[LuHanji Colour] BaekJi Scenario #2 luXion

BaekJi Scenario 2

Baekji Scenario 2/? | Mut | Luhan, Do Hanji, Byun Baekhyun, Moon Chaerin, Kim Minseok, Others | Romance, Humor | Chapter

Please read Do Hanji‘s profile before read this story.

INDAYLee Present

*****

150307, 03.48 KTS

Wei?”

Hanji sedang mengikat tali sneakersnya ketika ponselnya menari-nari diatas meja rias dengan nada dering yang kencang meminta perhatian. Nama Luhan lagi-lagi muncul disana besar-besar. Tidak tahu kenapa pemuda itu jadi lebih sering menghubungi Hanji belakangan ini.

“Ada ap,- aduh!” Hanji menjepit ponselnya diantara telinga dan bahunya, tapi kemudian terjatuh karena bahunya yang kecil tidak bisa menahan itu. “Maaf. Ada apa, Lu?” Setelah menekan tombol speaker dan meletakkan ponselnya di ujung ranjang, Hanji kembali lanjut menyimpul sneakersnya.

“Xi, kau tahu password Instagramku?”

“Hah?”

Kedua tangan Hanji berhenti bekerja dan sampul tali itu kembali teronggok di atas sneakersnya. Kening gadis itu berkerut-kerut dengan alis yang menyambung.

Password Instagramku. Aku lupa passwordku apa.”

“Lalu?”

Well. Luhan memang kini sering sekali menghubungi Hanji, baik kapan pun dan dimanapun. Tapi terkadang laki-laki itu suka menghubunginya untuk sesuatu yang tidak penting. Seperti beberapa hari yang lalu, Luhan menghubunginya hanya untuk bertanya kudapan apa yang harus dipesannya untuk makan malam. Laki-laki itu bahkan bertanya kudapannya lebih enak dipadukan dengan Cola atau Americano. Yang demi jenggot Merlin, itu sama sekali tidak penting untuk ditanyakan melalui telepon SLI yang memakan banyak biaya. Hanji memang tidak perlu khawatir berapa biaya yang dihabisi kekasihnya itu untuk menghubunginya karena Luhan bahkan bisa menghambur-hamburkan uangnya dari atas gedung berlantai enam puluh tiga jika dia mau, tapi ini benar-benar menyebalkan, kalian tahu?

Menelepon hanya untuk menanyakan apa yang harus dia makan? Kenapa tidak tanyakan orang yang menyediakan delivery saja menu special apa yang bisa dipesannya?

Apa password Instagramku, Xi? Demi tuhan aku tidak ingat sama sekali.”

Hanji memutar bola matanya. Tidak ada yang bisa mengerti isi kepala Luhan yang besar itu. Seperti labirin yang mempunyai banyak tikungan. Benar-benar tidak bisa ditebak.

Na eottokae arra?”

Yang biasanya suka mengotak-atik ponsel itu adalah Luhan, bahkan pada ponsel Hanji sekalipun. Laki-laki itu selalu bisa meretas keypass dan pattern pada lock screen ponsel Hanji. Bahkan dulu Luhan  sempat menghack SNS Hanji beberapa kali. Tetapi tidak dengan Hanji, karena gadis itu pikir tidak ada hal menyenangkan yang bisa ditemuinya di ponsel kekasihnya itu. Hanya ada selca, selca, selca dan selca. Jadi kenapa juga Hanji tahu password Instagram laki-laki itu disaat dia bahkan bisa menghitung dengan jarinya berapa kali dia pernah memegang ponsel Luhan.

Huweee~ Lalu bagaimana dengan Instagramku?” Luhan merengek dengan begitu tidak etis. Melupakan kodrat dan umurnya. Sampai membuat Hanji mual dan ingin memutus sambungan SLInya saja.

“Kau sudah tanya Laogao?”

Sudah. Dan Laogao tidak tahu.”

“Tidak mencatatnya di notemu?”

Tidak. Aku lupa mencatatnya.”

Hanji menghela napas dan memijat keningnya. Kini sneakers hitamnya sudah seratus persen terabaikan karena Hanji ingin sekali menjitak kepala Luhan yang besar itu. “Sepertinya kau semakin tua, Lu.”

Haha.. Ya ya, aku memang tua, lalu kenapa kau mau denganku, hah?” cibiran Luhan membuat Hanji mendecak. “Serius, Xi. Apa passwordku?”

“Aku juga serius, bagaimana aku bisa tahu?” kalau orang-orang selalu mengira migrennya Hanji disebabkan karena anemia yang dideritanya, itu salah besar. Penyebab utamanya adalah Luhan. Seribu persen karena Luhan.

Kau kan kekasihku.”

“Terus? Apa hubungannya?”

Ya.. Siapa tahu kan kau tahu password Instagramku.”

Hanji mengertakkan giginya dan matanya memicing. Tiba-tiba dia ingat sesuatu yang membuatnya kesal. “Kau piercing saja aku tidak tahu bagaimana bisa aku tahu passwordmu.”

Beberapa kali melihat percing laki-laki itu membuat tangan Hanji gatal ingin mencabutnya, Hanji tidak pernah suka yang aneh-aneh, apalagi yang aneh itu menyangkut Luhan. Jika biasa saja Luhan sudah aneh, kenapa juga harus ditambah keanehan yang lain. Hahahaha.

Walau sejujurnya Hanji tidak ingin laki-laki itu semakin terlihat keren dengan segala aksesoris yang ada di tubuhnya. Itu hanya akan membuat saingannya bertambah banyak.

Ehehe.. Lupakan soal piercing. Bagaimana dengan passwordku?” Dengan sama sekali tidak merasa bersalah, Luhan masih saja membahas soal password tidak jelasnya itu.

“YAK! MANA AKU TAHU?!”

Bukannya menanyakan kabar, mengucapkan kata-kata manis atau apapun yang bisa menyenangkan hati. Luhan malah menghujani Hanji seputar password yang sama sekali tidak bermutu itu.

Hanji jadi curiga kalau dia sama sekali tidak penting jika dibandingkan dengan media sosial milik Luhan yang sangat berharga itu.

“Aku sibuk. Tanyakan Laogao saja sana.” Hanji kembali melanjutkan acara menyimpul tali sneakersnya yang teralihkan tadi.

Sibuk? Sibuk apa?”

“Aku mau nonton luXion, Lu. Dan kalau aku tidak cepat-cepat datang, aku tidak akan kebagian cheering pack Lay Fan Union.”

Kau nonton luXion?”

“Yap.” Selesai menyimpul sneakernya, Hanji meraih ikat rambut coklat yang tergeletak di meja riasnya dan memakainya asal. Terakhir kali Hanji nonton konser, yang dia ingat hanya panas dan panas. Sekalipun venue sudah dilengkapi dengan pendingin ruangan yang dinyalakan maksimal, hawa panas itu lebih mendominasi ruangan dibanding dingin yang dihasilkan oleh aircon. Apalagi ketika melihat Luhan di perform My Lady. Membuat pelipis Hanji dibanjiri keringat seketika.

