.:JunHee Veiled:. Flashback

junhee

Title : Flashback

Author : Neez ^^ (@suhofocus)

Genre : JunHee Universe, Romance

Length : Onsehot

Rate : PG

Cast :

  • Kim Joonmyun / Suho EXO
  • Oh Jaehee (OC)
  • Others

.:JunHee Veiled:. Flashback

 

11 September 2013

Kim’s Mansion, Apgujeong

08.00 AM KST

 

”Aku pulang~”

   ”Joonmyunie~”

   Joonmyun tersenyum cerah, melihat wajah ibunya yang sudah mulai dipenuhi gurat-gurat halus, namun tetap tidak mengurangi kecantikannya sedikit pun. Baik dimatanya, tentu di mata Hyungnya, apalagi di mata ayahnya.

   Ibunya mengecup dahinya dengan sedikit berjinjit, kemudian memeluk putra bungsunya, yang sudah lama tidak pulang erat-erat. ”Bagaimana kabarmu, Nak? Kau tambah kurus saja…” ibunya akhirnya melepaskan pelukannya dan memerhatikan postur tubuh Joonmyun dari atas hingga kebawah.

   ”Aku tidak mau gemuk lagi, Eomma, penggemarku bicara apa nanti…” kekeh Joonmyun sambil melepaskan sepatunya, dan memakai sandal rumah putih empuk yang disiapkan di pintu, dan melangkah masuk ke dalam apartemen mewah milik kedua orangtuanya.

   ”Eh, bukan gemuk… seingat Eomma kau lebih berisi, aigoo uri adeul…”

   ”Eomma, aku baik-baik saja, aku sehat kok, aku bisa menjaga diriku dengan baik… Hyung mana?”

   ”Hyungmu masih kuliah,” ibunya mendahuluinya masuk ke dalam dapur, ”Dan ayahmu akan menyusul kita ke Gwangju malam ini segera setelah seminar. Kau bisa istirahat terlebih dahulu sebelum kita berangkat ke Gwangju.”

   Joonmyun mengernyit, ”Gwangju?”

   ”Oh, Eomma belum bilang ya?” ibunya mendahuluinya keluar dapur membawa sekeranjang apel, berjalan menuju ruang keluarga, diikuti Joonmyun yang nampak clueless mengenai Gwangju ini. ”Malam ini, salah seorang kerabat ayahmu mengundang kita untuk acara amalnya di Gwangju. Ayahmu sangat menghormati kerabatnya ini, dan akan lebih baik jika kita semua bisa datang. Tapi kurasa kakakmu sedang sibuk untuk tesisnya.”

   Joonmyun duduk di sofa, tepat di samping ibunya. ”Kerabat ayah siapa?”

   ”Oh Sajangnim. Kau ingat? Dulu ketika kecil kau dan putrinya suka bermain bersama, juga dengan Hyungmu, dan anak-anak lainnya.” Ibunya memberitahu sambil mengupas apel. ”Biasanya hanya ayahmu yang diundang, tapi kali ini karena acara amalnya untuk keluarga, maka kita sekeluarga diharapkan hadir di acara milik keluarga Oh.”

   Joonmyun menelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, berusaha mengingat-ingat, karena kolega dan kerabat ayahnya cukup banyak. ”Yang mana Oh Sajangnim, aku tidak ingat.”

   ”Hmm, perusahaannya sangat maju di bidang properti.”

   ”Ah, iya iya, aku ingat! Kolega Appa yang punya perusahaan properti dan sangat terkenal hanya satu, bukan? Tapi aku tidak begitu ingat padanya.”

   Ibunya tertawa ringan, ”Orangnya sangat sibuk, Joonmyun-ah, makanya setiap acara amal hanya ayahmu yang diundang. Terakhir kali perjamuan keluarga, mereka langsungkan, sekitar dua puluh tahun lalu… ya kau masih kecil sekali.” Ibunya memberikan sepotong apel yang sudah dikupas. ”Ini, makan yang banyak… setelah ini istirahat.”

   ”Hmm, gomawo Eomma…”

   ”Ah iya, kudengar dari Nyonya Oh, putrinya penggemar EXO.”

   Joonmyun membelalakkan matanya tidak percaya, ”Jeongmal? Penggemar EXO? Putri Chaebol bisa jadi penggemar EXO?”

   ”Putra chaebol saja bisa jadi anak EXO,” ibunya meliriknya penuh arti.

