[KaiNa Piece] Vacillate

PhotoGrid_1416683223390

Author : Ima (@kaihyun0320)

Casts : Kim Jongin (Kai), Lee Hana (@inhanaLee)

Other casts : EXO

Rating : PG+15

Please read Lee Hana’s Profile first.

Enjoy ^^

© INDAYLee’s Staffs 2014

If you go on with your life as nothing happened
You might forget me

[KaiNa Piece] Vacillate

October 7th, 2014

Haneda Airport, Japan

09.17 AM Japan Time

Pesawat keberangkatan ke Korea masih sekitar satu jam lagi dan Kai terlihat sibuk memainkan ponsel dengan sepasang headset yang menyumpal kedua telinganya. Ruang tunggu keberangkatan juga terlihat sedikit sesak dengan beberapa fans yang menjadi master fansite dan akan ikut kembali ke Korea bersama mereka. Sebenarnya Kai agak terganggu dengan semua suara yang memasuki indera pendengarannya hingga ia menyumpalkan headset ke telinganya.

Kai menghembuskan napas pelan ketika chat kakao terakhirnya belum dibaca oleh kekasihnya. Bahkan ia sudah mengirimkan chat itu sejak kemarin siang, ketika ia berjalan-jalan di Tokyo untuk mencari oleh-oleh. Ia begitu merindukan Hana, entah sudah berapa lama tidak bertemu gadis itu sejak kunjungan terakhirnya. Namun ia merasa sedikit lebih tenang sekarang ketika Suho mengatakan bahwa Jaehee sedang menginap di apartemen Hana entah sampai kapan. Setidaknya Hana sudah memiliki teman di apartemen dalam beberapa minggu ini.

Jongin-ah, ayo ke pesawat sekarang, suara Suho bersamaan dengan tepukan tangan di bahu itu membuat Kai menoleh. Ia mengangguk sekilas pada sang leader itu lalu mengikuti member lainnya yang sudah berjalan di depan.

Hei, kenapa wajahmu seperti itu? tanya Sehun yang tiba-tiba berjalan di sebelah Kai.

Kai menghela napas panjang, moodnya benar-benar sedang tidak baik seharian itu. Tidak apa-apa, waeyo?”

Bohong. Fans mulai bertanya-tanya kenapa kau tidak ramah hari ini, Sehun membetulkan kacamata hitam yang dipakainya seraya melirik beberapa fans yang berjalan di dekat mereka.

“il,” Kai membuat angka satu di depan Sehun, namun menyebutnya dengan bilangan sino. Yang dalam bahasa Korea asli biasa disebut Hana. Keduanya menaiki tangga menuju pesawat tanpa bicara apapun lagi. Terlalu beresiko jika mereka membahas di luar menyangkut Hana.

Ah ya, siapa lagi yang bisa membuatmu seperti ini selain dia, gumam Sehun pelan ketika rombongan SM mulai memasuki jalan lain di pesawat menuju bagian eksekutif. Berpisah dengan fans dan membuat Kai sedikit leluasa.

Kai melepas sumpalan headset di telinganya saat mulai duduk di kursi pesawat. Merebahkan tubuhnya yang masih terasa lelah setelah menghabiskan empat hari di Jepang. Entah kapan semua jadwalnya akan sedikit longgar, Kai butuh waktu lebih dari  24 jam dalam sehari agar bisa membagi waktunya dengan Hana.

Kau juga jarang menghubunginya, wajar kalau Hana juga jarang lihat ponsel ‘kan? suara Sehun kembali terdengar tepat dengan sosoknya yang duduk di sebelah Kai. Maknae line itu kemudian terdiam lagi, membiarkan Kai tenggelam ke dalam pikirannya sendiri.

Kadang aku pikir, kau tidak membutuhkan Hana lagi, ujar Sehun tiba-tiba. Membuat Kai menoleh cepat dengan kedua mata yang membulat sempurna.

“Ya! Apa maksudmu? Aku masih membutuhkan Hana, balas Kai dengan nada mulai meninggi, mengalahkan suara pesawat yang berdengung di telinga mereka.

Saat semua jadwal kita sangat padat dan kau yang mulai lelah, kau baru datang ke Hana. Membagi rasa lelahmu bersama Hana sementara kau jarang menghubunginya di luar itu, tambah Sehun sambil menatap Kai –yang terlihat mulai emosi mendengarkannya.

Oh astaga. Kai segera mengalihkan tatapannya ke jendela pesawat, mencoba menghindari percikan emosi yang mulai tercipta di antaranya dan Sehun. Mereka hampir tidak pernah terjebak perdebatan serius seperti ini sebelumnya. Dan baru kali ini mereka berdebat tentang Hana.

Tapi ucapan Sehun ada benarnya. Kai memang selalu malas jika harus mengabari Hana di sela-sela kesibukannya yang menggila. Ia lebih memilih untuk melakukan latihan-latihan sendirian di gedung SM dan pulang ke dorm setelahnya. Lalu jadwalnya yang juga sering keluar Korea, di sela kesibukannya di luar negeri pun Kai selalu mencuri waktu istirahat.

Dari satu bulan, ia hanya akan mendatangi Hana paling banyak dua kali jika ia mulai merasa lelah atas semua jadwalnya.

Tapi bukankah itu fungsi Hana sebagai pacarnya? Tempat berbagi rasa lelah disaat ia membutuhkan gadis itu?

Jongin-ah.

Panggilan dari seorang wanita itu sontak membuat Kai menoleh. Dan ia menemukan Krystal dengan kacamata hitamnya berdiri di sana, mengulas senyum yang membuat gadis itu terlihat semakin cantik.

Terima kasih sudah membantuku kemarin, ujar gadis itu masih dengan senyum cantiknya.

Kai balas tersenyum pada Krystal dan mengundang tatapan heran dari Sehun. “Ne, sama-sama, Soojung-ah. Kebetulan EXO mau tampil juga.

“Ara ara. Gomawoyo,” Krystal lalu melambai singkat sebelum melanjutkan langkahnya lagi menuju kursi pesawat yang lain.

Sementara Sehun hanya menggeleng. Pernyataan darinya bahkan belum terjawab oleh Kai. Kau tahu, Jongin-ah? Dari kita, hanya kau dan Kyungsoo yang masih bertahan selama dua tahun lebih ini.

Aku tahu, Sehun-ah. Dan aku masih tetap mau bertahan, ujar Kai lalu melemparkan senyum tipisnya pada Sehun.

