.:JunHee Veiled:. Mess Up

heartbreak1

Mess Up || JunHee Universe, Romance, Angst, || PG15 || Oneshot

Kim Joonmyun / EXO Suho || Oh Jaehee / OC

© neez

 

 

”Hai~”

   Jaehee nyaris meloncat begitu melihat sosok laki-laki yang terbungkus mantel, beanie, kacamata super besar dan wajahnya sedikit tertutup akibat scarf yang digulung begitu ketat di leher hingga ke mulutnya. Ia mengenakan sepatu bot hitam, dan Jaehee masih bisa mengenali mata cokelat hangat yang menyapanya dari balik kacamata super besar itu.

   ”Apa yang kau lakukan disini?” desis Jaehee, sambil dengan panik menoleh ke kanan dan kiri, takut. ”Kalau ada yang lihat bagaimana?”

   Laki-laki di hadapannya hanya terkekeh. ”Aku tadi hanya dari supermarket membeli suplemen, dan kebetulan begitu lewat sini, kau turun dari mobil.”

   Bagaimana ceritanya dari supermarket bisa masuk ke kompleks apartemen orang? Tapi apa pun itu, Jaehee begitu senang dengan kehadirannya di hadapannya sekarang. Ya, sejak mereka bertukar id Line tempo hari, komunikasi via Line diantara mereka terjalin begitu baik. Jadi, Jaehee tidak peduli, bahwa Joonmyun mengarang cerita begitu panjang yang penting kini dia ada di hadapannya.

   ”Kau baru pulang kerja?” tanyanya.

   Jaehee mengangguk, ”Eoh,”

   ”Apa kau lelah?”

   Buru-buru Jaehee menjawab, ”Anhi, ya… biasa saja,” dia tidak mau terdengar begitu berharap. Meski dalam hatinya, dia merasa yakin bahwa Joonmyun akan mengajaknya pergi, atau mungkin mau mampir ke rumahnya, dia tidak mau terdengar bahwa ia begitu ’bersemangat’. Siapa yang tidak lelah sehabis bekerja? Tapi, kalau ada Joonmyun…

   ”Ah,” dia menggosok tengkuknya perlahan, dan kemudian melanjutkan kata-katanya, ”Apa kau keberatan kalau kuajak pergi?”

   ”Oh…” gumam Jaehee malah sekarang butuh waktu untuk memproses kata-kata Joonmyun barusan. ”Ah, oke…”

   ”Ah, keundae,” Joonmyun buru-buru mengoreksi kata-katanya. ”Tak apa-apa kalau kau lelah, lebih baik kau istirahat~”

   Wajah Jaehee tiba-tiba memerah. Hatinya berdegup begitu kencang, dan perutnya mulas saking bersemangatnya. ”Ah, ani… aku sedikit kelelahan memang, tapi… bukankah baik untuk tidak terlalu stress. Err, apa kau mau menunggu sebentar aku… ganti baju?”

   ”Keurom.”

   ”Err, lebih baik kau naik saja… daripada disini dan terlihat oleh fans,”

   ”Ah iya, kau benar~” dan Joonmyun buru-buru mengekori Jaehee masuk ke dalam gedung apartemennya.

    Jaehee dan Joonmyun tidak pernah memikirkan bagaimana rasanya berdiri satu lift bersama mantan pacar, yang masih sangat mereka cintai. Sedikit canggung, mereka berdua sama-sama diam tatkala menunggu lift tiba di lantai dimana Jaehee tinggal. Sesekali mereka saling lirik, kemudian melempar senyum. Jika saja akhirnya kisi-kisi lift tidak terbuka, mungkin wajah keduanya sudah seperti kepiting rebus sekarang.

   Keduanya kini memasuki apartemen Jaehee yang gelap, karena ditinggal dalam keadaan gelap tadi pagi. Jaehee memerintahkan lampu untuk menyala melalui suaranya, dan lampu-lampu di seluruh ruang tengah hingga ke dapur menyala, menuruti perintahnya.

   ”Tunggu sebentar ya,” Jaehee mengerling Joonmyun yang mengangguk sambil memberinya senyum. Dan Jaehee bergegas meninggalkan Joonmyun di ruang tengah, ke dalam kamarnya.

   Di ruang tamu, Joonmyun yang sudah lama sekali, rasanya tidak lagi menginjakkan kakinya di apartemen yang ditinggali (mantan) kekasihnya itu, sedikit terkesima dengan beberapa perubahan yang ada disana. Ya, pertama-tama, ada sebuah mesin jahit modern yang diletakkan di atas meja kaca yang dikelilingi oleh sofa empuk putih. Serta di belakang sofa tersebut berdiri beberapa manekin peraga dengan pakaian-pakaian yang indah melekan pada tubuh mereka.

   Joonmyun bisa mengenali satu diantaranya. Tempo hari, ketika ia datang kesini mengembalikan ponsel Jaehee, ia ingat Jaehee memberikannya sebuah jaket. Dan pikiran pertama yang timbul ketika melihat jaket tersebut adalah betapa jaket itu sangat pas pada tubuhnya, dan bahan serta jahitan jaket tersebut sangatlah rapi. Walau Joonmyun tidak begitu mengerti mengenai bahan atau apa, sebagai orang awam sama, dia tahu bahwa bahan yang ia kenakan pada waktu itu adalah bahan yang bagus. Kini, di hadapannya ada jaket serupa, namun kalau dilihat dari bentuk lekukan serta ukuran jaket tersebut, jaket ini pastilah ukuran untuk wanita.

   Beranjak ke meja dimana mesin jahit elektrik itu diletakkan, Joonmyun melihat beberapa kertas berserakan disana. Dan kertas-kertas tersebut, bukan kertas biasa, melainkan kertas pola-pola pakaian. Baru saja ia mengulurkan tangannya untuk meraih satu kertas tersebut, ia mendengar pintu kamar Jaehee terbuka, dan gadis itu muncul sudah mengenakan jaket, beanie, syal, serta kacamata.

