[KaiNa Piece] That Words (1)

kaina

© IMA 2015

Kim Jongin — Lee Hana

Kang Yun Woo, Park Min Kyu, EXO

Please kindly read Lee Hana’s profile before read this story

[KaiNa Piece] That Words

March 8th, 2015

09.00 PM KST

“Bagaimana rasanya?”

“Apa?”

“Melihat pacarmu basah-basahan di atas panggung?”

Bibir Hana tiba-tiba mendadak kelu. Rasa merinding kembali menjalari seluruh tubuhnya ketika mengingat semua penampilan Kai di atas panggung konser. Semuanya benar-benar  tidak terduga. Apalagi adegan basah-basah saat lagu Baby Don’t Cry dan adegan mengganti baju di lagu Lucky. Kai berhasil membuat Hana hampir gila. Ibunya sendiri bahkan berteriak heboh saat Baekhyun muncul dengan bahu polosnya.

Hana dan Ha Jin –ibunya berakhir di restoran China dekat venue untuk makan malam karena rasa lapar yang langsung menyerang setelah melewati tiga jam konser.  Kedua mata Hana melirik ibunya yang duduk berseberangan dengannya di sana. Senyuman masih tampak jelas terlihat di sudut bibir Ha Jin setelah menemaninya menonton konser. Ketika berada di dalam venue tadi, Hana hampir lupa bahwa Ha Jin sudah berusia lebih dari 45 tahun.

Jangan tanya kenapa Hana bisa menonton konser dengan ibunya sendiri. Salahkan Jiho yang memang tidak mau datang ke konser EXO. Karena tidak mau menyia-nyiakan tiket –yang diberikan Kai—, Hana akhirnya mengajak Ha Jin. Dan Ha Jin ternyata jauh lebih antusias, tidak seperti dugaan Hana sebelumnya. Ibunya bahkan secara terang-terangan mengaku bahwa Baekhyun terlihat menarik karena kecerewetannya.

“Hana-ya?”

Hana kembali tersadar dan menatap ibunya dengan cepat. “Rasanya…. Tidak tahu. Aku bingung, eomma.

“Kenapa?” tanya Ha Jin aneh.

“Aku lebih mengkhawatirkan tangannya. Jong In tidak bisa dihubungi sejak semalam,” hembusan napas keluar dari bibir Hana sementara tangannya hanya memutar-mutar sumpit besi di atas jjampongnya. “Sepertinya cukup parah.”

Ah matda,” Ha Jin hanya mengangguk ringan seraya menyantap kembali beef tripe miliknya.

Hana merogoh saku mantelnya untuk melihat ponsel dan  belum ada satu pun balasan dari Kai. Semalam pasti Kai langsung istirahat dan esoknya sibuk mengurus konser hari kedua. Sebelumnya Hana sudah berjanji untuk tidak menuntut apapun, jadi ia hanya mengingatkan beberapa hal pada Kai.

“Dia pasti masih sibuk,” ujar Ha Jin saat menyadari bahwa Hana hanya memilin mie pedas itu sambil melamun.

Ne. Dia juga harus langsung istirahat,” Hana kembali mendengus lalu menyantap mie pedas itu dalam diam. Membiarkan keheningan tercipta di antara ia dan ibunya.

Ha Jin masih terus memperhatikan anak gadisnya lalu diam-diam menghembuskan napas. Sebenarnya ia khawatir pada mental Hana, gadis itu lebih banyak menyimpan semua masalahnya yang menyangkut Kai sendirian. Hana tidak bisa memamerkan sosok Kai sebagai kekasihnya pada dunia. Hana harus bisa terbiasa sendiri tanpa seorang kekasih yang benar-benar selalu ada. Dan Hana tidak bisa berkencan bebas di luar seperti remaja seumurannya.

“Hana-ya.”

“Hm?”

“Apa kau menyayangi Jong In?”

“UHUK! UHUK!”

Rasa panas langsung membakar kerongkongan Hana saat pertanyaan aneh dari Ha Jin membuatnya tersedak kuah mie jjampong. Hana segera meneguk air putih di dekatnya, mengelap sekitar bibirnya dengan tisu lalu melirik Ha Jin –masih dengan sisa-sisa rasa panas di kerongkongan.

Eomma, kenapa bertanya aneh seperti itu?” Hana terbatuk pelan sambil menatap ibunya dengan sebelah alis terangkat.

“Jawab saja, sayang. Apa kau benar-benar menyayangi pacarmu?” tanya Ha Jin lagi.

Keurae~,” jawab Hana seraya mengalihkan tatapan kembali ke mangkuk mienya. “Aku tidak mungkin bisa bertahan selama ini kalau tidak menyayanginya, eomma.”

“Walaupun kau tidak bisa mengenalkan Jong In pada teman-temanmu?” tanya Ha Jin lagi dan berhasil membuat tangan Hana terhenti selama beberapa saat.

“Rasa sayang itu bukan untuk dipamerkan, eomma. Hanya aku dan Jong In yang merasakannya dan kita masih bisa bertahan walaupun dunia tidak tahu,” Hana menyunggingkan senyuman tipis lalu melanjutkan acara makan malamnya lagi dalam diam.

Tiba-tiba saja Hana meremas sumpit besinya saat sekelebat ingatan –tentang perpisahan sementaranya dengan Kai waktu itu. Dan Hana benar-benar tidak tahu harus bagaimana jika ia dan Kai benar-benar berpisah nanti. Mungkin hanya ia yang akan merasa terpuruk karena Kai masih punya banyak fans yang mencintainya.

***

11.20 PM KST

Hana’s apartment

Malam sudah semakin larut dan Hana masih berguling di atas tempat tidur sambil sesekali melirik ponselnya di atas nakas. Berharap Kai membalas pesannya barang satu kata. Ha Jin sudah tertidur lelap di kamar sebelah setelah pulang dari konser tadi. Membuat Hana merasa kesepian lagi entah kenapa. Hana menggigit bibir bawahnya, agak ragu untuk bertanya pada salah satu sahabatnya atau member EXO lainnya mengenai Kai. Ia tidak ikut ke backstage karena bersama Ha Jin tadi dan ia tidak bisa bertemu Kai tentu saja.