Aku tidak yakin dengan Hana, Sehun mengendikkan bahu lalu menyumpalkan headset ke telinganya, tidak mau terlibat pembicaraan lebih jauh lagi.

Ada apa dengan Sehun? Kai tidak tahu sejak kapan Sehun senang menasehatinya menyangkut Hana seperti itu.

***

Hana’s apartment

10.25 AM KST

Suara televisi memenuhi ruang apartemen Hana siang itu. Terlihat Jaehee yang tengah duduk di sofa dengan kaki disilangkan ke atas, menonton film yang diputar di salah satu channel lokal. Sang pemilik apartemen sedang mengurus sesuatu di tempat kerjanya entah apa, Jaehee tidak begitu memperhatikan karena baru bangun tadi pagi. Tapi Hana belum juga pulang sampai menjelang siang.

Perhatian Jaehee teralihkan ketika mendengar suara pintu apartemen yang terbuka. Kepalanya sontak menoleh ke arah pintu dan ia melihat Hana melangkah masuk dengan dua buah tas plastik besar di tangannya. Sepertinya gadis itu baru saja berbelanja kebutuhan apartemen.

Kenapa tidak mengajakku belanja? Jaehee segera bangkit dari sofa dan menghampiri Hana yang sedang mengeluarkan belanjaannya dari tas plastik di meja makan. Ia menarik salah satu kursi meja makan yang berhadapan dengan Hana.

“Eonni ‘kan masih dalam pengawasan, Hana kemudian tertawa pelan saat melihat Jaehee memutar bola matanya. Tadi aku sekalian pulang dari cafebene juga.

Ah matda, kau tidak kerja? Harusnya kau shift siang ‘kan hari ini? tanya Jaehee seraya memperhatikan Hana yang membawa beberapa potongan apel ke dapur. “Ya. Aku saja yang potong apelnya, bawa pisaunya ke sini. Lebih bahaya kalau tanganmu berdarah lagi nanti.

Beberapa saat kemudian Hana kembali lagi membawa apel yang sudah dicuci dengan piring dan sebilah pisau. Gadis itu menarik kursi di sebelah Jaehee dan duduk di sana setelah menyerahkan pisau dan apel itu kepada yang lebih ahli. Sudah dua kali Hana mencoba memotong apel sendiri dan akan berakhir dengan sebuah plester di tangannya.

Aku berhenti dari cafebene,” ucapan Hana sempat menghentikkan pergerakan tangan Jaehee dalam beberapa detik, namun gadis itu kembali melanjutkannya.

Kenapa berhenti? tanya Jaehee tanpa mengalihkan perhatian dari apel yang sedang dikupas olehnya.

Bulan depan aku tes SAT, jadi harus mulai fokus dari sekarang, Hana menopang dagunya ke atas meja makan seraya memperhatikan Jaehee. Sebenarnya ada hal yang jauh lebih penting dibandingkan berhentinya ia dari cafebene.

Jaehee yang menyadari tatapan Hana segera mengangkat kepala dan menatap wanita yang empat tahun lebih muda darinya itu. Ada apa? Kau mau mengatakan sesuatu?

“Appa mendaftarkanku tes SAT di Jerman, eonni,” Hana kemudian menghela napas panjang setelahnya.

Jaehee menggeleng pelan, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari Hana. Jika Hana kuliah di Jerman, bagaimana kelanjutan hubungan gadis itu? Oh jangan katakan bahwa Hana memang ingin berpisah dengan Kai karena alasan tertentu. Dari semuanya, hanya Kai dan Hana yang tidak pernah terkena masalah serius. Hanya pertengkaran kecil yang malah terlihat romantis di mata Jaehee.

Lalu Jongin? tanya Jaehee, berhasil menyentuh titik tersensitif di dalam dada Hana.

“Molla.”

Ada jeda beberapa saat, sementara Jaehee masih tetap mengupas apelnya dalam diam. Menunggu penjelasan lebih lanjut dari gadis itu.

Aku sedang malas, Hana kembali menghela napas panjang, merasa pusing atas semua hidupnya yang menyangkut Jongin. Mereka memang sangat sibuk akhir-akhir ini, tapi Jongin tidak pernah berusaha menghubungiku duluan. Dia tidak peduli dengan keadaanku dan hanya datang kesini kalau sedang lelah saja. Apa itu bisa disebut pacaran?

Kalau pacaran memang seperti ini, lebih baik aku tidak memulainya dari awal.

Hana-ya, Jaehee mendengar suara Hana mulai bergetar di baliknya. Tatapan gadis itu mulai terlihat gelisah dan sepertinya sedang menahan tangis. Tangan Jaehee perlahan terangkat untuk mengusap punggung Hana.

Rasanya seperti aku saja yang bertahan sendirian di sini, eonni. Bahkan saat Jongin mendapat libur Chuseok kemarin, dia tidak datang ke sini dan tidak mengabariku sama sekali. Dia selalu sibuk dengan urusannya sendiri dan sepertinya tidak masalah kalau kita berpisah. Dia tidak membutuhkanku.

“Ya. Kenapa berpikiran seperti itu? tanya Jaehee saat melihat kedua mata Hana yang sudah mulai tergenang air mata. Kalian sama-sama saling membutuhkan, ara? Coba kalian bahas baik-baik.

“Anhi. Aku tidak dibutuhkan lagi olehnya. Chat terakhir dari Jongin kemarin siang hanya bertanya mau oleh-oleh apa, Hana mendesis pelan sambil tertawa miris. Kadang Hana berpikir bahwa Kai hanya menganggapnya seperti sebuah barang yang bisa dipakai jika dibutuhkan saja, ketika laki-laki itu merasa lelah atau merindukannya saja lalu dibayar dengan oleh-oleh.

Kalian hanya mencapai titik jenuh saja, Hana-ya. Tidak harus berpisah ‘kan? Bahas baik-baik dengan Jongin, Jaehee mencoba memberi pencerahan lagi pada Hana, karena ia tahu bagaimana sulitnya mempertahankan hubungan selama bertahun-tahun seperti yang Hana dan Kai lakukan.

“Dwaesseo, eonni. Aku tidak bisa lagi, Hana kembali menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan rasa sesak yang mengganjal di dadanya. Untuk apa ia bertahan jika Kai tidak benar-benar membutuhkannya.

Tahan dulu, Lee Hana. Kalian masih saling menyayangi. Kau masih selalu luluh kalau Jongin menggoda atau mendekatimu. Sama seperti Jongin yang selalu kesal kalau kau dekat dengan member EXO yang lain atau kau yang tidak memperhatikannya, ujar Jaehee, mulai gemas dengan pikiran kekanakkan Hana. Ia menatap gadis itu tepat di mata lalu mengulas senyum simpul.