   ”Jadi pergi?”

   ”Oh,” Joonmyun mengangguk sambil tersenyum.

   ”Apa kita akan berjalan kaki?” tanya Jaehee lagi sambil mengenakan sarung tangan hitamnya.

   Joonmyun melirik jam dinding, ”Bisa kalau berjalan kaki, tapi akan memakan banyak waktu, dan resiko. Apa kau keberatan kalau kita kesana dengan menggunakan mobilmu?”

   Jaehee terlihat ragu-ragu, cukup ragu-ragu hingga Joonmyun awalnya menyangka gadis itu berubah pikiran dan tidak mau pergi. Tapi kemudian jawaban Jaehee lah yang membuatnya kaget lagi.

   ”Bisa, tapi aku tidak bisa mengemudikannya… kau yang mengemudikan, tak apa-apa?”

   Tidak masalah, sebenarnya. Tetapi kenapa Jaehee tidak bisa mengemudikan mobilnya? Dari sekian banyak pengemudi yang pernah Joonmyun kenal, dan berjenis kelamin perempuan, harus ia akui, Jaehee menduduki peringkat pertama dalam kemampuannya mengemudikan mobil. Gadis itu suka ngebut!

   ”Sim-mu sedang habis masa berlakunya? Kau tidak habis minum kan?” tanya Joonmyun sedikit penasaran.

   Jaehee hanya menggeleng dan tersenyum atau meringis. Ia beralih ke meja kecil di samping kamarnya, dan menarik laci teratas, kemudian mengeluarkan sebuah kunci yang langsung diserahkannya pada Joonmyun. Memerhatikan emblem pada kunci tersebut, Joonmyun kembali mengernyit.

   ”Bukan R8?” alisnya terangkat, bibirnya mengulas senyum, ”Astaga, kau adalah perempuan pertama yang kulihat paling sering mengganti mobil.”

   Jaehee terkekeh dan memerintahkan lampu di ruang tengah mati, membiarkan lampu dapur dan ruang tamu tetap menyala. ”R8 terlalu mencolok, lagipula itu mobil Appa.”

   ”Apa pun mobilmu,” Joonmyun terkekeh dan mengikutinya keluar dari apartemen.

   Dan rupanya, mobil Jaehee kembali ke SUV setelah kemarin sempat menggunakan convertible. Hanya saja, kali ini SUV yang Jaehee gunakan keluaran Mercedez. Jaehee duduk di kursi samping pengemudi, sementara Joonmyun duduk di belakang kemudinya.

   Ya, mobil ini jauh lebih nyaman dan lebih luas dibandingkan R8, yang meski bergengsi, Joonmyun ingat, sedikit menyulitkannya untuk memeluk gadis di sebelahnya ini. Pipinya terasa panas jika mengingat kejadian itu, rasanya sudah lama sekali mereka tidak berpelukan. Yah, jangankan berpelukan, bersalaman seperti layaknya kerabat lama saja tidak mereka lakukan meski hubungan mereka sudah membaik.

   Mereka memang tidak dalam kategori musuh lagi, tetapi mereka jelas jauh lebih canggung dibandingkan saat mereka berkencan dulu. Mungkin bisa dikatakan jauh lebih canggung dibandingkan saat mereka baru berkenalan. Joonmyun masih ingat sekali, betapa dinginnya gadis di sampingnya ini saat ia baru pertama kali mengenalnya.

   ”Kita mau kemana?” tanya Jaehee tiba-tiba.

   ”Hmm, apakah kau mau nonton?” tanya Joonmyun sedikit ragu-ragu. Sejujurnya ia sendiri bingung mau kemana dengan Jaehee, karena memang sejak awal niatnya ingin pergi menghabiskan waktu berdua, sebelum Joonmyun ditelan kesibukan berikutnya lagi.

   Ya, Joonmyun tidak pernah lupa janjinya. Janji pada dirinya sendiri, dan janji yang pernah ia ucapkan di depan Lee Jiho. Bahwa disaat ia ada waktu, ia akan menggunakan waktu tersebut untuk dihabiskan bersama kekasihnya—mantan dalam hal ini.

   ”Nonton? Nonton apa?” tanya Jaehee lagi, meliriknya penasaran.

   ”Avengers… kau sudah nonton Avengers?” Joonmyun balik bertanya, dan ia melihat Jaehee menggeleng bersemangat. ”Call! Kalau begitu kita nonton Avengers dulu.”

   Dan ia bisa melihat Jaehee sedikit tersenyum sebelum bertanya, ”Memang setelah nonton Avengers kita mau kemana?”

   ”Kemana saja,” kekeh Joonmyun.

   Rupanya, Joonmyun membawanya ke bioskop tempat pertamakali mereka berkencan menonton film bersama. Dan karena mereka memang hanya pernah satu kali berkencan di bioskop, maka ingatan tersebut rasanya masih sangat segar sekali. Bedanya, dulu Jaehee sudah menonton terlebih dahulu, kemudian Joonmyun menyusulnya, dan tentunya status mereka masih berkencan pada saat itu. Ironisnya, kali ini, disaat mereka menonton bersama-sama, status mereka justru sudah bukan sepasang kekasih.

   Jaehee membeli tiket, sementara Joonmyun membelikan makanan. Mereka berdua tidak begitu terlihat mencolok, karena penyamaran yang cukup sempurna, di dukung dengan betapa dinginnya cuaca pada saat itu. Keduanya kemudian masuk ke dalam teater yang sudah cukup gelap, dan duduk di love seat, yang kebetulan (yang disengaja) sama seperti saat mereka pertama kali nonton berdua, tempo hari. Jaehee tidak tahu, apakah Joonmyun menyadarinya atau tidak, tetapi laki-laki biasanya memang kurang peka terhadap hal-hal semacam ini.