Suara dering ponsel membuat Hana sedikit terlonjak. Ia dengan cepat meraih ponselnya, membuka kunci layar dan segera membuka aplikasi pesan. Namun yang ia temukan hanya pesan dari nomor tidak dikenal.

From : +8288876****

Kau sudah tidur?

Kening Hana berkerut. Ia membalas pesan itu secara tidak sabaran karena yang pasti sang pengirim pesan itu bukanlah kekasihnya.

From : +8288876****

Tebak siapa. Kau pasti kaget.

To : +8288876****

Kang Yun Woo? Seolma. Darimana kau tahu nomorku?!!

From : +8288876****

Yun Woo? Siapa lagi Yun Woo?

To : +8288876****

Kau bukan Yun Woo? Lalu siapa?

From : +8288876****

Ich habe gerade in Korea landete, Na-ya.

Chi oppa?!” pekik Hana seraya mengubah tidurnya menjadi duduk. Hana segera membalas pesan Min Kyu dengan menggebu-gebu, bertanya mengenai banyak hal dalam satu pesan sekaligus.

Namun tangan Hana terhenti di udara saat highlight pesan yang masuk ke Kakaotalk menghentikan tangannya. Membuat pikiran Hana sempat melayang ke udara selama beberapa detik dan membuat rasa geli menggelitik dekat perutnya. Pesan Katalk yang sangat ditunggunya sejak semalam.

‘Aku sudah di dorm.’

Bahkan tanpa perlu berpikir, Hana segera beranjak dari tempat tidur sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana tidur. Ia meraih mantel apapun yang ditemukan di dekat pintu dan bergegas keluar  meninggalkan apartemen.

***

Sosok Seunghwan langsung menyambut Hana dibalik pintu setelah menekan bel dorm beberapa kali.  Senyuman polos langsung dikeluarkan oleh Hana –untuk membuat Seunghwan luluh tentu saja. Namun Seunghwan hanya melipat tangan di depan dada, bersandar pada daun pintu dorm sambil menatap Hana dengan mata kecilnya.

“Jong In harus istirahat,” ujar Seunghwan seolah sudah tahu apa maksud Hana datang ke sana.

Membuat senyuman Hana langsung memudar seketika. “Hanya sebentar?”

Andwae,” tolak Seunghwan seraya melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya. “Tadi mereka sudah membuat rusuh backstage dan sekarang kau datang sendirian saat semuanya mau istirahat.”

Pipi Hana menggembung putus asa. Kepalanya menunduk, bersiap berbalik untuk kembali ke apartemen. Namun ide gila yang terlintas di kepala membuat Hana menghentikan langkah seraya melirik pintu dorm yang mulai ditutup. Ia segera menerobos pintu dorm dengan cepat, mendorong Seunghwan yang masih berdiri di belakang pintu.

KKAMAN!” seru Hana sambil berlari ke dalam dorm tanpa memedulikan teriakan Seunghwan di belakangnya.

Namun ia hanya menemukan ruang tengah yang dalam keadaan kosong dan menyadari bahwa keadaan dorm benar-benar hening. Seolah seluruh penghuni dorm ditelan bumi setelah menyelesaikan konser. Seunghwan tiba-tiba saja sudah berdiri di sebelah Hana sambil mengusap kepalanya –karena membentur pintu.

Ya! Sudah kubilang kalau mereka—.”

“Han-ah,” suara Kai tiba-tiba memecah keheningan disusul sosoknya yang baru saja keluar dari salah satu pintu kamar.

Dan Hana sempat menahan napasnya sejenak saat melihat Kai yang berjalan dengan sedikit timpang ditambah perban yang melilit tangan kanan lelaki itu. “Kim Jong In.”

Gwenchana, hyung. Aku yang minta Hana datang ke sini,” Kai mengulum senyumnya pada Seunghwan sambil mengusap bahu kanan manajer EXO itu.

Tch, araseo. Jangan lama-lama, kau harus istirahat,” ujar Seunghwan lalu beranjak dari ruang tengah menuju pintu kamar lainnya di sana.

Meninggalkan Hana dan Kai yang berdiri di ruang tengah sambil menatap satu sama lain. Hana mengalihkan tatapannya pada tangan kanan kekasihnya yang masih dibalut perban. Wajah Kai terlihat sedikit pucat dengan kedua mata yang juga terlihat sayu dan lelah.

“Apa aku mengganggu?” tanya Hana cepat.

Namun Kai malah menahan senyumnya sambil menepuk puncak kepala Hana dengan tangan kirinya. “Anhi. Mau jalan-jalan di luar? Sepertinya mereka mau istirahat.”

“Kau tidak mau istirahat juga?” tanya Hana heran.

“Mau. Tapi aku butuh jalan-jalan sebentar sebelum istirahat.”

.

.

Melihat Kai di atas panggung terkadang memberikan kepuasan tersendiri bagi Hana. Karena ia bisa melihat sisi lain kepribadian Kai yang tidak pernah dilihatnya sehari-hari. Kai dan Kim Jong In benar-benar berbeda. Walaupun Hana sering merasa kesal karena sosok Kai selalu tebar pesona ketika sedang berdiri di atas panggung dengan gerakan dancenya, ia mencintai sosok Kim Jong In yang kekanakkan ketika bersamanya.

Jalanan sudah sangat sepi di jam lewat tengah malam. Kai lengkap dengan penyamaran topi dan masker, sementara Hana hanya memakai topi yang direndahkan. Sepertinya semua EXO-L kelelahan setelah menonton konser karena tidak ada yang menunggu di depan gedung apartemen tadi. Membuat Hana dan Kai tidak harus bersusah payah melewati pintu belakang. Sekarang keduanya bahkan berjalan dengan bebas di pedestrian tanpa ada tujuan yang jelas.

“Aah, udaranya masih dingin,” Hana akhirnya mengeluarkan suara setelah keheningan terus melanda keduanya sejak keluar dari apartemen. Hana memeluk tubuhnya sendiri seraya melirik Kai melalui ujung matanya. Lelaki itu hanya berjalan di sampingnya tanpa mengatakan apapun sejak tadi. Mungkin karena kelelahan juga.