Sekarang aku harus apa?

Kau sudah sering memberi Jongin kesempatan. Sekarang kau yang memberinya pelajaran. Aku punya rencana bagus, Jaehee melebarkan senyumnya seraya menepuk-nepuk lengan atas Hana.

Lakukan seperti apa yang Jongin lakukan padamu. Anggap kau tidak membutuhkan Jongin lagi selama beberapa hari ke depan. Jangan memedulikan perhatian Jongin, nikmati hidupmu sendiri.

Hana mengalihkan tatapannya pada potongan apel yang tersusun rapi di atas piring. Ia tentu saja sangat menyayangi Kai. Jantungnya masih berdebar sangat kencang bahkan ketika hanya menonton video lelaki itu saja. Ia selalu membayangkan pertemuannya dengan Kai dan waktu yang akan mereka habiskan bersama. Namun ia sadar bahwa perasaan excited dan menggebu itu hanya dirasakan olehnya saja.

Tidak oleh Kai yang selalu sibuk dengan jadwal-jadwal padatnya. Tidak dengan Kai yang selalu tak memedulikannya. Dan tidak dengan Kai yang hanya datang ketika membutuhkannya saja. Hana merasa ingin berhenti berlari saja, Kai terlalu cepat berlari dan semakin sulit dijangkau di depan sana. Mungkin ide Jaehee patut dicoba, biarkan Hana menikmati hidupnya.

***

EXO’s dormitory

04.50 PM KST

Banyak sekali suara yang terdengar dari arah ruang tengah namun tetap tidak membuat Kai bergeming dari tidurnya. Padahal Baekhyun dan Chanyeol sedang sibuk memperebutkan channel TV, Chen yang melakukan pemanasan vokal, serta Suho dan Sehun yang membahas sesuatu dengan serius di meja makan. Berbeda dengan Tao yang sedang mandi serta Xiumin dan Kyungsoo yang tengah membeli makan di luar.

Suho tampak memainkan ponselnya sambil sesekali melirik Sehun. Mereka baru saja membahas Hana dan Jaehee, sekarang ia mendapati chat kakao dari kedua wanita itu. Oh sebenarnya milik Hana namun yang mengirim pesan adalah kekasihnya. Jaehee sedang meminjam ponsel Hana sementara sang pemilik ponsel sedang pergi keluar tanpa membawa ponselnya.

Kau benar, Sehun-ah, Suho menghembuskan napas berat lalu menunjukkan isi pesan dari Jaehee pada Sehun. “Uri dongsaeng sudah hampir menyerah.

“Keurae! Siapa yang tahan dengan laki-laki cuek seperti Jongin. Aku sudah sering mengingatkannya tentang Hana, tapi dia selalu bilang ‘Tidak, Hana bisa besar kepala kalau aku sering menghubunginya duluan’. Cih, pacar macam apa yang masih mementingkan gengsi seperti itu, Sehun terus menggerutu lalu mengalihkan tatapannya dari layar ponsel Suho. Kembali memakan cemilan kering kesukaannya.

Suho mendesis pelan lalu segera membalas pesan dari kekasihnya. “Aigoo, dia tidak pernah belajar dari masa lalu. Kalau teman kakaknya datang lagi, kita yang ikut heboh karena mood Jongin yang jelek.

“Cish, aku heran kenapa Hana masih bisa bertahan sampai sekarang. Perempuan macam apa dia, Sehun menggelengkan kepala tidak mengerti. Ah keurae, aku yakin mereka masih bisa dihitung jari berapa kali melakukan kiseu—AAK, apeo hyung! Kenapa memukul kepalaku?

“Eish pikiranmu itu, Sehunie. Hana masih belum dewasa, aku yang akan menentang Jongin, ujar Suho berspekulasi, namun Sehun –yang masih mengusap kepalanya- menggeleng cepat menolak pikiran itu.

Tapi skinship bagus untuk keharmonisan hubungan, balas Sehun, membuat Suho bergidik ngeri. Ucapan sang maknae itu terdengar sangat menggelikan di telinganya.

Terdengar kekehan pelan Sehun sedetik kemudian, sementara Suho mencoba mengabaikan lelaki itu dan fokus pada Jaehee saja. Mungkin setelah ini ia akan menghampiri Jaehee di apartemen Hana. Jika ia menjadi Kai yang satu gedung apartemen dengan Hana, mungkin ia akan setiap hari mengunjungi kekasihnya. Kai harusnya merasa bersyukur karena Hana hanya berjarak dua lantai saja dari sana.

Oh, Jongin-ah. Kau mau kemana? tanya Sehun, membuat kepala Suho menoleh pada orang yang dituju –dan sudah berjalan menuju pintu depan.

Apartemen Hana. Kenapa? tanya Kai tak acuh seraya memakai sepatu secara asal tanpa menatap member lainnya yang juga berada di ruang tengah.

Titip salam ke Jaehee, habis mandi aku akan ke sana, ujar Suho dan dibalas tawa miris saja dari Kai.

Aku keluar dulu, Kai melambai singkat lalu melangkah keluar apartemen. Meninggalkan Suho dan Sehun yang kini sedang saling memandang satu sama lain. Keduanya mengendikkan bahu kemudian kembali pada kegiatan semula masing-masing.

*

Seharian dalam mood yang jelek membuat Kai tidak tahan juga akhirnya. Ia memang berhasil tidur sejak mendarat di dorm, namun tidak dengan menenangkan pikiran. Hana terlalu mendominasi di dalam kepalanya hingga ia tidak bisa menahan diri lagi. Ia harus bertanya kenapa Hana tidak mengacuhkannya sejak kemarin. Apa sulitnya hanya membalas pesan?

Kai mengetikkan password pintu apartemen Hana yang sudah dihapalnya diluar kepala. Keningnya berkerut heran saat pintu itu tidak juga terbuka. Dengan penuh keyakinan Kai kembali mengetikkan tanggal debut EXO –yang bersamaan dengan tanggal hari jadi mereka itu– dan lampu yang menyala di dekat tombol-tombol itu masih berwarna merah. Selanjutnya Kai mencoba tanggal ulang tahun gadis itu, tanggal ulang tahunnya, hingga tanggal ulang tahun Jiho, tetap tidak berhasil membuka kunci.