‘Akcskcasjb. Hentikan pikiran kotormu itu, Do Hanji!’

Nonton sendiri?

Ani. Bersama Chaerin.”

Chaerin? Siapa itu Chaerin?” nada bicara Luhan terdengar curiga. Tentu saja curiga karena Hanji yang dikenalnya itu tidak mudah menerima orang baru masuk ke dalam hidupnya. Baik teman atau hanya sekedar kenalan.

“Temanku. Wae?!”

Sejak kapan kau punya teman baru?”

“Apa urusanmu? Aish, aku benar-benar bisa kehabisan cheering pack.” Hanji mengambil tas selempang kecilnya dan mengecek arlojinya lagi. Sudah jam empat kurang dan dia janjian dengan Chaerin jam empat pas di venue.

Jadi cheering pack lebih penting dibandingkanku ya, Xi?”

Hanji memutar kedua bola matanya bosan. “Apa bedanya dengan kau yang lebih mementingkan passwordmu itu.”

Sekali lagi Hanji melirik arlojinya dan mengecek tali sneakernya bergantian. Diam-diam Hanji menerka berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk sampai ke venue jika menggunakan bus umum. “Ish, aku sudah benar-benar telat. Jika aku kehabisan cheering pack, kau harus bertanggung jawab!” dan bus umum bukan pilihan yang tepat, karena ketika Hanji sampai, Chaerin pasti sudah menunggu lama disana.

Kenapa aku?! Kau kan bisa minta Jaehee.”

“Bagaimana bisa meminta pada Jaehee Eonnie jika dia saja meng,-” Hanji menghentikan kalimatnya. Dia baru ingat kalau Luhan sama sekali tidak tahu apapun yang terjadi dengan para member dan gadisnya. “Ah. Lupakan. Aku tutup, ya?”

Terdengar suara Luhan yang menghembuskan napas dari sana. “Baiklah. Hati-hati disana.” Ucapnya sedikit tidak rela.

“Ya.” Hanji sudah menetapkan pilihan kalau dia akan menyetop taksi untuk mempersempit waktu. Karena dia tidak mungkin membiarkan Chaerin menunggu lama disana.

Xi.”Tangan Hanji berhenti di udara ketika dia akan menekan icon pemutus sambungan telepon.

“Heum?”

Ada jeda yang cukup panjang sampai Hanji harus mengecek apa teleponnya masih tersambung atau tidak. Tapi iya, masih tersambung dan tidak ada gangguan sinyal sama sekali. “Salam untuk mereka.”

Pip!

Hanji menatap nyalang sambungan telepon SLInya yang sudah diputus sepihak. Jantung gadis itu rasanya merosot ke perut dan tiba-tiba dia ingin mendekam di kamar saja. Dia ingin mengunci dirinya di dalam selimut dan membatalkan janjinya dengan Chaerin, lalu tidur dan melupakan apa yang Luhan katakan.

Tapi tidak. Hanji tidak bisa seperti ini.

Jemari gadis itu langsung bergerak dengan lincah mencari kontak Luhan dan menghubunginya balik. Dia tidak akan pernah tenang jika Luhan memutuskan telepon dengan cara seperti itu.

Luhan itu selalu bisa menjungkir balikkan mood Hanji seperti telapak tangan. Dan Hanji tidak suka jika sudah seperti itu.

Tut.. Tut..

Hanji menggigit bibirnya kuat-kuat. Lama sekali panggilannya tidak dijawab sampai hati Hanji serasa diremukkan dengan hantaman palu godam.

Tut..Tut..

Sekelebat pertanyaan menghujani kepala Hanji. Apa dulu member lain tahu Luhan akan keluar? Apa tanggapan mereka? Apa perasaan Luhan ketika dia meninggalkan grupnya yang sudah bersama dengannya merintis mimpi mereka sejak dari nol?

Apa Luhan sedih mengetahui kesepuluh membernya itu kini mengadakan konser tanpa dirinya?

Heum?” Napas Hanji tercekat ditenggorokan ketika suara Luhan menyapa dengan serak.

“Lu,-”

Ya?”

Hanji harus bisa memastikan kalau Luhan baik-baik saja. Jadi dengan begitu dia bisa tenang.

“Kau,-” satu helaan napas sebagai jeda dan Hanji meneruskan. “,-Baik-baik saja, kan?”

Pertanyaan Hanji dijawab dengan keheningan yang menyesakkan batin. Yang bisa Hanji dengar hanya detak jantungnya yang bertalu-talu dan helaan napas Luhan dari sana. “Lu?”

Ya.” Luhan mendeham, memperbaiki suaranya dan kemudian menjawab dengan lebih ringan. “Aku baik-baik saja, Xi.”

“Kau yakin?”

Hanji memang tidak mudah mengerti Luhan seperti laki-laki itu yang mengerti dirinya luar dalam. Tapi jika Luhan mengatakan ‘iya’, maka itu benar-benar ‘iya’ dan Hanji tidak perlu memikirkan kemungkinan lawannya dari itu. Luhan bukan tipe seseorang yang akan mengatakan kebohongan demi menenangkan orang lain. Jika dia tidak baik-baik saja, maka dia akan mengatakan sejujurnya. Jadi dengan begitu orang tidak perlu berpikir negatif dan semakin mengkhawatirkannya.

Jadi apa yang dikatakan Luhan adalah harga mati yang perlu Hanji percayai. Hanya itu dan Hanji tidak butuh apa-apa lagi untuk meyakinkannya.

Iya, Sayang.” Hanji bisa merasakan Luhan tersenyum ketika mengatakan itu. Membuatnya mau tidak mau ikut tersenyum dengan hanya membayangkannya saja.

“Baiklah.” Hanji memutar pedal pintu kamarnya dan melangkah keluar. Kini dia sudah bisa tenang. “Jangan lupa makan ya, Lu.”

Iya, Sayang.”

“Aku mencintaimu, Lu.”

Luhan terkikik dari sana. Hanji bukan tipe gadis yang akan terlebih dahulu mengatakan kalimat romantis seperti itu. Selalu Luhan yang akan melakukannya pertama kali dan Hanji terkadang meresponnya dengan malu-malu.

Jadi ketika Hanji mengatakan itu. Maka itu semua benar-benar tulus gadis itu ucapkan dari hatinya.

Aku juga mencintaimu, Lixi.”

*****

150307, 04.35 KTS

Semuanya masih sama persis seperti terakhir kali Hanji datang ke konser The Lost Planet tahun lalu. Lautan gadis belia memenuhi halaman venue dengan banner-banner di tangan mereka yang berwarna-warni. Ada juga yang memegang kipas lucu dan lightstick di tangan mereka. Bahkan tak jarang ada yang membuat tulisan kelap-kelip yang mereka jadikan bandana.

