.:JunHee Veiled:. Give Up

45IV6D4

Give Up || JunHee Universe, Romance, Angst || Oneshot || PG15

Oh Jaehee / OC || Kim Joonmyun / EXO Suho || Lee Jiho

© neez

 

My Angel        : Myeonie, aku sudah di dorm

My Angel        : Cepat kemari

Baru membuka aplikasi KakaoTalk Messengernya, dan membaca pesan yang rupanya baru dikirim oleh kekasihnya sekitar setengah jam lalu, ketika Joonmyun, Baekhyun, dan Kyungsoo pulang ke rumah. Member lainnya melanjutkan jadwal mereka hari itu ke SOPA.

Tetapi yang ia dapati hanya sepatu Chanra, dan sandal bulu merah jambu Jaehee yang sepertinya tadi digunakan. ”Chanra-ya!” seru Joonmyun sambil melepaskan sepatunya, sementara Baekhyun dan Kyungsoo sudah mendahuluinya masuk ke dalam kamar mereka.

Drap. Drap. Drap.

Wajah Chanra, yang sedikit merah dan pucat muncul di hadapannya. ”Ya, Oppa?!” tanyanya sigap seperti prajurit yang dipanggil oleh komandannya.

”Jaehee tadi kesini?”

Eung?” tanya Chanra, entah kenapa terlihat gelagapan. ”Err… iya tadi Jaehee Eonnie kesini~”

Joonmyun mengernyit. Ada apa dengan Chanra? Pikirnya, ”Lalu dia kemana?” tanyanya.

”Hmm…” Chanra nampak berpikir lamat-lamat, sebelum menjawab dengan tidak yakin. ”Tadi Eonnie bilang sih… hmm, akan segera kembali.”

”Oh begitu?” tanya Joonmyun heran.

Eoh.” Chanra mengangguk, mirip anjing patuh.

”Ya sudah,” Joonmyun tersenyum. ”Bagaimana Tao? Apa kakinya sudah lebih baik?”

”Hmm…” wajah Chanra kembali memerah dan tidak yakin. ”Mudah-mudahan sudah membaik… hmm,”

”Kau ini kenapa sih? Sakit?” tanya Joonmyun akhirnya penasaran juga dengan tingkah laku Chanra yang ganjil.

Aniyo!” jawab Chanra cepat.

Menggelengkan kepalanya, ”Ya sudah, jaga Tao ya malam ini. Nanti kalau Jaehee datang katakan aku sedang mandi.” Chanra mengangguk-angguk patuh, macam hiasan-hiasan yang sering dipasang pada dashboard mobil.

Nyatanya, hingga tengah malam. Jaehee tidak kembali juga ke dorm EXO. Joonmyun duduk di ruang tengah, memeriksa ponselnya untuk mengecek apakah kekasihnya itu mengirimkannya pesan mengenai absennya dia di dorm, atau bahkan pemberitahuan ada janji. Tapi, tak ada satu pun selain KakaoTalk Jaehee tadi jam sembilan ketika mengatakan bahwa ia sudah ada di dorm.

Mencoba menghubungi ponselnya, ponsel itu tidak aktif. Sensasi tak nyaman mulai merayapi perasaan Joonmyun. Apa Jaehee mulai ’menghilang’ lagi tanpa jejak seperti kemarin?

 

*           *           *

Betapa sulitnya untuk mengendalikan amarahnya ketika Jaehee mendapati Jiho ternyata sehat walafiat, dan menunggunya dengan santai di dalam apartemennya. Tak ada tanda-tanda Hajin, tak ada pula Minkyu.

”Apa maksudmu begini, Lee Jiho-ssi?” tanya Jaehee tajam.

”Kalau tidak membohongi Eomma mengatakan aku sakit, dan Eomma tidak menghubungimu, apakah kau mau bertemu denganku?” balas Jiho sungguh-sungguh pada Jaehee yang benar-benar terlihat naik darah di hadapannya.

”Tidak! Tidak akan pernah!”

Jiho melipat kakinya dengan santai. ”Kalau begitu, kau tidak perlu bertanya kenapa aku melakukan ini.”

”Katakan apa yang mau kau katakan. Aku tidak punya urusan apa-apa lagi denganmu?”

Damn!” Jiho memaki dan berdiri. ”Beginikah sikapmu pada orang yang kau anggap Oppa?! Kau menghilang, tidak menjawab panggilanku saat aku sudah seperti orang gila minta maaf kepadamu!”

