[KaiNa Piece] Monodrama

07

© IMA 2015

Kim Jongin — Lee Hana

Jeon Minju (The Ark)

Please kindly read Lee Hana’s profile before read this story

[KaiNa Piece] Monodrama

May 13th, 2015

04.17 PM KST

Sudah beberapa hari ini Kai merasa ada yang berbeda dari hidupnya. Entah hanya perasaannya saja atau Hana memang tidak mengacuhkannya. Mungkin gadis itu sedang sibuk dengan semua jadwal kuliahnya –yang mau menghadapi ujian tengah semester dan ia tidak berharap Hana akan membalas pesannya secepat mungkin. Mungkin Kai yang memang tidak terlalu sibuk akhir-akhir ini –setelah promosi Call Me Baby selesai hingga sering mendapat waktu luang dan terlalu sering mengirim chat pada Hana.

Namun hanya balasan singkat yang didapatkannya.

Setiap Kai bertanya, Hana hanya akan menjawab ‘Iya’ atau ‘Tidak’ dan tidak berusaha bertanya balik padanya. Kai berusaha mengabaikan berbagai macam pertanyaan aneh yang bermunculan di kepalanya. Ia hanya berusaha berpikir positif bahwa Hana mungkin memang benar-benar sibuk. Atau Hana belum benar-benar memaafkannya atas kejadian waktu itu.

Kai berguling di atas tempat tidurnya sambil mengecek layar ponselnya. Dan lagi-lagi tidak menemukan satu pun pesan dari Hana. Ia berusaha menahan diri untuk tidak mengirim chat duluan pada Hana agar gadis itu bisa mengerti perasaannya. Ia merindukan chat-chat penyemangat dan lucu dari Hana yang membuat harinya lebih hidup. Sudah beberapa minggu ini –sejak kejadian di Show Champion waktu itu, Hana tidak pernah melakukannya lagi.

“Dia tidak menyukai laki-laki lain ‘kan? Anhi anhi. Tidak ada yang lebih keren dari dirimu, Kim Jong In.”

Perut Kai terasa diremas-remas begitu bayangan akan Hana –bersama laki-laki lain tiba-tiba terlintas di kepalanya. Kai mengacak rambutnya sendiri lalu kembali melirik ponselnya dalam diam. Ia mengetuk-ngetuk layar ponselnya, bingung antara menelepon Hana atau tidak. Sudah hampir sebulan ini mereka tidak bertemu karena Hana selalu mengelak –karena masih berada di kampus atau terkadang sudah tidur di saat ia mau berkunjung.

Kai akhirnya memutuskan untuk menelepon Hana sore itu. Pada dering ketiga, Hana mengangkat telepon darinya.

‘Ada apa?’

“Kau pulang jam berapa?” tanya Kai tanpa berbasa-basi dan ia mendapati jeda selama beberapa saat sebelum Hana menjawab lagi.

‘Tidak tahu. Hari ini ada jadwal perdana kumpul club fotografi.’

“Kau ikut klub fotografi?” tanya Kai heran. Lagi-lagi ia tidak bisa bertemu Hana. “Kau bisa datang ke gedung SM?”

‘Err, aku tidak tahu selesainya jam berapa. Sepertinya aku tidak bisa datang ke sana.’

Ara. Tapi kalau sempat, datang ke tempat latihan ya, Han-ah. Taemin bilang dia ingin bertemu denganmu di sana.”

Oh sial. Kai merutuki bibirnya sendiri karena mengatakan hal yang berlawanan dari kata-kata di kepalanya. Ia merindukan Hana. Ia sangat ingin bertemu dengan gadisnya.

Terdengar jeda lagi dari Hana di seberang sana. ‘Molla. Aku tidak janji.’

Keurae. Aku tutup teleponnya sekarang.”

‘Ne, annyeong.

“Lee Hana aku—.”

Suara sambungan yang terputus membuat ucapan Kai menggantung di udara. Perbincangan yang singkat dan canggung itu membuat jantung Kai berdebar entah kenapa. Ia tidak cukup bodoh untuk menyadari nada bicara Hana padanya. Hana tidak pernah berbicara sedingin itu padanya selama ini –kecuali jika sedang marah tentu saja. Sepertinya Hana memang belum memaafkannya atas kejadian satu bulan lalu.

Kai baru saja akan beranjak dari kasur ketika merasakan ponselnya kembali bergetar. Kali ini menandakan pesan masuk di Katalk. Keningnya berkerut heran begitu membaca nama yang muncul di layar ponselnya. Jeon Minju.

‘Kai sunbae. Masih ingat denganku? ㅋㅋㅋ Maaf mengganggu. Apa sunbae punya waktu luang? Aku butuh bantuan sunbae untuk project baru The Ark.’

Pikiran Kai kembali pada kejadian –yang membuat Hana marah padanya—hingga hari itu. Karena pertanyaan yang dilontarkan Minju, ia terpaksa harus berbohong dan menyakiti hati Hana. Oh well, sebenarnya bukan salah Minju juga. Siapa pun yang bertanya, Kai pasti akan melakukan hal yang sama dan tetap menyakiti Hana. Kai menggelengkan kepalanya dan menatap pesan itu dalam diam.

Dengan pertanyaan besar di kepalanya –mengenai darimana Minju mendapat id Katalknya—, Kai membalas pesan gadis itu.

‘Ah keurae, aku masih ingat ㅋㅋ Anhi, tidak mengganggu. Project apa?’

‘Oh, jinjja? ^^ Eum, sebenarnya project cover Call Me Baby dan aku yang disuruh mempelajari dancenya.’

‘Aaah, call me baby?’

‘Ne~ Eum, apa sunbae mau membantuku? Tolong ajarkan beberapa point dance dari call me baby.’

‘Sepertinya bisa.

Nanti malam datang ke gedung SM saja, aku akan latihan di sana sampai pagi.’

‘Arasseo^^ Kamsahamnida, sunbaenim~.’

