[KaiNa Piece] Disturbance

KaiNa DIS

© IMA 2015

Kim Jongin — Lee Hana

EXO, Oh Jaehee, Lee Jiho

Please kindly read Lee Hana’s profile before read this story

[KaiNa Piece] Disturbance

February 10th, 2015

Seoul Institute of Arts

01.25 PM KST

Tahun ajaran baru sebentar lagi di mulai dan Hana harus sering pergi ke kampus untuk mengurus berkas penerimaan mahasiswa baru. Membuat jadwalnya dengan Kai harus berkurang –lagi. Lagipula EXO sedang mempersiapkan konser dan album baru, ia sudah mengurangi intensitas pertemuannya dengan Kai. Lelaki itu lebih sering menghabiskan harinya di ruang latihan bersama yang lain.

Hana tengah berjalan di koridor sambil memainkan ponselnya, bermaksud mengabari Kai menyangkut keberadaannya. Namun langkah Hana terhenti –ketika seseorang menabraknya dan ponselnya meluncur bebas dari tangan hingga terjatuh ke lantai koridor, menimbulkan suara benturan yang keras –dan berhasil menarik perhatian mahasiswa lain yang berjalan di sana. Hana menganga, menatap ponselnya –yang baterai dan casingnya sudah becerai-berai di lantai koridor.

Ya! Kau ini tidak punya mata, ya? Uwaa ponselku,” Hana mengumpat –dan merengek sekaligus lalu berjongkok untuk memunguti ponselnya.

Ya! Kau juga tidak lihat jalan, ‘kan? Matamu lihat ponsel terus sampai tidak sadar kalau aku berdiri di sini dari tadi,” balas –wanita itu tak kalah sengit.

Hana mengangkat kepalanya, menatap wanita –yang sedikit lebih tinggi darinya itu. “Berdiri di sini? Heol. Kau pikir aku buta? Sebelum lihat ponsel juga aku lihat ke sini dan kau tidak ada.”

Wanita itu tampak sedikit panik namun tetap memasang wajah –pokerfacenya pada Hana. “Keurae. Kita sama-sama salah, ara?”

Anhi. Memangnya aku salah apa? Kau yang jalan cepat-cepat ‘kan tadi? Kalau jalan biasa pasti kau tidak menabrakku,” protes Hana seraya memicingkan matanya lalu kembali memasangkan ponselnya kembali seperti semula. Dan ia bersyukur karena ponselnya masih bisa menyala dengan normal.

Wanita itu mendecih pelan. “Kau tidak lihat jalan. Masih tanya salahmu apa? Ya. Tunggu.”

Wae?” tanya Hana, mulai merasa risih karena tiba-tiba saja map –yang berada di genggamannya ditarik oleh wanita itu.

Tch. Mahasiswa baru?” gadis berambut panjang itu menatap Hana dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum mengembalikan map itu. “Lee Hana. Ada mahasiswa baru yang seperti ini? Heol. Kau pasti tidak akan selamat di masa orientasi nanti.”

Y-ya! Memangnya kenapa?” Hana menyembunyikan map itu di belakang tubuhnya dan mundur sedikit saat gadis itu mendekat.

“Aku Moon chaerin. Kakak kelasmu di jurusan broadcasting,” gadis itu tersenyum simpul seraya memundurkan tubuhnya kembali. Terlihat ekspresi panik mulai menghiasi wajah polos wanita di hadapannya.

“A—ah sunbaenim, aku minta maaf,” Hana merutuk dalam hati sambil membungkuk dalam pada chaerin. Kakak kelas barunya di sana.

Chaerin tertawa pelan –sedikit mengejek lalu melipat tangan di depan dada. “Dan kau… selamat bersenang-senang di broadcasting. Kita akan sering bertemu nanti.”

Hana menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan matanya ketika chaerin berlalu meninggalkannya begitu saja. Ia menghembuskan napas pelan, sedikit memutar tubuhnya dan memandangi punggung chaerin yang mulai menjauh. Tiba-tiba saja Hana merasa khawatir dengan eksistensinya di sana. Harusnya ia tidak bersikap ceroboh sebagai mahasiswa baru dengan membentak kakak kelasnya tadi. Masa orientasi belum dilewati dan Hana benar-benar harus menerima konsekuensi atas sikapnya tadi.

***

SM Building

05.12 PM KST

Kim Jong In

Han-ah, kau sedang di mana?

HanaLee

Kampus. Kenapa?

Kim Jong In

Mampir ke gedung SM sebentar, eoh? Temani aku latihan.

HanaLee

Malas ah-.- Memangnya yang lain kemana?

Kim Jong In

Mereka sedang pergi. Yakin tidak mau ke sini? Tadi aku lihat Jonghyun hyung latihan juga di sini.

HanaLee

Okay, 15 menit lagi aku datang.

Senyuman di wajah Kai tidak memudar sejak Hana mengirim chat terakhir padanya. Gadis bodoh itu mudah sekali dibohongi. Hanya dengan menggunakan nama Jonghyun, Hana langsung berubah pikiran seperti itu. Biasanya Hana tidak akan pernah mau datang ke gedung baru SM –karena sistem yang memusingkan, dengan penggunaan sidik jari sebagai akses masuk. Padahal Kai hanya tinggal turun ke bawah dan membukakan pintu untuk gadisnya.