   ”Ah iya,” Joonmyun terkekeh.

*           *           *

Oh Villa

Gwangju

20.00 KST

”Nyonya Kim, dan Profesor Kim… selamat datang, terima kasih atas kedatangan Anda.”

   Seorang pria berseragam stelan jas, dengan earpiece di telinganya menyambut kedatangan keluarga Kim, begitu mobil yang mereka kendarai tiba di depan rumah peristirahat keluarga Oh yang sangat megah, dan didekorasi sangat menawan untuk malam amal ini.

   Joonmyun mengekori kedua orangtuanya yang kini telah berdiri di depan pagar lengkung yang dihias menggunakan bunga-bunga indah dan lampu-lampu gemerlapan menuju taman rumah peristirahatan, yang sudah mulai dipadati oleh para tamu.

   Meja-meja bundar dan kursi-kursi yang dilapisi oleh kain putih tampak gemerlap oleh pantulan cahaya lampu yang ada di sekitar taman. Di sisi lain taman, meja-meja panjang berisi makanan-makanan yang terlihat enak dan tentu saja mewah tersaji. Bahkan di salah satu meja, ada tumpukan gelas champagne.

   Memang gala dinner untuk malam amal seperti ini, bukan hal yang asing bagi Joonmyun, tapi Joonmyun pun bisa menilai kalau keluarga Oh, bukan hanya sembarang chaebol.

   ”Silakan, Tuan dan Nyonya Kim, bisa duduk di sebelah sini. Tuan dan Nyonya Oh akan segera menjamu Anda.”

   Joonmyun kembali mengekor kedua orangtuanya yang dipersilakan duduk di salah satu meja lingkar khusus dengan pita dan plakat VIP mengelilingi section tersebut.

   ”Kita tamu VIP?” bisik Joonmyun pada ibunya.

   Ibunya hanya tersenyum, karena pada saat itu Tuan Oh sudah mulai menyapa suaminya dalam pelukan hangat. Dan ia pun segera bertegur sapa dengan Nyonya Oh yang kelihatan cantik dalam gaunnya.

   ”Ah, siapa ini? Junseok?” tanya Nyonya Oh melihat Joonmyun.

   Joonmyun tersenyum, kemudian membungkuk dengan sopan. ”Selamat malam, Nyonya Oh, saya Kim Joonmyun.”

   ”Ah, adiknya Junseok, iya iya… sampai lupa,” Nyonya Oh menertawai dirinya, dan memalingkan wajahnya pada ibu Joonmyun, kemudian mulai memuji-muji ketampanannya. ”Putramu tampan-tampan sekali, dan Joonmyun, aku tidak tahu dia bisa setampan ini. Oh iya, dimana Junseok?”

   ”Junseok masih kuliah, atau ada tugas kuliah mungkin. Dia mengirimkan salam dan permintaan maaf karena tidak bisa hadir malam ini, dan syukurlah Joonmyun sedang pulang.”

   Nyonya Oh mengangguk-angguk. ”Ah iya, aku lupa lagi… Joonmyun, EXO bukan?”

   Joonmyun tersenyum dan membungkuk.

   ”Ah, putriku sangat tergila-gila dengan grupmu… sampai apa yang ia lakukan hanyalah mengejar-ngejar kalian. Dia bahkan ikut ke Rusia, benar bukan? Kalian pernah ke Rusia kan?”

   Joonmyun mengangguk, ”Iya Nyonya Oh,”

   ”Nah, kan… anak itu, dia tidak mau memikirkan dirinya… padahal usianya sudah beranjak dewasa!”

   ”Berapa usianya?” tanya ibu Joonmyun penasaran.

   ”Dua puluh tiga tahun! Dan masih main-main, kuliahnya bahkan belum selesai, bagaimana? Joonmyun, kau grupmu… kalian apakan putriku?” Nyonya Oh bertanya main-main, dan Joonmyun hanya bisa tertawa. ”Dia benar-benar mengikuti EXO kemana-mana.”

   Ibu Joonmyun sampai terheran-heran, ”Benarkah? Aigo~ lalu dimana dia sekarang?”

   ”Ah iya pertanyaan bagus, dimana anak itu?” Nyonya Oh berdiri dan memandang berkeliling. ”Yeobo, kau lihat Jaehee?”