Tangan Kai baru saja akan mengetikkan percobaan keenam ketika pintu itu terbuka dari dalam. “Ya! Kenapa mengubah password seenak—oh, noona.”

Oh, Jongin-ah. Kukira siapa, ayo masuk, Jaehee mencoba melebarkan senyumnya dan mempersilakan Kai untuk masuk.

Kai membungkuk sedikit sambil melangkah masuk ke apartemen gadisnya. Ia hampir saja lupa bahwa ada Jaehee yang menemani Hana sekarang. Harusnya ia bisa mengendalikan diri tadi. Oh tapi rasanya wajar jika ia merasa kesal, toh Hana mengganti password seenaknya hingga ia kesulitan masuk.

Dimana Hana? tanya Kai seraya menghempaskan tubuhnya di sofa disusul Jaehee di sebelahnya beberapa saat kemudian.

Oh kau tidak tahu? Hana pergi bersama teman-teman SMAnya ke pulau Nami, ujar Jaehee dengan tenangnya.

Sementara rasa kesal semakin memenuhi pikiran lelaki itu. Kai mendesis pelan lalu segera mengeluarkan ponselnya, menekan angka 1 –yang dijadikan panggilan cepat untuk Hana. Namun keningnya berkerut heran saat dering ponsel yang terdengar dari ponsel yang tergeletak di atas meja. Kai kemudian mengambil ponsel itu dan melihat nama kontaknya tertera di sana.

“Aigoo, dasar bodoh. Dia tidak membawa ponselnya, noona?” tanya Kai cepat seraya menaruh ponselnya ke dalam saku celana lalu membuka ponsel Hana dengan pattern yang masih sama.

“Ne, dia lupa. Katanya tidak ada yang harus ditunggu, jadi untuk apa bawa ponsel, jawab Jaehee dengan tenangnya namun menghentikan tangan Kai sejenak di udara.

Kai membuka galeri di ponsel Hana dengan berbagai macam pertanyaan di kepalanya. Melihat-lihat selca gadisnya dengan berbagai macam ekspresi di sana. Seulas senyum muncul di bibir Kai, sudah lama rasanya tidak melihat ekspresi tawa lepas Hana di dalam pertemuan mereka.

Jongin-ah.

“Ne, noona?

Rasanya menunggu itu tidak enak lho. Hana sering sekali mengeluh karena kau selalu lupa memberi kabar dan dia selalu menunggu pesan darimu, Jaehee berkata dengan nada setenang mungkin, mencoba membuat Kai tidak tersulut emosi karena ceritanya.

Kau pikir Hana itu apa? Pacarmu? Atau gelas-gelas kaca? Tch, kau selalu menyuruhnya jangan sering main keluar tapi kau sendiri tidak memperhatikannya. Walaupun dia sibuk di cafebene, dia tidak permah lupa mengecek ponsel untuk melihat kakao darimu.

Kai memperhatikan Jaehee yang terlihat berapi-api mengatakan semuanya pada dirinya. Tiba-tiba saja Kai merasa bersalah, padahal ia selalu berusaha memperbaiki hubungannya dengan Hana selama ini –walaupun sering merasa gengsi. Lagipula Hana juga sering mementingkan gengsinya dan tidak pernah mengatakan ingin bertemu atau merindukannya.

Jaehee menghembuskan napas pelan, Aku tahu kau lebih mengerti di dalam hubungan seperti ini daripada Hana. Dan kau harusnya tahu bagaimana menghadapi Hana yang polosnya minta ampun itu.

Jaehee noona, Hana jarang menghubungiku selama kerja di cafebene. Dia tidak mau mengaku duluan kalau mau bertemu atau memintaku datang ke sini. Hana juga tidak pernah keberatan kalau aku sibuk dan jarang memberi kabar.

Ini bukan tentang siapa yang sering memberi kabar atau minta bertemu, Kim Jongin, Jaehee melemparkan tatapan sinis pada Kai lalu mendesis pelan saat lelaki itu sedikit menekuk wajahnya. Kalian ini bukan anak kecil yang harus kuberitahu cara berpacaran ‘kan? Kalau kau masih membutuhkan Hana, kau harus menunjukkannya, bukan memikirkan gengsi saja. Tidak diberitahu Hana pun, kau harusnya tahu harus bagaimana.

“Araseo, noona,” Kai kembali memainkan ponsel Hana, merasa kalah atas perdebatan yang baru saja terjadi.

“Ya! Hanya itu jawabannya? Aish, aku heran kenapa Hana masih bisa bertahan denganmu, Jongin, Jaehee menggelengkan kepalanya lalu melipat tangan di depan dada, kepalanya tiba-tiba sedikit berdenyut karena menghadapi anak kecil seperti Hana dan Kai.

Kai menghembuskan napas panjang, kepalanya kemudian menoleh cepat ke arah pintu apartemen saat mendengarnya terbuka. Namun ia hanya memutar bola matanya karena Suho yang baru saja masuk ke sana. Bukan seperti harapannya. Oh tunggu, Apa Suho tahu password apartemen Hana?

Jaehee-ya, kau—.

“Hyung! Kau tahu passwordnya? Astaga, aku harus suruh Hana ganti secepatnya, Kai mengacak rambut frustasi seraya mendelik kesal ke arah Suho yang memaksa duduk di antaranya dan Jaehee. Sofa ini masih luas, hyung.”

Aku mau duduk di sini, memangnya kenapa? Suho sedikit mengangkat dagunya –menantang Kai, namun sang visual itu benar-benar tidak ingin bercanda sekarang.

Kai mendesah napas pelan sebelum beranjak dari sofa –sambil membawa ponsel Hana lalu masuk ke dalam kamar gadisnya. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan hanya diam memandangi langit-langit kamar Hana. Sebagian orang menganggapnya sebagai sosok sempurna yang akan bersikap romantis jika memiliki kekasih. Namun pada kenyataannya ia sangat sulit melakukan itu, mungkin karena Hana yang menjadi partner hidupnya.

Gadis bodoh dan ceroboh yang dengan kepolosannya bisa membuat Kai tergila-gila.

Mungkin ada baiknya ia memikirkan ucapan Jaehee mengenai Hana. Ia memang sempat berpikir akan melepaskan Hana, membiarkan gadis itu mencari laki-laki lain yang bisa menyedian waktunya. Tidak seperti dirinya yang hanya mengandalkan waktu di sela kesibukan. Namun lagi-lagi Kai tidak bisa, selama dua tahun lebih bersama Hana, ia tidak akan bisa dengan mudahnya melepas gadisnya. Karena saat Kai berpikir untuk menyerah, ia selalu ingat alasan hingga bisa bertahan sejauh itu.