Kai meraih botol minum dari sudut ruangan –sambil mematikan lagu di tape dan meneguk isi botol minumnya hingga habis. Ia baru meneguk setengah dari botol itu ketika pintu ruang latihan terbuka dan menangkap Jonghyun yang melangkah masuk. Membuat Kai tersedak seketika dan membuat Jonghyun –yang baru melangkah masuk itu terlonjak kaget.

Aigoo! Aku kira tidak ada orang!” pekik Jonghyun seraya melangkah mendekati Kai –yang sedang mengatur napas karena tersedak.

Hyung. Ap-pha kabar?” tanya Kai sambil membalas uluran tangan Jonghyun dan membungkuk pada seniornya itu.

Johtda. Kau?” balas Jonghyun dengan tangan lain yang menepuk-nepuk pundak Kai.

Kai segera berdiri tegak sesaat setelah melepas tangan Jonghyun lalu tersenyum lebar. “Baik juga. Aah, selamat untuk album solonya, hyung.”

Gomawoyo~ng, Jong In-ah. Ah ini untukmu dan Hana,” Jonghyun tampak merogoh tas kecilnya lalu menyodorkan dua buah CD bertanda tangan pada Kai. “Aigoo, pacarmu itu. Bisanya hanya cerita di Katalk, tapi tidak pernah bisa diajak bertemu. Titip salam untuknya, ne? Suruh dia main ke dorm SHINee lagi.”

Kai sedikit membungkuk seraya menerima album solo Jonghyun di tangannya. “Kamsahamnida. Aah, tapi Hana sebentar lagi datang ke sini, hyung. Kau bisa memarahinya nanti.”

Tch. Pasti dia mau menemuimu ‘kan? Dwaesseo, aku tidak mau mengganggu kalian pacaran,” Jonghyun menepuk-nepuk bahu Kai lagi lalu siap berpamitan saat mendengar dering ponsel Kai.

Kai merogoh saku celana latihannya dengan cepat kemudian mengangkat panggilan masuk dari Hana. “Yeob—Ya! Jangan berteriak di telingaku! Ara ara, aku turun ke bawah sekarang.”

Senyuman geli muncul di bibir Jonghyun. Keduanya bahkan belum berubah padahal hubungan mereka sudah hampir menginjak tiga tahun. Ia kira Kai dan Hana tidak akan bertahan selama itu –mengingat jadwal Kai dan EXO yang sangat padat. Namun sepertinya Hana memang wanita yang kuat, ia melihatnya bahkan sejak pertama kali taemin mengenalkan gadis itu padanya.

“Ehm, hyung, aku harus menjemput Hana ke bawah,” ujar Kai ragu dan Jonghyun tidak bisa menahan senyum gelinya.

Ara ara. Jemput dia sekarang, aku juga harus latihan. Annyeong,” Jonghyun melambai singkat lalu meninggalkan ruang latihan itu. Disusul Kai yang juga berlari keluar dan menuruni lantai satu untuk membukakan pintu.

.

07.00 PM KST

Hana menggerutu kesal ketika ia hanya duduk di sudut ruang latihan, memperhatikan kekasihnya yang sedang melakukan beberapa gerakan dance ­di depan cermin. Well, bukan kesal karena tidak bertemu Jonghyun atau apa. Ia kesal karena Kai entah kenapa terlihat begitu menggoda ketika sedang menari. Apalagi ekspresi Kai benar-benar err…seduktif, mendukung gerakan dance yang dilakukan laki-laki itu. Kai bahkan sesekali melirik Hana dari cermin dan melemparkan smirk yang –sialnya terlihat sangat menggoda.

Inilah sosok Kai, berbeda dengan sosok Kim Jong In yang sering bersamanya di luar jam latihan.

Pandangan Hana beralih pada layar ponsel dan membalas pesan keempat sahabatnya di grup LINE –untuk menyibukkan diri agar tidak terus-terusan melihat kekasihnya. Hingga lagu dari tape berhenti, membuat Hana mengangkat kepala dan melihat Kai menjatuhkan tubuhnya sendiri ke atas lantai kayu dengan napas terengah. Oh, jika dihitung sejak Kai mengirim pesan padanya di pagi hari –sebelum latihan dan sebelum Hana ke kampus, Kai mungkin sudah latihan selama hampir 10 jam.

“Aah, pinggangku,” Kai meringis pelan ketika bangkit dari posisi berbaringnya.

Hana menaruh ponselnya di sofa lalu bergegas menghampiri Jong In. “Kenapa? Pinggangnya kambuh lagi?” tanya Hana gemas seraya membantu Jong In mengubah posisi menjadi duduk.

Eum. Aku—.”

“Ck. Sudah kubilang ‘kan, jangan terlalu memaksakan diri. Kalau tidak kuat latihan ya jangan dipaksa. Lihat sekarang? Kau itu masih banyak jadwal, kkaman. Kenapa susah sekali memberitahu laki-laki sih?” gerutu Hana sambil berkacak pinggang di hadapan Kai –yang duduk dengan kepala mendongak ke arahnya.

Ya. Kenapa malah kau yang marah-marah? Aku hanya latihan seperti biasa, Han-ah. Mungkin aku salah gerak saat latihan tadi. Dwaesseo, besok juga sembuh,” balas Kai tak kalah emosi lalu memalingkan wajahnya ke arah cermin.

