[TaoRa Affair] First Vacation

taoraaa

First Vacation

Ra | Park Chanra (OC), Huang Zitao (EXO), Kim Junmyeon (EXO), Oh Sehun (EXO) | Canon

PG-17! untuk scene dan obrolan dalam FF ini

©indayleeplanet2015

Gimpo Airport, 7 September 2014

Gege, aku sudah sampai.”

Keurae? Aku akan sampai sebentar lagi. Apa kau melihat mereka?’

Chanra sibuk menurunkan koper besarnya dari bagasi mobilnya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang ponsel yang menempel di telinganya. Sekali-sekali ia melirik sekitarnya, memastikan situasi di bandara hari ini.

Molla. Aku tidak melihat satupun dari mereka di tempat parkir.”

Baiklah kalau begitu. Tunggu aku, ne? Kita akan check-in bersama-sama.’

Setelah memastikan mobilnya sudah terkunci dan tak ada barang yang tertinggal, ia segera menggeret kopernya ke depan pintu masuk bandara,lalu duduk di atas kopernya “Arraseo~. Aku akan menunggu kalian.”

Ra-ya.’

Ne, Zitao gege?”

Aku tak sabar ingin bertemu dan liburan bersamamu.’

Kemudian suara tawa Suho dan Sehun tiba-tiba terdengar dari seberang sana, membuat Chanra geleng-geleng sambal terkekeh pelan, “Gege, kita ‘kan baru saja bertemu dan pergi bersama-sama ke Indonesia.”

Tapi..ini berbeda, Chanra-ya. Kita ‘kan-‘

“OMO! Itu van Oppadeul!”

Chanra menengokkan kepalanya kebelakang dan seketika terkejut, begitu melihat berbondong-bondong wanita telah berdiri dibelakangnya, dengan kamera bazooka ditangan mereka yang siap untuk memotret setiap detik.

Chanra menghela nafasnya. Ia tak habis pikir, bagaimana mereka bisa tahu keberadaan idol mereka dengan cepat dan tepat. Seharusnya tidak seorangpun, kecuali para member EXO, manager dan orang tua Chanra mengetahui rencana liburan mereka ke Hainan selama libur Chuseok ini. Dan Chanra yakin, akan banyak orang-orang yang akan mengikuti mereka saat di Hainan nantinya.

Tao menghembuskan nafas beratnya, ‘Hah…mereka selalu saja tahu.’

Mianhae, Ra-ya.’

Gwenchanayo, Gege, Gwenchana. Jadi.. kita bertemu di dalam?”

O…Kita bertemu di waiting room. Jeongmal mianhae Chanra-ya.’ Terdengar nada penyesalan dari Tao.

Gwenchana. Yang penting kita tetap bisa berlibur bersama ‘kan, Gege?” Chanra menyunggingkan senyumnya, meskipun Tao tidak bisa melihatnya. “Aku akan check-in setelah kalian. Aku tutup telponnya ya, Gege?”

‘Arraseo. Berhati-hatilah, Ra-ya. Banyak orang disini. Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu.’

Ne~.”

‘Chanra-ya.’

Ne, Gege?”

Tao diam selama beberapa detik, Terima kasih. Semoga kau menikmati liburan pertama kita.’

Tut tut tut

Chanra dapat merasakan kedua pipinya memerah begitu Tao mengucapkan kalimat tadi. Chanra membayangkannya. Membayangkan saat ia bersenang-senang bersama Tao (dengan Junmyeon dan Sehun juga,tentunya) di Hainan nantinya, bagaimana rasanya benar-benar menghabiskan waktu bersama Tao, ketika seorang Huang Zitao benar-benar terfokus pada Chanra, tanpa gangguan orang banyak (yah, setidaknya orang yang mengikuti mereka ke Hainan tidak sebanyak ketika mereka di Korea-,-).

“Kyaaaa!”

Jeritan para fans menggema begitu Tao, Suho, dan Sehun keluar dari van mereka, dan berjalan masuk kedalam bandara. Sekali-sekali Tao mencuri pandang pada Chanra yang masih duduk diatas kopernya dan memperhatikan Tao dari kejauhan.

Setelah check-in, Tao, Suho dan Sehun langsung masuk ke waiting room, dan tak beberapa lama setelahnya, Chanra ikut bergabung dan langsung duduk menyebelahi Tao dan tersenyum, “Annyeong~”

Tao menatap Chanra dengan rasa bersalah, “Mianhae, Chanra-ya.”

Chanra mengibas-ngibaskan tangannya, “Gege, Gwenchana. Sudah berapa kali Gege meminta maaf padaku? Tidak masalah, Gege. Yang penting kalian bisa beristirahat dan refreshing, okay?”

***

Hainan Airport

Chanra tidak tahu harus bagaimana lagi.

Ia melangkahkan kakinya keluar dari bandara Hainan sambil memijat-mijat pelipisnya yang berkedut. Ia berdiri agak menjauh dari pintu kedatangan dan duduk, menunggu Tao, Suho dan Sehun untuk berangkat terlebih dahulu ke resort yang sudah mereka booking sebelumnya.

Chanra benar-benar kesal. Chanra masih bisa memaklumi jika fans mereka tahu kalau mereka akan berlibur ke Hainan. Tapi ikut di dalam pesawat yang sama dan mengikuti mereka sampai ke Hainan? Chanra rasa itu sudah keterlaluan dan benar-benar mengganggu privasi mereka.

Beberapa lama setelah mobil yang dinaiki Tao, Suho dan Sehun pergi, Chanra segera memanggil taksi dan meminta sang sopir untuk sedikit mengebut agar cepat sampai di resort tempatnya menginap.

Setelah Tao membukakan pintu kamarnya, gadis itu segera masuk dan melewati Tao yang masih berdiri di ambang pintu kemudian masuk ke kamar dan menjatuhkan tubuhnya diatas kasur.

“Bukan main.”

Tao lalu duduk disamping Chanra, “Mianhae, Ra-ya. Aku sama sekali tidak mengira akan terjadi seperti ini.”

Chanra menganggukkan kepalanya, “Arra, Gege. Tidak perlu minta maaf lagi, Okay?”

“Aku merasa tidak enak denganmu, Ra-ya.”

Chanra bangun dan langsung menghadapkan dirinya pada Tao. Ia menggenggam tangan Tao dan menatapnya, “Gege. Harus aku bilang berapa kali, It’s okay, Ge. Anggap saja mereka tidak ada disini, okay? Nikmati liburanmu, nikmati waktu istirahatmu ini, ne?”

Tao tersenyum merespon perkataan Chanra, “Gomawo, Chanra-ya.”

Chanra sendiri memang kesal dengan ulah fans-fans yang tidak mempedulikan privasi idol mereka, dan Chanra benar-benar ingin mengumpat saat ini juga. Tetapi, ia tak mau semakin menghancurkan liburan singkat Tao ini. Liburan selama 3 hari kedepan nanti dipastikan tidak sesuai dengan ekspetasi mereka yang penuh dengan kebebasan dan ketenangan, dan Chanra tak mau menambah ke-tidak-sesuai-dengan-ekspektasi-an mereka, terutama orang yang ada didepannya saat ini.

