[SeRin Montase] Memory

couple-cute-kid-kids-love-Favim.com-47530

Memory | Ay | Oh Sehun, Moon Chaerin, Others | Non-Canon | Angst?

Don’t forget to leave comment and like

INDAYLee Staff

***

Dua anak kecil itu tidak kembar. Hanya menyerupai satu sama lain. Bukan saudara hanya teman bermain saja. Kebetulan memiliki kisah hidup yang nyaris sama. Moon Chaerin –gadis yang tumbuh begitu dingin  dan seperti tidak mempedulikan sekitarnya. Berteman dengan Oh Sehun –pemuda yang begitu ceria meskipun telah kehilangan seluruh keluarga dan hartanya. Mereka berteman, bermain bersama hanya karena satu alasan. Tinggal di panti asuhan yang sama.

Moon Chaerin bukan orang yang hangat untuk menerima orang baru dalam hidupnya. Hanya Sehun telah memberinya banyak kesempatan merasakan keseruan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Sehun mengajaknya bekerja sambilan di toko milik Bibi Song di jalan menuju sekolah mereka. Setiap sepulang sekolah mereka akan mampir di toko tersebut mengerjakan pekerjaan sebisanya. Menyapu lantai, menyirami bunga di gantungan, mengelap kaca, juga memberi makan Bell –kucing kesayangan Bibi Song.

Keduanya memiliki wajah yang menyerupai. Tapi memiliki kepribadian yang bertolakbelakang. Sehun begitu periang, Chaerin sebaliknya. Chaerin menyukai sepi, Sehun sebaliknya. Ketika Sehun menyukai Bell, Chaerin justru membenci hewan berbulu halus tersebut. Ketika Bell mati. Sehun menggali tanah di bawah pohon belakang sekolah. Menguburnya dalam-dalam dan mengirimkan doa.

Chaerin kala itu diam saja. Hanya bukan sebagai alasan kebenciannya kepada hewan berbulu itu membuatnya tidak berperasaan. Dia sedih. Dalam hati dia juga mendoakan Bell agar tenang disana dan tidak dilupakan.

Ada satu alasan yang membuat Chaerin membenci sebuah kematian. Jika suatu hari dia mati. Semua orang tidak akan ada lagi yang mengingatnya. Pada awalnya semua akan mengenangnya. Menangis karena kehilangannya. Menyesali hidupnya yang malang. Mengingatnya sebagai dia yang tersayang, tercinta dan apapun sebutannya untuknya. Terkikis waktu, mereka semua akan melupakannya. Dia akan mati begitu saja. Dicampakkan seperti yang dilakukan oleh ibunya.

Perempuan yang diingatnya sebagai sosok ibu, yang sama sekali tidak dia ingat sama sekali. Tidak sedikitpun kenangan yang membekas dihatinya tentang ibu. Tidak selain darah yang mengalir di dirinya. Ibu panti selalu mengatakan bahwa dia begitu mirip dengan ibunya, cantik dan ceria. Jangankan mengingat sosok ibu baginya. Membayangkan bentuk wajah saja dia tidak sanggup.

“Kau tidak ingin menyampaikan pesan kepada Bell? Mungkin ini bisa jadi pertama dan terakhir kali kau setidaknya pernah bersikap manis kepadanya.”

Sehun menoleh ke arah Chaerin yang berdiri satu meter dibelakangnya. Lebih memilih melihat dari jauh daripada ikut berjongkok dengannya mengucapkan salam perpisahan. Chaerin –gadis dingin yang menjadi sahabatnya. Diam-diam meneteskan air mata dibelakangnya. Dia diam bukan berarti tidak tahu. Justru Chaerin berbalik menjauh. Melangkah meninggalkan Sehun yang menatap punggungnya diam.

Sehun tahu. Kematian Bell menyisakan berbagai perasaan yang tidak mengenakan di hati Chaerin. Hanya Chaerin yang mengertinya.

***

“Jinwoo hyung sudah mendapatkan orang tua angkatnya. Ku dengar seorang pianis. Dia sangat beruntung.”

Sehun menyusul Chaerin di atas bangunan panti. Rooftop ini sering mereka gunakan untuk bersembunyi dari ibu panti ketika ada sepasang orang tua yang ingin memintanya menjadi anak angkat.

