adalah laki-laki.

   Sepertinya cerita ini akan sedikit memancing rasa cemburunya.

   ”Ne, sahabat kecilku itu laki-laki. Namanya Pirath, atau Mike, biasa dipanggil dengan nama bule-nya,” kekeh Jaehee bernostalgia, ”Kau mungkin bisa membayangkan apa yang terjadi antara gadis kecil, dan laki-laki kecil yang tinggal bersebelahan, sering main bersama, dan tumbuh besar bersama-sama.”

   Joonmyun menghela napas, dan melirik Jaehee sedikit sinis, meski dengan senyum menggoda di bibirnya, ”Apa dia cinta pertamamu?”

   ”Bisa dikatakan begitu,” kekeh Jaehee. Ia tertawa melihat Joonmyun di hadapannya kini menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mulai cemburu, karena Joonmyun sangat menggemaskan. Mengingatkannya pada kelinci-kelinci kecil yang wortelnya dirampas paksa. ”Anhi, dia memang cinta pertamaku. Tidak perlu dijelaskan lebih jauh…” ia memutar matanya, ”Aku tahu kau punya banyak mantan kekasih yang mungkin kalau digabungkan bisa membuat dua buah klub voli beserta pelatih dan pemain cadangan,” dan Joonmyun tergelak dengan wajah bersemu merah mendengar pernyataan Jaehee barusan, namun tidak berusaha menyangkalnya, ”Tetapi, percaya atau tidak, aku hanya punya satu mantan kekasih. Dua, bila kau dihitung…”

   ”HEY!!!” protes Joonmyun keras.

   ”—berarti kau tidak dihitung,” tambah Jaehee buru-buru, ”Dan mantan kekasihku itu adalah Pirath,”

   Joonmyun mendengus, ”Jadi intinya kau dan sahabat kecilmu itu berkencan?”

   ”Sejak kecil, jika dihitung,” Jaehee berusaha mengingat-ingat, ”Aku hanya ingat kami sudah sangat saling membutuhkan satu sama lain sejak kami prtama saling mengenal. Dia selalu tidak suka jika anak laki-laki lain mengajakku bicara, meski hanya menanyakan PR,” kekeh Jaehee, dan ia tersenyum dalam nostalgia, ”Betapa polosnya aku waktu itu. Intinya, tanpa pernyataan sejak kecil kami sudah selalu bersama. Begitu pula sejak masuk sekolah menengah pertama… kau tahu, disaat hormon-hormon remaja mulai datang~”

   Alis Joonmyun terangkat tinggi sekali, dan kini ia melipat kedua tangannya.

   ”Bisa dikatakan, kencan yang sesungguhnya benar-benar aku alami di masa sekolah menengah pertama. Benar-benar semua pengalaman pertama aku rasakan disana… haid pertama, surat cinta pertama—dan itu bukan dari Pirath, lalu saingan pertama—gadis lain yang menyukai Pirath, dan err—”

   ”Ciuman pertama?”

   Kedua pipir Jaehee bersemu, ”Ne~ kau tahu itu di Amerika! Semua orang seusiaku di Amerika mengalami ciuman pertama ketika masih SMP!” Jaehee berusaha membela diri melihat pandangan menghakimi Joonmyun.

   ”Daebak, mungkin mantan pacarmu hanya satu, tapi aku baru merasakan ciuman pertama di bangku SMA.” Decak Joonmyun sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya.

   ”Intinya, semua pengalaman pertama aku alami saat itu. Pirath adalah kakak kelasku, dan dia cukup populer… kau tahu banyak sekali yang menyukainya, dia adalah kapten basket, dan bisa kau tebak ketua tim cheerleader yang super seksi menyukainya.”

   Joonmyun tersenyum kecil, meski ada guratan sinis, ”Biar kutebak, tapi pria itu tetap memilihmu?”

   ”Keurom!” Jaehee mengangguk bangga, dan mengibaskan rambut ala Cheon Song Yi-nya.

   Joonmyun mendengus namun dengusannya berubah menjadi seruan kecil, tatkala Jaehee melayangkan cubitan ala ibu tirinya pada pinggangnya. ”Kenapa kau meledekku?!”

   ”Aku tidak bilang apa-apa!” sanggah Joonmyun tidak mau mengaku.

   ”Pokoknya, pada saat itu Pirath menolak semua gadis karena sudah berkencan denganku, dan ya… status kami menjadi pembicaraan di sekolah, macam Serena Von Der Woodsen atau siapa itu namanya di Gossip Girls,” kekeh Jaehee kembali, ”Kami dua orang Asia yang membuat gosip di sekolah lokal. Dan begitu kami duduk di bangku SMA…” mendadak nada bicara Jaehee yang tadinya ceria, menurun tajam menjadi muram, ”…ada yang berubah,”

   ”Apa?” tanya Joonmyun pelan.