Cha~ mandilah. Kau pasti lelah, Ra-ya.”

Chanra menganggukkan kepalanya dan berdiri diikuti Tao. Tao lalu sedikit membungkuk dan tangan kanannya ia tautkan di leher Chanra, menarik gadis itu lebih dekat dengannya. Ia mencium kening Chanra cukup lama, sebelum akhirnya membiarkan Chanra masuk kedalam kamar mandi.

***

“Kenapa wajahmu serius begitu, Ge?

Tao –yang sedang duduk di pinggir kasur dengan mata terfokus pada ponsel ditangan- reflek mengangkat kepalanya kemudian mengembangkan senyumnya. Chanra mengenakan piyama berwarna soft pink dengan gambar teddy bear besar ditengahnya, ditambah rambutnya yang baru saja dirapikan masih basah,serta wajah yang polos tanpa polesan apapun, membuat Chanra tampak seperti anak dibawah umur.

Sadar dengan senyuman Tao, Chanra mengerinyit heran, “Waeyo?”

Tao menggelengkan kepalanya, masih tetap tersenyum, “Aniyo. Kau seperti anak-anak, Chanra-ya.”

Chanra tertawa,sambil mengambil tempat disamping Tao, “Aku? Jinjja?

O. Wajahmu polos sekali, Ra-ya,” Tao lalu mengangkat tangannya kemudian menyentuh pipi Chanra dan mengelusnya, “dan cantik.”

Kedua pipi Chanra memerah. Ia tersenyum, “Gomawo, Zitao Gege.”

“Chanra-ya.”

Ne, Zitao Gege?”

“Kenapa kau mau menerimaku secepat ini?”

Chanra menatap Tao, bingung dengan pertanyaan Tao, “Waeyo? Kenapa Gege tiba-tiba bertanya seperti itu?”

“Hanya penasaran saja. Aku kan baru saja mendekatimu. Dan kau baru saja…” Tao menghembuskan nafasnya berat, “…kau tahu-“

Gege. Kau ingat? Di Changsa, saat kau pulang dari Solomon, aku menangis dan langsung memelukmu begitu melihatmu?”

Tao ingat. Saat ia sampai didalam ruang make-up untuk konser mereka di Changsa dengan kursi rodanya, Chanra langsung menghampirinya dan memeluknya sambil menangis, dan sejak saat itu Chanra benar-benar terbuka dengan Tao, dan mulai menunjukkan perasaannya pada Tao secara langsung.

“Saat Gege di Solomon, Aku tidak bisa menghubungi Gege, dan ketika membayangkan apa yang sedang Gege lakukan disana, tiba-tiba aku rindu padamu. Dan saat melihatmu di Changsa, aku baru menyadarinya. Kalau ternyata aku sudah menyimpan rasa pada Gege. Aku tidak tahu kapan, dan aku tidak tahu mengapa.”

Chanra tersenyum, “Jadi, jawaban dari pertanyaan Gege adalah: Karena Gege telah berhasil menutup lukaku dan mendapatkan hatiku, meskipun dalam waktu yang tidak lama.”

Tao terdiam (lagi). Tao hanya mengharapkan jawaban singkat dari Chanra. Ia tak menyangka Chanra akan menjawab pertanyaannya dengan jawaban sepanjang itu. Dan jawaban Chanra benar-benar membuatnya semakin yakin dengan perasaan Chanra padanya, dan semakin yakin jika Chanra benar-benar menerimanya dari hatinya yang terdalam.

Aigooo, apa yang barusan aku katakan?” Chanra menggelengkan kepalanya, sambil memegang kedua pipinya yang terasa semakin panas, “Aku malu sekali.”

Tao tertawa, “Waeyo? Kenapa kau malu?”

“Karena tanpa sadar… aku menyatakan perasaanku pada Gege.”

Tao mengangkat salah satu alisnya, dan menyunggingkan senyum jahilnya,“Ho? Jinjja?”

Chanra mengangguk.

“Tapi, kau ‘kan sudah pernah menyatakan perasaanmu padaku sebelumnya, Chanra-ya.”

Chanra lalu memiringkan kepalanya, bingung dengan ucapan Tao.

“Lupa, waktu kemarin di Indonesia? Didepan member yang lain, kau bilang-“

Gege!!!” Chanra segera memotong ucapan Tao begitu menyadari apa maksud ucapan dari Tao tadi. Chanra tak ingin mendengar lagi kata-kata yang ia lontarkan untuk Tao saat di Indonesia kemarin. Mengulangi kata-katanya di otaknya saja sudah bikin jantung mau meledak. Apalagi mendengarnya dari mulut Tao sendiri, memalukan.

Chanra lalu berdiri dan memaksa Tao untuk berdiri dan mendorongnya masuk ke kamar mandi, “Sana mandi. Gege bau sekali.” Kemudian menutup pintu kamar mandinya sehingga meredam suara tawa Tao yang meledak ke seluruh penjuru kamarnya.

Chanra lalu mengambil ponselnya yang terletak didalam tas dan keluar ke balkon kamarnya untuk melihat pemandangan Hainan di pagi buta. Ia membuka group chat yang berisi dirinya dan sahabat-sahabatnya dan membaca chat mereka sebelumnya sambil terkekeh geli. Nayeon, Hanji, dan Hana masih terus meminta penjelasan secara detail pada Chanra, tentang apa yang terjadi antara dirinya dengan Tao di Indonesia dengan heboh. Salah Chanra sih, yang hanya memberitahu sahabat-sahabatnya secara singkat padat dan jelas. Padahal, jelas-jelas mereka tak akan tinggal diam jika seperti itu.

Setelah selesai membaca chat sebelumnya, ia lalu mengambil foto selfie dengan pemandangan Hainan di background-nya, dan dengan cepat mengetikkan sesuatu di layar ponselnya dan mengirimkannya di group chat-nya itu.

Read by 3;AM2.00 You sent a photo

Read by 3;AM2.00 Aku di Hainan. Dengan Zitao Gege, Junmyeon Oppa dan Sehun Oppa ;;)

Nayeon.L:

YA PARK CHANRA IGE MWOYA? 2.00AM

HanjiDo:

Heeee? Apa yang kau lakukan disana, Park Chanra-ssi? 2.00AM

HanjiDo:

Aku kira hanya mereka bertiga saja yang ke Hainan-_- 2.00AM

LeeHana:

Daebak. 2.01AM

Read by 3;AM2.02 Zitao Gege yang mengajakku._.V Mianhae~

Read by 3;AM2.02 Seharusnya Jaehee onnie ikut, tapi dia harus bertemu orang tuanya ㅠ_ㅠ

LeeHana:

Aigoooo, sayang sekaliiii 2.03AM

Nayeon.L:

Seharusnya kau mengajakku juga, Park Chanra! Aku juga ingin ke Hainan ㅠ_ㅠ 2.03AM

HanjiDo:

Begitu sampai Seoul, kau harus menjelaskan semuanya secara detail, Chanra-ya~ 2.04AM

 

Read by 3;AM2.04 Nayeon-ah, kau temani saja Do kyungsoo-mu itu, okay? ^_^

Read by 3;AM2.04 You have my promise, Hanji-ya :p

Read by 3;AM2.05 Ah iya. Jaehee onnie, Junmyeon oppa mencarimu.