Rasa sayang pada Hana yang begitu besar. Bahkan terkadang ia sampai tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan dengan baik seperti apa yang Jaehee katakan.

Kai terlalu naif dengan berpikir bahwa Hana pasti akan selalu bertahan bersamanya. Padahal gadis itu juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang, bukan sekedar kunjungan untuk melepas rindu saja. Tiba-tiba saja Kai merasa khawatir, ia merasa bahwa Hana mulai perlahan menjauhinya. Ia merasa seperti Hana tidak membutuhkannya lagi sebagai seorang kekasih.

Lalu ia harus bagaimana?

***

11.21 PM KST

Langkah Hana melambat sebelum mencapai pintu apartemennya. Hembusan napas keluar dari bibirnya, entah kenapa ia merasa bingung harus mengeluarkan ekspresi apa jika bertemu Kai nanti. Jaehee sudah memberitahunya mengenai banyak hal, termasuk memberi pelajaran pada Kai. Ia harus bersikap seolah-olah tidak membutuhkan lelaki itu untuk sementara waktu.

Baiklah, Hana sudah menjalankan misi pertama dengan berjalan-jalan bersama teman SMAnya ke pulau Nami tanpa membawa ponsel. Ia juga sudah mengambil foto sebanyak mungkin  dengan kamera digital agar menunjukkan bahwa ia tidak membutuhkan Kai hanya untuk sekedar bersenang-senang.

Hana mendesis pelan kemudian mulai mengetikkan password pintu apartemennya, tanggal teaser Kai keluar pertama kali. Ia sengaja menggantinya sebagai salah satu rencana memberi pelajaran pada Kai.

Tungkai kurus Hana mulai melangkah memasuki ruang tengah apartemen. Ia meletakkan tas slempangnya ke sofa. Keningnya berkerut heran saat mendengar suara-suara berasal dari dapur. Dengan langkah pelan, Hana menghampiri asal suara itu. Namun langkahnya yang belum sampai dapur terhenti saat melihat sosok yang keluar dari sana.

Oh, neo wasseo?”

Lelaki bermarga Kim itu melemparkan senyummya seraya membawa dua piring jajjangmyeon ke meja makan. Hana mendesis pelan sambil memperhatikan bagaimana Kai memakan salah satu mie hitam itu.

Jaehee eonni dimana? tanya Hana tanpa mau mendekati Kai di meja makan dan tetap berdiri di posisinya.

Tadi Joonmyeon hyung datang sebelum aku tidur. Saat bangun aku tidak melihat mereka di sini, jawab Kai tak acuh sambil tetap sibuk menghabiskan makanannya.

Lalu kenapa kau di sini? tanya Hana sontak menghentikan tangan Kai yang tengah memegang sumpit di udara.

Kai menoleh cepat untuk menatap Hana kemudian melemparkan tatapan herannya. Memangnya kenapa? Ini apartemen pacarku jadi—.

Cih, kau masih menganggapku pacar ternyata, Hana berkata sambil melengos ke dapur untuk mengambil minum. Meninggalkan Kai yang masih menganga karena ucapannya dipotong oleh gadis itu.

Beberapa saat kemudian Hana kembali dari dapur dan berdiri di samping meja makan. Membuat kegiatan Kai terhenti sejenak untuk menatap gadisnya. Hana melirik satu piring jajjangmyeon lainnya yang tidak disentuh Kai lalu mendesah napas pelan. Kalau sudah selesai makan dan tidak ada yang mau kau lakukan lagi, silakan pergi saja. Aku mau istirahat.

Nada bicara Hana yang dingin itu berhasil membuat nafsu makan Kai benar-benar hilang dalam sekejap. Kai meletakkan sumpitnya ke atas meja seraya memperhatikan punggung Hana yang berjalan menjauhinya menuju pintu kamar. Dan entah kenapa, rasanya menyakitkan melihat punggung Hana yang meninggalkannya.

“Jajjangmyeon satu lagi untukmu, Han-ah, Kai berucap pelan lalu menghembuskan napas pelan saat terdengar suara benturan pintu kamar gadisnya.

Ini jauh lebih parah dari keadaan pertemgkaran mereka sebelum-sebelumnya. Mereka hampir tidak pernah perang dingin seperti ini. Apalagi kata-kata Hana yang seolah mengusirnya dari sana. Sepertinya kesalahannya sudah fatal sekali.

Kai menyelesaikan makan malamnya lalu segera menghampiri pintu kamar Hana. Ia mengetuk pelan daun pintu bercat putih itu sambil bertanya, Han-ah, kau tidak sedang ganti baju ‘kan?

“Anhi,” hanya terdengar jawaban singkat dari dalam dan Kai langsung memutar kenop pintu itu. Kaki-kaki panjangnya hanya butuh beberapa langkah untuk memghampiri gadisnya yang sedang tidur tengkurap di kasur sambil memainkan laptopnya.

Kai menghempaskan diri di sebelah Hana, tidur menyamping dengan sebelah tangan menopang kepalanya. Ia memperhatikan apa yang sedang dilakukan Hana. Memindahkan hasil fofo-foto dari kamera digital ke dalam laptop.

“Ya! Kenapa baru pulang jam segini? Tidak bawa ponsel juga, protes Kai dengan nada menggerutu namun Hana masih sibuk memilih foto dari dalam laptopnya. Lee Hana.

“Wae?” jawab Hana dengan nada tidak suka. Merasa risih karena Kai bertanya banyak hal padanya –yang sedang lelah saat baru saja pulang dari perjalanan cukup jauh.

Kai mendesis pelan lalu ikut tengkurap, memperhatikan layar laptop Hana yang menampilkan foto-foto dari kamera digital. “Uwaa, sepertinya menyenangkan. Kau juga punya banyak teman laki-laki ternyata,” sindir Kai seraya melirik Hana dengan sudut matanya.

Dan gadis itu tetap bergeming dengan memindahkan foto-foto di laptopnya tanpa suara. Namun Hana akhirnya membuka suara setelah terdiam cukup lama. “Keurae. Ini teman-teman sekelasku dulu. Mereka membuat acara hari ini, sebelum tes SAT bulan depan.”

“Pasti menyenangkan ya? Tidak balas kakao dari kemarin dan pergi seharian ini tanpa bawa ponsel,” Kai kembali menyindir sambil mengubah posisinya menjadi duduk di samping gadisnya. “Kau masih bisa pergi senang-senang sendirian? Cish.