   Karena Avengers adalah film laga yang sedikit mengandung unsur romance comedy, mau tak mau mereka sering tertawa, apalagi melihat interaksi love hate relationship antara Tony Stark dan Steve Rogers, yang menurut Joonmyun menyaingi Kyungsoo dan Baekhyun.

   ”Ah, kukira Natasha akan bersama Captain America,” gumam Jaehee meraih gelas ice lemon tea-nya, saat menyaksikan Scarlett Johansson dan Mark Ruffalo sibuk saling merayu satu sama lain. ”Padahal di film Captain America, sepertinya mereka cocok jadi pasangan kekasih, benar kan?”

   ”Hmm,” Joonmyun terkekeh. ”Keundae, menurutku bagus kalau Hulk yang begitu hilang kontrol diri, bergantung pada gadis yang ia cintai.” Komentarnya sambil bersandar, ”Kau lihat, kalau bukan karena Natasha, mungkin Hulk tidak akan kembali jadi Benner.”

   ”Ah, kau benar~” Jaehee mengangguk setuju. ”Dari segi itu, aku akui memang romantis. Tapi~ aaaaahhhh, menurutmu Captain America tidakkah sedih, dia sendiri yang tidak punya pasangan?”

   ”Ada, bukan? Agen Carter itu?” mengernyit, Joonmyun berusaha mengingat-ingat sekilas film Captain America, baik yang pertama juga yang kedua.

   ”Ada, memang. Tapi kan dia di masa lalu, sudah meninggal di masa sekarang… sayang sekali, tampan begitu tidak ada pasangannya.”

   Joonmyun berdecak, melirik Jaehee, ”Jadi, kau kasihan dia tidak punya pasangan karena dia tampan? Ckckckckck…”

   ”Sayang sekali pria tampan seperti itu tidak memiliki kekasih di film. Kau tahu kalau meskipun aku membenci MJ, tapi setidaknya Peter punya pacar walaupun sudah ditinggal mati oleh Gwen, geuchi?” dan Joonmyun hanya mengangguk sambil menguap bosan. Meski sudah putus sekali pun, saingan terberat Kim Joonmyun adalah Peter Parker.

   ”Mungkin Captain hanya begitu mencintai si Agen Carter itu, karena dia tidak bisa move on, sekalipun pada Natasha Romanoff, Jaehee-ya. Rogers itu pria penuh prinsip.”

   Dan Jaehee terkekeh mendengarnya. Pria penuh prinsip? Sok kenal sekali Kim Joonmyun ini dengan Captain America.

   ”Ah… bahkan Stark punya pacar, meski dia tidak tampan. Kasihan Rogers…”

   ”Ya! Kau suka Captain America sekarang?” tanya Joonmyun dengan nada yang sarat dengan tingkat kesewotan super tinggi. Jelas saja, belum bisa ia menghapuskan bayangan Peter Parker, sudah muncul lagi saingan baru dari dunia Marvel, Captain America, melihat betapa seringnya gadis di sampingnya memuji pahwalan berbaju biru itu.

   ”Aku suka Chris Evans,” kikik Jaehee tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. ”Sejak dia sebagai Johnny Storm pun aku sudah suka padanya, lihat… omona, otot-otot itu.”

   ”Aku tak kalah dengannya… apa kau sudah lihat foto di Instagram Sehun?” mendadak Joonmyun bersemangat, Jaehee menelan ludahnya kuat-kuat, apalagi dari ekor matanya saja ia bisa melihat bagaimana mata lelaki di sampingnya ini sudah berbinar-binar. Oh Joonmyun jelas masih ingat betul, bagaimana efek dirinya pada seorang Oh Jaehee.

   Jaehee hanya diam, masih menyeruput ice lemon tea-nya.

   ”Ya, Oh Jaehee, jawab pertanyaanku. Kau sudah lihat atau belum fotoku di Instagram Sehun?” alis Joonmyun naik.

   ”Sudaaaah,” seloroh Jaehee dengan nada yang terlihat tidak begitu tertarik.

   Tapi Joonmyun terlalu lihai untuk tidak menangkap semburat merah muda, yang bahkan tetap terlihat dalam cahaya temaram bioskop pada saat ini. ”Lalu? Bagaimana pendapatmu? Sudah mirip Chris Evans bukan?”

   Dan Jaehee nyaris menyemburkan ice lemon tea-nya karena kaget.

   ”Wae? Wae? Mirip Chris Evans, kan?”

   ”Anhi.” Geleng Jaehee, tidak mau mengaku.

   ”Tapi jelas lebih keren dari Andrew Garfield, kan?”

   Jaehee memutar kedua bola matanya, ”Joonmyun, jebal~ kau tidak mungkin berharap aku memandingakan… tubuhmu dan mereka, bukan?”

   ”Karena tubuhku masih lebih bagus dari mereka,” ujar Joonmyun penuh kemenangan.

   ”Astaga, bagaimana mungkin kau bisa begitu percaya diri?!” Jaehee nyaris mengangkat kedua tangannya ke udara, saking putus asanya menghadapi Joonmyun dalam perdebatan ini. Ia tidak ingat kapan terakhir kali berdebat dengan Joonmyun, tapi dia benar-benar tidak pernah ingat Joonmyun bisa bersikap sesuper pede ini.

   Dan Joonmyun tertawa. Menutup mulutnya dengan punggung tangannya untuk menahan tawanya yang keluar, agar tidak mengganggu penonton lain tentunya. Dan bagaimana caranya bagi Jaehee untuk tidak terpesona, saat melihat urat-urat di sekitar mata Joonmyun tertarik, membentuk lengkungan bak bulan sabit yang sangat indah.

   Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dari menatap wajah tampan Joonmyun, Jaehee pura-pura menggerutu dan menyeruput minumannya sambil kembali memperhatikan Chris Evans!

   Jaehee kira, dengan mengabaikan Joonmyun, atau berpura-pura mengabaikannya, Joonmyun akan berhenti menertawakannya dengan nada seolah-olah dia menguasai diri Jaehee (meski kebenarannya demikian), tapi ternyata tidak. Jaehee bisa merasakan lirikan maut Joonmyun padanya, namun Joonmyun hanya menyikapinya dengan mencubit pipinya ringan, lalu kembali bersandar di love seat, dan menyaksikan film.

   ”Sekarang kita kemana?” tanya Jaehee ragu-ragu, saat mereka sudah menyelesaikan The Avengers : Age of Ultron, sekitar sepuluh menit yang lalu, diiringi sorak penuh semangat Jaehee yang berbahagia bahwa pasti masih ada sekuel dari film ini, dan tentu saja disertai dengan bumbu-bumbu spoiler bahwa Spiderman terbaru akan masuk dalam jajaran cast film The Avengers.

   ”Hmm, aku mau membawamu ke suatu tempat. Belum mengantuk, kan?”

   Jaehee menggeleng.

   ”Kalau begitu, kita pergi~”

   Rupanya suatu tempat yang Joonmyun maksud, tidak jauh-jauh dari sungai Han. Di sebuah sudut sungai, yang sudah sangat lengang, dan hanya dilewati oleh beberapa orang yang menyukai jogging night atau bersepeda di malam hari.

   Tapi, tempat itu juga tempat dimana, Jaehee menghanyutkan hadiah anniversary EXO milik Joonmyun.

   ”Ayo turun,” ajak Joonmyun setelah mematikan mesin mobil, dan melihat keragu-raguan yang ada dalam wajah Jaehee ketika ia melihat dimana mereka berhenti sekarang.

   ”Oh,” Jaehee mengangguk, dan melepaskan sabuknya. ”Kau yakin akan aman kita duduk-duduk disini, Joonmyun-ah?”

   ”Aman,” sahut Joonmyun ringan, lebih dahulu keluar dari dalam mobil, sebelumnya ia mengenakan beanie dan kacamata putih berbingkai besarnya, juga melilitkan scarf di sekeliling leher hingga sedikit menutupi mulutnya. Jaehee mengikutinya.

   ”Kita duduk di pinggir sungai saja,” Joonmyun menunjuk tepi sungai, sekitar enam meter di hadapan mereka. ”Aku akan pergi sebentar membeli kudapan, kau tak apa-apa kan kalau aku tinggal sebentar?”

   Jaehee mengangguk.

   ”Kau mau sesuatu? Minum?”

   ”Apa saja,” Jaehee berjalan menuju tempat yang Joonmyun tunjuk tadi, untuk mereka berdua duduk-duduk. Sekitar dua puluh menit kemudian, Joonmyun datang dengan satu bungkusan besar, yang Jaehee rasa isinya pasti minuman dan cemilan, dan satu tangan lagi membawa makanan jadi, yang sepertinya dibeli di kios-kios kecil.

   ”Woah, kau beli apa saja? Tidak takut badanmu yang kau bangga-banggakan tadi menghilang?” ledek Jaehee sambil meraih bungkusan di tangan Joonmyun, dan melihat ke dalamnya.

   Bir?

   ”Bir? Tumben…”

   ”Aku sedang ingin saja,” kekeh Joonmyun sambil ikut bersila di samping Jaehee. ”Ah aku lupa bawa karpet kecil, kau tak apa-apa duduk begitu saja di aspal, kan?”

   Jaehee mengibas-ngibaskan tangannya.

   ”Oke, jadi kau mau makan apa?” belum selesai Joonmyun bertanya, Jaehee sudah melahap potongan corndog besar-besar, dan menerima akibatnya, karena Jaehee terlihat seperti ikan yang diangkat dari dalam air. Karena kepanasan.

   ”Aigoooo, gadis ini… kau tidak feminim sekali,” Joonmyun buru-buru menarik keluar botol air mineral dan membukakannya, ”Minum ini. Lidahmu akan melepuh itu~”

   Jaehee meringis setelah berhasil menelan semua makanan dalam mulutnya, serta mendinginkan lidahnya yang melepuh karena panasnya corndog. ”Aku lapar saat melihat corndog itu~” keluhnya.

   ”Tapi itu panas!” ujar Joonmyun gemas.

   Jaehee cemberut.

   ”Sudah, minum yang dingin-dingin, ini…”

   Jaehee meneguk bir dari kaleng berwarna metalik itu dalam-dalam dan menghela napas lega. Setidaknya lidahnya tidak sepedas tadi rasanya, ”Johta…” ie menoleh dan memperhatikan Joonmyun yang membuka kaleng birnya sendiri dan ikut menenggaknya.

   ”Jadi, dalam rangka apa kau mengajakku kesini?”

   Joonmyun pelan-pelan menurunkan kaleng birnya, dan menatap kosong ke depannya. ”Sebenarnya, tempat ini mengingatkanku akan sesuatu,” gumamnya. ”Sesuatu yang buruk.”

   Hati Jaehee mencelos. Tempat ini juga mengingatkan hal yang buruk baginya.

   ”Kalau tempat ini mengingatkan hal yang buruk bagimu, kenapa kau kesini?” tanya Jaehee penasaran.

   Joonmyun tersenyum, masih menatap kosong ke sebrang sana. ”Karena meski buruk, ada sedikit kenangan indahnya.”

   ”Ah,” Jaehee mengangguk. Apa mungkin Joonmyun membicarakan mengenai gadis lain? Yang bukan dirinya? Ya jujur saja, mungkin hubungan mereka berdua setelah putus, setelah bertengkar, dan setelah berbaikan kemarin bisa disebut sebagai teman. Teman yang sedikit canggung.

