[LuHanji Colour] BaekJi Scenario #3 Clarification

BaekJi Scenario 3

BaekJi Scenario 3 | Mut | Luhan, Byun Baekhyun, Do Hanji, Others | Romance, Friendship, Family | G

Please read Do Hanji‘s profile before read this story.

INDAYLee’s Present

*****

150308

EXO’luXion Day 2

Hanji tidak tahu apa menjadi penyebab Chaerin kabur-kaburan seperti ini.

Sejak tadi siang Hanji meneleponnya, Chaerin membatalkan janji menonton luXion hari kedua begitu saja. Tanpa memberikan alasan. Dan langsung menutup teleponnya begitu saja.

Hanji tidak tau apa hari ini dia menonton atau tidak, karena tanpa Chaerin, Hanji tidak terlalu dibutuhkan lagi. Lagipula Hanji menonton kan karena Chaerin. Jadi jika tidak ada gadis itu, untuk apa Hanji datang menonton.

Perasaan Hanji pun sedang tidak beraturan. Dia tidak bisa memahami perasaannya pada Baekhyun. Dan untuk memahaminya pun rasanya sulit sekali.

Jadi untuk itu dia ingin menghindari Baekhyun terlebih dahulu.

Hanji akan bergulung di selimut sepanjang hari ketika sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya. Itu dari Baekhyun, padahal Hanji berharap kalau itu dari Luhan. Tidak peduli apa Luhan masih akan menerornya tentang Instagramnya yang tidak bisa dibuka itu.

“Kau datang, kan?”

“Tidak.”

“Yah. Kenapa?” Baekhyun memberenggut di sana. Hampir mencak-mencak jika dia tidak ingat ada banyak kamera yang mengabadikan dirinya.

“Tidak ada Chaerin.” Singkat dan padat. Seharusnya Baekhyun sudah bisa mengerti.

“Kenapa memangnya jika tidak ada Chaerin?”

Hanji mendengus. Percuma berbicara dengan Baekhyun, karena laki-laki itu tidak bisa mengerti dirinya. “Bukan apa-apa.”

“Hei, tapi kau datang, kan?”

“Tidak.”

“Yak! Kau harus datang!” suara Baekhyun menggema, sepertinya laki-laki itu sudah masuk ke dalam lorong venue yang membuat Hanji berputar-putar kemarin.

“Kenapa aku harus?”

“Karena….” Baekhyun terdiam. Begitu pula dengan Hanji. Yang membedakan keduanya hanya Baekhyun sedang mencari alasan, dan Hanji yang menunggu kelanjutan kalimat Baekhyun.

“Karena kau harus melihatku.”

PIP!

*****

Dengan kepala berpangku siku, Hanji menatap malas-malasan ke arah panggung.

Ini baru penampilan ke tiga dengan lagu History, tapi gadis-gadis di seluruh venue sudah berteriak histeris. Kencangnya melebihi teriakan kemarin. Hampir seluruhnya berteriak semakin kencang ketika Jongin mengisi partnya.

Hanji tertawa, mengingat Jongin yang selalu di lihatnya di dorm, seberapa kekanak-kanakan kelakuannya itu bahkan ketika dia sudah memiliki kekasih. Tapi kini, di venue ini, ribuan gadis ingin menarik dan menculiknya untuk mereka simpan hanya untuk diri mereka sendiri. Lucu sekali. Sama lucunya dengan Chaerin yang terobsesi dengan Luhan.

Jika dipikir-pikir lagi, perkenalan Hanji dengan Luhan itu sudah lama sekali, begitu kekanak-kanakan dan menyenangkan ketika diingat. Mengingatnya membuat Hanji berpikir bahwa wajar saja banyak gadis yang tergila-gila dengan Luhan. Bahkan Chaerin.

Perkenalan keduanya terjadi ketika Luhan masih begitu polos dengan dunia gemerlapnya yang baru dimulai. Ketika dua belas laki-laki itu masih hanya memiliki History sebagai lagu kebanggaan mereka selain Mama. Hubungan itu baru saja dimulai, tapi mereka sudah harus terpisah jarak karena Luhan yang harus mengembangkan grupnya di pasaran Cina. Berbeda dengan grup satunya yang merambah hanya di sekeliling Korea.

Begitu lucu karena hubungan mereka sudah seperti ini sejak awal. Hanji ada dimana, dan Luhan ada dimana. Hanji juga yang selalu mengunjungi Luhan sejak dulu, bersama Chanra sesekali atau dengan Jaehye. Tidak banyak perubahan besar yang terjadi pada hubungan mereka.

Mungkin yang berubah hanya kemana Hanji akan menginap jika mengunjungi Luhan, atau siapa yang harus gadis itu hubungi jika Luhan tidak memberinya kabar. Selebihnya tidak ada yang berubah. Hanji masih lah tetap Hanji, begitu pula dengan Luhan yang masih lah seorang Luhan.

“Astaga. El dorado!”

Chanra dan Nayeon memekik senang dari samping Hanji ketika El dorado dimulai. Tak lama Hanji juga turut berteriak-teriak mengisi kehebohan. Sejak pertama kali mendengarnya, lagu ini sukses mengisi list lagu kesukaan Hanji. Ritme, melodi dan lyricsnya begitu padu, melengkapi dan membentuk kesempurnaan yang begitu cocok dengan kesepuluh laki-laki yang mulai menari di panggung itu.

Hanji, Chanra dan Nayeon menggerakan lightstick mereka masing-masing, seirama dengan hentakan lagu. Diam-diam Hanji memperhatikan Baekhyun yang berada di barisan paling depan. Dia lebih banyak mendapat part dibanding member lain, jadi dia lebih sering menyanyi. Dancenya pun tak kalah dengan Jongin. Malah kalau boleh dibilang, dance Baekhyun lebih Powerfull dibanding Sehun yang terlihat agak loyo hari ini. Entah karna alasan apa. Mungkin karna Chaerin tidak datang.