***

SM Building

09.28 PM KST

Sebelumnya Kai tidak mudah dekat dengan seseorang seperti itu. Hampir seluruh orang yang sudah mengenalnya akan mengatakan bahwa Kai termasuk seseorang yang introvert. Sulit dekat dengan orang baru dan biasanya akan bersikap dingin pada mereka. Begitu awal berkenalan dengan Minju, Kai memang berpikir untuk tidak terlibat hubungan pertemanan yang lebih jauh dengan gadis itu. Namun entah kenapa ada yang membuat dirinya bisa menerima Minju begitu saja. Mungkin karena perbincangan mereka tidak jauh dari pengetahuan mengenai dance, dan membuat Kai sedikit tertarik untuk terus berbincang dengan Minju.

Sudah dua jam berlalu sejak Kai mulai berlatih di ruang latihan sendirian. Member lain sedang sibuk dengan urusan masing-masing mengingat jadwal mereka sedang sedikit longgar. Dan Kai tidak tahu harus melakukan apa selain berlatih tentu saja. Kai menghempaskan tubuhnya pada sofa di sudut ruang latihan untuk mengecek ponselnya. Ia menemukan pesan Katalk dari Minju, membuatnya beranjak dari sofa dan dengan setengah berlari keluar dari ruang latihan menuju pintu masuk gedung SM.

“Sudah lama?” tanya Kai ketika membukakan pintu depan gedung SM –dengan sidik jarinya— dan Minju melangkah masuk dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya.

Anhi sunbae, aku baru datang,” jawab Minju, tanpa bisa mencegah rasa panas menjalari wajahnya. Ia dengan takut-takut mengikuti langkah Kai dari belakang seraya melepas masker yang dipakainya, secara diam-diam juga mengagumi penataan bagian dalam gedung baru SM –yang sangat jauh dari penataan gedung agensinya. Dari setiap ruang latihan yang dilewati, Minju bisa mendengar seseorang yang sedang latihan vokal, suara musik yang berdentum kencang, bahkan hingga suara umpatan-umpatan yang terdengar samar.

“Kau masuk saja duluan, aku harus ke toilet sebentar,” Kai menyunggingkan senyum manisnya seraya membukakan pintu ruang latihan –yang tadi dipakainya—dan mempersilakan Minju masuk. Minju melangkah dengan ragu memasuki ruang latihan itu lalu memperhatikan cermin yang mengelilinginya. Ia melihat beberapa barang milik Kai yang tergeletak di atas sofa hitam di sudut ruang latihan itu dan Minju memutuskan untuk duduk di sana sembari menunggu Kai kembali dari toilet.

Minju melepaskan tas ransel di punggungnya seraya memperhatikan keseluruhan ruang latihan SM. Sebenarnya tidak berbeda jauh dengan ruang latihan yang biasa dipakainya di gedung Music K. Namun ada aura yang berbeda ketika ia memasukinya. Entah kenapa, tapi rasanya ia merasakan aura superstar dari setiap ruang latihan di sana.

Perhatian Minju teralihkan ketika mendengar dering ponsel yang memecah keheningan di dalam ruang latihan. Minju mengecek ponselnya sendiri namun kemudian sadar bahwa itu bukan dari ponselnya. Ia melirik ponsel Kai yang tergeletak di dekatnya dan melihat panggilan masuk di sana. Minju menoleh ke arah pintu dan tidak menemukan tanda-tanda Kai akan kembali. Kebingungan melanda Minju, bagaimana jika telepon itu penting? Bagaimana jika ia mengangkat teleponnya dan memberitahu Kai nanti?

Minju meraih ponsel Kai dengan ragu-ragu lalu melihat nama yang tidak familiar di layar. Hana. Minju melirik ke arah pintu masuk sekali lagi sebelum menjawab panggilan itu.

‘Ya! Kau bilang Taemin oppa mau bertemu denganku? Mwoya~ Dia tidak bilang apa-apa padamu, kkaman. Aku akan datang ke ruang latihanmu sekarang.’

Yeoboseyo?”

Keheningan melanda hubungan telepon itu sepersekian detik setelahnya. Minju menurunkan ponsel itu dari telinganya dan menemukan sambungan telepon itu masih tersambung dengan seseorang bernama Hana di sana. Hingga terdengar suara pintu masuk yang terbuka, membuat Minju mematikan telepon itu, menaruhnya kembali di tempat semula lalu menoleh pada sosok Kai yang melangkah menghampirinya.

“Maaf menunggu lama,” Kai merapikan rambut hitamnya yang sedikit berantakan –karena berlari dari toilet dan kembali tersenyum pada Minju.

Gwenchana. Eum….. Sunbae?”

“Ne?” Kai yang baru saja berlutut di dekat sofa untuk merapikan barang-barangnya yang berantakan itu sedikit menoleh pada Minju yang duduk di sana.

“Tadi—aku tidak sengaja—err, ada telepon masuk dan aku— telepon dari seseorang, tapi aku tidak—.”

Mwoya~, aku tidak mengerti. Kau kenapa?”

Anhi, tidak jadi. Ehehe, ayo kita mulai saja latihannya,” balas Minju, akhirnya memutuskan untuk tidak memberitahu Kai.

Kai hanya mengangguk ringan, mengabaikan perasaan mengganjal yang melandanya dan segera berdiri. Ia melihat Minju mengikat rambutnya tinggi-tinggi ke atas sebelum ikut beranjak dari sofa. Gadis itu selalu berusaha menghindari kontak mata dengannya.

“Jadi…. Bagian mana yang mau kau pelajari?” tanya Kai, mencoba memulai pembicaraan –dan dance lesson malam itu.

Minju menggigit pelan bibir bawahnya. “Semuanya. Kebetulan aku dipilih untuk mengcover posisi Kai sunbae, makanya aku mau belajar dari sunbae.”

“Ah, jinjja?”