Read by 3;AM2.05 Apa Onnie sibuk?

 

Nayeon.L:

YA!!!!! Awas kau Park Chanra!!!! 2.05AM

HanjiDo:

Ho? Memang ada apa Junmyeon oppa mencari Jaehee onnie, Chanra-ya? 2.06AM

HanjiDo:

Jaehee onnie tidak muncul di group chat hari ini 2.06AM

 

Kedua tangan Tao yang merengkuh Chanra dari belakang secara tiba-tiba membuat Chanra mengalihkan pandangannya kesamping, melirik Tao yang menopangkan dagunya di pundak kanan Chanra, memejamkan matanya dan mengambil nafas dalam-dalam, “Waah~ Tidak salah aku memilih berlibur di Hainan.”

Chanra memasukkan ponselnya ke kantong piyamanya dan mengangguk setuju, “Majayo… Pemandangannya indah sekali.”

Beberapa saat Tao menikmati segarnya udara dan indahnya pemandangan Hainan di pagi buta.

Sedangkan Chanra?

Rengkuhan Tao benar-benar membuat jantung Chanra mau meledak, sehingga ia masih sibuk mengatur degup jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Rasa hangat dan nyaman menjalar ke seluruh tubuhnya dalam hitungan sepersekian detik, ditambah dengan wangi maskulin khas Tao –yang Chanra yakini sebentar lagi akan menjadi wangi favorite-nya- yang menyeruak masuk ke rongga hidungnya, semakin berhasil membuat Chanra tidak dapat berfikir lurus.

“Chanra-ya.”

“Ya, Gege?”

“Aku senang kita bisa menghabiskan waktu bersama.”

Nado, Gege.”

“Terima kasih, mau memberikanku kesempatan untuk menutup lukamu itu. Dan terima kasih, karena membiarkanku untuk memilikimu.”

Chanra lalu memutar tubuhnya sehingga kini ia dan Tao berhadapan. Kedua tangannya merengkuh leher Tao, memastikan Tao benar-benar menatap kedua matanya, “Sekarang giliranku.”

Gege, seandainya ada kata yang bermakna lebih dari terima kasih, aku akan mengucapkannya berkali-kali pada Gege sampai kau bosan. Karena apa yang telah Gege lakukan untukku…benar-benar sangat berarti untukku.”

Gege datang disaat yang tepat. Gege selalu ada, saat aku membutuhkan seseorang untuk menopangku. Gege selalu menghubungiku, memberiku kabar, bahkan Gege selalu menyempatkan diri untuk menemuiku meskipun Gege sedang dikejar waktu. Gege selalu menenangkanku dan membantuku melupakannya saat aku kembali mengingat kejadian itu meskipun pada kenyataannya, Gege juga merasakan hal yang sama denganku. Dan aku rasa karena itu, aku bisa jatuh cinta dengan Gege secepat ini.”

“Terima kasih, Gege. Dan aku harap, Kau akan tetap menjadi seorang Huang Zitao yang bisa membuatku jatuh cinta dalam sekejap mata.”

Tao tanpa mengucap sepatah kata apapun langsung menarik Chanra dan memeluknya dengan erat. Tao merasa beruntung, bisa memiliki gadis seperti Chanra. Dan ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia tak akan pernah melepas Chanra ataupun menyakiti Chanra.

Tao merenggangkan pelukannya. Ia menatap Chanra dalam, “Saranghae, Park Chanra.”

Tao masih menatap gadisnya itu lekat-lekat. Dia Park Chanra. Gadis yang beberapa bulan lalu masih berada didalam dekapan orang lain, seorang adik dari sahabatnya yang tak pernah sebelumnya terlintas di pikirannya akan menarik perhatiannya dan akan menjadi miliknya saat ini. Ia tak pernah menyangka bahwa dialah wanita yang akan mengisi dan mewarnai hari-harinya nanti, bahwa dialah yang nantinya akan selalu ada disampingnya setiap saat, dan Tao merasa bersyukur atas hal tersebut.

Jantung Tao berdetak semakin cepat seiringan dengan semakin dekatnya jarak antara dirinya dengan Chanra. Begitu juga dengan Chanra yang perlahan mulai memejamkan matanya. Jantungnya terasa semakin siap untuk meledak ditambah perutnya yang tiba-tiba terasa bergejolak, ketika hidungnya mencium wangi aftershave Tao yang belum pernah ia hirup sebelumnya. Yah well, katakan saja Chanra suka semua bagian dari seorang Huang Zitao.

Tao tersenyum pada Chanra, “And I will always do.” Dan pada akhirnya, Tao menempelkan bibirnya pada bibir Chanra.

Manis.

Satu kata yang terlintas di otak Chanra saat bibir Tao menyentuh bibirnya dan mengecupnya. Ini bukan sebuah kecupan pertama bagi Chanra, tapi kecupan ini entah kenapa terasa begitu spesial untuknya.

Bibir lembut Tao yang untuk pertama kalinya bersentuhan secara langsung dengan bibirnya ditambah dengan suasana malam Hainan yang indah dan ‘mendukung suasana’, menimbulkan sensasi aneh pada diri gadis itu.

Chanra tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Tao menciumnya. Seharusnya ia merasa jantungnya meledak-ledak. Well, itu yang Chanra rasakan sebelum Tao menciumnya. Tetapi, ketika Tao benar-benar menempelkan bibirnya, detak jantung Chanra secara teratur semakin melambat dan ia dapat merasakan seluruh tubuhnya menjadi hangat. Alih-alih merasa grogi, Chanra justru merasa nyaman, dan aman berada dalam dekapan Tao.

Tao mengaitkan tangannya pada leher Chanra dan menariknya, semakin menekan Chanra pada dirinya. Tangan Chanra juga semakin erat memeluk pinggang Tao saat merasakan kecupan Tao padanya semakin intens.

Tao melepas ciumannya pada Chanra, dan menempelkan bibirnya pada telinga Chanra, “Terimakasih telah menerimaku, Chanra-ya.”

Tao berbisik, kemudian mulai menelusuri tengkuk Chanra dengan teliti, menghirup aroma manis khas Chanra. Sedangkan Chanra hanya memejamkan kedua matanya, merasakan setiap perlakuan Tao padanya. Chanra harus mengakuinya, Chanra cukup menikmati perlakuan Tao kali ini.

‘Aku mencintaimu, Éllie-ya.’

Kedua mata Chanra reflek menjeblak terbuka. Seketika semua perasaan yang Chanra rasakan tadi hilang. Tubuh Chanra menjadi kaku. Kenapa kalimat dan ingatan itu tiba-tiba muncul di otak Chanra?