   Suaminya, yang masih berbincang hangat dengan ayah Joonmyun menoleh, kemudian menggeleng. ”Dimana anak itu? Suruh orang cari dia, Joonmyun itu EXO, kan? Setidaknya untuk malam ini, kita bisa menahan Jaehee untuk duduk diam disini karena ada EXO.” Dan Tuan Oh tertawa geli.

   ”Oh dia penggemar EXO?” ayah Joonmyun bertanya.

   ”Wah, benar-benar penggemar… putriku mengikuti EXO kemanapun mereka pergi, kau tahu?”

   ”Benarkah?”

   Joonmyun mengernyit, namun tetap tersenyum, karena terselip rasa penuh terima kasih juga, bahwa rupanya warga kelas atas pun mau mendengarkan musik-musik EXO. Joonmyun memprediksikan bahwa putri keluarga Oh, akan seperti putri-putri chaebol yang ia kenal, atau bahkan melihat reputasi keluarganya, bisa jadi seperti keluarga Khardasian.

   ”Iya! Iya! Aku segera kesana, tidak perlu menarik-narik tanganku!”

   Joonmyun, ibunya, dan ayahnya segera menoleh, karena kemudian Tuan dan Nyonya Oh buru-buru berdiri menghampiri seorang gadis, dalam balutan gaun putih, dengan potongan pendek di atas lutut di depan, namun berjumbai di belakang.

   Gadis ini sangat elegan, terlebih dengan tatanan rambut dan tiara kecil di atas kepalanya. Sayangnya wajahnya terlihat kesal, dan menunjukkan guratan-guratan kekeraskepalaan disana.

   ”Jaehee-ya, Eomma yang suruh pelayan memanggilmu. Ini ada tamu Appa dari Seoul… dan Eomma yakin kau akan suka dengan siapa yang mereka bawa dari Seoul.”

   Satu lagi luput dari pengamatan Joonmyun. Meskipun gadis itu mengenakan gaun dan sepatu yang cantik, tapi ia mengalungkan sebuah kamera DSLR besar, beserta lensa yang berat, yang kini tergantung di depan dadanya.

   ”Annyeonghaseyo. Oh Jaehee-imnida.” Jaehee langsung menjaga sikapnya dan membungkuk pada kedua orangtua Joonmyun.

   ”Selamat malam, Jaehee.” Sapa ayah Joonmyun.

   ”Malam, Jaehee-ya, kau sangat cantik,” puji ibu Joonmyun.

   Jaehee tersenyum, sopan dan terlihat ramah, ”Kamsahamnida, Eomoni juga sangat cantik.”

   ”Ya ya ya, kau bisa bilang ibu orang lain cantik, tapi tidak dengan ibumu sendiri, eoh?” protes Nyonya Oh. Gadis itu––Jaehee, memutuar matanya dengan sebal melirik ibunya. ”Ah iya, kau belum berkenalan dengan putra nyonya Kim dan Tuan Kim, tapi kurasa kau pasti mengenalnya… ini Joonmyun.”

   Dan akhirnya, pandangan Jaehee jatuh pada Joonmyun juga, setelah tadi sibuk merapikan image-nya yang berantakan di hadapan kolega-kolega sang ayah. Kedua matanya membelalak begitu mendapati siapa putra dari Nyonya dan Tuan Kim. Nyaris ternganga, Jaehee buru-buru menguasai diri, dan membungkuk.

   ”Annyeonghaseyo.”

   Joonmyun berdiri dan membungkuk kembali. ”Annyeonghaseyo.”

   ”Othe? Kau pasti senang kan datang ke pesta ini, eoh?” ibu Jaehee menyikut-nyikut lengan putrinya dengan senang. ”Kata siapa teman-teman ayahmu hanya ada orang-orang yang membosankan?”

   Jaehee tertawa, lebih tepatnya meringis, apalagi senyumannya perlahan-lahan berubah lebih mirip seringai, dan tiba-tiba saja matanya berubah datar. Ia kembali cemberut, tapi begitu ia menangkap wajah Nyonya Kim, ia kembali melemparkan senyum pasta giginya.

  ”Dia ini EXO, Jaehee-ya!” Nyonya Oh menunjuk Joonmyun.

   ”Aku tahu, Eomma~” desis Jaehee malu dengan perilaku ibunya. ”Aku lebih hapal member EXO dibandingkan Eomma!”

   Nyonya Oh berdeham, sedikit malu, karena apa yang putrinya ucapkan adalah kebenaran yang tak terbantahkan, meskipun ia sedikit heran. Kalau memang EXO, kenapa putrinya tidak bertingkah gila.

