[YiLian Petals] Promise Me

2418_pelabuhan_senja

Promise Me

.

Zhang Yixing – Wu Lian

A vignette by Yoo

© 2014

.

“Kau melanggar janjimu, Lian.”

.

Deru angin menggugahmu. Matamu yang semula terkatup kini terbuka lebar. Sejenak terpukau pada birunya samudera yang mengitarimu. Detik berikutnya kau mulai bertanya, gerangan apa yang membawamu kemari, berdiri sendirian di ujung pelabuhan. Tak ada jawaban. Bahkan angin pun menolak untuk menjawab. Hingga suara derap langkah memecah merahnya langit senja.

Kau memalingkan wajah. Tepat di belakangmu, seorang gadis berjalan menuju tempatmu berada. Segaris senyum lembut darinya menyapamu sembari terus melangkah. Dan kau masih terpaku di titik yang sama. Bola matamu tak luput dari sosok sang gadis barang sedetik pun. Hingga dia sampai di tempatmu. Berdiri sejajar denganmu. Hangat kian mengaliri tubuhmu ketika sentuhannya menggapai jemarimu.

Aku mencintaimu.

Bibirnya merapal kata tanpa suara. Menyempatkan diri tersenyum di antara sorot sendunya. Dan dia melepas genggamannya seiring langkah yang kian menjauh. Sementara kau hanya bisa berdiri membeku seolah tungkai kakimu telah menyatu dengan bumi. Tak ada yang bisa kau lakukan, selain memandangi sosoknya yang kini menaiki perahu kayu kecil yang sedari tadi menanti di ujung pelabuhan. Hanya bisa menatap sosoknya yang mulai menghilang di tengah samudera tak bernama.

***

—September 2014.

“Di mana Paman Cheol Ryong?”

Yixing bertanya sembari melepas jaket kulitnya. Baru saja dia sampai di rumah milik keluarga Myung untuk berkunjung. Dia menyempatkan diri untuk datang menemui Lian di antara jadwal padat yang melilit.

“Bertemu dengan kawan lama,” sahut Lian sayup-sayup dari dapur. Gadis itu sedang menyiapkan segelas teh hijau untuk tamu spesialnya kini.

Yixing yang menangkap jawaban Lian hanya mengangguk paham. Alih-alih duduk di sofa ruang tengah, dia bergerak ke arah lukisan yang terpajang di dinding rumah tepat di hadapannya. Sebuah lukisan indah dengan laut biru membentang di balik kanvas berpigura. Dia ingat pasti terakhir kali berkunjung kemari, lukisan itu belum ada.

“Pemberian kawan Paman.”

Perhatian Yixing pada lukisan itu buyar, beralih pada gadis yang kini meletakkan segelas teh panas di meja ruang tengah.

“Dua hari yang lalu kawan lamanya datang kemari. Dia tinggal di Hokkaido, baru singgah ke Seoul setelah lima tahun merantau” lanjut Lian. Senyumnya mengembang kala matanya mendarat pada lukisan itu. “Lukisan yang sangat indah, bukan? Aku suka laut.”

Yixing tidak tahu harus membalas apa, dia hanya tersenyum canggung. Ada perasaan aneh yang menggelayutinya saat beradu pandang dengan lukisan itu. Indah memang, namun mengingatkannya pada mimpi semalam. Lukisan dan mimpi itu mengundang firasat buruk yang berusaha ditepisnya.

Gege?”

Sedikit tersentak dari lamunan, Yixing lalu mendongak. “Ah, kenapa?”

Raut wajah Lian yang semula khawatir, lambat laun kembali tenang. Bibirnya mengulum, sorot matanya begitu lembut.

“Ingin melihat bintang?”

Dan di sinilah keduanya berada sekarang. Duduk bersisian di bawah bentangan langit malam penuh bintang. Balkon lantai atas memang menjadi tempat favorit mereka tiap kali Yixing datang berkunjung. Menghabiskan waktu bersama sambil memandangi langit. Beruntung, malam ini mendung tidak egois menyembunyikan bintang dari mereka.