   Dan mungkinkah, sebagai teman, Joonmyun sudah merasa sangat nyaman dan hendak menceritakan kisah-kisah lain dalam hidupnya padanya? Astaga, Jaehee bahkan belum yakin bahwa ia siap menganggap Joonmyun sebagai temannya begitu saja. Jaehee kemudian menenggak birnya banyak-banyak, sedikit frustasi dengan garis yang sepertinya sudah ditarik oleh Joonmyun, menandai hubungan pertemanan mereka.

   Keduanya larut dalam diam, tanpa mereka sadari mungkin mereka sudah menghabiskan kurang lebih dua hingga tiga kaleng bir. Bir memang tidak pernah membuat mereka benar-benar mabuk, karena kadar alkohol dalam bir tergolong cukup rendah. Tetapi, jelas mampu membuat Joonmyun mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya.

   ”Jaehee-ya, kau tahu kenapa tempat ini menyedihkan untukku?” sedikit cegukan, Joonmyun menoleh pada Jaehee.

   Jaehee menggeleng. Tidak mau tahu.

   ”Karena… gadis yang kucintai, melepaskanku disini.” Suara Joonmyun terdengar sedih, terdengar putus asa sekali. ”Saat kukira, aku cukup berharga untuk ia perjuangkan… tapi kenyataannya dia kemudian melepaskanku, melepaskan tanganku disini.”

   Jaehee memiringkan kepalanya, sudah sedikit fly dengan efek bir. Kepalanya mulai berputar, tapi tidak membuatnya pusing. Hanya membuatnya bingung, dan sulit mencerna kata-kata Joonmyun barusan.

   ”Kenapa… dia melepasmu?” tanya Jaehee perlahan-lahan.

   ”Menurutmu kenapa?” Joonmyun balas bertanya, mata mereka beradu. Ya, kali ini keduanya saling menatap. ”Kenapa, gadis yang berjuang mempertahankanku, akhirnya melepaskanku juga?”

   Jaehee mengangkat bahunya, dan tanpa berpikir ia menjawab, ”Karena… kau sudah bersama yang lain?”

   Dan Joonmyun terdiam, ia memeluk lututnya dan meletakkan kepalanya disana, miring agar bisa melihat Jaehee yang balas menatapnya, meski pandangan gadis itu tidak fokus.

   ”Lalu… apakah itu salah?”

   ”Apanya yang salah?” tanya Jaehee pelan.

   ”Kalau dia mempertahankanku disaat aku sudah bersama yang lain?”

   Jaehee menghela napas dalam-dalam, mengikuti gestur Joonmyun, menarik kedua kakinya dalam pelukannya dan meletakkan kepalanya disana, untuk dihadapkan pada wajah Joonmyun yang terlihat putus asa.

   ”Sebenarnya… salah.”

   ”Kenapa salah?”

   ”Karena dia sudah bersama yang lain?” tanya Jaehee sedikit tidak yakin, ”Kau tahu, Joonmyun, tempat ini juga mengingatkanku pada suatu kejadian buruk yang mau aku lupakan.”

   ”Hmm.” Joonmyun mengangguk-angguk. ”Apa yang terjadi padamu?”

   ”Aku memutuskan untuk tidak lagi berharap pada laki-laki yang aku cintai.”

   ”Kenapa?”

   ”Karena dia sudah bersama gadis lain.”

   Joonmyun terkekeh dan menggelengkan kepalanya, ”Aku tidak mengerti. Kalau kalian mencintai laki-laki itu, meski dia sudah bersama yang lain, kenapa kalian malah pergi?”

   ”Hmm, bukankah itu tanda bahwa ia sudah tidak menginginkanku lagi?” tanya Jaehee lebih kepada dirinya sendiri. ”Setiap orang… mau merasa spesial bukan? Kalau sudah ada wanita lain, aku tidak mau… karena aku juga tidak mau pacarku diambil oleh orang lain, benar kan?”

   Joonmyun menghela napas berat dan mengangguk. ”Kita pulang saja…”

   ”Tapi kau mabuk.”

   ”Aku bisa membawa mobil,”

   Jaehee menggeleng, ”Jangan, kau sedang mabuk~ nanti kalau terjadi kecelakaan bagaimana?”

   ”Ahahahaha, bukankah romantis mati bersamamu?”

   ”Aku tidak mau! Aku belum mau mati!” geleng Jaehee, ”Aku juga belum mau kau mati~”

   ”Aku tidak akan mati~”

   ”Kalau begitu kita istirahat saja dulu di mobil, baru pulang.”

   ”Kenapa tidak kau yang menyetir?” tanya Joonmyun sedikit heran, dan membuka sebelah matanya untuk melihat Jaehee, ”Kau kan pandai menyetir, kau itu versi wanita Michael Schummacher.”

   ”Mwoya~”

   ”Kau jago?” sebuah jempol muncul tepat di hadapan Jaehee yang tertawa melijhat tingkah Joonmyun.

   ”Aku tidak boleh, anhi, belum boleh menyetir, Joonmyun~” lirih Jaehee.

   ”Tapi kenapa? Kenapa kau belum boleh menyetir? Apa kau terluka di suatu tempat?”

   Jaehee menggeleng.

   ”Lalu kenapaaaaa?”

   Bahkan disaat pikirannya sedang fly Jaehee tetap tidak sanggup mengatakan bahwa penyebab dirinya masih belum diizinkan mengemudikan mobil, karena depresinya yang kerap muncul. Jadi, jika ada tekanan di jalan, karena pengemudi biasanya mendapat tekanan yang mendadak, dari kemacetan, atau tiba-tiba pengemudi lain yang mengambil jalan, hal tersebut bisa dengan mudah mengusik depresi yang berusaha ditidurkan dalam diri si penderita. Itulah mengapa, Jaehee masih belum diizinkan mengemudi.