Euforianya masih sama, bahkan bisa dibilang lebih besar dibanding yang tahun lalu Hanji rasakan. Banyak kelompok-kelompok gadis yang bernyanyi riang untuk sekedar mengisi waktu sampai gate dibuka –membuat Hanji mau tidak mau ikut melafalkan liriknya pelan. Beberapa Stand Union sudah dipenuhi oleh para gadis yang mengantri meminta banner atau membeli cheering pack. Tak luput juga beberapa Fansite yang berkeliling membagi-bagikan banner.

Dengan menyipitkan mata, Hanji menatap satu-persatu nama-nama yang menempel di depan tiap Stand yang berdiri. “Lay.. lay.. lay.. Lay Fan Union!” Hanji memekik girang, tanpa sadar dia mendekati Stand itu dengan berjingkat-jingkat.

Hanji berkipir kalau dia akan membeli paket lengkap cheering pack Lay Fan Union saja dari pada hanya sekedar meminta banner –biarlah dia membeli sekali-sekali, jadi ketika dia pulang nanti dia bisa memamerkannya pada Luhan. Dan Luhan pasti akan cemberut jika Hanji sudah menggembar-gemborkan jiwa fangirlingnya Yixing itu.

Hahahaha.. Hanji bisa menggoda Luhan nanti.

Omo! Jaehee Eonnie!” Kaki Hanji berhenti berjingkat ketika matanya menangkap sosok gadis yang berdiri di belakang meja tak jauh dari posisinya sekarang. Gadis itu sedang melipat beberapa bannerdan menyusun ulang meja yang sudah kosong dengan cheering pack yang masih tersisa di kardus.

Eonnie, kemana saja? Joonm,-” Hanji berlari dengan heboh mendekati Jaehee yang menatapnya horror. Tanpa sadar bertanya dengan suara yang cukup keras karena terlalu senang. Tapi kemudian gadis itu mengunci mulutnya ketika Jaehee memberikan kode tersirat padanya. “Hehehe.. Mian. Aku terlalu senang melihat Eonnie disini.”

Hanji melirik tiga orang gadis yang juga sedang sibuk sama seperti Jaehee, yang Hanji tahu adalah partner Jaehee dalam Fansite yang didirikannya itu. “Kau nonton luXion, Hanji-ya?”

Hanji memasang senyum lima jarinya dan mengangguk cepat. “Iyap. Tapi harusnya aku yang bertanya seperti itu pada Eonnie. Bagaimana Eonnie bisa menonton sedangkan,-” Hanji mendekatkan wajahnya ke telinga Jaehee dan berbisik disana –sedikit menarik kecurigaan salah satu gadis yang sedang mengangkat beberapa kardus. “,-Eonnie menghilang tiba-tiba? Eonnie itu hobi sekali menghilang, ya?”

Sentilan pelan jari Jaehee mendarat di kening Hanji, yang anehnya malah membuat gadis itu tersenyum semakin lebar. “Hahaha.. Kau itu ada-ada saja Hanji-ya. Oh iya, kau mau cheering pack?”

Dan pertanyaan Jaehee itu benar-benar seperti nyanyian surga di telinga Hanji. Hanji tentu saja langsung mengangguk dengan antusias, karena dia bisa melipat gandakan apa yang akan dia pamerkan pada Luhan. Hahahaha.. Cheering pack lengkap yang gratis. Masa bodo jika Luhan nanti mau mengatainya tidak modal. “Mau, Eonnie! Aaahh~ Kau memang yang terbaik,Eonnie.”

CAIUUw1UYAAq2cd

Hanji mendekap erat-erat cheering packnya dengan senang. Dia tidak tahu harus berterima kasih seperti apa karena pada setiap konser gadis itu selalu mendapat banyak keuntungan. Tidak membeli tiket, bahkan kini diberikan cheering pack secara cuma-cuma. Oke mungkin cheering pack bukanlah benda yang bergitu berharga, tapi itu sangat berharga bagi Hanji karena dengan begitu dia akan melihat wajah cemberut serta bibir maju lima centi milik Luhan.

Gamsahapnida, Jaehee Eonnie.” Seperti murid taman kanak-kanak yang baru belajar alphabet, Hanji membungkuk serendah-rendahnya sampai memancing tawa Jaehee. “Gamsahapnida, Eonniedeul.” Dan Hanji gantian membungkuk kepada ketiga gadis lain yang menatapnya dengan bertanya-tanya.

“Aku pergi dulu ya, Eonni.” Hanji membungkuk lagi, kali ini hanya kepalanya, dan kemudian dia berbalik. Tapi cekalan Jaehee pada lengannya menghentikan Hanji yang ingin melangkah menjauh. “Waeyo, Eonnie?”

Jaehee mengangkat tangannya dan berbisik di telinga Hanji. “Jangan beri tahu siapapun kalau aku menonton ya, Ji?” Hanji menyipitkan matanya dan menatap nyalang pada Jaehee, tapi kemudian dia mengangguk.

“Okey!” Hanji mengangkat kedua bahunya dan kemudian berlari menjauh dengan berjingkat-jingkat lagi.

Hanji berhenti tidak jauh dari Stand Lay Fan Union dan berputar beberapa kali di sekitar Stand Sehun Fan Union -bulak-balik seperti seterika baju yang rusak. Matanya melirik beberapa gadis yang sedang tawar-menawar di Stand itu. Hanji menimbang-nimbang dalam hati apa dia harus membeli cheering pack Sehun juga atau tidak, karena Luhan pasti akan senang melihatnya –berbanding terbalik jika Luhan melihat cheering pack Yixing.

“Beli tidak, ya?”

Jika biasanya Hanji akan ketakutan berada di tempat ramai, menjadi patung yang memaku tanah. Maka kali ini Hanji berbeda seratus delapan puluh derajat. Tentu saja semua itu karena Luhan. Hari ini Hanji berjanji akan mengalahkan phobianya, jadi dengan begitu dia bisa melihat jalannya luXion dengan baik, dan dia bisa mengingatnya untuk dia ceritakan pada Luhan nanti malam.

Luhan akan sangat senang jika tahu mereka semua baik-baik saja, terlebih lagi bisa menguasai panggung mereka lagi walau tanpa dirinya.

“Ah, bel,-” Kalimat Hanji terhenti di lidah ketika dia melihat Chaerin diantara kerumunan orang, menengok kesana-kemari memperhatikan aktifitas yang dilakukan oleh para gadis yang sedang menunggu open gate. Gadis itu mendekap sebuah kipas kecil berwarna abu-abu di depan dada. Tak luput dari perhatian, Hanji bisa melihat kedua pipi gadis itu berkedut-kedut, seperti menahan senyumnya untuk tidak tertarik terlalu lebar.