   ”Kenapa kau tidak menyapa Joonmyun?” ibunya kembali bertanya pada Jaehee.

   Jaehee berdeham, wajahnya sedikit merona. Joonmyun yakin karena ibunya, bukan karena dirinya sebagai anggota EXO.

   ”Katanya kau penggemar EXO,” pancing Nyonya Oh lagi, masih kukuh menatap putrinya yang nampak tenang dan keras kepala tentunya.

   Joonmyun tertawa, berusaha menyairkan suasana, ”Mungkin orang yang Jaehee-ssi sukai di EXO bukan saya, Eomoni.”

   Jaehee menatap Joonmyun, membelalak. ”Oh? Bagaimana kau tahu?”

   Bahkan Tuan Oh nyaris tersedak saat tengah menenggak champagne-nya bersama ayah Joonmyun. Kedua mata Nyonya Oh membulat, terkejut. Dan Ibu Joonmyun menatap Jaehee lekat-lekat.

   ”Oh Jaehee! Kenapa kau bisa tidak sopan begini?!” desis Ibunya, dan Joonmyun bisa melihat Jaehee meringis. Sang ibu pasti telah melayangkan cubitan ala ibu tiri pada lengan Jaehee.

   ”Tapi benar! Aku tidak menyukai Suho… atau Joonmyun! Aku menyukai Zhang Yixing!”

   ”Jaehee!” seru ayahnya.

   Ayah Joonmyun toh tertawa, dia merasa takjub dengan sifat terus terang yang Jaehee miliki. Dan ia bisa melihat putranya cukup kaget dengan keterusterangan gadis ini.

   ”Tapi, bukan berarti aku tidak menyukai semua member EXO, aku suka EXO, EXO Saranghaja!” Jaehee menatap Joonmyun lurus di manik mata, mengacungkan kepalan tangannya, seperti memberi semangat. ”Joonmyun-ssi, kalau boleh titip salam untuk Yixing.”

   Ibu dan Ayah Jaehee rasanya ingin menenggelamkan diri mereka di dalam kolam hias saat itu juga.

   ”Ahahahaha… oke,” Joonmyun terkekeh dan mengangguk.

   Dan Jaehee benar-benar jujur mengenai pernyataannya barusan mengenai dirinya merupakan fans Zhang Yixing atau Lay, rekan satu tim Joonmyun. Sepanjang makan malam, Jaehee sama sekali tidak mencari perhatian kepada Joonmyun, atau curi-curi pandang pada Joonmyun. Joonmyun tidak tahu, apakah itu karena statusnya sebagai putri tunggal keluarga Oh, atau memang benar-benar karena Jaehee tidak tertarik kepadanya.

   Sedikit rasa tidak nyaman bergerak di hatinya. Entah mengapa, ia sedikit terganggu dengan sikap gadis bernama Oh Jaehee yang sering kali mengambil gambar langit malam, pemandangan para tamu, atau ornamen-ornamen yang digunakan untuk pesta amal malam ini.

   Satu hal lagi yang Joonmyun bisa tarik sikap Jaehee sepanjang perjamuan ini (ya, Oh Jaehee memang tidak memerhatikannya, tetapi ia terus mengamati Oh Jaehee tanpa sadar) adalah Jaehee memang bukan tipe orang yang ramah. Atau sekedar berbasa-basi. Lain dengan Joonmyun, yang sesekali mau berbincang dengan kolega-kolega ayahnya, bahkan melayani permintaan para ibu-ibu pejabat yang meminta foto dengannya. Jaehee hanya duduk di tempat duduknya, minum champagne dengan anggun, bahkan sedikit terkesan angkuh. Tidak bergeming ketika bebera putra-putra teman bisnis ayahnya menghampirinya, mengajaknya berbincang. Meski begitu, jika kolega dan partner bisnis ayahnya yang mendekat, ia akan berdiri dan menyapa dengan sopan, sebentar, lalu kembali duduk dan memeriksa ponselnya, atau memeriksa kameranya.

   Menjelang puncak acara, dimana para tamu undangan memenuhi podium kecil untuk melakukan lelang amal, Jaehee tetap duduk di tempatnya, tanpa ada minat bergabung disana.

   Joonmyun duduk di meja bundar yang sama dengan Jaehee, yang terus melekakukan sesuatu pada kameranya. Tak ada siapa pun yang bisa diajaknya berbicara, Joonmyun memutuskan ikut melihat acara lelang dan berdiri, mengancingkan kancing jasnya.