Omo! Hanji-ya!”

“Wae Chanra-ya?”

Chanra menunjuk tepat ke arah Baekhyun dengan Lightsticknya. Laki-laki itu telah menyelesaikan partnya, dan digantikan dengan Minseok yang dilanjutkan oleh Joonmyun. Dari bangkunya, Hanji dapat melihat Baekhyun yang melihat happy family spot terus menerus.

Sejujurnya, Baekhyun melihat kearahnya. Ya benar, mata Baekhyun sesekali tak lepas dan mengunci Hanji dalam padangannya.

Omo! Baekhyun Oppa menyeringai padamu, Ji!”

*****

Kau tahu ini semua salah?

Salah dimana Hanji ingin sekali berlari keatas panggung, menerobos barisan para gadis dan penjaga, kemudian menarik tubuh ringkih yang sedang menangis tersedu itu ke dalam pelukannya.

Sebuah kesalahan besar dimana Hanji ingin menenangkan sosok itu dan membuatnya kembali tersenyum.

Hanya ada satu hal yang terus bercokol di pikiran Hanji. Baekhyun menangis.

Ya, laki-laki itu menangis dan Hanji tidak pernah melihatnya menangis sebelum ini. Walau Hanji pernah melihat tayangan dimana dua belas laki-laki itu menangis karena film yang mereka putar saat natal. Tapi ini berbeda.

Baekhyun menangis, yang benar-benar menangis sampai dia tidak sanggup untuk berbicara saat ment.

Tangisan yang memberikan pengaruh besar pada Hanji, karena gadis itu bahkan sampai lupa dengan euforianya tadi dimana dia berteriak paling keras saat Baekhyun menyanyikan partnya pada lagu terbaru mereka. Playboy.

Hanji bahkan lupa dengan tangan Baekhyun yang membuatnya terus terlena selama dua hari ini pada perform Don’t Go. Kepakan sayap burung yang mampu membuat Hanji terpaku menatapnya.

Sekalipun Chanyeol dan Jongdae membuat lelucon dengan tangisan Baekhyun, dimana Chanyeol membalas dendam karena Baekhyun mengejeknya pada hari pertama, itu tidak juga membuat perasaan Hanji membaik.

Mereka tertawa, menenangkan Baekhyun, bahkan Yixing sampai memeluknya erat. Tapi hal itu juga tak urung membuat Hanji tenang. Justu membuat wajahnya semakin mengeruh.

“Ji … Hanji … Do Hanji, kau mendengarku?” Chanra mengguncang bahu Hanji dari samping. Menatapnya dnegan sorot penasaran dan khawatir.

Hanji tidak menjawab, justu menatap Chanra dalam-dalam. Mencari jawaban kenapa Chanra terlihat baik-baik saja, sedangkan dirinya seperti memiliki batu pengganjal yang membuatnya tidak baik-baik saja.

“Kau menangis. Kau baik-baik saja, kan?”

Satu botol air minum diangsurkan oleh Chanra ke tangan Hanji, yang diterimanya dengan setengah hati. Hanji tidak membutuhkan air minum. Dia bahkan tidak tahu apa yang dia butuhkan sekarang ini.

Pikirannya hanya terfokus pada Baekhyun, Baekhyun dan Baekhyun.

“Aku baik-baik saja.” Jawabnya pelan. “Terima kasih.”

“Kau yakin?”

Hanji melirik ke panggung dari ekor matanya. Baekhyun sudah bisa melucu sekalipun pipinya masih basah.

“Ya, aku yakin.”

Ada apa sebenarnya dengan dirinya?

*****

Americano atau Latte?”

Laogao melipir sejenak, menyipitkan matanya untuk memperhatikan deretan menu yang menggantung di atas kasir –jauh dari bangkunya yang ada di pojok. Dia sedikit tergoda dengan green tea, terlebih lagi dia butuh penyegaran setelah menemani Luhan kesana kemari. Dan jangan lupakan sikap bocah sahabatnya itu yang selalu menyusahkannya.

“Hei, tadi kau mau Americano atau Latte?” Laogao menoleh dan dia langsung bisa menemukan Luhan yang terpekur sambil menatap jari-jarinya yang bermain dengan sendok gula. Menyeroknya, menumpahkannya kembali ke dalam wadah, menyeroknya lagi banyak-banyak dan kemudian menumpahkannya lagi.

“Hei!”

Satu jentikan jari dair Laogao menyadarkan Luhan, membuatnya mendongak dan menatap Laogao dengan kening berkerut. “Ada apa?”

Laki-laki berkaca mata itu mendengus. Dia punya sedikit perasaan buruk belakangan ini. Luhan menjadi lebih sering melamun, entahlah apa yang dipikirnya di dalam kepalanya yang besar itu. Tapi Laogao khawatir. Luhan akan mulai shoot film terbarunnya, tapi laki-laki itu bahkan tidak bisa konstentrasi sedikitpun.

Ada banyak hal yang menimbun di kepala Luhan. Banyak hal. Dan tidak bisa ditebak. Semuanya random, dari mulai hal sepele sampai hal krusial. Membuat moodnya terus berubah-ubah. Murung, menjengkelkan, dia seperti patung, dan kemudian tertawa seperti orang gila.

Luhan seperti sedang mengalami sindrom datang bulan yang selalu menyerang perempuan. Emosinya berubah-ubah, sangat sulit untuk dikontrol. Bahkan oleh Mama sekalipun. Laogao sudah menyerah dengan tingkah Luhan yang membuatnya ingin mencaci tambang dan menggantung diri.