Ne. Aku tidak mau salah mengekspresikan gerakan Kai sunbae dan dihujat 3 juta orang karena hal itu,” ucapan Minju membuat Kai tertawa geli. Dan tanpa sadar mengalirkan rasa panas di wajah Minju ketika menyadari betapa merdunya suara tawa lelaki itu.

Kai mengangguk ringan setelah menghentikan tawanya. “Kita mulai dari awal.”

“Pertama, kau harus berjongkok dan ikuti irama lagunya sebelum berdiri. Yang paling penting adalah ekspresi, di bagian awal ini kau tidak perlu mengeluarkan banyak power. Permainan ekspresi yang paling penting.”

Minju hanya mengangguk-angguk memperhatikan pergerakan Kai –yang mendukung penjelasan mengenai dance bagian awal Call Me Baby. Rasa merinding tiba-tiba menjalari tubuh Minju ketika Kai menyunggingkan smirk andalannya. Kai benar-benar memiliki pesona yang sulit diterima oleh akal sehat wanita sepertinya.

“Jangan lupa gerakan menepuk udara setelah berdiri,”  Kai membuat gerakan menepuk tangan –tanpa bersentuhan di udara dua kali dan Minju mengikuti dengan ekspresi polosnya.

Anhi anhi, bukan seperti itu,” Kai beralih ke belakang tubuh Minju sambil tertawa pelan dan membantu menggerakkan tangan gadis itu dari belakang. Lebih terlihat seperti memeluk dari belakang jika dilihat dari cermin.

Dan disaat yang bersamaan pintu ruang latihan itu terbuka.

Bhuahaha, Ya~ kau harus –Oh, Han-ah?”

Shit.

Kai cepat-cepat menurunkan tangannya dan memutar tubuhnya menghadap Hana yang masih berdiri di ambang pintu dengan ekspresi tidak terbaca. Gadis itu hanya menatap datar dirinya dan Minju secara bergantian.

“Sepertinya kau sedang sibuk,” Hana mengabaikan rasa sesak yang mendesak di kerongkongannya ketika mendapati semburat merah di pipi Minju.

“Ah, anhi. Sebenarnya aku—.”

Gwenchana. Kalau kau memang sibuk, aku pulang duluan,” Hana berusaha menyunggingkan senyum –walaupun terlihat menyedihkan— dan keluar dari ruang latihan itu secepat mungkin.

“Lee Hana! Ya!” Kai baru saja akan berlari saat menyadari bahwa ia tidak sendirian di sana. Otaknya memerintahkan ia untuk mengejar Hana, namun tubuhnya tetap tidak bergerak sedikit pun. Ia melirik Minju melalui sudut matanya dan mendapati tatapan heran dari gadis itu.

“Dia siapa? Sepertinya aku pernah melihatnya sebelum ini.”

Teman. Dan kau tidak mungkin pernah melihatnya,” elak Kai sambil kembali menatap jejak kepergian Hana. Ia terpaksa berbohong pada Minju.

Kai mengacak rambutnya sendiri ketika pikirannya kembali dilanda kebingungan. Ia harus menahan diri untuk tidak mengejar Hana atau semuanya akan berantakan. Ia tidak akan membiarkan orang luar tahu mengenai hubungannya dengan Hana. Ia tidak mau membuat posisi Hana semakin sulit jika orang lain berusaha mencampuri hubungannya dengan gadis itu. Ia hanya berharap Hana mengerti keadaannya setelah ini.

Atau setidaknya tidak membuat situasi semakin buruk.

***

Hana’s apartment

11.37 PM KST

Aish!”

Entah sudah umpatan ke berapa yang Hana lontarkan malam itu ketika ia tidak juga menemukan sumber yang tepat untuk tugas paper salah satu mata kuliahnya. Hampir dua jam berlalu dengan sia-sia karena ia memang tidak benar-benar menaruh seluruh perhatiannya pada tugas-tugas itu.

Hana membenturkan keningnya ke atas meja belajar. Perutnya kembali terasa sakit, seperti diaduk-aduk ketika bayangan Kai –bersama salah satu member The Ark di ruang latihan itu kembali memasuki pikirannya. Kai terlihat sangat tampan dengan model dan warna rambutnya yang hitam, namun bukan ia yang pertama kali melihatnya. Tawa bahagia Kai yang menggema di kepalanya saat memenuhi ruang latihan tadi semakin menambah perasaan tidak enak di perut Hana.

Apa Kai sudah menemukan wanita lain yang bisa membuatnya tertawa selepas itu?

Apa Kai akan meninggalkannya?

Atas semua sikap dingin Hana selama satu bulan ini, wajar saja jika Kai merasa jenuh dan mencari hiburan lain di luar sana. Mungkin salah satunya dengan menghabiskan waktu bersama member The Ark itu. Apalagi mereka sama-sama menyukai dance, tidak seperti Hana yang sama sekali tidak bisa diajak berdiskusi mengenai hobi kekasihnya sendiri. Lagipula keduanya terlihat cocok, sama-sama bekerja di dunia keartisan dan sama-sama memiliki passion untuk dance.

Kai juga tidak mengejarnya sampai sekarang, sudah jelas siapa yang dipilih lelaki itu bukan?

Sebelumnya mereka –Kai dan Hana sudah berjanji akan melepas satu sama lain jika mendapatkan seseorang yang lebih baik atau jika sudah merasa bosan. Lagipula Hana memang sempat berpikir untuk melepaskan Kai selama satu bulan ini. Ia berusaha menyibukkan diri, menjadikan Kai sebagai prioritas terakhir dan menomor satukan kegiatan di kampus. Hana berusaha mengurangi intensitas pertemuannya dengan Kai dan selalu mengelak jika diajak bertemu. Ia tidak mau terus-terusan berharap pada hubungannya bersama Kai.

Hana yakin bahwa ia mulai bisa mengatur perasaannya.

Namun kejadian tadi benar-benar memberikan tamparan keras pada Hana.