Hana mendesis pelan. “Memangnya kenapa? Kau pikir aku tidak bisa hidup senang kalau berpisah denganmu, ha?”

“Tapi harusnya kau membalas kakao dariku kalau mau pergi hari ini. Aku menunggumu seharian di—mwo?” Kai menyadari ucapan terakhir Hana kemudian menyeringai pelan. Jadi Hana masih bisa bersenang-senang sendirian tanpa memikirkannya? Hebat sekali. Kai bahkan hampir tidak bisa menyingkirkan Hana dari pikirannya selama melewati jadwal di luar sana.

Wae? Kau juga berhari-hari tidak balas kakao dariku. Sekarang apa masalahnya?” tanya Hana, ikut duduk di atas tempat tidur dan menatap Kai dengan kening berkerut. Bertanya pada lelaki di hadapannya.

“Kau pikir aku tidak berusaha membalas kakao  di sela-sela kesibukan EXO? Ya~, EXO sedang sibuk akhir-akhir ini jadi—.”

“Apa EXO juga masih ada jadwal di hari libur Chuseok? Apa EXO begitu sibuknya di hari libur Chuseok sampai kau tidak sempat memberi kabar?” Hana melipat tangan di depan dada, bertanya dengan nada penuh emosi pada Kai.

Kai kemudian mengalihkan pandangannya sembari meringis pelan. “Tapi aku tetap membalas kakao darimu ‘kan? Libur Chuseok sudah hampir sebulan lalu dan kau masih membahasnya?”

“Ini bukan tentang Chuseok saja, Kim Jong In,” Hana mendesah pelan ketika perdebatan mereka tetap membentur masalah yang sama. “Kau pikir aku tidak tahu jadwal kalian? Oh, kau pasti lupa kalau aku masih bisa menghubungi Jaehee eonni dan Joonmyeon oppa, Chanra dan Tao, atau pasangan lainnya saat EXO tidak ada jadwal. Mereka bisa bertemu sementara kau tidak ada kabar sama sekali.”

“Aku latihan,” sahut Kai cepat. “Sejak Luhan hyung keluar, aku harus bekerja dua kali lipat dibanding sebelumnya.”

Araseo. Aku mengerti,” Hana memutar bola matanya saat Kai tetap bersikeras pada pendapatnya. “Apa dari 24 jam dalam sehari untuk latihan dan tidur, tidak ada lima menit untuk sekedar balas kakao dariku?”

Kai terdiam. Ia tahu bahwa nada suara Hana mulai bergetar ketika mengatakannya. Gadis itu bahkan tidak berani menatapnya dan malah memandang kosong ke arah layar laptop. Namun sedetik kemudian Hana kembali menatapnya karena tidak mendapat balasan apapun.

“Kenapa diam?” tanya Hana dan Kai tetap tidak menemukan jawaban apapun untuk menjawab pertanyaan Hana. “Aah, kau hanya membutuhkanku untuk melepas lelah saja ‘kan? Di luar itu, kau pasti berpikir kalau aku tidak harus diperhatikan karena bisa mengurus diri sendiri.”

“Han-ah, aku—.”

“Aku mengerti. Dan selalu mengerti semua kesibukanmu,” Hana menyunggingkan senyumnya lalu segera mengalihkan pandangan ke arah lain saat kerongkongannya mulai tercekat. Ia harus menahan diri di hadapan Kai.

“Dua tahun enam bulan ya?” Hana bertanya pada diri sendiri seraya melirik jam di sudut layar laptopnya yang sudah menunjukkan pukul 12 malam lebih. Dan hari sudah berganti menjadi tanggal 8 oktober. Tepat dua tahun enam bulan debut EXO yang bersamaan dengan hari jadi mereka.

Kadang Hana berpikir. Dalam waktu sepanjang itu, EXO saja sudah kesulitan menjaga keutuhan mereka hingga kehilangan Kris dan Luhan. Tetapi Hana masih tetap bertahan di sisi seorang Kim Jong In yang egois dan besar kepala. Selama ini Hana selalu mencoba menurunkan rasa gengsinya dan selalu berpikir positif mengenai kesibukan EXO. Kai harus bekerja lebih keras dan pasti tidak memiliki waktu luang yang banyak. Untuk sekedar membalas kakao pun, pasti Kai enggan mencuri dari waktu luangnya.

Jika memang seperti itu, Hana tidak perlu bertahan sendirian lagi.

Uri heojija.

Ucapan Hana bagaikan petir menyambar di tengah malam. Kai mengerjap pelan, mencoba memperjelas pendengarannya lagi atas apa yang baru saja Hana ucapkan. Apa Hana baru saja memutuskan hubungan mereka?

Mwo?”

Uri geumanhaja,” Hana menelan salivanya dengan susah payah dan menatap Kai dengan seulas senyum –yang sangat dipaksakan.

Ya! Lee Hana. Kenapa seperti ini?” balas Kai cepat dengan nada mulai meninggi dan kedua mata membulat sempurna. “Aku. Tidak. Mau.”

“Apa bedanya? Kau juga sedang sibuk dan memang tidak sempat balas kakao dariku. Sama saja seperti tidak punya pacar ‘kan?”

Utjima!” Kai memotong dengan cepat. “Aku serius, Han-ah. Kita sudah pernah buat kesepakatan tentang hal ini.”

“Tapi kau tidak berubah,” balas Hana dengan nada sedikit tinggi lalu memijat pelipisnya saat rasa pusing tiba-tiba menyerang kepalanya. Ia butuh istirahat.

“Lee Hana,” Kai memanggil nama gadisnya seraya mengusap pelan puncak kepala gadis itu. “Sekarang kau istirahat, eoh? Kita bicarakan lagi nanti.”

Hana mengangkat kepala saat sentuhan tangan Kai mengalirkan aliran listrik aneh yang membuat tubuhnya melemah. Tidak tahu kenapa. Tiba-tiba saja ia menyesali kata-kata yang baru saja terlontar dari bibirnya beberapa saat lalu. Mungkin ia memang sedang kelelahan setelah pulang dari pulau Nami hingga tidak bisa berpikir jernih. Mungkin ia memang masih harus berpikir lagi.

“Kita juga harus istirahat,” Hana menurunkan tangan besar Kai dari puncak kepalanya. “Dari hubungan ini.”

Mwoya? Kau yang harus istirahat sekarang, Han-ah. Besok aku ke sini lagi,” Kai berusaha menyunggingkan senyumnya lalu bersiap pergi dari sana.

