[KaiNa Piece] Rupture

Rupture

Author : Ima (@kaihyun0320)

Casts : Kim Jongin (Kai), Lee Hana (@inhanaLee)

Other casts : EXO

Rating : PG+15

Please read Lee Hana’s Profile first.

Enjoy ^^

© INDAYLee’s Staffs 2014

[KaiNa Piece] Rupture

October 15th, 2014

IVY CLUB STUDIO

02.39 PM KST

Hello, this is EXO’s Kai.

Have you seen the lunar eclipse few days ago? Or the rubber duck floating on the lake? I’m always curious about how you guys are doing. That is why I am asking after the fans and writing the post to keep my last promise.

How have you been doing?

For me, I have schedule and if I don’t have one, I meet my family or practice alone. Ordinary, right? But I am doing well, though living a day slightly different than yesterday.

……

……

Anyways, I think I can do all with you guys.

EXO-L, I really love you a lot~ You know it, right? This was Kai who walks along the fans.

END

P.S. : The love for each other should not change!!

.

.

Pandangan Kai tidak lepas dari tulisan di website official yang baru saja diposting olehnya beberapa menit lalu. Mungkin terlihat kekanakkan karena Kai melepaskan semua rasa frustasinya ke dalam tulisan di website official seperti itu. Mungkin fans tidak akan menyadari bagian dari tulisannya yang juga menyangkut masalahnya dengan Hana. Pada kenyataannya ia melewati hari ini berbeda dari hari kemarin.

Beberapa hari lalu ia masih memiliki kekasih yang selalu setia menunggu kakao darinya, namun kali ini tidak.

Beberapa hari lalu Kai selalu ingin cepat-cepat pulang ke dorm agar bisa mengunjungi gadisnya, namun kali ini ia lebih baik pulang ke ruang latihan di gedung SM.

Rasanya satu minggu ini terasa begitu sulit untuk dilewati setelah Hana membuat keputusan atas hubungan mereka. Karena kali ini Hana yang meminta istirahat atas hubungan itu setelah satu tahun lalu Kai yang melakukannya. Sekarang Kai tahu bagaimana rasa sakit yang dirasakan Hana waktu itu.

Kai menghembuskan napas pelan saat rasa sesak itu kembali muncul. Ia menatap pantulan dirinya sendiri di cermin lalu membuat ekspresi sebanyak mungkin untuk melenturkan otot wajah. Rasanya sulit sekali untuk tidak memikirkan masalahnya dengan Hana. Sebentar lagi ia akan melakukan pemotretan untuk Ivy Club dan harus menunjukkan ekspresi terbaik. Kai hanya berdoa bahwa para editor di Ivy Club bisa menemukan beberapa ekspresi yang bagus darinya.

Ya. Kau baru update di web?” tanya Chanyeol seraya menghampiri Kai yang masih duduk di depan meja rias.

Ne, hyung. Waeyo?” Kai balik bertanya dan melihat lelaki bertubuh tinggi itu meringis pelan sedetik kemudian.

Cish~, jadi kau melampiaskan masalahmu dengan Hana pada fans? Apa-apaan P.S. yang kau tulis juga, kau sengaja menulisnya di akhir supaya Hana baca atau apa?” Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya lalu kembali mengecek layar ponselnya. Memastikan apakah fans menyadari postingan Kai yang sedikit galau itu.

“Aku hanya menepati janji untuk menulis di sana, hyung,” jawab Kai seraya berdiri dari kursi dan menghadap Chanyeol yang masih memainkan ponselnya.

“Tapi tulisanmu terlalu sensitif, kkamjong. Kau harus bersyukur karena tidak ada fans yang menyadari hal ini,” Chanyeol menyerahkan ponselnya pada Seung Hwan. Begitu juga dengan Kai yang ikut menyerahkan ponselnya pada sang manajer.

Yedeura,” panggil seunghwan pada member EXO lain yang terlihat bermain-main dan sontak membuat delapan member lainnya itu mengampiri. “Kalian harus menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dulu sebelum pemotretan. Jawab dengan hati-hati, eoh?” seunghwan tampak memilah beberapa lembar kertas di tangannya dan membagikannya pada seluruh member EXO.

Kai menghembuskan napas pelan kemudian menerima kertas berisi pertanyaan untuknya. Dan matanya langsung menangkap sesuatu –yang sangat menyentuh titik tersensitif di hatinya sekarang. Kenapa harus ada pertanyaan bodoh seperti itu di sana. Kai kemudian mengambil pulpen yang ditemukannya di meja rias dan menjawab pertanyaan itu lebih dulu sebelum yang lainnya.

Q : Among the fans, you are known as the member who won’t date anyone, Jong In! Do you think you are impregnable man?

A : It’s not far as being impregnable. Well….

Kai terdiam cukup lama sebelum melanjutkan jawabannya. Jika ia ingin menghancurkan karir musiknya sekarang juga, mungkin ia akan menulis mengenai masalahnya dengan Hana sekarang. Mengatakan pada dunia bahwa ia sedang bermasalah dengan kekasihnya dan sedang break dalam waktu sebulan. Pertanyaan bodoh yang begitu menjebak.

A : It’s not far as being impregnable.Well… Would you like to try and confess to me once?