Gege kelihatan sibuk sekali belakangan ini,” iris Lian bergerak menatap Yixing. Raut cemas itu kembali terpoles jelas di wajahnya meski berusaha keras untuk disembunyikan. Wajar memang jika jadwal EXO semakin hari semakin menjadi. Popularitas mereka sedang berada di puncak. Tapi bukan itu yang menjadi kekhawatiran Lian, melainkan isu yang silih berganti menerpa mereka.

“Pasti sangat berat, ya?”

Yixing bukannya tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan gadisnya itu. Tapi dia tidak ingin membahas lebih jauh tentang masalah itu, atau membuat Lian semakin khawatir. Maka dia pun tersenyum, sementara tangannya bergerak ke puncak kepala gadis itu, membelainya penuh sayang.

“Tidak apa kok, aku baik-baik saja,” ujar Yixing, dengan senyum lebar masih tersungging di rupanya. “Asal ada kau di sampingku, semangatku tidak akan padam, tahu!”

Lian menunduk sejenak. Yixing bisa melihat senyumnya meski helai rambut berusaha menutupi. Detik berikutnya, Lian mendongak dan dengan cepat mengarahkan dirinya mendekati Yixing. Tidak pernah terpikir oleh Yixing, Lian akan melakukan hal itu lebih dulu. Dia hanya bisa diam tak bergeming ketika bibir Lian bersentuhan dengan miliknya. Berharap waktu berhenti berputar, membiarkan dirinya dan Lian bertaut dalam keheningan malam. Tapi semua buyar, ketika gadis itu perlahan melepas diri.

Yixing menggaruk tengkuknya dengan canggung. Salah tingkah sendiri. Untuk beberapa saat tidak berani balas menatap Lian.

Gege, mau berjanji satu hal padaku?”

“Eh?”

“Semangat Gege yang seperti sekarang ini, jangan pernah hilang apapun yang terjadi nanti.”

Firasat yang dirasakannya tadi kembali menggelayutinya. Perasaan tak enak pun semakin menjadi. Mimpi semalam terbayang dengan jelas di benaknya seperti sebuah cuplikan film.

“A-ada apa? Kenapa tiba-tiba?”

Kata-katanya terhenti, tenggelam kembali ke dalam kerongkongan kala kedua tangan gadis itu meraihnya ke dalam sebuah pelukan. Ini bukan Lian yang biasanya, itulah yang terpikir oleh Yixing. Gadis itu mendadak menjadi begitu aneh malam ini.

“Aku mencintaimu.”

Takut. Mungkin ingatan akan mimpinya sudah mengambil alih alam bawah sadarnya kini. Memberikan sugesti tersendiri padanya, ketakutan yang kian lama semakin mencekat. Dan semakin dia berusaha untuk menghilangkan perasaan asing itu, rasa takutnya pun semakin menjebaknya jauh ke dalam.

Dia membalas pelukan gadis itu. Mendekap Lian seerat yang dia bisa, seakan tak ingin angin membawanya pergi.

“Berjanjilah satu hal padaku, Lian, tetaplah di sini bersamaku apapun yang terjadi.”

.

—November 3rd, 2014.

Langkahnya terhenti di suatu tempat. Tubuhnya membungkuk rendah, duduk di samping tempat gadis itu berbaring. Dia bisa membayangkan dengan amat jelas paras cantik gadisnya yang kini tertidur lelap. Begitu tenang. Begitu damai. Begitu membuatnya iri.

“Apa kabarmu hari ini?” Yixing membuka suara. Sudah hampir satu bulan dia tidak datang menjenguk karena jadwal yang sangat padat. Hari ini dia menyempatkan diri untuk berkunjung, sekaligus mengobati rindunya.

