.:JunHee Veiled:. Inelegant

16231895433_24b1bb7fc6_o

Inelegant || JunHee Universe, Romance, Family, Friendship || Oneshot || PG15

EXO Suho / Kim Joonmyun || Oh Jaehee / (OC) || EXO || IDL Girls

© neez

-Sambungan JunHee Veiled White Day

.

.

.

”Kita ke dorm?”

   Joonmyun menatap Jaehee bingung, alis tebalnya nyaris menyatu. Mengingat ini sudah pukul dua pagi, dan mereka mau kembali ke Seoul. Untuk apa Jaehee masih mau main ke dorm? Membernya juga mungkin sudah mendengkur kelelahan.

   ”Lho, memang kau masih mau pergi?” Jaehee balas bertanya bingung sambil mengenakan sabuk pengamannya.

   ”Pergi kemana? Kita kan mau pulang.”

   ”Lho, iya berarti ke dorm lalu aku pulang,”

   ”Lalu kau pulang dari dorm mungkin pukul empat pagi sendirian, begitu?” Joonmyun balas bertanya, suaranya dingin, merinding. Dia tidak habis pikir, mana mungkin Jaehee bisa benar-benar berpikir kalau dia akan membiarkan gadis itu pulang sendirian dini hari begini?

   Jaehee mengernyit tidak mengerti. ”Lalu? Kita akan kemana?”

   ”Pulang ke apartemenmu, tentu.” Joonmyun memundurkan Audi R8 Spyder hitam Jaehee dan mulai memacu convertible itu dengan kencang. ”Keundae, aku tidak tahu kau ganti mobil,” kekehnya. ”Ini kencang sekali.”

   Jaehee memutar kedua matanya, ”Jangan ngebut-ngebut, ini mobil baru Appa sementara mobilku di servis. Appa bilang atas namaku, tapi aku lebih suka X5, lebih lega… ini sempit.”

   ”Apa aku beli ini saja ya?” gumam Joonmyun.

   ”Terserah,” Jaehee bersandar. ”Tapi, Myeonie, kalau kau ke apartemenku dulu… lalu kau pulang naik apa?”

   ”Memang untuk apa aku pulang? Besok saja dari apartemenmu aku langsung ke venue.”

   ”Memang kau bawa baju?”

   ”Itu ada di ransel,” Joonmyun mengedikkan kepalanya ke belakang.

   Jaehee menghela napasnya dan bersandar, ”Tidak bisakah kau pulang saja? Jinjja, bukannya aku tidak mau kau ke rumahku. Tapi rumahku benar-benar sedang berantakan.”

   ”Oh ya?!” Joonmyun membelalakkan matanya kaget. Setahunya, meski Jaehee juga bukan gadis yang neat freak macam Minseok, tapi Jaehee tidak seslebor dirinya. Rumahnya selalu terlihat teratur. ”Memang seberantakan apa?”

   ”Benar-benar berantakan, Myeonie, aku tidak menyarankan kau menginap di rumahku malam ini.”

   ”Shireo. Lagipula di dorm juga semua sudah tidur.”

   ”Tapi kan setidaknya kamarmu nyaman dan kau bisa tidur dengan enak. Aku jamin kau akan stress kalau mampir ke rumahku…” desah Jaehee tetap berusaha membujuk Joonmyun.

   Joonmyun menggeleng. ”Tidak! Memang ada apa sih di rumahmu sampai kau tidak mengizinkanku kesana?”

   ”Tidak ada apa-apa, tapi berantakaaaaan…”

   ”Tak apa kalau hanya begitu, seberantakan apa sih…”

   Tapi nyatanya Jaehee memang terlihat begitu enggan untuk mengajak Joonmyun masuk ke dalam apartemennya, meski mereka berdua sudah berdiri bersisian di depan pintu apartemen Jaehee. Joonmyun mengernyit melihat sikap kekasihnya itu. Apa lagi yang disembunyikannya? Mereka sudah berbaikan, mereka menghabiskan waktu berdua dengan bercanda dan berbincang-bincang. Biasanya Jaehee paling tidak suka melihat dirinya kelelahan, dan pasti memaksanya istirahat di apartemennya saat Joonmyun berkeras pulang.

   Tapi saat ini, Joonmyun merindukan kekasihnya itu. Ia masih ingin menghabiskan waktu berdua dengannya, meski dalam tidur. Kenapa kekasihnya itu justru nampak tidak begitu menginginkannya?

   ”A…aku sudah bilang bahwa akan sangat berantakan, oke?”

   ”Oke,” Joonmyun mengangguk, dengan nada bosan. Lalu memperhatikan kombinasi angka baru yang ditekan oleh Jaehee. 1111.

   Bunyi beep yang khas, penanda bahwa pintu sudah menerima pass lock yang dimasukkan empunya terdengar. Dan Jaehee, masih dengan enggan, menarik tuas pintu sebelum mendorongnya terbuka dan menampilkan, ruangan apartemennya yang benar-benar membuat Joonmyun tercengang!

   Amat sangat tercengang.

   Yang ia kira berantakan, tidak seperti ini. Ini semacam… apa Jaehee yakin tidak memasang bom di apartemennya? Batin Joonmyun sambil menelan ludahnya melihat ke dalam apartemen yang cukup mewah untuk ditinggali hanya satu orang saja itu.

   ”Aku kan sudah bilang,” Jaehee menghela napas, meski lebih mirip mengeluh.

   Joonmyun meletakkan ranselnya di sofa Jaehee, yang dipenuhi bungkusan makanan, remah-remah chips dan memandang berkeliling. Jadi selama sebulan ini gadis itu mengurung diri, ini yang terjadi. Pandangan Joonmyun teralihkan pada sebuah asbak kristal yang terletak di lantai dengan puntung rokok yang tak terbayangkan banyaknya, dan abunya yang berserakan.

   Jaehee sendiri sudah berlari ke dalam kamar dan meletakkan tasnya disana. Ia keluar sambil menguncir tinggi rambut panjang ala Cheon Songyi-nya tersebut dan sepertinya baru mulai mau beberes.

   ”Kau benar-benar… ini Titanic hancur,” gumam Joonmyun.

   ”Aku kan tadi sudah bilang padamu bahwa apartemenku berantakan. Aku tidak bohong kan?” tukas Jaehee kesal.

   Joonmyun berjongkok dan meraih asbak berisi puntung rokok, ”Berapa banyak kau merokok dalam sehari, Jaehee-ya?”

   ”Aish!” diraihnya asbak itu dengan kasar dari tangan Joonmyun dan dibawanya, dengan langkah kaki yang menghentak ke arah pantry. Joonmyun bisa mendengar suara plastik sampah yang berkeresak keras, mungkin Jaehee tengah membuang puntung-puntung rokok tersebut. ”Kau tidur sana duluan! Aku mau beres-beres!”