Tidak ada air mata yang keluar, namun rasanya Hana ingin menenggelamkan diri sampai mati jika Kai meninggalkannya untuk wanita lain. Rasa sesak dan mual yang tidak kunjung hilang jika ia terus mengingat rekaman kejadian di ruang latihan tadi. Serta keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya saat menyadari bahwa Kai tidak mengejarnya.

Hana sadar bahwa ia takut kehilangan Kai. Ia tidak bisa melepaskan Kai atau bahkan ditinggalkan lelaki itu. Hana tidak bisa. Sekeras apapun berusaha, Hana tetap tidak bisa membayangkan kehidupannya tanpa kehadiran Kai nanti. Tidak ada sikap menyebalkan yang membuat hidupnya lebih berwarna. Tidak ada suara tawa husky yang selalu bisa membuat moodnya lebih baik. Tidak ada pelukan hangat dan skinship lain yang membuat jantung Hana berdebar hingga mau meledak. Dan Hana tidak mau membayangkan semua itu dengan laki-laki mana pun selain Kai.

Wae? Kenapa kau membawa pengaruh sebesar ini, kkaman?” Hana memejamkan matanya yang mulai kabur karena air mata dan membiarkannya menetes, membasahi kertas-kertas di atas meja belajarnya.

Tangisan Hana semakin menggema, memecah keheningan malam yang menyergap kesendirian Hana di apartemen itu. Hana mengepalkan tangannya kuat-kuat, membuat buku-buku jarinya memutih dan Hana tidak peduli jika kuku-kuku jarinya akan menembus kulit. Jika itu bisa membuat Kai kembali, maka ia rela membiarkan itu terjadi.

.

.

.

May 14th, 2015

12.15 AM KST

“Han-ah.”

Dengan tergesa, Kai membuka sepatu yang dipakainya dan berjalan cepat memasuki ruang tengah apartemen Hana. Ia mendapati hanya lampu-lampu kecil yang menyala di ruang tengah, menandakan bahwa sang pemilik apartemen sudah siap untuk tidur. Kai menaruh paper bagnya secara asal di atas sofa ruang tengah dan menghampiri pintu kamar Hana. Sebelum membuka pintu, Kai mendengar samar-samar suara isak tangis dari dalam kamar gadisnya.

Dan Kai sadar bahwa ia lagi-lagi menyakiti gadis itu.

Kai menyandarkan punggungnya pada pintu kamar Hana, berjongkok di depan daun pintu dan mendengarkan bagaimana tangisan pilu gadisnya yang membuat jantungnya terasa sakit. Entah sudah berapa kali Kai menyakiti Hana dalam 3 tahun hubungan mereka. Ia sudah terlalu sering membuat gadis itu menangis karena sikapnya. Padahal ia sudah berjanji akan melindungi dan membahagiakan Hana seperti yang ia lakukan pada kedua kakak perempuan dan ibunya, namun tidak berhasil. Hana kembali disakiti oleh laki-laki brengsek sepertinya.

Punggung Kai masih bersandar pada daun pintu kamar gadisnya. Mungkin sudah hampir satu jam ia berada di sana, hanya memeluk lutut dan mendengar suara tangisan Hana yang belum juga selesai. Rasanya Kai ingin menerobos masuk, memeluk Hana dan menghentikan tangisan gadis itu sekarang juga. Namun Kai sadar bahwa ia tidak pantas untuk melakukan hal itu disaat ia yang membuat air mata itu keluar.

Ketika tidak lagi terdengar suara isak tangis, Kai memutuskan untuk berdiri dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku karena duduk terlalu lama. Ia kembali berjalan ke sofa, membuka paper bag yang tadi dibawanya dan mengambil sebuket bunga mawar merah –yang dibelinya di jalan—saat kembali dari gedung SM tadi. Namun ia tidak berani memberikannya langsung pada Hana. Ia akan memberikannya besok sepulang dari Jeju sekaligus memberitahu kabar lain. Sebenarnya ia bermaksud memberikan kejutan pada Hana, tapi sepertinya tidak berjalan mulus karena ia dengan bodohnya malah membuat Hana kecewa di dua hari sebelum—

Kkaman?”

Tubuh Kai membeku begitu suara lembut Hana terdengar dari belakang dan mengalirkan sensasi aneh ke seluruh tubuhnya. Tangan Kai –yang memegang buket bunga itu terhenti di udara. Tanpa harus berbalik pun, Kai bisa merasakan bahwa Hana sedang berjalan mendekatinya yang masih berdiri kaku di dekat sofa.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Hana.

Dan Kai bersumpah bahwa ia tidak mendengar kehangatan dalam nada bicara kekasihnya.

“Kalau kau mau mengecek keadaanku setelah kejadian tadi, kau tidak perlu melakukannya,” ucapan Hana tetap tidak membuat Kai berbalik. Tiba-tiba saja Hana kembali merasakan rasa mual menyerang perutnya saat menyadari bahwa Kai tetap membelakanginya.

“Kau bisa pulang ke dorm sekarang. Aku harus istirahat,” Hana mengabaikan rasa tidak enak di perutnya itu dan kembali berbalik untuk kembali ke kamar. Rasa hausnya menguap entah kemana ketika ia melihat Kai di apartemennya.

“Han-ah, dengarkan aku—,” Kai menaruh kembali buket bunga itu ke dalam paper bag miliknya dan berbalik dengan cepat untuk meraih pergelangan tangan Hana. “Mianhae. Maaf karena menyakitimu seperti ini Han-ah, tapi aku—.”

“Aku mau tidur,” Hana menarik tangannya dari cengkeraman Kai, berusaha mati-matian menahan air mata yang kembali mendesak keluar dari matanya. Ia tidak sanggup mendengarkan Kai lagi. Ia tidak sanggup terjatuh lebih dalam lagi dalam rasa sakitnya.

“Lee Hana, aku serius. Dengarkan aku,” Kai akhirnya berjalan cepat hingga berdiri di hadapan Hana, namun gadis itu malah menghindari kontak mata dengan menundukkan kepala dan menatap lantai kayu apartemen.

