[KaiNa Piece] Blank

BLANK

© IMA 2015

Kim Jongin — Lee Hana

Kang Yun Woo

PG-17!

Please kindly read Lee Hana’s profile before read this story

[KaiNa Piece] Blank

March 1st, 2015

Hana’s apartment

11.21 AM KST

Kai semakin sibuk mempersiapkan comeback dan konser. Sementara Hana masih menunggu hari pertama tahun ajaran baru kuliahnya dimulai. Siang itu Ha Jin menemaninya di apartemen, memasakkan menu makan siang yang membuat perut Hana berkecamuk minta di isi. Sudah lama tidak merasakan makanan buatan ibunya –karena Ha Jin sibuk mengurusi kebutuhan Jiho yang kembali ke Korea setelah menyelesaikan studi di Jerman. Hana juga sering berada di luar apartemen dan pulang di sore hari saat mengurus berkas mahasiswa baru.

Ha Jin menaruh kimchi stew, beef tripe hot pot, dan kimchi pancake di atas meja makan apartemen Hana. Nafsu makan Hana mendadak naik, ia mengucapkan selamat makan lalu mencoba semua makanan itu dengan cepat. Hana bahkan belum menelan makanan di mulutnya namun sudah memasukkan potongan kimchi pancake ke dalam mulutnya lagi. Membuat sang ibu hanya geleng-geleng melihat tingkah anaknya.

Eomma heran kenapa Jong In menyukaimu, Hana-ya,” ujar Ha Jin seraya menggelengkan kepala dan memasukkan nasi –beserta potongan beef tripe ke dalam mulutnya.

Hana terkekeh pelan lalu menelan semua makanan di dalam mulutnya. “Justru karena aku seperti ini, makanya Jong In suka.”

“Jong In tidak normal kalau begitu,” balas Ha Jin kalem dan berhasil membuat Hana tersedak tiba-tiba.

Eomma! Kenapa eomma meremehkanku?!” Hana segera berseru setelah meneguk segelas air –untuk melegakan tenggorokannya.

“Aku tidak meremehkanmu, sayang. Memang kenyataannya kau keras kepala, ceroboh, berpikir lambat, dan kadang polos juga. Kukira hanya Min Kyu yang mau menyukaimu saja sampai kalian menikah nanti. Ternyata kau berhasil menarik perhatian laki-laki seperti Jong In juga,” Ha Jin tidak bisa menahan senyumnya seraya mengendikkan bahu. Menyantap makan siangnya dalam diam sedetik kemudian.

Hana merasakan kedua pipinya memanas karena ucapan ibunya. Ia juga heran kenapa Kai bisa tertarik dengan wanita sepertinya –yang jelas-jelas tidak sempurna. Apa yang dilihat Kai dari diri Hana sebenarnya?

“Apa kau bahagia dengan Jong In?” pertanyaan Ha Jin membuat tangan Hana terhenti di udara.

Keurae!” jawab Hana mantap lalu kembali menunduk ke mangkuk makan siangnya.

Apa Hana bahagia? Oh, tentu saja. Ia senang karena bisa memiliki pacar pertama seperti Kai. Lelaki itu sempurna –dari segi fisik walaupun kadang menyebalkan dari segi sikap. Namun di sisi lain hatinya, ia juga merasa sedih karena tidak bisa berpacaran layaknya remaja biasa –yang sering berkencan kemana-mana. Ia dan Kai tidak akan pernah bisa seperti itu.

“Sudah berapa tahun?” tanya Ha Jin kembali menyambung pembicaraan di jam makan siang mereka.

Hana masih menaruh ujung sumpit di depan bibirnya seraya berpikir keras. “Hampir tiga tahun? Sepertinya.”

Heol. Eomma tidak pernah pacaran selama itu dulu,” protes Ha Jin dan membuat Hana terkekeh pelan menanggapinya. “Apa skinship terjauh kalian? Jangan coba-coba bohong pada eomma. Kau tinggal sendirian di sini dan apartemen Jong In hanya dua lantai di bawah. Dia pasti sering menginap di sini ‘kan?”

Hanya kebisuan yang diberikan Hana sedetik kemudian. Wajahnya memanas dan ia hanya bisa menunduk tanpa berani menatap kedua mata ibunya. Kenapa Ha Jin bertanya hal pribadi seperti itu? Ah wajar jika Ha Jin bertanya tentang keadaan Hana –yang ditinggal bertahun-tahun sendirian di Korea. Ha Jin pasti ingin seorang laki-laki yang baik untuk anaknya bukan?

“Kau dan Jong In tidak melakukan yang aneh-aneh ‘kan?”

ANHI!” jawab Hana cepat masih dengan kedua pipi yang memerah menahan malu. “Poppo. Hanya poppo.

“Bohong,” Ha Jin memicingkan mata, tidak percaya dengan ucapan anaknya. “Eomma tahu anak muda jaman sekarang, eeyyy. Tidak mungkin hanya poppo. Ayo jujur.”

Eomma~,” rengek Hana seraya menghentak-hentakkan kakinya –dibawah meja makan. “Kita selesaikan makannya dulu baru cerita, eoh?”

“Tidak tidak. Eomma harus tahu bagaimana kehidupanmu di Korea,” jawab Ha Jin dengan senyum tertahan –yang entah kenapa malah membuat Hana semakin malu.

Kiseu. Aku dan Jong In hanya sampai kiseu, eomma. Tidak lebih,” Hana akhirnya menjawab dengan pasrah, terpaksa menjawab jujur pada Ha Jin. Tiba-tiba ingatannya malah berputar kembali pada ciuman panas mereka beberapa minggu lalu. Heol.