“Sudah lama sekali aku tidak melihatmu. Aku sangat merindukanmu, Lian. Apa kau juga merindukanku?”

Kelopak dandelion yang terbang terbawa angin menyadarkannya pada bunga yang dia genggam.

“Ah, benar. Aku membawakanmu dandelion, bunga kesukaanmu. Kau suka?”

Kenangan demi kenangan kembali bergulir acak. Membawanya ke masa dimana dia masih bisa melihat senyum gadis itu dengan jelas. Saat dia masih bisa menyentuh gadisnya dengan nyata. Saat dia masih bisa mendekap Lian dalam pelukannya.

Diletakkannya seikat dandelion di atas pusara tempat gadis itu kini berbaring damai. Berharap dia melihatnya duduk di sampingnya saat ini, membawakan bunga favoritnya. Sembari membayangkan gadisnya tersenyum senang dengan hadiah kecilnya ini.

“Lian, kau ingat saat itu kau bilang ingin hidup seperti dandelion? Terbang kemana pun angin membawamu pergi dan hinggap di tempat yang baru untuk memulai kehidupan yang baru pula. Dulu aku berpikir, jika kau menjadi dandelion, aku ingin menjadi kupu-kupu yang bisa mengikutimu terbang kemanapun kau pergi. Kemanapun, asal bersamamu.”

Rahangnya mengeras. Menahan airmata yang membendung di tepi kelopak mata. Dia tidak boleh menangis. Dia sudah berjanji untuk tidak menangis seperti bayi sebelum datang kemari. Yixing sudah berjanji pada dirinya sendiri, dan juga Lian, untuk tidak menjadi lemah apapun yang terjadi. Bahwa dia akan menjalani hari-harinya dengan semangat dalam jiwanya, bukan dengan airmata.

“Tapi sekarang, kau terbang terlalu jauh, ke tempat yang belum bisa kugapai. Kau meninggalkanku sendirian di sini, sedangkan kau melalui hidupmu yang baru di sana,” ucapnya pelan. “Apa kau bahagia di tempatmu yang baru? Apa di sana sangat menyenangkan hingga lupa pada janjimu padaku untuk tetap di sini bersamaku?”

Dia ingat malam terakhir ketika dirinya dan Lian bertemu. Duduk di bawah langit malam ditemani cahaya redup bintang-bintang. Kecupan terakhir itu pun masih terasa sangat nyata di bibirnya. Lembut dan hangat. Semua kenangan yang akan terus diingat sebagai semangat hidupnya. Yixing juga masih mengingat janji terakhirnya pada Lian untuk menjalani hidup dengan semangat yang dia miliki, apapun yang terjadi.

Tapi gadis itu melanggar janjinya. Dia pergi meninggalkan Yixing, dua hari setelah pertemuan terakhir mereka. Sebuah tragedi berhasil merenggut gadisnya. Kebakaran di tengah malam menghabiskan seluruh isi rumah keluarga Myung. Semua, termasuk nyawa seorang gadis, Wu Lian. Berbeda dengan pamannya yang berhasil diselamatkan, Lian menghembuskan napas terakhirnya di tengah perjalanan menuju rumah sakit. Terakhir kali Yixing melihat wajahnya saat upacara pemakaman. Gadis itu memejamkan matanya, tertidur begitu damai di antara tangis yang mengantarnya ke tempatnya bersemayam kini.

“Kau melanggar janjimu, Lian,” ucap Yixing sekali lagi. “Tidak apa, aku tidak akan marah padamu. Tapi kau harus berjanji satu hal lagi padaku. Jangan bermain mata dengan siapapun di sana sampai aku datang, mengerti?”

Angin bertiup mengelilinginya, membelai lembut kedua sisi wajah Zhang Yixing. Pemuda itu mengulum bibir. Dianggapnya itu sebagai jawaban Lian untuknya. Tangannya yang panjang lalu mencapai gundukan di hadapannya. Membelai lembut pusara itu, seolah sedang membelai puncak kepala Lian seperti yang biasa dia lakukan.