   ”Pirath lebih tua daripada aku, jadi dia mausk ke SMA lebih dulu daripada aku. Kau tahu bagaimana Amerika dan… ’pergaulan’ disana, bukan?” tanya Jaehee pelan, ”Begitu… bebas, dan… liar.”

   ”Apa, Pirath… terkena narkoba?”

   ”Oh, tidak, tidak,” Jaehee menggeleng, ”Dia bahkan menjaga minuman yang ia konsumsi karena saat itu ia sedang dalam program… pembentukan badan, six pack dan segalanya, karena itulah yang digilai para wanita. Dia setia, dia tidak berselingkuh meskipun dia tahu teman-temannya di SMA sana jelas berpenampilan jauh lebih menarik daripada aku, lebih seksi, lebih menantang…” kekeh Jaehee lagi, ”Karena aku masih SMP.”

   Joonmyun jadi tidak mengerti. Jika Pirath begitu baiknya, mengapa Jaehee bisa depresi? Apakah akan ada twist dalam cerita Jaehee nantinya?

   ”Memiliki teman-teman dengan pergaulan yang bebas sedikit banyak mempengaruhi Pirath juga, meski dia tidak melakukannya denganku, tetapi… kami… melakukan kontak fisik yang hebat,” Jaehee mengangkat dua jarinya untuk membuat tanda kutip khayalan.

   Mendengar ini, jantung Joonmyun berdetak begitu cepatnya, dan sesuatu menggelegak di dalam dadanya.

   ”Dan inilah kenapa aku memaksa untuk bicara denganmu. Myeonie, kau harus tahu masa laluku…” bisik Jaehee, ”Aku bukan gadis polos, sama sekali bukan gadis yang polos… bukan gadis baik-baik, yang bersahaja, yang seperti anak chaebol yang mungkin kau kenal di luar sana. Aku… tidak seperti itu.”

   ”Teruskan saja,” pinta Joonmyun.

   ”Kau tahu tadi aku sudah mengatakan, sejak aku masih duduk di bangku SMP, aku sudah mengerti batas terjauh kontak fisik, dan kontak fisik yang kulakukan dengan Pirath sudah bukan dalam batas normal. Mungkin jika kedua orangtuaku tahu, Pirath bisa digantung…” Joonmyun menelan ludahnya kuat-kuat, tidak berani membayangkannya, ”Tapi, meskipun Eomma jarang di rumah, ya dia sudah menjalankan bisnisnya waktu itu, tetapi… aku masih ingat apa yang Eomma ajarkan padaku menjelang aku dewasa… bahwa… aku tidak boleh menyerahkan begitu saja apa yang kupunya pada laki-laki, dengan mudahnya.”

   Joonmyun mengangguk-angguk, tanpa menyadari napasnya tertahan.

   ”Itulah yang membuatku masih ’sedikit’ menahan diri,” Jaehee menatap menerawang ke kejauhan, ”Dan… entah kenapa aku tidak pernah berani melakukan hal yang lebih jauh dari… dari apa yang biasa kami lakukan. Pirath mengatakan bahwa dia akan menunggu hingga kapan pun aku siap, dan aku merasa dengan hubungan yang kami berdua punyai… ia sudah merasa cukup.” Jaehee menghela napasnya dalam-dalam.

   ”Aku akhirnya duduk di bangku SMA,” Jaehee kembali meneruskan ceritanya, ”Aku punya sahabat perempuan, untuk pertama kalinya. Kau tahu perempuan jarang sekali cocok denganku. Pertama, mungkin karena aku orang Asia, dua mungkin karena aku… sedikit ’judes’.”

   Joonmyun terkekeh.

   ”Dan faktor lain, karena Pirath juga. Laki-laki itu banyak yang menyukai, dan sudah bisa dipastikan aku jadi objek iri semua orang disana,” Jaehee mengangkat bahu. ”Sahabatku bernama Sarah, dia blasteran Korea-Thailand-Italia… namun lebih banyak mengalir darah Italia-nya~ dia sangat cantik. Cerita ini berakhir ketika kami pergi clubbing, dan Pirath… ’turn on’.”

   Joonmyun menarik napas dalam-dalam berusaha menyiapkan dirinya untuk mendengar bagian akhir cerita.

   ”Kami sudah nyaris melakukan hubungan badan, namun entah kenapa aku tetap tidak mau, aku tetap menolak, meski harus kuakui aku pun sudah membuang jauh-jauh akal sehatku saat itu. Aku kembali meminta pengertiannya, dan dia tidak marah atau apa… kukira dia akan mengerti,” tutup Jaehee pelan.