”Aku tidak akan memaafkanmu!!!”

”Ya Tuhan, Oh Jaehee! Aku sudah bilang aku memang bersalah, aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitimu, menyakiti perasaanmu dengan menciummu. Tapi aku tidak pernah menyesal telah menciummu!”

PLAK!

Sebuah tamparan melayang pada pipi Jiho. Jiho bisa merasakan betapa panasnya bekas telapak tangan Jaehee. Diletakkannya tangannya pada pipinya yang kini mungkin sudah berwarna merah. Tapi, Jaehee nampak gemetar, dari ujung rambut hingga ujung kakinya.

”Apa pantas… orang yang kuanggap kakakku sendiri melakukan itu semua kepadaku, hah?” tanya Jaehee pelan. ”Kau!” tudingnya. ”Kau bukan hanya menyakitiku. Kau membuatku menjadi orang paling jahat di dunia ini karena telah menyakti orang yang paling mempercayaiku di dunia ini, Lee Jiho.”

”Aku pantas mendapatkannya.” Angguk Jiho. ”Aku pantas mendapatkan makian darimu. Aku juga pantas mendapatkan tamparan, karena aku telah lancang menciummu. Tapi tidakkah kau mengerti? Aku tidak menyesal karena telah menciummu… yang aku sesali adalah aku tidak bisa memberikan pengakuan cintaku secara benar denganmu.” Jelas Jiho tanpa merasa takut sedikit pun dengan Jaehee yang sudah menjelma seperti singa betina, ”Aku menyukaimu… anhi, aku mencintaimu bahkan!”

Jaehee menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang baru saja Jiho katakan kepadanya. ”Kau menyukaiku? Kau mencintaiku? Kau kan tahu aku sudah punya kekasih!!!”

”LALU?” teriak Jiho. ”Hanya karena kau punya kekasih, membuatmu lantas terlarang untuk kusukai dan kucintai?”

”TERLARANG UNTUK MENCIUM GADIS YANG SUDAH MEMILIKI KEKASIH, KAU BRENGSEK!” teriak Jaehee tak kalah kuatnya.

Jiho terdiam.

”KAU!” tuding Jaehee dengan telunjuknya. ”KAU TIDAK TAHU APA YANG KAU SEBABKAN PADA HIDUPKU, LEE JIHO! KAU TIDAK TAHU APA YANG KAU LAKUKAN TELAH MEMBUATKU MENJELMA JADI GADIS PALING JAHAT DI DUNIA!”

Jiho tertawa. Demi Tuhan, laki-laki brengsek itu tertawa!

”Apakah Kim Joonmyunmu itu marah padamu?”

Anhi,” geleng Jaehee dengan suara tidak lebih dari bisikan. ”Dia tidak marah. Karena dia tidak tahu, kalau kekasihnya ini sudah kotor karena membiarkan dirinya disentuh oleh laki-laki lain!”

Jiho melihat gadis itu mulai bergetar hebat, kedua matanya mulai berkabut, dan genangan air mulai memenuhi kedua matanya yang dibingkai oleh eyeliner hitam tipis-tipis, yang semakin membingkai cantik kedua matanya.

”Kau… membuat gadis ini tidak bisa menatap kekasihnya tanpa mengingat bahwa ia telah membiarkan bibirnya dijamah oleh laki-laki lain. Kau membuat gadis ini tidak bisa memeluk kekasihnya dengan hangat tanpa mengingat perbuatanmu. Kau… membuat gadis ini, merasa menjadi wanita murahan.” Air mata itu akhirnya mengalir. ”Kau membuat gadis ini, mengkhianati laki-laki yang paling hebat, yang mencintai gadis ini apa adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.”

Hal itu menohok, dan menyentak Jiho. Ya, ia memang sudah gila! Ia gila karena cemburu! Ia gila karena begitu menyukai gadis di hadapannya kini! Ia gila karena ia tidak bisa memiliki gadis itu. Ia gila karena membayangkan gadis yang selalu ia impikan itu berada di dalam pelukan laki-laki lain, yang menurutnya bahkan tidak bisa menghargai gadis itu dengan baik!

Tapi, ia tidak tahu apa-apa soal gadis yang ia cintai itu justru. Ia tidak memikirkan perasaannya. Ia tidak memikirkan bahwa gadis itu begitu tersiksa dengan perbuatannya. Lagi-lagi karena laki-laki itu!