“Tapi kau memang selalu memaksakan diri. Semua laki-laki sama saja. Kalian selalu menyetujui jadwal-jadwal padat tanpa memikirkan kesehatan atau istirahat, eoh? Ck. Kau itu seperti harabeoji, sedikit-sedikit sakit pinggang, tapi masih tetap memaksa untuk—YAK! UWAA, LEPASKAN AKU, BODOH!” Hana memberontak ketika Kai tiba-tiba bangkit dan merangkulnya dengan erat –hingga leher Hana berada di dalam lekukan lengan lelaki itu. Ia bisa merasakan kulit lengan Kai yang berkeringat mengenai sisi wajahnya.

“Keringatku tidak bau, Lee Hana. Iya ‘kan?” balas Kai, mengabaikan gerutuan Hana sebelumnya seraya menundukkan sedikit kepalanya dan melemparkan senyum jahil pada gadis itu.

Hana menyikut pelan perut Kai, namun tidak berimbas apapun pada lengan Kai yang melingkari lehernya. “KAU BAU, KIM JONG IN! LEPASKAN AKU SEKARANG!”

“Tidak mau.”

“Uwah, pinggangmu sudah sembuh sekarang, ha? Atau mau kubuat semakin parah lagi? Lepaskan aku Kim Jong—YA!” Hana masih berusaha memberontak karena tubuh Kai benar-benar lengket oleh keringat dan Hana sudah mau menangis rasanya.

Kai tertawa pelan lalu semakin menempelkan tubuh gadis itu, jika dilihat dari cermin, Kai seperti sedang memeluk Hana dari belakang –dengan sangat erat tentu saja. “Aku akan melepaskanmu. Tapi dengan satu syarat.”

“Oh, astaga, kkaman. Kenapa kau—ARA ARA! Apa syaratnya?!” pekik Hana saat Kai berusaha menempelkan leher yang penuh keringat itu ke mantel miliknya.

Senyum jahil semakin menghiasi wajah Kai. “Dance Be Natural lagi. Di sini. Sekarang juga.”

Mwoya?! Kau gila? Tidak mau!” Hana memberontak keras untuk melepaskan diri namun tetap tidak berhasil. Kai bahkan sudah menaruh dagunya di atas pundak Hana dengan senyum jahil yang terlihat sangat menyebalkan. “Aish. Keurae! Lepaskan aku sekarang.”

Kai tersenyum puas lalu melepaskan Hana dari pelukannya. Senang sekali menggoda Hana hingga membuat wajahnya memerah seperti itu. Ia lalu berjalan ke sudut ruangan untuk mengambil salah satu kursi hitam –dari dua kursi yang ada. “Cha. Kebetulan di ruang latihan ini ada kursi yang biasa dipakai latihan RV. Kau bisa—YA! Jangan kabur, Lee Hana!”

Tangan Hana yang baru saja akan menggapai pintu keluar itu terhenti. Ia berbalik ke arah Kai lagi lalu tertawa kaku. “Aku mau ke kamar mandi sebentar. Boleh ‘kan?”

Andwae,” Kai meletakkan kursi hitam itu di tengah ruang latihan lalu berjalan menghampiri  Hana di dekat pintu. “Kau sudah janji. Kalau tidak mau, kucium sekarang juga.”

Hana mendengus pelan lalu berjalan sambil menghentakkan kaki ke tengah ruang latihan. Ia berdiri di samping kursi itu dengan kedua tangan terlipat di depan dada. “Cepat nyalakan lagunya!”

Oh sungguh tidak ada yang lebih menyenangkan dari menjahili Hana tentu saja. Ekspresi kesal gadis itu ditambah dengan rona merah di pipi benar-benar terlihat menggemaskan. Apalagi jika Hana mengerucutkan bibir, seolah merajuk agar Kai tidak lagi menjahili. Namun yang terjadi justru sebaliknya, Kai malah semakin ingin membuat Hana kesal. Karena ketika bibir Hana mengerucut, ingatan akan ciuman panas mereka malam itu kembali berputar di dalam kepala Kai.

.

Napas terengah masih terdengar dari bibir mungil Hana setelah lagu Be Natural berakhir dan ia yang membuat pose duduk di kursi sambil menyilangkan kaki. Kai terlihat bertepuk tangan seraya menahan senyumnya dan menghampiri Hana –setelah hanya memperhatikan dari sofa saja. Hana merasakan wajahnya sangat panas ketika Kai semakin mendekat, ia reflek menutup wajah dengan kedua tangan lalu berlalu ke sofa –melewati Kai begitu saja.

Suara tawa Kai tiba-tiba terdengar menggema di dalam ruangan itu. Membuat rasa panas semakin menjalari setiap saraf di tubuh Hana hingga ia semakin menenggelamkan wajah di kedua telapak tangannya. Hana bahkan tetap tidak berani membuka wajahnya saat merasakan sofa hitam itu sedikit bergerak, menandakan seseorang baru saja duduk di sebelahnya.

Kai mendekat kemudian berbisik pelan di dekat telinga Hana. “Sekarang kau bersikap seperti ini setelah beberapa hari lalu menggodaku dengan sweater rajut transparan dan celana super pendek itu? Heol. Apa Lee Hana punya kepribadian ganda?”

Bulu kuduk Hana meremang dan ia segera menyikut Kai agar menjauh darinya. Namun lelaki itu malah merangkul Hana kembali sambil tertawa pelan. “Aigoo. Aku masih tidak percaya kalau kau pernah mencoba menggodaku malam itu.”

Hana menurunkan tangan dari kedua wajahnya dan memicing ke arah Kai. “Diam, kkaman.”