“Berapa lama kalian melakukannya?”

EOMMA!”

***

Perdebatan memalukan itu berakhir dengan Hana –yang tiba-tiba mendapat pesan dari Seoul Institute of Arts untuk mengecek pemilihan mata kuliah. Hana terpaksa meninggalkan ibunya dan kembali ke kampus lagi.

Setelah kejadian –memarahi senior waktu itu, Hana agak sedikit takut datang ke kampus sebenarnya. Sebelumnya ia tidak pernah memedulikan hal senior atau apa, tapi sekarang ia baru saja memasuki universitas baru –yang akan ditempati selama empat tahun. Tidak masalah jika berbeda jurusan, masalahnya, wanita bernama Moon Chaerin waktu itu akan menjadi seniornya di broadcasting juga. Terdengar sedikit menyeramkan.

Hana mengantri di bagian akademik sambil memainkan ponsel –pemberian Jiho, bukan saling berkirim Katalk dengan Kai tentu saja. Lelaki itu masih sibuk latihan sejak semalam  hingga tidak sempat membalas pesannya. Bukan tidak sempat sih, Hana tahu bahwa laki-laki itu pasti punya jam istirahat, namun Seung Hwan atau Hyung Shik pasti menyita ponsel mereka jika jam latihan belum berakhir.

“Lee Hana?”

Kepala Hana sontak terangkat, menatap sosok laki-laki yang berdiri tepat di hadapannya. Kening Hana berkerut dan alisnya bertaut hampir menyatu, mencoba mengingat-ingat siapa laki-laki di depannya. Hana buruk dalam soal mengingat dan parahnya juga lama dalam soal loading. Ia masih sibuk berpikir ketika lelaki bersurai kecokelatan itu tersenyum lebar ke arahnya.

That familiar eye smile.

“Woah, ini takdir!” laki-laki itu berseru heboh, membuat Hana sedikit mundur. “Ya. Bodoh! Kau tidak ingat aku?”

“Tidak.”

Aish. Waktu itu ponselku rusak, jadi nomormu juga hilang. Benar-benar tidak ingat? Tabrakan sepeda, menyeberang jalan sembarangan, dan ponsel yang tertinggal. Kau tidak ingat?” laki-laki itu kembali bertanya.

Membuat ingatan Hana kembali pada kejadian satu tahun lebih yang lalu di kepalanya. Dan ia berhasil mengingatnya. Sosok laki-laki menyebalkan yang sempat membuat Kai cemburu. “Kang Yun Woo?”

“Aah! Kau ingat!” Yun Woo memekik pelan lalu tiba-tiba memeluk Hana. Namun Hana cepat-cepat mendorong tubuh Yun Woo menjauh –ketika tatapan beberapa mahasiswa tertuju pada mereka.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Hana balik seraya merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

“Menurutmu apa? Aaah, akhirnya kita bisa bertemu lagi!” Yun Woo masih berseru heboh sambil mengacak-acak rambut Hana –lagi.

Hana mendengus pelan lalu menepis tangan lelaki itu. Sungguh, jika boleh memilih Hana tentu tidak akan mau berada di tempat kuliah yang sama dengan laki-laki menyebalkan semacam Yun Woo. Oh bahkan jika satu jurusan –dimana mereka akan banyak menghadiri mata kuliah yang sama.

“Aku di broadcasting. Kau?”

Heol. Hana hampir tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya ketika Yun Woo mengatakan awal dari mimpi buruknya di Seoul Institute of Arts. Tangan Hana terangkat untuk memijat pelipis saat Yun Woo tidak terus berhenti bertanya dan mengoceh padanya.

.

Entah Yun Woo memang seorang stalker atau apa. Tapi ketika Hana duduk di sebuah cafe dekat kampusnya, lelaki itu juga tiba-tiba muncul dan duduk di meja yang sama dengannya. Hana mencoba memfokuskan diri pada games di ponselnya dan tidak mengacuhkan Yun Woo –yang terus menatapnya.

Ya. Kita akan jadi teman sekelas di hampir semua mata kuliah selama satu semester ini,” ujar Yun Woo membuat pandangan Hana sedikit beralih pada lelaki itu. Namun kembali melihat ponselnya sedetik kemudian.

Mimpi buruk bagi Hana tentu saja.

“Lalu kenapa?” tanya Hana, berusaha bersikap dingin.

Yun Woo mendesis pelan. “Itu bagus, Lee Hana. Kita akan jadi teman baik ‘kan?”

“Tidak,” Hana menjawab cepat lalu menyesap green tea latte miliknya. Tanpa mau menatap Yun Woo di hadapannya.

Wae? Kau teman pertamaku di kampus.”

Hana melemparkan tatapan sinis pada sosok laki-laki di hadapannya. Senyuman masih tidak lepas dari bibir Yun Woo, membuat Hana merasa semakin jengah. Selalu bersama Yun Woo selama satu semester pasti akan membuat hidupnya semakin berantakan.

“Karena kau cerewet. Menyebalkan. Suka mengataiku bodoh. Dan semuanya. Aku tidak suka kita akan jadi teman baik, ara?” papar Hana dengan nada kesal.

Namun disambut Yun Woo dengan tawa ringan hingga membuat matanya menghilang membentuk lengkungan bulan sabit. “Astaga. Kau lucu sekali, Hana-ya.”

“Lucu?” Hana bertanya seraya mendecih pelan. “Ini tidak lucu, Kang Yun Woo. Aku membencimu.”