“Kau tidak pernah seserius ini, kkaman,” Hana berbisik pelan dan membiarkan air mata kembali mengaliri pipinya.

So, this is how they relationship will end up, right? These three years that full of memories and love will end up that night.

Dari seluruh hal di dunia ini, Hana akan selalu membenci Kai dalam mode serius. Perbincangan serius mereka selama tiga tahun ini tidak pernah berakhir dengan baik. Hana lebih suka bertengkar ringan dan berdebat dengan Kai daripada membicarakan sesuatu secara serius. Dan Hana sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan serius Kai malam itu. Kai akan mengakhiri hubungan mereka agar bisa bersama Minju.

“Han-ah, aku mau—.”

Andwae!” Hana menutup kedua telinganya rapat-rapat seraya berjalan mundur satu langkah. Hana tidak bisa menahannya lagi. Hana tidak bisa bersikap baik-baik saja disaat seluruh tubuhnya terasa tidak enak karena pikiran tentang Kai yang akan meninggalkannya.

“Jangan katakan apapun! Aku tidak mau mendengar apapun darimu, Jong In!” pekik Hana, masih tetap menundukkan kepala dengan tangan yang menutup rapat kedua telinganya.

Bolehkah Hana bersikap egois untuk mempertahankan hubungan mereka? Hana belum bisa membayangkan hidupnya tanpa kehadiran Kai lagi.

Ya, Han-ah. Dengarkan penjelasanku dulu. Kau hanya—,” Kai berusaha mendekati Hana, namun gadis itu tetap berjalan mundur menjauhinya. “Lee Hana! Berhenti disana atau aku—.”

“Aku tidak mau putus, kkaman.”

Ucapan pelan yang meluncur dari bibir Hana itu sontak membuat jantung Kai sempat berhenti selama beberapa saat. Kai terdiam di tempatnya, ia memperhatikan bagaimana tangan Hana turun secara perlahan dari kedua telinga. Terjatuh lemas di samping tubuh kurusnya namun tetap dengan kepala tertunduk.

“Kau memilihnya tadi malam dan itu sudah cukup menjelaskan semuanya,” ujar Hana disela isak tangisnya. “Tolong jangan diperjelas lagi, Jong In. Aku tidak siap mendengarnya.”

Tiba-tiba saja beban berat diatas pundak Kai terangkat begitu mendengar alasan Hana. Senyuman lega muncul di bibir Kai, ia melangkah mendekati Hana dan menarik tubuh kurus gadis itu ke dalam pelukannya. Ia merasa lucu dengan ucapan-ucapan Hana yang terdengar bodoh di telinganya. Ia kira Hana benar-benar marah sampai tidak mau mendengarkan semua penjelasannya. Namun gadis itu ternyata hanya ketakutan. Hana takut bahwa ia akan mengakhiri hubungan mereka dan memilih Minju. Hana hanya takut kehilangan dirinya.

How sweet.

Sepertinya menyenangkan jika menggoda Hana sedikit lagi. “Tapi kau harus menerima kenyataan, Han-ah. Aku….. memilihnya.

Tangisan Hana sudah mulai mereda di dadanya, namun ia merasakan tangan Hana mencengkeram kaus miliknya di bagian punggung dengan sangat kuat.

Wae?” Dan Hana menyesali pertanyaan bodoh yang terlontar dari bibirnya sendiri. Karena ia akan membuat tubuhnya semakin sakit saat mendengar jawaban dari Kai.

“Karena dia luar biasa. Diantara jadwal yang sibuk, dia selalu ada untukku. Dia tidak pernah lupa membalas pesanku. Walaupun menyebalkan, tapi dia hanya ada satu di antara ribuan orang yang menjadi fansku,” Kai merasakan kuku-kuku Hana yang mulai menancap punggungnya karena terlalu kuat mencengkeram kausnya. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Hana, menghirup aroma khas gadisnya di sana.

Dan Hana tidak yakin jika ia akan bisa bangun besok pagi setelah hari yang paling menyakitkan di hidupnya itu. “Jadi…Ini pelukan perpisahan?”

Anhi,” Kai menaruh dagunya pada puncak kepala Hana sambil mengusap pelan bagian belakang kepala gadis itu. “Kau belum dengar semua ceritanya sampai selesai.”

“Aku tidak mau.”

“Kau akan menyesal, Han-ah,” Kai tidak bisa menahan senyum gelinya karena nada bicara Hana mulai merajuk walaupun masih terdengar menyedihkan. “Kau tidak mau tahu akhir ceritanya?”

“Kim Jong In, aku tidak mau—.”

“Kau tahu? Wanita yang aku pilih sudah menangis selama lebih dari satu jam di dalam kamar karena takut hubungannya berakhir. Dia bersikap dingin akhir-akhir ini, tapi menjadi yang paling egois saat menyangkut hubungannya,” Kai tertawa pelan begitu Hana mulai meronta dari pelukan itu dengan sumpah serapah yang terdengar samar.

You’re teasing me, kkaman,” Hana menghapus air matanya dengan kasar ketika suara tawa husky Kai menggelitik telinganya dari jarak sedekat itu. Ia sedang berusaha melepaskan diri dari pelukan Kai namun lelaki itu malah semakin menarik tubuhnya dan mempererat pelukan itu.

“Apa kau sebegitu takutnya kehilanganku, hm?” pertanyaan menyebalkan dari Kai lagi dan Hana memutar bola matanya sambil mencubit pinggang Kai dengan cukup keras.

“Berhenti menggodaku, Kim Jong In!”

“Aku tidak akan meninggalkanmu, sayang.”

“Kau menggelikan.”

“Tapi kau tidak mau ditinggalkan oleh orang yang ‘menggelikan’ ini, Han-ah,” Kai kembali tertawa karena Hana kembali merutuknya, kali ini ditambah usaha dengan pukulan-pukulan di perutnya.