   ”Dan biar kutebak,” Joonmyun melanjutkan, ”Pirath melakukannya dengan Sarah?”

   Jaehee tersenyum sedih, mengangguk. ”It was his first, and her firstthey had sex.” Jaehee mengangkat kedua tangannya ke udara, berusaha menyingkirkan bayang-bayang masa lalunya, ”Just because I can’t gave him what he wants, he did it with my first best girl friend!”

   Joonmyun tidak mampu berkata-kata.

   ”Dan… Sarah hamil,” kekeh Jaehee berusaha menyembunyikan air mata yang sudah menggenangi matanya. ”Kau tahu apa yang menyakitkan? Dua orang yang paling kau percayai di dunia ini, mengkhianatimu.”

   Joonmyun menggenggam tangan Jaehee erat-erat.

   ”…hanya karena sesuatu yang belum siap untuk aku jalani…” isak Jaehee. Ia langsung di tarik oleh Joonmyun ke dalam pelukannya, Joonmyun membelai kepalanya lembut, dan mengetatkan pelukannya. ”…mereka adalah sahabat, orang yang paling kupercayai, yang kubagi setiap kelebihan dan kekurangan yang aku punya, dan mereka…”

   Joonmyun tidak berkata apa-apa, hanya diam sambil memeluk erat gadis yang ia cintai ini. Ia bisa mengerti perasaan Jaehee sekarang. Tumbuh tanpa kasih sayang orangtua, tidak memiliki saudara kandung, hanya bergantung pada Pirath sejak kecil, karena tidak mendapatkan teman wanita karena Pirath juga, dan sekalinya mendapatkan sahabat, semua malah menjadi kacau karena Pirath yang tidak bisa menahan isi celananya.

   ”Mereka tidak repot-repot mau memberitahukannya kepadaku, Myeonie. Bahkan jika Sarah tidak hamil, mereka mungkin tidak akan pernah mengatakannya… setelah itu aku pulang ke Seoul. Dan bertemu Yixing di bandara…” kekeh Jaehee pada akhir ceritanya, karena Joonmyun kemudian melepaskan pelukannya dan meliriknya penuh perhitungan.

   ”Kenapa tidak kau akhiri dengan… di Seoul aku bertemu cinta sejatiku, leader EXO? Kenapa harus Yixing???” tanyanya sebal.

   Dan Jaehee tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Joonmyun. Benar-benar tak ternilai! Joonmyun tersenyum dalam hati, ia sengaja mengekspresikan rasa cemburunya dengan berlebihan karena ia lega melihat Jaehee bisa tertawa lepas sekarang.

   ”Aku tidak mau menceritakan depresiku yang cukup panjang karena sudahlah, rasanya memalukan depresi karena hal bodoh—”

   ”Tidak,” potong Joonmyun lembut, mengelus pipi Jaehee perlahan, ”Itu bukan hal bodoh, Sayang. Kau tahu, setiap orang punya masalah dan latar belakang yang berbeda-beda. Setiap orang berbeda pula cara menyikapi masalahnya… tidak bisa disamaratakan.”

   Jaehee tersenyum penuh terima kasih.

   ”Tapi kau kan sekarang punya aku, punya member EXO sebagai keluargamu… punya para gadis… Hana, Chanra, Nayeon, Hanji, Chaerin… kau juga punya adik-adikmu di Lovelyixing. Kau tidak sendirian lagi di Seoul, Sayang~ jadi aku harap, kalau sesuatu terjadi kepadamu apa pun itu… kau harus katakan kepadaku. Tidak ada lagi lari dan sembunyi, karena itu tidak akan baik untuk dirimu sendiri.” Pesan Joonmyun serius.

   Jaehee mengangguk. ”Aku janji mulai saat ini, aku tidak akan lari dan kabur-kaburan lagi. Dan, kau juga harus janji…”

   ”Apa?”

   ”Kalau kau merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang mengganjal…” Jaehee berusaha mengingat-ingat bagaimana Joonmyun saat ia sedang menolak melakukan skinship, ”Kau juga tak apa untuk langsung bertanya… jadi, kau tidak perlu… menarik kesimpulan sendiri,” tambah Jaehee pelan.

   Joonmyun tersenyum sedikit salah tingkah namun mengangguk, ”Aku janji!”

   ”Keundae,” Jaehee menggigit bibirnya lagi, menatap Joonmyun malu-malu, ”Apa… apa kau bisa menerimaku, Myeonie?”

   ”Apa maksudmu?”