Ya. Kita pulang saja,” sahut Hana seraya menghentikan langkahnya. Membuat Kai berhenti juga dan sedikit memutar tubuh ke arah gadisnya yang tertinggal dua langkah.

Wae? Aku masih mau jalan-jalan,” jawab Kai dari balik masker yang menutupi mulutnya.

“Tapi kau diam saja dari tadi,” protes Hana sambil mendengus pelan. “Harusnya kau istirahat saja, kkaman.

Dwaesseo. Aku butuh udara segar, Han-ah,” Kai kemudian kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya –meninggalkan Hana.

“Ya sudah! Pergi sendiri saja sana!” seru Hana seraya mendengus pelan lalu berbalik untuk mengambil arah berlawanan dari Kai. “Dia yang mengajakku keluar tapi malah meninggalkanku. Laki-laki macam apa yang meninggalkan pacarnya di jalanan tengah malam seperti ini? Tch. Harusnya aku tidak ikut Jong In keluar saja tadi.”

Bibir Hana masih terus menggerutu –merutuki sikap Kai yang menyebalkan sambil melangkah cepat menyusuri pedestrian. Angin musim dingin –menjelang musim semi itu berhembus semakin kencang dan membuat Hana sedikit menggigil. Hana menghentikan langkah sejenak untuk menoleh ke belakang dan menemukan punggung Kai yang hilang ditelan kegelapan malam. Ternyata Kai benar-benar meninggalkannya.

Kkaman! Ya!” Hana berseru kencang –saat menyadari bahwa jalanan benar-benar sepi di tengah malam. Hanya ada satu atau dua mobil yang berlalu-lalang dan tidak ada wanita sepertinya berkeliaran di sekitar sana. “Kkaman!”

Hana berlari kecil menyusul jejak kepergian Kai. Rasa panik mulai maenghampiri Hana ketika tidak menemukan punggung Kai di bawah redupnya lampu jalan. Dan Demi Tuhan, rasanya Hana mulai ingin menangis dan menelepon siapapun agar menjemputnya di sana karena ia—

“WHA!”

“AAAK!!”

Hana hampir terjungkal ke belakang –karena kaget ketika Kai muncul tiba-tiba dari balik salah satu pohon yang menaungi pedestrian. Suara tawa Kai langsung menyebar di udara sementara Hana sedang mati-matian menahan genangan air yang memenuhi matanya. Hana dengan cepat melayangkan pukulan bertubi-tubinya pada lengan atas lelaki itu. Tanpa ampun.

“Lee Hana! Ya!” Kai berusaha melindungi tubuhnya sendiri sambil mundur –menghindari pukulan Hana.

“Dasar bodoh! Kim Jong In bodoh!” Hana mengusap sudut matanya –dengan cepat saat air matanya hampir mengalir keluar. Ia melayangkan pukulan terakhir di lengan atas Kai lalu menarik napas sebanyak mungkin untuk meredakan emosinya.

“Aah, tanganku,” Kai meringis sambil mengusap kedua lengan atasnya. Sudut matanya menangkap ekspresi kesal Hana yang malah membuatnya tersenyum geli. “Kau tega memukuliku? Tanganku sedang sakit, Han-ah.”

Sikkeuro,” Hana mendorong lengan atas Kai sekali lagi lalu berbalik meninggalkan lelaki itu sambil menghentakan kaki. Dan Kai terpaksa mengikuti gadisnya –yang sudah berubah mood itu.

Hingga kencan malam hari mereka pun gagal seketika.

***

EXO’luXion day 5

March 15th, 2015

07.45 PM KST

Ribuan EXO-L masih memenuhi area sekitar venue padahal konser sudah selesai hampir setengah jam yang lalu. Hana juga masih terjebak di dalam venue, menunggu seluruh fans keluar agar ia bisa menyelinap ke belakang panggung. Tentu saja bersama keempat sahabatnya –termasuk wanita bernama Moon Chaerin yang diperkenalkan Hanji saat konser hari pertama. Kemarin Kai memberitahunya bahwa Chaerin adalah kekasih Sehun. Oh yang benar saja, kakak kelasnya yang seperti nenek sihir itu berpacaran dengan Sehun?

Hana masih ingat jelas bagaimana Chaerin memperlakukannya sebagai mahasiswa baru di kampus. Baru dua minggu Hana memulai kegiatan perkuliahannya secara resmi di kampus dan di satu minggu pertama ia sudah beberapa kali bertemu Chaerin hingga berselisih dengan wanita itu. Mungkin di antara Chanra, Nayeon, dan Jae Hee, ia yang akan sedikit sulit dekat dengan Chaerin.

“Mau masuk sekarang?” tanya Chanra ketika lampu venue semakin gelap dan beberapa fans mulai berdesakkan keluar.

Hana masih melihat ponselnya saat menyadari bahwa keempat sahabatnya –bersama Chaerin mulai berlari ke dekat panggung –meninggalkannya. Dengan cepat Hana berbalik, menyusul kelimanya memasuki pintu masuk belakang panggung yang berada tidak jauh dari panggung utama. Mereka sudah terlalu hapal dengan susunan panggung setelah lima hari menonton konser yang sama dan kabur ke belakang panggung setelah konser selesai –tidak termasuk Hana tentu saja. Selama tiga hari Hana menonton konser bersama Ha Jin –karena setelah hari ketiga Ha Jin sudah mengeluh bosan hingga Hana terpaksa menonton sendiri.

Langkah Hana melambat ketika memasuki koridor bercat putih yang akan membawa mereka ke ruang ganti EXO. Jantungnya tiba-tiba berdetak aneh. Hari itu ia melihat banyak plester di punggung kaki kekasihnya ditambah dengan Kai yang menangis tersedu selama encore. Kelima teman wanitanya saja bisa menangis, apalagi Hana. Hana tidak bisa menahan rasa harunya dan ikut menangis juga. Kai berhasil membuatnya khawatir dan terharu sekaligus.

