{JunHee Cuento} FriendZone 1/?

firendzone

JunHee Cuento || FriendZone || Alternative Universe, Friend ‘some’ relationship || PG || Chaptered

Oh Jaehee || Kim Joonmyun / EXO Suho || SJ Kyuhyun || DBSK Changmin || SHINee Minho || CN Blue Jonghyun || Infinite Sunggyu

© neez

KRIIIIING!

   ”Kau terlambat Piyo-ya!” seru Jaehee riang sambil mematikan jam bekernya, yang baru berbunyi nyaring beberapa detik. Jaehee melepaskan handuk yang melilit tubuhnya sebelum mulai mengenakan pakaian dalam, serta blouse berwarna peach dan celana panjang putihnya. Sudah beberapa hari ini, kedua orangtuanya tidak ada, mereka sibuk mengurus bisnis mereka di bidang makanan organik, di luar kota, yang membuat Jaehee menjadi lebih bertanggung jawab pada dirinya sendiri, karena tak ada ibunya yang membangunkannya.

   Turun ke bawah, membawa diktat dan tasnya, Jaehee merapikan rambutnya sambil berjalan ke konter dapurnya. Saat rambutnya sudah benar-benar terikat rapi, ia menarik selembar roti gandum, buatan ibunya, dioleskannya dengan unsalted butter, dan meletakkannya di dalam toaster, saat teleponnya berdering.

   ”Yeoboseyo, aigooo, uri ddal… sudah bangun rupanya,” sapa ibunya riang dari sebrang sana.

   Jaehee terkekeh, ”Keurom, Eomma~”

   ”Bagus sekali. Aku harus sering-sering pergi keluar agar kau lebih mandiri,” kekeh ibunya.

   ”Eomma!”

   Ibunya tertawa renyah, ”Jadi, kau berangkat pagi kan hari ini? Aku khawatir kau kesiangan, tapi sepertinya selalu, setiap aku pergi kau bisa menyiapkan dirimu dengan baik. Apa uri adeul akan menjemputmu?”

   ”Iya, seharusnya sih mereka sebentar lagi tiba…” gumam Jaehee sambil menggigit roti panggang yang sudah ia angkat dari toaster-nya. Lelehan butter yang menggoda begitu indah pada roti gandumnya. Baru saja berkata begitu, suara klakson mobil dari depan rumah sudah terdengar. ”Eomma, sepertinya mereka sudah tiba.”

   ”Baiklah, kalau begitu… aku akan menghubungimu lagi nanti. Belajar yang benar ya, Nak… salam untuk adeul…”

   ”Ne, Eomma…”

   Baru saja Jaehee meletakkan gagang telepon wireless-nya pada tempatnya, pintu depan sudah menjeblak terbuka, dan suara-suara yang sudah sangat ia kenal terdengar. Beberapa saat kemudian, ia mendapati Changmin sudah masuk ke dapur sambil melemparkannya cengiran khasnya.

   ”Hai~ roti panggang?”

   ”Cish, selalu cepat kalau soal makanan,” Jaehee geleng-geleng geli. ”Rotinya di tempat biasa, ada unsalted butter, butter biasa, ada selai, Oppa mau yang mana?” tanya gadis itu, sudah begitu biasa dengan polah Oppa-nya satu ini, yang selalu lapar kapan saja, dimana saja.

   Changmin mendekati toaster dan menarik roti gandum, ”Aku mau Nutella, ada?”

   ”Ck,” Jaehee berdecak. ”Ada di lemari atas, belum dibuka sama sekali. Jangan dihabiskan, Oppa! Itu punya Appa!”

   Changmin melambaikan tangannya tanda mengerti dan langsung meraih Nutella botol besar, yang belum dibuka kemasannya di dalam lemari penyimpanan, di atas bak cuci piring. Jaehee meraih dua buah gelas, dan lima buah cangkir. Cangkir pertama hingga ketiga ia tuangkan kopi hitam pekat yang baru saja selesai di jerang oleh alat pembuat kopinya, dan dua cangkir lainnya ia isi dengan air panas, dan dimasukkan satu buah kantung teh camomile di masing-masing cangkir. Sementara di dua gelas lainnya, ia menuangkan susu murni rendah lemak. Ketujuhnya ia letakkan di atas baki besar dan ia bawa ke ruang tengah, dimana lima orang laki-laki tengah duduk layaknya merekalah pemilik rumah itu.

   ”Changmin mana?” tanya Kyuhyun sambil menerima cangkir kopi yang diedarkan Jaehee. Jaehee hanya tersenyum penuh arti. ”Aish anak itu makan lagi ya?! Ya, Shim Changmin!” seru Kyuhyun, meneguk kopinya sedikit, dan berlari ke dapur. ”Aku juga mau!!!”

   Jaehee geleng-geleng kepala dan mengedarkan secangkir kopi pada Jonghyun, sementara Minho dan Sunggyu mengambil teh camomile mereka berdua. Jaehee menyerahkan gelas susu pertama pada Suho yang menerimanya dengan penuh senyum, dan gelas susu terakhir untuknya sendiri, yang langsung ia teguk habis begitu saja.

   ”Tidak ada yang mau sarapan?”

   Minho terkekeh, ”Kau yakin makananmu masih tersisa?” tanyanya.