Tangan Tao perlahan turun dari leher Chanra ke pinggang Chanra. Ia lalu menelusupkan tangannya kedalam pakaian Chanra dan menelusuri tubuh Chanra dengan jemarinya tanpa keraguan sedikitpun.

Tapi berbeda dengan Chanra. Pikiran Chanra terus mengingat kejadian saat dirinya berada di Vancouver, ketika ia menghabiskan malam yang panjang bersama pria yang benar-benar ingin Chanra hapus dari otaknya, ketika Chanra memutuskan untuk membiarkan Yifan merusak komitmen besarnya.

Ia menyesal. Benar-benar menyesal dengan keputusan yang ia buat malam itu. Chanra memang telah menyesali perbuatan itu sesaat setelah kejadian itu. Tetapi, penyesalan yang lebih besar baru ia rasakan sekarang.

Rasa malu yang sangat besar tiba-tiba datang menghampiri Chanra. Ia telah menyerahkan segalanya untuk Yifan, lalu pria itu tiba-tiba pergi meninggalkan dirinya tanpa sebuah alasan yang jelas. Dan sekarang, Tao, yang baru saja resmi menjadi kekasihnya selama satu hari ini, telah melakukan hal seperti ini dan –Chanra yakin- akan menjurus ke hal yang sama degan apa yang ia dan Yifan lakukan. Chanra merasa dirinya adalah seorang gadis rendah yang dengan mudahnya melakukan hal seperti itu. Chanra merasa…hina.

“Gege.”

Chanra lalu mencoba melepaskan dirinya dari Tao dan menarik tangan Tao keluar dari piyamanya dengan tangan yang sedikit bergetar. Sedangkan Tao yang diberhetikan secara tiba-tiba, membuka matanya dan menatap Chanra kaget, “W-Waeyo?”

Chanra menundukkan kepalanya, takut untuk menatap kedua mata Tao secara langsung, “Ani. Errr… Gege tidak lelah? Ini sudah lewat dari jam 2 dan Gege belum istirahat setelah konser di Indonesia.”

Gege harus…istirahat.” Ujar Chanra pelan. Chanra takut. Ya, Chanra takut Tao akan marah padanya. Tao adalah seorang pria normal. Dan ia tahu pria normal tak akan suka jika ‘aktivitas’nya diberhentikan secara tiba-tiba.

Tao mengerinyit heran, tetapi beberapa saat kemudian ia menganggukkan kepalanya mengerti,”Ah. Kau benar. Kita harus tidur.”

Tao dan Chanra kemudian masuk kedalam kamar dan merebahkan diri mereka di kasur dengan posisi berhadapan. Selama hampir 5 menit mereka berdua terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Chanra mencoba memejamkan matanya, meskipun otaknya masih sibuk memenerka-nerka apa yang Tao pikirkan saat ini. Begitu juga dengan Tao.

Pertanyaan demi pertanyaan satu persatu muncul di pikirannya. Kenapa Chanra menghentikan perlakuannya tadi? Apa Tao melakukan kesalahan? Apa Chanra tak suka diperlakukan seperti itu? Atau… apakah terlalu cepat Tao melakukan ini pada Chanra?

Ah, benar juga. Ia dan Chanra baru saja resmi menjadi sepasang kekasih, dan Tao sudah melakukan ini pada gadisnya? Bodoh sekali –pikir Tao. Tao tidak bisa menyalahkan akal sehatnya. ia adalah seorang laki-laki normal, dan saat ini ia hanya berdua dengan kekasihnya disebuah tempat yang pemandangannya begitu romantis. Tapi Chanra belum siap, Tao yakin itu. Dan Tao langsung menyesali perbuatannya pada Chanra.

Tao mengangkat tangannya dan mengelus pipi Chanra –yang ternyata sudah tertidur saat memikirkan Tao tadi- pelan. Tao menyesal sekaligus senang, karena Chanra berani menghentikan perbuatannya dan tak memaksakan diri.

Ia lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Chanra, kemudian mengecup dahi Chanra kilat, sebelum akhirnya tersenyum dan ikut memejamkan kedua matanya dan ikut terlelap.

***

8 September 2014-06.30 AM

Good morning, Ge.” Chanra berbisik pelan di telinga Tao yang masih menutup matanya rapat-rapat, sambil mengelus puncak kepala Tao penuh kasih sayang “Rise and shine.”

Tao membuka matanya kemudian merenggangkan otot-ototnya yang pegal, kemaudian tersenyum melihat Chanra yang masih berbaring disampingnya,dan menjawab sapaan Chanra dengan suara serak khas bangun tidur, “Good Morning.”

Chanra tiba-tiba terkekeh, “Wajah Gege lucu sekali saat bangun tidur.”

Jinjjayo?”

Chanra hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Tao. Ia lalu tampak berpikir sejenak, “Errr…Gege.”

Tao mengangkat alisnya, “Wae?”

“Soal semalam… aku minta maaf. Aku tak-“

“Chanra-ya, gwenchana. Kau tidak perlu meminta maaf soal itu.” Tao memotong ucapan Chanra, “Aku yang seharusnya minta maaf, okay?”

“Maafkan aku. Aku tak bermaksud melakukan hal seperti itu padamu, Chanra-ya. Kita baru saja pacaran. Seharusnya aku sadar kalau kau belum siap untuk…seperti ini.”

Chanra mengerinyit, “Seperti ini apa, Ge?”

Tao lalu bangun dari tidurnya, diikuti Chanra. Tao menundukkan kepalanya, sambil meraih tangan Chanra dan memainkan jemarinya, “Ya…seperti ini. Liburan bersama, satu ruang tidur denganku, dan…”

Gege ini bicara apa sih?” sela Chanra, “Gege, kalau aku belum siap dengan semua ini. Dengan liburan bersama dan yang lainnya, aku tak akan akan bersama Gege saat ini, okay?

“Hanya saja… untuk yang satu itu, aku-“

Arraseo, baby. Aku mengerti.” Tao mengangkat kepalanya dan tersenyum, ia lalu mengecup dahi Chanra dan membiarkan bibirnya menempel cukup lama. Setelah itu, Tao turun dari kasurnya dan mengenakan sandal hotelnya, “Aku akan menemui Suho hyung dan Sehun dulu. Kurasa mereka berdua belum bangun. Kau bersiaplah, Chanra-ya.”

“Bersiap? Memang kita mau kemana, Ge?”

“Kita akan bersenang-senang di laut hari ini.”

***

Hyung, apa Jaehee nuna sudah menghubungimu?”

Sehun duduk menyebelahi Suho yang masih terfokus pada ponsel ditangannya, dan Suho hanya menggelengkan kepalanya lemas menjawab pertanyaan Sehun, “Ponselnya tidak aktif sama sekali.”

Sehun meneguk susu di gelasnya, “Mungkin Nuna sengaja, Hyung.”

Tao segera brgabung dengan Sehun dan Suho,”Menurutku juga begitu,Hyung. Family time.”