“Hanji pacarnya Baekhyun, Jae Hee eonni sepupunya Sehun sekaligus pacarnya Joonmyun oppa, Chanra adiknya Chanyeol, Nayeon teman dekatnya Kyungsoo, dan kau?” Chaerin tiba-tiba bertanya sambil mengerutkan keningnya, benar-benar merasa penasaran dengan sosok Hana –yang di hari keempat dan kelima baru ikut mereka ke belakang panggung. Kemarin ia belum sempat bertanya karena sibuk mengurus aksi penculikan Jae Hee.

“Aku sahabatnya Taemin oppa dan kau harusnya tahu aku berteman dengan siapa,” Hana menjawab dengan sedikit ketus lalu kembali berkutat dengan ponselnya untuk mengabari Ha Jin dan Jiho.

“Ah, kau pasti temannya Jong In,” balas Chaerin berspekulasi, namun ia rasanya belum puas dengan jawaban Hana. “Hanya teman?”

Ucapan Chaerin terpaksa menggantung di udara ketika Hana mendapat panggilan masuk di ponselnya. Chaerin mengatupkan bibirnya rapat-rapat ketika Hana menjawab telepon itu  dan mendengarkan jawaban bernada sedikit kesal yang dilontarkan Hana kepada sang penelepon.

“Chi oppa, aku bisa pulang sendiri, ara? Nanti aku pulang bersama yang lain kok. Apa? Kau sudah di depan? Ya! Aku belum selesai, oppa!  Kenapa tba-tiba ada di depan? Tunggu sebentar lagi, oppa tunggu di cafe dekat venue saja. Araseo.

Hembusan berat keluar dari bibir Hana setelah memutus sambungan teleponnya dengan Min Kyu. “Ish. Kenapa dijemput lagi sih.”

Oppamu, ya?” tanya Chaerin lagi. Well, ia mulai merasa senang karena Hana memiliki satu kesamaan dengannya. Sama-sama memiliki kakak yang overprotektif. Namun gelengan kepala dari Hana berhasil membuat rasa senang Chaerin kembali hancur berkeping-keping.

“Dia lebih protektif dari kakakku sendiri,” Hana mengendikkan bahu tak acuh. Pandangannya tiba-tiba saja tertuju pada seunghwan yang berjalan di koridor berlawanan arah dengan mereka bersama sepasang suami-istri paruh baya. Sepertinya orang tua dari salahsatu member EXO.

Dan Hana membungkuk singkat pada manajer –sekaligus orang tua itu sebelum melanjutkan langkahnya.

“Oh, siapa mereka?” tanya Chaerin entah pada siapa.

“Mungkin orang tuanya member,” jawab Hana seadanya seraya berbelok di koridor terakhir untuk mencapai ruang ganti. Keempat gadisnya yang lain bahkan sudah membuka pintu, namun tidak berteriak heboh.

Hingga Hana dan Chaerin menyusul masuk ke dalam, menemukan para wanita itu terlihat kaku karena bertemu para orangtua beberapa member. Hana hanya membungkuk dalam dan memperkenalkan diri seadanya sebelum mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang ganti, mencari keberadaan Kai di antara orang-orang yang memenuhi ruangan itu. Hingga matanya menangkap sosok Kai yang sedang duduk bersandar lemas di sofa dengan kedua mata terpejam. Ada sehelai kain yang juga menyelimuti tubuh lelaki itu.

Ternyata dugaan Hana benar tentang Kai yang sedang sakit di hari terakhir konser itu. Sudah dikatakan sebelumnya bahwa Hana terlalu mengetahui semua kebiasaan Kai, termasuk ketika sedang sakit. Lelaki itu selalu membungkuk atau berlutut setiap lagu yang dibawakan selesai untuk meredakan sakit yang menyerang tubuhnya. Namun kembali memaksakan diri hingga konser selesai.

“Dia menggigil,” suara Sehun tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam indra pendengaran Hana. Hana menoleh pada sosok tinggi yang berdiri di sebelahnya. “Tadi orangtuanya datang dan Jong In hanya mengobrol di sofa itu, sepertinya keadaannya semakin parah.”

Ada jeda cukup lama sementara Hana menghembuskan napas panjang sembari memperhatikan Kai.

Gomawo, Sehun-ah,” ujar Hana akhirnya. Gadis itu kemudian melangkah mendekati kekasihnya. Sebelum mendaratkan diri di sofa, Hana berjongkok di depannya untuk melihat punggung kaki Kai yang ditempeli beberapa plester untuk menutup luka. Jantung Hana kembali berdenyut aneh dengan rasa sakit di setiap detakannya.

Hana berdiri dan menghempaskan tubuhnya di samping Kai. “Kkaman?

Tidak terlihat reaksi apapun dari sosok lelaki itu. Hana memperhatikan mata Kai yang membengkak –setelah menangis tersedu tadi. Membuat sudut-sudut bibir Hana tertarik menjadi senyuman tipis. Akhirnya Hana berhasil melewati lima hari yang berat itu di hidupnya. Selama lima hari ini Kai berhasil mengaduk-aduk perasaannya. Apalagi jika mengingat lagu playboy dan baby don’t cry. Rasanya Hana lebih baik menenggelamkan diri saja daripada harus melihat kekasihnya membawakan lagu itu. Ingatkan Hana untuk memberi pelajaran pada Kai setelah lelaki itu sembuh nanti.

“Jong In,” panggil Hana lagi, dengan nada sedikit keras membuat kelopak mata Kai terbuka perlahan. Tangan Hana terulur, memegang kening Kai untuk memeriksa suhu tubuh lelaki itu. Demam.

“Kau disini juga,” Kai menegakkan duduknya lalu mencoba melemparkan senyum pada kekasihnya.

“Kau sakit, kkaman.”

Gwenchana. Aku hanya butuh tidur dan istirahat.”

Hana menghirup napas dalam-dalam ketika melihat Kai hanya tersenyum lemah padanya seperti itu. “Sudah kubilang jangan memaksakan diri kalau akhirnya penyakitmu semakin parah. Aku juga sudah bilang pakai kaus kaki, lihat kakimu lecet-lecet begitu karena langsung bergesekkan dengan sepatu. Kau bilang ingin terus tampil di atas panggung bersama EXO, tapi kau tidak berusaha menjaga diri, kkaman,” ujarnya tanpa jeda.