   Joonmyun tidak menjawab, masih memperhatikan keadaan sekitar. Berusaha ia cerna, dan ia terka apa yang selama ini Jaehee alami, selama mereka tidak saling bertemu. Dan Joonmyun tidak mengerti sedikit pun dengan apa yang ia lihat di sekelilingnya saat ini.

   Jaehee marah. Iya, karena pertengkaran mereka yang tidak penting. Tapi kenapa sepertinya gadis itu begitu frustasi? Bungkusan makanan, remah-remah makanan. Joonmyun bahkan bisa mencium sedikit aroma alkohol dari bantal-bantal sofa yang empuk, dan karpet yang ketumpahan makanan. Satu lagi, aroma asap rokok yang lengket dan menyengat.

   Bukankah, ini lebih mirip seperti keadaan orang patah hati? Pikirnya. Kenapa Jaehee harus melakukan semua ini? Batinnya heran. Sambil melangkah ke arah jendela, ia buka lebar-lebar jendela-jendela di ruang tengah apartemen itu. Gadis ini butuh udara segar.

   ”Kubilang kau tidur sana duluan.” Jaehee kembali ke ruang tamu, dibalut dengan celemek pink, dan sarung tangan pink.

   ”Tidur saja, bereskannya besok saja. Kau juga lelah, Sayang.”

   ”Tapi aku tidak bisa tidur dengan memikirkan ada orang yang melihat apartemenku begini!” sahutnya gusar.

   Joonmyun menggulung lengan sweater-nya, ”Kalau begitu aku bantu. Dan jangan membantah!”

   Bersungut-sungut. Karena tahu Joonmyun tidak bisa di bantah, dan ia tidak mau kompromi soal bersih membersihkan apartemen, Jaehee akhirnya membiarkan Joonmyun ikut merapikan apartemennya, yang untungnya hanya kotor karena bekas makanan.

   ”Ayo tidur,” Joonmyun mengajaknya.

   Jaehee melepaskan celemeknya dan sarung tangan kerja sambil melepaskan ikat rambutnya, mengikuti Joonmyun yang sudah lebih dulu ke dalam kamar. Kamar Jaehee juga berantakan. Seprainya acak-acakan, bantal gulingnya bergelimpangan, dan barang-barangnya tidak tertata rapi.

   ”Kau mau tidur disini? Atau dikamar tamu? Lebih rapi,” gumam Jaehee sambil membuka lemarinya.

   Joonmyun menatap Jaehee tajam, ”Ya disini!”

   ”Kalau begitu aku mau mandi dulu, kau kalau mau pakai kamar mandi, di kamar mandi luar saja.”

   Blam.

   Pintu kamar mandi menutup, meninggalkan Joonmyun yang menatap keheranan dan akhirnya mulai merapikan tempat tidur dan barang-barang Jaehee. Ia merasa ada yang aneh. Ada yang janggal!

   Kenapa Jaehee harus terlihat ’seberantakan’ ini kalau dia marah padanya? Ada yang kurang. Ada yang mengganjal disini. Menggelengkan kepalanya, Joonmyun meraih tasnya, yang ia bawa sekalian ke kamar, dan mengeluarkan perlengkapan mandinya sebelum meraih handuk dari dalam lemari Jaehee.

   Lemari itu sedikit kosong. Dan hal itu juga mengganjal. Sempat berpikir bahwa Jaehee pergi meninggalkan apartemennya selama beberapa lama, namun ketika ia berjalan masuk ke kamar mandi luar, ia melihat gunungan cucian kotor yang menumpuk menunggu di cuci.

   ”Astaga, anak itu~” geleng Joonmyun sambil mendekati wastafel dan memulai rutinitasnya sebelum tidur.

   Setelah Joonmyun selesai mencuci mukanya, melakukan sedikit perawatan wajah, dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur yang ia tinggalkan di apartemen Jaehee, Joonmyun kembali ke kamar sambil menyalakan pendingin ruangan. Di saat yang bersamaan Jaehee keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut setengah kering, mengenakan kaus putih kebesaran dan celana pendek.

   ”Kau membersihkan kamarku?” tanyanya kaget mendapati bahwa kamarnya jauh lebih rapi dibandingkan ketika ia tinggalkan tadi.

   ”Hmm,” Joonmyun menjawab singkat sambil menyalakan lampu tidur, dan mematikan lampu kamar utama. Memperhatikan Jaehee yang meletakkan handuknya di gantungan sebelum berjalan ke sisi ranjang satunya dan membuka selimutnya seraya berbaring, membuat nyaman dirinya.

   Yang benar saja!? Pikir Joonmyun.

   Jaehee melirik kekasihnya yang mematung dengan tampang sedikit mengernyit di sisi tempat tidurnya yang lain dengan heran, ”Kenapa?” tanyanya bingung.

   ”Ani, kau tak melupakan sesuatu?”

   Jaehee mengangkat alisnya, ”Apa?”

   ”Lupakan saja,” jawab Joonmyun pasrah dan ikut membuka selimut di sisi tempat tidur lainnya, dan merebahkan tubuhnya. Ia baru menyadari betapa lelahnya dia begitu merasakan kasur empuk Jaehee menyambutnya. Ia bisa mendengar gadis itu menguap sebelum memiringkan tubuhnya.

   Memunggunginya!

   Oke, ini benar-benar aneh! Benar-benar ada sesuatu yang salah disini, batin Joonmyun.

   ”Jaehee-ya.”
”Hmm,” sahut Jaehee dengan suara amat sangat mengantuk.

   ”Kau benar-benar tidak melupakan sesuatu?”

   ”Apa?” Jaehee menoleh, ”Memang aku menyalakan kompor?” tanyanya dengan polos.

   Joonmyun menghela napas dalam-dalam, menggeleng. ”Tidak, kau tidak menyalakan kompor.”

   ”Lalu?”

   Joonmyun tidak menjawab.

   ”Lalu apa Kim Joonmyun?” tanya Jaehee tak sabar.

   ”Diamlah, tidurlah…” sahut Joonmyun, dengan satu tangan diraihnya tubuh Jaehee ke dalam pelukannya. Ia bisa merasakan tubuh itu menegang, dan ia tahu Jaehee sedikit berjengit akan sentuhannya. Dengan hati yang serasa hangus terbakar, ia mencoba meredakannya.

   Mungkin Jaehee hanya kaget. Karena gadis itu tidak menolak pelukannya.

   Tetapi, Jaehee tetap diam, dan mulai tertidur. Satu hal yang aneh, yang terus mengganjal hati Joonmyun, meski ia terus berusaha mengenyahkan berbagai pikiran buruk yang merasukinya.

   Jaehee tidak pernah menolak pelukannya.

   Jaehee tidak pernah kaget saat ia menyentuhnya.

   Jaehee tidak pernah memunggunginya ketika tidur.

   Dan Jaehee tidak pernah lupa menciumnya.

   Dan semua itu, tidak gadis itu lakukan hari ini.

*           *           *

15 Maret 2015

EXO’luXion Day 5

.

.

”Jadi, kalian sudah berbaikan?”

   Joonmyun memberikan Minseok senyum miringnya dan mengangguk.