   ”Sssttt, jangan tahu Changmin Hyung!” Sunggyu menegur si maknae, yang ditegur malah tergelak. ”Jaehee-ya, aku lapar… lupa sarapan, tapi aku mau nasi~” rengek Sunggyu.

   Jaehee mendesah pelan. Sahabat-sahabatnya ini memang ada saja tingkah polahnya. Changmin Oppa-nya yang suka makan, Kyuhyun Oppa-nya yang cuek, dan kini Sunggyu Oppa-nya yang manja.

   ”Aku ada nasi tapi tidak ada lauk pauk, Oppa.”

   ”Mwo? Tidak ada lauk?”

   ”Lalu semalam kau makan apa?”

   ”Aish, kenapa tidak bilang kalau tidak ada makanan!”

   Jaehee tersenyum lembut. Dalam hatinya ia bersyukur. Ya, sahabat-sahabatnya mungkin terdiri dari berbagai usia, dan jelas memiliki sifat dan watak yang berbeda-beda. Tetapi satu yang sama, adalah mereka saling memperdulikan satu sama lain layaknya saudara kandung sendiri.

   ”Hyung! Jaehee tidak punya lauk dari semalam!” seru Sunggyu ke arah dapur, karena tahu pasti Kyuhyun dan Changmin, yang merupakan dua orang tertua di grup mereka, pasti akan heboh dan marah kalau adik perempuan mereka satu-satunya yang kerap ditinggal sendirian oleh orangtuanya ini.

   Jaehee geleng-geleng, ”Aku beli makanan diluar, Oppa, kau lupa? Tapi aku tidak punya lauk untuk makan Oppa sekarang… hanya ada telur.” Baru selesai Jaehee bicara, Changmin dan Kyuhyun sudah masuk ke ruang tengah membawa roti panggang mereka.

   ”Siapa? Jaehee tidak makan semalam?” tanya Changmin sambil menggigit potongan besar roti dengan nutellanya.

   ”Makan, Oppa!”

   ”Lalu tadi kenapa?” Kyuhyun menatap Sunggyu.

   ”Jaehee tidak ada lauk semalam, dan beli makanan diluar,” lapor Sunggyu persis anak kecil suka mengadu.

   Jaehee menghela napasnya.

   ”Kenapa tidak bilang? Kan bisa dimasakkan, atau Ibuku akan dengan senang hati membawakanmu makanan,” Suho juga nampak tidak setuju dengan keputusan makan diluarnya semalam.

   ”Dengar itu!” Kyuhyun mencubit pipi Jaehee kuat-kuat. ”Sudah pernah sakit karena makan sembarangan. Seharusnya bilang kalau tidak ada makanan, dan kau Shim Changmin jangan habiskan makanan Jaehee!”

   ”Tidak~” seloroh Changmin, masih sibuk memakan rotinya. ”Tapi, Jaehee-ya, sekali lagi kau begitu awas kau ya, kami sendiri yang akan menggantungmu terbalik di lapangan!” ancam Changmin.

   Jaehee tahu Changmin hanya main-main, tapi ancaman di dalam kata-katanya tidak pernah main-main. Dan disitulah Jaehee bersyukur. Kyuhyun dan Changmin adalah jelmaan Fred dan George dalam novel legendaris Harry Potter. Keduanya memang bukan kembar, atau saudara kandung, tapi keduanya begitu dekat dan sifat keduanya yang jail selalu mengingatkan Jaehee pada karakter si kembar bandel dalam film tersebut. Ya, Jaehee merasa dia seperti Ginny Weasley dalam karakter Harry Potter pula yang memiliki enam kakak laki-laki. Kecuali dalam hal ini, Minho dan Suho seumuran dengannya, dan dia lebih tua beberapa bulan dari Minho. Pada dasarnya Minho lah yang maknae. Mungkin, karena dia satu-satunya perempuan diantara mereka bertujuh yang membuat keenam sahabatnya memperlakukannya bak putri dan adik kecil di saat yang bersamaan.

   ”Hyung, ini sudah jam tujuh, Jonghyun Hyung ada kelas pukul delapan. Kalau tidak mau terlambat lebih baik kita berangkat sekarang,” kata Suho sambil mengecek arlojinya dan berdiri. Suho adalah yang paling dewasa diantara ketujuh sekawan itu, meski usianya tergolong muda. Ia selalu jadi yang paling bertanggung jawab, dan paling lurus diantara keenam temannya yang lain.

   Walau Changmin dan Kyuhyun mengatakan Suho seperti Kakek-kakek zaman dahulu kala.

   ”Yang punya jadwal saja diam,” tunjuk Changmin, masih sambil memakan roti panggangnya.

   Suho memutar matanya dan menggeleng, ”Tentu Jonghyun Hyung diam, karena Hyung keras kepala! Jaehee-ya, ayo bawa gelas-gelas ke belakang.” Dia sendiri berdiri membantu Jaehee membawakan gelas-gelas dan cangkir ke belakang, tidak peduli sudah habis atau belum, dan Sunggyu terpaksa lari-lari mengikuti Suho untuk menghabiskan minumannya.

   ”Ah tidak usah, Suho-ya, nanti saja dicucinya…”

   ”Meninggalkan rumah dalam keadaan bersih lebih enak,” jawab Suho ringan. ”Kau cek kompor dan kamarmu. Kau suka lupa mematikan pendingin ruangan, palli, setelah itu kita berangkat.”