“Sebenarnya aku lebih suka Hana yang sedikit ganas sepert—.”

Ya!” Hana segera membekap mulut Kai dengan tangannya. Wajahnya semakin memanas jika mengingat kejadian malam itu. “Aish!! Ganti bajumu dulu sana!” titah Hana berusaha mengalihkan pembicaraan.

Kai memalingkan wajahnya hingga tangan Hana terlepas dari mulutnya lalu tersenyum jahil lagi. “Jadi, kau mau melihatku ganti baju di sini?”

Ewwh, kau menggelikan, kkaman,” ekspresi Hana berubah datar seketika, ia segera melepaskan diri dari rangkulan Kai dan melihat lelaki itu tertawa puas di hadapannya. Well, Kai memang terlihat sangat tampan dan manis sekaligus ketika sedang tertawa. Apalagi suara tawa Kai yang terdengar husky dan renyah, membuat Hana tanpa sadar mengulas senyum juga.

Kai menghentikan tawanya lalu mengacak rambut Hana dengan gemas. “Jangan sok polos, Han-ah. Kau sudah sering lihat aku—”

“Kapan? Aku tidak pernah melihatmu buka baju,” elak Hana cepat seraya memalingkan wajah ke arah lain.

“Memangnya aku mau bilang apa?” Kai tidak bisa menahan senyumnya saat melihat wajah Hana mulai memerah. “Kau sudah sering lihat aku pake baju sleeveless di atas panggung, bukan buka baju. Dasar byuntae.

Y—ya! Kenapa jadi aku yang byuntae?” protes Hana, namun Kai hanya tertawa ringan membalas ucapannya.

Kai menghentikan tawa ringannya, ia kembali mengacak rambut Hana lalu beranjak dari sofa. Kaki-kaki panjangnya berjalan ke sudut lain ruang latihan di dekat cermin untuk mengambil baju ganti. Tanpa berpikir panjang, Kai melepas baju latihannya lalu berjongkok di dekat tas itu untuk mengambil yang baru.

Dan sialnya, Hana hampir tidak berkedip. Well, walaupun badan Kai tidak –oh mungkin belum sebagus badan Jonghyun, tapi perut lelaki itu selalu memiliki bentuk kotak-kotak samar sejak debut. Tidak pernah berkurang atau bertambah. Ditambah otot biceps dan triceps milik Kai yang tidak terlalu besar, membuat proporsi tubuh Kai benar-benar sempurna –bagi Hana. Mungkin itu salah satu faktor kenapa Kai dijadikan visual, selain karena dance dan ekspresi, pasti karena proporsi tubuh lelaki itu yang sangat bagus. Boyfriend material.

“Awas air liurmu menetes, Han-ah. Aku tahu badanku bagus, tapi jangan terlalu terpesona seperti itu, ara?” ujar Kai tiba-tiba seraya meloloskan kaus tipis di lehernya, menutupi tubuhnya yang sempat terbuka tadi. Sementara bibirnya menyunggingkan senyum geli karena Hana menundukkan wajah –untuk menyembunyikan rona merah yang muncul.

Sikkeuro,” umpat Hana lalu merutuki diri sendiri karena tidak bisa mengendalikan ekspresi. Ugh, pasti wajah Hana terlihat bodoh sekali saat memandang badan Kai –dengan mata berbinar dan mulut sedikit terbuka tadi.

Kai mengangkat tas jinjing kecil miliknya seraya menghampiri Hana di sofa. Ia melirik jam dinding di dalam ruang latihan lalu menghembuskan napas cukup panjang. Ini belum cukup aman jika mereka akan berjalan-jalan di luar. Pasti masih banyak fans yang berkeliaran di sekitar gedung SM, apalagi saat melihat ia masuk ke sana tadi siang. Mereka pasti masih menunggunya keluar dari gedung SM.

Walaupun menyenangkan memiliki banyak fans, namun terkadang merepotkan juga. Apalagi ketika ia berniat mengajak Hana jalan-jalan di luar dalam masa honeymoon phase /?/ itu.

“Mau pulang sekarang?” Kai bertanya –saat tiba di hadapan Hana dan gadis itu mengangkat kepalanya sembari menggigit bibir bawahnya.

“Memangnya di luar sudah sepi?” tanya Hana balik. “Eh, kau tadi bilang Jonghyun oppa latihan di sini juga. Antarkan aku ke sana dulu!”

Kedua bola mata Kai memutar malas. Jiwa fangirl Hana kembali keluar saat mengingat ucapannya tadi sore. Beruntung Jonghyun memang latihan di sana  dan ia tidak benar-benar berbohong.

“Kau bohong, ya? Pasti Jonghyun oppa tidak latihan di sini -.-,” protes Hana seraya bangkit dari sofa dan memicingkan mata –menyelidik ke arah Kai.

“Dia ada di sini, Han-ah. Kajja,” Kai –tanpa permisi lalu meraih tangan Hana dan menggenggamnya. Membawa gadis itu keluar ruang latihan, berjalan di lorong yang tidak terlalu lebar namun memiliki banyak pintu di kanan-kiri.

Langkah Kai kemudian terhenti saat mendengar lagu Deja-boo milik Jonghyun yang sedikit terdengar melalui celah pintu. Hana tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya lalu berlari menerobos pintu ruang latihan –yang terdengar lagu Jonghyun tadi.