   ”Baguslah kalau sudah beres. Kami tidak perlu melihatmu stress berkepanjangan lagi.” Ledek Minseok sambil mengenakan mikrofon kepalanya karena sebentar lagi mereka akan naik ke atas panggung, untuk konser hari terakhir EXO’luXion di Seoul Gymnastic Stadium.

   Awalnya, Joonmyun ragu-ragu untuk mengatakannya, tetapi ia tak menyangka kata-katanya keluar begitu saja, ”Tapi ada yang aneh, Minseok-ah.”

   ”Apalagi? Bukankah kalian sudah berbaikan?” tanya Minseok dengan kedua alis yang bertaut, menandakan bahwa ia keheranan.

   ”Iya, kami sudah berbaikan. Aku bahkan ikut mobil Jaehee kesini tadi, sebelum diturunkan di dekat ujung jalan dan naik taksi agar orang tidak menyangka yang aneh-aneh kalau Jaehee mengantarkanku kesini. Tapi, yang mau kukatakan aneh bukan itu…”

   ”Lalu?”

   Joonmyun menggigit bibirnya sebelum menjilat bibirnya cepat, ”Ada yang aneh pada Jaehee, jeongmal.”

   ”Apa?”

   ”Entahlah, kami tidak banyak bertengkar semalam. Aku bertanya kenapa dia menghindariku, dan dia hanya… minta maaf sambil menangis, dia bilang dia salah. Dan selesai!”

   Minseok menelengkan kepalanya, ”Aneh.”

   ”Iya, aneh kan. Kalau dia memang marah seharusnya dia tidak semudah itu memaafkanku, maksudku… bukannya aku mau masalah ini di perpanjang, tapi setidaknya aku tahu apa yang membuatnya menjauhiku sampai seperti itu. Tetapi tidak ada.”

   Minseok mengembuskan napasnya kuat-kuat, ”Pacar-pacar kalian itu aneh, tahu tidak? Ckckckckck, ada saja tingkah polahnya.” Minseok kemudian malah meletakkan kedua tangannya di pinggang, ”Tahu tidak? Terkadang aku bersyukur, aku masih belum memiliki kekasih sekarang. Karena melihat kalian bermasalah dengan pacar kalian saja aku sudah stress melihatnya.”

   Joonmyun tertawa.

   ”Tapi ya, kalau kalian lagi baik-baik dengan pacar kalian, aku juga yang jadi korban karenanya,” Minseok merengut, membuat wajah pria yang sebenarnya sudah di atas dua puluh lima tahun itu semakin muda saja. ”Tapi, Suho-ya, sudahlah kalau Jaehee sendiri sudah tidak mau mempermasalahkan persoalan kalian, ya sudah. Mungkin nanti ada waktunya untuk di bahas. Daripada kalian bertengkar lagi, sudah cukup pening kepalaku memikirkannya.”

   ”Oh,” Joonmyun juga berpikir bahwa itulah yang harus ia lakukan. Ia tidak tahan jika harus menjalani satu bulan ke depannya tanpa Jaehee lagi. Apalagi comeback mereka sudah di depan mata. Joonmyun ingin merasakan apa yang dirasakan membernya yang lain, yang telah memiliki kekasih disaat comeback. Dukungan dan perhatian penuh dari mereka.

   Seorang staff dengan headphone dan membawa clipboard masuk ke dalam kamar ganti dan berkata, ”EXO, stand by, 10 menit!”

   ”Kaja!”

*           *           *

Stand Lay Fan Union

Seoul Gymnastic Stadium

”Terima kasih, Zhang Yixing manhi saranghae juseyo.” Yuri membungkuk pada pembeli terakhir di stand milik mereka. Cheering pack Yixing sudah terjual, dan hanya menyisakan sedikit stock, juga beberapa cheering towel milik Yixing yang di desain khusus oleh fansite mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul empat kurang sepuluh menit, dan sudah banyak sekali penggemar yang tadinya memadati halaman Seoul Gymnastic Stadium masuk ke dalam venue, karena tepat jam empat nanti, konser hari terakhir EXO’luXion akan dimulai.

   ”Sudah, kita tutup saja. Sudah mau mulai konsernya,” kata Jaehee pada ketiga adiknya, yang menyambut semangat ucapannya dan segera memasukkan kembali perlengkapan yang mereka bawa, untuk dibawa ke dalam mobil Miho, karena mobil Jaehee terlalu kecil.

   ”Apa nanti pulang konser kita ke rumah Eonnie?” tanya Sujin sambil melipat banner besar bertuliskan Lovelyixing.com dan memasukkannya ke dalam tas besar yang ia bawa.

   Jaehee yang sedang menyiapkan peralatan ’tempur’-nya menoleh dengan bingung, ”Hah? Ngapain?”

   ”Lho, kan biasanya kalau selesai konser, kita selalu bertemu dan membicarakan hasil foto hari ini. Eonnie lupa ya? Terlalu lama cuti sih, Eonnie.” Ledek Yuri.

   ”Ah,” Jaehee bepikir lamat-lamat. Joonmyun tadi memberikannya backstage pass. Ia tahu, Joonmyun pasti mengharapkannya di backstage setelah penampilannya nanti. Dan ia tidak sampai hati, dan ia juga tidak mau jauh-jauh dari Joonmyun lagi. Satu bulan ke belakang itu cukup menyiksanya. ”Keundae…”

   Sujin mengangkat alisnya, ”Apa Eonnie mau berkencan?” tembaknya.

   ”Mwo?!” Yuri melotot. ”Jadi selama ini Eonnie cuti dan berkencan?! Makin kesini Eonnie makin rajin berkencan…”

   Sujin mengangguk-angguk sok mengerti, ”Aku paham kok, Eonnie. Bagaimana kalau besok Senin saja?”

   ”Ah, kau memang sangat mengerti aku, Sujin-ah,” Jaehee menepuk-nepuk bahu Sujin dengan senang, kemudian ia merapikan penampilannya. Jika dilihat dari jauh, penampilannya mungkin hanya seperti gadis biasa. Orang tidak akan tahu bahwa dibalik rok lipitnya tergantung kamera dan lensa yang super panjang.

   ”Pureobta. Sejak Eonnie punya pacar, dia benar-benar sudah melupakan Yixing,” komentar Yuri yang juga bersiap-siap menyelipkan beberapa kamera dan instax-nya ke dalam ransel ’ajaib’-nya.

   Jaehee nyengir, memilih tidak berkomentar.

   ”Tapi, dia tidak apa-apa, Eonnie, kau menonton konser sampai lima hari? Memandangi sepuluh laki-laki lain tanpa sepengetahuannya?” tanya Yuri heran. ”Biasanya laki-laki akan perhitungan soal biaya yang dikeluarkan. Pacar Sujin saja protes, ya?”

   Sujin mengangguk, ”Ya tidak protes sekali sih, dia hanya terlihat tidak setuju aku menghabiskan nyaris sepuluh juta won hanya untuk nonton konser. Bagaimana dengan pacarmu, Eonnie?”