Di sampingnya berdiri seorang laki-laki dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana, tatapannya mengintimidasi beberapa gadis yang berada di sekitarnya. Hanji tidak pernah melihatnya sebelumnya, tapi Hanji tahu itu adalah Jinwoo yang diceritakan Caherin padanya. Karena beberapa kali laki-laki itu menarik Chaerin untuk tetap berada di dekatnya dan tidak bergeser sedikitpun dari sisinya, membuat Hanji menarik kesimpulan kalau laki-laki itu adalah orang terdekat Chaerin.

“Chaerin-ah!” Hanji berlari dengan melompat-lompat mendekati Chaerin, membuat kunciran buntut kudanya menari kesana-kemari, tangannya melambai-lambai di udara, dan dia yakin kalau dia terlihat seperti anak playgroup yang sedang menyapa teman mainnya.

“Oh?! Hanji-yaaa~!” Dan kini gantian Chaerin yang melambai-lambai heboh, membuat beberapa gadis yang berada tidak jauh darinya menautkan alis. Chaerin akan ikut berlari kemudian menubruk Hanji dengan pelukan tiba-tiba, ketika ada tangan-tangan jahat yang menariknya untuk tetap diam di tempat. “Huwee~ Oppa, lepaskan.”

“Diam, Moon Chaerin! Jangan membuat malu!” laki-laki itu menahan kedua bahu Chaerin yang memberontak. Tapi memang pada dasarnya kekuatan gadis itu tidak bisa dianggap remeh, karena tak lama Chaerin lolos begitu saja dari kungkungan tangan kokoh itu, gadis itu meraih tangan Hanji dan mengajaknya berputar-putar. Membuat lingkaran kecil di tempat dan berteriak-teriak heboh, membuat laki-laki yang tadi mengukung Chaerin hanya bisa mengurut pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut.

“Akkhhh! Aku tidak sabar sekali, Hanji-yaa!!” Chaerin tanpa sadar mengacung-ngacungkan kipasnya di depan wajah Hanji. Kedua mata gadis itu begitu cerah, menjelaskan secara gamblang apa yang membanjiri kepalanya sampai menyinari matanya seterang itu. “Apa kita sudah bisa masuk ke dalam?”

Hanji melirik arloji miliknya yang melingkar di pergelangan tangannya -yang masih digenggam Chaerin. “Belum, Chaerin-ah. Masih lumayan lama.” Tapi kemudian Hanji tersenyum lebar. Gadis itu mendekatkan wajahnya ke telinga Chaerin dan berbisik disana. “Tapi kita bisa masuk ke backstage. Kau mau?”

Chaerin menjauhkan wajahnya dan menatap Hanji dengan matanya yang membulat besar. “Jadi itu sungguhan?!!” Tangan Chaerin gantian merengkuh kedua pundak Hanji, menguncangnya keras sampai membuat gadis itu meringis.

“Iya itu sungguhan. Ahh! Appo.”

Satu jitakkan mendarat di kepala Chaerin, yang sontak membuat gadis itu menoleh ke belakangnya.

“Kau tidak lihat temanmu kesakitan seperti itu?!”

Chaerin menoleh lagi pada Hanji, yang kini terpaksa nyengir. “Kau sakit, Ji?”

Pukulan lain mendarat di kepala Chaerin dan itu juga berasal dari orang yang sama. Jinwoo.

“Dia sakit karena kau mencengkram bahunya, bodoh.”

Omo!”

Dengan menyengir bodoh, Chaerin melepaskan cengkraman tangannya pada pundak Hanji, kemudian menepuknya pelan. “Hehehe. Mian.”

Hanji menggeleng dan mengatakan tidak apa yang dibalas Chaerin dengan senyuman lebar. Kedua gadis itu kemudian menatap laki-laki yang sedari tadi terabaikan oleh kehebohan kedua gadis itu. Chaerin mengenalkan Jinwoo pada Hanji sebagai kakaknya yang sempat membuatnya khawatir tidak memberikan izin untuk menonton konser. Sebaliknya Chaerin mengenalkan Hanji pada Jinwoo sebagai teman ajaibnya, yang begitu masuk ke dalam hidupnya, langsung bisa merubah semua jalan hidupnya.

Jinwoo awalnya sempat berpikir untuk tidak kembali pulang dan menemani kedua gadis itu menunggu sampai gate dibuka, karena setelah melihat Hanji rasa khawatir malah menghujaninya. Bagaimana bisa dia meninggalkan dua bocah ababil seperti Chaerin dan Hanji di tengah-tengah ribuan gadis yang bisa saja menyakiti mereka untuk alasan apapun –baik sengaja atu tidak.

Chaerin sendirian saja sudah bisa memberikannya shock teraphy, bagaimana jika ditambah dengan teman baru gadis itu yang terlihat sama kekanak-kanakan dengannya. Bisa mendapat serangan jantung mendadak dia jika terjadi apa-apa dengan kedua gadis itu.

Oppa, tidak pulang?”

“Tidak.”

“Kenapa tidak?”

Jinwoo memutar bola matanya, sekali lagi melirik Hanji sekilas. Dan dia semakin tidak yakin. “Tidak apa-apa.”

Oppa, pulang saja sana!” sekurang ajarnya Hanji terhadap Hyunjoo, masih lebih kurang ajar Chaerin yang mengibaskan tangannya untuk mengusir Jinwoo. “Bye bye, Oppa!” Chaerin melambaikan tangannya pada Jinwoo dan kemudian menarik Hanji menjauh.

“Eh? Kenapa Oppamu ditinggal?”

“Shhtt, lupakan saja dia.”

Diantara lautan histeria para gadis belia itu, Chaerin menarik Hanji kederetan gadis yang sedang berbaris di depan sebuah Stand. Chaerin menunjuk-nujuk poster Sehun dengan telunjutknya dan memasang wajah memelas. Dia tidak pernah datang ke konser sebelumnya, jadi dia tidak tahu kalau ada banyak Stand yang menjual pernak-pernik . Oleh karena itu, dia tidak membawa uang sama sekali dan bodohnya dia lupa meminta pada Jinwoo.

Chaerin memekik ketika sekumpulan gadis mundur teratur dengan membawa merchandise ditangan-tangan mereka, gadis itu menunjuk-tunjuk sebuah banner yang digenggam seorang gadis. Menilik dari ekspresi wajahnya, Hanji bisa menyimpulkan kalau Chaerin menginginkan itu.

“Errr. Kau mau itu Chaerin-ah?”

Pertanyaan Hanji dijawab dengan anggukan Chaerin yang terlalu semangat. Hanji kembali ingat dengan niat awalnya membeli cheering pack Sehun –untuk dia pamerkan pada Luhan.

“Baiklah, ayo kita beli.”

