{Another Sooyeon} Crush (1/?)

tumblr_n1xbc2BPyx1qg6dyso1_500

 

Do you catch a breath when I look at you?
Are you holding back like the way I do?'
Cause I'm trying, trying to walk away
But I know this crush ain't going away

-Zi- 

Ya, ya! Lebih baik duduk disini saja-“

“Kau gila, ya? Kita tidak tahu sifat dosen hari ini seperti apa!”

Cish, aku tidak menyangka nyalimu sekecil itu, Chanra~ya.”

“Lee Nayeon~ssi! Lebih baik kita duduk belakang lalu bisa menilai dosen nanti tipe dosen killer atau dosen baik sehingga selanjutnya kita bisa memilih duduk dimana saja.”

“Tapi… kalau aku duduk di belakang nanti aku tidak bisa melihat papan tulis.”

Ya! Kau kan sudah memakai kacamata!”

“Tetap saja tidak kelihatan, Chanra~ya.”

“Astaga…” kudengar suara kesal dari teman baru disebelahku, Jongin, yang tengah menggosok telinganya seakan celotehan dua gadis di pagi ini bakal merusak gendang telinganya. “Pagi buta begini mereka sudah mengeluarkan suara nyaring tujuh oktaf, eo. Bagaimana jika aku mendengarkan mereka setiap hari? Bisa-bisa setiap bulan aku bisa cek ke dokter THT.”

Kusenggol lengan pria itu, menanggapi gurauan tidak mutu teman baruku itu. “Kau terlalu melebih-lebihkan, Jongin.” jawabku santai yang sukses membuat ia bertekuk tidak suka. “Namanya juga perempuan, mereka memang ditakdirkan untuk lebih banyak berbicara daripada pria. Bayangkan jika tidak ada perempuan, topik pembicaraan pasti hanya itu-itu saja.”

Terlihat pria disebelahku melipat tangan ke depan dadanya seraya  merebahkan diri di sandaran kursi, selanjutnya tanpa kusadari ia telah menoleh kepadaku dan memamerkan smirk yang pasti bagi para perempuan akan  langsung bertekuk lutut. Dan untungnya, aku menanggapi pandangannya santai, ya, karena aku seorang pria dan untungnya tidak mengidap kelainan sex. “Apa?” tanyaku santai menanggapi yang masih memasang smirk diwajahnya seolah ia telah mengetahui segala rahasiaku yang paling terdalam sekalipun.

“Kau tertarik dengan salah satu perempuan berisik didepan sana, ya?” cerocos Jongin dan sukses membuat dahiku berkerut layaknya ibuku jika beliau sedang berpikir mengatur keuangan keluarga kami. “Benar, kan? Aku bisa membaca pandangan matamu, Kyungsoo~ya. Kau menyukai salah satu perempuan berisik didepan kelas! Wow, kau hebat sekali! Sudah jatuh cinta pada seseorang padahal kita baru menjalankan perkuliahan beberapa kali. ” tambahnya dengan nada gembira, bahagia karena teori bodohnya bisa ditambahkan adalah sebuah fakta yang konkrit.

Ya!” sergahku dan menjtak pria itu agar bisa menghentikan akal busuknya. “Jaga mulutmu itu baik-baik sebelum kau menyebarkan hal-hal yang bodoh, Jongin~ssi.” cercahku jengkel dan pelan namun ia hanya menanggapi cercahanku dengan kikikan pelan khasnya.

“Kau membohongi dirimu, Kyungsoo~ya.” ucap pria itu malah, menyeleweng dari topik yang kami bicarakan. “Tenang saja. Kalau kau butuh teman curhat segala hal mengenai perempuan, kau langsung bisa mengontak Jongin.” tambahnya puas seraya merangkulku dan mengguncang-guncangkan tubuh kecilku itu seakan mentransfer kekuatan padaku.

Aku berdecak malas dan menyingirkan lengan Jongin yang masih nangkring dipundakku. “Terserah kau-lah.”