Suho mendesah pelan, “Ara… Hanya saja, Kenapa Jaehee tak bilang padaku kalau dia akan mematikan ponselnya saat bertemu keluarga-“

“Kita sarapan apa?”

OMO!

DAEBAK!

Tao sedang mengoleskan selai pada rotinya, ketika tiba-tiba Sehun dan Suho memekik kaget begitu melihat Chanra keluar dari kamarnya. Penasaran, Tao menengokkan kepalanya kebelakang.

Tao terpana, begitu melihat wajah Chanra yang tertimpa cahaya matahari pagi terlihat begitu cantik dengan wajah polos tanpa make up dan rambut yang ia kuncir kebelakang. Ditambah dengan bibir gadisnya yang terus ditarik keatas, membuat jantung Tao tiba-tiba berdebar.

 

Sweater rajutan berwarna putih yang dengan jelas memperlihatkan lekuk tubuh Chanra. Kulit putihnya yang tertimpa cahaya matahari membuatnya terlihat sangat bersinar dan elegan, menambah kecantikan seorang Park Chanra secara keseluruhan dan membuat jantung Tao semakin berdegup kencang.

Tapi, tunggu.

Tao tiba-tiba berdiri dari duduknya. Bibirnya yang tadinya tersenyum menganga dan menatap Chanra dengan Shock. Dibalik sweater-nya itu.. Chanra mengenakan…

“B-bi-bikini?”

Chanra dengan santainya berjalan mendekati Tao, kemudian heran melihat wajah Tao yang begitu shock, “Waeyo,Gege?

Tao mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, mencoba kembali mengumpulkan raganya yang sepertinya hilang setengah, kemudian bergantian menatap Suho, Sehun, dan Chanra. Suho dan Sehun masih menatap Chanra lekat-lekat, membuat Tao reflek menghalangi tubuh Chanra dari pandangan Suho dan Sehun.

“Apa yang kalian lihat?!?” Tanya Tao galak sambil memelototi Suho dan Sehun. Ia lalu kembali menatap Chanra, “Ya. Apa yang kau kenakan?”

“Ini?” Chanra menunjuk tubuhnya sendiri, “Pakaian renang. Kata Gege kita akan bermain air? Apa aku salah?”

A-Aniya. Tapi kenapa kau mengenakan b-bi- pakaian seperti ini?”

Wae? Apa yang salah?” Chanra menunduk, kemudian menatap tubuhnya sendiri, “Apa…terlalu terbuka?”

“Kau sexy, Chanra-ya.” Sehun menyahut dari belakang.

Ya!”

Gege, it’s Hainan.” Chanra mengangkat kedua tangannya dan memegang kepala Tao, kemudian terkikik pelan, “Girls should wear bikini. Okay?”

Kemudian ia berjinjit dan mencium pipi Tao, sebelum akhirnya bergabung bersama Suho dan Sehun.

***

Chanra benar-benar merasa bahagia bisa berlibur bersama Tao.

Yah, meskipun tadi ia harus berpura-pura menjadi salah satu teman dari saudara Tao yang kebetulan sedang berlibur di Hainan agar bisa keluar dari resort, tak bisa ikut bermain jet ski karena ada fans yang masih setia mengikuti mereka, dan harus menunggu lebih dari satu jam untuk akhirnya bisa keluar dari dek kapal, Chanra merasa semuanya langsung terbayar.

Berada diatas kapal ditengah laut Hainan yang begitu indah karena terkena pantulan langit yang begitu biru dibalik kacamata hitamnya, berbaring di geladak dengan seorang Huang Zitao yang ada disampingnya, membiarkan lengan kirinya digunakan sebagai bantal olehnya. Siapa yang tidak merasa bahagia?

Ditambah, kapan lagi Chanra bisa menikmati waktu berduaan (Yah, sebenarnya ada Suho dan Sehun juga yang sekali-sekali menggoda Tao dan Chanra dari belakang) dengan kekasihnya ini? Setelah libur chuseok ini selesai, Tao sudah harus kembali ke aktivitasnya lagi, kembali menjadi idol kelas atas yang jadwalnya padat, dan Chanra yakin akan sangat susah menemukan waktu luang untuk menemui Chanra.

Chanra harus benar-benar memanfaatkan kesempatan ini.

Gege.”

“Hmmmm.”

Mianhae, karena Gege tidak suka dengan pakaian yang aku kenakan ini.” Ujar Chanra pelan, “Tapi, hanya ini pakaian renang yang aku bawa.”

Gwenchana~ Aku hanya shock tadi.” Tao menaikkan kacamatanya dari kedua matanya dan menengokkan kepalanya menatap Chanra, “Dan aku cemburu karena Suho hyung dan Sehun menatapmu penuh kagum seperti tadi.”

Dan Chanra tertawa.

Mwoya~ untuk apa cemburu dengan mereka? Suho oppa punya Jaehee onnie yang sudah dipastikan lebih sexy dariku. Dan Sehun oppa? Tubuh Miranda Kerr jauh lebih sexy daripada tubuhku yang kurus seperti-“

Cup.

Tao mengecup bibir Chanra kilat,“Aku cemburu karena kau kekasihku, ara? Bukan karena kau sexy atau bagaimana, tapi aku cemburu karena pria lain melirikmu. Okay?”

Chanra tersipu malu dan hanya tersenyum membalas ucapan Tao. Ia semakin merapatkan tubuhnya dengan Tao, sedangkan jemari tangan kiri Tao yang digunakan sebagai bantal memainkan jemari tangan kiri Chanra, lalu menutup matanya kembali dengan kacamata hitamnya, dan memejamkan matanya merasakan cahaya matahari yang meresap ke tubuhnya.

“Tao-ya, Chanra-ya, kita akan kembali. Kalian bersiaplah.” Kalimat peringatan Suho membuat Tao dan Chanra langsung mengakhiri waktu berjemur mereka. Chanra mendesah pelan,

Hah~ another alone-and-boring-one-hour inside the boat.

***

Chanra membuka pintu kamarnya dengan kedua mata yang hampir terpejam.

Setelah seharian penuh bermain-main dan mengeksplorasi keindahan pulau Hainan bersama Tao, Suho, dan Sehun, Chanra akhirnya tertidur di pundak Tao selama perjalanan pulang. Dan ketika sampai di resort, Chanra merasa amat sangat sulit untuk membuka matanya.

Sedangkan Tao?

Sejak tadi pandangan pria itu tak pernah luput dari Chanra. Dorongan untuk terus melihat gadisnya seharian ini benar-benar kuat. Mulai dari pagi ketika Chanra keluar dari kamar, ketika melakukan sun bathing bersama diatas kapal, Tao tak bisa melepaskan pandangannya pada Chanra.

Bahkan ketika Chanra tidur di pundaknya, Tao tak henti-hentinya memperhatikan wajah Chanra yang tertidur dengan dahi berkerut akibat posisi yang kurang nyaman. Entahlah…Tao benar-benar terpana.

Dan kini, Tao terus menatap punggung Chanra yang berjalan lunglai memasuki kamar mereka. Perhatiannya terus tertuju pada tubuh Chanra.