Gadis terakhir yang sudah selesai memilih cheering packnya beranjak dari posisinya, memberikan akses pada Hanji dan Chaerin untuk maju. “Kau mau yang mana Chaerin-ah?” Hanji mengigit bibirnya ketika melirik mata Chaerin yang kelaparan berlari kesana-kemari. Biarlah sekali ini dia mengeluarkan uang untuk menyenangkan orang lain.

Chaerin mengambil satu yang disukainya dan mendekapnya erat-erat. “Yang ini.”

Hanji tertawa, melirik apa yang dipilih Chaerin sekilas dan kemudian mengambil satu lagi –untuk dirinya sendiri. Hanji menyerahkan beberapa lembar uang won pada gadis penjaga Stand. “Aku juga mau yang ini. Hehe..”

Chaerin meremas cheering pack yang masih dipeluknya, menahan keinginannya untuk memeluk Hanji. Walaupun Chaerin sedikit penasaran kenapa Hanji juga membeli cheering pack Sehun, tapi intinya dia benar-benar berterima kasih. “Terima kasih, Hanji-ya.”

Hanji mengangguk, gadis itu membuat cekungan lucu dengan matanya saat kedua sudut bibirnya tertarik. “Kau tidak membeli yang punya Baekhyun Oppa, Hanji-ya?” pertanyaan Chaerin tepat pada sasaran. Hanji hanya tersenyum kikuk dan menggeleng.

“Kalau gitu ayo kita beli!” Chaerin berseru. “Kau itu bagaimana sih, masa membeli milik member lain ketimbang milik kekasihmu sendiri.” Chaerin memelankan suaranya diakhir kalimat, tanpa adanya aba-aba gadis itu langsung menarik Hanji ke Stand lain, mengambil salah satu cheering pack berwarna merah jambu yang bertumpuk-tumpuk di atas meja. “Ayo bayar.”

“Eh?”

“Apa eh? Ayo bayar.”

“Tapi,-”

“Tidak ada tapi-tapian. Ayo cepat!”

Semuanya berlangsung cepat ketika Hanji mengeluarkan beberapa lembar won lagi, tidak mencoba protes lebih lanjut pada Chaerin yang memaksanya membeli cheering pack Baekhyun -termasuk dengan kipas yang memajang foto sok imut laki-laki itu yang menggelikan. Hanji bersumpah kalau habis ini dia akan menteror Baekhyun untuk mengganti uangnya itu.

B_9b8GKVIAADwwOtumblr_nktssolOMN1qgxuxro4_1280tumblr_nktsw4VCuC1qgxuxro1_500

Kenapa juga dia membeli cheering pack merah jambu itu, yang sama sekali tidak manly. Yang dia yakin dia akan muntah terlebih dahulu sebelum dia menggunakannya.

Ah sudah, lupakan. Yang perlu Hanji pikirkan sekarang adalah mengenap-endap masuk ke backstage lewat pintu belakang tanpa diketahui ribuan pasang mata yang siap mengabadikan kejadian itu di lensa kamera mereka.

“Chaerin-ah. Kurasa sudah mau open gate.”

“Oh, ya?! Kalau gitu ayo kita berbaris masuk.”

“Eh. Tidak-tidak.”

Hanji menarik Chaerin yang hendak mengikuti kumpulan gadis untuk berbaris. “Kita tidak lewat sana.”

Tanpa menunggu pertanyaan atau persetujuan Chaerin, tangan gadis itu sudah lebih dahulu ditarik dan diajak berlari -kali ini benar-benar berlari kencang, melewati parkiran dan terus ke belakang sampai di depan sebuah pintu kecil. Ada seorang penjaga di sana dan Hanji hanya perlu menunjukan ID card yang diberikan Baekhyun padanya pada penjaga itu, lalu masuk ke dalam tanpa ditanya lebih lanjut oleh penjaga itu.

Hanji, memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri secara bergantian, menyusuri setiap inci bangunan yang besar dan megah itu. Sesungguhnya dia tidak sedang mengamati design arsitektur bangunan itu, dia hanya sedang mencari dimana ruang tunggu kesepuluh laki-laki itu. “Dimana, sih?”

Di bangunan yang sebesar ini, bagaimana caranya dia bisa dengan mudah menemukan ruang tunggu mereka semua jika Baekhyun sama sekali tidak memberikan gambaran apapun kemana Hanji harus berjalan. Laki-laki itu hanya menjelaskan pada Hanji kalau dia hanya perlu menunjukan ID cardnya pada penjaga yang menunggu di pintu belakang, lalu masuk. Baekhyun mengatakan kalau ruang tunggu itu tidak jauh dari pintu belakang. Tapi yang Hanji temui malah lorong panjang dengan banyak tikungan.

Hanji kembali melirik ke kanan dan kirinya ketika berada di tengah-tengah perempatan. Beberapa staff yang memegang walky talky ditangan mereka melewati Hanji dan Chaerin begitu saja. Ada beberapa yang menatap mereka sekilas tapi kembali melanjutkan aktifitas mereka sendiri-sendiri.

Hanji tidak tahu harus bertanya pada siapa, dia juga tidak mungkin menelepon Baekhyun karena laki-laki itu tidak mungkin memegang ponselnya di menit-menit mulainya acara.

Hanya bermodalkan naluri, Hanji menyusuri lorong-lorong dengan pendingin itu diikuti Chaerin yang mengekor di belakangnya.

Demi semua uang yang dimiliki Joonmyun, wajah bodohnya Hanji dan Chaerin terlihat seperti dua anak kecil yang hilang dari pengawasan ibunya.

Beberapa kali berbelok di tikungan, Hanji bisa mendengar suara teriakan-teriakan Baekhyun yang tidak terlalu jelas, menggema dilorong dan membuat Chaerin menjerit senang.

“Kyaa! Itu suara mereka!”

Hanji membekap mulut Chaerin rapat-rapat dengan telapak tangannya ketika ada beberapa staff berbadan besar yang menatap mereka curiga. Sedikit takut. Hell, tapi kenapa juga dia harus takut kalau dia punya pegangan dari Baekhyun. Bodoh.

“Jangan berisik, Rin-ah.”

Chaerin mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan mengangguk, kemudian kembali melanjutkan langkahnya mengekori Hanji. Suara teriakan Baekhyun yang begitu berisik makin terdengar jelas, kali ini diikuti dengan suara Jongdae, Chanyeol dan Zitao.

Kedua gadis itu berhenti di depan pintu dengan tempelan kertas yang menjelaskan kalau ruangan itu adalah ruang kesepuluh laki-laki itu menunggu konsernya dimulai.

Hanji melirik Chaerin sekali lagi, yang dibalas Chaerin dengan memainkan alisnya. Hanji meraih pedal pintu dan membukanya, mendorongnya masuk sampai dia bisa melihat semua yang ada di dalam.