“Lepaskan aku, bodoh!” balas Hana, merasa menyesal karena menangisi lelaki itu dan bersikap menggelikan sebelumnya. Wajah Hana memanas, membayangkan sikapnya beberapa menit lalu yang seperti wanita murahan. Tapi rasanya ada beban yang menghilang dari dalam dada Hana ketika tahu bahwa Kai tidak akan meninggalkannya.

Kai masih tersenyum geli ketika melepaskan pelukan itu, kedua tangannya masih memegangi setiap sisi bahu Hana dan menatap gadis itu tepat di mata. “Kau pikir aku akan memilihnya?”

“Kau tidak mengejarku tadi malam,” balas Hana cepat seraya memutar bola matanya dan memandang ke arah lain.

“Aku tidak mau dia tahu tentang hubungan kita, Han-ah. Maaf sudah membuatmu salah paham dan menangis semala— Akh! Jangan menginjak kakiku, bodoh!” pekik Kai saat Hana menginjak kakinya dan ia bersumpah bahwa Hana benar-benar sepenuh hati melakukan hal itu.

“Berhenti menggodaku,” Hana menepis tangan Kai dari bahunya dan mengerucutkan bibir kesal. “Kau memeluknya juga.”

“Aku tidak memeluknya,” Kai berujar dengan senyuman geli di bibirnya, menyadari bahwa Hana merasa cemburu atas perlakukannya terhadap Minju. “Aku mengajarinya dance Call Me Baby.

“Aku tidak peduli,” sahut Hana seraya mendengus kesal dan berbalik dengan cepat kembali ke kamarnya. Rasanya ia tidak sanggup menghadapi Kai lagi karena terlalu malu dengan semua yang sudah terjadi.

Ya! Tunggu sebentar,” Kai dengan cepat juga mengejar Hana dan kembali menarik pergelangan tangan gadis itu hingga berbalik ke arahnya. Kedua mata bulat Hana menatap penuh rasa ingin tahu, membuat Kai mengutuk dalam hati karena Hana terlihat lucu di matanya. Tatapan polos Hana selalu membuatnya lemah.

“Kenapa? Kau mau menginap di sini?” tanya Hana dengan bodohnya dan kembali memunculkan senyum jahil di bibir Kai.

“Apa itu sebuah ajakan?”

“Aku hanya bertanya, ara? Tch, dasar byuntae,” Hana menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan rasa panas yang mengaliri wajahnya saat membayangkan Kai menginap bersamanya.

“Aku mau menginap, tapi tidak bisa malam ini. Eomma menyuruhku pulang ke rumah,” Kai mencoba menjelaskan, namun Hana bersikap –pura-pura—tidak peduli dengan ucapannya.

Sebenarnya Hana berharap Kai akan menemani kesendiriannya malam itu di apartemen, namun ia tidak mungkin memintanya secara terang-terangan. Lagipula Kai akan pulang karena permintaan ibunya dan Hana tidak bisa melakukan apapun untuk melarang lelaki itu. “Pulang saja sana.”

“Ouh, setelah menangisiku selama berjam-jam dan memohon untuk tidak meninggalkanmu, sekarang kau mengusirku dari sini?”

“Aku tidak memohon.”

“Hanya Lee Hana yang bisa melakukannya,” lanjut Kai, mengabaikan gumaman Hana sebelumnya lalu tertawa pelan melihat ekspresi datar yang ditunjukkan gadis itu. Kai mengangkat tangannya dan mengacak-acak rambut panjang Hana. Rasanya sudah lama tidak melakukan hal itu pada gadisnya.

“Ah! Kau merusak rambutku, kkaman!” Hana memanyunkan bibirnya seraya menepis tangan Kai dari atas kepalanya. Hana tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya ketika bisa merasakan sentuhan Kai seperti biasanya lagi. Ia merindukan semua yang biasa Kai lakukan padanya. Apalagi ketika Kai tertawa seperti saat itu, suara tawa lelaki itu benar-benar sudah seperti vitamin yang  selalu berhasil membuat mood Hana menjadi lebih baik.

Kai menghentikan tawanya, menepuk puncak kepala Hana sekali lagi sebelum berbalik ke sofa dan mengambil paper bag miliknya di sana. Ia kembali ke hadapan Hana lalu menyodorkan paper bag itu ke hadapan gadisnya. Dan Hana bersumpah bahwa ia melihat buket bunga mawar merah di dalam sana. Membuat sensasi menggelitik aneh menghiasi perut Hana ketika menerima paper bag itu dari tangan Kai.

“Jangan dibuka sebelum aku pergi,” titah Kai saat Hana berusaha mengintip ke bagian dalam paper bag.

Hana mengangguk patuh dan kembali mengangkat kepala sambil menyunggingkan senyuman terbaik miliknya. “Gomawo, kkaman.

“Sama-sama, Han-ah,” Kai balas tersenyum lalu melirik jam di ruang tengah apartemen Hana. “Aku harus pulang sekarang.”

Arasseo. Ibumu pasti menunggu di rumah,” Hana tidak bisa menyembunyikan nada kecewanya, namun tidak bisa melakukan apapun untuk menahan Kai. Sebenarnya ia masih membutuhkan waktu untuk bersama Kai dan menyelesaikan beberapa hal bersama lelaki itu. Mungkin ia akan minta waktu besok malam jika Kai tidak sibuk.

“Aku akan datang lagi besok. Aigoo, aku tidak akan meninggalkanmu, Lee Hana,” Kai kembali ke mode jahilnya sembari menekan-nekan pipi Hana yang menggembung dengan telunjuknya. Ia suka melihat Hana yang tengah merajuk seperti itu. Well, ia juga belum mau meninggalkan Hana sebenarnya. Ia masih merindukan gadis itu.

Hana menolehkan kepala –untuk menghindari telunjuk Kai yang menyentuh pipinya dan memutuskan untuk segera mengirim Kai pulang. “Aku akan tidur sekarang, jadi kau harus pulang sekarang juga, Jong In.”

“Kau mengusirku lagi?”