Dia aneh, dan tidak ada yang tahu apa penyebabnya.

“Americano atau Latte?”

“Hah?”

Ok, mungkin beberapa waktu yang lalu komen mengahntam bumi dan mampir ke kepala Luhan, karena laki-laki itu bahkan tidak bisa berpikir jelas ketika ditanya mau memesan apa. Hanya soal sederhana seperti Americano dan Latte, tapi Luhan malah menatap Laogao dengan wajah bodohnya.

“Hah, hah. Hanya itu yang bisa kau katakan belakangan ini.” Laogao melempar ponselnya ketangan Luhan. Mengangkat kedua alisnya sebagai isyarat. “Telepon dia.”

“Hah?”

Oh Tuhan. Laogao ingin mendorong kepala itu ke dinding, agar Luhan bisa sadar dan tidak menjawabnya terus-menerus dengan ‘Hah’.

“Telepon dia, bodoh. Kau tahu, kau terlihat kacau.”

Luhan menundukkan kepalanya, memperhatikan pakaiannya, tapi semuanya baik-baik saja. Masih fashionable dan chic. Lalu tangannya meraba wajahnya sendiri. Tidak ada jerawat yang tibul dan menggesek telapak tangannya. Luhan juga yakin dia sudah cukup rajin membersihkan wajahnya belakangan ini. Jadi apa masalahnya?

“Bukan wajahmu, bodoh!” satu tepukan mendarat di kepala Luhan dari gulungan korang yang cukup tebal. “Setelah melamun seperti orang yang dicuri jiwanya oleh iblis. Kini kau semakin bodoh seperti orang autis.”

Jika biasanya Luhan akan langsung memberikan hantaman kepalan tangannya pada lengan Laogao, membuat laki-laki itu kesakitan karena telah mengatainya. Kini Luhan malah terdiam dan kembali menunduk. Ponsel Laogao dia letakkan di atas meja, dan jari-jarinya kembali meraih sendok gula, mengaduk-ngaduknya tak beraturan.

Seriously, kau menyeramkan, Man.”

“Apa yang menyeramkan?”

Telunjuk Laogao melayang dan mengarah ke Luhan, tepat di depan hidungnya. “Kau. Dirimu.”

“Aku tidak.”

Menahan emosi dan prihatin, Laogao meraih tangan Luhan, mengambil ponselnya dan dia letakkan di telapak tangan laki-laki itu. “Telepon dia. Aku tahu kau merindukannya.”

“Tapi aku baru saja meneleponnya kemarin.”

“Apa masalahnya? Apa ada larangan bagimu untuk meneleponnya berkali-kali?”

Hanji yang Laogao ingat adalah gadis yang begitu mencintai Luhan, gadis yang rela menghabiskan waktunya untuk menempuh perjalanan berkali-kali bertemu Luhan. Hanji yang Laogao kenal dari semua cerita Luhan yang menggebu-gebu, adalah gadis yang selalu merindukan Luhan, bahkan ketika satu menit yang lalu keduanya telah bertukar sapa di telepon. Gadis itu bahkan rela menunda tidurnya demi meladeni Luhan yang menanya menu makanan.

Jadi apa lagi masalah yang Luhan pikirkan?

“Dia mungkin saja sedang sibuk.”

Sekali lagi Laogao memutar kedua bola matanya. Luhan yang biasanya itu tidak pernah kenal waktu untuk menelepon Hanji, bahkan ketika dia sedang mandi sekalipun. “Oh ayolah, dia sedang tidur saja tidak keberatan kau ganggu dengan teleponmu.”

“Tapi….”

“Astaga! Tinggal tekan nomornya dan telepon!” Laogao seratus persen memekik. Membuat seluruh pengunjung kedai kopi itu menoleh ke arah mereka dengan tatapan terganggu. Yang sayangnya Laogao tidak peduli dan tidak mau repot-repot meminta maaf. Dia masih punya pekerjaan penting. Dan pekerjaannya adalah membuat mood Luhan kembali membaik. Karena jika tidak,  semua schedule yang disusunnya bisa berantakan, dan dia harus menyusun ulang serta menghubungi agensi Luhan yang baru.

“Telepon dia!”

“Tidak.”

“Luhan!”

“Tidak, Laogao.”

“Telepon dia! Telepon! Telepon! Telepon!”

Rentetan omelan Laogao membuat Luhan mundur teratur dan menempel pada bangku yang ditempatinya. Jika seandainya bisa, dia ingin bangku itu menelannya, karena dia tidak ingin melihat ekspesi Laogao yang begitu menyeramkan -membuatnya menciut.

Lagi pula cara Laogao memaksanya seperti ketika Hanji yang selalu merenggut memaksanya. Sama-sama menyebalkan dan membuatnya menciut.

“Tidak.” Takut-takut Luhan menjawab.

“Arghhh!!!” Laogao mengacak-acak rambutnya frustasi. Percuma saja dia mengkhawatirkan Luhan karena laki-laki itu terlalu keras kepala. “Teserah lah.”

“Terserah kau mau meneleponnya atau tidak. Tapi setelah ini jangan repotkan aku dengan moodmu yang berubah-ubah! Aku tidak mau mencampuri urusanmu lagi.”

“Lao….”

“APA?!” Luhan tersentak di bangkunya, makin menciut saat teriakan itu menghantamnya.

Takut-takut Luhan melirik Laogao dari tundukan kepalanya. Astaga dia terlihat seperti gadis yang sedang dimarahi kekasihnya. “Kau marah?”

“Kau masih bertanya?!” satu pelototan tajam makin memperburuk wajah Luhan.

Laogau itu sebenarnya berniat memperbaiki moodnya atau membuatnya semakin buruk ,sih?