“Yixing G,-”

Satu hal yang Hanji lupa, selain ruang tunggu, ruangan itu juga menjadi ruang ganti para member. Jadi ketika Hanji baru saja masuk ke dalam, dia bisa melihat Sehun, Chanyeol dan Yixing yang sedang berdiri di depan kipas angin –mengeringkan keringat mereka dengan mengangkat baju tinggi-tinggi, dan yang lebih parah dari itu adalah, Minseok, Jongin dan Baekhyun yang sedang mengganti baju.

“Eh? Kau sudah datang, Baby?” Baekhyun mendekat, tidak sadar sama sekali dengan tubuh bagian atasnya yang polos dan berkeringat.

Laki-laki itu menjentikan jarinya di depan wajah Hanji karena gadis itu tidak merespon.

Baby, kau baik-baik saja?”

“Baekhyun Hyung, bajum,-”

“ADJGFKLDNASKAKJS!! BYUN BAEKHYUN, KAU MENODAI MATAKU!!”

*****

My baby!” Hanji masih menutup kedua matanya dengan telapak tangan ketika Baekhyun merentangkan tangannya, kemudian menarik gadis itu dan masuk kedalam rengkuhannya –masih tanpa mengenakan atasan.

“Astaga.”

“Aku tidak mau liat.”

Hyung! Jangan bermesraan disini!”

“Kau jangan coba-coba berbuat asusila disini, Byun Baekhyun!”

Hanji kontan melotot begitu bisa merasakan hawa panas tubuh Baekhyun yang melingkar disekeliling tubuhnya. Pelukan Baekhyun begitu erat sampai Hanji tidak bisa bernapas dengan benar. Tapi gadis itu tidak lekas melepaskan pelukan Baekhyun dari sekeliling tubuhnya, karna entah mengapa Hanji malah terkesan menikmatinya.

“Menyukai pelukanku, Baby?” sekonyong-konyong suara soprano itu menyusup halus di telinga Hanji, membuat Hanji langsung mencubit dada Baekhyun -yang menguarkan wangi maskulin memabukkan- agar menjauh darinya.

“Aduuh-!” rintih Baekhyun, laki-laki itu mengelus dadanya yang dicubit Hanji. “Dibanding mencubitku, aku lebih suka kau tidur disini.” Masih sambil mengelus dadanya yang terbuka, Baekhyun mengucapkan kalimat sok manis menjijikan itu tanpa tahu malu. Membuat Chaerin yang masih berdiri di belakang Hanji menjerit bahagia, gadis itu menakup kedua tangannya di depan dada dengan mata yang berbinar. Dia memang pernah melihat Baekhyun yang merangkul bahu Hanji, tapi kali ini berbeda. Mereka berpelukan. Benar-benar berpelukan. Ditambah poin plusnya dengan laki-laki itu tidak mengenakan atasan. Chaerin yakin banyak fans yang akan menangis melihat adegan itu. Tapi tidak dengannya. Karena dia senang bisa melihat drama romantis teman barunya itu di depan matanya secara langsung. Chaerin akan menjerit sekali lagi-mengungkapkan seberapa ikut senangnya dia atas keromantisan hubungan Hanji- saat Sehun menutup matanya dan menariknya menjauh.

“Ayo sini peluk lagi!”

Jantung Hanji berpacu tidak karuan. Tubuhnya ikutan memanas seiring dengan ingatannya yang memutar balik memoar hawa panas Baekhyun yang tadi dia rasakan. Hanji tanpa sadar menggigit bibir bagian bawahnya malu. Dia ingin memaki Baekhyun dan mengatakan tidak. Tapi tidak bisa.

Tapi kenapa?

Kenapa reaksi Hanji seperti gadis yang mencintai Baekhyun sungguhan? Hati Hanji bahkan tidak bisa mengelak untuk mengiyakan kalimat Baekhyun. Dia juga ingin kembali memeluk dan tidur di dada pria itu yang hangat.

‘Aku juga mencintaimu, Lixi.’

“YAK! JANGAN SEENAKNYA MEMELUKKU!” Teriak Hanji kuat, membuat Baekhyun membeliakkan mata karena terkejut.

Wae? Kau kan kekasihku, Baby.”

Hanji meremas-remas kesepuluh jemarinya, menekan rasa gelisah yang tiba-tiba merambat ke dalam tubuhnya itu. Pikirannya berlayar jauh, menjelajahi ketidakpastian. Ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya, seperti sebuah dorongan kuat untuk menyerahkan dirinya lagi untuk masuk ke dalam pelukan Baekhyun. Tapi Hanji tidak mau mengakuinya, tidak akan pernah.

“Pakai bajumu, Byun Baekhyun!” Ringking Hanji kuat.

Wae?”

“Jangan banyak tanya!” Alis Hanji melejit tak suka. Beberapa cibiran keluar dari bibir gadis itu, yang barangsiapa mendengarnya pasti langsung bergidik merinding.

“ASTAGA! KALIAN BERDUA TIDAK BISA TIDAK DIAM SEKALI SAJA, HAH?!” Minseok memaki sebal. Laki-laki itu melempar sebuah kaos yang ditangkap Baekhyun dengan cepat. “Pakai bajumu, Baek!”

Hanji menyikut Baekhyun, memberi kode kepada pemuda itu agar segera menuruti perintah Minseok dan mengatakan ‘cepat-pakai-bajumu-byun-berisik-hyun-atau-kita-mati’ tanpa suara tapi laki-laki yang diberi kode itu malah acuh tak acuh.

“ASTAGA, BYUN BAEKHYUN! PAKAI BAJUMU ATAU AKU YANG PAKAIKAN?!!” Hanji melotot, kali ini jarinya mencubit lengan atas Baekhyun yang Hanji pikir mulai berotot.

Bukannya takut, laki-laki bernama Baekhyun itu malah menyengir senang dan mengulurkan kausnya pada Hanji. “Pakaikan.”

“KAU GILA?!”

“BYUN BAEKHYUN, DO HANJI, BERHENTI SEKARANG ATAU AKU BENAR-BENAR AKAN MELEMPAR HAIRDRYER INI KE MULUT KALIAN?!”

Teriakan Minseok menggelegar bagai petir yang menyambar, membuat Hanji melipir sejenak, memegang dinding terdekat untuk menompang tubuhnya yang hampir jatuh. Hanji melirik ke sampingnya, kearah tangannya yang diapit oleh Baekhyun dengan gemetar.

“Ini karna kau.” Bisik Hanji takut-takut. Dia tidak pernah diomeli oleh Minseok sebelumnya, tapi kini laki-laki itu meneriakinya. Tentu saja itu karna kesalahan Baekhyun, bukan karna kesalahannya.

“Kenapa aku? Kau kan yang mulai duluan.”

“Aku tidak. Kau yang memelukku duluan, Byun Baekhyun.”

“Lalu apa masalahnya? Aku hanya memeluk. Kau kan yang mencubitku.”