“Jonghyun op—pa,” Hana menghentikan langkah dan memelankan suaranya saat melihat Jonghyun –bersama beberapa orang dancer sontak memperhatikannya dengan aneh.

Jonghyun berdehem pelan, bergegas mematikan tape di sudut ruang latihan lalu menghampiri Hana dengan cepat. Tanpa basa-basi Jonghyun langsung memeluk Hana dengan erat dan menggoyangkan tubuh gadis itu ke kanan dan ke kiri. Sementara Kai berdiri mematung di belakang keduanya. Lihat bagaimana Hana malah tertawa bahagia dan membalas pelukan Jonghyun padahal tubuh laki-laki itu masih penuh dengan keringat.

Kai mendengus pelan melihat itu semua. Menyebalkan. Tadi Hana berteriak-teriak tidak mau dirangkul karena ia berkeringat, namun terlihat senang dipeluk Jonghyun –yang juga berkeringat. Dan Kai hanya bisa memalingkan tatapan ke arah lain agar tidak melihat interaksi antara Jonghyun dan Hana yang sedikit intens. Cemburu? Ah tidak, Kai tidak mungkin cemburu pada Jonghyun jika mengingat bagaimana Hana selalu menganggap Jonghyun sebagai keluarganya.

“Kau sudah mau pulang?” tanya Jonghyun dan Hana hanya mengangguk sekilas. “Tidak mau mengobrol denganku dulu? Aku sebentar lagi selesai.”

“Err, sebenarnya mau sih. Tapi Jong In bagaimana?” Hana bertanya dengan polosnya, membuat Kai menoleh cepat ke arah gadis itu.

“Ah, kalau kau mau pulang dengan Jonghyun hyung, tidak apa-apa. Di luar juga masih banyak fans, jadi kita tidak bisa pulang berdua,” jawab Jong In akhirnya. Padahal hatinya mengatakan sebaliknya.

Johtda! Aku bawa mobil kok, tenang saja, Jong In-ah. Aku akan antar Hana dengan selamat sampai apartemennya,” Jonghyun beralih merangkul Hana sambil mengangkat salah satu ibu jarinya ke udara.

Jong In –mencoba tersenyum. “Araseo, titip Hana ya, hyung. Aku… pulang duluan.”

Kemudian yang Kai lakukan hanya tersenyum kaku, melambai singkat pada keduanya dan berbalik memunggungi mereka semua yang berada di ruang latihan itu. Ia menghembuskan napas panjang saat mendengar obrolan Hana dan Jonghyun yang semakin antusias –saat ia berbalik. Bahkan Hana tidak memanggilnya ketika ia melangkah keluar dari ruang latihan itu.

***

February 11th, 2015

SM Building

03.15 PM KST

Lagu terakhir –untuk jam latihan mereka hari itu pun berhenti berputar, disusul dengan tubuh seluruh member EXO yang terjatuh ke atas lantai kayu. Sejak menceramahi Joon Myun beberapa jam yang lalu, keadaan latihan kembali fokus dan wajah Joon Myun tidak seperti kaus kaki Baekhyun lagi. Mungkin Joon Myun benar-benar sudah mendapat pencerahan atas hubungannya dengan Jae Hee dan sudah membicarakan masalah kapal pesiar –dan valentine itu dengan kekasihnya.

Sehun –lagi-lagi kalah dalam lomba suit dan Kai berbaring tengkurap di atas lantai ruang latihan dengan Sehun yang kembali memijat pinggangnya. Kedua mata Kai terpejam, menikmati /?/ pijatan Sehun yang membantu sedikit meredakan rasa sakit yang mulai kambuh di pinggang –setelah belasan jam latihan di sana.

“Tapi Jong In-ah,” Joon Myun kembali bersuara, membuat sembilan kepala yang berada di dalam ruangan itu kembali menoleh pada sang leader.

“Kenapa? Kau masih mau berpikir?” celetuk Baekhyun cepat.

Joon Myun menggelengkan kepala. “Bukan, Baekhyun-ah.”

“Lalu apa? Kau membolehkan Jae Hee noona pergi dengan kakaknya Hana?” sahut Chen –masih sedikit terbawa emosi dengan bahasan Jae Hee dan Jiho beberapa jam lalu.

Ya. Dengarkan aku dulu,” protes Joon Myun dengan nada sedikit memelas dan sontak mengundang tawa ringan dari sembilan member lainnya.

Mwo mwo, hyung,” sahut Kai akhirnya seraya menatap Joon Myun –yang duduk bersila di depan sana.

“Apa tidak pernah ada laki-laki yang mendekati Hana? Maksudku seperti Jiho ke Jae Hee. Ah kecuali Min Kyu,” ujar Joon Myun membuat Kai terdiam sebentar sambil berpikir –dan menikmati /?/ pijatan Sehun tentu saja. “Hubungan kalian aneh. Jarang bertengkar serius tapi sekali bertengkar malah break. Padahal masalah kalian bukan orang ketiga.”

Kai menepuk lengan Sehun –menyuruh lelaki itu berhenti kemudian mengubah posisinya menjadi duduk. Kini tatapan sembilan member tertuju pada Kai. “Siapa? Tahun 2013 kita break karena Min Kyu. Tahun 2014 kita break karena aku tidak peka. Yaaa, selama ini yang dekat dengan Hana hanya Min Kyu.”

“Kau selalu melarangnya pergi dengan Min Kyu?” tanya Joon Myun dengan bodohnya.