   ”Ah, dia…” Jaehee bingung juga. Mana mungkin Joonmyun protes, kalau aku mengeluarkan uang untuk menonton dirinya?, hanya saja Sujin dan Yuri tidak tahu kalau pacar Jaehee adalah satu dari sepuluh Oppar mereka. ”Dia tidak banyak berkomentar sih,” akhirnya Jaehee menjawab sekenanya saja.

   Memang benar, Joonmyun hanya akan berkomentar jika Jaehee mencoba membayar makanan jika mereka makan bersama. Dan itu rasanya tidak perlu Jaehee beritahu pada kedua adiknya di Lovelyixing ini.

   ”Enak sekali, pacar Eonnie begitu pengertian,” gumam Sujin.

   ”Hahaha, tidak juga…” Jaehee menjawab dengan canggung. ”Ayo, itu Miho sudah kembali, kita langsung masuk saja. Kalian nanti malam kalau mau update index, update saja… tidak perlu minta saranku, aku tahu foto tangkapan kalian pasti bagus-bagus kok.”

   ”Oke,”

   Dan Jaehee, yang duduk di Happy Family Zone, berpisah dengan ketiga adiknya yang mengambil tiket standing. Ia berjalan sendirian memasuki venue, yang sudah dipenuhi oleh ribuan gadis belia sepertinya. Menarik napas dalam-dalam, ia tersenyum dan berjalan menuju kursinya, dan mendapati ada lima orang gadis yang begitu familiar baginya.

   Empat gadis yang sudah ia anggap seperti adik-adiknya sendiri, dan satu orang gadis yang merupakan teman adiknya itu. Yang membantunya dan Joonmyun berbaikan kemarin.

   ”Annyeong~” sapa Jaehee sambil mengambil duduk di deretan terdepan dan menyapa Nayeon serta Hana yang juga duduk di depan. Keduanya menoleh dan membelalak kaget.

   Tentu saja mereka takut! Kemarin mereka ’menculiknya’ dan membawanya pada Joonmyun. Chanra, Hanji, dan gadis satunya, yang kalau tidak salah bernama Chaerin itu juga tersentak di belakangnya, kaget tidak percaya akan bertemu dengan Jaehee hari ini.

   ”Eonnie…” panggil Hanji takut-takut.

   Hana menggigit bibirnya, tangannya gemetaran, ”Eonnie¸hueeeee… maafkan aku, Eonnie.”

   Chanra di belakang mereka menunduk, Nayeon menggaruk kepalanya canggung, begitu juga dengan Chaerin yang nampaknya ingin berada dimana saja asal tidak di tempat ini, bersama Jaehee. Tetapi Jaehee hanya menahan tawa melihat adik-adiknya yang begitu ketakutan karena kemarin telah memaksanya untuk masuk mobil dan bertemu Joonmyun.

   Ya, walau hubungannya dan Joonmyun masih ada beberapa hal yang belum diselesaikan, tetapi Jaehee menyerahkannya pada keadaan, dan memilih untuk menikmati kerinduannya pada pria yang sudah dikencaninya selama setahun lebih itu. Ia bersyukur, dikelilingi banyak orang yang menyayanginya, dan perhatian kepadanya dan pada hubungannya dan Joonmyun.

   ”Gwenchana,” Jaehee terkekeh, ”Sudah tidak usah pucat begitu… aku tidak marah pada kalian, malah berterima kasih.”

   ”Eonnie dan Oppa sudah berbaikan?!” pekik Hanji.

   ”Jinjja?!” dua mata Hana melebar.

   ”Ah, chukae!!!”

   Jaehee hanya tertawa lagi melihat betapa benar-benar bersyukurnya mereka mendengarnya dan Joonmyun sudah berbaikan. Bahkan gadis bernama Moon Chaerin, yang sepertinya mengetahui hubungannya dengan Joonmyun. Meski sedikit sangsi, ia berusaha percaya saja bahwa gadis itu tidak akan membeberkan hubungannya pada khalayak ramai.

   Dan dari seluruh penampilan EXO’luXion di Seoul, baru hari ini Jaehee bisa benar-benar merasa lepas, tanpa ada beban dalam menonton kekasihnya di atas panggung. Ia merasa benar-benar bebas dan lepas bersama kelima gadis ini dalam menyaksikan setiap penampilan yang disuguhkan oleh EXO. Jaehee tidak risih untuk memekik dan menjeritkan nama Joonmyun, karena ia yakin tidak ada ketiga adik Lovelyixing-nya juga teman-teman fansite-nya di sekitar situ. Ia bebas, bebas sebebas-bebasnya mengekspresikan dirinya. Walau tetap terjadi beberapa insiden, termasuk Joonmyun yang terkena kembang api, Jaehee bersyukur seluruh rangkaian konser bisa berhasil diselesaikan oleh EXO.

   Ia dan kelima gadis itu berdiri sambil bertepuk tangan saat EXO berpamitan dan satu persatu mereka mulai menghilang dari panggung, para penonton juga mulai meninggalkan venue.

   ”Eonnie, kali ini kau ikut kan?” tanya Chanra.

   ”Iya, kali ini aku ikut.” Jaehee mengangguk sambil tersenyum.

   Berusaha agar tidak terlalu mencolok. Keenam gadis ini, sengaja menunggu agar suasana sedikit sepi, barulah perlahan-lahan mereka berbelok ke sebuah lorong dengan menunjukkan backstage pass mereka, hingga keenamnya benar-benar tidak terlihat dari jalan keluar utama venue. Menyusuri koridor yang dipenuhi barang, staff, dan pintu-pintu yang terbuka.

   ”Memangnya tidak apa-apa kalau masuk sekarang?” tanya Jaehee sedikit ragu. ”Takutnya mereka sedang ganti pakaian.”

   ”Oh, sepertinya tidak,” tunjuk Nayeon yang berjalan paling depan. Ia menunjuk pintu paling ujung yang terbuka lebar. ”Pintunya saja terbuka, tandanya aman. Mereka… oh?” mendadak Nayeon berhenti, hingga Chanra yang disampingnya juga berhenti. Hana, Hanji, Chaerin, dan Jaehee ikut berhenti.

   ”Wae?” tanya Hanji.

   Nayeon menelan ludahnya kuat-kuat.

   ”Omo! Eomma!” seru Chanra mendahului yang lain untuk masuk dan menyapa ibunya yang tengah memeluk Chanyeol erat-erat. Terang saja Nayeon berhenti dan terlihat gugup.

   Ada kakak laki-laki Kyungsoo disana.

   ”Oh, sepertinya keluarga Oppadeul datang hari ini,” gumam Hanji melihat ke arah pintu.