Baiklah. Hanya jawaban itu yang jauh lebih aman sekarang. Ia tidak mungkin mengatakan tidak akan mengencani wanita mana pun. Karena pada kenyataannya ia sudah berpacaran dengan Hana sejak dua tahun lalu. Mungkin dengan jawaban seperti itu, fans akan berpikir bahwa ia hanya sedang menunggu wanita yang tepat. Padahal di balik semua itu, ia hanya sedang merasa kesepian karena Hana sedang tidak berdiri di sisinya sekarang.

‘If I was not a lover but just a friend to you, maybe you would feel more comfortable. I’m such a love loser.’ Bangtan Boys—Danger.

***

Incheon Airport

03.10 PM KST

Satu jam yang lalu Hana mendapatkan shock therapy karena mendapat telepon dari kakak laki-lakinya. Jiho, Min Kyu, dan ibunya baru saja mendarat di Korea dengan penerbangan paling pagi dari Jerman. Hana bahkan hampir tidak mengganti pakaian tidurnya –jika Jaehee tidak menegur—karena terlalu panik dengan berita itu. Ketiganya tidak memberi kabar sama sekali akan terbang ke Korea hari itu. Karena Hana harus menyiapkan hotel –dekat apartemen, mengingat ada Jaehee yang sedang menemaninya sekarang.

Pada akhirnya di sanalah Hana berdiri, di depan pintu kedatangan dari luar negeri. Tangannya masih sibuk merapikan helaian rambutnya yang berantakan –setelah berlari sementara matanya sibuk mencari jiho, Min Kyu, ataupun ibunya di sana.

“Na-ya!” suara Min Kyu yang terdengar sedikit nyaring itu membuat Hana sedikit berjinjit. Senyum bahagia terlihat menghiasi bibir Min Kyu sambil setengah berlari menghampiri gadis itu. Sementara jiho bersama Ha Jung berjalan santai di belakang.

“Chi oppa!” Hana melambai singkat lalu menahan napas dengan cepat ketika Min Kyu tiba-tiba memeluknya. Seperti biasa.

“Aah, jinjja bogoshipeo,” Min Kyu melingkarkan kedua tangannya pada punggung kecil Hana dan menaruh dagunya pada puncak kepala gadis itu. Hana terlalu pendek jika dibandingkan dengan tinggi badannya.

YA! Lepas, bodoh. Kau mendahului eomma,” protes Jiho seraya menarik kerah belakang jaket yang dipakai Min Kyu hingga membuat pelukan itu terlepas.

Min Kyu merengut kesal seraya mundur beberapa langkah, membiarkan Ha Jung mendekati Hana dan memeluk anak gadisnya. Ha Jung terlihat memeluk Hana dengan sangat erat, entah sudah berapa lama sang ibu dan anak itu tidak bertemu. Mungkin hampir satu tahun jika mengingat Hana sibuk dengan ujian kelulusannya dulu dan pekerjaan sambilannya di cafebene. Min Kyu mengalihkan pandangannya ke arah lain, tidak sanggup melihat adegan mengharukan itu.

Ha Jung melepaskan pelukannya, masih sambil memegang kedua bahu Hana, wanita paruh baya itu mengulas senyum terbaiknya. Kadang Ha Jung begitu menyesal karena menelantarkan anak gadisnya di Korea sendirian. Membiarkan Hana melawan kerasnya kehidupan sendirian di sana, bahkan gadis itu terlihat jauh lebih kurus dibandingkan terakhir kali pertemuan mereka.

“Kau diet ya?” tanya Ha Jung seraya menyentuh kedua pipi tirus Hana.

Hana terkekeh pelan lalu menyingkirkan tangan Ha Jung dari pipinya dengan lembut. “Aku benci diet, eomma. Aku hanya kelelahan.”

Aigoo, kau harus jaga kesehatan sampai tes SAT nanti, Lee Hana,” ujar Jiho sambil menepuk puncak kepala Hana lalu mengacak rambut panjang gadis itu. Disetujui Ha Jung dengan sebuah anggukan kecil.

Araseo, oppa. Tes SAT masih bulan depan, aku akan makan sebanyak-banyaknya supaya tidak sakit,” Hana merapikan rambutnya yang berantakan dengan seulas senyum simpul dan memberikan tatapan meyakinkan pada Jiho maupun ibunya. Jantung Hana berkedut sakit ketika mengingat ia akan meninggalkan Korea sebentar lagi.

Ha Jung melirik tas karton yang dipegang Jiho lalu mengambilnya dari tangan lelaki itu. Ia kemudian menyodorkannya pada Hana. “Ini oleh-oleh untukmu dan pacarmu. Ah, eomma selalu lupa nama pacarmu yang tampan itu. Siapa namanya?”

“Kim Jong In.”

“Ah, matda. Eomma belikan dia baju dan beberapa topi. Kata Jiho dia—.”

Hana tidak begitu menyimak ucapan Ha Jung selanjutnya, ia hanya menatap kosong ke arah tas karton di hadapannya. Dadanya tiba-tiba terasa sakit ditambah dengan kerongkongannya yang mulai tercekat. Berbagai kenangan bersama Kai tiba-tiba muncul di kepala Hana dan membuat udara di sekitarnya menjadi sangat sulit untuk dihirup. Membuat Hana tiba-tiba limbung dan segera meraih tangan Jiho –untuk berpegangan di sebelahnya.