Keurae! Dia menyukai Hana, sudah sangat jelas. Aku tidak suka Min Kyu. Titik. Tapi kau tahu Hana bagaimana, hyung. Sudah kubilang tidak, dia pasti akan tetap pergi juga,” jawab Kai seraya menerima botol air minum dari Xiu Min dan meneguknya dengan cepat.

Joon Myun mengangguk paham. “Aku akan sering egois mulai sekarang.”

“Egois itu perlu untuk mempertahankan hubungan, hyung,” ujar Kyungsoo kalem. Laki-laki yang selalu tenang-tenang saja berhubungan dengan Nayeon.

“Tapi pilih-pilih waktu egoisnya,” Sehun menyahut tiba-tiba sambil mengelap keringat di wajahnya dengan handuk. “Atau dia akan menjauh dan menghilang.

“Sehun-ah, kau masih—.”

“Oh Sehun, ayo main suit lagi. Uwah, Chen mau ikut juga,” Baekhyun berusaha membuat suasana kembali membaik dengan memutus pertanyaan Tao. Perbincangan yang tidak sengaja menyinggung Sehun itu kadang membuat mood Sehun benar-benar buruk dan sulit fokus di latihan.

Sehun melemparkan handuknya dan mulai menaruh tangan di dalam lingkaran besar di dalam ruang latihan itu. Tangan Tao, Baekhyun, Sehun, Chen, serta Chanyeol terulur ke depan dan menyanyikan –lagu gunting, batu, kertas. Mereka semua berisik sendiri sementara Kai beranjak dari duduknya menuju sofa dan mengambil ponsel dari dalam tas Sehun. Ini sudah sore hari dan harusnya Hana sudah pulang ke apartemen.

Namun Kai tidak menemukan Katalk balasan dari Hana. Hembusan napas keluar dari bibirnya lalu ia menyandarkan kepala pada sandaran sofa. Ucapan Joon Myun tiba-tiba berputar di kepalanya. Apa tidak ada yang mendekati Hana selain Min Kyu? Sungguh, Kai tidak tahu harus menjawab apa sebenarnya. Selama ini Hana yang selalu membuatnya khawatir dan cemburu karena dikelilingi laki-laki. Sementara Hana selalu hidup dengan tenang karena Kai sangat sibuk dan hampir tidak memiliki teman wanita di luar sana. Ah dan tentu saja karena kepribadian Kai yang juga sulit dekat dengan orang lain. Tidak seperti Hana yang memiliki kepribadian cerah yang bisa membuat lelaki mana pun tertarik.

Apalagi jika mengingat sikap Hana pada Jonghyun kemarin. Pasti Hana benar-benar menyenangkan bagi orang-orang hingga membuat Jonghyun sebahagia itu ketika bisa bertemu gadisnya lagi. Walaupun ia tidak pantas cemburu karena Jonghyun sudah dianggap Hana seperti kakaknya sendiri. Tapi Kai tetap tidak suka ketika Hana pasrah saja dipeluk oleh laki-laki lain bahkan Jonghyun sekali pun.

Kai memutuskan untuk menelepon Hana, namun belum terdengar nada sambungan, panggilannya lebih dulu dijawab oleh suara operator. Kening Kai berkerut heran, tidak biasanya Hana mematikan ponsel ketika sedang di luar.

“Jong In-ah,” suara Joon Myun membuat Kai menoleh pada sang pemilik suara. “Jae Hee bilang Hana ada di apartemennya. Ponsel Hana tidak bisa menyala.”

“Oh, wae?” tanya Jong In heran.

“Ponsel Hana jatuh dan tidak bisa menyala sampai sekarang,” jawab Joon Myun seraya melihat layar ponselnya –membacakan pesan dari Jae Hee.

Kai mendecih pelan sambil menggelengkan kepala beberapa kali, membayangkan kecerobohan Hana yang tidak pernah ada habisnya. Setelah latihan mungkin ia akan berkunjung ke apartemen Hana untuk mengecek ponsel gadis itu. Komunikasi dengan Hana sudah menjadi salah satu hal penting bagi Kai. Hanya kabar dari Hana yang bisa membuat latihannya tenang dan semangat tentu saja.

***

04.21 PM KST

Sebenarnya Hana masih sibuk mencerna semua kejadian yang ada di apartemen Jae Hee sejak tadi. Saat datang, Hana menemukan Jiho ada di apartemen Jae Hee dan tidak menduga bahwa mereka ternyata sudah sedekat ini. Bagaimana Jiho memanggil Jae Hee dengan panggilan ‘Hee Hee’ dan kadang menambahkan embel-embel sayang juga. Lihat bagaimana Jiho seolah memperlakukan Jae Hee seperti perlakuan Jiho pada Hana.

Tapi berbeda. Entahlah. Hana tidak mengerti kenapa Jiho bersikap seperti itu pada Jae Hee. Padahal ia kira Jiho akan sulit dekat dengan Jae Hee, karena sifat kakaknya itu sangat bertolak belakang dengan sifat Min Kyu. Ia melihat sisi lain dari Jiho ketika bersama Jae Hee.

Mwoya oppa. Kenapa kau selalu memaksa?” tanya Jae Hee pada sosok Jiho di sampingnya karena kembali mengajak Jae Hee pergi ke beberapa tempat.

Hana yang duduk di sebelah keduanya –di sofa segera memicingkan mata, melihat tangan Jiho yang melingkari leher Jae Hee sambil bertanya pamflet promosi kapal pesiar di hari valentine. “Oppa.