Chaerin selama ini selalu menghindari hal apapun yang berbau dengan keluarga dan orangtua. Menurutnya di dunia ini semuanya sama saja. Tidak ada yang bisa dipercaya. Semua orang hanya akan meninggalkannya sendirian di dalam kegelapan. Kedinginan dan mati perlahan.

“Kau tahu Rin-ah. Tidak seharusnya kau membenci orang tua.”

Sehun mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Chaerin menoleh padanya. Tatapan matanya menusuk. Tapi bukan itu yang membuatnya bungkam. Melainkan, dia ingin tahu. Apa yang selama ini membuat Chaerin begitu dingin? Jika ibu panti saja mengatakan orang tua Chaerin begitu ceria. Mungkin jika saja Chaerin mau mengurai rambutnya, memakai rok dan sedikit tersenyum. Dia akan terlihat sangat cantik. Sehun ingin sekali membayar berapapun asalkan mendapatkan kesempatan melihat senyuman itu.

Chaerin benci dilupakan. Hal tu yang membuatnya membenci sebuah pertemuan. Dia benci orang tua dan keluarga.  Dia benci kepada semua orang yang menyayanginya. Tapi dia hanya seorang gadis kecil yang masih memikirkan tentang cita-cita. Tentang hari besok. Tentang tugas yang belum diselesaikan. Tentang banyak hal ganjil yang masih saja belum dia mengerti. Mimpi-mimpi buruk yang selalu mengejarnya. Membuatnya bangun dalam keadaan bersimbah keringat.

“Lihatlah! Jinwoo hyung terlihat sangat gembira. Ayo lambaikan tanganmu!”

Sehun menarik tangan kanan Chaerin. Mengangkatnya keatas, melambai ke bawah bersamanya. Dimana Jinwoo yang sedang berjalan diapit sepasang suami-istri yang terlihat begitu baik dan hangat. Chaerin membuang muka. Dia benci melihatnya.

Teman-temannya satu-persatu pergi. Chaerin mencibir. Semua temannya hanyalah sekumpulan orang lemah yang menginginkan perlindungan dari orang yang mereka sebut orangtua. Dia lupa. Sampai dia menemukan letak masalah dalam hidupnya. Dia ingin bahagia. Ketika dia melihat pemuda di sampingnya. Masih memainkan jari-jari tangan kanannya. Bekas melambai sepihak olehnya tadi. Dia samar-samar tersenyum. Sehun –alasannya tetap bertahan. Dia adalah bahagia miliknya.

“Kenapa melihatku seperti itu?”

Sehun menoleh tiba-tiba membuat Chaerin nyaris terjungkal. Sigap Sehun menangkap pinggang kecil Chaerin.  Kemudian terkekeh pelan. Dia ingin sekali memukul kepala Chaerin sekali saja. Jika saja dia tidak ingat apa yang akan terjadi selanjutnya. Terakhir dia melakukannya, dia masih ingat rasanya melihat tidak jelas, sebelah mata buram dan bengkak karena pukulan telak dari kepalan Chaerin.

“Kau mengagetkanku.”

Sehun tersenyum kikuk. Dia menggaruk tengkuknya.

“Kau kalau marah sangat cantik Moon Chaerin.”

Satu detik.

Dua detik.

Sehun menunggu reaksi gadis itu.

“Kau mau mati di tanganku Oh Sehun?”

Sudah seharusnya dia menahan diri untuk tidak berkata yang salah. Dia harus menahan bibirnya. Jika dia masih ingin bernafas sampai besok pagi. Sehun terkekeh, menggeleng, lalu meranggkul bahu Chaerin.

“Kau tidak akan membunuhku. Aku percaya kau menyayangiku. Hahahaa.”

“Kau mau berjanji?”

Sehun menautkan alisnya yang tebal. Suasana mendadak sendu. Chaerin menatapnya penuh minat.

“Berjanjilah tidak akan meninggalkanku.”

Chaerin menyusupkan kedua lengannya, melingkari tubuh Sehun. Membenamkan wajahnya di dada Sehun. Sehun adalah bahagia.

***

Hal yang paling dibenci Chaerin dalam hidupnya adalah pertemuan. Karena dia selalu percaya. Setiap orang ditakdirkan bertemu untuk berpisah. Ketika setiap manusia telah mencapai titik dimana mereka harus berpisah satu sama lain. Layaknya gelas yang terisi air bekas. Mereka membuangnya dan mengisinya dengan air yang baru. Kemudian yang lama akan dibuang begitu saja, dibersihkan dan dilupakan. Dia tidak tahu, bahwa janji-janji yang dia rapalkan selama ini malah menyiksa sahabatnya. Satu-satunya yang dia percaya. Seseorang yang dia anggap definisi dari bahagia.