“Arghh, sudahlah.” Tarik napas, buang perlahan. Laogao memperbaiki pernapasannya yang kejar-kejaran. Dia tidak boleh kacau disaat Luhan sedang kacau. Karena semuanya akan menjadi runyam. “Tadi kau mau Americano atau Latte?”

Luhan mendongak, akan membuka mulutnya untuk menjawab, tapi Laogao sudah lebih dulu menyelanya.

“Aku tau. Americano.”

*****

Acara selesai, ment dan encore telah berakhir.

Ribuan gadis yang memenuhi venue berbaris teratur keluar meninggalkan tempat konser. Meninggalkan Hanji, Hana, Chanra dan Nayeon. Tidak ada Chaerin dan Jaehee. Chaerin tentu karena tidak menonton sejak awal, sedangkan Jaehee, dia sudah menghilang entah sejak kapan.

Chanra memboyong Hanji dan Nayeon ke backstage. Menunjukan IDnya pada penjaga, dan melangkah penuh percaya diri menyusuri lorong. Hingga sampai di ruang ganti.

Hanji tidak memperhatikan dengan jelas apa yan Chanra dan Nayeon lakukan karena sejak dia masuk ke ruang gadis itu, matanya terpaku pada sosok yang sedang menunduk di pojok ruangan.

Air mata itu jatuh lagi, bahkan ketika dia sudah bisa tertawa dan menebar senyum di akhir acara. Baekhyun menangis lagi.

Entah dapat dorongan dari mana, Hanji memotong ruangan, mendorong Chanyeol yang menghalanginya, mengabaikan teriakan Yixing yang minta dipeluk olehnya, hingga akhirnya sampai di hadapan Baekhyun yang masih menunduk.

Laki-laki itu mendongak. Mata dan pipinya yang basah tertutup setengah dengan rambutnya yang jatuh. Tapi tak urung membuat Hanji tidak dapat melihat jelas seberapa merah wajah itu.

Satu gerakan cepat, yang entah gadis itu dapat dari mana, dia membuka tangan Baekhyun, melebarkannya dan kemudian menyelipkan kedua tangannya sendiri ke sekeliling tubuh laki-laki itu. Dan Baekhyun kini berada dalam pelukan Hanji.

“Menangislah, Oppa.”

Hanji tahu belakangan ini ada yang salah dengan dirinya. Satu hal yang membuatnya gundah sampai tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Dia mulai nyaman dengan Baekhyun. Bahkan Hanji sama sekali tidak sadar ketika kemarin Baekhyun memeluknya itu hanyalah sebuah akting.

Itu adalah sesuatu hal yang tidak wajar. Pertama gadis itu tidak mudah menerima orang lain masuk ke dalam hidupnya, mencampuri masalahnya, dan bahkan memeluknya. Tapi Baekhyun melakukannya. Dan Hanji tidak bisa banyak protes akan hal itu.

Rasanya sama seperti ketika Luhan dan Yixing masuk ke dalam hidupnya, menempati celah-celah kosong dan mengisinya menjadi lebih terang.

Semua pertanyaan menghujani Hanji, mengenai arti Baekhyun dirinya. Bagian mana yang menjadi tempat Baekhyun di dalam hatinya. Apakah itu sama tingkatnya seperti Yixing, atau sama tingginya seperti Luhan?

Beribu pertanyaan berenang-renang dalam pikiran Hanji, tapi ada satu pertanyaan yang paling krusial.

Apakah itu cinta?

Sudah berulang kali Hanji mencari jawabannya. Bertanya pada hati dan otaknya yang selalu tidak bisa sinkron. Hanji perlu menggali seluruh isi hatinya selama lima menit penuh yang terasa seperti satu abad. Dan dia menemukannya. Sederhana.

Tidak. Itu bukan cinta.

Hanji memang merasakan jantungnya bertalu-talu ketika Baekhyun memeluknya kemarin, dia juga tergoda dengan wangi maskulin tubuh Baekhyun. Tapi hanya sampai di situ ketertarikannya. Seperti dia tertarik dengan aroma Hyunjoo kakaknya ketika sehabis mandi atau pelukan Yixing yang begitu hangat dan membuatnya tenang.

Seperti itu. Tidak lebih sedikitpun. Dan Hanji baru menyadarinya tadi.

Yang Hanji miliki pada Baekhyun, bukan perasaan cinta seperti yang Hanji miliki pada Luhan. Yang akan membuat darahnya berdesir hanya dengan menyadari laki-laki itu ada di sekitarnya. Perasaan yang akan membuatnya jungkir balik hanya dengan membayangkan bibir Luhan.

Hanji menyayangi Baekhyun tentu saja. Tapi bukan dengan cara yang sama seperti dia menyayangi Luhan.

Baekhyun, Luhan, Yixing dan Hyunjoo memiliki tempatnya masing-masing di hati Hanji. Dan itu artinya, Baekhyun termasuk ke dalam orang yang akan selalu Hanji perhatikan ke depannya.

Jadi wajar saja jika gadis itu kini khawatir melihat Baekhyun menangis.

Rasanya sama seperti ketika Hanji melepas Hyunjoo pergi ke Hongkong untuk meneruskan pendidikannya. Sama menyedihkannya ketika dia memeluk Hyunjoo yang harus meninggalkannya sendirian di Korea. Dan Hanji menemukan perasaan itu di diri Baekhyun.

“Tidak apa menangis sesekali. Lulu saja sering menangis kok.” Baekhyun tidak dapat berkomentar, dia hanya bisa meletakkan kepalanya yang terasa berat di pundak Hanji yang lebih pendek darinya.

Baekhyun menarik napas banyak-banyak disana. Mencari ketenangan di pundak Hanji. “Terima kasih.”