   Jaehee langsung merinding. Keluarga member datang hari ini?! Itu artinya… pasti ada orangtua atau kakak Joonmyun bukan? Dia memang sudah mengenal keluarga Joonmyun. Tetapi dulu, saat status mereka belum menjadi sepasang kekasih. Kalau sekarang…

   ”Mungkin sebaiknya kita pulang saja, ya?” gumam Jaehee menarik tangan Hanji. ”Tidak enak, banyak orangtua…”

   ”Chanra-ya… ada Jaehee?”

   Jaehee menelan ludahnya kuat-kuat. Ia bisa mendengar suara Joonmyun begitu jelas. Joonmyun pasti sudah di dekat pintu dan bertanya pada Chanra.

   ”Ada, Oppa. Eonnie ikut kesini…” Jaehee juga bisa mendengar Chanra menjawab pertanyaan Joonmyun, dan merasa terjebak. Ia tidak mungkin mengecewakan Joonmyun lagi hari ini. Tetapi pikiran untuk bertemu keluarga Joonmyun, entah kenapa membuatnya…

   ”Baby!” seru Joonmyun cerah begitu keluar dari kamar ganti dan melihat Jaehee yang meringis. Hanji, Chaerin, Hana, dan Nayeon langsung menyingkir, seolah ingin memberikan Joonmyun keleluasaan.

   Yang membuat Jaehee meringis, sudah lama Joonmyun tidak memanggilnya Baby. Joonmyun bahkan tahu dia membenci nama panggilan yang menurutnya lenjeh itu! Kenapa sekarang pria itu justru memanggilnya Baby, dengan kencang pula?!

   ”Myeonie, kenapa panggil ’itu’ lagi sih?” ingin rasa Jaehee mencubit perut Joonmyun dengan begitu sadisnya, tetapi banyak saksi mata. Ia bisa dituntut oleh SM Entertainment dengan tuduhan penganiayaan, dan hidupnya tidak akan tenang oleh kutukan para fans.

   Joonmyun memeluknya erat-erat. Demi Tuhan, di koridor ini banyak orang!

   ”Yah! Yah! Yah!” desis Jaehee berusaha melepaskan pelukan Joonmyun. Astaga, demi Tuhan, ia bisa merasakan betapa lembabnya pakaian yang dikenakan pria dalam pelukannya ini, karena ia belum mengganti pakaiannya, tetapi wangi khas yang bercampur dengan aroma keringatnya, tidak pernah gagal membuatnya tergila-gila. ”Ini banyak orang, Myeonie.”

   ”Lalu kau mau di tempat yang lebih sepi?” bisik Joonmyun menggoda Jaehee.

   Jaehee memutar matanya dan pada akhirnya berhasil juga melayangkan cubitan ala ibu tirinya di perut Joonmyun, dan laki-laki itu melepaskan pelukannya, sambil meringis. ”Kau jahat!” dia cemberut, nampak seperti bocah kecil. ”Kukira aku akan disayang-sayang…”

   ”Uchuchu,” Jaehee mengangkat tangan kanannya untuk membelai lembut bagian belakang kepala Joonmyun yang ia tahu terkena percikan kembang api. ”Masih sakit? Kau tak apa-apa kan?” tanyanya, benar-benar khawatir karena Joonmyun tadi terlihat sedikit terganggu tidak bisa menyanyi dengan baik dan sibuk menunduk karena kesakitan.

   Joonmyun menggeleng, mengecup dahi Jaehee, ”Gwenchana, hanya percikan kembang api. Sakitnya sudah hilang… ayo ke dalam, ada yang mau kukenalkan padamu.” Matanya berkilat-kilat dan di genggamnya tangan Jaehee yang mendadak dingin.

   ”Ah, wae? Nugu? Ani, ani…” mendadak panik, Jaehee berjingkat-jingkat dan nyaris menarik tangannya. Joonmyun menoleh menatapnya keheranan, Jaehee terlihat panik tetapi wajahnya memerah. Dan, Joonmyun sepertinya mengerti apa yang Jaehee coba sampaikan.

   ”Kau gugup? Astaga, kau kan sudah kenal dengan ibuku.” Kekeh Joonmyun tetap terus mencoba menarik Jaehee yang terpaku di tempat, menolak di bawa masuk ke dalam kamar ganti.

   ”Tapi, tapi, tapi… Myeonie, waktu itu kita kan…”

   ”Justru itu, sekarang kan kau kekasihku. Eomma tahu kita berkencan, tetapi kita belum benar-benar…” entah apalagi yang Joonmyun katakan sambil menariknya, karena mata Jaehee sudah terpaku pada seorang wanita paruh baya, yang mirip sekali dengan Joonmyun. Segala kelembutan di matanya dan senyumannya. Di tambah lagi keluarga member lain yang ada di dalam ruangan ikut menoleh melihat Joonmyun masuk menggandeng Jaehee. Aaaaa…

   Jaehee menunduk, memberi salam ke kanan dan ke kiri, hingga ia benar-benar tiba di hadapan ibu Joonmyun. Membungkuk dalam-dalam, Jaehee menyapanya, ”Annyeonghaseyo, Eommoni.”

   ”Annyeonghaseyo. Tidak heran kenapa Joonmyun mendadak keluar dari ruangan, ada Jaehee rupanya,” sapa ibu Joonmyun super ramah, dan Joonmyun tersenyum cerah mendapati ibunya nampak hangat pada kekasihnya.

   ”Oh,” Jaehee melirik Joonmyun tajam, ”Kau tidak seharusnya meninggalkan ibumu, Kim Joonmyun-ssi!”

   Joonmyun tertawa.

   ”Tak apa, tak apa…” ibu Joonmyun tertawa. ”Senang sekali bertemu denganmu lagi, Jaehee-ya. Apa kabar? Kudengar kemarin kau sempat sakit, maaf tidak bisa menjengukmu.”

   ”Aku baik-baik saja, Eommoni. Terima kasih, iya kemarin sempat sakit. Tapi, Puji Tuhan sudah sehat. Bagaimana dengan Eommoni?”

   ”Aku sehat, aku sehat. Orangtuamu bagaimana kabarnya?”

   ”Eomma dan Appa baik-baik saja, Eommoni.” Jawab Jaehee sambil tersenyum. ”Oh ya, Eommoni sendirian?”

   ”Ayah Joonmyun sibuk, dan Hyung-nya ada janji sore ini, jadi tidak bisa ikut datang.” Jawab Ibu Joonmyun menyayangkan. ”Lama sekali tidak jumpa denganmu, kau tambah terlihat seperti wanita sekarang.” Ibu Joonmyun membelai lembut lengan Jaehee, yang wajahnya bersemu-semu malu. ”Mainlah ke rumah, Jaehee-ya,” ia melirik Joonmyun penuh kasih sebelum kembali menatap Jaehee yang kedua matanya melebar kaget, ”Joonmyun kan jarang pulang ke rumah, ayah dan kakak Joonmyun juga sibuk,”

   Astaga, batin Jaehee. Eommoni pastilah sama kesepiannya seperti dia. Orangtuanya, ayah dan ibunya, sama-sama bekerja. Dan yang ia lakukan adalah menunggu dan menunggu Joonmyun saja. Ia tahu rasanya kesepian!