Janji-janji untuk selalu bersama. Untuk tidak saling melupakan. Oh Sehun bercita-cita menjadi lelaki sejati. Lelaki sejati tidak akan ingkar janji.

Hingga suatu hari. Kejanggalan yang mengganggu malamnya. Mimpi-mimpi buruk yang menariknya ke dunia nyata di saat dia ingin beristirahat. Ketika ibu panti mendatangi kamarnya, membisikkan suatu permintaan yang berbeda dari biasanya. Bahkan Chaerin ingin menganggap itu hanyalah mimpi buruk. Saat dia sadar ini bukanlah mimpi buruk. Dia mengerti, ini lebih dari sebuah mimpi buruk.

“Sehun sudah berulang kali menolak untuk diadopsi. Bahkan berapa kali dia menolak dengan alasan yang tidak masuk akal.”

Ibu panti mengatakannya dengan nada datar. Dia tahu, usahanya akan sia-sia. Setidaknya sudah berusaha –begitu yang ibu panti pikirkan. Ibu panti memintanya membujuk Sehun. Untuk tidak terus menerus menolak diadopsi. Sebelum mereka terlalu besar untuk diadopsi. Sehun sudah memiliki banyak deretan nama keluarga yang ingin mengadopsinya. Merawatnya sebagai anak mereka. Membiayai sekolahnya di tempat yang terbaik. Memberikan apapun yang dia inginkan. Hal yang selama ini tidak mereka dapatkan di panti ini.

“Meskipun dia tidak pernah menyebutkan namamu. Ibu mengerti. Dia tidak ingin meninggalkanmu sendirian disini. Kalian seperti sepasang merpati. Tidak mungkin dipisahkan. Tapi, pikirkan perasaan Sehun. Dia tentu ingin sekali mewujudkan cita-citanya selama ini. Pikirkan baik-baik Chaerin.”

Selama ini begitu banyak hal yang tidak mengerti. Yang tidak dia ketahui dari Sehun. Hal yang pemuda itu inginkan. Sehun menolak demi seorang Moon Chaerin. Bahkan gadis itu tidak pernah memikirkan perasaannya.

“Kau harus pergi.”

Chaerin mengucapkannya tanpa menatapnya. Malah memunggunginya setelah menyuruh seorang anak yang Sehun ingat bernama Yun memintanya datang ke kamar Chaerin. Dia tidak pernah menginjakkan kaki sebelumnya ke kamar gadis. Ketika dia memasuki kamar milik Chaerin. Dia merasa tidak ada yang berbeda dengan kamar yang ditempatinya. Hanya ada kaktus di dekat jendela.

“Kenapa?”

Sehun menanyakannya. Dia bukannya tidak mengerti. Ibu panti sudah menemuinya sebelumnya. Saat Chaerin memanggilnya semuanya terasa begitu nyata. Tidak mungkin hanya sebuah kebetulan. Chaerin tetap tidak bergerak. Gadis itu tiduran miring memunggunginya. Diam, tidak bergerak dan tidak mengatakan apapun.

Ketika Sehun benar-benar pergi. Dia tidak bisa mengatakan banyak hal. Selain berjanji akan bertemu sesegera mungkin. Akan mengirim surat sesering mungkin.

Moon Chaerin telah mencapai titik itu. Ketika setiap pertemuan tetap akan memberinya perpisahan.  Dia akan tetap dilupakan.  Chaerin akan membencinya dan mencoba melupakannya. Meskipun itu harus menghabiskan waktu seumur hidup.

***

Moon Chaerin tidak pernah membalas suratnya. Tidak juga mengirimkan fotonya. Sehun tidak tahu yang harus dilakukannya selain mendatangi Chaerin itu sendiri. Mungkin ini lewat dari janji yang pernah dia katakan sebelumnya. Untuk datang sesegera mungkin. Hingga ketika dia menemukan Chaerin di depan matanya. Sehun hampir tidak mempercayain matanya. Moon Chaerin yang dihadapannya menanyakan namanya dengan nada lembut dan tatapan kosong. Tidak ada lagi Chaerin teman kecilnya yang ceria. Gemar menendang dan merebut roti isinya.