   ”Kau tahu, dengan semua ceritaku… masa laluku… bagaimana aku berkencan di Amerika dulu,”

   Joonmyun memutar matanya, ”Aku cinta padamu apa adanya, lebih kurangnya!” serunya, ”Jadi kau juga harus bisa terima aku apa adanya, dengan lebih dan kurangku!”

 

*           *           *

Beberapa jam kemudian, Jaehee membuka kedua matanya, dan menyadari bahwa kini ia sendirian di tempat tidurnya. Di kamarnya yang megah, di rumahnya, rumah orangtuanya, di Daegu. Menoleh ke kanan dan ke kiri, ia tidak dapat menemukan Joonmyun.

   Apakah Joonmyun yang tadi hanya dalam mimpinya? Batinnya.

   Buru-buru Jaehee mengayunkan kedua kakinya dan memakai sandal rumahnya, tanpa repot-repot mengenakan jubah kamarnya untuk menutupi gaun tidur putih panjangnya, yang bagian atasnya hanya dihiasi oleh dua tali, meski tidak setipis tali spaghetti. Menuruni tangga, Jaehee kembali mengernyit.

   Tidak ada satu orang pun pegawai rumah tangga disini yang terlihat. Padahal rumah sebesar ini, setidaknya ada satu atau dua orang yang terlihat mondar-mandir membereskan atau membersihkan sesuatu.

   ”Komo… komonim? Ajumma?” panggil Jaehee ke sekeliling rumah, namun tak ada satu pun yang menjawabnya. Melongokkan tubuhnya, ke arah galeri, ruang baca, maupun ruangan-ruangan yang lainnya, tidak ada satu pun pekerja rumah tangganya yang terlihat.

   Menggaruk kepalanya yang mendadak gatal, Jaehee berjalan memasuki dapur yang seperti kamar-kamar lainnya, kosong. ”Apa aku benar-benar mimpi? Aneh sekali~” ia meraih gelas putih bening yang biasa ia gunakan dan mengisinya dengan air dari dalam disepenser sambil menatap jendela kaca besar yang menghadap halaman belakang rumahnya.

   Sampai ia melihat sosok laki-laki tengah berjalan sendirian di tepi kolam renang rumahnya. Ia menghela napas lega, Joonmyun rupanya benar-benar ada, bukan khayalannya, bukan halusinasinya! Meletakkan gelasnya di dalam bak cuci, Jaehee buru-buru menggeser pintu kaca dan menghampiri Joonmyun yang seperti tenggelam dalam pikirannya menatap bukit-bukit hijau yang terbentang sebagai halaman belakang rumah Jaehee.

   ”Apa yang kau pikirkan?” tanya Jaehee tiba-tiba sambil mengalungkan begitu saja kedua tangannya pada pinggang Joonmyun dan membaringkan kepalanya pada punggung Joonmyun yang bidang. Ia bisa merasakan Joonmyun sedikit kaget karena dipeluk tiba-tiba dari belakang, namun toh membalas pelukannya dengan meletakkan kedua tangannya di atas tangan Jaehee yang melingkari pinggangnya.

   ”Kau sudah bangun?” tanya Joonmyun balik.

   ”Kau membuatku takut,” gumam Jaehee, mengakui.

   ”Wae?” tanya Joonmyun heran.

   ”Anhi,” geleng Jaehee sambil terkekeh, ”Hanya mengira kalau semua itu tadi hanya mimpi~”

   Joonmyun melepaskan pelukannya dan berbalik menatap gadis yang lebih pendek sekepala darinya, dengan kulit cokelat yang khas, dan rambut hitam legam yang panjang. Gadisnya. Gadisnya yang tadi mengakui kelemahan terbesarnya terhadap kepercayaan.

   ”Hei,” dengan lembut, Joonmyun meletakkan jemarinya pada dagu kekasihnya dan mengangkatnya perlahan, sehingga kedua mata mereka bertemu. ”Aku. Nyata. Oke? Kau harus percaya kalau aku nyata…”

   Jaehee tersenyum kecil, mengangguk.

   ”Maaf saat kau terbangun aku sudah tidak ada, aku penasaran dengan halaman belakangmu… sekaligus memikirkan… apa yang sudah kita bicarakan tadi. Mengenai hubungan kita…” Joonmyun meraih Jaehee dalam pelukannya lagi dan menggoyangkan tubuh mereka ke kanan dan ke kiri seperti anak kecil yang bermain-main dengan ibunya. ”Aku menyadari bahwa meski kita sudah berjanji untuk lebih terbuka, kita tetap tidak melakukannya… kita terbiasa dengan anggapan kita masing-masing, geuchi?”

   Jaehee mengangguk, merasa nyaman dalam pelukan Joonmyun.

   ”Kau tahu, aku adalah laki-laki pencemburu, Jaehee-ya.”