   Kyuhyun berdecak, ”Suho tidak asyik,” komentarnya dari ruang tengah. ”Sunggyu-ya, nyalakan mobil!” perintahnya begitu saja.

   ”Aye,” Sunggyu langsung berlari keluar dan menyalakan mesin mobil.

   Dalam waktu sepuluh menit, ketujuhnya sudah berada di dalam Rubicon hitam milik Kyuhyun. Kali ini Sunggyu yang diminta membawa mobil, sementara Minho duduk di sampingnya. Kyuhyun, Jaehee, dan Changmin di tengah, sementara Jonghyun dan Suho di kursi belakang.

 

*           *           *

Kepala Jaehee nyaris pecah kalau saja dosen Perencanaan Strategis tidak menghentikan kuliah pada saat itu juga. Matanya sudah sayu, dan mulutnya sudah sakit menahan kuapan yang hendak keluar selama tiga sks penuh kebelakang. Bukannya dosennya galak atau bagaimana, tetapi Profesor Park, selalu menerangkan materi dengan nada yang monoton seperti suara penyedot debu, dan hampir pasti seluruh kelas tertidur jika mendengarkan ocehannya. Well, kecuali Kim ’Suho’ Joonmyun.

   Tahu benar kalau sifatnya dan Jaehee berbanding terbalik, Joonmyun dengan setia menemani sahabatnya itu untuk melewati kuliah dengan mengingatkannya untuk tidak tidur, dengan mencolek perutnya agar gadis itu tersentak kaget dan memelototinya. Atau dengan menepuk-nepuk punggungnya memberikannya kekuatan untuk melewati kuliah dengan tabah. Mungkin memang Suho diciptakan Tuhan berbeda, karena hampir seluruh kelas mengantuk dan memutuskan mengacuhkan Profesor Park, kecuali Suho, dan Jaehee, karena dipaksa sadar oleh Suho.

   ”Aku mau pulang~” rengek Jaehee setelah Profesor Park keluar dari ruangan, dan dengan malas-malasan ia membaringkan kepalanya di meja. ”Apa kita masih ada kuliah lagi, Suho-ya?”

   ”Masih ada, jangan bilang kau lupa. Teori Hubungan Internasional, dan itu mata kuliah wajib, Jaehee-ya,” jawab Joonmyun sambil membereskan tasnya.

   ”Bolehkah aku bolos?” Jaehee memalingkan wajahnya menatap Joonmyun, dan memasang puppy eyes andalannya, yang selalu menjadi senjata mematikan bagi keempat Oppa-nya dan Minho jika ia mengingkan sesuatu.

   Tetapi tidak untuk Suho.

   ”Tidak! Itu mata kuliah wajib, ayolah… kau tidak boleh malas. Pasti semalam begadang nonton drama, iya kan? Kalau Changmin Hyung dan Kyuhyun Hyung tahu, bisa habis kau!”

   Jaehee merengek, ”Tapi kan aku belum pernah bolos, Suho-ya, sekali ini saja, eoh?”

   ”Tidak!” tolak Suho sambil berdiri dan mulai memasukkan diktat, kotak pinsil, dan ponsel Jaehee ke dalam tasnya. ”Ayo, kita ke kafe… kutraktir kopi, oke? Biar kau tidak mengantuk.”

   ”Hmmhhhh…” Jaehee mengeluh dan membenamkan wajahnya pada meja.

   Suho terkekeh, tersenyum lembut dan menarik lengan Jaehee dengan lembut juga untuk membantunya berdiri. ”Ayo, tidak boleh malas,” bujuknya seperti membujuk anak umur lima tahun. ”Ayo aku janji membelikanmu kopi, kita bisa minum kopi dan kau tidak akan mengantuk.”

   ”Americano?”

   ”Macchiato! Kalau Americano kau nanti tidak bisa tidur lagi, ayo!” membawa sebuah buku tebal, milik Jaehee di satu tangan, dan tangan yang lain sudah menggandeng Jaehee untuk keluar dari dalam kelas menuju kafe kampus.

   Keduanya melewati lapangan basket kampus, yang dikelilingi oleh pohon-pohon rindang, dimana banyak sekali mahasiswa dan mahasiswi duduk di bangku-bangku, atau bahkan rumput-rumput untuk menikmati makan siang, belajar, ngobrol, atau bahkan berkumpul dengan anggota klub mereka. Di lapangan basket, beberapa pemuda dari klub basket tengah berlatih, dan di pinggirnya klub pemandu sorak tengah melakukan briefing.

   ”Woah, sepertinya acaranya akan dimulai,” gumam Suho, membuat Jaehee mengalihkan perhatiannya dari lapangan basket, mengikuti arah pandang Suho yang seperti biasa, lebih senang memperhatikan papan-papan buletin milik klub mahasiswa daripada tim basket, atau bahkan tim pemandu sorak.

   ”Acara apa?”

   ”Pemilihan ketua senat kampus,” jawab Suho ringan sambil membawa Jaehee terus berjalan.

   ”Woah!” gumam Jaehee takjub. ”Itu yang akan kau ikuti, kan? Kurasa kau mengatakannya padaku beberapa minggu yang lalu. Kau lulus seleksi pendaftarannya, kan?”

   Suho tersenyum, mengangguk.

   ”Daebak, eh itu Minho sedang berlatih, kita tidak mau kesana?” Jaehee mengacungkan jarinya.