“Lee Hana!” Jiho segera memegangi lengan Hana, menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh. “Kau kenapa?”

Anhi. Kepalaku pusing. Mungkin aku terlalu banyak berlari tadi,” Hana mencoba mengulas senyumnya, berusaha membuat orang-orang di sekitarnya itu tidak khawatir. Namun sepertinya tidak berhasil , karena ketika wajah Jong In yang sedang tersenyum muncul di kepalanya, ia kembali mencengkeram lengan atas mantel yang dipakai Jiho.

Jiho semakin menahan tubuh Hana yang –lagi-lagi limbung. “Keurae. Ayo kita pulang sekarang.”

Tatapan khawatir Min Kyu tidak bisa lepas dari sosok Hana yang mulai berjalan bersama Jiho di depannya. Penyakit darah rendah Hana hampir tidak pernah kambuh tiba-tiba seperti itu, kecuali jika ada sesuatu yang mengganjal pikiran gadis itu. Min Kyu mengikuti langkah ketiga keluarga di hadapannya itu dengan berbagai macam pertanyaan di benaknya. Ia heran kenapa Hana tiba-tiba pusing saat Ha Jung mulai membahas Kai. Apa terjadi sesuatu pada keduanya?

***

EXO’s Dormitory

06.00 PM KST

Mungkin sekarang Kai benar-benar mencapai tingkat tertinggi atas rasa frustasinya. Jadwal EXO sudah habis jam empat sore tadi dan sekarang Kai hanya merebahkan diri di atas kasur sambil menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya sibuk memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi antara dirinya dan Hana. Ia tidak yakin bisa bertahan sampai kapan jika Hana benar-benar meninggalkannya. Kai tidak sanggup membayangkan kehidupannya nanti tanpa Hana –seperti sekarang.

Kai menghembuskan napas pelan lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di dekat kepala. Ia mengangkat ponsel itu ke depan wajahnya, membuka kunci, dan membuka menu untuk mencari gallery. Dengan ragu ia menyentuh icon gallery lalu membuka folder yang terselip di sana. Tempat ia menyimpan semua foto selca Hana yang di post di Instagram. Mungkin terdengar aneh, namun Kai selalu melihat foto-foto gadisnya sebelum naik ke atas panggung atau pun ketika merindukan gadis itu.

“Han-ah.”

Sesuatu di dalam dada Kai berkedut sakit saat mengingat ucapan Hana satu minggu yang lalu. Hana hampir saja memutuskan hubungan mereka yang sudah terjalin selama lebih dari dua tahun itu dengan mudahnya. Baiklah, Kai juga sebelumnya pernah berpikir untuk mengakhiri hubungan mereka jauh sebelum Hana mengatakannya. Ia merasa semakin sibuk hingga tidak bisa mengawasi Hana dan membiarkan gadis itu melewati hari tanpa kabar darinya. Kai merasa sudah menjadi pacar yang buruk dan berpikir untuk melepaskan gadis itu saja.

Namun Kai selalu berpikir semua alasan hingga mereka bisa bertahan selama dua tahun lebih. Ia sangat menyayangi Hana, walaupun tidak bisa menunjukkannya dengan curahan perhatian. Lagipula Kai sudah mengatakan pada dunia bahwa ia bukan seseorang yang dapat mengekspresikan perasaannya dengan baik pada seseorang. Sebuah masalah kecil yang akan menjadi besar ketika berhadapan dengan seorang wanita.

“Jong In-ah.”

Kepala Kai menoleh cepat ke arah pintu ketika mendengar suara berat Chanyeol terdengar. “Wae hyung?”

“Kita harus latihan ke gedung SM sekarang. Ayo siap-siap,” Chanyeol masih menyembulkan kepalanya ke dalam kamar ketika Kai bangkit dari posisi tidurnya dengan ponsel di tangan lelaki itu. Chanyeol bahkan tidak sengaja melihat foto Hana yang muncul di dalam ponsel Kai. “Kita tunggu di ruang tengah.”

Ne, hyung. Tunggu sebentar,” Kai hanya menjawab seadanya seraya mengganti bajunya dengan yang sedikit lebih tipis dan melapisinya dengan sebuah jaket tebal. Ia baru saja akan melangkah keluar ketika tidak sengaja menangkap buku yang tergeletak di lantai.

‘The Empty Cross’ karya penulis Jepang bernama Keigo Higashino.

Satu bulan yang lalu Hana memberikan buku itu tepat setelah ia baru tiba dari Indonesia dan mampir ke apartemen gadis itu. Kai memang pernah cerita pada media bahwa salah satu buku favoritnya adalah ‘The Devotion of Suspect X’ yang ditulis oleh Keigo. Hingga Hana memberikannya karya lain dari author yang sama. Sampai sekarang Kai bahkan tidak punya waktu lebih untuk menyelesaikan buku pemberian Hana.

Kai mengambil buku itu dan membuka halaman kedua –dimana terdapat tulisan Hana di sana. Ia hanya membaca sekilas tulisan itu lalu meletakkan bukunya ke atas nakas.