”Kau… kau bukan wanita murahan, Jaehee-ya,” ucap Jiho pelan. ”Kau… tidak… kau…”

”Ya! Kau membuatku menjadi gadis seperti itu! Kau yang membuatku menjelma menjadi gadis seperti itu!” mengatur napasnya, Jaehee menghapus air matanya. ”Kalau kita sudah tidak ada urusan, aku mau pergi.”

Jiho hanya diam menunduk di sofa. Maka, Jaehee menghela napas dan meninggalkan laki-laki itu agar ia berpikir, bahwa perbuatannya salah dan memikirkan orang lain selain egonya sendiri. Menutup pintu apartemen dan mengusap matanya, Jaehee berjalan pelan menuju elevator dan tidak menyangka bahwa ia berpapasan dengan ibu Jiho dan Hana.

”Jaehee~”

Eommoni,” Jaehee membungkuk, ”Annyeonghaseyo.”

”Kau dari rumah Jiho? Astaga, Jaehee kau kenapa? Kenapa kau menangis?” Hajin terlihat panik melihat gadis yang sudah ia anggap putrinya sendiri itu kini menangis. ”Apa… apa kau dan Jiho bertengkar? Apa dia berbuat… kurang ajar kepadamu, Nak?”

Jaehee menggeleng-geleng menghapus air mata yang selalu mengkhianatinya untuk tetap turun dan menunjukkan sisi lemahnya. Ia tidak berharap semua orang, terlebih Hajin dan Hana, untuk mengetahui masalahnya dengan Jiho. Mungkin, Jiho memang berlaku buruk kepadanya, tetapi ia tetap kakak dan anak yang baik di mata Hajin dan Hana.

”Jiho Oppa ada di dalam Eommoni, aku tidak apa-apa kok. Aku harus kembali ke apartemen EXO…”

”Oh, Joonmyun… iya? Joonmyun kan nama pacarmu?” tanya Hajin masih sambil memegang kedua bahu Jaehee, Jaehee mengangguk, ”Tadi Eomma bertemu Joonmyun di lift, Eomma bilang kau sedang menemui Jiho.”

Astaga!

”Lalu… apa dia kembali ke dorm?”

Ani, Eomma rasa dia menunggu di rumahmu.”

”Kalau begitu terima kasih, Eommoni. Aku pamit dulu,” tergesa-gesa, Jaehee berlari masuk ke dalam elevator dan menekan tombol lantai apartemennya. Mengetukkan tumit ankle boot abu-abunya, tidak sabar untuk segera mencapai lantainya, saat kisi-kisi elevator terbuka, ia langsung berlari menuju apartemennya dan menekan kombinasi angka dan masuk ke dalam.

Sepertinya Joonmyun baru saja tiba disana, karena ia buru-buru keluar dari dalam kamar Jaehee, menyambutnya dengan senyuman, yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Menyambutnya selalu dan selalu dengan kasih sayangnya. Tidak pernah ada curiga, hanya ada rasa percaya meski ia tahu kekasihnya baru saja dari tempat laki-laki lain.

Apakah dia menyelamatkan bumi di masa lalu? Apa yang Jaehee lakukan hingga ia pantas mendapatkan laki-laki ini? Apa dosa Joonmyun mendapatkan gadis seperti dirinya?

Air mata itu kembali turun melihat senyuman Joonmyun. Dan wajah Joonmyun berubah kebingungan, ”Kau kenapa, Sayang?” tanyanya buru-buru menghampiri kekasihnya, dan hendak dibawanya ke dalam pelukannya, namun tanpa diduga, Jaehee justru melingkarkan kedua tangannya dan menarik kepalanya, hingga kedua bibir mereka bertemu.

Tidak dapat mencium kekasihnya selama satu bulan terakhir benar-benar membuat monster di dalam tubuh Joonmyun benar-benar terbangun. Diletakkannya satu tangannya di belakang kepala kekasihnya, dicengkramnya kepala gadis itu demi memperdalam ciuman mereka.

Mereka berpangutan cukup lama, hingga napas mereka terengah-engah, di tengah-tengah ruang keluarga apartemen Jaehee. Menahan diri untuk tidak menyentuh kekasih mereka, rupanya neraka bagi keduanya. Rasanya mereka sanggup tidak melepaskan satu sama lain pada saat ini, jika saja air mata Jaehee tidak kembali merebak, dan menyadarkan Joonmyun dari kehausannya akan bibir tipis dan menggoda milik kekasihnya.