   Suho melirik ke arah matahari yang menyengat, lalu menatap Jaehee ragu, ”Panas, lho. Nanti pusing lagi, aku tidak mau kau minum aspirin terus setiap pusing. Kau sensitif terhadap panas, Jaehee-ya.”

   ”Ah iya,” Jaehee langsung cemberut mengingat kelemahannya yang satu itu dan terus berjalan bersama Suho, yang mencubit pipinya, satu kebiasaan geng mereka, ”Nanti kuhubungi Minho untuk bergabung dengan kita di kafe, kau tidak mau Changmin Hyung dan Kyuhyun Hyung ngomel lagi, kan?” bujuk Suho sambil melepaskan gandengannya dan ganti merangkul Jaehee.

   Keduanya akhirnya duduk berhadapan di dalam kafe kampus, yang penampilannya lebih menyerupai kafe-kafe kopi impor. Suho menepati janjinya, selalu, karena dia tidak pernah membiarkan siapa pun mengeluarkan dompetnya jika tengah pergi bersamanya, termasuk para Hyung. Diantara ketujuhnya, jujur saja, status sosial Suho memang yang paling tinggi. Dia adalah putra rektor universitas. Tinggal di kompleks apartemen mewah pula. Semua itu dibarengi dengan kepintaran, dan kebaikan hatinya, meski tidak dengan kekakuannya (menurut Changmin).

   ”Eommoni pulang kapan?” tanya Suho tiba-tiba ketika membiarkan Jaehee memaikan iPad-nya, hanya agar tidak bosan.

   ”Belum tahu, kalau tidak besok ya lusa,” jawab Jaehee sambil memekik karena karakternya kalah lagi. ”Aaaahhhh kalah lagi!” dengusnya. ”Aku tidak bisa main ini…” dikembalikannya iPad Suho pada pemiliknya yang terkekeh, ”Aku boleh minta cheat pada Kyuhyun Oppa?”

   Suho memutar matanya, ”Kapan kau bisa memainkannya tanpa cheat?”

   ”Humph.”

   ”Aku masih mengantuk, Suho-ya,” keluh Jaehee lagi sambil berpindah tempat untuk duduk di sofa tempat Suho duduk. Yang disebutkan hanya menggeser tubuhnya agar Jaehee bisa duduk nyaman dan menyandarkan kepalanya pada bahu Suho. ”Aku tidur ya,”

   Suho mengangguk, ”Tidurlah, nanti kubangunkan. Kau belum makan siang, mau kupesankan makanan?”

   ”Tidak lapar,”

   ”Nanti maag dan asam lambungmu kumat!”

   Jaehee merengut, ”Tapi aku mengantuuuuuuuuuuk~”

   ”Semalam sudah makan diluar, tadi hanya minum susu, sekarang harus makan. Kita tunggu Minho baru kita cari makan, oke? Sekarang tidur dulu,”

   Bagi yang menyaksikan pemandangan itu, yang sebenarnya adalah pemandangan yang wajar jika kalian cukup kenal dengan geng yang biasa disebut KyuLine itu. Keenam lelaki itu begitu menyayangi Jaehee layaknya adik sendiri, begitu pula sebaliknya. Namun, bagi orang yang tidak begitu mengenal KyuLine, apalagi merupakan orang yang menyukai salah satu dari keenam pria tampan itu, jelas Jaehee dianggap gadis gampangan.

   Jaehee bisa tertidur dimana pun dan kapan pun. Changmin dan Kyuhyun, yang benar-benar berlaku layaknya kakak kandung Jaehee, tidak pernah mengizinkan yang lain membangunkan Jaehee, jika dia tertidur tidak dalam perjalanan ke kampus untuk kuliah. Maka, sudah pemandangan biasa, jika melihat Minho, Suho, Sunggyu, Jonghyun, Changmin, dan Kyuhyun sendiri yang membopong Jaehee. Tidak kenal tempat, tidak kenal waktu. Hal itu kerap kali membuat salah paham gadis-gadis yang tengah dekat dengan mereka.

   Kyuhyun pernah putus dengan kekasihnya yang ia kencani selama dua minggu *?* hanya karena sang mantan mendapati Kyuhyun menemani (menunggu) Jaehee di depan pintu kamar mandi.

   Changmin pernah batal jadian dengan seorang gadis satu jurusan dengannya karena meminta gadis itu membelikan Jaehee pembalut saat Jaehee mendadak mendapatkan tamu bulanan di dalam kelas, sementara tidak ada satu pun diantarang geng mereka yang ada disana kecuali Changmin.

   Sunggyu akhirnya batal di dekati oleh seorang perempuan karena kedapatan menjemput Jaehee. Perempuan itu rupanya tetangga yang tidak terlalu jauh rumahnya dari rumah Jaehee.

   Minho, yang sepertinya memang belum menunjukkan tanda-tanda mau memiliki kekasih, paling sering membawa Jaehee ke acara-acara pesta klub olahraganya, hanya agar para wanita tidak mengerubunginya.

   Hanya Jonghyun dan Suho, yang paling aman. Keduanya belum pernah dekat dengan perempuan, dan belum menunjukkan tanda-tanda hendak mendekati perempuan juga.