Kkamjong cepat keluar!” suara melengking Baekhyun mulai terdengar dan Jong In segera mempercepat langkahnya keluar dari kamar. Ia melihat sembilan laki-laki yang sedang berdiri sambil melipat tangan di depan dada tengah melihat ke arahnya. Namun mata Kai malah melirik ke arah Jaehee yang sedang menonton televisi di sofa.

“Oh, noona. Kau di sini?” tanya Kai berbasa-basi seraya berjalan mendekati sofa dan berdiri di dekat Jae Hee. Padahal ia ingin mendengar kabar Hana dari gadis itu juga.

Keurae. Aku akan di sini sampai jam sepuluh malam. Hanya sampai kakak Hana dan temannya pergi ke hotel,” jawab Jae Hee dengan santainya sambil menyuapkan sepotong keripik kentang ke dalam mulut.

“Apa teman kakaknya laki-laki?” tanya Tao tiba-tiba, mendahului Kai yang akan bertanya hal sama.

Eung. Mereka dan ibunya Hana baru datang dari Jerman tadi sore,” ucapan Jaehee hampir membuat Kai tersedak salivanya sendiri.

Noona. Kau harus awasi Hana dan Min Kyu, eoh? Jeba~l,” balas Kai cepat, membuat tatapan heran seluruh member itu kini tertuju pada sang visual.

Termasuk Jaehee yang melirik Kai dari sudut matanya namun tetap menyuapkan keripik kentang ke dalam mulut. “Ah nama teman kakaknya Hana itu Min Kyu, ya? Mereka terlihat sangat akrab tadi sore.”

Jebaal, noona. Jangan sampai Hana dekat-dekat dengan Min Kyu, eoh?” Kai mengatupkan kedua telapak tangannya, benar-benar memohon pada Jaehee atas Hana. Kenapa Min Kyu selalu datang saat ia dan Hana sedang bermasalah?

“Kenapa aku? Kau yang harusnya berusaha supaya mereka tidak dekat-dekat, Kim Jong In,” Jae Hee menggelengkan kepala sambil mendecak pelan beberapa kali. Heran dengan sikap Kai yang ternyata jauh lebih kekanakkan daripada Hana.

“Tapi aku tidak boleh menghubungi Hana selama satu bulan ini, noona. Tolong bantu aku,” Kai masih mempertahankan telapak tangannya yang bersatu untuk memohon pada Jaehee.

Keadaan hening. Seluruh member  EXO kini saling melempar tatapan satu sama lain, merasa bingung karena keadaan yang tiba-tiba  berubah menjadi canggung. Suho kemudian menepuk bahu Kai beberapa kali, menyuruh lelaki itu menyudahi permohonannya. Karena ia tahu bagaimana sifat seorang jaehee.

“Jong In-ah, ayo kita berangkat sekarang,” ajak Suho dan mulai menarik kedua bahu Jong In agar segera keluar dari dorm.

“Coba saja datang ke apartemennya,” ujar Jae Hee tiba-tiba.

Jong In yang baru saja akan melangkah meninggalkan ruang tengah kembali berbalik dan menatap punggung Jae Hee. Hingga Jae Hee melanjutkan perkataannya lagi. “Ibunya Hana selalu mengatakan banyak hal tentang dirimu dan meminta Hana mengundangmu ke sana. Sepertinya kau harus datang.”

Jeongmal?” Kai bertanya dengan nada tidak percaya lalu melirik seluruh member EXO dari sudut matanya. “Hyung, kalian pergi saja duluan. Nanti aku—.”

Arasseo,” potong Baekhyun cepat, mendahului yang lainnya. “Tapi tidak lebih dari satu jam, eoh? Kita akan bilang ke manajer hyung kalau kau ada perlu ke kamong sebelum latihan.”

Ne, terima kasih, hyung,” Kai menepuk pundak Baekhyun beberapa  kali kemudian berlari keluar dorm begitu saja. Meninggalkan sembilan member EXO yang menatap kepergian lelaki itu dengan helaan napas panjang. Semoga Kai bisa sedikit lebih baik setelah bertemu Hana dan tidak membuat postingan aneh-aneh di luar sana.

***

Beberapa menit yang lalu Hana menertawakan cerita Jiho mengenai tingkah Min Kyu –sebelum pergi ke Korea. Sementara Ha Jung tengah beristirahat di kamar sejak tiba di apartemen satu jam lalu. Namun sekarang rasa heran tiba-tiba menyergapnya ketika mendengar suara bel di pintu apartemennya. Ia menghentikan tawa sejenak kemudian beranjak dari ruang tengah. Tanpa mau mengecek melalui intercom, Hana segera membuka kunci apartemennya dan menarik pintu itu dengan sekali tarikan.

Hingga tatapannya terkunci pada sepasang mata yang menatapnya dari balik topi.

Kim Jong In.

“Ada apa?” tanya Hana dingin, namun Kai malah menyunggingkan senyum simpulnya.

“Kudengar ibumu datang ke Korea. Aku mau bertemu dengannya,” jawab Kai, tetap berusaha terlihat baik-baik saja. Padahal ia sangat ingin menyentuh puncak kepala Hana dan bahkan memeluk gadis itu. Namun mendengar sambutan yang tidak begitu baik, Kai mengurungkan semua niatnya. “Apa aku tidak boleh masuk?”