   ”Iya, Eommoni, pasti aku main kesana.” Jaehee mengangguk-angguk. ”Myeonie, kunjungi Eomma-mu sekali-sekali.” Ia melirik kekasihnya dengan tajam. Ia akan paham dan mengerti serta tidak menuntut kekasihnya untuk mengunjunginya. Tetapi, nampaknya Joonmyun justru lebih sering menghabiskan waktunya untuk mengunjunginya dibanding ibunya sendiri.

   Joonmyun nampak seperti maling yang tertangkap basah, ”Tapi aku mengunjungi Eomma,” dia sedikit merengek.

   ”Eommoni, Eommoni bisa bilang padaku kalau Joonmyun dalam dua minggu tidak mengunjungi Eommoni.” Kata Jaehee meyakinkan. ”Dia bisa kok punya waktu senggang, marahi saja kalau dia tidak berkunjung, Eommoni.” Ibu Joonmyun tertawa melihat putranya dimarahi.

   ”Oke, akan aku laporkan kalau dia tidak mengunjungiku…”

   ”Eomma~” Joonmyun merajuk. Dua wanita dalam hidupnya ini tengah bekerjasama mengganggunya. Syukurlah, untunglah ia mengencani gadis yang kedua orangtuanya sudah kenal baik sejak kecil, ia berharap hubungan antara Jaehee dan ibunya bisa semakin baik lagi dan semakin dekat.

*           *           *

Jaehee bergerak tidak nyaman di tempat duduk penumpang Audi R8 Spyder-nya. Ia sudah merasa tidak nyaman sejak tiga jam menonton EXO, ditambah dua jam bercengkrama bersama keluarga member EXO yang datang. Ya, dia tidak hanya berbincang dengan ibu Joonmyun, tapi juga berkenalan dengan orangtua member EXO lainnya, yang juga berada disana untuk melihat konser hari terakhir anak, adik, atau kakak mereka.

   Tetapi tetap saja, setelah satu bulan penuh Jaehee melakukan ini, dia akan merasa kecanduan. Apalagi terakhir ia melakukannya kemarin, dan Joonmyun selalu mengekorinya sejak kemarin malam, membuatnya tidak dapat melakukan hal itu. Dan sekarang, ia berharap Joonmyun masih lama untuk datang ke dalam mobilnya, karena ia benar-benar perlu melakukan hal ini. Setelah dirasa-rasanya pria itu belum akan datang, Jaehee membuka tasnya dan merogoh-rogoh ke dalamnya untuk mengeluarkan sebuah kotak kecil.

   ”Dia masih lama kan ya?” gumam Jaehee kecil, menoleh ke kanan dan ke kiri. Joonmyun tadi memintanya menunggu di mobil karena dia harus ’akting’ ikut mobil yang lain dulu dan pura-pura pulang sebelum diturunkan di ujung jalan dan dia akan kabur kembali untuk ikut Jaehee pulang. ”Sepertinya masih lama,” dikeluarkannya satu puntung rokok dari dalam kotak tersebut dan diturunkannya kaca jendelanya…

   Tepat saat Joonmyun membuka pintu!

   Nice timing, kan?

   ”Baby…” panggil Joonmyun, yang kedua matanya membelalak kaget melihat sepuntung rokok di tangan Jaehee tatkala ia membuka pintu mobil.

   Memejamkan matanya rapat-rapat, Jaehee mengembalikan rokok tersebut ke dalam kotaknya dan menghela napas dalam-dalam, ”Kukira kau masih lama,” gumamnya.

   Joonmyun masuk ke dalam mobil dan mengenakan sabuk pengaman bersamaan dengan tombol otomatis untuk menaikkan kaca jendela di sisi Jaehee. Ia menekan tombol starter hingga mesin mobil menyala. Disampingnya, Jaehee mengenakan sabuk pengamannya juga.

   Keadaan menjadi sedikit canggung diantara mereka berdua. Joonmyun menoleh ke belakang untuk memundurkan mobil Jaehee dan membawanya pergi dari pelataran parkir belakang Seoul Olympic Stadium sebelum membalas setirnya ke arah berlawanan dan mulai melajukan mobil tersebut.

   ”Kau mau merokok?” tiba-tiba saja Joonmyun bertanya.

   ”Oh, terakhir aku merokok kemarin.” Sahut Jaehee jujur.

   Mulut Joonmyun membentuk garis tipis. Jaehee berasumsi bahwa kekasihnya tentulah tidak menyukai tabiatnya ini, tetapi cukup tersentuh melihat Joonmyun diam saja, dan menahan diri untuk tidak mulai melarang-larang dan memarahinya karena kebiasaan merokoknya. Jaehee tahu benar Joonmyun. Ia pria yang sangat mementingkan kesehatan, dengan segala multivitamin dan obat-obatan herbal yang menurutnya masih lebih baik daripada obat-obatan kimia.

   Rokok? Itu jelas sumber petaka, sumber penyakit. Tetapi ayahnya juga merokok, kakaknya pun terkadang merokok, dan beberapa teman serta seniornya juga merokok. Dan kini kekasihnya menjadi seorang perokok.

   Satu hal yang Joonmyun bisa tangkap dari sedikit pertengkarannya dengan Jaehee selama sebulan lalu. Gadis itu menahan diri untuk tidak menyakiti dirinya sendiri, dengan melampiaskan rasa frustasinya pada benda bernama rokok itu.

   ”Nanti di apartemen saja,” tiba-tiba Joonmyun seolah memberikan Jaehee ’lampu hijau’ meski dengan suara yang cukup pelan.

   Bisa dikatakan, Jaehee kaget mendengar Joonmyun mengizinkannya merokok, padahal terlihat sekali bahwa pria itu tidak menyukai gadis yang merokok. Menelan ludahnya, Jaehee mencoba bertanya, ”Jinjja? Kau tidak marah?”

   Tidak menoleh, namun menghela napas dan dengan suara berat, Joonmyun menjawab, ”Ani. Aku memang tidak menyukai rokok dan tidak menyukai kalau kau merokok. Tapi aku lebih tidak suka lagi kalau kita harus bertengkar hanya karena masalah rokok. Kau tahu aku sudah lelah bertengkar kan?” tanyanya. Ada nada jengkel dalam suaranya.

   ”Dan kau mengizinkanku merokok?”

   ”Jebal, Jaehee-ya,” Joonmyun memutar setir saat mencapai gerbang besar apartemen Jaehee, ”Aku sudah bilang aku tidak mau bertengkar.”

   ”Aku tidak mengajakmu bertengkar, tapi aku hanya heran kenapa kau tidak melarangku merokok?”

   ”Kau mau merokok, kan?”

   ”Ya.”

   ”Lalu? Untuk apa aku melarangmu? Tidak ada gunanya aku memintamu berhenti dan kau hanya berhenti karena aku memintamu, tapi nanti kau ingin merokok lagi dan kau merokok di belakangku hanya karena aku melarangmu. Aku lebih suka kau jujur daripada diam-diam dibelakangku.”