“Tapi ini bagus. Apa kau benar-benar tidak mau pergi?”

“Jiho oppa.

“Tapi aku tidak bisa. Joon Myun tidak mengizinkanku.”

“Tapi kau mau ‘kan?”

“Mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa pergi kalau—.”

YA!” Hana berseru keras membuat keduanya menoleh cepat. Hana segera menyingkirkan tangan Jiho dari bahu Jae Hee lalu menatap kakak laki-lakinya itu dengan sinis. “Jae Hee eonni  itu pacarnya Joon Myun oppa. Kenapa Jiho oppa mengganggu eonni?”

“Mengganggu apa? Jangan ikut campur, bocah,” Jiho yang duduk berjarak cukup jauh dari Hana –karena disekat oleh Jae Hee itu hanya bisa menepuk pelan puncak kepala adiknya itu.

Hana mendengus pelan. “Oppa sering main ke sini, ya?”

“Jangan sok tahu. Dwaesseo, biasanya kau tidak peduli padaku karena sibuk dengan Jong In,” balas Jiho seraya melipat tangan di depan dada dan mengalihkan tatapannya ke arah televisi.

Ya! Si-sibuk apa? Oppa sering mengganggu Jae Hee eonni ‘kan?”

Jae Hee memperhatikan Hana –dan Jiho yang mulai berdebat mengenai hidup mereka. Tangan Jae Hee pun terangkat, memijat pelipisnya yang mulai terasa berdenyut karena suara Hana –dan Jiho. Berdebat mengenai dirinya dan sikap Jiho yang sedikit kelewatan –menurut Hana. “Geuman!

Suara debat Jiho dan Hana pun terhenti ketika suara seruan Jae Hee menengahi. Jae Hee menatap Hana dan Jiho secara bergantian lalu menghembuskan napas panjang. Kadang ia berpikir kenapa Jiho sering datang ke apartemennya. Hampir setiap hari di pagi dan sore hari. Sebenarnya Jae Hee tidak keberatan toh Jiho paling hanya mengajaknya makan atau bahkan membawakan makanan ke sana. Mereka berbincang banyak hal –yang kadang terasa menyenangkan bagi Jae Hee.

“Jiho oppa sering datang dan mengajakku makan. Hanya itu saja,” Jae Hee menjawab semua desakan Hana –pada Jiho.

Sontak membuat Hana memekik pelan dan menutup mulutnya. “Mengajak makan? Seolma….”

“Apa? Kenapa?” tanya Jiho gemas karena ekspresi Hana –terlihat lucu dengan mulut terbuka dan ekspresi kosong.

Seolma,” Hana kembali mengulangi ucapan terakhirnya seraya menatap Jiho dan Jae Hee bergantian.

Oppa tidak mau punya adik sepertiku lagi? Huwee, oppa jarang mengajakku makan di luar,” Hana tiba-tiba merengek sambil memukul-mukul bahu Jiho –dari belakang tubuh Jae Hee.

Jae Hee memutar bola matanya dan beranjak dari sofa meninggalkan sepasang kakak-beradik itu di ruang tengah. Ketika melihat Jae Hee menjauh –menuju dapur, Jiho segera mendekat pada Hana dan mendekap mulut adiknya –yang masih merengek. Jiho mendesah napas pelan lalu merutuk Hana dalam hati karena membuatnya panik setengah mati.

“Kenapa ribut sekali sih?” tanya Jiho risih seraya membuka mulut Hana.

Hana memasang ekspresi datarnya pada Jiho. “Oppa menjual apartemen ini dengan setengah harga lalu beli lagi di gedung yang sama –dan hanya berbeda lantai saja. Lalu oppa yang sering datang ke sini untuk mengajak Jae Hee eonni makan. Memangnya aku bisa dibodohi?”

“Jangan berisik!” Jiho kembali mencoba berusaha membuat Hana diam. Adiknya itu benar-benar sulit dikendalikan.

Oppa menyukai Jae Hee eonni, ya?”

-CUT-

Advertisements

86 thoughts on “[KaiNa Piece] Disturbance

  1. Picturesquekai says:

    Jadi jaehee tu pacarnya suho? Hehehe maaf gak pernah baca yg suho soalnya. Makanya jadi rada bingung. Maaf ya, ntah kenapa kurang berasa aja kaina yg disini. Gak suka aja kai ngerelain hana nya plg sama jonghyun drpd dia sendiri yg ngantar hana pulang. Ya mgkn karna dia segan ya sama jonghyun. Tapi rasanya kesal 😦 dan hana seharusnya jgn pasrah aja. Masa gak ngerasain gelagatnya jongin. Duhhhhh hana sadar lah :(((

  2. Dira says:

    Wah jiho oppa awas aja jadi orang ketiga dlm hubungan Jae Hee sama Joonmyun-_- gereget parah eonni kenapa di cut aaaaaaaaaaaaaa, ayo eonni lanjutin! Keep writingg yap, figthing^^

  3. Soojinssi says:

    Kak emang Jae Hee sama Jiho kapan ketemunya????
    Jongin kenapa sih gampang banget nglepasih Hana pulang sama Jonghyun?? Emang dia ga cemburu?? Lagian ntar kalo fans nya Jonghyun liat Jonghyun sama Hana apa mereka ga ngepoin Hana??
    Maaf nih tanya mulu hahahaha