“Hana-ya, siapa—Oh, Jong In-ah,” Jiho tiba-tiba saja muncul dari belakang tubuh gadisnya dan membuat Kai refleks sedikit membungkukkan tubuhnya. “Ya. Tidak baik mengobrol di depan pintu, Lee Hana. Cepat bawa Jong In masuk.”

Hana hanya melirik tajam ke arah Jiho –yang kembali memasuki apartemen lalu menghembuskan napas pelan. Ia kembali menatap Kai dan sedikit menyingkir dari pintu, mempersilakan lelaki itu untuk memasuki apartemennya. Kai berjalan melewatinya, meninggalkan wangi parfum –yang entah kenapa membuat darah Hana berdesir hebat. Ini bahkan baru satu minggu sejak Hana meminta Kai tidak menghubunginya, dan sepertinya ia mulai merindukan pria itu.

Tepat ketika melangkah ke ruang tengah, Kai melihat Min Kyu yang sedang menatap dingin ke arahnya. Lelaki itu bahkan tidak menyapanya –seperti apa yang dilakukan Jiho tadi. Mungkin mereka memang akan sulit untuk akur –mengingat perdebatan yang pernah mereka lakukan dulu menyangkut Hana.

“Aku panggil eomma dulu,” suara Hana kembali menyeruak masuk dan membuat Jong In memperhatikan sang pemilik suara yang berjalan melewatinya begitu saja menuju pintu kamar.

“Jong In-ah, duduk di sini saja,” Jiho kembali memanggil Jong In seraya menunjuk ke arah sofa –tepat di sebelah Min Kyu. Kadang Kai berpikir kenapa Jiho selalu berusaha membuatnya dekat dengan Min Kyu, padahal lelaki itu tahu bahwa ia dan Min Kyu menyukai wanita yang sama hingga saling berlomba untuk mendapatkan wanita itu. Dan Min Kyu selalu membencinya karena perasaan Hana yang selalu memilih dirinya sejak awal.

Kai baru saja akan mendekati sofa saat terdengar suara pintu terbuka dan ia melihat Ha Jung keluar dari sana –bersama Hana.

Aigoo, Jong In-ah,” seru Ha Jung antusias lalu memeluk Kai begitu saja. Hanya sekilas lalu ia menatap lelaki yang tengah tersenyum simpul padanya itu. “Apa kabar?”

“Baik, eomonim.”

“Kau semakin kurus, eoh? Pasti Hana tidak memperhatikanmu dengan baik.”

“Eomma,” protes Hana seraya berjalan melewati Kai dan ibunya menuju dapur.

“Ah tunggu sebentar,” Ha Jung berbalik kembali untuk memasuki kamar. Meninggalkan Kai yang mematung berdiri –seperti anak hilang di sana. Ia kemudian berbalik dan memperhatikan Hana yang baru memasuki dapur.

Kai melangkah mendekati dapur dan mengintip apa yang tengah dilakukan Hana di sana. Namun yang dilihatnya, Hana sedang menopang tangannya pada meja counter dapur dengan kepala menunduk. Kai segera mendekat dan meraih tangan Hana hingga membuat gadis itu berbalik ke arahnya. Wajah Hana terlihat sedikit pucat.

“Kau sakit?” tanya Kai cepat, namun Hana menarik tangannya dan mengalihkan tatapannya ke arah lain.

“Bukan urusanmu,” Hana mendesis pelan dan kembali menyibukkan diri dengan mengeluarkan sebotol air dingin dari dalam kulkas.

“Han-ah,” panggil Kai  dan Hana tetap tak mengacuhkannya. Kai merasa semakin buruk jika Hana tetap memperlakukannya seperti itu.

“Oh kau disini ternyata,” suara Ha Jung tiba-tiba menginterupsi, membuat Kai akhirnya mengalihkan pandangannya dari  Hana menuju wanita paruh baya yang tengah menghampirinya. “Dasar anak muda. Ditinggal sebentar malah pergi ke pacarnya.”

Miahamnida, eomonim,” Kai sedikit membungkuk pada Ha Jung, sudut matanya menangkap Hana yang melangkah pergi dari sana. Rasanya sesak ketika Hana tetap memperlakukannya seperti itu.

Ha Jung menyodorkan satu tas karton berukuran sedang pada Kai. “Eomma beli baju dan topi untukmu, Jong In-ah. Tapi eomma tidak tahu seleramu, jadi kalau kau tidak suka—.”

Anhi, eomonim. Terima kasih banyak,” Kai membungkuk dalam pada Ha Jung lalu menerima tas karton itu ke tangannya. “Terima kasih, eomonim masih mengingatku.”

Aigoo, eomma tidak akan lupa pria tampan sepertimu, Jong In,” balas Ha Jung lalu terkekeh pelan mengakhiri kalimatnya. “Oya, kau mau eomma buatkan sesuatu? Kenapa kau kurus sekali?”

Kai masih berdiam di posisinya ketika Ha Jung mengusap lengan atas seraya memperhatikan wajahnya. Kai hanya mengulum senyumnya, ia memang sering melakukan latihan bersama para member akhir-akhir ini. Jadwal konser dan persiapan comeback mendatang benar-benar menyita waktunya dan mungkin secara tidak sadar membuat berat badannya menyusut juga.