   Kata jujur yang ditekankan Joonmyun tadi benar-benar menohok di dalam hati Jaehee. Ia melepaskan sabuk pengamannya, begitu juga dengan Joonmyun dan keduanya melangkah dalam diam ke dalam gedung apartemen. Tidak butuh lima belas menit begitu keduanya sampai di lantai tempat apartemen Jaehee berada, dan keduanya masuk ke dalam.

   ”Kau bisa mandi,” kata Jaehee pelan sambil meletakkan tasnya di sofa dan berbalik menatap Joonmyun. ”Jadi,” ia menggigit bibirnya, ”Kau tidak perlu melihatku melakukan hal yang kau benci itu.”

   Joonmyun tersenyum tipis dan mengelus kepala Jaehee, ”Gwenchana, kau tidak perlu merasa tidak nyaman karena aku.”

   ”Tapi…”

   ”Lakukanlah, senyaman mungkin. Tidak perlu takut aku melihat atau tidak, karena yang kubenci bendanya. Bukan kau!”

   ”Tetap saja aku tidak suka membuatmu merasa tidak suka pada apa yang kulakukan. Kalau kau tidak suka, aku mengizinkanmu untuk tidak melihatnya kok.” Sahut Jaehee lirih.

   Tiba-tiba kedua tangan Joonmyun merengkuh wajah Jaehee, ibu jarinya mengelus pipi gadis itu perlahan, ”Gwenchana. Kau tahu, aku sedikit… err,” ia tersenyum kecil, ”Membayangkan bagaimana kau saat merokok. Dan walaupun sejujurnya aku tidak menyetujui ini, tapi aku tidak bohong saat aku membayangkan… kau sangat seksi saat merokok?” tambahnya takut-takut.

   Mengerjap-ngerjapkan mata, Jaehee benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Apa kata Joonmyun? Kau sangat seksi saat merokok?! Dan lagi, kenapa setelah mengatakan hal itu malah dia yang lebih malu daripada dirinya? Kan dia yang jadi objek fantasi?

   ”Astaga, Kim Joonmyun!” Jaehee menekap mulutnya pura-pura kaget. ”Aku selalu tahu kau tidak pernah benar-benar seorang kelinci putih kecil yang polos seperti kata orang-orang.”

   ”YAH!” protes Joonmyun sekarang kembali mirip kelinci yang wortelnya diambil oleh temannya.

   Jaehee terkekeh dan meraih tasnya, ”Baiklah, karena kau punya smoking kink, sebagai kekasihmu aku harus bertanggung jawab agar kau tidak membayangkan gadis lain… dan bergairah karenanya.”

   ”Aku kan hanya berusaha jujur… kenapa kau malah meledekku?” ia merajuk.

   Menyelipkan rokok diantara kedua bibirnya dan mengedip-ngedipkan matanya pada kekasihnya yang terlihat menatapnya malu-malu, dinyalakannya rokok tersebut dan dihisapnya pelan, sebelum kembali dihembuskannya.

   ”Bolehkah aku menciummu sekarang?” tanya Joonmyun lirih dan tiba-tiba.

   Astaga!!!

   ”Aku bau rokok, Kim Joonmyun, shireo!”

   ”Ah tidak apa-apa!” desak Joonmyun.

   ”Shireo!”

   ”Ya sudah minum ini dulu, baru cium…”

   ”Shireo! Aku masih mau…” tapi Joonmyun menarik lengan Jaehee hingga ia nyaris saja menyundutkan bara rokok itu pada kulit putih halus kekasihnya yang kontras dengan kulit cokelatnya. Namun Joonmyun menghirup asap yang keluar dari bibir Jaehee yang sedikit terbuka karena kaget ditarik tadi.

   ”YA! Kau memikirkan apa Kim Joonmyun?!” jerit Jaehee sambil berlari kabur dari Joonmyun yang wajahnya sudah merah padam dan menggeleng-geleng malu karena smoking kink-nya.

-Keutt-

Setelah galau puter otak nyari wangsit judul kesana kemari, dan datanglah Ima, Mut, dan si Ay *ehem* yang ngasih beberapa saran. Sebenernya ini udah dua hari jadi, tapi karena bingung judul gak di publish-publish. Apa kalian menangkap ada sesuatu yang aneh sama Jaehee?? Kalau iya… katakan Peta #salah. Oh iya, ff ini di rate PG-15 karena adegan rokoknya, jangan ditiru kalo belum cukup umur *?* yaaa… btw udah pada tau istilah kink atau fetish kan?? Kalau belum tau nanti di part depan aku jelasin… selamat membaca 

 

34 thoughts on “.:JunHee Veiled:. Inelegant

  1. baekmyeons says:

    Kak nis ada apa dengan Jaehee? Kenapa jaehee jadi suka ngerokok gitu?? 😱
    Dann ya ampunn kamu junmyeon bner deh bae banget apa yg dilakukan jaehee gak ada yg gak boleh, sekalipun itu merokok.
    Junmyeon kau diam2 menghayutkannn..

  2. it'sme Min2 says:

    Gara2 jiho tuh jaehee jadi gitu .. gpp kok merokok resiko d’tanggung sendiri .. demi apa granpa punya kink sama cewe yg merokok OMG such a turn on #slap

  3. heeryaa says:

    jaehee kenapa bisa addicted sama rokok gitu T____T
    ini nyambung sama part whiteday itu ya? aku belum baca T__________T
    lucu deh pas suho nya bilang kalo dia rada suka liat jaehee pas ngerokok hahahahahahahaa kenapa siiih gemes sama mereka

  4. LeeDaeShi says:

    Aku gamau banyak komentar utk cerita kali ini. Agak tertohok sih bagian suho kenapa izinin jaehee ngerokok 😦 tp aku mendadak jd klepek2 pas dia kasih tau alasannya. Krna itu sejalan dgn keyakinanku slama ini. Mending ngerokok tp jujur drpd didepan blg ga ngerokok dan bohong dibelakang kita. Ga enak dibohongin soalnya *curhat
    Ini kenapa suho izinin jaehee ngerokok? Apa jgn2 krna jaehee makanya suho ikutan ngerokok? Kan kmrn itu smpet bbrp kali heboh krna suho ketauan ngerokok bareng tmen2nya kan? Jgn2 dia coba2 krna keseringan bayangin jaehee yg seksi kl ngerokok ><
    Scene lainnya yg aku suka ya wktu jaehee ketemu emaknya suho. HAHAHA mati kutu bgt jaehee awalnya lol
    Apalagi ya scene yg aku suka? Hemmmm ohya pas diawal2 waktu suho di apartemen jaehee. Pasti jaehee msh merasa bersalah bgt ya smpe sadar atau ga sadar dia ngelakuin hal yg aneh dan janggal ke suho.
    Ini berkorelasi positif sama pertanyaan kaknis di note akhir, iya aku ngerasa ada yg aneh sama jaehee. Dan kepo bgt jdnya lol
    Ditunggu kelanjutan pasangan manis manja ini ya kak.
    Semangat juga buat skripsinya /apaituskripsi/ 😂😂😂
    XOXO kak nisyaaaaa