“Kau belum mengenalku, Lee Hana. Kita baru bertemu beberapa kali,” Yun Woo mengendikkan bahu tak acuh lalu menopangkan sikunya ke atas meja, sedikit mencondongkan tubuh ke arah Hana. “Ah, kau masih pacaran dengan Kai?”

Sssht!” Hana segera menyela ucapan Yun Woo dengan desisan yang cukup keras. Rasa panas tiba-tiba menjalari wajahnya ketika mengingat kekasihnya. “Keurae. Kita masih pacaran. Jangan berisik, bisa tidak?”

Woah, kau bisa bertahan? Daebak,” Yun Woo memundurkan tubuhnya kembali seraya melipat tangan di depan dada.

“Berisik.”

Hana kembali fokus pada ponselnya, memainkan games yang sempat tertunda karena obrolan tidak pentingnya bersama Yun Woo. Setelah ini ia akan berusaha menganggap Yun Woo adalah sosok transparan yang tidak perlu dipentingkan eksistensinya di dunia.

***

10.12 PM KST

“Aku pulang.”

Hanya keheningan yang menjawab Hana setelah pintu apartemennya tertutup rapat. Hembusan napas keluar dari bibir Hana. Keheningan yang menandakan bahwa ia akan sendiri lagi malam itu. Ibunya kembali ke apartemen Jiho –mengingat kakak laki-lakinya itu sedang demam tinggi sejak kemarin. Ha Jin hanya datang untuk memastikan keadaannya juga –agar tidak sakit seperti Jiho. Setidaknya Ha Jin masih memperhatikan kesehatan Hana walaupun lebih sering bersama Jiho selama ini.

Hana menaruh tasnya di sofa ruang tengah. Matanya mengedar memperhatikan setiap sudut apartemennya. Apa lebih baik ia pindah saja dan tinggal bersama Jiho agar tidak kesepian lagi? Ia sudah sangat sering merasa kesepian karena tinggal sendiri di Korea selama bertahun-tahun. Dan sekarang ketika ibu dan kakak laki-lakinya berada di negara yang sama pun, Hana masih merasa kesepian. Andai saja comeback EXO masih lama, ia pasti masih bisa sering bersama Kai sekarang.

Tapi banyak sekali kenangan yang terjadi di apartemen miliknya. Ketika Kai datang berkunjung untuk yang pertama kali ke sana, lelaki itu memarahinya dan menceramahinya banyak hal –karena menaruh barang sembarangan. Lalu kunjungan-kunjungan selanjutnya dimana mereka sering menghabiskan waktu berdua saja dengan menonton film, bertengkar, membantu Hana mengerjakan tugas Fisika, tidur bersama, cuddle cuddle aneh di sofa, hingga ciuman panas –memalukan yang juga terjadi di sana.

Dan sepertinya Hana tidak bisa menjual tempat yang penuh kenangan itu pada orang lain.

Hana malah tiba-tiba merindukan Kai di sana.

“Dia pasti masih latihan.”

Hana melirik jam dinding apartemennya lalu menghembuskan napas pelan. Ia kembali melangkah ke dalam apartemen dan memutuskan untuk beristirahat di kamar saja. Nanti malam ia akan marathon film agar tidak merasa terlalu kesepian. Atau mungkin menelepon Kai –jika memungkinkan. Tapi Kai bahkan belum membalas pesannya sejak semalam.

“Hfft. Apa dia tidak bisa—OMO!”

Hana baru saja menutup pintu kamarnya dan memekik keras ketika menemukan sosok laki-laki yang tertidur di balik selimut di atas tempat tidurnya. Kim Jong In.

I saekkiya,” gerutu Hana seraya menghampiri tempat tidurnya. Ia kemudian berjongkok di samping tempat tidur –dimana wajah Kai menghadap ke sana. Matanya menelusuri setiap sudut wajah laki-laki –yang sudah tidak dilihatnya selama seminggu lebih itu. Pipi chubby Kai menjadi sedikit berkurang, hasil latihan keras selama belasan jam dan berhari-hari yang dilewati.

Seulas senyum muncul di bibir Hana. Ia menjulurkan tangannya untuk mengusap pelan rambut baru Kai yang berubah menjadi warna cokelat terang dan sedikit lebih pendek dari sebelumnya. Wajah Kai yang sedang tidur terlihat lucu, sangat mirip dengan sosok baby Asher.

“Ck ck ck. Kau pasti sangat lelah, ya?” Hana masih mengusap rambut lembut Kai dengan perlahan. Dan Kai tetap tidak bergeming dari tidurnya. “Selamat tidur.”

Hana membetulkan letak selimut yang menutupi tubuh kekasihnya lalu beranjak dari sana, mengambil baju ganti dari lemari lalu memasuki kamar mandi –di dalam kamarnya. Sepertinya berendam di dalam bath tub akan membuat Hana sedikit rileks dan melupakan kejadian tidak terduga di hidupnya hari itu. Lagipula ia akan menghabiskan malam bersama Kai, jadi ia harus wangi bukan?

.

.

Lebih dari setengah jam kemudian Hana akhirnya keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit rambutnya. Pakaiannya sudah berubah menjadi celana panjang dan kaus kebesaran yang jauh lebih santai dan nyaman. Ketika keluar kamar mandi, Hana menangkap sosok Kai yang masih terlelap dengan selimut acak-acakan dan posisi yang semakin aneh. Hana kemudian duduk di sisi tempat tidur sambil memperhatikan punggung bidang milik Kai yang membelakanginya.