Gwenchansseumnida. Aku harus pergi latihan, eomonim,” ujar Kai ketika Ha Jung mundur selangkah untuk menjauhinya, wanita paruh baya itu tampak menatap khawatir ke arahnya.

“Aah, benar, kau harus pergi latihan lagi,” Ha Jung mengangguk-angguk pelan menanggapi ucapan lelaki muda di hadapannya.

Eomonim tinggal di sini sampai kapan?” tanya Kai, membuat kerutan heran muncul di kening Ha Jung. Kai berdehem pelan seraya mengalihkan pandangannya ke arah ruang tengah, memperhatikan Hana yang tengah tertawa bersama Jiho. Kapan ia bisa melihat tawa Hana untuknya lagi?

“Entahlah, eomma tidak tahu. Kenapa, Jong In-ah?” Ha Jung mendapati tatapan dingin Kai yang tertuju pada ruang tengah, membuat rasa penasaran Ha Jung muncul dan ikut menatap pada objek yang menjadi pusat perhatian Kai.

Dan Ha Jung masih cukup cepat mencerna apa yang terjadi pada keduanya –jika mengingat kejadian Hana tadi sore dan sikap dingin gadis itu pada sosok Kai tadi. “Kau bertengkar dengan Hana?”

Eomonim,” Kai menyahut cepat seraya membulatkan matanya, apa Ha Jung tahu bahwa mereka –Kai dan Hana sedang mengistirahatkan hubungan mereka?

Ha Jung tersenyum simpul seraya menepuk bahu Kai beberapa kali. “Jangan sama-sama egois, eoh? Di antara kalian harus ada yang meminta maaf duluan.”

Kai menghembuskan napas pelan lalu kembali melirik Hana. Ia sempat menangkap tatapan Hana sebelum melihat gadis itu mengalihkan wajah ke arah lain. Dalam masalah ini Kai memang harus meminta maaf duluan bukan? Toh ia yang sudah membuat gadis itu mengistirahatkan hubungan mereka. Namun rasanya sekarang belum saat yang tepat untuk meminta maaf. Ia akan membiarkan Hana benar-benar berpikir mengenai keputusannya hingga bulan depan.

***

October 24th, 2014

03.12 PM KST

Hana’s apartment

Hembusan napas keluar dari bibir Hana ketika kepalanya mulai berdenyut hebat setelah menghabiskan waktu hampir seharian untuk belajar. Hanya tinggal menghitung hari hingga tes SAT tiba dan Hana benar-benar merasa tidak tenang. Ini pertama kalinya ia mengikuti tes diluar Korea dan pasti akan terasa sangat sulit. Well, Hana tidak masalah dengan perubahan bahasa karena ia memang sudah fluent bahasa Inggris dan Jerman sejak kecil. Ia hanya takut jika menghadapi materi yang berbeda, Jerman dan Korea berjarak sangat jauh dan pasti memiliki kurikulum yang berbeda.

Hana menaruh kepalanya ke atas meja belajar sembari menghembuskan napas pelan. Tiba-tiba saja ia merindukan Kai. Merindukan kkamannya. Di saat seperti itu Hana rasanya ingin mendengar suara husky Kai yang menyemangatinya untuk menghadapi tes SAT. Anggap saja Hana seorang wanita bodoh karena malah menyuruh Kai tidak menghubunginya hingga tes SAT.

“Hana-ya.”

Sontak kepala Hana menoleh ke arah pintu dan mendapati Jae Hee mendekat ke arahnya. “Waeyo eonni?”

“Kau di kamar sejak tadi pagi. Gwenchana?” tanya Jae Hee, mulai merasa khawatir. Ia menaruh kedua tangannya pada setiap sisi bahu Hana lalu membuat pijatan di sana.

Eonni~,” Hana merengek lalu terkekeh pelan ketika Jae Hee memperkeras pijatannya. “Gomawoyo~ng, eonni.

“Jangan belajar terlalu keras, Hana-ya. Seminggu ini kau terus di kamar dari pagi sampai malam, otakmu bisa error nanti,” saran Jae Hee lalu menarik kursi lain tepat di sebelah gadis –yang lebih muda empat tahun darinya itu. Ia melihat ekspresi Hana yang tidak begitu baik ketika menatap kembali ke arah bukunya.

“Apa Jong In belum sadar juga?” ujar Hana pelan, membuat Jae Hee harus menajamkan pendengarannya.

“Jong In kenapa?” tanya Jae Hee balik, membuat Hana mengangkat kepala dan menatap ke arahnya.

“Apa dia tidak sadar? Kenapa aku melakukan ini?” Hana mendengus napas pelan, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi seraya melipat tangan di depan dada. Rasa sesak tiba-tiba memenuhi dadanya dan Hana harus mengambil napas panjang untuk sedikit meredakannya.

“Harusnya dia sadar, Hana-ya.”

Kkaman bodoh,” Hana memijat pangkal hidungnya, mencoba menghilangkan rasa pusing yang menyerang kepalanya. Ia kemudian menatap kosong pada buku-buku pelajarannya. “Aku hanya mau Jong In meminta maaf dan berjanji tidak mengulanginya lagi. Tapi kenapa dia malah mendiamkanku seperti ini?”