Jika Hanji menemukan sosok Hyunjoo di diri Baekhyun. Baekhyun pun menemukan sosok seorang adik perempuan di diri Hanji.

Dia tidak pernah mengganggap lebih gadis itu selain adik perempuan yang butuh perlindungan darinya.

Hanji tidak memiliki jalinan keluarga yang baik dari seluruh cerita yang didengarnya dari Yixing. Dia juga terhalang jarak dengan kakak laki-laki satu-satunya yang paling mengerti dirinya. Terlebih lagi dia harus terpisah negara dengan Luhan.

Baekhyun memang tidak pernah memiliki adik, dia tidak tahu bagaimana rasanya memiliki adik perempuan di hidupnya. Tapi ketika dia melihat Hanji, Baekhyun bisa memastikan kalau dia menyayangi Hanji sebagai adiknya. Sama seperti Yixing yang menyayangi Hanji sebagai adiknya.

Dia memang tidak selembut Yixing dan Kyungsoo, tidak juga sepengertian Luhan atau Joonmyun. Tapi Baekhyun yakin dia menyayangi Hanji. Sebagai adiknya. Itu sebabnya dia tidak ragu memeluk atau dipeluk Hanji.

Karna itu rasanya senyaman pelukan keluarga. “Terima kasih, Ji.”

“Aku menyayangi, Oppa.” Hanji berbisik. Mengabaikan Jongin dan Yixing yang menatapnya panuh curiga.

Baekhyun tertawa, menghapus air matanya dan mengusap punggung Hanji pelan. “Ya. Aku juga menyayangimu, Dongsaeng.”

Dongsaeng. Ya, benar.

Hanji dapat bernapas lega karena semua perasaannya kini sudah jelas.

Dia tidak menganggap Baekhyun lebih dari seorang kakak, begitu pun dengan Baekhyun yang tidak menganggapnya lebih dari adik. Keduanya hanya memiliki perasaan sebatas kakak dan adik.

“Kau adikku mulai sekarang, ya?”

*****

“Ada apa dengan kau dan Chaerin?”

Sehun merunduk, mengabaikan Hanji yang menatapnya penuh ingin tahu.

“Tidak ada apa-apa.”

“Oh ayolah Oh Sehun, aku tahu ada apa-apa.”

Lelaki muda itu mendesis. “Diamlah, Noona. Urusi saja Baekhyun Hyung yang masih dalam mood buruk itu.”

Satu jitakkan kecil mendarat di kepala Sehun. Hanji menggertakkan giginya gemas. “Baekhyun Oppa bukan anakku yang harus aku urusi setiap saat, Oh Sehun.”

“Ish, sudahlah. Urusi saja Luhan Hyung agar tidak sampai tahu semua sandiwara ini. Karena jika dia tahu. Aku yakin gunung bisa meletus dibuatnya.”

Hanji memutar bola matanya. Ini bukan yang dia inginkan. Sejak awal dia tidak penah menginginkan sandiwara ini. Salahkan Baekhyun. Ok, baiklah lupakan masalah itu, karena itu sudah menjadi hal yang lalu. Tapi salahkan saja Minseok yang meminta sandiwara ini tetap berlanjut.

Kedekatan Hanji dengan Chaerin menjadi alasan kuat kenapa Minseok membuat BaekJi Scenario itu. Selain demi menyembunyikan hubungan Hanji dengan Luhan. Itu juga memiliki maksud lain. Mendorong pekembangan hubungan Sehun dengan Chaerin.

Dan disini, yang dimaksud dengan mendorong perkembangan hubungan Sehun dengan Chaerin adalah membuat keduanya benar-benar dekat. Hanji harus mengajak Chaerin ke luXion, atau kemanapun yang bisa membuat Chaerin berada dalam jarak pandang Sehun. Dia juga harus berpura-pura mesra dengan Baekhyun untuk menjadi patokan bagi keduanya.

Tapi yang benar saja. Hanji baru mengenal Chaerin, dia tidak tahu bagaimana cara kerja pikiran gadis itu. Tapi dia harus berpura-pura mesra dengan Baekhyun agar Chaerin dan Sehun mencontohnya. Itu gila. Seratus persen tidak waras. Kenapa juga Chaerin dan Sehun mau mencontohnya, jika mereka saja baru berpacaran.

Ok, mungkin maksud Minseok baik. Untuk membuat Chaerin dan Sehun memiliki perasaan satu sama lain. Tapi kenapa harus BaekJi? Kenapa dengan harus mengorbankan Hanji dan Baekhyun?

Perasaan bisa tumbuh perlahan-lahan, bukan harus dicontohkan dari pasangan lain. Tidak tahu apa yang dipikirkan Minseok. Hanji tidak mampu memahaminya dengan benar.

Sekalipun Hanji harus mendekatkan Chaerin dengan Sehun, Hanji tidak memiliki pegangan apa-apa tentang gadis itu. Chaerin terlalu random. Tidak ada yang bisa mengerti isi kepalanya. Sama seperti Luhan yang terlalu sulit untuk Hanji pahami.

Dan kini dia malah diberikan beban berat untuk keberlangsungan hubungan pasangan baru. Yang Sehun bahkan terlihat mau tidak mau berhubungan dengan Chaerin.

Sehun mungkin saja khawatir dengan Chaerin karna gadis itu tidak datang hari ini. Tapi lihat itu wajahnya. Acuh tak acuh. Tidak mecerminkan sama sekali kalau dia mengharapkan kehadiran gadis itu di sekitarnya.

Jadi kenapa juga Hanji harus membantu mereka yang terlihat acuh satu sama lain.

“Luhan tidak ada sangkut pautnya dengan ini. Dan ya, dia memang tidak boleh tahu tentang sandiwara bodoh ini.”