Well, siapa yang tidak?

Chanra telah mengganti sweater rajutannya dengan dress panjang yang memiliki potongan lengan rendah, sehingga memperlihatkan bagian dari samping kulit putih tubuh dan bikini hitam yang Chanra kenakan sejak tadi pagi. Apalagi dress yang Chanra kenakan berwarna putih, sehingga meskipun tertutup, Tao tetap bisa melihat lekuk tubuh Chanra dengan jelas. Jangan salahkan pikiran Tao, ia pria normal. Apalagi, Chanra adalah kekasihnya dan ia mencintai kekasihnya itu.

Chanra membuka pintu balkon kamarnya kemudian berdiri dibalkon sambil merentangkan tangannya, membiarkan hembusan angin dingin malam menerpa wajahnya agar kantuknya hilang, “Ah, neomu joha~,” Ia lalu berbalik dan menatap Tao, “Gege, kemarilah. Udaranya segar sekali disini.”

Tao menelan ludahnya sendiri.

Cahaya rembulan yang menerangi seluruh tubuh gadisnya dari belakang membuatnya terlihat indah dan mempesona, ditambah dengan lekuk tubuhnya yang semakin terlihat jelas. Lehernya yang jenjang, pinggang yang terlihat seperti gitar spanyol dengan lekuk yang indah, sepasang paha yang terlihat ramping dan…ugh! Apa yang baru saja Tao pikirkan?

Tao tersenyum kikuk saat kembali ke kesadarannya. Ia membuang jauh-jauh pikirannya tadi lalu mendekati Chanra,kemudian setelah sampai tepat didepannya, Tao mengulurkan tangan kanannya, “Dansa denganku, nona?”

Ne?” Tanya Chanra kaget degan ajakan Tao.

Tao mengendikkan bahunya, “Yah, suasana malam ini sangat indah, kurasa akan sangat pas jika kita berdansa disini.” Ia tersenyum, “Apa kau bersedia, nona?”

Chanra mengulurkan tangannya menerima ajakan Tao sambil tersenyum malu, “Tapi kita tidak sedang memutar musik, Gege.”

Tao menarik Chanra dan melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Chanra, dan mulai menggerakkan kakinya perlahan, “Aku akan menyanyikannya untukmu.”

Tao lalu menyanyikan lagu Moonlight versi China dengan lembut, dan menyamakan gerakannya dengan irama lagu yang ia nyanyikan. Chanra menempelkan dahinya pada dada Tao, menikmati setiap perlakuan Tao padanya. Tangan Tao yang merangkul pinggang Chanra dengan erat, jemari lembut Tao yang saling bertautan dengan tangannya, menggenggamnya dengan penuh rasa sayang, suara khas seorang Huang Zitao yang mengalun indah di telinganya bagaikan sebuah lullaby favorit Chanra, ditambah dengan suasana Hainan di malam hari, Tao telah berhasil membuat Chanra semakin menganguminya.

Tao masih tak rela melepaskan rangkulannya pada Chanra begitu lagu Moonlight yang ia senandungkan berakhir. Kedua tangannya masih setia pada tempatnya serta kaki-nya dan Chanra masih bergerak secara perlahan dan teratur. Tao mengecup puncak kepala Chanra lembut dan lama, sebelum akhirnya melepasnya dan merenggangkan rangkulan tangannya.

Mereka berdua saling menatap, sebelum akhirnya Chanra tertawa diikuti oleh tatapan aneh dari Tao, “Waeyo? Kenapa tertawa?”

Aniyo,” Jawab Chanra sambil menggelengkan kepalanya, “aku hanya tak menyangka ternyata Gege bisa se-romantis ini.”

Tao tertawa, “Jinjja?

O, bahkann dulu aku kira Gege adalah orang yang tidak bisa romantis sama sekali.”

Wae? Kenapa kau bisa bilang begitu, Ra-ya?”

“Yah.. Gege tahu. Wajah Gege kan menyeramkan apalagi- Ah! Mian mian aku hanya bercanda~” Chanra melepas pelukannya dari Tao dan menjauhkan dirinya ketika Tao tiba-tiba menggelitik pinggangnya tanpa ampun.

Setelah cukup lama tertawa bersama-sama, Tao mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya, “Ya, kemarilah.”

Chanra menurut dan mendekati Tao, dan mendapati Tao telah membuka aplikasi kamera di ponselnya, “Kita harus berfoto.”

Chanra tertawa, “Eiyyy, Here comes selfie’s king~

Tao tanpa ragu merangkul Chanra dan mendekatkan wajahnya pada wajah Chanra, kemudian mulai berpose bersama: Chanra tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya, sedangkan Tao hanya tersenyum simpul memperlihatkan sisi maskulinnya, kemudian Chanra mengangkat tangannya dan memberikan v-pose-nya sambil mengedipkan matanya, diikuti Tao yang ikut tersenyum lebar sambil mengacak-acak rambut Chanra.

Setelah melakukan berbagai macam pose, mereka melihat hasil jepretan selfie ala mereka dan membuat Chanra reflek tertawa.

Ya Gege~ wajahku jelek sekali! Hapus saja~”

Eiy ige mwoya? Kenapa wajahku seperti habis terkena badai?!?!”

Woah, Gege keren sekali di foto yang ini! Cool!”

Sedangkan Tao hanya memperhatikan Chanra dan tersenyum simpul.

Tawa Chanra begitu indah!

Begitu mempesona, bagaikan sebuah magnet yang bisa menariknya dengan kuat dan susah untuk menjauh darinya.

Chanra menghentikan gelak tawanya begitu menyadari hanya ia saja yang tertawa terbaha-bahak, dan menengok menatap Tao bingung, “Waeyo?”

Pipi yang merona dan manik mata yang menatapnya dalam, bibir yang ujungnya terangkat dengan indahnya itu, membuat Tao terpesona dan perlahan, tangannya meraih dagu Chanra dan mengangkatnya sehingga wajah Chanra berada diposisi tepat didepan wajah Tao. Tao mendekatkan wajahnya, kemudian mengecup bibir Chanra secara lembut dan perlahan, menelusuri setiap inchi bagian dari bibir kemerahan Chanra.

Tangan Tao berpindah ke pinggang Chanra kemudian menarik Chanra agar lebih dekat dengannya, sehingga kini tubuh Chanra dan Tao saling menempel satu sama lain, dan membuat tubuh Tao menjadi dingin dan kaku.

Pikiran-pikiran kotor yang tadi ia buang jauh-jauh langsung kembali datang mengisi seluruh otak Tao dan membuat tubuhnya semakin memanas. Bayang-bayang akan wajah cantik Chanra, lekuk tubuh Chanra yang begitu sempurna- Ah, Tao rasa, saat ini ia tak bisa menahan dirinya.