   Kadang, Jaehee sebal dengan sikap protektif keenam sahabatnya itu, karena dia benar-benar seperti seorang putri yang punya enam pengawal, yang lebih galak daripada dia. Hingga ia sendiri tidak punya-punya pacar juga! Saat ia mengeluhkan hal ini, keenam sahabatnya jelas dengan tegas menolak!

   ”Kalau kau mau punya pacar, harus bisa menghadapi kami berenam dulu.” Ledek Kyuhyun.

   ”Siapa yang bisa melewati kami berenam, maka dia lulus jadi pacarmu.” Tambah Changmin. Sunggyu dan Minho cekikikan, sementara Jonghyun dan Suho hanya geleng-geleng kepala.

   Tapi mungkin, Jonghyun atau Suho masih sedikit lebih ’baik’ dibandingkan keempat sahabatnya yang jelas-jelas menyatakan akan menantang calok laki-laki yang hendak mendekati Jaehee.

   ”Yang mau serius denganmu, pasti bisa menerima kami ini.” Kata Jonghyun waktu itu, menenangkan Jaehee yang cemberut dan ngambek pada Kyuhyun, Changmin, Sunggyu, dan Minho. ”Kalau dia berani mendekatimu padahal ada empat singa gunung itu,” kekeh Jonghyun, ”Pasti nyalinya besar.”

   ”Kalau tidak ada yang mau mendekatiku karena kalian berenam bagaimana?!” Jaehee berseru frustasi sambil mengangkat kedua tangannya. ”Memangnya aku bisa menikahi kalian berenam?”

   Jonghyun terbahak-bahak mendengar pertanyaan itu, ”Bukan begitu, Jaehee-ya. Bayangkan, kami selalu mengelilingimu. Yang berani mendekatimu pasti cukup percaya bahwa diantara kami berenam ini tidak ada yang memiliki perasaan khusus padamu, atau kau pada kami. Dengan begitu, kami tidak perlu mengetes laki-laki itu.”

    ”Hmmhhh…” Jaehee melipat kedua tangannya.

   Karena Jaehee hanya ngambek pada Kyuhyun, Changmin, Sunggyu, dan Minho, yang sama sekali tidak merasa bersalah dan justru semakin heboh menggodanya. Akhirnya Suholah yang mengantar Jaehee pulang dengan mobilnya. Jaehee masih saja cemberut saat mobil Suho tiba di depan rumahnya.

   ”Jangan cemberut begitu dong,” tegur Suho halus, mencubit pipi Jaehee pelan. ”Tidak cantik lagi nanti.”

   ”Percuma cantik kalau tidak ada yang mau mendekati!”

   Suho terkekeh kecil dan melepaskan sabuk pengamannya, juga sabuk pengaman Jaehee. Perlahan, ia memutar tubuhnya agar benar-benar menatap ke arah sahabatnya itu.

   ”Hyungdeul tidak mungkin serius dengan ucapan mereka, Jaehee-ya. Lagipula, mereka kan sayang padamu. Mereka hanya ingin kau mendapatkan laki-laki yang baik. Yang dikatakan Jonghyun Hyung juga benar, kalau memang laki-laki itu berani mendekatimu padahal kau dikelilingi banyak laki-laki. Berarti dia percaya diri, percaya padamu, dan yakin padamu. Itu sudah poin bagus.”

   Jaehee melepaskan lipatan tangannya dan menghela napas dalam-dalam, ”Masa kau juga begitu sih?” keluhnya. ”Masa kau juga mau mengetes laki-laki yang mau dekat denganku?”

   ”Aku tidak mau mengetes,” geleng Suho, masih dalam suaranya yang pelan dan sabar. ”Aku tidak keberatan laki-laki mana pun mendekatimu.”

   Jaehee menyipitkan matanya, menatap Suho curiga, ”Jinjja? Nappeun namja sekali pun?”

   ”Siapa pun. Kalau kau sayang padanya, dia sayang padamu. Cukup untukku.”

   ”Hueeee kau baik sekali,” Jaehee buru-buru memeluk Suho erat-erat berpura-pura menangis terharu. ”Masa cuma kau yang begini baiknya padaku, hiks.”

   Suara tawa Suho teredam saat ia membenamkan kepalanya pada rambut hitam bergelombang Jaehee, ”Karena kau juga pasti akan begitu padaku, kan? Hmm? Kau akan bahagia kan siapa pun yang menyukaiku dan aku menyukainya, kau selalu begitu.”

   ”Lalu kenapa yang lain tidak begitu?”

   ”Yang lain kan hanya ingin melindungimu dari laki-laki tidak baik. Kalau kau terluka bagaimana?”

   ”Lalu kau tidak apa-apa kalau aku terluka?”

   Suho melepaskan pelukannya. Ia diam, namun tersenyum lembut, kemudian perlahan diangkatnya tangannya dan dirapikannya helai-helai rambut Jaehee yang jatuh menutupi matanya. ”Kami berenam, lebih baik mati daripada melihatmu terluka.”

   ”Cish! Berlebihan!”

   ”Ahahahahahaha, tapi itu benar… aku mungkin membiarkan siapa saja mendekatimu, tapi kalau dia melukaimu. Mungkin aku bisa lebih jahat daripada Changmin dan Kyuhyun Hyung.” Sahut Suho ringan.

   Jaehee terdiam, kata-kata Suho memang terdengar ringan, namun dia bisa merasakan bahwa kata-kata barusan sangat serius.