“Kalau begitu tinggalkan aku, Noona. Aku sedang tidak ingin diganggu.” Setelah kalimat itu selesai, Sehun membuang mukanya acuh.

Hanji menggeram. Ini menyebalkan. Dia dipaksa memikirkan hubungan orang lain disaat orang itu tidak sama sekali tidak ada rasa terima kasihnya.

“Terserah kau saja, Oh Sehun.” Hanji mencibir. “Setelah ini jangan mengemis padaku untuk meminta bantuan. Karna aku tidak akan membantumu.”

*****

“Telepon!”

“Tidak.”

“Telepon sekarang, Luhan!”

“Aku bilang tidak.”

“Telepon sekarang atau besok aku akan meminta operator memblokir nomornya dari nomormu, Lu.”

“Kau jahat.” Luhan mencebikkan bibirnya. Dia kesal, sedih dan mau memuntahkan perintah Laogao yang tidak ada habisnya.

“Kukira kau sudah tau itu sejak lama.” Tidak peduli, Laogao menekan beberapa nomor yang snegaja dia simpan jika dia berada dalam hal mendesak. Nomor Hanji. Setelahnya Laogao langsung memberikan ponselnya yang sudah terhubung oleh telepon pada Luhan. “Cepat hubungi dia. Aku sudah lelah berdebat seharian dengamu. Jadi sekarang waktunya kau memperbaiki moodmu, karena besok kita masih ada jadwal. Dan aku masih bisa berpikir seberapa kasihannya orang lain jika melihat wajahmu yang kusut seperti baju yang baru keluar dari mesin cuci.”

Luhan menghembuskan napas pelan. Kemudian mengangguk. “Baiklah.”

Tak lama layar hitam itu berganti, dan Luhan bisa melihat wajah cerah Hanji yang menyapanya antusias.

*****

“Bagaimana dengan penampikanku?”

Hanji mengendikkan kedua bahunya, tapi kemudian gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Baekhyun. “Biasa saja. Aku pikir Oppa akan melakukan spin atau melompati holahop. Tapi ternyata hanya menyeringai.”

“Apa?! Kaupikir aku monyet sirkus yang harus melompati holahop? Kau benar-benar merendahkan harga diriku, Do Hanji, karena kau tahu Monggu bahkan juga bisa melakukan itu.” Baekhyun menepis kepala Hanji dari pundaknya, tapi gadis itu sudah lebih dulu mengapit lengan Baekhyun dengan kedua tangannya. “Kau tidak tahu banyak gadis di luar sana yang menjerit karena seringaiku itu?”

Kedua bahu Hanji mengendik lagi. “Itu gadis lain. Bukan aku.”

“Ish. Kau tidak ada manis-manisnya menjadi adik.”

Hanji mengulum senyum setengah yang begitu menyebalkan pada Baekhyun. “Sejak kapan aku bilang mau menjadi adikmu, Oppa?”

“Yak!”

Arraso, arraso.”  Hanji menarik tangan Baekhyun yang hendak memukul kepalanya. “Kau itu banyak sekali jabatannya ya, Oppa. Kemarin teman, lalu kekasih pura-pura, dan sekarang menjadi kakak.”

“Kau tidak mau, huh?”

Mungkin yang dikatakan Yixing benar, soal dimana Hanji adalah gadis yang manis. Wajar jika Yixing menyayanginya dan menganggapnya sebagai adik. Karena sekalipun Hanji menyebalkan, gadis itu masih tetap bisa memberi efek senyuman bagi orang yang berada di sekitarnya.

“Mau kok. Hihihi … tapi mungkin Yixing Ge akan cemburu karna aku memiliki kakak baru.”

Baekhyun mencubit pelan pipi Hanji, yang disambut dengan dengusan sebal dari Sehun yang berada di samping keduanya.

Sejak perdebatan Hanji dengan Sehun di ruang ganti tadi, laki-laki itu semakin terlihat dingin. Hanji tahu Sehun khawatir dan ingin meminta bantuannya untuk menghubungi Chaerin, tapi Sehun tetap pada mode cool miliknya, berpura-pura baik-baik saja dan sama sekali tidak mengkhawatirkan Chaerin.

Orang bodoh manapun sudah bisa menebak kalau Sehun kacau dibalik wajah dinginnya itu. Dia menumpahkan Cola pada kostumnya tadi, beruntung karna jeda waktu konser mereka cukup lama sehingga kostum miliknya bisa dilaudry terlebih dahulu. Tapi sekali itu, Sehun beberapa kali tidak menyahuti panggilan membernya, melamun bahkan sampai ketika mereka kini sudah berada di dalam van perjalanan pulang.

Bocah sok keren itu menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang tertutup, melamun lagi  sambil menatap jalanan yang lenggang ketika van mulai berjalan.

Hanji ingin tertawa. Dia ingin mengatakan kalau Sehun itu benar-benar bodoh. Sama bodohnya seperti Luhan. Terlalu keras kepala untuk menyadari perasaannya.

RING!

Dering kencang ponsel Hanji menganggetkan semuanya, membuat Hanji tidak jadi menertawai Sehun, bahkan membangunkan Chanyeol yang sudah tertidur di jok belakang.

RING!

“Astaga. Tidak sabar sekali sih.”

Nama laogao tertera besar-besar disana. Hanji tahu sekalipun yang menghubunginya adalah nomor Laogao, tapi Hanji sudah bisa menebak seratus persen kalau yang meneleponnya itu adalah Luhan.

Wei?” setelah mengancam Baekhyun untuk tidak bersuara atau membuat gerakan apapun, Hanji menerima video call itu dan menyapa Luhan dengan girang.

“Hai, Lixi.”