“Jangan segan-segan bercerita dengan dokter cinta, Kim Jongin.”

“Kembali ke pekerjaanmu lagi sana, Jongin bodoh.”

Aku mengindahkan pria bodoh itu yang sepertinya masih belum puas untuk menggodaku dan kembali menyibukan diri dengan buku catatan. Sayang, percakapan tidak penting tadi malah kembali terputar di memori pikiranku. Jongin berkata apa tadi? Bahwa aku tidak boleh membohongi dirinya sendiri? Apa sih yang ia bicarakan? Aku mengenal diriku sendiri dengan baik dan aku merasa tidak ada mekanisme yang salah pada tubuhnya.

Selanjutnya, entah mengapa, aku  bisa merasakan rayapan dan hentakan tidak menyenangkan di sekujur tubuhku. Tidak sengaja, tidak sadar dan tindakan bodoh adalah kemudian aku kembali memandang ke depan kelas, arah dimana sumber utama segala hal aneh itu terjadi. Susah payah aku memaksa untuk memasok  pasokan udara untuk memenuhi permintaan organ pernapasannya. Bagaimana hal mudah itu mendadak terasa menyusahkan padahal aku hanya mendapati gadis itu tengah menatapnya dan sempat tersenyum ala kadarnya sebelum ia berbalik mempunggungi diriku.

Sepertinya… dekat-dekat ini  aku akan mengikuti kelas cinta bodoh yang diajarkan oleh Dokter Kim Jongin.

*  *  *

Gadis itu adalah penduduk asli dari kota ini, tidak sepertiku yang memutuskan untuk merantau.

Gadis itu baru-baru ini menggunakan vespa putih keluaran terbaru sebagai alat transportasi utamanya, sebelumnya ia selalu diantarkan oleh orangtuanya.

Setiap kali ia datang, selalu ada Hana disisinya. Sepertinya, ia menyempatkan sedikit waktu untuk menjemput sahabat barunya itu.

Tiada hari ia tidak lupa menggunakan outer ditubuh mungilnya. Meskipun panas terik menyelimuti, outer itu tetap setia nangkring ditubuhnya.

 Dan setiap kali aku melihat gadis itu. Gadis itu agaknya sangat cuek dengan penampilannya. Ia tidak mengijinkan salah satu pemulas wajah untuk nangkring di wajahnya. Malahan jika ia merasa jengah, ia langsung mengikat asal rambut panjangnya, meskipun banyak anak rambut yang belum terikat, ia tetap terlihat nyaman dengan penampilan amburadulnya.

Jeleknya, semakin banyak informasi kecil yang aku dapat secara tidak sengaja, semakin ingin aku berkenalan atau paling tidak sekedar menyapa ala kadar layaknya teman. Dibalik itu pula, semakin ciut nyali yang kupunyai setiap detiknya.

Karena gadis itu tidak pernah sekali pun menoleh kepadaku lagi. Berita buruknya mungkin gadis itu tidak tahu bahwa aku ada.

Ya, sepertinya begitu.

* * *

Aku menguap lebar sampai-sampai air mataku berhasil lolos dipelupuk mataku, sungguh, aku sudah tidak tahan lagi menahan kuapanku meskipun aku sudah memperingatkan diri agar tidak melakukan perbuatan senonoh tadi. Mengingat bahwa aku sedang mengikuti salah satu mata kuliah dengan dosen pembimbing yang terkenal tegas dan juga ketat, namun sungguh, aku tidak kuat dengan suasana membosankan ini. Kimia memang bukan keahlianku sejak menduduki bangku sekolah dan jika karena tidak terpaksa untuk beranjak dari kasurku yang nyaman jika aku ingat bahwa aku sudah banyak membolos. Kuputuskan untuk menyegarkan penglihatanku daripada aku terus menerus memperhatikan dosen membosankan didepan kelas, aku mengedarkan pandanganku disegala penjuru kelas.