Jae Hee tertawa pelan melihat rasa frustasi yang mendominasi diri Hana. Sekarang ia tahu bahwa Hana waktu itu hanya emosi saja dengan mengatakan Kai tidak boleh menghubunginya selama satu bulan hingga tes SAT tiba. Kai pasti benar-benar berpikir tidak boleh mengunjungi dan menghubungi Hana selama satu bulan. Padahal itu hanya sebuah gertakan saja agar Kai mau berusaha meraih Hana kembali dengan meminta maaf.

“Tapi kalau dia meminta maaf dan mengulanginya lagi?” tanya Jae Hee, membuat tatapan Hana kini tertuju padanya. Gadis itu terlihat menggigiti ujung kukunya, berpikir mengenai ucapan Jae Hee.

Hingga terdengar helaan napas Hana sedetik kemudian. “Apa kita harus benar-benar putus? Aku juga akan tinggal di Jerman nanti. Kalau Jong In masih tidak berubah, apa gunanya berhubungan jarak jauh  Jerman-Korea?”

“Kalian harus membahasnya lagi,” Jae Hee menyunggingkan senyum simpulnya lalu mengusap pelan lengan atas Hana. “Jong In pasti punya alasan kenapa jarang sekali menghubungimu, Hana-ya.”

“Tapi kalau Jong In masih seperti ini ketika aku di Jerman nanti….” Hana menghentikan ucapannya seraya mengalihkan tatapan pada tumpukan buku di atas meja belajar. “Aku tidak bisa. Kalau hanya aku yang berusaha tahu keadaannya, atau hanya aku yang sering mengirim kakao padanya, dan dia yang masih tidak peduli. Aku tidak mau.”

Eonni bayangkan saja. Hari ini aku kirim kakao, Jong In baru akan membalasnya besok atau lusa tanpa meminta maaf. Lalu tiba-tiba saja dia datang ke apartemenku, bermain di sini tanpa meminta maaf juga. Apa bedanya Jong In dengan Baekhyun atau Joonmyeon oppa? Mereka juga sesekali menghubungiku dan main ke sini.”

Oh well sebenarnya ucapan Hana ada benarnya juga. Sekarang Jae Hee semakin mengerti kenapa Hana benar-benar menyuruh Kai tidak menghubungi gadis itu. Kai tidak ayal hanyalah seorang teman bagi Hana jika terus bersikap seperti itu. Sama halnya seperti member EXO lainnya.

Dwaesseo,” Hana menelan samar salivanya, mencoba meredakan rasa sesak yang mengganjal kerongkongannya. “Apa susahnya meminta maaf? Sejak kita bertengkar waktu itu, aku hanya ingin dengar kata maaf darinya. Tapi dia tetap membalas ucapanku dengan alasan-alasan aneh.”

“Kalian lucu, tahu? Kalian masih sama-sama keras kepala, gengsi, dan seperti anak kecil. Kau harusnya bilang pada Jong In tentang semuanya,” Jae Hee mendesis pelan, ia mulai lelah menghadapi hubungan kekanakkan Hana dan Jong In. Keduanya masih sama-sama memiliki gengsi yang besar.

Molla~,” Hana merengek sambil mengacak rambut frustasi. “Kalau aku tinggal di Jerman nanti Jong In pasti—.”

“Siapa yang akan tinggal di Jerman?”

Suara Ha Jung sontak membuat Hana dan Jae Hee menoleh ke arah pintu. Sepertinya wanita itu baru saja tiba dari mengantar makanan ke tempat Jiho dan Min Kyu. Oh perlu diketahui bahwa kedua laki-laki itu menyewa apartemen sederhana di dekat gedung apartemen Hana –mengingat biaya hotel pasti akan sangat mahal jika ditinggali selama lebih dari satu bulan.

Kembali pada perbincangan mereka.

Eomma, aku akan kuliah di Jerman. Tidak mungkin aku bolak-balik Jerman-Korea setiap hari ‘kan?” tanya Hana seraya memicingkan matanya, namun Ha Jung –yang berjalan mendekat hanya menyunggingkan senyum simpul.

“Kau ingin kuliah di Jerman?” Ha Jung berdiri di dekat Jae Hee dan Hana, menatap keduanya secara bergantian.

Appa yang bilang kalau dia mendaftarkanku tes SAT di Jerman,” jawab Hana seraya menghembuskan napas panjang.

Ha Jung kemudian tertawa pelan. “Lalu appa bisa mendaftarkanmu di Jerman? Amerika dan Jerman sangat jauh, Hana-ya. Dia pasti minta tolong padaku atau Jiho untuk mendaftarkan tes SAT.”

Keurae. Eomma pasti sudah mendaftarkanku ‘kan?”

“Kau tidak tahu kenapa kita datang ke Korea sebelum tes SAT, bukannya kau yang datang ke Jerman?” tanya Ha Jung, namun hanya terlihat kening Hana yang berkerut heran. Ia malah melihat ekspresi senang yang ditunjukkan Jae Hee.