Wajah Luhan yang tadinya keruh, sukses cerah dengan seketika berkat senyuman Hanji yang menyapanya dengan lebar. Hanji itu obat termujarabnya, ingat?

“Kau sedang apa, Xi?”

“Aku?” Hanji melirik bahu Baekhyun yang masih menjadi sandaran kepalanya. Kemudian kembali menatap Luhan. “Mengistirahatkan kepala. Kau tahu tadi ramai sekali. Aku hampir muntah melihat ribuan gadis berteriak tanpa henti.”

“Sudah tahu ramai, kenapa masih juga menonton? Tidak takut terinjak atau terdorong-dorong?” dan mulailah Luhan yang mengkhawatirkan Hanji.

“Hmm.. sebenarnya aku takut. Tapi ada yang memintaku untuk menonton.”

Hanji tersenyum semakin lebar. Mengabaikan tatapan Luhan yang curiga. Lagipula Luhan tidak akan mencurigai Baekhyun, karena musuh besarnya adalah Yixing.

“Oh.” Luhan mengangguk-angguk sok mengerti. Tak lama kemudian dia baru menyadari kalau kepala Hanji menyadar pada sesuatu. Ah tidak, bukan sesuatu. Tapi bahu seseorang. Luhan tidak dapat melihat siapa pemilik bahu itu karna jarak pandang video callnya hanya seputar wajah Hanji.

“Dengan siapa kau menyandar itu, Do Hanji?” Luhan tahu itu salah satu membernya dulu, tapi jika menyangkut soal cemburu, Luhan sama sekali tidak memandang orang.

Hanji melirik sekali lagi pada bahu Baekhyun yang menjadi sandarannya. Bukan masalah jika Hanji mengakui itu adalah bahu Baekhyun. Tapi akan menjadi pertanyaan besar dalam kepala Luhan, sejak kapan gadis itu menjadi begitu dekat dengan Baekhyun.

Dan juga bisa sangat bahaya jika sekenario itu terbongkar, telebih Luhan sudah lebih dulu tahu kalau Hanji dekat dengan Baekhyun. Bahkan sampai bersandar pada pria itu.

“Hmm….” Hanji memutar otakknya.

“Bahu Yixing Gege. Ya, bahu Yixing Ge.”

Ketika satu kebohongan lahir.

Maka selanjutnya akan ada banyak kebohongan lain yang mengikutinya.

*****

-CUT-

Aku tau ini part paling absurd. Dari yg sebelumya Hanji galau, masa udah langsung gini. Hehehehe.. Aku nggak mau buat masalah BaekJi makin panjang, berlarut-larut kaya tersanjung /lol/. Jadi aku klarifikasi disini kalau hubungan mereka hanya sebatas itu. dan maksud dari BaekJi Scenario udah paham blm? Minseok maksa BaekJi untuk keliatan kaya orang pacaran karna biasanya in real life couple kurang akur (macam serin) akan iri sama couple yg akur kan? jadi itu untuk menjadi patokan mereka lebih mesra dan deket. LOL. aku nggak mau SeRin mesra2 jijay gimana gitu. Aku sih berharapnya mereka tetep jadi couple aneh, bison, abstrak. Pacaran niat nggak niat. wkwkwkwk

Kalau ada yg mau ninggalkan komentar aku makasih. Kalau nggak ada ya gpp. Aku ngerasa part ini nggak ada feelnya. Hohohoho Mian.

Sekalipun udah diklarifikasi, BaekJi nggak akan berhenti sampai disini kok. hehehhee.. aku terlalu sayang sama Baek. Jadi mana mungkin aku ngelepasin BaekJi gitu aja. Dan walau BaekJi udah clear, mereka tetep akan dapat masalah kok kedepannya. (spoiler) lalallalalallala~~

MUT

Advertisements

17 thoughts on “[LuHanji Colour] BaekJi Scenario #3 Clarification

  1. Dana says:

    HAH finally baekji clear juga…tp tetep aja aku suka baekji kyaaaaaaa jangan hilangkan baekjiiiii soalnya aku suka banget ribut2 kecil mereka menurut aku romantis(dari hongkong???!)
    Masukin taeyeon juga plisss pengen tau aja gaya pacaran mereka gimana sama ntar taeyeon yg cemburu sama hanji #banyakrequest #maafkan
    Duh ini jangan2 sehun ditolak ya? Haha sotoy abisss dan sehun kebiasaan ya gengsinyaaaa, ntar nyesel sendiri rasainnnn hahaha
    Yahh mulai nih masalahnya luhanji gara2 krisis kepercayaan hufff
    Super kepo sama lanjutannya ini si baekji gimana nasibnya dan luhan yg dilanda malarindu tak menentu~

  2. baekmyeons says:

    Sip baekji clear, hubungan baekhyun dan hanji sebatas kakak ade.. 👍
    Soal tangan baekhyun di lagu don’t go bner banget tuh kak aku nntn fancamnya gak bosen2 liat tangan baekhyun yg lentik gitu.
    Luhan sering murung, mungkin ia punya firasat dengan hanji yg belakangan deket sama baek *soktau. Wahh hanji kayakny dpet masalah nih krna udh bohong sama luhan..
    Tapi aku seneng liat baekji, ttep ada yak kak couple ini. Hwaitingg🙌

  3. kimkaaaaaacrush says:

    BaekJi …. go baekJi …..go …….. kyaaaaaaa akhirnya jelas jg hubungan baekhyun & hanji …meski suka bgt baekji yang lucu tingkahnya tp tetap aja luhanji prioritas … kkkkk …… serin kenapa itu …. chaerin nolak sehun kah???? Aduuuh jgn dong …. u.u.u. tpi sehun jg usah dingin” sampe nolak bantuan hanji .