“Kupegang janjimu, Lian.”

***

Tempat yang sama. Di pelabuhan yang sama seperti waktu itu. Di sinilah kau menapakkan kaki. Matamu mengitari sekeliling samudera tak bernama. Deru angin senja menyapamu, bersuka cita atas kehadiranmu ini.

Satu per satu langkahmu melewati pelabuhan hingga mencapai ujung. Tampak seorang gadis berdiri di sana, menghadapmu. Menunggumu datang padanya.

“Lian.”

Hanya dengan mengeja nama itu, hangat kini memenuhi jiwamu. Kau tersenyum. Ingin sekali meraih sosoknya dengan kedua tanganmu, namun yang bisa kau lakukan hanyalah melangkah. Semakin dekat dengan sosoknya, tapi tak bisa benar-benar menyentuh gadis yang sangat kau rindukan. Seolah ada pembatas kasat mata kokoh berdiri di antara kalian berdua.

“Lian..”

Dia tersenyum padamu. Sorot matanya lembut dan penuh pancaran binar keceriaan. Jauh berbeda dengan biasanya.

“Aku menunggumu di sana, Gege.”

Kau terdiam. Untuk sekian lama, akhirnya kau bisa kembali mendengar suara itu.

“Tapi jangan datang terlalu cepat,” Senyuman itu makin mengembang. “Hiduplah dengan baik. Hiduplah lebih lama dan ceritakan padaku tentang perjalananmu di dunia saat kita bertemu kembali di tempat yang lebih kekal nanti.”

Kau balas tersenyum, dengan keyakinan pasti kau pun mengangguk. Ini akan menjadi janji terakhirmu pada Lian. Bahwa kau akan hidup sebaik mungkin di sisa umurmu. Tidak perlu tergesa-gesa mencapai tempat di mana Lian berada saat ini, cukup menjalani hidupmu di dunia sampai Tuhan mengantarmu ke tempat yang lebih abadi bersama gadismu. Lagipula, kau percaya dia akan setia menunggumu berapapun lamanya waktu bergulir.

“Aku janji, Lian. Tunggu aku di sana.”

End.

Ini fanfic canon terakhir YiLian sebelum saya berhenti jadi author di indayleeplanet, fic ini resmi jadi akhir hubungannya Lay & Lian dan maaf kalo selama ini jarang banget ngepost fanfic mereka. Makasih buat zi, ra, kak nisya, ima, & mut buat kisah kasih selama ini di IDL hehe. Makasih juga buat semua reader yang udah ngikutin fanfic saya dari mulai HimNara sampai YiLian ini, terimakasih banyak dan maaf kalau selama ini masih banyak kekurangan di tulisan dan cerita yang saya buat. Terimakasih buat kalian semua ya 😀

Oya, buat semua author IDL, aku titip Lay ya di sini hahaha. Tolong dijaga dengan baik (?) I love you, IDL :*

Advertisements

5 thoughts on “[YiLian Petals] Promise Me

  1. winnurma says:

    ahh muncul lagi yilian petals kenapa sedih plus end…:-[
    ah eonni
    btw thanks for fanficnya selama ini..bgus kok
    lay dijagaiin.kok

  2. minjoongsoo says:

    Eonni… 😥
    aku pikir ini apaan, ternyata malah buat perpisahan.. 😥

    Tapi kisah terakhir YiLian bener-bener masuk ke hati.. Aku baca ini pagi-pagi u,u

    Apapun yang eonni lakuin semangat 😀

  3. Park Yurin says:

    haduh ..
    ini sad bgttt
    bikin nangis ajaahh
    yixing knp co cweett bgtt gituuu
    cepet jg end nya ya ..
    gg papa deh . yg penting buat eonni fighting !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s