Jantung Hana tiba-tiba berdegup kencang. Menyadari bahwa mereka –lagi-lagi terjebak berdua di  dalam kamar. Mengingat apa yang sudah terjadi pada mereka –Kai dan Hana selama ini, membuat Hana gugup setengah mati entah kenapa.

K-kkaman. Kau sudah makan?” Hana akhirnya menepuk pelan lengan atas Kai, berusaha membangunkan lelaki itu.

Namun Kai tidak bergeming.

Kkaman. Kkaman. Kim Jong In. Kim Kai. Kai. Jong In. Kkaman.”

Suara cempreng Hana mulai mengusik pendengaran Kai, hingga membuat lelaki itu menggeliat pelan, membalikkan tubuhnya lalu malah memeluk pinggang Hana.

Ya! K-Kim Jong In kau—.”

Hana menggigit bibir bawah ketika Kai menggelengkan kepalanya, menggesekkan wajah di pinggul Hana –dan membuat gadis itu merasa geli. Hana mendorong kepala Kai agar berhenti melakukan itu –karena rasa geli namun aneh /?/ yang menjalari tubuhnya.

Kkaman!”

“Berisik. Suaramu mengganggu tidurku, Han-ah,” Kai menghentikan kegiatan –menggelengkan kepala itu, namun tetap memeluk pinggang Hana dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di dekat pinggul gadis itu, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Hana setelah mandi. Kai sangat menyukai aroma sabun bayi yang dipakai gadisnya . “Aku belum makan.”

“Ayo makan di luar.”

“Tidak mau. Aku tidak sanggup jalan lagi.”

“Mau restoran China? Nanti aku pesan delivery  ke sini.”

“Ayam lebih bagus.”

Hana memutar bola matanya sembari mendecih pelan. Sifat kekanakkan Kai keluar lagi setelah bangun tidur. “Lepaskan dulu. Aku harus ambil ponsel di ruang tengah.”

“Tidak mau.”

“Demi Tuhan, Jong In. Ayamnya tidak mungkin jalan sendiri ke apartemenku. Kita harus memesannya -.-,” protes Hana seraya mendorong pelan bahu Kai –agar melepaskan pelukan yang membuat wajahnya terasa panas itu.

Aish. Pakai ponselku saja,” Kai akhirnya beringsut bangun dan mengambil ponselnya –yang sudah berada di ujung tempat tidur. Lalu menyodorkan ponsel itu pada Hana. “Telepon sekarang. Pesan satu ekor ayam, minta dibagi ke dua kotak, dan jangan lupa saus mayonaise pedasnya.”

Ne wangjanim,” Hana menjawab malas permintaan Kai dan segera menelepon nomor salah satu restoran ayam –yang ada di ponsel Kai. Sementara berbicara dengan pelayan yang mengangkat teleponnya, Hana sesekali melirik Kai –yang terus melihat ke arahnya. Membuat Hana gugup dan hampir salah menyebutkan pesanan karena tatapan intens lelaki itu.

Hana menurunkan ponsel Kai kembali setelah menyelesaikan pesanannya. Lalu menoleh pada Kai seraya menyerahkan kembali ponsel milik lelaki itu. “Mau pesan apalagi?”

“Kau.”

“Huh?”

“Duduk bersandar di tempat tidur,” lanjut Kai sambil menerima ponselnya lagi dan menaruhnya sembarangan di atas kasur.

Kedua mata Hana masih membulat –heran, ia lalu mengikuti perintah Kai dengan bersandar di kepala tempat tidur seraya meluruskan kaki. Dan pahanya langsung dipakai sebagai alas bantal oleh lelaki itu. “Ya!”

“Aku masih mengantuk. Bangunkan kalau ayamnya sudah sampai,” ujar Kai dengan mata terpejam dan posisi tidur miring menghadap perut Hana.

Uh, jantung Hana semakin berdetak cepat dan wajahnya memanas –tanpa sebab karena posisi Kai yang seperti itu. Wajah Kai dekat dengan perut –sekaligus bagian bawah perut Hana juga bukan? Hingga ingatan samar-samar akan wajah Kai –yang berada tepat di depan wajahnya waktu itu, semakin membuat Hana gugup. Ada rasa geli yang menggelitiki perutnya saat mengingat itu.

Apalagi jika mengingat pembicaraannya dengan sahabat-sahabatnya beberapa waktu lalu. Mereka selalu meyakinkan Hana bahwa Kai adalah sosok yang menyeramkan /?/ jika berada di atas ranjang. Dengan gerakan pinggul dan ekspresi seduktif milik Kai yang selalu ditunjukkan di atas panggung, Jae Hee yakin bahwa Kai mungkin sudah menghamili banyak wanita di luar sana –tanpa harus tidur bersama lelaki itu. Hana bahkan tidak sanggup membayangkan dirinya melakukan hal yang aneh-aneh bersama Kai. Sungguh. Ah tidak, hanya sedikit membayangkan sebenarnya.

Hana berusaha mengabaikan perasaan aneh yang bergejolak di dalam dirinya itu dan beralih memainkan rambut lembut Kai dengan jemarinya. Mengusap pelan kepala lelaki itu agar merasa nyaman dan semakin terlelap. Hanya itu yang bisa dilakukan Hana untuk meringkankan rasa lelah kekasihnya. Beban yang dipikul Kai –sekarang sebagai seorang visual dan main dancer pasti akan jauh lebih berat dari sebelumnya. Semua orang akan memperhatikan bagaimana EXO setelah kehilangan dua member hingga membuat beban Kai bersama member lain bertambah.