  5. kimkaaaaaacrush says:

    Jaehee kenapa ini????? ~~ kenapa jadi hobi merokok sih . -_- aneh bgt liat jaehee yg begini gara-gara cam kiss itu yaaa… ayoo dong jaehee jujur biar semuanya jelas dan clear .. u.u.u … suho pengertian bgt sm jaehee #envy

  6. winnurma says:

    jaehee jadi perokok addict gitu si eon
    emg ada yg ngganjel sama jaehee
    ah pokokknya harus cpt di clearin eon.#harus #wajib heheh
    junmyoon baek banget dah lop lop
    fighting eon

  7. Lisa says:

    Aku belum tau kak dijelasin ya kak nanti… ahh aku ngerti, pasti jaehee masih ngerasa bersalah gara2 tentang jihokan yaa, pastikan pasti? Ah mereka manis tapi nanggung kak romantisnya hihI. Ditunggu lanjutannya ya kak hehe

  8. Dana says:

    Duh beneran deh ini si jaehee ada apa sih sama masa lalunya sampe segitunya banget pake takut dan depresi segala??? Aaaaaaaaa sukses banget bikin aku nebak nebak ada apa hahaha zbl
    Duileeeeh joonmyun mikirin iyaiya aja nih wkwkwk

  9. Prihartini Khoirun Nissa says:

    Pasti ada alesan jaehe ngelkuin itu kan? Ada apa dengan jaehhe? Kenep jaehee mejadi seperti itu? Apa grgr cam kiss itu? Sama jino. Terus suho kenepa juga kenapa dia ngijinin jaehee negrokok aku gayakin deh alesannya cuma ngak pengen berantem sama jehee. Ah entahlah. Aku tunggu kelanjutannya eonni

    xoxo

  10. Kauramints says:

    lho Jaehee kenapa jadi perokok addict gitu?
    kenapa masih ganjel sih masalah JunHee ini
    cepet diselesaikan ya masalahnya, dan Jaehee kembali normal lagi 😥
    masih kaya orang frustasi gitu Jaeheenya
    ditunggu next storynya
    xoxo

  11. H2 Hana says:

    junmen itu terbuat dari apa siiih?? pacar idaman……#hopeless
    mudah”an mereka jangan berantem lagi yaaaa…aamiin

  12. nayatiara says:

    omo omo omooo
    Kim Joonmyun…………….
    i cant even imagine that you actually have that kind of kink…..my god…….
    but it sound so hot……
    wait i have to stop this, go away dirty imagination kekeke
    thank you for the hard work!!!

  13. rinhorinhae says:

    sukaaa pemikirannya junmyun disniii >< percuma aj ngelarang2 toh klo dblakang jun masih ttp ngerokokk.. huhu bijaksana sekalii papahhhhh junn (?)

  14. ohsandal says:

    aduh joom gg bisa ditebak atau emang terlalu baik jadi oke oke aja. ada sisi yang bisa diambil dari ucapan joom kalau yang di benci itu rokoknya bukan orangnya. nah kan kata ‘jujur’ masih jadi permasalahan buat jaehee. semangat! makasih udah update 🙂 inget kalau suho beli audy r8 udah boleh bikin club sama siwon XD

  15. hyunnie says:

    Andai yaaaa di kehidupan nyata ada pria yang kaya junmeeeeh meskipun di hatinya junmeeh masih menggajal akibat perubahan jaehee tapi dia malah dengan berbaik hati ngizinin jaehee merokok padahal dia sendiri benci dengan benda terkutuk itu wkwkwkwk
    Eyyyyuh junmeeeh meskipun masih ada yang mengganjal di dalamnya sempet sempetnya dia berimajinasi jaehee kalau lagi ngerokok kaya gimana kkkkkk
    Huweeeeeeee aku tunggu next partnyaaa 😊😊😊😊

  16. lunara says:

    Ah kurang suka jaehee nya merokok -.- semoga saja dia cepat sadar dan berhenti. Amin(?) Hehe

    ps: knp joonmyun makin mesum? Kkk~

  17. kjmlady says:

    itu ngomongin apaan sih jaehee sm junmyein.. r8..x5 *pura2 gangerti* dibeliin agya aja udh sukur wlpun pasaran wkwk

    itumah alesan bgt ga mau balik ke dorm-_- dasar ya emg udh niat di tas bawa baju bawa perlengkapan mandi pula

    oh iya jun blm tau yg ttg cam kiss itu sih, itu kan yg bikin jaehee smp seberantakan itu huhu
    wkwkwk gimana mau protes, org pacarnya itu termasuk dlm 10 laki2 lain itu xD

    muahaha itu lucu yg chanra,hana,hanji,nayeon,chaerin pd takut sm jaehee

    baby lenjeehhhhh lol ketemu mama mertua huaa mama masa depankuuuu
    paansih seksi saat merokok. yaampun otaknya udh kotor bgt ga dicuci brp hari-_-

    kak yaudahlah biarin ya panjang komennya. aku tiap baca satu scene aku tulis komennya takut lupa soalnya huehehe piss..v

  18. Cloudy cho says:

    Lha itu knp Jaehee jadi perokok?? Emang kalo cewe ngerokok seksi ya? Ahahhaa.. dasar joonmyun, ngebayangin aneh” melulu.. pengertiannya engkau Kim Joonmyun, jaehee dibolehin ngerokok.. astageee.. as always deh pasangan ini. Bikin klepek”, bikin greget.. hahhaha..

  19. handayaniwidya0 says:

    ya ampuuuun ini kenapa jadi jaehee kecanduan rokok?? emang ngrokok sebulan bisa langsung bikin kecanduan ya?? *cengo_soalnya_aku_ga_tahu
    dan yg terakhir itu loh bisa2nya junmyeon malah ngebayangin yang iya iya… aku kira bakal ada perang dunia lagi gara2 masalah rokok ini ckckck.
    eh Btw di part ini junmyeon udah tahu yg masalah cam kiss belum si?? aku rada ga ngeh.. cz bacanya loncat2 si. yo wis lah lanjut baca aja dulu… yg diprotect nyusul.. hahai

  20. minna says:

    huhuhuhuhuhu Jae-Hee ny ngerokok???
    rada terkenyut sdkit sie baca tnyta si Jae-Hee ngerokok,,nd endingnya joonmyeon ngizinin dy ngerokok nd blg dy seksi,, hihihihihi😂
    tp krn aqw gg dpt baca ff yg sblmny (dprotect😁) jd sbenerny rada gg mudeng,apa aja yg dy uda critain k joonmyeon,,dr yg w tangkep dr ff yg ini,,dy kykny gg cerita k suho yah soal cam kiss ntu 😁😁
    aah pokokny makin seru ngejar baca ni ff Series,,

Leave a Reply to ginggit Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s