   ”Ayo turun, nanti Eommoni bingung, kita sudah sampai dari sepuluh menit yang lalu tapi belum turun.”

*           *           *

”Jaehee-ya, Jaehee-ya! Ireona, palli!!!”

   Suho menghela napas dan menatap Minho tidak setuju, tetapi pria dengan kostum basket itu tidak peduli, ia terus mendorong-dorong bahu Jaehee, mencubit-cubit pipi Jaehee, dan sudah nyaris menarik kuncir rambut gadis itu, jika Suho tidak memelototinya.

   ”Hyungdeul akan marah kalau kau membangunkannya, Minho-ya!” omel Suho.

   ”Tapi ini emergency!” seru Minho sambil menarik-narik pipi Jaehee, hingga akhirnya gadis yang tertidur di bahu Suho itu membuka matanya, dan menguap, menatap sekeliling dengan bingung, ”Akhirnya bangun juga! Cepat, ikut aku ke lapangan basket!”

   ”Mau ngapain?!” tanya Suho heran, ”Dia mengantuk!”

   Jaehee, yang punya kebiasaan ’slow response’ jika baru bangun tidur hanya menatap sekeliling, masih bingung.

   ”Aku mohon,” pinta Minho memelas. ”Hanya Jaehee yang bisa menolongku, kecuali kau bersedia pakai wig!”

   Suho menggelengkan kepalanya cepat.

   ”Jaehee-ya, ayo ikut aku ke lapangan, palli!”

   ”Mau ngapain?” tanya Jaehee malas sambil meregangkan otot tubuhnya, ”Minumanku…” dia memandang ke meja dan mendapati gelas Caramel Macchiato-nya sudah kehilangan es batunya, yang lumer ditinggal tidur. ”Yah, sudah cair…” keluhnya.

   Suho mengeluarkan dompetnya lagi, ”Mau yang baru?”

   ”Ani, tidak usah,” geleng Jaehee buru-buru menyedot minumannya, sebelum Suho benar-benar membelikan minumannya. ”Kau kenapa Minho-ya?”

   Minho menatapnya dengan melas, ”Tolonglah, senior-seniorku hendak memasangkanku dengan gadis-gadis dari cheerleaders, dan aku tidak mau! Jadi kukatakan aku sudah punya pacar.” Suho menyemburkan minumannya, menatap Minho tidak setuju.

   ”Oooh, lalu mana pacarmu?” tanya Jaehee kaget.

   ”Aku belum punya pacar!” desis Minho tidak sabar dengan kemampuan otak Jaehee memproses sesuatu. ”Tapi aku tidak mau dijodohkan. Lagipula kenapa anak basket harus dijodohkan dengan anak pemandu sorak? Terlalu mainstream, maka kukatakan aku punya pacar… dan mereka menunggu aku membawa pacarku kesana.”

   Jaehee menatap Minho dalam-dalam, masih berusaha mencari maksud dari kata-kata Minho.

   ”Kenapa kau selalu membawa Jaehee dalam masalah, sih? Kyuhyun Hyung dan Changmin Hyung bisa murka kalau kau melakukan ini. Lagipula, kalau mereka tahu Jaehee bukan pacarmu bagaimana?”

   ”Lalu bagaimana? Aku sudah terlanjur bilang begitu, Suho!”

   Suho geleng-geleng kepala.

   ”Mwo?! Kau bilang aku lagi yang jadi pacarmu?!” seru Jaehee. ”Heol! Kau membuatku kehilangan kesempatan mendapat pacar anak basket!” seru Jaehee tidak terima.

   ”Eyy…”

   ”Aish!”

   Entah kenapa kedua pria itu malah memelototinya, dan Jaehee dengan cuek meneruskan minumnya. ”Lagipula kenapa setiap dijodohkan dengan gadis-gadis kau tidak pernah mau? Gadis-gadis pemandu sorak kan cantik-cantik, seksi!” Jaehee mengeluarkan sebiji jempol.

   ”Karena aku belum suka pada salah satu diantara mereka, tapi seniorku terlalu suka ikut campur dalam urusan semacam ini. Kita kan tidak boleh menolak niat baik senior, geuchi?” dia  meminta pembenaran pada Suho.

   Suho menghela napas dan mengangkat bahu.

   ”Ayolah sekali saja, kita kesana… eoh?”

   ”Lalu apa kata mereka saat tahu aku bukan pacarmu? Minho-ya, kita ini biasanya akting di depan orang-orang yang tidak tahu bagaimana kita di sekolah atau di kampus. Kalau ini ruang lingkup kampus, Minho-ya, aku bisa saja bersamamu, bisa bersam Suho, atau Oppadeul yang lain.”

   Suho mengangguk, ”Itu yang kukatakan padanya tadi, Jaehee-ya. Cukup sekali kau di labrak senior ketika Kyuhyun Hyung mengaku memacarimu tapi kau main dengan Minho.”

   ”Itulah,” Jaehee mengangguk, ”Aku tidak mau kejadian seperti itu terulang, tidak mau, tidak mau…”

   ”Lalu aku bagaimanaaaaaaaaa???” tanya Minho putus asa. ”Kalian harus membantuku!”

   Jaehee mengerucutkan bibirnya lalu memandang Suho, ”Bagaimana? Kasihan juga Minho kalau tidak ditolong.”

   ”Aigo, kepalaku…” Suho memijit pelipisnya.