Andwae,” Hana menahan lengan Kai yang akan beranjak dari tempat tidurnya. Membuat lelaki itu menoleh ke arahnya. “Aku harus fokus tes SAT bulan depan. Jadi tolong jangan hubungi aku selama itu.”

“Han-ah,” ucap Kai pelan ketika Hana menatapnya dengan kedua mata berkaca-kaca. Pasti akan sulit mengesampingkan Hana dari pikirannya selama sebulan ke depan.

“Satu bulan pasti cukup untuk berpikir tentang hubungan ini,” balas Hana lalu melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Kai dan ia kembali menghindari tatapan Kai –yang selalu bisa meluluhkan itu.

Kai berdiri di samping tempat tidur dan terus memperhatikan Hana yang sedang menunduk. Dan Kai lagi-lagi hanya menghembuskan napas panjang saat rasa sesak itu belum bisa keluar dari dadanya. Jika Hana memang ingin melepaskan diri dari hubungan ini, mungkin Kai memang harus melepaskan Hana. Walaupun ia sama sekali tidak ingin berpisah dan mengakhiri hubungan mereka. Karena selama ini memang ia yang selalu memaksa Hana agar selalu bertahan di sisinya tanpa memikirkan perasaan gadis itu.

Keurae. Satu bulan,” Kai akhirnya membuat keputusan –walaupun ia tahu akan sulit melewati satu bulan tanpa berinteraksi dengan Hana. “Kita tidak akan berhubungan selama satu bulan sampai kau tes SAT nanti.”

“Tapi kau harus tahu, Han-ah,” ada jeda sebelum Kai melanjutkan ucapannya hingga membuat Hana terpaksa mengangkat kepala untuk menatapnya. “Tidak semua cinta bisa ditunjukkan dengan perhatian.”

Yang Hana ingat terakhir kali sebelum ‘peristirahatan’ satu bulan mereka adalah sentuhan tangan Kai di puncak kepalanya dan senyuman manis lelaki itu. Ia melihat kaki jenjang Kai melangkah menuju pintu kamar dan menghilang di baliknya sedetik kemudian. Membuat benteng yang ditahannya sejak tadi akhirnya runtuh juga. Hana menutup wajahnya dengan bantal dan menangis di dalam sana.

Melihat punggung Kai menjauh adalah hal yang paling dibencinya sejak dulu. Karena saat Kai meninggakannya, ia pasti tidak akan melihat lelaki itu lagi dalam waktu yang lama. Dan sekarang bahkan satu bulan. Ucapan Kai tadi berhasil membuat Hana kembali ragu. Memang tidak semua cinta bisa ditunjukkan dengan perhatian dan itu benar-benar merefleksikan diri seorang Kim Jong In. Fakta bahwa Kai masih menyayanginya itu malah membuat Hana semakin terisak.

Biarkan Hana menangis malam itu saja untuk melampiaskan semuanya. Mulai besok ia akan benar-benar berpikir mengenai hubungannya dengan Kai, apakah akan lebih baik atau bahkan benar-benar berakhir selamanya.

[KaiNa Piece] Vacillate—CUT

Ima’s note :

HOLAAA XD Siapa yg kangen kaina~ /windblow/

hufft, aku gatau cerita mereka masih menarik apa ngga. Semuanya ditentuin dari cerita ini.

Aku cinta banget sama pasangan KaiNa ini, cerita yg bisa aku tulis di sela sela sibuk kuliah. cerita yang aku tulis kalo lagi cinta-cintanya banget sama jongin. cerita yang aku tulis kalo inget gimana komentar kalian semua di cerita ini 🙂

Silakan tinggalin komennya~

Best regards,

IMA♥

Advertisements

92 thoughts on “[KaiNa Piece] Vacillate

  1. Adira says:

    Yah eon 😦 kok break sih?? Jangan sampai putus dong eon,ngebaca ff yang kali ini nyeseknya kerasa banget, ditunggu kelanjutannya eon! Semangat! 🙂

  2. yantie says:

    Hikz3..knpa musti break up?kenapa?gue beneran nangis nih. .sial, , series kaina sllu bisa bikin gue senyum2 bahkan sedih ampe nangis..huaaa
    Plizt ima,,jangan biarkan mrka putus..takdir mrka ada di tangan.mu. .huaaaaa
    Smoga dgn kejadian ini,kai bisa brubah lbh baik,,denger2 kata2 kai ama kedewasaan kai dlm menghadapi masalah bener2 bikin gue nyesek. .trnyata sedalem itu ya cinta kai ke hana,walaupun tak pernah skalipun terucap dari bibir kai. .hikz3..love

  3. widyaJ says:

    Ya ampun….sakitnya tuh disinii… *tunjuk dada…
    Ya ampun…nyeseknya kerasaaaa ampon…hueee…indak rela indak rela mereka break. Astagaaa..
    Ya ampun…haruskah seperti. Tapi yah…apa yang dikatakan sehun dan jaehee…benar. Setidaknya jongin merubah kebisaannya. andweee…jangan sampe mereka berpisah. Hiks…asliii ini part paling nyesekin dibandingin saat mereka diuji saat kedatangan sahabatnya abang hana. Hiks…
    Ya ampun…hubungan mereka berdua semakin mengkhawatirkan. Arghhhhh
    Semakin penasaran dengan kelanjutanya..hiks..bagaimana kelanjutan hubungan hana dan kai…bagaimana ini. Apalagi menilik dari hana yang seperti mulai bimbang. Kai atau jadi mengikuti apa yang diinginkan ayahnya. Kuliah di jerman. Ya ampun kesian….