    Gara” ide scenario minseok ini

    Luhan cemburu kan~~~~~ aduuub hanji itu di part akhir kok bohong *?* kan kakak adek hubungannya …. u.u. ditunggu next pary

  4. adindacynthia says:

    Pasti nanti ujungnya Luhan tau Hanji deket sama Baekki..
    Ntar Luhan cemburu, terus gunung apinya meletus beneran..
    Males nebak lebih lanjut, nungguin lanjutannya aja deh 😀

  5. Veni says:

    Moment luhanjinya banyakin dong, bikin mereka ketemu lagi. Aku agak gimana gtu sama baekji, kasian luhan yang dibeijing sana 😦

  6. Tari0993 says:

    masalah satu clear pasti nextnya ada masalah baru lagii…
    Berharap luhan cemburu -_- dan dateng ke korea hahaha
    Semangat semangattt

  7. hyunnie says:

    Haaaaaaaaaaaaaaaaaah lega sekali kalau baekhyun menganggap hanji sebagai adik dan begitupun sebaliknya kkkkkk
    Tapi yaaaaa gimana ngga nerka yang aneh aneh coba kalau flashback ke baekji part 1 sama 2 kkkkkk authornya pinter banget bikin readernya penasaran wkwkwkwk
    Nahloh hanji malah ngebohongin lulu 😯
    Tapi bener juga sih kalau hanji jujur mungkin luhan bakal nanya nanya dari a-z kkkkkk
    Oh iya luluuuu kapan ke koriyanyaaa sihhh penasaran bangeeeet kalau luhan ke koriya bakal nemuin mereka ga yaaaa kkkkk
    Nextnya di tunggu 😊😊😊

  8. Ryeo Uci says:

    Tuh kan hanjii kenapa mesti bohong sih ke luhan???
    Aq tau hubungan mereka cuma sebatas kk adik tp kita tidak tau kedepannya seperti apa??.!!
    Kenapa harus d tutup2in klo itu si kaebsong baekhyun…duuh makin rumit aja…hubungan luhanji…
    Kapan nih momen luhanji ada???

  9. Bubble Gum says:

    ooo jd mereka cuman jd kakak adik, tapi akankan terus jd kakak adik ??, hahaha
    Hanji kenapa bohong sama luhan ?? padahal kalo ngaku juga gk apa” kayaknya. Luhan mood nya naik turun, kangen hanji yaaaa.

  10. rinhorinhae says:

    duhhh luhan lucuuuu bgt sihh bayangin mukanya pas bilang hah? ha? hahahahaha
    baekhyun hanji lucuuuuuu tp ini otak ud diracuni hanji dr awalll ahahahaha
    tp hanjiiiii knp mamulaiii kebohongannnn ?? pasti kblakangnnya bnyk masalah2 yg mnunggu (?)

  11. Prihartini Khoirun Nissa says:

    Yeayy akhirnya bekji clarification juga yaa, untuk aja cuma sebatas kakak-adek yaa, coba kalo bener2 duh gatau deh bakal gimana, terus yang sehun aku gayakin kalo dia ga minta bantuan ke hanji soal chaerin duh terlalu besar gengsinya fia. Terus kenapa hanji malah bohong sama luhan, dan pasti ada kebohongan lainnya

    xoxo

  12. Hikyu says:

    yeah akhirnya status perasaan baekji diungkap juga. sempet ngira mereka dikit2 mulai saling suka loh. padahal kan sama2 punya kekasih -3-
    sehun badmood gara2 chaerin, apa ini karna ajakan pacaran itu ya? wahh jangan2 ditolak 😦
    ayoo hanji bantu sehun yg sok cool & gak bertindak apa2 itu!! *gemess

  13. FAWN says:

    Ah~ jadi ini klarifikasinya. Hoho i do.
    Aku suka sama kalimat terakhirnya : Ketika satu kebohongan lahir.
    Maka selanjutnya akan ada banyak kebohongan lain yang mengikutinya.

    Hanji jangan berpaling, cukup as Dongsaeng aja. Gak rela kalo LuhanJi berakhir karna masalah orang ke tiga.
    Kalo difikir-fikir karakter Hanji anaknya manis banget ~ disayang semua orang. Ah so lucky!
    Dan kenapa Chaerin gak datang? Apa karna tawaran Sehun waktu itu? Argh. Please Hanji tolongin couple ini 😥

  14. vivinnnire says:

    hubungan barkji uda klarifikasi tpi hanji kd mlai boing buat nutupin kedekatannta mmmm bkal jd susah nig ntar .

  15. hana ardhani says:

    Uyeehh akhirnya baekji cuma kaka adean(?)

    Luhan batu bat etdaaa xD tapi akhirnya video call wkwk

    Sehun galau kenapa ._. Ditolak kah? Wgwg

  16. blackangel (lollicino) says:

    Agak sedih ya belum baca part 1 ama part 2 tautau udah lompat ke part 3 hmm😥😥😥
    Tapi kelihatannya sih udah seru apalagi kalo udah kayak pacaran boong boongan atau skenario pura pura pacaran itu AKU SUKA BANGET SANGAT SUKA💘💘 apalagi sama baekhyun hohoho
    Pas baca judulnya, awalnya agak ragu. Kan baek udah punya taeng, kok sekarang sama hanji….wkwkwkwk tapi kalo udah main skenario purapura sama kecemburuan luhan tingkat dewa itu day yes deh💓💓 dan jujur, kalo aku sendiri sih udah gak ragu lagi kalo udah tangannya kak Mut yang mulai menulis tentang kisahcintanya LuHanji wekekek ini bukan lelucon dan serius ya kak, bukan langkah modus modusan karena aku capek modus sama kode ga dijawab jawab sama doi *digaplok* *kok malah pindah topik* *abaikan* wkwkwk
    LOVE IT💞

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s