Sepertinya otak Hana memang bergerak lambat untuk mencerna semuanya. “Karena eomma ingin ke Korea ‘kan? Kita pasti akan ke Jerman lagi beberapa hari sebelum tes SAT.”

Ya. Lee Hana, kau benar-benar tidak mengerti?” tanya Jae Hee gemas.

“Mengerti apa?” Hana bertanya dengan ekspresi polos tanpa dosanya yang malah mengundang tawa Ha Jung dan Jae Hee.

Ha Jung mengelus puncak kepala Hana dengan lembut dan berkata hal yang benar-benar mengejutkan bagi anak gadisnya. “Eomma mendaftarkanmu di Seoul Institute of Arts dengan mayor broadcasting.”

Seolma.”

[KaiNa Piece] Rupture CUT—

Ima’s note :

HOLAAA XD

KaiNa balik lagi heheh dan gatau masih ada yg niat baca atau ngga TT.TT

silakan reviewnya!!

Makasih banyaak hihi

Regards,

IMA

Advertisements

123 thoughts on “[KaiNa Piece] Rupture

  1. byunbaek says:

    kai udh deket toh sama eommanya hana, sabar aja punya pacar ga pekaan kaya jongin, tp hana juga kadang2 ga pekaan sih wkwkwk. akhirnya hana tetep di korea yeyeyeyy

  2. Nafff says:

    Yeeeeyyyy hana kuliah di korea, akhirnya gak ldr-an sama kai.
    Udah kai, cepet cepet minta maaf gih ke hana, biar kelar masalahnya

  3. Dindau says:

    hahahah, Hana gk ngeh, udah aneh pas ibunya datang tadi dari jerman:D
    Dahhh,, Kai kenapa ikut2an diam ini, bukannya minta maaf, emang cowok gitu ya.. 😀
    Lanjut ya kak 😉

  4. Song hyun in says:

    Gemes sama mereka –”
    tetap aja gengsi-nya digede-in :3
    hmmmm gmna mau maju ini hbungannn :v

    readers-nya (gw) pngetahuan bhsa english-nya kurang, jadi diawal2 smpet bingung apa yg dimksd kai e.e
    wkwk

  5. dyndrakm says:

    Please kaina kalian udah dewasa lebih dewasa dr gue yg pasti… please buang gengsi sama jgn egois..syg bgt woi 2thn ckckck omg… kkaman nurut bener ga peka bgt si kalo hana cmn nge gretak gt..ckckck dasar jongin.. Omg jadi ternyata SAT di korea bukan jerman?!?!?! Omg aku udh galau ajaaaa itu kl beneran ldr jerman-korea nangis dah nangis.. please baikan donggg!!! Please jgn galau2an lg di next.. ya ka ima??:( gatega liat mereka saling kangen gitu tp gabisa ketemuuuu itu rasanya gaenak bgt lohhhㅠㅠ kesiksa gitu wkwkwk mau ketemu tp gituu… mau meluk tp gabisa…huwaaaaaa ada2 ajaaaadeh masalahnyaaaa..
    Btw good job ka ima!! Lanjut kaina!!!Fighting ♡

  6. dyndrakm says:

    Please kaina kalian udah dewasa lebih dewasa dr gue yg pasti… please buang gengsi sama jgn egois..syg bgt woi 2thn ckckck omg… kkaman nurut bener ga peka bgt si kalo hana cmn nge gretak gt..ckckck dasar jongin.. Omg jadi ternyata SAT di korea bukan jerman?!?!?! Omg aku udh galau ajaaaa itu kl beneran ldr jerman-korea nangis dah nangis.. please baikan donggg!!! Please jgn galau2an lg di next.. ya ka ima??:( gatega liat mereka saling kangen gitu tp gabisa ketemuuuu itu rasanya gaenak bgt lohhhㅠㅠ kesiksa gitu wkwkwk mau ketemu tp gituu… mau meluk tp gabisa…huwaaaaaa ada2 ajaaaadeh masalahnyaaaa..
    Btw good job ka ima!! Lanjut kaina!!!Fighting ♡

  7. Miqo_teleporters says:

    sungguh kadang suka gemes sendiri sama sikap jongin. karena hana ngomong gak boleh nemuin dirinya ehhh malah bener2 gak ngubungin hana hahahaha waaa hana gak jadi kuliah di jerman!!!

  8. Khyunpawookie says:

    Greget ishhh sma Kai pngen nyubitin mukanya deh aaaakkkhhhgggrrrttttt keterlaluan dy… Blng sma hama gk peka lahh dy jg gk peka kan…
    Demi apa sih Kak heran deh tulisan km kok mkin ksin mkin kecehhh suka bngetttttttt

  9. syafirasl says:

    Penggambaran cowok jaman sekarang banget nihh..nggak pekaa
    kenapa gengsinya tinggi tinggi banget sih ini, kan jadi sebel bacanya
    Keep writing kak..Fighting

  10. rinskai says:

    astaga kai kenapa g peka sih , Hana kayaknya harus sabar punya pacar kayak kai
    kayaknya eommanya Hana restuin hubungan kai sm Hana
    jd Hana g kuliah d jerman td sempet deg degan aku kirain Hana bakalan ninggalin kai ke jerman
    hmmm makin penasaran sm lanjutan critanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s