Tao dengan sigap mengangkat tubuh Chanra, sedangkan Chanra mengalungkan tangannya pada leher Tao dan melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Tao, membiarkan Tao membawanya masuk kedalam kamar sambil tetap menautkan bibir mereka satu sama lain. Tao lalu terduduk di pinggiran kasur dan perlahan menggeser tubuhnya sehingga kini ia duduk bersila diatas kasur dengan Chanra yang duduk diatas kedua pahanya.

Bibir Tao mulai turun dan menyusuri tengkuk Chanra dengan telaten. Sedangkan kedua tangannya yang melingkari tubuh Chanra meraba-raba punggung gadis itu, mencari ujung dari zipper dress putih Chanra yang sudah kusut. Setelah menemukannya, Tao tanpa ragu membuka zipper Chanra, dan perlahan mulai menarik turun dress Chanra dari pundaknya.

Tes

Tes

Tes

Tao terlonjak kaget, merasakan tubuh Chanra tiba-tiba bergetar, membuat Tao langsung menghentikan aktivitasnya dan menjauh dari tubuh Chanra.

Tao membulatkan kedua matanya, begitu melihat Chanra tengah memejamkan matanya dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya, “Chanra-ya? Gwenchana?”

Chanra membuka kedua matanya dan menggelengkan kepalanya, ia mengusap air matanya dengan punggung tangan,Lalu berdiri dan menjauh dari kasur, “Gwenchana…

Chanra menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya berat, kedua tangannya mengatup menutupi wajahnya, “Gwenchana…”

Baiklah, ia tahu ada sesuatu yang salah pada Chanra. Oh, atau pada dirinya sendiri?

Beberapa detik kemudian Tao merutuk, ketika otaknya kembali teringat dengan kejadian satu hari yang lalu. Tao juga terbawa suasana dan kurang lebih melakukan hal yang sama pada Chanra, dan ia tahu Chanra menolaknya dengan cara halus dan menyuruhnya untuk beristirahat. Bodoh sekali!

Tao kemudian duduk di samping kasur dan memperhatikan Chanra yang kini berdiri menghadap jendela kamarnya dengan penuh rasa bersalah, “Mian-

Aniya. Gege tidak melakukan kesalahan,kok. Jangan meminta maaf.”

Ani, Chanra-ya. Aku tahu aku telah melakukan kesalahan. Salahku karena terbawa suasana dan tak memikirkan kemauanmu. Maafkan aku karena aku menjadi ego-“

Keumanhae, Gege. Kau tidak egois. Bukan salahmu kau terbawa suasana, okay? Itu wajar. Hanya saja…” Chanra tak melanjutkan kata-katanya. Pundaknya kembali bergetar dan isak tangis kembali terdengar dari mulut Chanra, “Ah, mianhae, Ge.”

“Kau belum siap, ‘kan? Aku tahu itu, Chanra-ya. Aku yang terlalu memaksamu untuk-“

GEGE!

Tao terlonjak kaget begitu mendengar jeritan Chanra yang melengking. Chanra berbalik dan menatap kekasihnya itu dengan kedua mata yang sudah penuh air mata, “Berhenti menyalahkan dirimu, okay? It’s really not your fault.”

Tao shock. Baru kali ini, Tao benar-benar mendengar sentakkan keras dari Chanra. Lidahnya kelu tak bisa berkata sedangkan kedua matanya terus menatap Chanra.

Cukup lama Chanra dan Tao sama-sama terdiam, sampai akhirnya Chanra membuka mulutnya dan bersuara dengan suara yang sangat pelan, namun masih bisa terdengar jelas di telinga Tao.

“Aku...”

“Pernah melakukannya dengan Wu Yifan.”

Seperti disambar petir.

Tao bisa merasakan perutnya bergejolak begitu Chanra menuntaskan kalimat singkatnya.

Chanra bilang apa?

“Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini, Gege.”

“Jujur-“ Chanra menghela nafasnya diantara tangisnya, menjeda waktu sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya, “aku juga ingin, aku tidak munafik kalau aku juga ingin merasakan hal yang sama dengan Gege.”

“Tapi, setiap aku memejamkan kedua mataku, bayangan kejadian itu selalu muncul di otakku dan membuatku tidak bisa melakukan hal ini.”

“Aku selalu berkata pada diriku sendiri kalau aku akan baik-baik saja dan itu hanyalah masa lalu. Berulang kali, Ge! Tapi tetap saja aku tidak bisa!”

“Karena aku merasa aku adalah gadis hina! Dengan mudahnya aku menyerahkan hal itu pada seorang pria yang kini bahkan aku tidak yakin masih menganggapku ada atau tidak.”

“Aku jijik pada diriku sendiri, Ge… Apa yang harus aku lakukan?”

Chanra terduduk di lantai dan memeluk lututnya. Seluruh bagian dari tubuhnya bergetar hebat diikuti isak tangis yang semakin menjadi, “Mianhae…

Tao masih terpaku diatas tempat tidur dan menatap Chanra kosong. Satu-persatu kalimat yang Chanra lontarkan ia coba cerna baik-baik. Ia bisa merasakan emosi, sakit, dan kepedihan yang teramat mendalam dari nada berbicara Chanra.

Berbagai macam pemikiran bermunculan dan berkecamuk didalam otak Tao. Sebagian dari dirinya merasa ini semua tidak mungkin terjadi. Chanra, gadis yang berjongkok dihadapannya ini? Tao bahkan tidak bisa membayangkannya. Bersama pria itu,melakukan… Ah! Demi Tuhan, Huang Zitao! Apa-apaan kau ini?!

Dan sebagian dari dirinya lagi…entahlah. Tao sendiri tidak mengerti. Ia merasa…sedih? Emosi? Dan…cemburu? Perasaannya kali ini benar-benar tercampur aduk. Tao tidak bisa memungkiri bahwa dirinya merasa sedikit kecewa jika Chanra sudah… yah, Tao tahu ini semua bukan salah gadisnya itu, Tao tahu pasti. Bukan salah Chanra jika ia dengan sukarela menyerahkan hal itu pada pria yang ia cintai. Tapi masalahnya adalah, dimana pria itu sekarang? Bagaimana bisa pria itu melepas Chanra dan meninggalkannya begitu saja? Heol, emosi Tao benar-benar naik sampai ke ubun-ubun.

Tao sekali lagi menatap Chanra yang terus terisak. Melihat gadisnya terisak dan terlihat hancur, emosi tinggi yang baru saja Tao rasakan langsung luruh, hilang tergantikan dengan rasa ingin merengkuh dan menenangkan gadisnya bergejolak dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Benar, tak seharusnya Tao berpikiran yang macam-macam tentang hal ini. Tao salah. Gadisnya ini tidak membutuhkan pikiran-pikiran tadi. Chanra tidak membutuhkan itu. Yang Chanra butuhkan saat ini adalah dirinya, yang membuka lebar-lebar kedua tangannya dan memberikan kenyamanan serta keamanan untuk Chanra, memberikan kasih sayang kepada gadis yang ia cintai ini.

Tao menghampiri Chanra dan berjongkok dihadapannya. Tangan kanannya terangkat kemudian mengelus kepala Chanra yang tertunduk, “Gwenchana…

Chanra menggelengkan kepalanya lemah, “Mianhae, Gege… Jeongmal mianhae.”