Bisik-bisik itu masih terus berlanjut untuk menentukan siapa yang menjadi dalang atas masalah itu sebelum akhirnya Minseok menarik Hanji, melepas paksa apitan tangan Baekhyun pada lengan Hanji dan menjauhkan mereka. “Kau keluar saja, Ji. Kami mau ganti baju dan siap-siap.”

Hanji menganguk, menepis tangan Baekhyun yang hendak menggenggam pergelangan tangannya.

“Huwee~~ Baby, kau mau kemana?!! Andwe, jangan pergi!”

“Byun Baekhyun, jangan membuat malu!”

“Kau jahat sekali, Hyung!Baby, jangan tinggalkan aku!”

Gadis itu mendesah kuat. ‘Abaikan dia, Do Hanji. Abaikan.’ Kemudian berbalik meninggalkan Baekhyun yang masih berteriak-teriak dengan tidak etis. Lebih baik dia mencari Chaerin yang entah bagaimana caranya sudah menghilang tanpa diketahuinya, dari pada berada di dekat Baekhyun yang membuat degupan jantungnya menjadi tidak menentu.

Dia tidak boleh seperti ini. Dia tidak boleh memikirkan pelukan laki-laki tak bisa diam itu.

“Hanji-ah.” Panggil Minseok ketika Hanji sudah sampai di persimpangan lorong, menarik tangan gadis itu dan kemudian mengacungkan kedua ibu jarinya. “Kerja yang bagus, Do Hanji.”

Hanji mengerjapkan matanya, sekali … dua kali. Ia memiringkan kepala dan menatap Minseok dengan seksama. “Hah? Maksud, Oppa?”

Minseok menyentil kening Hanji dan tersenyum gemas. “Aktingmu dengan Baekhyun itu.” Lagi-lagi pemuda itu mengacungkan ibu jarinya dan menggerakkannya di udara. “Kalian benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih sungguhan.”

Gadis itu tampak berpikir, namun setelahnya ia menggangguk. “Terima kasih, Oppa.” Dan setelahnya Hanji kembali melanjutkan langkahnya mencari Chaerin.

Dia ingin menemukan Chaerin secepatnya, memperbaiki perasaannya yang tiba-tiba berantakan seperti rak buku di dalam kamarnya. Dia ingin menyusun kembali hatinya yang lebur dengan ocehan lucu Chaerin yang tidak ada habisnya.

Ada satu hal yang tidak beres dengan dirinya, dan ia tidak ingin mengakuinya.

Satu hal tentang perkataan Minseok tadi.

Satu hal tentang dirinya dan Baekhyun.

Satu hal tentang kejadian tadi yang sama sekali bukanlah sebuah akting.

*****

-CUT-

Siapa yg nunggu LuHanji?!!! Siapa yg nunggu BaekJi?!!!

Hayo mau pilih Couple yg mana? /kibas poni/ Pliss jgn ada yg salah sangka sama Baek ya. Jgn anggap dia penghancur hubungan LuHanji. Dia itu tim hore dicerita ini /?/ Tanpa Baekhyun, cerita nggak akan jalan /malah curhat/

SUMPAH LUHAN BOCAH BGT YA NANYA PASSWORD INSTAGRAMNYA KE HANJI!!! /kecup mesra Luhan/ /lempar Laogao/

BAEK SUMPAH YA IHHH PENGEN AKU TABOKIN RASANYA!!!! /wkwkwkwk/ CHEERING PACK MU PENGEN AKU BAKAR RASANYA!!!!

Oh iya. Part ini nggak aku protect, part selanjutnya akan aku pw. Dan dari ketentuan IDL yg baru, untuk dapet pw yg selanjutnya harus komen di dua part sebelumnya. Itu artinya harus comen di part BaekJi 1 yg di protect. Hehehehe ^^ buakn berniat menyusahkan kok. Sumpah. Itu udah keputusan bersama.

MUT

Advertisements

21 thoughts on “[LuHanji Colour] BaekJi Scenario #2 luXion

  1. @deulight95 says:

    Mut,,,, kyaaaaaaa seneng banget ini luhanji di update, padahal baru tadi ditanyain di Line … kkkkkk ….

    Pertama” sumpah baca part ini bikin mood up and down …. ya ampun luhan …….. password ig aja sampai lupa /geleng-geleng/ tapi tapi …. luhan yg rajin hubungin hanji ini apa karena dy punya firasat kah???
    Sedih waktu part luhan tw hanji nonton exoluxion u.u.u miss you guys

    LUHANJI / BAEKJI ????? …. Bingung ini bisa ga LUHANJIBAEK aja /kkkkkk/

    Baek ini lucu bgt di luhanji baekji scenario ini sumpah ….. aduuuuuh lucuuuuuuuuuu bgt ……

    Chaerin ini beruntung bgt yaaa bisa ketemu hanji sama anak EXO … /mupeng mode on/
    Ga jaehee ga hanji sama sama pens yixing yaah ~~~
    Jaehee kabur *lagi* waeyo??????
    Cheering pack sehun sm baekhyun~~~ mau mau mut … mau bgt dibeliin hanji *kedip kedip* tpi cheering pack baek sumpak pinkeu pinkeu lucuuuuuu ….

    Hahaha~~~ ditunggu bgt next part baekji scenario ini …… ppalli palli …..
    Mut fighting!!!!!

  2. Tommo's says:

    LUHAN PLEASE -_____-
    Mau jitak luhan suer -_-
    ngeselin banget sih rusa yang satu itu -_-
    bayangin jadi hanji pas masuk waiting room exo trus mereka shirtless
    mimisan langsung diriku:”
    hanji baper sama baek? Yaampun hanji jan baper dong wkwkwkwk
    kasian luge kalau dirimu baper

  3. Dana says:

    Kok luhan…dodol……hahaha ngakak banget ngerengek cuman gara2 pw instagram sumpah gemesssssh!
    Dan demiapapun sedih pas luhan bilang “salam untuk mereka” hueeeeee
    O.M.G akhirnya baekji moment awwwwww rame banget sih merekaaaaaa duhhhh seruuuu
    Nah kan kan kan hanji mulai kepincut nih sama baek???? Waduuuuuhhhh meskipun aku seneng sama baekji tapi jangan donggggg luhanji tetep nomer satu!!!!
    Dan penasaran banget sama serin!!!!! Cepetan update donggg serin nyaaaaa eheheh banyak mau banget yeee maafkaaaan~

  4. Prihartini Khoirun Nissa says:

    Yakkk byun baek apa yang kau lakukan sama hanji, dan kenapa hanji bilang itu bukan akting, duh jangan bilang hanji ada suka sama baek. Bagaimana jika luhan tau yang sebenarnya jinjja aku tidak tau harus bagaimana. Ceritanya semakin rumit dan membuat bingung. Fitunggu kelanjitannya