   ”Begini saja, nanti kata-kataku akan kuralat kalau aku punya pacar. Err, kalian berdua muncul saja disana. Aku akan bilang kalau kau sahabatku, dan aku sedang mendekatimu, othe?”

   Jaehee nampak berpikir serius, tapi Suho mengangguk.

   ”Kalau itu, sepertinya tidak masalah,” katanya. ”Orang tidak akan tahu yang sebenarnya.” Dan Jaehee ikut mengangguk. ”Ya sudah kami akan kesana membawakanmu minuman, kau tunggu saja.”

   Minho menghela napas lega, ”Thank you, kutunggu… bye!” dan Minho buru-buru pergi dari sana setelah sekali lagi mencubit pipi Jaehee dengan kekuatan yang tidak dikira-kira, membuat Jaehee berteriak kesakitan dan para pengunjung kafe lainnya menatap mereka.

   Dua puluh menit kemudian, Jaehee dan Suho berjalan beriringan lagi, kali ini tanpa Suho yang menggandengnya karena mereka akan berakting seolah-olah Jaehee dan Minho tengah ’dekat’. Suho menyerahkan gelas Americano dingin pada Jaehee, yang ditujukan untuk Minho.

   ”Kenapa? Kan kau yang membelikan.” Jaehee menerima gelas itu.

   ”Kan ceritanya kau yang membelikan Minho, supaya kesannya kalian ’ada sesuatu’,” gumam Suho sambil melambai ke arah Minho, yang langsung menghentikkan kegiatannya bersama belasan anak basket yang langsung ikut menoleh pada mereka.

   Jaehee baru paham dan mengangguk, ”Arasseo, anak itu berhutang banyak pada kita berdua, heol.” Suho terkekeh, ”Coba lihat, gadis-gadis pemandu sorak itu menoleh padamu.”

   ”Err, apa mereka terlihat marah?”

   ”Lebih seperti menilai.” Sahut Suho dari sudut bibirnya, agar tidak terbaca para penonton.

   Minho membisikkan sesuatu pada anggota basketnya, yang tersenyum dan menepuk bahu Minho, lalu ia berlari-lari kecil menghampiri Jaehee dan Suho yang balas nyengir. ”Kalian menyelamatkan nyawaku, terima kasih.” Bisik Minho dengan nada lega.

   ”Kau hutang traktir aku dan Suho, ara?” sahut Jaehee menyodorkan minumannya, lalu dengan bergaya ia mengangkat tangannya untuk menghapus peluh di dahi Minho, yang membuat Suho menahan tawa dan gelinya, sambil melirik reaksi anak-anak basket dan gadis-gadis pemandu sorak yang benar-benar menonton atraksi kedua sahabatnya ini.

   ”Wah, wah, wah, Choi Minho, kenalkan pada kami teman wanitamu ini,” tiba-tiba saja sebuah lengan besar dan kekar (dan basah, tambah Jaehee dalam hati), melingkari leher Minho, dan seorang pria super tampan, bermata tajam, dan sangat tinggi, tersenyum pada  Jaehee dan Suho.

   Suho membungkuk, diikuti Jaehee, yang awalnya masih terpesona. ”Annyeonghaseyo, Sunbaenim.”

   ”Suho-ya, Jaehee-ya, ini Woobin Hyung, kapten tim basket Sungkyukwan yang terkenal itu,” kekeh Minho, Woobin ikut terkekeh, ”Dan Hyung, ini Oh Jaehee dan Kim Suho, keduanya sahabatku. Yang tadi… err, aku ceritakan.”

   Woobin mengangkat alisnya, lalu mengangguk sambil tersenyum, menepuk bahu Minho, ”Bagus! Halo, Jaehee-ssi, Suho-ssi. Senang bertemu kalian. Jaehee-ssi, kau baik sekali membawakan Minho minuman.” Dengan nada yang jelas sekali menggoda.

   ”Ah,” wajah Jaehee bersemu-semu, membuat Minho, yang untungnya tidak bisa dilihat Woobin, mengangkat alisnya tinggi-tinggi, karena paham benar apa yang dipikirkan gadis itu. Mungkin karena mengira Jaehee malu tertangkap basah memberikan perhatiannya pada Minho, Woobin justru terkekeh, (semakin tampan) dan malah menatap Suho.

   ”Suho-ssi, kau seangkatan dengan Minho?”

   ”Ne, Sunbaenim,” Suho mengangguk.

   ”Ah, kalau begitu… tunggu sebentar,” ia menoleh ke belakangnya dimana anggota basket dan anggota pemandu sorak berkumpul, lalu ia berteriak, ”Park Chorong, kesini!”

   Jaehee ikut menoleh dengan penasaran, begitu juga Suho. Dan gadis bernama Park Chorong itu menghampiri mereka, dalam balutan seragam pemandu soraknya yang berwarna merah muda. Rambut hitamnya tergerai lembut ke belakang, dan wajahnya terlihat cantik berkat pulasan make up yang natural.

   ”Jangan bilang ini pacarnya,” bisik Jaehee pada Suho, yang memutar kedua matanya.

   ”Ne, Oppa.” Sapa Chorong.