   Alis Jaehee terangkat, ia bahkan ikut mengangkat wajahnya dan menatap Joonmyun tidak percaya, ”Jeongmal? Kenapa selama ini aku hanya merasa kau hanya cemburu pada Yixing saja?”

   ”Itu karena kau menunjukkan ketertarikan padanya,” cubit Joonmyun gemas pada pipi Jaehee dan merasa sedih, merasakan pipi gadis itu tidak sekenyal dulu. Ia bertekad untuk mengembalikan pipi apel itu seperti semula. ”Tapi jika dengan laki-laki lain, yang menunjukkan bahwa mereka menyukaimu padahal kau tidak… aku tidak bisa menunjukkan rasa cemburuku secara terang-terangan!”

   ”Wae?” tanya Jaehee heran.

   ”Ya karena kau tidak tertarik kepada mereka,” Joonmyun mengangkat bahu, ”Rasanya tidak adil kalau aku bersungut-sungut dan cemberut kepadamu hanya karena laki-laki lain menyukai dan mendekatimu, padahal kau bahkan tidak tertarik pada mereka.”

   ”Keundae… memangnya ada laki-laki yang tertarik padaku?” tanya Jaehee benar-benar tidak mengerti.

   ”Well, kau tidak tahu saja, Sayang~”

   Jaehee geleng-geleng.

   ”Dan aku pun bertanya-tanya… kenapa kau jarang cemburu padaku, hmm? Lihat Hanji, lihat Chanra, lihat Hana… mereka bahkan kerap bertengkar hanya karena cemburu. Maksudku, bukan berarti aku minta bertengkar,” tambahnya buru-buru, ”Aku hanya penasaran kenapa kau jarang cemburu padaku?”

   ”Ya! Aku pun bisa cemburu, pada si La Noblesse! Kau lupa?” Jaehee balas meliriknya tajam, dengan bibir mulai ditekuk.

   Joonmyun terkekeh, ”Tapi kan aku tidak kenal secara langsung si La Noblesse, Sayang.”

   ”Hmm, mungkin sebenarnya ada rasa-rasa cemburu…” Jaehee nampak berpikir-pikir, ”Ah!” serunya, ”Pada Kwanghee!”

   ”YA! Kenapa pada laki-laki?!”

   ”Kalau aku cemburu pada perempuan, kau mati Kim Joonmyun!” ancam Jaehee main-main, dan Joonmyun malah tertawa geli. Baru kali ini ia mendapati sisi lain Jaehee yang biasanya tenang, dan selalu terlihat nyaman dan damai disaat berkencan dengannya. Kecuali… yah pada waktu itu saat gadis ini merayunya. Pantas saja Joonmyun sendiri dulu nyaris hilang kendali saat Jaehee hanya mengenakan kemeja polos.

   Gadis yang dikencaninya ini berpengalaman! Meski laki-laki bernama Pirath itu harus puas hanya dengan kontak fisik, tidak sepertinya yang sudah—

   ”Kenapa kau malah melamun?” tanya Jaehee heran memotong ingatannya pada beberapa malam lalu.

   ”Anhi—” geleng Joonmyun dengan wajah memerah.

   Untung saja, Daegu merupakan daerah yang dikelilingi pegunungan. Hingga di musim panas pun, suhu tertinggi di wilayah ini hanya sekitar dua puluh enam derajat.

   ”Oh iya, apa kau tahu pergi kemana para pekerja rumah tangga disini, Myeonie?” Jaehee menatap ke kanan dan ke kiri lagi, sedikit berjinjit untuk melihat ke arah kebun anggur yang terletak di sisi lain kolam renang, dibatasi oleh pagar tanaman-tanaman yang cukup tinggi. ”Aku tidak melihat mereka. Padahal tadi pagi mereka ada…”

   ”Kata kepala pelayan, ibumu meminta mereka meninggalkan rumah,” sahut Joonmyun menatap ke langit yang mulai meredup, seiring mendekatinya petang. ”Daegu memang indah~” pujinya, ”Dan rumah ini juga indah.”

   ”Oh? Eomma m?eminta mereka meninggalkan rumah?!” lengking Jaehee kaget. ”Tapi kenapa?”

   Joonmyun hanya mengangkat bahu, seolah tidak peduli, tapi Jaehee yakin, Joonmyun tahu sesuatu soal menghilangnya para pekerja di rumahnya saat ini. ”Kau tahu, mumpung para pekerja sedang tidak ada…”

   ”Wae? Wae? Kau mau apa?” tanya Jaehee heran.

   Joonmyun meliriknya nakal sambil menaik-naikkan alisnya.