Sungguh, Hana tidak akan menuntut apapun lagi pada Kai untuk ke depannya. Ia hanya butuh satu kepastian bahwa Kai akan selalu mencarinya untuk yang pertama kali ketika jadwal telah selesai.

.

.

.

“Selamat makan!”

Suara kebahagian –milik Kai memecah keheningan ruang tengah apartemen Hana malam itu. Mereka –Kai dan Hana duduk bersebelahan di atas karpet dengan dua kotak ayam di atas meja ruang tengah. Hana memakan ayamnya dengan tenang, sementara Kai memakan ayam-ayam itu seperti orang yang tidak makan berhari-hari. Ah tidak, Kai memang selalu seperti itu ketika makan ayam.

Karena tidak tahan dengan keheningan yang terus terjadi, Hana akhirnya berdehem pelan dan membuka mulut untuk memulai percakapan. “Bagaimana latihannya?”

Daebak,” Kai terlihat masih sibuk mengunyah ayam-ayam itu tanpa mau repot-repot menjawab pertanyaan Hana.

“Jong In,” Hana berbicara dengan nada datar, membuat mulut Kai yang terbuka –siap mengunyah ayam kembali—itu terhenti dan melirik tajam ke arah Hana.

Wae? Tidak boleh ngobrol kalau sedang makan, Lee Hana sayang. Habiskan dulu ayamnya, ne?” balas Kai dengan senyum simpulnya lalu kembali sibuk menghabiskan ayam berbalut tepung itu.

“Biasanya kau yang selalu mengajak ngobrol kalau sedang makan. Cish,” Hana menggerutu pelan, ia menghentikan kegiatan makannya –karena memang tidak lapar dan tidak maniak ayam seperti Kai.

Menit-menit berlalu dalam keheningan. Kai bahkan sudah mengambil alih ayam sisa milik Hana dan menghabiskannya dengan cepat. Sementara Hana hanya memperhatikan wajah Kai yang sedang memakan semua ayam itu. Ia heran kenapa Kai hanya bertambah gemuk di pipi dan bisa hilang beberapa hari saja karena latihan rutin. Hana sedikit iri dengan Kai tentu saja, ia tidak pernah bisa benar-benar menghilangkan pipi chubbynya.

“Aah aku kenyang,” Kai bersandar pada sofa sambil meluruskan kakinya di bawah meja ruang tengah.

“Eh kkaman—.

“Kau mau bertanya apa lagi?” Kai cepat-cepat memotong ucapan Hana.

Hana terlihat ragu dan memilih untuk membiarkan saja sisa-sisa saus mayonaise di sekitar bibir Kai. “Tidak jadi. Kau menyebalkan.”

Ya. Kau marah?” Kai mendekati Hana dan memperhatikan wajah cemberut Hana yang terlihat lucu. “Kau benar-benar marah?”

“Tidak kalau kau menunjukkan penampilan solo untuk konser ExoluXion sekarang,” Hana menyunggingkan senyum miringnya, seraya melipat tangan di depan dada –menantang Kai.

“Tidak! Itu rahasia, Han-ah. Kau tidak boleh lihat sebelum waktunya,” protes Kai, namun ekspresi senang Hana kembali berubah menjadi kesal.

Hana mendecih pelan sambil memutar otak. “My Lady kalu begitu.”

Ya~. Aku ke sini untuk istirahat, Lee Hana. Kenapa aku—.”

“Kalau tidak mau, aku tidur sekarang.”

Thunder, eoh? Disini tidak ada cermin, jadi aku tidak bisa tampil my lady,” Kai membalas dengan cepat seraya mengangkat kedua tangannya ke udara, meminta Hana untuk menghentikan semua permintaan konyol itu.

Hana balas mengangkat ibu jarinya. “Call.

Senyuman jahil muncul di bibir Hana. Gadis itu beranjak naik ke atas sofa dengan Kai yang bersiap-siap di depannya –tepat di antara space meja dan televisi. Biasanya laki-laki itu yang menjahilinya, tapi sekarang ia yang akan membuat Kai malu. Ternyata rasanya menyenangkan menjahili seseorang. Pantas saja Kai selalu senang mengganggu dan menjahilinya selama ini.

“Aku putar lagunya sekarang,” Hana tengah memilih-milih lagu di dalam ponselnya ketika Kai berdiri dengan gugup sambil sesekali menggaruk pipinya.

“Jangan terpesona ya, Han-ah.”

“Tidak akan,” balas Hana cepat lalu menekan lagu Thunder –yang tetap berada di playlist lagu kesukaannya. “Anggap saja kau sedang di atas panggung.”

Baiklah. Biarkan Hana tarik napas lebih dulu sebelum melihat sesuatu yang –jelas akan menggoda keimanannya. Biasanya ia melihat lelaki itu di atas panggung dengan gerakan pinggul –melebihi member lain dan ekspresi –yang juga melebihi member lain. Lihat apa yang akan dilakukan Kai di depan Hana sekarang.

That seductive moves.

That seductive smirk.

That seductive voice.

That seductive smile.

That seductive thigh.

And that seductive body.

Entah otak Hana yang sedikit error atau semua yang dilakukan Kai memang menggodanya. Ia sudah melihat hampir semua fancam member EXO menarikan lagu Thunder namun tidak pernah menjadi se-porno itu jika bukan Kai yang melakukannya. Apalagi gerakan sebelum reff dan gerakan wave tepat di dalam reff yang berhasil membuat Hana panas-dingin. Sepertinya Jae Hee benar. Yaa, Jae Hee sangat benar malah. Wanita mana pun di luar sana pasti rela dihamili oleh Kai.