“Kau yang mau pulang tadi, astaga,” Hana memijat pangkal hidungnya kemudian menatap Kai kembali dengan ekspresi dinginnya. Dan ia mendapati Kai tengah memeriksa setiap inchi wajah Hana seolah mencari sesuatu. “Kenapa?”

“Ada debu di matamu,” ujar Kai seraya berjalan mendekat dan sedikit menunjukkan wajahnya.

Sebelum Hana mengatakan apapun, tiba-tiba saja Kai memberikan kecupan ringan di bibirnya. Membuat Hana sedikit terlonjak dan belum sempat mencerna apapun ketika Kai menjauhkan wajahnya kembali. Dammit, Kim Jong In.

Annyeong,” Kai berujar singkat sambil menepuk puncak kepala Hana lalu meninggalkan gadis itu dengan seulas senyum bahagia di bibirnya.

Dan sialnya bagi Hana, gadis itu masih belum kembali ke alam sadarnya ketika Kai menutup pintu depan apartemennya. Hana terduduk di atas lantai kayu, meraba bibirnya sendiri sambil memutar ulang rekaman suara tawa Kai di kepalanya. Hingga seulas senyum muncul di bibir Hana bersamaan dengan semburat merah yang muncul di kedua pipinya saat mengingat perlakuan Kai. Lalu Hana teringat dengan paper bag yang baru saja diberikan kekasihnya, ia segera membuka paper bag itu lalu tersenyum lebar. Bahkan mungkin terlalu lebar karena tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

Hana mengambil buket bunga mawar merah dari dalamnya dan melihat secarik kertas di bagian bawah bunga itu.

‘Happy Rose Day, Lee Hana.’

Ah, tanggal 14 di bulan Mei. Hana merasakan sensasi geli di perutnya –lagi sambil menghirup dalam-dalam aroma bunga mawar itu. Ia memeluk buket bunga itu sembari memeriksa isi paper bag itu lagi, berharap ada hadiah lain yang disiapkan Kai untuknya. Hana lalu menarik keluar secarik kertas yang dilipat rapi –seperti surat di dalam sana. Dengan perlahan Hana membuka lipatan kertas itu dan membaca setiap huruf yang tertera di atasnya.

Napas Hana tertahan di tenggorokan, ia menutup mulutnya tidak percaya dan hampir menangis bahagia membaca isi dari kertas itu. Kai is impossible.

Flight ticket.

South Korea to Los Angeles.

May 16th, 2015

[KaiNa Piece] Monodrama

ASGHJFKKSLKL!!!!!

ANNYEONG~ Maaf rusuh tapi emang lagi semangat banget malam ini /youknowwhy/

tadinya mau di publish besok besok, tapi karena lagi seneng karena love me right jadi langsung post hari ini…. Dan yeah, kalian juga pasti lagi mood baik banget malem ini hihi

Dan selanjutnya bakal bikin KaiNa versi liburan di LA bareng keluarga Kai yeah~ Curious yeah~ Siapin kesabaran kalian yaa karena bakal di protek hihi

Fighting!!!

Makasih banyak~

Best Regards,

IMA♥

Advertisements

87 thoughts on “[KaiNa Piece] Monodrama

  1. tasya_vero says:

    Uwaaa aku kira bakalan break atau putus gitu eon..
    Eh gataunya enggaa hehe!!
    Lucu banget kainya modus gitu ya tiba tiba nyium hana:3
    Selamat dehh udah baikan lagii ihiiwww^^

  2. adindacynthia says:

    Aiih.. Gak sabar nih nunggu lanjutannya..
    Gak sabar cerita KaiNa liburan di LA..
    Bersyukur hubungan mereka masih terselamatkan, dari sekian banyak couple di indaylee, cuma KaiNa doang yang paling sering putus nyambung..
    Semoga mereka gak putus beneran.. 😀
    Ditunggu ya ima lanjutannya.. 🙂

  3. via99 says:

    Fuuuu akhirnya punya waktu buat baca kaina hehe…. Kyaaa kirain mau yg galau galau lagi ternyata tidak, Ok di tunggu lanjutannya authornim hehe 😀

  4. Febe_QueeN96 says:

    Kyaaaaaaaaa 😍 kai romantis bangettttttt!!!!!! Aaaaaaaaa gak tahan ama sikapnya kai huhuuuu keren abis!!! Hana kyeowo ><

  5. linda says:

    aduuhb kirain bakalaaan galau2 gituu pas baca awalnyaa . udah deeg2 an . gasiap kalo misal mereka berraaantem serius lagii 😦 tapiiii eng ing enggg ga galaooo malahaan sweet . hmmm sweet kkamjong :* seneng bangettt .. ahhhh gaa ssabaaarr nunggu next chapt . edisi liburaan hahayy dan bareng kluarganya jongin .
    immaaaaa cepet diposting yakk :*
    keep writing !! *xoxo

  6. Jung Hyun Mi says:

    SUMPAHHHHH
    si kucrut ternyata udah mulai ‘agak’ membaik yaa gak memperburuk masalah sampe harus break *sigh*
    yaampunnm sweett bangett akhirnyaa wkwkwkwk
    mulai gak suka deh sama si cewe gatel itu(?)
    yaallahhh melting banget waktu modus mau cium pake ngomong ada debu di mata😂😂
    hiiii penasarann liburannyaa gimana xixi
    yaa aku harap gak ada masalahh selama mereka libura (?)
    cie mau ketemu keluarga dari pihak si doi(?) cieee hana ciee😜😜

  7. Lisa says:

    Yeay! Akhirnya hana ngga marah lagi sama jongin, tapi btw aku kesel deh sama minju rada genit iyuh ngga ngerti amat itu pacarnya kai elaahh-_- tapi ahh kai sweet banget sih mau banget mau juga digituin aihhh pasangan ini emang bener2 deh gengsi2 tapi suka haha;p ditunggu nextnya ya kak yang romantis yaaa hihi. Semangaaattt