   ”Mwoya?” tanya Jaehee heran dengan tingkah Joonmyun yang mendadak menggelikan, dan mirip ajussi mesum. ”Ya! Kau kenapa?!” kekeh Jaehee yang malah geli melihat Joonmyun yang tidak henti-hentinya menaik-naikkan alisnya dan malah ditambah dengan menjilat bibirnya, (sok) seduktif.

   Apa dia lupa dia itu seperti kelinci? Tidak seksi sama sekali, apalagi dengan potongan rambut seperti ini, ya ampun. Jaehee tahu, pacarnya (ehem) ini tengah melakukan pengambilan gambar film perdananya, maka rambutnya kini dibuat untuk semakin menurunkan umurnya.

   Bagaimana bisa wajah bocah seperti ini melakukan gerakan seduktif? Kim Joonmyun harus dibelikan kaca—

   BYUR!!!

   Saking asyiknya menghina dina pacarnya sendiri di dalam pikirannya, Jaehee sampai tidak sadar, kalau Joonmyun membawa tubuhnya masuk ke dalam kolam renang sedalam dua meter, secara tiba-tiba. Tanpa peringatan, tanpa aba-aba, dan tentu saja tanpa baju renang!!!

   Bukannya Jaehee tidak bisa berenang! Tentu saja tidak, kulit cokelatnya ini membuktikan betapa senangnya dirinya dengan kolam renang dan pantai. Tetapi, apa yang dipikirkan Joonmyun tiba-tiba membawanya begitu saja ke dalam kolam renang seperti ini?

   ”YA!!!” seru Jaehee begitu ia berhasil mengangkat kepalanya dari dalam kolam. Sungguh ia merasa penampilannya hancur sekali. Kulitnya jelas sudah kusam karena ia sedang sakit beberapa hari ini, jadi ia jelas tidak menggunakan make up bahkan pelembab sekali pun.

   Harus pula ditambah diceburkan ke dalam kolam. Ia pasti mirip dengan rumput laut sekarang.

   Tetapi Joonmyun nampaknya tidak memperdulikan penampilan Jaehee sama sekali, malahan ia senang melihat kulit Jaehee yang kering, tadinya, kini tampak lebih sehat setelah terkena air, lebih lembab. Dan entah kenapa, melihat Jaehee tanpa pertahanan seperti ini semakin membuatnya menarik saja di mata Joonmyun. Aneh memang, kalau bukan byuntae.

   Jaehee bergerak-gerak persis anjing laut untuk bertahan tetap mengapung sementara Joonmyun melakukan backstroke mengelilingnya dengan bahagia. ”Kapan lagi kita bisa bebas bermain-main seperti ini, Sayang?”

   ”Tapi tetap saja!” Jaehee masih bersungut-sungut, membuat bibirnya yang berwarna merah dengan garis kehitaman itu semakin lucu. ”Aku bahkan tidak memakai pakaian renang!”

   ”Aku juga tidak,” sahut Joonmyun santai. ”Aku bahkan tidak membawa pakaian ganti, satu pun!”

   ”Mwo?!”

   ”Nikmati saja sudah. Tidak ada siapa pun disini… tidak ada yang mengganggu kita. Tidak ada kamera, tidak ada orangtua, tidak ada pekerja. Tidak pula ada pekerjaan…” Joonmyun berenang santai dan kini menghampiri Jaehee dan mendorongnya untuk bersandar pada dinding kolam, dimana ada sebuah pijakan tempat Jaehee bisa berdiri tanpa perlu mengepakkan kaki seperti anjing laut untuk tetap berada diatas air.

   Dan napas Jaehee tercekat begitu merasakan bahwa tubuh mereka sudah begitu dekat. Entah kenapa air yang mengelilingi mereka bukannya menjadi penghalang, namun rasanya semakin melekatkan. Baju Joonmyun yang basah melekat pada tubuhnya, memunculkan lekukan nyata hasil kerja keras pembentukan tubuhnya yang mungkin tidak terlihat secara kasatmata.

   Joonmyun menikmati hembusan napas Jaehee yang seolah tersendat merasakan penghalang diantara mereka hanya air dan kain tibis basah yang sudah menghilangkan banyak jarak diantara mereka.

   Membelai rambut Jaehee perlahan, turun ke lengannya, dan meraih pinggulnya yang berada di dalam air, mendekatkannya pada tubuhnya, ia sendiri pun semakin memojokkan Jaehee ke dinding kolam.

   ”Aku cinta kau.” Bisik Joonmyun.

   ”Aku juga cinta kau,” jawab Jaehee lirih. Astaga, batinnya. Ralat! Ralat! Joonmyun memang kelinci, tetapi bisa berubah menjadi srigala kapan pun ia mau. Dan Jaehee berjanji tidak akan lagi menghina dina Joonmyun, meski di dalam hati mengenai keseksian laki-laki itu.