Hari ini kuputuskan duduk disudut kelas, spot terbaik jika kau hanya ingin sekedar absen dan tidak ingin fokus dengan materi yang disampaikan. Toh, aku tidak perlu cemas, dosen berbeda dengan guru yang membimbingku saat bangku sekolah, dosen terkesan lebih cuek dengan keadaan muridnya karena hal yang ia pedulikan adalah ia sudah melaksanakan tugasnya dan bisa mengeluyur pergi.

Aku memandangi kursi sebelah kananku yang tidak berpenghuni. Hari ini, aku tidak bisa membangunkan Jongin dari mimpi indahnya. Salah bocah itu juga sih, tahu bahwa hari ini jadwal perkuliahan diadakan pagi hari namun ia memutuskan berpacaran semalaman dengan Fifa World 2015. Seribu cara sudah kulakukan untuk membangunkannya dan hasilnya nihil sehingga kuputuskan untuk segera berangkat daripada segala waktuku dipergunakan secara sia-sia hanya bisa membangungkan kebo molor itu. Kemudian, aku menyesali keputusanku. Biasanya Jongin –karena sifat hiperaktif dan kekanak-kanakannya- lah yang selalu membuatku terjaga dan sekarang bocah itu tidak ada. Seharusnya aku juga ikut-ikutan bolos daripada mendengarkan tiga jam penuh tentang Reaksi Kimia yang tidak kumengerti.

“Hei…”

Suara perempuan yang tidak pernah kukenali membangunkanku dari kenyataan, dan aku tidak bisa mengontrol ekspresi wajahku karena gadis itu disebelahku. Kuulangi agar kalian lebih jelas, ia tepat disebelahku, tepat dihadapanku, dan ia memandangku bingung seakan reaksiku adalah hal yang teraneh yang pernah ia temui. Ujung mataku berkedut cepat, panik, bagaimana, demi tuhan, aku bisa sedekat ini. Bagaimana aku tidak menyadari gadis ini sedari tadi disebelahku dan kami berdua hanya berjarak satu kursi kosong?

Gadis itu masih menatapku dengan cara yang aneh, sebelah alis matanya meninggi. “Kau sedang mengalami mimpi buruk, ya?” tanyanya pelan dan menatapku dalam melewati bingkai kacamata hitamnya. Aku terdiam, tidak dapat memproses pembicaraannya karena, gilanya, bagaimana aku bisa memikirkan ini dalam waktu sekritis ini, karena ada sesuatu yang menyita perhatianku. Kedua warna matanya. Hitam Legam. Sangat berbeda dengan kepunyaanku yang berwana coklat kegelapan. Bola mata hitam menawannya secara refleks kumasukan dalam memoriku segala hal kecil tentangnya, dan aku sudah menghafalnya tanpa perlu kuingat.

“Hei…” ucapnya sekali lagi, sedikit keras sehingga membangunkan dari lamunanku, lagi. “Caramu menatapku… agak sedikit mengerikan, kau tahu. Apa biasanya kamu terlihat teler seperti ini?”

“Eh?” hanya itu yang bisa kukatakan dan pasti aku terlihat sangat bodoh. Kesalahan oleh Do Kyungsoo. Nanti mau ditaruh mana wajahku?

Gadis itu menghela nafas panjang seakan ia menarik kesabaran didalam dirinya untuk bisa berkomunikasi denganku. “Sudah lupakan perkataanku tadi. Sekarang, kau yang berganti untuk menjagaku.”

Untung jalan pikiranku sudah dapat berjalan normal meskipun segalanya terasa membingungkan. “Ha? Menjagamu? Untuk apa?.”

Gadis itu berdecak kesal. “Sedari tadi aku menjagamu dari dia karena kau tertidur.” jelasnya dengan nada pelan dan tegas seraya menunjuk dosen mereka yang masih asyik mendendangkan bagaimana reaksi kimia berlangsung dengan nada 1/4 oktaf. “Dan sekarang gantian kau yang harus berjaga. Oke?”