    Ditunggu kelanjutannya saeng… Hwaiting

  4. rahma wu says:

    HHUAAA ikut meweh weh :3
    mana lanjutannya thor,,cepetan di post..ngga sabar nunggu cerita Hana 1 bulan kedepan tanpa seorang Kai :’

  5. hasna nabilah says:

    yaaaaaaaa kok mereka break sih? jangan sampe mereka putussss:(((( sayang bgt kan udh 2 taun pacaran:((( jangan sampeeee, aku suka bgt sama couple yg satu ini. tapi kasian jg sih hananya, harusnya jongin sedikit berubah yaaaa

  6. yantie says:

    akh busyet. ,ini benar2 bkin gue nangis. .huaaaaaaa. .plizt chingu, ,jgn biarkan mrka putus. . Trlalu sayang 2,5 tahun kalo musti putus. .lagian mrka brdua jg masih saling menyayangi

  7. Heerin says:

    HAHHHHHH INI KENAPA JADI BEGINI HUHUHUHU. ikutan sedih 😦 baper nih jadinya haft. Aku jd bingung musti dukung pihak siapa 😦 Semangat terus ya unnie♥

  8. kaisooday says:

    Ima Eonniiiii~ kanapa mereka di Break’in siihh?? Aaaaaaaa aku tidakk relaaaa 😦 tapi gpp dehh biar kai juga tau rasa! huhh masa ngabaiin si hana terus…. Kasian kan Hana,,, makin seru aja cerita pasangan kece favoritku ini 🙂 aku next ya eonni ^^ keep writing eonni :* lopelope dehh sma Ima Eonni~

  9. Jung Hyun Mi says:

    yaampunnnnnn><
    hana juga jangan kuliah di Jerman….
    ahhh inii gimanaa lanjutannyaa😭😭
    ka ima jangann biarkan mereka pisah(?)
    mauu baca lanjutannyaaa geregett😂😂

  10. hyunnie says:

    Yatuhaaaaan ini seriusan bikin nangis tengah malem 😭😭😭😭
    Ah ngga relaaaaa seriusan ngga rela kaina harus break 😭
    Ya tuhan kkaman temsek , lebih perhatian dikit ke hana bisa nggaaaaa , gengsinya di buang kenapa sih :3
    Emang sih yaaa apa yang di katakan kai ada benernya,tapi di satu sisi kalau ngebayangin hana yang jarang di hubungi dan kai datang pas dia lagi lelah emang nyesek jugaaaa serasa kaya pelampiasan /inilebaaay/
    Tapi seriusan thor fic series ini bikin aku bercucuran air mataaaa 😢
    Tapiiii ada bagusnya juga sih mereka break , ya itung-itung ngasih pelajaran aja buat si kkaman , ya semoga nanti kkaman bisa berubah ya kkkkk
    Aaaaaa author izinkan daku membaca next seriesnyaaaa 👯

  11. Soojinssi says:

    Deg deg an banget waktu Hana minta break , apalagi Jongin juga ngeiyain. Padahal pengennya Jongin nolak kalo mereka break supaya Hana masih ngerasa diperjuangin sama Jongin
    Tapi……. Ternyata……… Ah yaudah kak aku tau kakak pasti bisa bikin mereka balik lagi^^
    Semangat ya kak!! (^o^)9

  12. natasya says:

    apa ini-_- aku gak suka mereka berantem serius seriusan…lbh suka beranten kecil2an..
    dn,d situ ad blg..kehilangan kris sm luhan..baper kak..sumpah..bapeer..

  13. byunbaek says:

    mereka beneran break?? aaahhh andweeeeeeeeee…. sumpah ini aku pen nangis baru pengen sih, galau parah baca ini udh gitu ada kata2 luhan keluar pliss makin baper

  14. Nafff says:

    Mereka break lagi? Aku baper banget bacanya :’
    Kasihan sama hana nya, dia kayak udah capek sama jongin tapi masih sayang.
    semoga aja mereka balikan lagi :3

  15. Dindau says:

    Aduhhhhh.. Jangan sampe putus lah, 😦
    Jongin itu lah cuek bgt, dtang pas lelah aja-_-
    Lanjut ya kak, aku readers baru 😀

  16. Song hyun in says:

    Aaahhh lee hana –”
    knp kau sperti ini ??

    Mereka yg menjalin hbungan ? Tapi knp aku yg mlh tdk rela mereka akan berpisah e.e

    Anddweee !! Kalian harus tetap bersama 😦

  17. dyndrakm says:

    Kak ima jahatttt kenapaaah ada galau lgsih?? Udahan apaah galau2nyaaaa!!! Baik2 ajaaa gituuu kykkyk di danger ㅠㅠㅠㅠㅠ krisis bgt nih masalahnya…break ampe 1 bulan…. udahkek hana jgn gituㅠㅠtp iyasih kl aku jd hana bakal capek jg gaada kabar gt jongin nya…hmmmm ya mau gimana kan udh jd tanggung jawab jongin buat ngejalanin schedule nya yg super padet ituuuu.. kasian hanaaaa!!!ㅠㅠ please next jgn galau lggg enough ka imaaaaa. Okaaay???ㅠㅠ nyes bgt pas kkaman blg “Tidak semua cinta bisa ditunjukkan dengan perhatian.”parah ngena bgttt woiii ka ima quotes dr manaaaaaㅠㅠㅠ sukses bgt nangis yha kaina thankyou wkwk

  18. handayaniwidya0 says:

    Oke, Ini nyesek. Salah Kai juga sih, cueknya keterlaluan. Kalo aku jd hana juga bakalan gelo lama2 digituin mulu. Tapi moga aja mereka baikan lagi ya (yg ini sy serahkan ke kak ima haha). Moga aja hana ga jadi nerusin kuliah di Jerman. Ga asik kalo beneran ke jerman.

  19. Khyunpawookie says:

    Sebernya mslah inti hubungan mrka tuh cma egois sma gengsi ajj…. Sma2 keras dn gk mu ngalah…. Gengsinya y udh klewat bnget y bkin smua kd kacau kan…. Hmzzzzz berharap add titik temu deh ksian jg mrka msa mst break 1 bln klo tar mlah break slmanya gmn uhuhuhu jngannnnn org bru kmren mesra2an msa udh gtu lg… Bdw aq msh blm dpt pw y d protec heheheheh

  20. syafirasl says:

    Aduhh break lagi..sama sama kerasnya yah jongin sama hana
    nyesek kak rasanya pas hana marah marah gitu..wahh
    Keep writing ya..Fighting

  21. rahsarah says:

    ya ampun dia break lagi -.-
    emang berat banget si buat kaina ngejalanin hubungan yg kaya gini kalo ga pada saling percaya dan memahami
    semoga cepet balikan lagi kalian

  22. riana says:

    😭😭😭😭😭
    jongin yg peka donk klo ama cwenya,dan hana…
    kesabaranmu patut di acungi 👍🏻.
    jgn bkin mreka ptus bneran eonn..buat efek jera aj bwt jongin.✌🏻

  23. riana says:

    Kangen ff kamu eonni,makanya aku sering baca ulang ff kamu yg lama,apalagi tentang Kai Hana..jgn d bikin bubar bneran eonni,dr jaman ma krystal dan skrang ma Jennie.. Kai mah nyakitin hana mulu.

Leave a Reply to Jung Hyun Mi Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s