   Pria ini, berbahaya!

   ”Myeonie…” bisik Jaehee terengah-engah.

   ”Hmm?” bisik Joonmyun masih sambil menghirup aroma tubuh Jaehee yang bercampur dengan kaporit dan aroma tumbuh-tumbuhan segar yang mengelilingi halaman belakang rumah itu.

   ”Saengilchukae.”

   Joonmyun tersenyum miring, dan menyegel janji mereka.

-Keutt-

Molorkaaaah??? Molor banget!

Maaf yaaa~ deadline semakin dekat, dun dun dun… dan rasanya bersalah banget kalo online tapi draft skripsi di cuekin, padahal tanggalnya udh deket banget T__T tapi buka skripsi pun yang kepikiran EXO lagi EXO lagi, Papa lagi, Papa lagi, JunHee lagi, JunHee lagi /helanapas. Mudah-mudahan lancar aja jadi bisa full time fangirling lagi cihuy~

Oke, perayaan ultah Joonmyun gak spesial kah? Gak butuh sesuatu yang spesial, cukup orang yang spesial di saat yang spesial #eciyeeeee semoga kalian suka. Keep comment girls, bye yeom~

 

30 thoughts on “.:JunHee Veiled:. Attachment

  1. winnurma says:

    akhirnya mrk hidup bahagia lg setelah berminggu minggu dinuat sedih terus sama eonni
    trnyt gutu masa lalunya jaehee,, kasian bgt,, ampun deh sma pergaulan di amerika
    dan junmyoon dasar byuntae kau kkk
    eonni smgt buat skripksinya ya hehe
    fighting

  2. Lisa says:

    Yeay kejujuran jaehee malah buat junmen makin lengket sama jaehee ahhh sukaa:33 mereka kalo uda baikkan gini makin suka lagi haha ciee junmyeon menang lebih banyak dari pirath ciee yang kontak fisiknya lebih banyak hahaha. Suka kaakkk akhirnya mereka baikkan dan cinta2an lagiii, kedepresian jaehee semoga ngga muncul lagi dan rencana kaka munculin pirath semoga ngga beneran:3 nanti pasti ribut lagi eh tapi ngga ribut ngga perjalanan cinta ya namanya. Ah terserah kaka deh begini aja aku uda seneng suka banget hihi. Next ep ditunggu yaa kak skinshipn malu2 tapi beraninya merekanya juga hahaha. Semangaaattt ngelanjutin dan semangat skripsweetnya yaaaa

  3. shantyjung says:

    Aku may moment ahhh… Ihh sweet banget… Romantis….. Saengilchukae papa…. Langgeng trs ya… Jangan break lagi sma jaehee…

    Xoxo

  4. FAWN says:

    Dasar serigala berbulu kelinci! *jitak Junmen
    Sempet salah fokus gegara Kak Neez bilangin kelinci mulu, jadi ngebayangin itu yang boneka Junmen Rabbit Blonde ㅋㅋ
    Belum ada yang bikin versi Exoluxion lagi—kah? Kangen mereka ngumpul2 lagi ㅜ.ㅜ

  5. Baekmyeons says:

    Cihuyyy update juga Junhee nya..
    Nahh ini nih yang aku suka lovey dovey ala junhee begini..
    Jaehee akhirnya cerita juga ttg masa lalunya sma pirath. Dan bikin junmyeon makin lengket deh dengan diakhiri mesra2 an di kolam renang.. Kyaaaa so sweet lahhh..
    Junmyeon seneng banget nih dapet kado terindah dari jaehee..
    Gapapa kok eon walaupun molor yang penting udah update junheenya aku uda seneng kok..
    Semangat terus ya eon buat skripsinya biar lancar dan cepet kelar. Aminnn..
    Hwaiting!!!! :))))

  6. dyorawr12 says:

    Junhee is back, tp baru sejam hahahaha kak isn’t it too short? ㅋㅋㅋㅋ gila sih klo aku jd jaehee jg bangun2 junmen nya gak ada pasti parno apa emg bener2 mimpi huhuhu…. her is past is just a past the only matter now is her future wkwkwk… ngapa juga rumah pake dikosongin ditinggal berdua aja tau junmen berbahaya begitu wkwkwk mana pake jebur ke kolam lg basah2an so mengundang ㅋㅋㅋㅋ keep continue ya kak semangat juga buat skripsi nya~

  7. Bubble Gum says:

    Akhirnya Jaehee jujur soal masa lalunya sama Joonmyeon, kalo dipendem terus gk bakalan tenang hubungan mereka.
    Duh mereka balikan lagi, berasa makin lengket aja. dan diakhiri dengan so sweet so sweet.an di kolam renang. hihihi