“Tunggu.” sangahku setelah menerima informasi dari gadis itu. Kapan aku tertidur? Seingatnku tidak pernah merasakan kelopak matanya menutup. “Aku tidak ingat jika aku jatuh tertidur. Seingatku aku hanya melamun sedari tadi…”

Tanpa disangka, gadis itu agak menunduk dan terlihat pipinya bersemu kemerahjambuan sebelum ia mengangkat wajahnya lagi. “Melamun itu termasuk tidur, kan? Tidur ayan maksudku… tapi terserah, ah.” jelasnya rancu dan menggerakan seluruh tanggannya tidak karuan, menandakan dia bingung. “Intinya kau harus menjagaku, oke? Bangunkan aku jika dosen tua itu mendekat atau menegur atau apalah. Semalam aku tidak bisa tidur nyenyak karena aku bermain Harvest Moon semalaman dan asyik mengejar Anna…”

“Maukah kau menjagaku, Kyungsoo~ya?”

Mendengar namanya telah diucapkan oleh gadis itu membuatnya tertegun. Gadis itu mengetahui nama panggilannya.

“Well, kuanggap aksi diammu berarti kau mengiyakan permintaanku.” ucap gadis itu senang seraya menepuk lenganku sekilas sebagai tanda gembiranya sebelum ia menelangkupkan wajahnya dikursi dan tengah mencoba untuk terbawa ke alam sadarnya.

Aku bergeming. Hanya bisa memandang surai hitam rambutnya yang tergerai sehingga menutupi wajah gadis yang membuat hatiku uring-uringan tanpa kuinginkan. Segala perasaan tercampur aduk. Aku tidak menyangka peristiwa sebelum ini terjadi, yah, meskipun aku terlihat idiot sepertinya. Namun ada hal yang membuat perasaan nyaman disekitarku karena satu hal. Ia menyebutkan namaku.

Berarti… paling tidak ia tahu bahwa terdapat seseorang bernama Kyungsoo.

Dan gadis itu tahu bahwa Kyungsoo itu ada.

Aku tidak perlu khawatir lagi. Gadis itu mengenalku.

Selanjutnya. Tanpa aku sendiri sadari. Aku telah menegakan tubuhku dan membuka mataku  menjadi lebih siaga. Seakan menjaga harta yang paling berharga dikehidupanku agar tetap aman.

* * *

Kau pernah merasakan ujung lidahmu kelu padahal kau sangat ingin sekali menggerakkannya agar kau bisa berkata.

Hal itu lah yang sering terjadi padaku, disaat aku ingin sekali mengucapkan namanya.

“Kau sudah melihat jadwal praktik kita yang baru?”

Suara husky itu membuatku berpaling dari game konsol yang tengah kumainkan. “He? Jadwal praktik apa?” tanyaku bingung seraya memperhatikan Jongin yang sudah menepati duduk disebelahku dan meletakkan sebuah modul diatas meja kami.

Jongin memberikan tatapan aneh kepadaku. “Sebenarnya kau niat menimba ilmu disini tidak,sih?”

Aku memberikan pandangan tidak suka kepadanya. Apa yang Jongin pikirkan,sih? Tentu saja aku berniat sekolah kalau aku tidak mau pergi jauh dari keluargaku. Yah, meskipun jurusan ini sebenarnya bukan targetku namun aku sudah mengambil keputusan dan lebih baik aku menjalankannya dengan baik. Apalagi… kalian tau sendiri, kan, apa yang membuatku bersemangat akhir-akhir ini.

“Terkadang semua ucapanmu harus disaring dulu sebelum kau ucapkan, Jongin~ah.” saranku yang menurutku sangat baik karena, toh, aku sahabat baiknya sekarang namun dia memberikan glare tidak suka-nya yang kuindahkan. “Tentu saja aku niat disini. Maksudku tadi aku ingin bertanya jadwal praktikum apa yang sudah keluar? Kau tahu kita kan banyak melakukan praktikum.”