Kerongkongan Hana tercekat entah kenapa. Ia merasakan kedua matanya mulai terasa panas karena membayangkan Kai yang menahan sakit selama konser hari terakhir berlangsung tadi. “Aku tahu kau tidak mau mengecewakan mereka. Tapi kalau kau memaksakan diri terus dan sakit parah, kau juga akan mengecewakan mereka.

“Hana-ya,” sosok Xiu Min tiba-tiba muncul sambil mengusap bahu Hana, mencoba meredakan emosi gadis itu.

Oppa. Aku tidak tahu harus memberitahunya bagaimana lagi,” Hana mendorong pelan lengan Xiu Min dari bahunya. Dan Hana baru sadar bahwa tatapan orang-orang yang berada di dalam ruang ganti itu tertuju padanya.

“Kau tidak mengerti, Han-ah,” ujar Kai pelan seraya menundukkan kepalanya. “Aku harus memaksakan diri untuk membalas mereka. Mereka sudah menunggu selama ini setelah melewati banyak konflik. Dan mereka tetap ada di sisi EXO, malah semakin banyak. Aku tidak tahu harus  membalas cinta mereka dan berterima kasih dengan cara apalagi selain memaksakan diri untuk membuat mereka senang.”

Keurae. Aku memang tidak mengerti,” Hana semakin merasakan rasa sesak mendesak di kerongkongannya. “Tiga tahun ini aku memang tidak pernah mengerti tentangmu ‘kan?”

“Lee Hana, bukan itu maksudku.”

“Kau semakin terkenal dan sepertinya aku tidak mengerti,” balas Hana cepat seraya beranjak dari sofa itu, mengabaikan Xiu Min yang berusaha memegang bahunya lagi. Hana merasa dirinya jatuh begitu dalam karena ucapan Kai tadi. Tidak mengerti? Katakan bagian mana yang Hana tidak mengerti dari kehidupan Kai selama tiga tahun ini. Oh, mungkin Hana memang tidak mengerti karena bukan seorang idola yang mempunyai banyak fans seperti Kai.

“Han-ah, aku sedang tidak ingin bertengkar, ara? Kita bahas ini nanti. Kepalaku pusing dan pinggangku—.”

“Aku tidak peduli. Aku tidak mau mendengar semua keluhan penyakitmu lagi. Urus dirimu sendiri,” Hana berbalik dengan cepat, memandangi belasan pasang mata yang tertuju padanya lalu melangkah dengan cepat meninggalkan ruang ganti itu. Ia tidak memedulikan teriakan sahabat-sahabatnya di belakang sana dan segera mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Min Kyu.

***

Sungguh. Jika ada hari dimana Kai menyesali semuanya, maka tanggal 15 Maret 2015 itu adalah harinya. Kai tidak tahu kenapa ia tiba-tiba menggigil dan demam sebelum konser dimulai, membuatnya tidak bisa tampil dengan baik untuk para EXO-L yang menunggu di hari kelima. Kai hanya bisa mengungkapkan rasa menyesalnya melalui air mata di encore dan meminta maaf pada ke semua fans yang hadir karena sudah membuat mereka khawatir selama lima hari EXO’luXion berlangsung.

Dan dibalik itu semua, Kai hampir melupakan Hana. Ketika melihat gadis itu di hadapannya dan kembali menceramahinya banyak hal, Kai sadar bahwa selama ini ada sosok Hana yang selalu mendampinginya. Ketika sedang terpuruk atau sakit parah, Hana selalu ada untuk merawatnya dan ia terlalu egois karena hampir tidak pernah mengabulkan permintaan gadis itu. Bagaimana bisa Kai melontarkan kata-kata seperti itu pada Hana?

“Chanra juga seperti itu.”

Suara Tao –yang duduk di sebelah Kai akhirnya memecah keheningan yang terjadi di dalam van selama perjalanan pulang ke dorm. “Dia benar-benar marah saat aku cedera di recording pertandingan basket waktu itu. Kau tahu kalau aku memaksakan diri untuk terus bertanding karena tidak mau mengecewakan banyak orang. Dan Chanra sepertinya memang pantas untuk marah. Apalagi cedera dari pertandingan itu membuatku tidak bisa tampil banyak lagu di konser.”

“Kadang mereka ada benarnya juga sih,” Sehun ikut membuka suara walaupun kedua matanya terpejam. Lelaki itu duduk di bangku tengah bersama Suho. “Hana takut kalau mimpimu berhenti di tengah jalan karena akar masalah yang sepele. Memaksakan diri itu kadang memang perlu, tapi kau terlalu sering menyiksa dirimu sendiri, Jong In. Kalau aku jadi Hana, aku juga pasti akan memarahimu seperti tadi.”

“Aku tahu batas terendah tubuhku sendiri, Sehun-ah. Kalau masih bisa berdiri di atas panggung, aku akan melakukannya. Toh kalau benar-benar sakit, aku juga tidak akan naik ke panggung seperti hari pertama konser,” jawab Kai tak mau kalah. Rasa pusing di kepalanya mulai hilang setelah meminum obat sebelum pulang.

“Kita semua memang seperti itu, Jong In,” sahut Suho seraya menolehkan sedikit kepalanya ke belakang –untuk melihat Kai yang tengah bersandar pada kaca van. “Kita selalu memaksakan diri kalau masih kuat. Masalahnya, kalau kau sakit, Hana pasti yang pertama datang ke dorm untuk mengurusimu. Uri dongsaeng sangat khawatir, pasti dia yang paling ribut diantara kita semua.”

“Dia marah karena ucapanmu tadi,” lanjut Sehun masih dengan mata yang terpejam. “Kau bilang Hana tidak mengerti, padahal Hana yang paling mengerti Kim Jong In sejak EXO belum terbentuk.