Oh astaga. Pikiran Hana malah membayangkan yang tidak-tidak.

Hana bertepuk tangan ringan setelah lagu selesai. Kai langsung memutari sofa dan menghempaskan tubuhnya di samping Hana. Keringat membasahi kening dan lehernya karena menarikan lagu Thunder dengan sisa-sisa tenaganya –agar Hana terpesona. Dan sepertinya Kai berhasil, karena Hana masih menatap kosong ke depan sambil bertepuk tangan ringan –tanpa melihat ke arahnya. Oh, gadis itu adalah gadis paling beruntung di dunia karena melihatnya menari –hanya dengan kaus rumahan dan celana panjang tidur yang longgar tanpa make up serta hair do.

“Lee Hana?” tanya Kai seraya melambaikan tangannya di depan wajah gadisnya.

Hana menoleh cepat. Dan sialnya ia malah menangkap sisa saus mayonaise yang –masih menempel di sudut bibir kekasihnya.

“Masih marah?”

“Bereskan sampah ayamnya dulu,” pinta Hana –masih berusaha bersikap pura-pura marah. Terlihat Kai yang menghela napas panjang sebelum menumpuk dua kotak ayam yang kosong itu dan membawanya ke dapur.

Hana memilin ujung bajunya lalu mengikuti langkah Kai ke dapur. Dari ambang pintu, ia memandangi punggung lebar milik Kai yang tengah mencuci tangan di tempat cuci piring. Ketika memandangi Kai, Hana rasanya sangat ingin memeluk laki-laki itu dari belakang. Selama berpacaran dengan lelaki itu, Hana belum pernah berinisiatif untuk memeluk Kai lebih dulu. Memang ada dorongan untuk memeluk, namun rasa gengsi Hana selalu menekan semua keinginan itu.

Secara tidak sadar, Hana malah mendekat. Kai masih sibuk mencuci tangan ketika Hana –akhirnya melingkarkan tangannya di pinggang Kai dan memeluk laki-laki itu dari belakang, menyandarkan kepalanya ke punggung Kai yang benar-benar terasa hangat.

.

.

Sementara Kai masih harus mencerna apa yang terjadi. Ia menundukkan kepalanya dan mendapati lengan Hana melingkar di pinggangnya. Memeluknya dari belakang. Demi Tuhan, Kai tidak pernah dipeluk Hana seperti itu. Dan perlakuan Hana membuat Kai kaget setengah mati –sekaligus gugup tentu saja. Kai mengeringkan tangannya yang basah –dengan handuk kecil di konter lalu menepuk-nepuk lengan Hana di perutnya.

“Kenapa?” tanya Kai sedikit khawatir. Tidak biasanya Hana bersikap –manja seperti itu. Hana adalah seorang gadis kuat yang selalu berusaha menutupi perasaannya. Dan Kai tahu bahwa Hana sedang memikirkan sesuatu.

Anhi,” Hana masih memeluk Kai dengan erat dan menghirup aroma feromon milik lelaki itu. Kedua matanya terpejam, menikmati punggung Kai yang terasa sangat hangat.

Jika sedang berdua, Kim Jong In adalah milik Lee Hana dan begitu pun sebaliknya. Hana tidak akan pernah bisa meraih seorang Kai yang sedang berada di atas panggung dan hanya bisa menyambut Kim Jong In yang datang ke apartemennya. Kim Jong In yang menyebalkan namun dicintai sekaligus. Hana tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Rasanya Hana ingin meminta Tao benar-benar menghentikan waktu agar ia bisa menghabiskan waktunya lebih lama bersama Jong In. Karena ia merasa kesepian akhir-akhir ini.

“Jong In,” panggil Hana akhirnya seraya menurunkan tangannya dari pinggang Kai dan membuat lelaki itu berbalik cepat ke arahnya.

Wae? Apa ada masalah?”

Pertanyaan Kai hanya dijawab Hana dengan gelengan pelan. Ia masih terus memperhatikan wajah Kai, merekam setiap sudut wajah lelaki itu untuk diingat ke depannya. Promosi lagu baru dan konser. Hana pasti akan bisa melewati semuanya seperti tahun lalu. Mereka hanya harus saling percaya dan berusaha saling menjalin komunikasi agar tidak harus break setiap tahun.

“Eh kkaman. Di konser besok, masih ada dancer-dancer seksi di moonlight?” tanya Hana tiba-tiba.

Kai tertawa pelan lalu mengacak ringan puncak kepala gadisnya. “Itu yang kau pikirkan dari tadi?”

“Tidak. Aku hanya penasaran,” jawab Hana seraya menggembungkan pipinya dan mengerucutkan bibir kesal. “Mereka seksi. Pakai baju tube dan celana ketat yang sangat pendek. Kau pasti semangat setiap konser.”

Dan suara tawa Kai kembali menghiasi area dapur yang tidak terlalu luas itu. Ucapan polos Hana –yang tersirat nada cemburu itu sungguh menggelitik perut Kai. Gadisnya terlalu banyak mengkhawatirkan segala hal. Walaupun Kai melihat banyak dancer seseksi itu di konser, ia tidak akan pernah tergoda. Tergoda sih pasti, hanya sedikit, namun jika Hana yang memakai pakaian seperti itu, Kai tidak yakin bisa menahan dirinya. Seperti waktu itu, Kai akhirnya melampiaskan semua hasrat yang ditahannya hanya karena Hana memakai baju pendek dan sedikit transparan.