”Tunggu… tunggu…” bisik Joonmyun meletakkan dahinya, kedua tangannya seolah meremas kedua pipi kekasihnya, menyalurkan kekuatannya, agar tidak kembali menghantam kekasihnya yang kini tengah dalam keadaan tidak stabil. ”Tunggu… Sayang!” seru Joonmyun saat Jaehee kembali ingin menciumnya, dan terisak karena Joonmyun menolaknya, ”Kau kenapa… ceritakan padaku, kenapa kau menangis? Kenapa dari tempat Jiho kau justru menangis?” tanya Joonmyun, sedikit mendesak, namun tetap lembut.

Jaehee menunduk.

”Apa dia melakukan sesuatu padamu?” tanya Joonmyun serius. Ia tahu pria itu terang-terangan menyukai kekasihnya.

”Myeonie…” bisik Jaehee masih menunduk. ”Aku mau mengatakan sesuatu kepadamu.”

”Katakan saja,”

Jaehee mendongak, menatap kedua mata cokelat yang irisnya selalu bisa mempesona dirinya lebih dalam jika ia terus menerus memandanginya. Ia masih bisa merasakan pegangan lembut namun kokoh Joonmyun kepadanya. Dari sini, ia tahu bahwa ia harus jujur. Ia harus mengeluarkan semuanya, isi hatinya… dan apa yang mengganjal di dalam dirinya.

”Apa… kau tidak merasa aneh dengan sikapku?” tanya Jaehee pelan.

Joonmyun mengernyit.

”Jujurlah,” ia menelan ludahnya kuat-kuat, menatap kekasihnya dengan bersungguh-sungguh, menuntut kejujuran.

”Ayo, duduk…” bukannya menjawab, Joonmyun malah menggandeng tangannya dan membawanya untuk duduk ke sofa terlebih dahulu. Begitu merasa Jaehee sudah nyaman di sofanya, diraihnya tangan kekasihnya itu dan di genggamnya, ”Kau bertanya apakah aku merasa aneh dengan sikapmu? Aku akan jujur menjawab, bahwa ya… aku merasa aneh, aku merasa ganjil dengan sikapmu kepadaku.”

Jaehee kembali menunduk.

”Jaehee-ya…”

Gwenchana, katakan saja… katakan semua yang mengganjal jangan kau tahan, Joonmyun-ah.”

Keurae.” Akhirnya setelah menatap manik mata Jaehee lama-lama, Joonmyun mengangguk. ”Aku tidak mengerti dengan semua sikapmu yang mendadak menjauhiku karena masalah sepele, Jaehee-ya. Aku tidak mengerti kenapa kau menjauhiku… tidak mau menemuiku. Kukira kau membenciku… tetapi, kau ada disana. Saat kukira kau tidak lagi peduli padaku dan hubungan kita… kau datang ke konser EXO. Tapi, kau tetap tidak mau menemuiku.” Joonmyun menjelaskan, ”Hingga aku harus meminta para gadis untuk memaksamu ikut denganku… dan…” ia menghela napas. ”Lagi-lagi aku harus dibuat tidak mengerti, dengan kau yang justru menangis meminta maaf kepadaku. Aku bukan tipe pendendam… aku pun bukan tipe orang yang suka memperpanjang masalah. Dan aku tidak bohong saat berkata aku lelah bertengkar… karena aku tidak suka bertengkar denganmu.”

”Kemudian saat kukira semua sudah selesai, meski tanpa membicarakan masalahnya. Aku kembali heran saat pulang kesini rumahmu hancur berantakan… kau minum, kau merokok. Apa… apa aku yang membuatmu begitu? Apa aku yang… apa aku yang membuatmu marah hingga kau seperti… ini?” tanya Joonmyun pelan. ”Tapi, kau tidak memberikanku penjelasan lagi… dan sejujurnya aku pun takut mendengar penjelasanmu. Aku takut kita bertengkar lagi, karena aku sudah tidak punya tenaga untuk tetap berdebat denganmu.”

Bertubi-tubi. Kata-kata Joonmyun bagaikan jarum yang jelas mengenai jantung Jaehee. Ia memang egois, ia sampai tidak berpikir Joonmyun bisa menganggap semua perbuatannya karena pertengkaran mereka waktu itu!

”Maka, aku pun hanya diam… menunggu kau menjelaskan di waktu yang tepat.” Tutup Joonmyun pelan.