   ”Apa kita naik taksi saja?”

   ”Jangan, jangan… biarkan aku istirahat sebentar, saat pengaruh alkoholnya hilang aku bisa membawa kita pulang.”

   Jaehee mengangguk. Ia meraih botol air mineral yang terletak diantara mereka berdua, disaat yang sama tangan Joonmyun juga meraih botol air mineral itu. Entah karena faktor alkohol, atau faktor sentuhan tangan mereka, pertahanan yang dibangun Joonmyun sejak ia pertama kali menyerah pada egonya untuk terus berteriak dan memusuhi Jaehee runtuh.

   Ia menggenggam tangan Jaehee kuat-kuat, menghela napas seperti terdengar lelah, setelah cukup lama berlari, dan matanya terbuka menatap Jaehee lekat-lekat. Jaehee pun lupa bahwa ia hendak minum untuk semakin menurunkan efek alkohol yang ada dalam dirinya, saat ditatap begitu dalam oleh Joonmyun, dengan matanya yang sayu.

   ”Kau tahu… sampai saat ini…” kata Joonmyun pelan, ”Kau yang paling indah di mataku,”

   Mabuk! Joonmyun pasti mabuk, Joonmyun pasti mabuk! Tahan, dia tidak boleh terlena, Joonmyun pasti sedang mabuk! Batin Jaehee berulang kali. Ia semakin terhanyut akan tatapan Joonmyun yang sayu, yang seolah semakin mendekat dan menyedotnya ke dalam lubang hitam kegelapan. Karena kemudian, Joonmyun sudah mendaratkan bibir tipisnya diatas permukaan bibir Jaehee yang sejak tadi telah membuatnya gila.

   Ya, Joonmyun gila, karena dalam setiap malamnya, ia memimpikan mengecup bibir itu. Setiap ia terbangun, ia membayangkan bahwa Jaehee masih miliknya. Dan dalam setiap inci sel dalam dirinya, ia harus menyerah dan mengakui bahwa ia masih mencintainya. Meski ia tidak tahu apakah Jaehee masih memiliki perasaan yang sama dengannya. Meski ia masih berpikir bahwa Jaehee mungkin sudah pergi bersama Minkyu, atau mungkin masih bersama Jiho, ia berharap ada setidaknya sedikit perasaan Jaehee padanya yang masih tertinggal, dan tidak berubah.

 

*           *           *

Gadis itu berdiri di lantai apartemen yang ia tuju. Ia menggenggam secarik kertas, dan melihat-lihat plakat kuningan yang menempel pada setiap pintu cokelat yang ia lewati. Menatap lekat-lekat alamat yang ada pada kertas tersebut, kini ia yakin saat berdiri di depan pintu tersebut.

   Menarik napas dalam-dalam, gadis itu mengulurkan tangannya untuk memijit bel yang sudah di sediakan di setiap pintu apartemen mewah yang ia datangi ini. Setelah bersusah payah mencari alasan, agar bisa masuk ke dalam gedung apartemen dengan tingkat keamanan yang cukup tinggi ini, akhirnya ia tiba juga di tempat yang ia tuju.

   TING. TONG.

   Butuh waktu beberapa menit, sebelum ia kembali menekan bel tersebut. Firasatnya sebagai seorang wanita tidak mungkin salah, kok. Ia yakin juga, bahwa apartemen ini ada penghuninya.

   TING. TONG.

   ”Nuguseyo~”

   ”Permisi~ saya mau bertemu dengan, Oh Jaehee-nim.” Bisik gadis itu pelan.

   ”Ne, jjamkamanyo…”

   Pintu cokelat itu terbuka perlahan-lahan, menampilkan sosok wanita yang tengah ia cari. Gadis berambut panjang, yang biasanya ia lihat selalu tertata rapi dengan gelombang besar yang indah, wajah manis yang biasanya terpulas make up, dan tubuh yang dibalut dengan… pakaian seadanya, yang memamerkan lekukan sempurna seorang wanita dewasa.

   Oh Jaehee muncul hanya mengenakan kaus basket, yang memamerkan kulit cokelat, bra hitam dan tidak mengenakan bawahan apa pun. Gadis di hadapannya ini juga terlihat seperti baru terbangun, karena matanya masih sedikit terpejam, dan ia mengernyit untuk melihat siapa yang datang.

   ”Hmm? Maaf, Anda siapa ya?” tanya Jaehee mencoba sopan.

   ”Jaehee-ya, apa itu Manajer?”

   Gadis di hadapan Jaehee ini kontan memekik kaget mendengar suara laki-laki yang ia kenal dari dalam apartemen tersebut. ”Astaga! Mereka pasti sudah mencariku~”

   Dan sepertinya suara dari dalam benar-benar menyadarkan Jaehee untuk kembali ke dunia nyata, ia memandang horror gadis yang berdiri di hadapannya ini. Yang memandangnya sayu, dengan mata yang berkaca-kaca.

   ”Aku… aku bisa jelaskan…” kata Jaehee buru-buru. ”Ini, tidak seperti yang kau lihat, Nona…”

   ”Siapa?” Joonmyun muncul di belakang Jaehee. Tidak mengenakan atasan apa pun, ia hanya mengenakan celana training panjang hitam. Dan rambutnya juga berantakan.

   Keduanya pasti baru… bangun…

   ”Joohyun?!” seru Joonmyun kaget.

   ”Maaf mengganggu pagi kalian,” Joohyun membungkuk, dan segera pergi meninggalkan mereka berdua begitu saja.

   Tangis Jaehee pecah. Seperti deja vu, seperti saat dimana ia menangkap basah Pirtah dan Sarah, di dalam apartemen Sarah. Dimana ia merasa dikhianati, dimana ia merasa telah disakiti dengan begitu kejam oleh dua orang yang begitu ia sayangi.