Sekarang Kai benar-benar merasa terpojok. Kepalanya kembali berputar saat mengingat masa-masa awal perkenalannya dengan Hana di pertengahan tahun 2011 silam. Bagaimana sikap menyebalkan Hana ketika dikenalkan oleh Taemin padanya. Gadis itu masih berusia 17 tahun dan benar-benar kekanakkan karena selalu merengek pada Taemin. Ketika Taemin semakin sibuk dan pindah sekolah, Hana akan datang ke gedung SM untuk menunggu Taemin. Dan Taemin akan meneleponnya, menyuruhnya menemani Hana sampai lelaki itu datang.

Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Tiga tahun yang lalu sebelum EXO debut, Hana akan selalu datang ke ruang latihan dan menemani EXO –sambil menunggu Taemin tentu saja. Walaupun awalnya Hana menyukai Baekhyun, pada akhirnya gadis itu jatuh dalam pesonanya juga. Dan Kai tidak pernah merasa menyesal bisa memiliki Hana.

“Jong In?” panggilan dari Suho berhasil menarik Kai kembali ke alam sadarnya. “Kau tidak bosan dengan Hana ‘kan?”

Kai melirik member lain yang mulai terlelap sementara hanya dirinya di bangku belakang dan Suho di bangku tengah van yang masih terjaga. “Anhi. Aku hanya sedang bingung.”

“Bingung?”

Molla. Aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri, hyung.”

***

March 18th, 2015

08.00 AM KST

Hana’s apartment.

Sudah tiga hari berlalu semenjak pertengkarannya dengan Kai di belakang panggung EXO’luXion dan Hana berusaha mengabaikan dorongan dalam dirinya untuk menghubungi Kai lebih dulu. Toh Kai juga tidak berusaha menghubunginya. Sebenarnya Hana bukan tipe seorang wanita yang pendendam atau mudah sakit hati, namun ia merasa bahwa Kai sedikit keterlaluan kemarin. Ia akan menunggu sampai Kai muncul di apartemennya.

Hana menatap piring sarapannya dalam diam. Sudut matanya sesekali melirik Min Kyu yang sedang membuat pancake untuk sarapan mereka. Lelaki itu sudah datang di pagi hari –setelah lari pagi— dan datang ke apartemennya sambil membawa bahan-bahan untuk memasak. Kadang Hana berpikir kenapa Min Kyu selalu datang di saat ia sedang bertengkar dengan Kai. Beberapa kali dalam kasus pertengkarannya, ia selalu menghabiskan waktunya bersama Min Kyu.

“Na-ya.”

Suara berat Min Kyu menyadarkan lamunan pagi Hana. Lelaki itu meletakkan satu piring pancake yang sudah dihiasi es krim vanilla dan sirup strawberry di hadapannya. Membuat mood Hana sedikit lebih baik pagi itu.

Gomawo, oppa,” ujar Hana seraya menyunggingkan senyumnya lalu mulai menyantap sarapan itu dalam diam. Sementara Min Kyu juga hanya menyantap sarapan di seberangnya.

“Kau kuliah jam berapa?” tanya Min Kyu, membuat Hana mengangkat kepalanya.

“Jam 1,” jawab Hana lalu segera menyambung perkataannya sebelum Min Kyu membalas. “Dan aku mau berangkat sendiri, oppa.

Wae? Aku antar saja, Na-ya.”

Andwae. Chi oppa, aku mau berangkat sendiri,” Hana mulai merengek ketika melihat Min Kyu menggelengkan kepala menolak spekulasinya.

“Aku mulai masuk kerja minggu depan. Jadi sebelum sibuk, aku mau menghabiskan seminggu ini denganmu, araseo? Aku akan jadi supirmu selama satu minggu.”

Masih alasan yang sama dan Hana pada akhirnya tidak bisa menolak permintaan Min Kyu. Hana hanya menghela napas panjang dan kembali melanjutkan kegiatan sarapannya dalam diam.

.

.

12.45 PM KST

Seoul Institute of Arts

Mobil Min Kyu mulai memasuki pelataran gedung broadcasting bersama beberapa mobil lainnya. Lelaki itu memarkirkan mobilnya sementara Hana sibuk melepas seatbeltnya sendiri. Tepat ketika mobil Min Kyu berhenti, Hana segera membuka pintu mobil dan turun lebih dulu. Namun Min Kyu tak kalah cepat dengan ikut turun juga dari mobil.

Oppa mau kemana?” tanya Hana heran ketika melihat Min Kyu sudah berdiri di depan kap mobil sementara ia baru saja menutup pintu mobil.

“Mengantarmu sampai kelas.”

Ya! Kenapa harus sampai kelas?” protes Hana seraya menghampiri Min Kyu.

“Memangnya kenapa?” tanya Min Kyu –sok polos sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan memperhatikan beberapa mahasiswi yang sesekali melirik ke arahnya.

Hana memutar bola matanya malas. “Jangan tebar pesona di kampusku.”

“Aku tidak akan tebar pesona, ara? Cepat jalan,” Min Kyu akhirnya mendorong kedua bahu Hana dari belakang dan mengabaikan teriakan protes dari gadis itu.

Tangan Min Kyu masih betah mendorong tubuh Hana memasuki lobi gedung, ia segera mengubah posisi tangannya –menjadi merangkul gadis itu. Hana berusaha berontak, namun bukan seorang Min Kyu jika tidak keras kepala. Min Kyu tetap merangkul bahu Hana dan tidak mengacuhkan tatapan hampir seluruh mahasiswa broadcasting yang berada di lobi gedung.

“Kelasmu dimana?” tanya Min Kyu seraya menoleh ke arah Hana –yang sedang memberengut kesal.

“Tidak tahu,” jawab Hana ketus.

“Cepat beritahu atau kau telat masuk—.”

“Lee Hana?” seorang wanita tiba-tiba saja menghentikan langkah Min Kyu dan Hana. Wanita berambut panjang itu melirik ke arah Min Kyu dan membuat Hana melepaskan diri dengan cepat.

Hana merapikan rambutnya seraya berdehem pelan. “Oh, annyeong, Chaerin-ssi.