“Praktikum Kimia.” Jongin membuka halaman pertama modul itu, memperlihatkan jadwal pembagian kloter angkatan kami. “Aku dapat jadwal pertama!” sesalnya seraya menunjuk nomor induknya di deretan list yang akan ikut dalam kloter pertama sebelum jari telunjuknya berpindah ke kolom ketiga, list bagi kloter ketiga. “Kau disini! Kenapa sih aku harus  dapat yang pertama, ck!”

Selanjutnya Jongin masih melanjutkan sumpah serampahnya mengenai ketidakberuntungnya-mendapat-kloter-pertama yang hanya masuk di telinga kanan dan keluar di bagian lain telingaku. Fokusku berpindah. Mataku memindai untuk menemukan sesuatu. Menemukan nomor-Nya. Batinku berkomat-kamit karena membacakan seluruh permintaan bodoh yang kemungkinannya kecil sekali yaitu gadis itu juga dikloter yang sama denganku. Salah satu kesempatan agar aku bisa mengenal jauh dirinya.

Terasa jantungku berhenti berdegup disaat aku menemukan nomor induknya. Kecewa. Ia dimasukan dalam list kloter kedua, berbeda satu kloter denganku. Apakah Sang Pencipta memang tidak mentakdirkan-ku untuk mengenal dirinya?

Kesempatanku mengenalnya mengecil hingga seukuran debu.

* * *

Bolehkah aku menarik kata-kataku? Ternyata Sang Pencipta tengah berbahagia dan aku bisa mendengar bisikan kecil berisi sebuah perintah dari-Nya, “Aku memberi kesempatan sekali saja, jangan sia-siakan kesempatan ini, Kyungsoo bodoh.”

Gadis itu tengah duduk di sudut meja praktikum ruangan dan tengah berbincang-bincang seru dengan teman disebelahnya.

Aku tidak bisa mempercayai penglihatanku. Apakah itu benar-benar dia? Jangan-jangan semua ini hanya ilusi semata.

“Hei…” sebuah tangan menjawilku, “Kau tidak apa-apa?”

Eo,” balasku menanggapi pertanyaan Seri, teman sekelompok yang memasuki ruangan bersamaku. Agaknya ia bingung dengan aksi mendadak bengongku.“Yhea, I’m fine.” jawabku singkat seraya menatapnya, menunjukkan bahwa aku baik-baik saja. Padahal… ya, aku merasakan diriku mulai bergejolak aneh.

Tatapan Seri berpindah ke seluruh ruangan sebelum gadis itu ber-O paham. “Kau bingung, ya, kenapa ada mereka?” Seri menunjuk segerombolan yang menduduki didekat sudut meja, Seri menunjuk gadis itu. “Mereka bertukar dengan beberapa orang dikloter kita soalnya kemarin jadwal mereka bentrokan dengan praktikum di kloter kedua.”

Kau tahu setelah mendengar informasi itu, aku merasa menjadi pria paling beruntung di dunia.

* * *

Aku tidak bisa menahan diriku untuk melihatnya seakan otot mataku dikendalikan oleh sesuatu yang tidak pernah kukenal. Toh, aku menyukainya.

Secara tidak langsung aku bisa merasakan gadis itu kelelahan. Ya, ditambah dengan jadwal kloterku berarti dia hari ini menjalankan dua kali praktikum, empat jam penuh. Padahal lazimnya sehari, seorang mahasiswa hanya melaksanaka satu jadwal praktikum setiap harinya. Sehari satu praktikum aja sudah membuatmu gila, apalagi dua? Namun yang membuatku heran, bagaimana ia menutupi kelelahannya itu? Sedari tadi ia selalu terlihat menyungging senyum bahagianya seakan hal ini tidak terlalu menganggunya.