   ”Jaehee-ya~”

   ”Kejar dia!” seru Jaehee. ”Kejar dia Joonmyun! Kejar dia!!!”

”Tapi…”

   ”KEJAR DIA!!!”

  Napas Joonmyun tercekat, dia masuk ke dalam kamar Jaehee dengan gerakan kasar dan mengenakan pakaiannya, melepaskan training-nya, lalu memakai celana panjangnya kembali.

   ”Kau mau aku kejar dia?!” tunjuk Joonmyun ke arah luar.

   Jaehee mengangguk, menunduk.

   ”Fine! Aku akan kejar dia. Dan jangan menyesal, karena kau yang membuatku mengejarnya!”

   Dan Joonmyun pergi begitu saja, diiringi isakkan tangis Jaehee yang semakin lama semakin kencang.

-Keutt-

Pasti pada protes lagi kenapa dibikin Angst lagi ya kan? Hahaha… ketahuilah bahwa dalam hidup #eyaaa tidak pernah melulu tentang kesenangan. Kesusahan itulah yang membuat bahagia jadi berharga #hasek dan ketahuilah kalau roda itu selalu berputar. Ada kalanya di atas, dan ada kalanya di bawah (ini apa) ya pokokknya intinya, gak ada cerita yang selalu seneng, dan gak ada cerita yang selalu sedih.

Pelangi sehabis hujan~ nantikan itu yaaa girls. Ditunggu komennya ^^ selamat malam minggu

neez

Advertisements

36 thoughts on “.:JunHee Veiled:. Mess Up

  1. kimkaaaaaacrush says:

    Udah curiga aja pas liat judulnya dan apa lagi itu genrenya angst ….. duuuuuh junhee gini bgt sih,,,,,, padahal udah seneng loh liat mereka berdamai dan saling jujur …….. kapan papa tau masalah jaehee, depresinya jaehee dan masa lalu jaehee … eooh ~~~~~ aduuuuh pacar baru papa kenapa muncul gitu sih … papa jg udah punya pacar baru masih aja php-in jaehee …. gimana mau move on …

    kak nisya……. kenapa jd makin sebel liat papa yang versi kayak gini sih ….

    ditunggu pelangi di dunia junhee ….

  2. dyorawr12 says:

    After a very long weeks ya kak berasa nemu oase pas buka indaylee ada veiled…. kenapa kak kenapaaaaa angssssstttt~~~~ udah segitu baiknya nggak musuhan lagi uda temenan uda popo popo lagi tapi ada aja yg ngalangin… sakitnya jaehee sampe kesini kaaaaak *elus dada* nggak mau ambil spekulasi abis ngapain junhee setelah mabo’an semalem… biar dibikin penasaran aja sampe negara api menyerang lagi… please kak break up junhee kenapa lama bangeeet huhuhuhu kangen cuddle cuddle lucu nyaa…. joohyun tau darimana coba alamat jaehee, joohyun dapet ide darimana ngedatengin jaehee nya harus hari itu hadu hidup emang nggak bisa diajak lurus sekaligus, keenakan nantinya… jaehee let’s fighting more and more and more!!! Junmyun juga!!! Fighting kak neez!!!

  3. Lisa says:

    OHMYGOD!!! kak hastagah aku uda girang banget ngeliat mereka baikkqn kaya gini, ngeliat mereka mulai mulai dari awal lagi yapi ternyataa… ahhh jangan bilang ini bakal lebih parah dari kemarin lagi sedihnyaa:” ahh ngga kuaatt!! Masa aku kira mereka bakal nyatu lagi malah bakal kepisah lagi:” duhh jangan dong kak yahhh aku baper banget nih sama pasangan ini… kak please buat mereka cepet baikkan, buat junmyeon ngerti knaoa jaehee begitu yaampunn:”” aku tunggu selanjutnya kaaakkk

  4. winnurma says:

    yehet junhee tp pas liat genrenya angst hadehhh
    tadinya udah seneng ngeliat bagian awalnya kaya mereka baru kenal aja heheh eh tp ternyata hadiahnya.ada dibagian akhir
    knp joohyun datang? dan junhee tidur brg kah? wkwkwk tuh kan balikan aja deh gregetan sama jonmyun masa hati cewe digituin si bang hufet
    kutunggu pelanginya eon smg cerah secerah cerahnya

  5. heeryaa says:

    Duh ka……..
    Jaehee pasti keinget sama dia dulu dan depresinya makin parah gara gara dia yg ngerasa jahat kayak temennya…. btw malemnya ngapain tuh hahahahaa joonmyeon nakal banget-_-

    Pelanginya kapan ka uda suram banget nih butuh pencerahan~~~~~

    Ummm… once in a lifetime nya yg dia nikah…. gak akan di lanjut dalam waktu dekat ya?

  6. adindacynthia says:

    Kak nisya ini ya bener-bener.. -_-
    Udah seneng mereka deket lagi, tiba-tiba endingnya gini lagi.. -_-
    Kak nisya mau dikasih apa sih kak, biar kakak bikin mereka balikan?

  7. FAWN says:

    Kak Neez sebenarnya mereka ngapain? Cuman tidur kan? Kenapa bangun dengan kondisi ‘begitu’?

    Hadeuh Jaehee masih aja gak mau ngaku. Gemes liat pasangan ini udah deket tapi masih gengsi-an.
    Junmen lari buat ngejar tu cewe terus bilang putus aja (please).

    Gak tau ya, yg paling nge-feel itu waktu junmen ketawa. Udah kebayang gimana dia didalam bioskop. Aahh yang penting keren lah!!