  8. Hyena says:

    Kek ny jd hana itu harus sbar bener y. Hana is da best 🙂 kai msh sempat2 ny goda hana ya wkwk kasian tu hana dikirain mw d tinggalin.
    Cie hana takut kehilangan oppa ku sayang nie

  9. kaisa says:

    huuaaaaa…….tambah sng ma couple ni deh >_<
    kirain mw Putus lgi bnran, ternyt mlh tmbah romantis ja….
    g sbar nunggu slnjutny KaiNa liburan brg kluargany kai, ditunggu scpatny ya ngeposny…..
    semangat y ima buat KaiNa yg slnjutny ~_~

  10. nayatiara says:

    i thought there would be a sad scene, but thank god there wasn’t any!!!
    and i just realized that hana just could be realllyyyy cute sometimes kekeke
    thank you for the hardwork, waiting for the next one

  11. Jongindin says:

    Selalu aja ada sensasi tersendiri kalo baca kaina ini yahh kyk awal2nga td udah mikir bakalan knapa hubungannya kai dan hana eh, ternyata akhirnya baik2 aja dan tetap dengan adegan romantis mereka 😍😍 keep write di tgg kelanjutannya.. Hwaiting~

  12. hana ardhani says:

    WAAAAK gilak greget sama kai-minju.Dan pas hana dateng……jderrr😂

    Seneng pas tau teenyata mereka gaputus xD kirain bakalan berantem ampe putus ternyata enggak.

    Ciee ke LA bareng keluarga jongin hemm xD

  13. hasna nabilah says:

    aduuuuh kalo jadi Hana pasti nyesek bangetttt, ini bacanya aja udh nyesekkkk:’) pasti Hana bakal mikir yg nggak2 lah, apalagi liat kai cuma berdua aja sama minju-_- lagi-lagi Hana yg harus nangis sendirian:(( huaaa kasian Hana:( tapi diakhir jadi romantis kkkk~ apalagi jongin ngasih tiket pesawat buat liburan segala hahaha. Hana~ Hana udh mikir yg nggak2 yaaa dikira jongin bakal mutusin dia kkk

  14. byunbaek says:

    hanaaa kenapa makin hari kamu makin menggelikan hem?? jadinya si kkamjong ngegodain mulu wkwkwk… ciee yg mau ke LA ama ayanq kkaman ehem bareng sama ibu mertua dan kakanya tjiee… btw author atau pun staff/? atau apapun yg ngituin/? wp ini, libarynya bisa di update lagi ga? abisnya aku cuma baca sampe yg di library dan kira aku ya sampe situ dan ternyata masih ada lagi banyak malah… jadi aku mohon (anggep aja ini protes) update lagi ya librarynya jadi aku tau mana aja ff kaina yg blm aku baca.. sekian dan terimakasih ^^

  15. Nafff says:

    Uwaaaa hana diajak liburan bareng :3 Sama keluarga jongin pula
    Untung deh mereka gak break yeeyy. Itu tadi pas banget hana dateng, kai lagi ngajarin minju ck

  16. veni says:

    aah baru baca kak 😦 awal baca gue sedih banget, gue kira hana udah menyerah dan mulai bosan sama sikap jongin. terus ditambah cemburu gegara minju lagi, makin galau dah gue. eh ternyata hana takut kehilangan jongin, si jongin juga gtu lagi sok ngerjain hana. sweet banget dah mereka, itu mereka mau liburan ke LA yaakk. mauuuu

  17. Song hyun in says:

    Hihihi
    hana lucu sekali smpai berfkiran sperti itu..

    Untung saja kai bukan lelaki sperti itu hehe

    apa ? Diprotek lg ???
    Haaaa~ kk ayolah bls Line ku jgn buat aku penasaran stengah mati 😥 rasa-nya tdk enak –“

  18. Miqo_teleporters says:

    sempet dibuat benci di awal part karena kai nyebelin banget mau maunya aja ngajarin si minju tapi di buat melting di akhir sama jongin kyaaaaa jadi mereka bakalan ke la? liburan bareng? huwaaaa daebak!!!!

  19. flo says:

    Uwaaaaaaaah benerkan cma bosen sesaat giliran jongin ada yg dket2 gitu hana nangis mbanjirin bak wkwk
    Duh kaina unyuuuu bgt kak minta pw di twitt please yes bles : haha
    Micccu

  20. gina kim says:

    Ihhhhh emang dasar yaaa, kaina couple itu sweet bgt, lucu, gemesin lagi hehe
    Yeaaaa diajakin liburan nih yee, mau dong ikut 😂

  21. dyndrakm says:

    Aigooooo dasar minju genitwkwkwk kai nya jg gabisa apa apasih ya kl ngejar hana jg ntr si minju malah tau kl mereka pacaran hmmmm trs si hana selalu deh sok kuat wkwk blg ajasih ke kai lgsng dr awal wkwkw toh akhirnya bakal ngaku jg gamau putus segala macem wkwkwk lcu bgt asli si hana nangis2 gitu wkwkwkw happy lgdeh mereka asikkk!!!

  22. Khyunpawookie says:

    Omona !!!!!!!!!!
    Kdng jengkelin jg sikap kai tp klo two penjelsan sebnernya yh bae lg gk j3ngkel lg yhhh baca ne ff naek trun mood keren dehhh asli gk boring dn dtiap chapnya selly d tnggu2 hahahhhha aq suka mkin fav ajj kak

  23. Wulan says:

    Wahhhhh seneng y….ada adja ide y…lucu bgt hanna y..d kira y mw mnta putus padahal mw ngejelasin doank…
    Wahhh liburan brg nigh…

  24. syafirasl says:

    waks..lee hana unyu banget dia polos banget yahh
    Tumben ngomong begitu ama jongin biasanya gengsinya tinggi bget..
    penasaran gimana vacation mereka
    Keep writing

  25. rahsarah says:

    aigoo ternyata hana takut kehilangan jongin tohhh duhhh hana hana
    ciee mau liburannnn
    ikutan girang mereka mau liburan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s