Tawa melengking gadis itu sekali lagi –setelah beribu kali kulakukan- membuatku menoleh kepadanya. Kulihat gadis itu sedang asyik mendengarkan bayolan dari beberapa pria di kloterku. Tanpa kusadari aku mencengkram pena yang kupegang hingga urat di tanganku terlihat mengerikan, Pria? Aku tidak salah lihat kan.

Memang bukan hakku karena itu pilihannya. Gadis itu mempunyai kuasa sendiri berteman dengan banyak orang, terutama hubungan dengan para pria. Tetapi gagasan itu entah kenapa membuat amarahku mendidih dan aku tidak menyukainya, sungguh.

Aku tidak bisa menyuruh diriku kembali fokus ke pekerjaanku membuat laporan hasil praktikumku, kedua retina mataku hanya ingin menatap ia. Ia yang duduk tak jauh diseberangku. Ia terlihat bergebu-gebu layaknya percakapannya dengan beberapa temanku sangatlah seru.

Aku tidak tahu berapa lama aku melaksanakan aksi diamku. Yang hanya kusadari adalah gadis itu sudah berdiri bersamaan dengan suara decitan kursi yang memenuhi ruangan. Aku mengerjap, mengumpulkan kesadaranku kemudian menyadari pratikumku telah selesai. Hanya satu gagasan yang melintas. Setelah ia pergi nanti, aku bisa menyadari bahwa aku tidak akan pernah bisa mengenalnya. Ini kesempatanku.

Kubereskan kertas-kertas laporanku dan kujejalkan sembarangan di dalam bagpack pollo hitamku sebelum menentengnya. Aku langsung menarik kursiku dan mengejarnya, mengabaikan tatapan aneh karena aku tidak menanggalkan jas praktikumku. Aku tidak peduli karena hanya satu hal yang kupedulikan.

Hampir saja sosok gadis itu menghilang dari balik pintu jika aku tidak menahan pundak gadis itu. Aku bisa merasakan efek terkejutan di balik tanganku sebelum ia membalikan badanya. Terlihat bibirnya membulat dan matanya membelak kecil namun sedetik kemudian ia menyunggingkan senyum lebar kepadaku. Reaksi kecilnya hampir membuatku memperlihatkan muka teler ku –karena saking terpanannya- dan terima kasih tuhan, aku bisa menahannya.

Eo, Kyungsoo~ya.” ucapnya santai seakan kami adalah teman lama. “Ada apa?”

Kukumpulkan seluruh nyaliku, menyemangati diriku untuk bisa melakukan ini. Aku menatap iris hitamnya dan bisa kulihat pantulanku di matanya. “Nayeon~ah… kau bisa membantuku, tidak?”

Perkataan bodoh. Iya, kan? Namun paling tidak… aku sudah selangkah, langkah besar malah, agar bisa mengenalnya.

– cut –

Entah arwah apa yang merasuki diriku jadi aku membuat FF macam begian LOL

Tapi gpp deng sekali-kali nggak ya nyoba hal yang baru hahaa

Ada yg tahu cuplikan lagu diatas? Disarankan ya yang belum tau lagunya untuk mendengarkan. David Archuleta – Crush. Dijamin dah yang pernah ngalamin di lagu pasti nangis kaya Zi lol. FF ini dapet ide dari tu lagu, yah, jadi pada tau lah masalahnya nanti gimana soalnya ini nggak keliatan ya kan masalahnya. Btw kenapa saya malah ngasih spoiler -.-

Semoga pada enjoy aja deh dengan ff yang amburadul ini >< semoga besok kalo ada next FF pada mau ngelanjutin baca HAHA. Amin.

Salam sayang, Magnae sarap, Zi.

Advertisements

14 thoughts on “{Another Sooyeon} Crush (1/?)

  1. galakto.galuh.gal says:

    Perasaanku jadi amburegul. Apalagi berasa nostalgi gitu pas baca bagian gantian jaga tidur di kelas. Jaman SMA sama kuliah banget. Hohohoho

    Awalnya aku kira ini POVnya Danamon. Ternyata POVnya Belo.