   Ketika ia kira Jaehee tidak akan mempedulikannya pergi, Jaehee mengangkat wajahnya.

   ”Kau mau kemana?” tanyanya.

   ”Melihat lelang,” jawab Joonmyun pelan. ”Kau tidak mau lihat?”

   Sekilas, Jaehee melirik ke arah lelang. ”Aku dan orangtuaku punya banyak perbedaan pendapat soal amal, jadi tidak. Aku tidak akan menghambur-hamburkan uang sakuku untuk bersaing dengan orang lain membeli barang-barang yang mungkin tidak aku perlukan, demi amal, atau gengsi.” Ia mengangkat bahunya, dan kedua matanya kembali menatap Joonmyun. ”Kau mau ikut lelang?”

   ”Tidak, uangku belum sebanyak itu untuk, ehem, lelang.” Joonmyun tidak tahu kenapa ia menghindari kata-kata amal, karena Jaehee sepertinya akan menertawakan atau menghinanya jika mengeluarkan kata-kata itu.

   ”Untuk apa? Disana membosankan,”

   ”Aku pun… bosan disini,” pelan-pelan Joonmyun mengatakannya.

   Jaehee menatapnya lurus. ”Sejujurnya aku juga bosan dengan acara seperti ini. Kau mau jalan-jalan?”

   Oh?

   Jalan-jalan yang awalnya Joonmyun harapkan dengan Jaehee akan banyak berbincang-bincang dengannya, rupanya jauh dari perkiraannya. Jaehee mengajaknya memasuki kebun anggur yang letaknya di belakang taman tempat acara berlangsung. Cahaya disana membuat kebun anggur terang, dan indah tentunya.

   Harusnya disini bersama kekasih, pikir Joonmyun. Tapi ia malah bersama Oh Jaehee, putri chaebol yang cuek, yang tengah sibuk mengambil gambar pemandangan di dalam kebun anggur.

   ”Ehm, kebunnya bagus.” Puji Joonmyun. Joonmyun sayangnya bukan orang seperti Jaehee, yang tega membiarkan teman atau siapa pun yang tengah berjalan dengannya, meski kategori orang asing, dalam diam. Ia memang lebih senang berbincang, berbasa-basi, karena baginya, berbincang dengan orang lain merupakan jendela ilmu juga.

   Jaehee tidak bergeming, tetap mengambil gambar, kedua tangannya sibuk mengatur tombol-tombol ISO, frame, dan teman-temannya lagi. ”Terima kasih. Akan kusampaikan pada Ibuku.”

   Joonmyun terdiam, tidak tahu harus menanggapi apa.

   Tapi toh, ia tak menyerah.

   ”Hmm, kau kuliah di bidang fotografi?” tanyanya.

   Baru dengan pertanyaan ini, Jaehee menurunkan kamera dari wajahnya dan tersenyum geli. ”Kalau saja hal ini bisa kujadikan jurusan kuliahku, aku sudah lulus tahun ini.” Katanya, sambil kembali mengambil gambar.

   ”Oh, tapi kan jurusan fotografi sekarang sedang diminati.”

   ”Benar, aku yakin aku akan lulus sum cumlaude jika aku mengambil bidang itu,” sahut Jaehee tanpa menurunkan kameranya dan terus mengambil gambar. ”Aku mungkin sudah bisa membuka galeriku sendiri, hmm.”

   ”Tapi banyak fotografer yang tidak lulus atau mempelajari bidang itu dan bisa jadi fotografer handal,”

   Jaehee menurunkan kameranya untuk melihat hasilnya, sedikit memicingkan matanya, ”Betul.”

   Dan Joonmyun diam lagi, sedikit menghela napas, agak jengkel. Gadis ini benar-benar susah diajak berbincang-bincang. Selalu satu arah dari Joonmyun saja, dan sebentar lagi Joonmyun yakin ia akan menyerah.

   ”Tapi,” kata Jaehee lambat-lambat, menurunkan kameranya hingga tergantung bebas di lehernya lagi. ”Kurasa kau bisa mengerti ketika aku ingin dilihat karena karyaku, bukan karena siapa aku.”

   Joonmyun mengangguk, sedikit menatap sisi wajah Jaehee yang menatap ke depan dengan serius, meski keduanya tidak berhenti berjalan. Sedikit banyak, Joonmyun bisa mengerti sikap seorang Oh Jaehee. Dan penilaiannya pada gadis itu sedikit demi sedikit bertambah.