“Phuahaha. Kau cemburu?” Kai masih berusaha mengendalikan tawanya sembari bertanya pada Hana.

Hana kemudian mencubit kedua pipi Kai dan menariknya dengan cukup kuat. “Aku tidak cemburu, Kim Jong In. Aku hanya penasaran.”

Akh ya! Lepaskan tanganmu,” Kai menepuk-nepuk lengan Hana yang masih terus menarik pipinya. Karena merasa tidak akan berguna, Kai akhirnya menjulurkan tangannya dan balas mencubit kedua pipi gadis itu.

“Uwaa! Jangan kencang-kencang!” protes Hana.

“Kau juga mencubitku!”

“Tapi tidak sekencang ini!”

Ya! Ya! Geuman, Lee Hana!”

Aaaak! Sakit, Kim Jong In!”

Pipi Hana mulai terasa ngilu –begitu pun dengan Kai. Kai yang pertama melepaskan pipi Hana disusul gadis itu yang juga menarik tangannya sedetik kemudian. Keduanya mengelus pipi masing-masing yang sudah berubah warna menjadi merah. Sungguh kejadian yang aneh untuk pasangan aneh macam Kai dan Hana.

“Kapan latihan lagi?” tanya Hana akhirnya membuka pembicaraan masih sambil menutupi kedua pipinya.

“Besok pagi.”

“Selesainya?”

“Tidak tahu. Bisa malam atau besok paginya lagi. Tenang saja, aku sudah beli obat penghilang rasa lelah tadi siang.”

“Dan kau akan cepat mati karena minum obat itu, Kim Jong In.”

“Aku terpaksa beli. Daripada pingsan saat konser nanti ‘kan?”

“Minta istirahat. Pinggangmu nanti kambuh lagi.”

Dan Kai sadar bahwa perdebatan mereka tidak akan pernah berhenti –jika mengingat ia dan Hana selalu sama-sama tidak mau mengalah. Kai akhirnya mengangguk, mengiyakan ucapan Hana yang penuh kekhawatiran. Jujur saja, pinggang Kai memang kembali terasa sakit hari itu karena terlalu lama latihan. Dan ia minta izin pada Seunghwan dan Hyungsik untuk istirahat sejenak –hingga bisa sampai ke apartemen Hana malam itu. Oh, dan Kai membutuhkan vitamin dari kekasihnya.

“Astaga!” Hana berseru seraya menutup wajahnya secara tiba-tiba. Ia pasti gila karena ingin mencium Kai saat itu. Lagu dan gerakan Thunder benar-benar membawa pengaruh aneh dalam tubuhnya.

Kening Kai berkerut heran. Ia baru saja akan bertanya ketika Hana kembali mengangkat kepala dan melihat ke arahnya dengan kedua mata yang memerah.

“Aku pasti gila, kkaman,” ujar Hana dan mulai terisak pelan karena merasa bodoh menahan rasa gengsi di dalam kepalanya. “Huwee, aku ingin…….”

“Apa?” Kai bertanya heran karena Hana menggantungkan ucapannya di udara.

“Tutup mata!” titah Hana tiba-tiba.

Sungguh. Ada apa dengan Hana sebenarnya. “Kenapa harus tutup mata?”

“Turuti saja, Jong In. Cepat tutup mata!” seru Hana cepat. Dan Kai terlihat memejamkan matanya sambil bersandar di konter dapur sementara tangannya terlipat di depan dada.

Uh, sialnya tubuh Kai terlalu tinggi untuk Hana –yang sudah berjinjit. Hana malah terdiam, memandangi wajah Kai yang tengah memejamkan mata dengan sebelah alis terangkat. Seperti menunggu sesuatu dengan penasaran. Seulas senyum muncul di bibir Hana melihat wajah Kai –yang selalu terlihat menggemaskan ketika memejamkan mata. Hana kembali berjinjit, sedikit loncat untuk –sekedar menempelkan bibirnya pada bibir Kai.

Kedua mata Kai pun terbuka dengan cepat. Yang didapatinya adalah sosok Hana –yang tengah berlari kecil meninggalkan area dapur. Kepala gadis itu menunduk dan tidak melihat ke arahnya sama sekali. Kai menyeringai pelan, ia meraba bibirnya sendiri seraya menggelengkan kepala. Entah apa yang merasuki Hana malam itu. Kai berdoa semoga sesuatu yang merasuki Hana itu lebih sering terjadi agar ia bisa mendapatkan ciuman –dari Hana.

“Lee Hana, ya!” Kai mengumpat dalam hati lalu menghampiri Hana –yang sudah hampir meraih sofa ruang tengah.

“Aku baru beli—.”

Tubuh Hana hampir terjungkal –karena ditarik secara tiba-tiba oleh Kai—, membuatnya berbalik menghadap lelaki itu dengan jarak yang sangat dekat.

“Kenapa kau melakukannya?” tanya Kai pelan.

“Apa?”

Poppo.

“Aku hanya ingin,” jawab Hana dengan polosnya, memberanikan menatap Kai –yang mungkin hanya berjarak sekitar lima senti di depannya. Oh, bolehkah Hana mencium bibir Kai lagi?

Dan sialnya Kai harus menahan diri agar tidak memajukan wajahnya dan mencium bibir Hana –yang selalu terlihat berwarna merah muda itu. Kai belum sempat melepaskan cengkeraman tangannya  ketika melihat Hana perlahan memejamkan matanya. Apa gadis itu memasrahkan dirinya lagi sekarang?

Tidak Jong In. Kau harus tahan diri.