Keadaan sempat hening beberapa saat dan Hana masih berusaha menyunggingkan senyum termanisnya pada Chaerin. Chaerin terus memperhatikannya –dan Min Kyu lalu mengendikkan bahu tak acuh. “Kurasa kau benar-benar temannya Jong In.”

“Err, sepertinya aku harus masuk kelas sekarang. Annyeong, Chaerin-ssi, Chi oppa,” Hana membungkuk singkat lalu segera berjalan cepat meninggalkan keduanya. Kedua mata Hana terpejam erat, memikirkan Chaerin –yang memergokinya sedang bersama Min Kyu. Mungkin tidak apa-apa karena Kai dan member EXO lainnya sudah tahu mengenai Min Kyu.

Bangku di kelas mata kuliah pagi itu sudah hampir sepenuhnya terisi. Hana memasuki kelas sambil mengitarkan pandangannya ke seluruh sudut kelas, mencari celah bangku kosong untuk duduk. Beberapa wanita terlihat melihat ke arahnya dengan aneh sambil berbisik-bisik. Hana mencoba mengabaikan itu dan segera mengambil bangku yang tersisi di paling belakang. Sebelum dosen datang, Hana membuka ponselnya kembali untuk mengecek Katalk. Namun yang didapatnya malah pesan bertubi-tubi yang muncul di LINE dari grup bersama sahabat-sahabatnya.

‘YA! Lee Hana! Teaser pacarmu sudah keluar!’

Yang Hana lakukan selanjutnya yaitu membuka aplikasi youtube dan segera mencari video kekasihnya dari channel SM. Tangannya belum sempat mengklik video berjudul Pathcode itu ketika suara dosen yang memasuki kelas menghentikannya. Hana mengumpat dalam hati, mengeluarkan aplikasi youtube itu lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Ia harus melihat video itu setelah kuliah selesai. Harus.

***

09.12 PM KST

EXO’s dorm

Seluruh member EXO itu baru saja mendarat di dorm kurang dari setengah jam yang lalu. Beberapa member terlihat sibuk menghangatkan makanan, Tao memilih mandi, Baekhyun  bersandar malas di sofa sambil memainkan ponsel, sementara Kai lebih suka mengistirahatkan diri di kamar. Berbaring di kasur sambil memainkan ponselnya.

Jemari Kai mengetuk-ngetuk layar ponsel sementara pikirannya menimbang-nimbang untuk mengirim pesan pada Hana atau tidak. Harusnya ia meminta maaf secepat mungkin, namun lagi-lagi ia merasa ragu. Dua hari lagi ulang tahun kekasihnya dan ia sebenarnya sedikit mengerjai Hana juga. Tapi di sisi lain ia ingin tahu kabar Hana malam itu.

Aish, ottohke,” Kai menggigit bibir bawahnya sambil berguling frustasi di atas tempat tidur. “Ah, instagram.”

Kai sungguh berterima kasih pada Chanyeol yang baru saja membuatkan akun instagram untuknya. Tanpa basa basi, Kai membuka aplikasi instagram di ponselnya dan mencari akun milik Hana. Tidak butuh waktu lama untuk menampilkan akun milik kekasihnya. Kai langsung mengubah posisinya menjadi duduk begitu mendapati foto terbaru dari Hana. Dan senyum geli langsung menghiasi bibir Kai ketika membaca caption dari foto itu.

instagram1

Cish, neo jinjja.

Rasa lega sedikit merayapi hati Kai sebenarnya. Hana tidak benar-benar marah karena tetap mau melihat teasernya yang keluar hari itu.

“Jong In,” suara Baekhyun dari arah pintu membuat Kai mengangkat kepalanya. “Kyungsoo menghangatkan beef tripe tadi siang. Ayo makan.”

“Aku datang, hyung,” Kai hanya mengunci layar ponselnya sebelum beranjak turun dari tempat tidur dan berjalan cepat ke ruang tengah.

“Woah, dagingnya masih banyak,” pekik Tao dari arah meja makan sambil mengambil beberapa potongan daging ke mangkuknya. Padahal lelaki itu baru saja keluar dari kamar mandi.

Ya! Jangan banyak-banyak!” protes Kyungsoo, namun Baekhyun, Tao, Chanyeol, dan Chen tampak tidak memedulikan teriakan Kyungsoo dan mengambil daging sebanyak-banyaknya ke dalam mangkuk.

Kai menyelinap di meja makan, mengambil mangkuk kosong yang sudah disediakan dan ikut memperebutkan daging. “Ya! Ya! Aku juga mau!”

Sementara Kyungsoo hanya menghembuskan napas panjang seraya berlalu dari meja makan. Sepertinya ia akan membuat ramyeon saja malam itu agar tidak harus berebut dengan member lain. Atau jika tersisa, ia akan menambahkan beef tripe itu ke dalam ramyeonnya.

Kemudian kelima member yang tadi ribut memperebutkan daging, kini duduk tenang di meja makan sambil menyantap makanan mereka masing-masing. Sesekali Tao berusaha mengisi mangkuknya kembali dengan daging –padahal mangkuknya belum benar-benar habis— dan berhasil mendapat pukulan ringan dari Baekhyun.

“Habiskan dulu baru ambil lagi,” protes Baekhyun. Dan Tao hanya mengerucutkan bibir seraya melanjutkan makannya lagi.

Hyung,” panggil Kai tiba-tiba membuat keempat laki-laki di meja itu menoleh ke arahnya. “Lusa Hana ulang tahun.”

“Ah, matda! Aku hampir lupa,” sahut Chen cepat.

“Kau sudah menyusun rencananya?” tanya Chanyeol antusias seraya menyuapkan besar-besar potongan daging ke dalam mulutnya.

Kai menggeleng pelan. “Aku bingung. Kado apa yang bagus untuk Hana?”

“Bunga, boneka, kalung, bantal, atau album baru EXO juga bagus,” jawab Baekhyun seadanya. “Atau kiseu. Dia tidak akan dapat itu dari orang lain.”

Hyung -.-,” Kai melirik Baekhyun dengan tatapan datar sementara Baekhyun hanya terkekeh pelan.