  8. Kauramints says:

    Haaiihhhhh baru sejam lhooooo baikan
    Udah bikin iri ajah >.<
    Sweetnya gak ketulungan buat JunHee
    Seneng bingit bisa saling terbuka akhirnya
    Jadi pelajaran yah JunHee berantem yang kemaren hihi

    Keep writing :3

  9. ohsandal says:

    kissunya dimana ._. .-. haha ah akhirnya jaehee terbuka juga soal penyebab dia depresi jadi joomyeon jangan macam macam yaaaaah 😉 makasih udah diupdate :*

  10. LEEDAESHI says:

    Juru kunci masalah Jaehee itu si Pirath sama Sara ya :3
    Ya pantes aja lah Jaehee segitunya, Pirath itu dari kecil udh kayak bagian dr hidupnya.
    Ketergantungan pasti ada dong yaa.
    Jaehee sama Suho aja bs segitunya apalagi Pirath yg dr kecil kan.
    Eh tp kok aku ngebacanya itu ngefeel bgt. Saking gedeknya sama Sara yg asli, jd mendalami bgt peran Sara disini hahahaha
    Kzl ga sih, alasan Pirath selingkuh cuma krna ga bs jaga isi celana xD
    Dasar cowok!!!!!
    Untung Suho pengertian bgt, bisa nerima apa adanya walaupun kadang juga karna ada apanya kwkwkw
    Ending di kolam berenang bikin salto kayang terus menggelepar
    Kaaaaaak, bisa banget baperin aku kayak gini hihihi
    Lagi2 aku ga pernah bosen utk blg semangat buat skripsinya
    Pasti bisaa pasti aman tuh kalo udah kak nisya yg ngerjain :*
    Kak nisya jjang jjang girl XOXO

  11. Dana says:

    Haaaa seneng banget akhirnya jaehee bisa lebih terbuka sama joonmyun dan diterima apa adanya :’)))
    Meskipun gak ada adegan macem2 atau perlakuan khusus joonmyun tp entah kenapa endingnya sweet bangett kyaaaaaa

  12. lunara says:

    Aku suka aku suka makin so sweet aja mereka ><
    coba papi sama jaehee lebih mesra lagi siapa tau bisa menjurus ke'sana' (?) /plak/ hahahahahaha

  13. H2 Hana says:

    Ciye ciye kalian berdua ciye
    Udah baikan ceritanya nih?? Pajaknya dong
    Langgeng yaaaaaa
    Jan berantem
    Sekali berantem langsung serem siih.ati ati noh

  14. heeryaa says:

    Alurnya pas menurun banget part ini…. jd gak terlalu menguras emosi bacanya hahaha dan…… yaaaa untung jm masih mikir mereka baru baikan ya kalo nggak uda cemburu gk jelas pas jaehee jujir begitu XD

  15. adindacynthia says:

    Hoooorrrreee… \(´▽`)/
    Terima kasih kak neez..
    Semoga hubungan mereka kedepannya makin lebih baik lagi.. 😀
    Gak ada lagi pengganggu di hubungan mereka..
    Lanjut ya kak lanjut.. Itu nanggung kayaknya.. 😀

  16. rinhorinhae says:

    hmm jd gtu ternyata cerita d balik depresi jaehee.. pirath aahhhhhhh . tp klo gg gt jaehee jg gg bkal ktmu suho sihh.. stiap kejadian memang pasti ada sesuatu yg lbih baik dbaliknyaa
    dan suho lucuuuu bgt pas cemburu hahahahaha
    sukaa sukaaaaa

  17. nayatiara says:

    kasian banget Jahee , sedih bacanya 😦
    even thought there’s a lot of sad scene in this part, i feel easy when i read it, i think its because i know that they’re for sure back together this time kekeke
    thank you for the hard work, waiting for the next one

  18. kjmlady says:

    cerita masa lalu aja bikin cemburu huuu dasar cowo baper junmyeon

    cerita ttg masa lalu jaehee-pirath-sarah.. seru yaa berasa baca oneshot. nyesek bgt jd jaehee. sahabat cewek pertama yg dia punya malah… ckckck

    yakakakak teteup lah first love nya jaehee(abs kecewa sm pirath) only one zhang yixing!! hahahaha

    ngebayangin junmyeon yg naik2in alis kok malah ngakakkkk sih ya allah

  19. Dira says:

    Ambigu masa diakhir cerita wakakak .-. Ahhhh junmyeon sama jahee cocwit, lucu kalo punya pasangan kayak junmyeon hahaha, keep writing eon^^

Leave a Reply to H2 Hana Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s