    Demi apa KaiSoo moment ada disini. Hahaha. aku bukan shipper. Hanya menikmati saja. Semprul banget si Jongin ngaku dokter cinta. Hahaha. Demi Luhaan. Belo kuliahnya apa sih. Ngapain praktik Kimia. Betapa malangnya nasibmu nak. /kayak nggak pernah aja/ Andai aja pas kuliah praktek ku ada temen yang ganteng macam anak EXO pasti gagal pokus ya. Hehe

    Mau dibikin berapa part ini? Jangan panjang-panjang dan Lama-lama. Kasian Soo-nya. Heuheu. Ciye yang cinta pada pandangan pertama. Huhuhuhuu

    XOXO
    GAL

    • indaylee says:

      Eon…. Danomon nuguuu? Maksud eonni nayeon ya huakakak
      Ahh… Aku samain settingnya eon sama kuliah yg aku ambil, teknologi pangan. Seharusnya eon kita bersyukur lah nggak ada yg seganteng exo pas kuliah, nanti malah fokusnya ke mereka nggak fokus kuliah… Kapan jadi sarjana… Kapan NIKAHNYA /okefixinilebay/
      Iya eon chapter… Tapi Zi nggak tau sampe berapa wkwk
      Ditunggu aja ye eonni hehe^^
      Xoxo zi

  2. Lisa says:

    Huoooo! Ada SooYeon ahh aku seneng:3 yeay! Ciee love at first sight ya kyungsoonyaa? Tapi nayeonnya ngga yaa? Ciee nayeon out of caracter banget dari yang sooyeonsheet, disini banyak senyumnya hihi sukaa … Pokonya sukaa.. Dan semoga kyungsoo lancar yaa ngedeketin nayeonnya hehe. Dan semoga nayeon pekaan haha. Ditunggu yaa jangan lama2 hihi

  3. Prihartini Khoirun Nissa says:

    Karakternya dyo banget ngak sih? Aku rasa dia malu lohh, ini kayak sudut pandang dari dyo doang kaya isi buku catatan gitu, boleh dong eonni nanti bikin dari sudut pandang nayeon, tentang nayeon gimana bisa kenal dyo, dll. Tapi aku suka kok bagus

    xoxo

  4. Laksita Rahma says:

    Ziiii next ziii. Ini bagus 😀 Aku suka cerita yang kaya gini an. Semoga pdkt nya berhasil ya Soo. Fighting! 😀 fan semoga cepet cepet jadian..
    Aku tunggu ya Zi

  5. Ryeo Uci says:

    Haha do suka tp g berani ngungkapin y

    Oh y untuk para chingu/author indaylee..!!!
    Aq minta PW luhanji ko g pernah d bls sihh??
    Udh seminggu loh aq kirim permintaan pasword sampe 3 kali tp g ada satupun dr para author yg membalas… biasanya kalian balesannya cepet entah kenapa
    Aq udah sabar menunggu tp blm jg ada jawaban, aq bingung apa aq punya kesalahan sehingga kalian g mau kasih aq Pw / kalian sibuk.(?)??? tp g mungkin setiap aq buka twiteer indaylee yg lain slalu d bls mention mereka…. tolong dong please kasih jawaban ke aq
    Id comen aq Ryeo Uci
    #maaf klo aq jd curhat d sini

  6. Hikyu says:

    ehm karakter kyungsoo disini beda yaa :p agak umm.. chessy? :p
    nayeon jadi gadis baik hatiii *emang biasanya kaga?* /plak
    semangat kyungsoo buat pedekate 😀
    fighting buat next part!!

  7. Bubble Gum says:

    disini mereka bkan member exo, ahh kyungsoo jatuh cinta nih ceritanya.
    kyungsoo-ya jangan malu-malu nanti nayeon nya direbut orang lohhhh, hehehe

Leave a Reply to Ryeo Uci Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s