“Dia ikut kedewasaan ‘kan tahun ini?” Suho tiba-tiba ikut bergabung di meja makan, mengambil potongan daging dari mangkuk Chanyeol lalu duduk di sebelah laki-laki itu.

Ne. Aku tidak tahu harus membeli apa untuk Hana,” Kai menghela napas pasrah sambil menyuapkan daging dengan tidak selera ke dalam mulutnya.

“Tidak harus beli juga, Jong In,” ujar Tao lalu mengulum senyumnya seraya melirik Baekhyun. “Aku setuju dengan Baekhyun. Kau bisa memberikan kiseu untuk Hana, dia pasti senang.”

“Hana itu beda dengan Chanra. Kalau Chanra senang, Hana bisa memukulku tanpa ampun,” balas Kai dan sontak mengundang tawaan geli dari member  yang berada di meja makan itu.

“Astaga. Apa yang kalian lakukan selama tiga tahun ini kalau kiseu saja bisa dapat pukulan dari Hana?” tanya Chanyeol heran masih sambil tertawa geli.

“Hanya aku dan Hana yang tahu,” jawab Kai singkat –dengan ekspresi datarnya lalu melemparkan tatapan memohon pada Suho.

“Kau saja kadonya, Jong In,” ucapan Suho sontak membuat orang-orang di meja makan itu terdiam. Menatap aneh ke arah sang leader yang tiba-tiba melontarkan jawaban diluar dugaan. “Ya! Jangan bayangkan yang tidak-tidak!”

“Apa kau menyuruh Kai dan Hana melakukan ‘itu’?” tanya Chen geli sambil menaik-turunkan alisnya.

Ya! Bukan itu!” protes Suho, ia mulai merasakan rasa panas menjalari wajahnya. “Hana pasti senang kalo kadonya menyangkut dirimu, Kim Jong In.”

“Aku?” tanya Kai heran seraya menunjuk dirinya sendiri.

“Waktu adalah kado paling berharga,” Suho melanjutkan penjelasan mengenai ucapannya tadi. “Sebelum kita semakin sibuk nanti, berikan waktumu untuk Hana sebanyak mungkin. Atau berikan kado yang tidak mudah dimakan waktu. Yang bisa membuat Hana senang walaupun hanya mengingatnya saja.”

“Woah, daebak,” Tao dan Baekhyun bertepuk tangan menanggapi ucapan Suho. Sang leader itu kembali berkata bijak dan berhasil membuat member di meja makan terperangah.

“Jae Hee benar-benar daebak,” lanjut Chanyeol.

Sementara Kai mengabaikan keributan yang mulai muncul di meja makan dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Mengulang-ulang ucapan Suho mengenai kado untuk Hana. Seulas senyum tiba-tiba terulas di bibir Kai saat mengingat rekaman lagu untuk album baru EXO. Sekarang ia tahu kado apa yang cocok untuk Hana.

Sekarang hanya tinggal menyusun rencana saja.

“Tapi Jong In. Tanggal 20 nanti, kita harus ke Taiwan.”

Mwo?”

-CUT-

XOXO

INDAYLee’s staffs

Ima’s note :

holaaa, long time no update hihi

ini masih lanjut loh di part  2 /diprotekEHEM/

gimana kelanjutan pesta ultahnya hana haha

leave comment yaa,

maafin aku bilang chaerin nenek sihir disini wkwk

abis dia galak huweee

Aku gangerti kenapa Kai makin alay kesininya

Bikin makin cinta wakakak

udah yaa

annyeong~~

Regards,

IMA♥

113 thoughts on “[KaiNa Piece] That Words (1)

  1. Miqo_teleporters says:

    kan jonginnya kan gitu agi huft gak ngehargain hana banget. tapi tadi yang jongin bilang “bingung” di backsatge itu ingung buat kejutan buat hana kan? arghhh dasar si kkamjong

  2. dyndrakm says:

    Ahhh jongin siapa yg ga khawatir kl dia selalu maksaain dirinya gitu. ;((( cipok nih ahwmwkw hana panteslah marah gtu ckck disini chaerin agak galak gitu ya emg wkwkwk pengen tau gimana kl lg ama sehun dia wkwk minkyu kenapa tiba2 ada lg awas aja kl jongin sm hana break lg nangis ntr aku.. Lucu bgtdeh itu hana ngepost di ig nyawkwkwkw lucu abis>< itu juga bentar lg hana ultah, semangat jongin ngerencnain surprisenya! Lanjut terus kak ima keep writing kaina piecenya!!:)

  3. handayaniwidya0 says:

    kadang aku mikir.. hidup mereka KERAS. hadeeh
    Ga tega mbayangin jongin sakit kaya gitu hufth.
    Minkyu selalu hadir di saat Kaina lg panas ya.. hehe
    kira2 hadiah buat ultah hana apa ya??waaaa jd penasaran^^
    lanjut baca ya ima

  4. Khyunpawookie says:

    Sedih klo liat Kai y wktu itu kliatan kurng fit hmzzzz entah yh dluar apakah dy sehat apa gk tp aq sbg fansnya bner2 dilema…
    Saat aq pngen liat dy trus d dpan tv tp sbnernya ksian jg klo trus d push mrka kan bkan robot kan hmzzzz tp klo 1 hri ajj gk liat penampilan mrka kngeN jg kan…
    Uhuhuhuhuhu aq bner2 gk nyangk bsa baca se antusias ne sma crta KaiNa hahahahahah dr kesel, jengkel, gemes, seneng, bunga2, ampe sedih d lewati dr tiap chapnya… Gk nyangka ajj hahahahah ternyata tulisan kak IMa bner2 dehhh JJang !!!!!!!!!

  5. syafirasl says:

    Masih bingung chaerin itu siapa.. /lupa sebenernya/
    Yahh pas hana ulang tahun jongin malah ke taiwan..
    Penasaran sama kadonya kkk~

  6. DellaF says:

    Jadi inget waktu kai cederaTT Huhu
    Hana pasti sedihh,padahal cuman salah paham
    Tapi tetep baper bangettt huwaa
    Rada sebel sama chaerin sih wkwkw
    Keren bangettt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s