Moon Chaerin melupakannya.  Tiga hari setelah kepergian Sehun. Chaerin tidak pernah meninggalkan kamarnya. Menolak makan, menolak minum, menolak membuka pintu untuk siapapun. Tidak ada kegiatan di dalam kamarnya. Tidak pernah ada pergerakan. Gelap dan pengap. Semua orang yang berdiri di depan kamarnya bisa mendengar satu suara. Dia menangis.

Moon Chaerin membenci dirinya sendiri. Tidak pernah mengakui jika selama ini dia iri. Dia juga ingin  memiliki keluarga yang mau menerimanya. Semua orang menyebutnya bodoh. Semua orang boleh mengatakannya jahat. Ada yang mengatakan dia pantas dilupakan.

Dia terbangun dari tidur panjangnya. Dia lupa sebagian dari ingatannya. Dia memilih menghapus semuanya sebelum dia sendiri yang dilupakan. Tidak mampu lagi mengingat hal-hal baru lebih dari satu jam. Hingga membuatnya kerepotan. Semua orang memanggilnya gila. Chaerin melupakan Sehun. Tidak ada lagi nama Sehun di ingatannya. Dia hanya ingat namanya, Moon Chaerin.

“Dokter mengatakan Chaerin mengalami memory disorder.”

Suatu sore bibi Song yang mau merawat Chaerin dewasa memberitahunya. Dia tidak pernah berkeberatan menjaga gadis yang menurut banyak orang sangat merepotkan itu. Sudah begitu lama dia menjaga gadis itu jauh-jauh. Menerimanya bekerja di rumahnya.

Keduanya duduk di atas mainan taman dalam hening. Melihat Chaerin yang bermain di ayunan taman. Kedua matanya menatap kosong pada bak pasir di depannya. Sesekali menengadah menatap langit.

Chaerin mengalami memory disorder. Dimana otaknya tidak dapat lagi berfungsi menerima memori baru. Chaerin tidak akan mengingat lebih dari satu jam. Semua yang dilakukannya akan dia catat dalam memo kecil yang tergantung di lehernya. Begitu pendiam, dia dikira bisu.

“Dia tidak pernah menyebutkan namamu. Bahkan setiap bibi menyebutkan namamu. Dia tidak bisa sekalipun mengejanya. Dia lupa cara mengeja namamu.”

Bibi Jung menyerahkan sebuah sketsa wajah miliknya yang sudah disobek lalu disambung dengan isolasi di belakangnya.

“Ini miliknya. Semua orang di panti asuhan mengatakan mereka menemukan ini di kamarnya. Dia menyebutnya bahagia.”

Ada timah panas melubangi dada Sehun. Selama ini banyak hal yang tidak mereka mengerti. Keduanya terlalu egois untuk saling menanyakan isi hati masing-masing. Selama ini dia tidak mengerti. Juga tidak mau mengerti. Chaerin tidak pernah menginginkan kepergiannya. Seberapa banyak surat yang dia kirimkan hanyalah sekumpulan sampah tidak berguna. Chaerin tidak akan pernah mengingatnya. Tidak. Selama Chaerin tidak menginginkannya.

“Apa yang selama ini aku lakukan?”

Bibi Song menggenggam tangannya erat. Menggeleng lalu tersenyum. Bibi Song menyerahkan beberapa lembar kertas sketsa yang bergambar sama. Wajahnya. Dengan nama bahagia disudutnya.

“Ini buktinya. Kamu selama ini tidak pernah dilupakan. Meskipun Sehun dihapus dari memorinya. Dia tidak akan pernah mengingatmu, masa lalu kalian. Tapi Chaerin selalu ingat alasan dia untuk tersenyum. Kamu adalah bahagia.”

Sehun menatap Chaerin yang tersenyum. Melambaikan tangannya ke arah Bibi Song yang tertawa melihatnya berlari-lari dan melompat di bak pasir. Terkadang, Chaerin lebih menyerupai gadis berumur 10 tahun daripada seorang gadis berumur 22 tahun.

“Moon Chaerin.”

Chaerin tersenyum kepadanya. Sehun ingin menyerahkan segalanya demi melihat senyum itu.

“Kau sangat cantik kalau tersenyum.”