Jong In, ingat janjimu pada Hana ‘kan?

Oh, mencium tidak akan menyakiti Hana ‘kan?

Sebelum Hana membuka matanya lagi, Kai akhirnya memindahkan tangannya pada pipi Hana. Menarik wajah gadisnya mendekat dan menempelkan bibirnya di atas bibir gadis itu. Jong In finally get his vitamin. Sebenarnya Kai hanya bermaksud menempelkan bibirnya, namun Hana tiba-tiba melingkarkan tangan di lehernya dan mulai menggesekkan bibir di atas bibirnya. Membuat Kai mau tidak mau –dan sangat mau malah— membalas lumatan bibir Hana.

Menit berlalu.

Dan belum ada satu pun yang mau melepaskan diri.

.

.

Hana sudah sangat tahu bagaimana Kai bahkan hal terkecil sekali pun.

Kim Jong In sangat tidak suka memakai kaus kaki.

Kim Jong In sangat menyukai sepatu kets hitam semata kaki yang selalu dipakai dimana pun dan apapun lagu yang dibawakan.

Kim Jong In suka mengangkat kepalanya saat bagian rap di overdose.

Kim Jong In punya kebiasaan memasukkan kemeja ke dalam celana saat tampil –bahkan ketika acara langsung.

Kim Jong In tidak bisa membungkuk terlalu lama karena cedera pinggangnya.

Kim Jong In selalu menangis setiap EXO memenangkan award.

Kim Jong In juga pernah tidak menaikkan resletingnya saat acara fansign.

Kim Jong In suka malas mengeluarkan suaranya saat tampil lagu MAMA, Wolf, Growl, bahkan Overdose karena terlalu lelah.

Kim Jong In akan langsung membungkuk di tengah tengah performance konser jika sudah mencapai puncak rasa lelahnya.

Ada bagian rambut Jong In yang suka terangkat jika terkena angin hingga kadang terbentuk seperti rambut apel.

Dan masih banyak lagi yang tidak bisa dijelaskan oleh Hana. Yang jelas, Hana akan selalu menyayangi lelaki itu entah sampai kapan. Terakhir, Hana sangat menyukai Kim Jong In yang sedang menciumnya seperti itu. Ups.

Hana yang pertama menarik diri ketika pasokan oksigen ke dalam paru-parunya mulai menipis. Kepalanya langsung menunduk, menatap tungkai kakinya –yang mulai bergetar karena ciuman itu. Rasa panas semakin menjalari wajah Hana saat Kai tiba-tiba memeluknya. Kedua tangan Kai melingkari punggung Hana dengan posesif, menaruh dagunya pada bahu kanan Hana dan menghela napas panjang di sana. Hana hanya tersenyum simpul, ikut menyandarkan kepalanya pada bahu Kai lalu mengelus punggung lelaki itu..

“Aku tidak mau latihan lagi.”

Hana melirik jam dinding apartemennya yang sudah menunjukkan angka satu pagi. “Kau masih punya empat jam untuk tidur, Jong In.”

Namun Kai menggeleng dan malah menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Hana –yang masih berbau sabun bayi. Ia sungguh tidak mau menukar waktu kebersamaannya dengan Hana untuk empat jam waktu tidur. Waktu bersama Hana jauh lebih langka daripada waktu istirahatnya.

“Kau harus istirahat, kkaman,” titah Hana –masih tetap mengelus punggung Kai.

Kai menghembuskan napas berat seraya melepaskan pelukan itu. Bibirnya sedikit mengerucut namun tangannya merapikan helaian rambut Hana –yang acak-acakan karena ciuman tadi. “Mau tidur bersama lagi?”

Ya! Andwae!” Hana memekik keras sambil memukul pelan perut Kai dengan kepalan tangannya.

“Hanya tidur! Seperti waktu itu. Aku sudah janji tidak akan menyakitimu ‘kan?” tanya Kai saat menyadari Hana mundur selangkah menjauhinya.

Hana percaya. Namun ia rasanya tidak sanggup jika harus tidur bersama lelaki itu sampai pagi. Takutnya malah Hana yang tidak bisa menahan diri nanti T.T. Tapi Hana masih mau berdekatan dengan Kai seperti itu.

“Kau yang menyuruh aku istirahat. Tapi sekarang aku minta ditemani kau malah—.”

Ara! Cepat masuk kamar dan istirahat!”

Aigoo. Kau tidak sabaran sekali, Lee Hana sayang.”

Ugh, kau menggelikan, kkaman.”

“Apa kau tidak sabar untuk memeluk dan menciumku lagi?”

Diam atau aku berubah pikiran, Kim Jong In.”

Araseo. Aku hanya bercanda.”

Dan ciuman hangat di kening Hana menjadi penutup yang manis sebelum mengiringi keduanya memasuki kamar. Masih dengan perdebatan kecil yang keluar dari bibir Kai ataupun Hana.

.

.

If you talk about Love. There is no ‘just you’ or ‘just me’.

If you talk about Love. All that words will melt into ‘us’.

[KaiNa Piece] Blank—CUT

 Another man  from the past.

yunwoo

remember him?

Advertisements

103 thoughts on “[KaiNa Piece] Blank

  1. riana says:

    ak jadi ketagihan baca ff kamu eonn.
    jgn berhenti nulis tentang kaina ya eonn.
    maap sebelumnya klo ak gk pernah komen,tp skrng ak akn mninggalkan komenku di setiap karyamu.jadi utk eonnie teruslah berkarya…
    semangatttttt…💪💪💪

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s