   Woobin merangkul Chorong, Jaehee hampir cemberut andai Suho tidak menjawil pinggangnya untuk mengingatkan bahwa disini dia berperan sebagai gadis yang tengah dekat dengan Minho. ”Kenalkan, ini Park Chorong. Jujur saja, tadinya aku mau menjodohkan Minho dengannya… tetapi tidak ada salahnya kalau aku menjodohkan gadis ini denganmu kan, Suho-ssi? Karena Minho sudah punya gadis cute ini…” dia tersenyum ramah pada Jaehee.

   ”Ne?!” pekik Jaehee.

   Wajah Suho memerah, dan Minho terbelalak.

   ”Begini, di basket ada tradisi yang selalu diadakan setiap tahunnya, untuk melakukan ritual bagi setiap anggota basket. Karena kau sebentar lagi akan jadi pacar Minho,” Woobin menatap ramah Jaehee, ”Maka kau harus melakukannya…”

   ”Ritual apa?” tanya Jaehee takut.

   ”Hyung!”

   ”Begitu juga dengan pemandu sorak, maka… Jagiya, aku sudah punya pasangan untuk Chorong!”

   Gadis yang ia panggil sayang itu mengacungkan jempolnya. ”Kita bisa mulai kalau begitu.” Dengan paksa, Minho, Suho, Jaehee, dan Chorong digiring ke tengah-tengah lapangan basket saat itu juga.

o0o

Ada yang pernah terjebak friendzone? Hahaha, kisah di atas hampir based on true story… cuma dimodifikasi LOL, sebenernya kepengen banget publish dari kemaren, tapi belum dapet judul JunHee tales-nya. Semoga suka yaa… kalo banyak yang komen, makin semangat deh lanjutinnya.

11 thoughts on “{JunHee Cuento} FriendZone 1/?

  1. it'sme Min2 says:

    Meeeeeee for 3 years … n friendzone feels like nightmare dress in a daydream #taylorbanget …. seruuuu punya sahabat yg kayak gitu asik sumpah

  2. shantyjung says:

    ada sunggyuuuu….. ini kyuline brgabung menjadi satu… friendzone.. oh my god… keren ceritanya… gak sabar buat lihat kelanjutannya… 🙂

  3. Tari0993 says:

    Heol!!!
    Hahahahaha njirrr geng rusuhh bener bener rusuh banget hahahaha
    Suka suka sama ceritanya lanjutkan nisyaaaa

  4. baekmyeons says:

    Friendzone? Aku sih blm pernah ngalamin kayak gitu, tapi sepertiny seru 😏
    Minho dan Jaehee dan Suho dengan Chorong? Aku lebih suka Jaehee dan Junmyeon hahaha..
    Lanjutkan kak nisya, penasaran sama lanjutany😁

  5. Dana says:

    KYULINE❤❤❤❤
    Eaaaaa friendzone……dan berada di zona itu pada tahun ke 4…..mirisnya nasibku :’)
    Dan lagi2 disini saingannya chorong yaaa haha duhh ini mau ngapain lagi mereka
    Aaaaa mau dong punya sobat2 macem kyuline, how lucky u are ohh jaehee 😍

  6. Lisa says:

    Aku masih ngga ngerti kakanyaAaa… Tapiii, jae sama suhokan yaa? Jadi gimana dong ini? Aduh aku bingung ditunggu ya kakanyaaaa, ditunggu hihi

  7. kjmlady says:

    inimah jaehee hidup nya keterlaluan kebangetan beruntung di kelilingin manusia” aneh tapi ganteng naudzubillah -_-
    itu itu lucu kyu putus sm pacarnya, min gagal sm pdkt-an nya, minho malah manfaatin biar ga di kerebutin cewek wkwk
    enak bgt pengawal gratis plus ganteng. ya minus nya ada bbrp yg kurang normal otaknya kkkk

    blm ada tanda” sihh ya.. hmm aku jugaaa kak pernaaah dr kelas 2-3 sma huekkk enek kesel asdfghhjkl gitu deh hiks

  8. LeeDaeShi says:

    Kaknis ini kenapa para setan2 tampan ngumpul smua huhuhuhu
    Makin dengki sama jaehee. Dimana2 enak bgt hidupnya dikelilingi pria2 tampan :3
    Duh, baper bgt sama JunHee. Berasa bgt bedanya dibanding yg lain. Mgkn krna seumuran jg ya ditambah sifat suho yang kalem2 modus unyu :3
    Endingnya itu ihhh kok chorong sih yg muncul /mendadak emosi/
    Aku paling kzl kl dgr org ngeship mreka /walaupun emg udah jadian dari ntah kapan2 – sok tau – digorok jaehee/
    Aku sukanya JunHee bukan surong.
    Gemes gemes gemes
    Next secepatnya kaaaaaaak
    Xoxo kaknis kece muah :*

  9. nayatiara says:

    i’ve been in one……. and seriously its actually like ditching homework, you know you should stop but its actually really hard to imply
    and seriously Jaehee, how the hell you have such a good looking people who life around you -_- you lucky girl wkwkwk
    waiting for the next chapter, thank you for the hard work, fighting!!

  10. Cloudy cho says:

    Terjebak friendzone? Dan terjebak dengan cowo” kece, ganteng, ajaib?? Huaa demi apa cerita ini bener” bikin gregeeet.. Sumpah >< pengen dong jd jaehee. Hahaha.. Ceritanya masih blm bs ketebak endingx bakal gmn. D tunggu lanjutannya. Daebak!

Leave a Reply to nayatiara Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s