  5. Ryeo Uci says:

    Aaaakkķkkhhhhh
    Aq mulai curiga nih sm hanjii….
    Please hanjii jgn bilang klo km mulai ada feeling sm si baekhyun emm..???
    Omg rasanya tuh nyesek bgt klo misalnya luhan tau baekji itu pura2 pacaran demi supaya chaerin g tau klo hanji kekasih luhan yg sesungguhnya…huaa kasian hanji terjebak sm perasaanya sendiri…
    Ok aq ngerasa knp luhan sering tlponin hanji karna punya feeling klo hanji merahasiakan sesuatu dr luhan..#mulaisotau
    Hahah

  6. hyunnie says:

    Luluuuuu pleaseeeeeee nelepon mahal mahal malah nanyain pass instagram doang -___-
    Heooooooool dia ngga nanyain kabar hanji dulu kek atau apa kek :3
    Eyyyyyyyh byunbaek kesempatan dalam kesempitan bangeeet meluk meluk hanji segala kkkkkk
    Bentaaaaar iniiii masih bingung di akhir katanya hanji ??? Jadi hanji sama baek sama hanji ada hubungankah ?????
    Terus kenapa kejadian tadi bukanlah acting ??? Aiguuuuu ini semacam teka teki yaaaa bhahahahak
    Tapi seriusaaaaan liat cheering packnya byunbaek bikin horor sendiri -___- kenapa warnanya harus pink ??? Kenapa enggak yang agak manly gitu kkkkkk
    Next chapternya di tunggu 😊😊😊

  7. it'sme Min2 says:

    Hanji kuatkan imanmuuuuuuuuuuuuuu … baek tolong yah badan sama omongan d’atur kalo bener2 jadi itu percikan (?) Mafi dehhhhhhh … luluuuuuuuuu save herrrr

  8. Tari0993 says:

    Huahahahahhaha please mutt aku ngakak bacanyaaaaa
    Apalah itu byuncabe eksis banget disini hahahaha
    aga tersentuh juga pas luhan nitip salam rasanya nyes jleb gimana gitu
    Tp tp tp pas baca percakapan baekji oh please itu kaya suami takut istri hahaha dan seperti jiwa yg tertukar hahahaha

    Btw mut curhat ya di sini curhat tentang kegilaan mu akan byuncabe hahaha
    Ok sekian dan terima kasih
    hahah

  9. adindacynthia says:

    Luhan apa dah, gak jelas banget.. Intagram dia sendiri, nanya password malah sama siapa, hadeuh.. -_-
    YA!! BYUN BAEKHYUN!! KENAPA DIRIMU MALAH MENCARI KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN?!! -_-
    Nah loch, Hanji nya malah gitu kan, ntar kalo Hanji berpaling gimana mut? Beneran kasian ntar itu si rusa cantik..

  10. exolines88 says:

    Byun cabai baek. Astagaaaaa KONTROL DIRIMU NAK. Duh ka mut, hanji jangan labil gitu dong 😦 jangan sampe baper sama baek.. minseok jadi purik gitu ya wkwkkw dasar ibu ibu sosialita. btw, chaerin dibawa hun kemana ka…… GO SERIN GO SERIN!!!!

  11. baekmyeons says:

    Duh luhan, pertanyaanny ke hanji gk penting banget deh, mahal2 nelepon cma nanya password instagram -.-”
    Envy deh pas bagian Byun Baek meluk Hanji tanpa atasan, *tiba-tiba inget pas nonton fancam lucky yg bagian tubuh baek keliatan gak pake baju😍..
    Hueeee, jadi pengen ngerasain dipeluk baek #dibunuh
    Aku sih lebih suka Luhanji, Baek sma nuna yg itu saja yahh hahahahah😄😄

  12. Selvi says:

    Luhan ada2 aj msa tlpn hanji hanya krna lupa pw insta nya udh hanji blng ngak tau msh ngotot lgi
    Bayangin pas hanji msuk kw waiting room exo n mrka lgi ganti baju WOW
    Di tunggu next chapter nya ya
    Fighting

  13. Hikyu says:

    aduhhh sang namja luhan mulai kumat bocahnya dah XD plisss deh ributin masalah pw instagram, heol xD
    bahaya bahayaaaa!!! hanji mulai goyah, baekhyun menghayati bgt sih aktingnya jadi hanji kan ngerasa ‘beda’. sadarrr hanji!!!! sadaaarrr

  14. rinhorinhae says:

    duh ga bayangin luhan yg ngrengek nanya password instagraammmm ke hanji sumpahhh lucuuu bgt passtiiii aaaakkkkkk ><…..
    daannnnn dsni cewe2 member exo pada bnyak yg ngestan yixinggg ughhhh kesayangan akuh wkwkwkwk seneng jdnyaa bnyak yg suka yixing (?)
    chaerin ngilang dbwa kabur sehun kali ya hhhihi

  15. Bubble Gum says:

    apa maksud perkataan hanji kalo itu bukan akting ??? terus luhan gimana ?? sebenernya lucu juga sih baekji, hahah #plin-plan
    luhan please nelpon cuman buat nanya pw instagram, gk penting amat, bukannya kangen-kangenan malah nanya pw hahaha

  16. Veni says:

    Mau juga masuk ruangan oppadeul. Bisa liat abs jongin dan sehun, apalagi bisa dipeluk sama bekyun yang ga pakek atasan. Maaakk, gue jadi bayangin. Itu hanji jan sampe jatuh cinta sma cabe byun. Ingat luhan di beijing sana hanji :3 itu juga apa maksud luhan salamin ke mereka, ahhh jadi baper lagi kan 😦

  17. hana ardhani says:

    Huaahahahhhhhh baru sempet bacaa ;A; BaekJii Luhanjii aaakk bingung pilih yang mana*GAK

    beneran kayak orang pacaran heheu.Bbh kaga pake baju-_- hewhew wgwgwg kalo luhan ngeliat begituan gimana ya wgwg

  18. FAWN says:

    Apa? Kenapa? Baekhyun kamu ASDFFHJKL!
    Ya Tuhan! Kenapa ceritanya bikin jungkir balik gini. Sebentar-bentar senyum abis itu pengen nangis abis itu ketawa geli abis itu seneng banget abis itu langsung abis. OTL

    Aku gak tau ada apa sebenernya dengan BaekJi di part 1. PENASARAN AKUT. Huh Hah Huh Hah.
    Sweeeeet~! Se-Rin nyempil walopun dikit.
    Suka suka ❤ aku lanjut baca series selanjutnya dulu ~

  19. Victoria says:

    Ternyata part 2 ga di protect hft kelewatan udah baca part 3 duluan wkwk
    geli ah baek kek gitu kek maksa gitu lovey doveynya-.-) tapi gapapa menye kok. Gimana ya keliatannya kalo member exo itu di satu ruangan lagi ganti baju gitu, penasaran bentuknya😏😏😏 (mesum mode on)
    Tapi perasaannya hanji mulai tergoncang.. Hayoloh inget yanf di beijing ji wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s