Mengangguk, perlahan Jaehee mengangkat kepalanya dan ia menatap Joonmyun kembali. Wajah kekasihnya begitu lelah. Tetapi ia sudah berusaha jujur menjelaskan apa yang ia rasakan selama diperlakukan begitu acuh oleh dirinya, ia menunggu, dan terus menunggu. Maka malam ini, ia akan menjelaskan.

”Myeonie… aku menghindarimu… pada waktu itu, bukan karena pertengkaran kecil kita yang sepele.” Ujar Jaehee pelan. ”Tetapi… ada satu hal, yang harus kukatakan… satu kejujuran yang harus kau dengar.”

”Katakan saja.”

”Myeonie…” air mata kembali menggenangi mata Jaehee tanpa dikomando. ”Jiho… me… Jiho Oppa menciumku.”

Layaknya petir yang menyambar. Seolah terkena sengatan listrik, Joonmyun melepaskan pegangannya pada Jaehee. Hampir tidak mempercayai kata-kata kekasihnya itu, ia berusaha kembali mencernanya, tetapi Jaehee menatapnya dengan wajah bersalah yang… memuakkan?

”Maafkan aku…” isak Jaehee.

Meneguk liurnya kuat-kuat, menenangkan syarafnya, mengatur napasnya, Joonmyun bertanya. ”Kapan?”

”Se…sebulan…dua bulan yang lalu.” Isak Jaehee, bahunya berguncang-guncang dengan tangisannya.

Ingin rasanya Joonmyun meraih kekasihnya, memberinya ketenangan. Tetapi tak ada yang bisa ia lakukan saat dirinya sendiri tengah dirundung amarah, ia gemetar ia naik darah!

”Dan… kau baru bilang sekarang?”

”Karena aku…”

”Selama satu bulan kau menghilang… apa yang kau lakukan?” tanya Joonmyun pelan, namun dengan nada dingin yang mengandung tuduhan.

Jaehee menggelengkan kepalanya, menyadari maksud pertanyaan Joonmyun. ”Ani, tidak seperti itu… tidak seperti yang kau pikirkan!” menggelengkan kepala, dan tangannya panik. ”Aku tidak bisa menemuimu karena… karena…”

”Apa kau bertemu dengan Jiho?”

”Tidak!!!”

”Tapi malam ini kau dari sana, kan?”

”Joonmyun…”

Joonmyun berdiri, menatap Jaehee dengan dingin. ”Tidak perlu kau jawab. Tidak perlu kau jelaskan. Aku menuntut jawaban, aku memohon penjelasan selama satu bulan ini…” ia terkekeh, tapi nadanya membuat siapa pun merinding. ”Tidak kusangka rupanya ini yang terjadi. Pantas saja kau tidak menciumku lagi…”

”ANI!” jerit Jaehee meraih lengan Joonmyun dan membawanya ke dalam pelukannya, mendongak penuh permohonan. ”Tolong dengarkan penjelasanku… aku mohon, sekali iniiiiii saja…”

”Diam! Aku memohon penjelasan dan kau menoleh saja tidak. Sekarang kau tidak akan kuizinkan menjelaskan… karena sepertinya aku sudah bisa menebak, apa jawabanmu!”

”Joonmyun, aku mohon… itu semua tidak seperti yang kau pikirkan… aku sedang berusaha jujur kepadamu… aku mohon, dengarkan aku…”

Tapi, Joonmyun pergi. Jaehee tahu, Joonmyun terlihat dingin dan tegar, tapi saat punggungnya menghadap dirinya, ia tahu pria itu terluka. Karena Jaehee memang telah melukainya di tempat sensitifnya.

Kepercayaan.

-Keutt-

Karena cuma pendek, gak jadi aku protek… T____T akhirnya mereka bubar. Yang nulis udah galau dari kemaren hueeeee…

 

Advertisements

53 thoughts on “.:JunHee Veiled:. Give Up

  1. Wulan says:

    Knp kaya gitu😢😢😢😢…..jelasin coba….joonmyun keburu esmosi g dengerin penjelasan jaehee…salah jaehee juga sich kelamaan jelasin…

  2. tiiwiii says:

    Bisa ngerti sih kl joonmyun marah bgt. Lagian wajar kl dia curiga knp selama ini jaehee diam aja. Kalo joonmyun lgsung maafin jaehee malah kurang seru. Kl kayak gini panas and nylekit nih konfliknya..

  3. minna says:

    aaaaaaaaaaa,,,jiho bner2 dah,😭😭😭😭
    hueeeeeeew joonmyeon,dngerin dlu napa penjelasan Jae-Hee,,huhuhuhuhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s