“Hey-“ Tao meraih dagu Chanra dan mengangkatnya, memaksa Chanra untuk menatap Tao, kemudian menggunakan ibu jarinya mengusap air mata Chanra yang mengalir di pipi, “kenapa minta maaf, sayang? Kau tidak salah apa-apa.”

Ani. Aku salah, Gege. Gege pasti membenciku…” Chanra menurunkan nada bicaranya, arah pandang matanya turun kebawah, enggan membalas tatapan dalam kedua mata Tao.

“Kenapa aku harus membencimu, Chanra-ya?” Tanya Zitao pelan, “Katakan padaku kenapa aku pasti membencimu, hm?”

“Aku sudah tidak…” Ujar Chanra lambat-lambat dan masih sesunggukkan, “Gege tahu,’kan…”

“Apalagi aku melakukannya dengan-“

“Tidak masalah.”

Chanra menatap Tao yang tersenyum lembut padanya dan menggelengkan kepalanya, “Gege, jangan mengatakan itu jika Gege hanya ingin membuatku nyaman…”

“Chanra­-ya, aku bukannya ingin membuatmu nyaman, okay? Aku benar-benar tak masalah dengan semua ini.”

“Sejak aku memintamu untuk menjadi kekasihku –Ani, bahkan sejak pertama aku menawarkan diriku untuk membantumu melupakan orang itu, itu berarti aku akan menerimamu tanpa syarat apapun, menerima semua baik-buruk yang ada pada dirimu, kau mengerti?”

“Dan aku tidak masalah atas semua yang telah terjadi padamu. Entah kau pernah melakukan kesalahan, entah kau pernah masuk penjara, atau bahkan kau pernah membunuh,” Tao dan Chanra sama-sama tertawa mendengar perumpaan yang dilontarkan Tao, “kau tetaplah Park Chanra, adik kesayangan Chanyeol hyung dan gadis yang selalu ada didalam pikiran seorang Huang Zitao yang ada didepanmu saat ini.”

Tao lalu mencium dahi Chanra dan membuat keduanya saling melempar senyum,

“Kau tetaplah Park Chanra yang aku cintai apa adanya.”

-END-

HUALOOO /lambai-lambai tangan/

akhirnya bisa ngelarin TaoRa juga huahahaha maaf ya luama banget. Mana ini ceritanya pas mereka di Hainan pula udah lawas banget hahaha maafkan saya sodara-sodara.

ini sebenernya udah aku bikin dari jaman kapan tau eh tp baru bisa ngelarin sekarang jadi sekali lagi maapkeun saya ya._.V

kalo ceritanya menjijikkan maaf ya huahahaha tapi emang begini ceritanya huhuhu ;____; aku ngerti kalian bakalan susah bayangin seorang Zitao yang manly dan romantis banget since Zitao is a kiddo wkwkwk /plak/ EH tapi udah berubah deng udah manly kok ya udah manly /tepokin Zitao/ /iniapa/

Dah ah, makasih yaaa yang mau baca dan yang mau komen di TaoRa yang ini.

Nggak aku protek deh ini FFnya sebagai hadiah buat kalian hihi (perasaan di drabble terakhir aku bilang next ff di protek tp gapapa dah) LOL curcol bener sih aku

jangan lupa baca Drabble project dari INDAYLee yaaa!!!

luvluv <3,

Ra

20 thoughts on “[TaoRa Affair] First Vacation

  1. shantyjung says:

    ya ampunnnn…. chanra sma wu yifan? 😮 omo… ternyata…. tao kasihan banget… psti sbnrnya jlebb banget hatinya… 😥 yg sabar ya nak ya….

  2. Kauramints says:

    Senangnya liburan bareng ke Hainan hihi :3
    Jadi.. Chanra sama duizhang beneran pernah?!
    Kasian sama Chanra abis itu ditinggalin 😥
    Tao sweet banget pas blg nerima Chanra tanpa syarat apapun adududuh melted lah lol
    Kayanya udah sayang banget sama Chanra
    Jagain baik-baik ya Chanranya :3
    Keep writing xoxo

  3. Hana Ardhani says:

    jhaaaa tao udah berani errr (T▽T)
    ini makin lama makin soswit,cieeh udah resmi pacaran nih?(´∀`)♡

    pokonya siapapun yang dipasangin ama chanra pasti skinshipnya luar biasa/? HAHAHAH

    ditunggu taora nya ya kak^^

  4. Dana says:

    OH MY GOD! Kenapa Tao sweet bangetttttttttttttttttttt demiapapun meltingggg yah meskipun nakal hahaha tp tetep aja suka banget sama Tao disini! Congrats ya eonni gara2 baca Taora aku jadi suka sama Tao HAH! ;D
    Ditunggu next Taora, yg lebih nakal kalo bisa wakakakak :p

  5. kjmlady says:

    ohh chanra mantannya yifan ya?? aku juga mantannya mas 00 kok huhuhu
    bener bgt ya aku agak gimana gitu tao romantis soalnya mindaet aku itu tao asdfghkl bocah kkkk~ tp nge feel kok yg pas chanra nangis, tao nya kind bangeeet

  6. Park Yurin says:

    oh tidddaak ini so sweeet sekalleehh
    romantisssss ♥♥♥♥♥
    ciyyyeee udah mulai skinship niiihh
    sukses buat kalian

  7. Hikyu says:

    TaoRa kemajuannya pesat banget, aaahh tapi aku suka 😀 tapi tapi ga nyangka kalo yifan-chanra pernah ngelakuin itu :O OMG semoga tao pilihan yg tepat buat chanra!!

  8. LeeDaeShi says:

    Sejujurnya aku ga ngikutin YiChan tp malah ngikutin dari TaoRa, yaaaa semacam trauma kalo harus baca dari awal, mengenang dia yang telah pergi /elaaaah/
    Penuh perjuangan banget pasangan ini yaa utk bs berduaan. Mana HunHo suka bgt godain mereka. Tp ttep gaya unyu2 anak2 ngegemesin mreka dapet bgt. Daaaan, wow. Aku tahan napas bagian mreka di kamar
    Wajar sih chanra mikir yg buruk tentang dirinya sndiri. Tp untungnya tao ga kebawa emosi. Jd baper ih sama tao kalo kayak gini. Dia syg bgt sama chanra. Duhhhh tao, nuna jd baper deh /lempar kembang/
    Bayangin muka HunHo liat chanra pake bikini lol
    Tp kasian suho galauin bini nya kagak ada kabar :’)

  9. Exolines88 says:

    Aaah chanra :(( jangan merasa rendah didepan tao ge 😦 sediih kalo nginget panggilan yifan ke chanra, ellie 😦 kangen naga satu itu…

  10. natasya says:

    ahhh,pdhal td lg seru tb2 si chanra baper-_-
    syukur deh chanra mau jujur k tao<3
    ayoo,aku nunggu tao sm chanra ngelakuin asdfghjkl ok abaikan…ahahhaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s