  4. LeeDaeShi says:

    Hana kapan sih ga ceroboh. Hp nya smpe jatuh gt ckckck mana sok2an ngelawan eh rupanya sama senior sendiri. Itu keadaan paling ngezonk lol
    Hana jiwa fg nya mendarah daging banget ya. Tp dimanfaatkan dengan sebaik2nya sama jongin.
    OMG jongin keringetan. Basah2 o<—-< duh lemah hati nuna, Kim :3
    Suka bgt moment berantem unyu kaina. Lucu gemesin juga. Pengen dikawinin aja mreka langsung. Tp kasian hana nya kurang peka kalo udh fg-an jongin kayak butiran debu 😦 sabar ya Kim :* ada nuna disini *eh
    Jino suka sama Jaehee? Serius? Duh suho 😮
    Eh Hun galau napa? Ckck kasian si maknae epil ㅋㅋㅋ

  5. sriihayatii says:

    Hana ya ampun udah tau mahasiswa baru, malah berani ama orang mana belum tau seniornya. Kan jadi kena ^^
    Eonni saya suka saya suka, partnya chaerin ama hana banyakin ya 😀

  6. tasya_vero says:

    Yahh jiho jadi orang ketiga di antara jaehee sama joonmyun….
    Kai lucu banget cemburu gara2 jonghyun haha.
    Kai disini beda ahaha
    Lanjut terus eonn^^

  7. ShellaISJ says:

    hai haii saya kembaliiiii… wkwk
    sekarang saya merasakan apa yang Ima eonni dulu rasakan.. bener bener sibuk sampe gabisa ngelirik blog sama sekali.
    Di tengah malam ini akhirnya saya membaca KaiNa Piece yang sudah di post beberapa bulan lalu 😦
    Sudah ketinggalan banyaaaaak banget serial ini, sampe udah lupa sama cerita sebelumnya tentang apa 😦
    Intinya kangen banget sama tulisan eonni, jadi berhubung masih banyak yang belum saya baca jadi komen nya dikit aja yaw mau lanjutin baca dulu wkwk

  8. shazkiasw says:

    seharusnya pas pinggang jong in sakit hana mijitin😄😀joonmyun oppa sabar ya 😀hehehe kerrnn semangat buat ff selanjutnya ima eonnii ✊😄

  9. hasna nabilah says:

    aaaak couple ini makin lucu ajaaaaaa. jongin apalagi wkwkwk. selalu aja ngegodain Hana, ngungkit2 kelakuan Hana pula waktu ngegoda jongin huahahahaha. kebayang deh muka merahnya Hana kkk~ semoga hubungan mereka adem ayem aja deh:”)

  10. Song hyun in says:

    Oommmooo ada apa dgn suho dan jae hee ??
    Sperti-nya aku tertinggal ckup banyak e.e

    seru, k..
    Konflik-nya tdk terlalu serius, jadi baca-nya agak santai hehe

    tapi menurutku feel-nya agak kurang dpt –”
    itu menurutku hehe, entahlah dgn yg lain 🙂

  11. ohvee12 says:

    Dan akhirnya di cut sama author hihi ..
    Suka moment ngegemesin KaiNa like always .. Authornim Jjang ^^
    Sorry for this short comment 🙂 aku cma ga bisa ngungkapin gimana bagusnya karya author 🙂

  12. Dee says:

    apa ini papa jiho tiba” metenteng keluar dan suka jaehee ok gw gapernah baca jaehee junmyeon sih emang, yaaah kaina nya kurang disini heuheu :3

  13. Miqo_teleporters says:

    yaaaa jongin kenapa ngerelain gt hana pulang sama jonghyun? huft btw jae hee kenapa gituuu??? kasihan suho tuhhh.. jiho juga gitu udah tahu jae hee udah punya pacar masih saja dideketin huft

  14. dyndrakm says:

    Wkwkwkwk kai garela gt hana sama jonghyun yaudalah ya jongin bentaran doang dipinjem/eh wkwkwkw toh hana juga sayang nya amaluuu cmn hrsnya jongin Gitu sih biar lucu wkwkwkwk jiho bisa aja ah modusnya kenceng bgtwkwkwk lanjut ya kak ima ♡♡♡

  15. handayaniwidya0 says:

    elah junmyon-jaehee-jiho nyempil :v
    “Jae Hee eonni itu pacarnya Joon Myun oppa. Kenapa Jiho oppa mengganggu eonni?”<< kok aku nguquq ya pas hana bilang ini haha rasanya kayak hana tuh anak umur 5 tahunan kkk
    imaaaaa aku padamuuuuuuu..haha.. ff2 km kece2 semuaaaaa.

  16. Khyunpawookie says:

    Ksni2 penulisan Jae Hee nya udh mlai rubah yh kmren2 kan Jaehye kan trus klo gk slah awal2 jg Song skrng Oh kan???? Ne Jae hee nya kak Neez yh???? Okehhh itu crtnya tar hahhhhah
    Skrng aduhhhhhhhhhhhhj Jong Jong hahhahahhh liat Hana nya jd kancong hahahahhha nah loh Kai nya bimbng lg akhhh selalu ne tiap chap dkah kejutan mulu hahahahaha

  17. syafirasl says:

    Bayangin wajah hana pas liat jongin shirtless..wkwk
    Masa iya Jiho nganggep jaehee adek..aduhh hana kelewat polos nihh
    Ditunggu kaina-kaina selanjutnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s