  8. Kauramints says:

    Duh, dari title aja udah mess up
    Ternyata emang sedih-sedih nyelekit gini
    Please bgt, kenapa sih JunHee gak sadar-sadar kalo emang masih pada butuh satu sama lain
    Bikin gemesh aja
    Egois dikit kenapa `3`)

    Joonmyeon ngejar Irene tapi jujur-jujuran aja ya kalo mash suka Jaehee, trs putus
    Abis itu balikan Joonmyeonnya sama Jaehee lol
    Ditunggu next storynya
    Keep writing 🙂

  9. Dana says:

    Godddd masih aja srdih sedihan huhu
    Padahal awalnya udah sweet kenapa ujung2nya sedih lagi 😦
    Sebenernya paling kasian irene ya…dia gatau apa2 tp malah jadi pelampiasan udah gitu dikhianatin pula hueeee sabar yaa irene udah sama park bogum aja lucu kok wkwk
    Cepetan balikannnnnnn plisssss!!!!!

  10. lunara says:

    JENG JENG!!! Kenapa jadi begini sih? Makin kasian sama jaehee T~T

    kak~ kapan joonmyun tau kalo jaehee itu lagi masa depresi? Buruan dums~jadi makin greget nih(?) Hahaha

    • baekmyeons says:

      Maaf kak kepotong komennya..
      udah seneng banget pdhl junhee udh bisa jalan berdua, ehh trnyata endingny begini..
      Susah banget deh nyadarin ini kopel yg sebenernya masih mencintai satu sma lain. tapi si papa sih nyebelin sih udh punya pacar masih aja deketin jaehee yg sbnernya emg masih cintaa😐
      Duh gak kebayang perasaanya irene yg ‘mergokin’ junhee begitu. Sabar ya joohyunnn 😣
      ditunggu terus deh kak pelangi nya junhee..
      Hwaitinggg🙌😚

  11. Kkamjong_FC says:

    lagiiiii…
    kasian jàeheee…
    jelas2 mreka itu msih sling cnta jdi balikan lgi aja…hhe
    makin seru…aq mau jaehee nya skit dlu biar joonmyung khawatir dan nyesel…kke

  12. dhitalulu says:

    Bukannya aq jahat,,tapi q pengen suho putus sma irene dan balikan sama jaehee,, seharusnya irene nyadar dong,, ihhh ,,,aq kesel banget sama dia :v ..

    Semoga part depan junhee balikan *amiinnn * 😀

  13. rinhorinhae says:

    lucuuuuuuu awal2nyaa.. pke acra lirik2an hhhhaaa. pasti canggung bgt hihihi..
    dan di akhir ohhhh jaeheee keep strong… jun kudu tegesss ayoo klo gg suka sma irene lbih baik putuskannn. ugh itu mnambah kn org yg tersakitiii

  14. exolines88 says:

    Paraaah gilaaaaaa ending nya pecah bangeeet. Dapet angst nya!! Dan bisa kebayang karakter junmyun yang pe de abis -_-

  15. LEEDAESHI says:

    Kaknisss…aku kan baca genrenya, angst. Bingung, kok ceritanya manis2 gini malah angst sih.
    Tp mulai2 bagian akhir, kecurigaanku menguat dan arghhhhhh, mau nangis darah.
    Manis bgt diawal, seriusan. Aku udh ngarep mreka tinggal selangkah lagi utk balikan.
    Tp eh tp ujung2nya malah gini lagi.
    Mgkn blm saatnya mreka kembali bersatu.
    Yakali kan waktu balikan lgsg nikah ga pacaran lagi makanya lama gt prosesnya. Yakan kak iya kan ya kan iyain dong kak TT yeyeyeyelalalala

  16. Victoria says:

    apadeh joonmyun yang pertama marah ke jaehee tautau baik sendiri ke jaehee dan abis itu marah lagi. Labilnya duh😑
    Ketahuan joohyun yaaaa bandel wakakak padahal ga ngapa ngapain ya joohyun udah main kabur aja
    tapi bagus sih mereka udah ga perang dingin dan nyiksa diri kayak sebelumnya, walaupun sebenarnya gabaik karena joonmyun pun udah punya joohyun gitu. But whatsoever, ini kan judulnya JunHee bukan JunHyun😏😏😏
    Ditunggu kisah selanjutnya~

  17. H2 Hana says:

    Idiwwww banyak kelabilan disini saudara”
    Awas aja si holang kaya ngelepas jaehee lagi.
    Habis nanti kau nisya un sama aku /eeeeeh?/

  18. nayatiara says:

    is it make me a bad person that i actually relieve when joohyun see Junmyeon and Jaehee ? i mean, we already know that junmyeon heart is yearning for Jaehee 😦
    if theirs relationship keep going, they’ll only gonna hurt each other in the end 😦
    thank you for the hard work, waiting for the net one!!!

  19. kjmlady says:

    emang dasar tukang modus mah ada aja modusan nya ya. pake alesan lewat dr supermarket nyasarnya ke apartemen org-_-
    aaak tapi ini tuh berdua kek org baru pacaran kkk~ jd gemezz gereget sendiri ><

    itu jaket, kayanya jaket couple yaa hihi

    puahahaha itu baru segitu aja badannya udh minta di banding2in. pede bgt sih junmyeon lol

    kakkkk ya ampun kak kan atas nya udh manis manis. akhirnya kenapa sepet lagi sih. itu juga tau dr manaaa juhyeon apartemennya jaehee-_- duuh bener kata junmyeon udh mati bareng2 aja biar romantis TT

  20. vivinnnire says:

    jonmyun sma jarhre hbis ngapain ekwk
    n joohyun knp bsa muncul dan knp joonmyun blang jngan nyesal ? aaaa

  21. prihartini khoirun n says:

    Astagaaaaa sumpah aku kira setelah mereka berbaikan dan ngutarain perasaab msing2 mereka akan ada kemajuan. Ternyata datebg masalah baru lagi dan tadi mereka itu cuma tidur bareng kan ngak berbuat apa2. Dan gatau lagi bakal gimana kelanjutannya deh. Ditunggu aja

    xoxo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s