Demi Tuhan. Sehun bahkan bisa melihat Chaerin tersipu mendengar pujiannya. Jika dulu dia harus bersiap ditendang, ditinju atau apapun yang akan Chaerin lakukan padanya.

“Benarkah?”

Sehun mengangguk.

“Tapi saat kau marah, kau lebih cantik. Hanya saja kalau kau terlalu banyak marah, kau akan cepat tua.”

Chaerin memberengut sebal. Sebelum matanya membulat antusias. Seperti lama tidak tersenyum. Tubuhnya condong ke depan. Mencoba lebih dekat kepada Sehun yang harus membungkukkan badannya.

“Ngomong-ngomong. Kau siapa?”

“Aku?”

Chaerin mengangguk.

“Namaku bahagia.”

-CUT-

Kenapa montase lagi? Montase lagi? Serin dream kapan? kapan sehun jadian sama Chaerin? gimana sama yang kemarin? /berasa sinetron/ Tenang Serin Ranger. Dalam proses kok. Saya lagi muntah mual-mual menulis Sehun alay. Hahaha. Jadi untuk mengobati rindu. Diobatin sama montase dulu yaa.
Semua mengerti kan sama cerita montase kali ini. Semoga iya. Hahaha. Soalnya nggak ngerti mau ngejelasin dimana. Ceritanya kan masih malu-malu menunjukkan identitas. Hahahaha. hayo siapa yg uda nebak. Ay itu siapa? Siapa hayo? Kalo kalian sering huru hara pasti tahu /sok terkenal/ hahahaha. Sudah ini panjang. Jempolnya pegal.

Salam lalalayeyeye

AY

Advertisements

14 thoughts on “[SeRin Montase] Memory

    • FAWN says:

      kok komentar aku kepotong -_-
      okeh aku ulang:
      Aku suka sama SeRin Montase—nya. Karakternya jadi kebalik gitu, Chaerin jadi dingin dan Sehun jadi.. manusia normal (?)
      Buat SeRin Dream, terserah itu mau alay-alay Sehun gimana tapi semoga update soon ya kak! So excited with this one ❤ ❤

  1. kimkaaaaaacrush says:

    Kyaaaa~~~ ada serin lagi … serin montase kali ini beda bgt yaaa … chaerin dibikin yg lebih kalem dan tertutup … kkkk … duuh paling suka cerita dua orang yg deket di panti asuhan tanpa ad hubungan darah … duuuuh yg namanya BAHAGIA ~~\~~kkkkk …

  2. winnurma says:

    bahagia,,,,aduhh sehunnnn
    kkk keren eon sehun romantis abis
    but serin dream cepetan dilanjut ya eon penasaran bgd hehehe
    fighting eon

  3. rinhorinhae says:

    duhh feelnya dpt bgt brhasil bkin mata berkaca2 ㅠㅠ
    chaerin pasti sakit tertekan bgt gg ad sehun. pdhal biasany selalu sama2 sehunn… sehun si bahagiaaa huhuhu ㅠㅠ

  4. Lisa says:

    Ini dalam loh kak, aslii dalem bangeett chaerin perasannyabdalem banget sampe bikin dia sakir gitu. Wah paraahhh.. dan sehun knapa ngga peka sihbwaktu dulunyaa:” ngena banget ini. Sukaaa.. suka bangeeettt
    Tapi dichaerinserin dreamnya hoho, si bison jadian sama sehun gimana ceritanya tuh haha. Ditunggu kaakk

  5. Dana says:

    Segitunya sampe chaerin kena memory disorder 😦
    Dan gak ngebayangin chaerin jadi dingin dan pendiem dan sehun periang…kebalik banget haha
    Duh bahagiaaaaa, ngebayangin kamu aja udah bikin aku bahagia kok :’)

  6. blackangel (lollicino) says:

    FIRST TIME BACA SERIN LANGSUNG DAGDIGDUG SERRR AAAAAA😍😍😍😍
    Paling suka sama cerita cerita yang kayak ini menye menye getoh uuu
    Ceritanya emg singkat, tapi nyentuh. Penggambaran dan penulisannya really really love it!❤️❤️ Kasian Chaerin kena memory disorder, but ngeliat Sehun yang tetap menerima dengan lapang dada, dan malah tetap dekat dengan chaerin bahkan menyebut dirinya ‘bahagia’ yang selama ini chaerin kenal, it’s so menyentuh💓💓💓 LOVE IT

Leave a Reply to rinhorinhae Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s