   Ia memang terlihat keras kepala, dan memang keras kepala. Ia terlihat sombong dan angkuh, memang demikian, tapi hanya dengan orang-orang tertentu saja. Tapi, ia tetap menghormati orang yang lebih tua, selayaknya memang seorang putri pengusaha kaya. Dan satu lagi, ia tidak ingin dilihat dari siapa orangtuanya, tetapi ia ingin dilihat siapa dirinya.

   Joonmyun tersenyum kecil. Mungkin alasan Jaehee tidak memperlakukannya seperti ia memperlakukan pemuda-pemuda putra teman-teman ayahnya yang lain, karena Joonmyun sendiri pun merasa enggan memamerkan kekayaan ayahnya. Ya, ayahnya memang kaya raya, tapi ya itu usaha ayahnya, bukan kekayaannya. Apa yang ia raih dan ia capai sebagai member EXO, itulah uang hasil jerih payahnya. Meski demikian, Jaehee yang penggemar EXO, sepertinya sangat bisa menempatkan siapa dirinya dan posisinya di acara amal ini. Bukan Suho EXO, tetapi putra teman ayahnya.

   Melihat wajah Jaehee yang menatap penuh sayang pada kameranya, sedikit banyak Joonmyun juga menangkap rasa sedih dan kesepian yang nyata. Dan Joonmyun tidak perlu Jaehee menjelaskannya dengan gamblang, ia bisa menangkap bahwa orangtua Jaehee tidak seperti orangtuanya, yang sangat mendukung apa pun keputusannya dalam berkarier.

   ”Hmm, kau kuliah di bidang apa, kalau bukan fotografi?” tanya Joonmyun pelan, setelah keduanya terdiam cukup lama.

   Jaehee terkekeh. ”Oh, kau takkan percaya kalau mendengar hal ini. Sosial Politik, Hubungan Internasional.”

   Kedua mata Joonmyun melebar, kaget. ”Benarkah? Wow.”

   ”Hahahaha, tahukah kau Joonmyun-ssi, kalau hanya kau yang kaget dengan pemilihan jurusanku ini.”

   ”Oh, tapi kan kau… sepertinya bukan tipe orang yang senang berkarier serius di dalam ruangan, seperti itu… kau tahu, dengan diplomasi, negosiasi… maksudku dalam dunia politik kan…”

   Jaehee mengangguk, ”Ya, banyak basa-basi untuk meraih kepentingan. Wah, Joonmyun-ssi kau tahu banyak soal politik. Ah, aku lupa… pelajaran favoritmu di album XOXO kan politik.” Untuk pertama kalinya dalam hari ini, Joonmyun bisa melihat kilatan di kedua mata Jaehee.

   ”Ahahaha, hanya… kalau kita tidak membaca berita, kita akan buta dunia. Aku tidak terlalu tahu banyak soal politik juga.” Joonmyun menggeleng-geleng.

   ”Wah, kau membaca berita~”

   ”Ya, tidak selalu dari koran karena terkadang saat koran sampai aku sudah tidak di rumah. Tapi kan sekarang berita bisa di akses dimana-mana.”

   Jaehee mengangguk. ”Aku juga jarang baca koran, lebih baik membaca artikel di internet…” keduanya berbelok dan kini di hadapan mereka jantung kebun anggur dengan tempat duduk yang dikelilingi lampu-lampu kecil, dan rumput-rumput hias segar.

   Joonmyun menatap bangku tersebut ragu-ragu, tapi Jaehee terus berjalan tanpa bertanya apa-apa.

   ”Joonmyun kau mau duduk?”

   ”Boleh.”

   Dan mereka berdua duduk di jantung kebun anggur. Keduanya masih bisa mendengar suara-suara lelang yang dikeraskan oleh pengeras suara meski sedikit sayup-sayup, tapi keduanya bisa mendengar gemercik air. Di sekitar situ pasti ada kolam lagi.

   ”Tamannya benar-benar indah.”

   Jaehee tersenyum lagi. ”Akan kukatakan pada ibuku. Tapi, aku setuju. Dari seluruh bagian rumah ini, aku paling suka tempat ini.”

   Joonmyun mengangguk-angguk. Melihat Jaehee diam lagi, sambil menatapi seluruh penjuru jantung kebun anggur, Joonmyun kembali memecah keheningan dengan bertanya, ”Kau pasti sudah punya banyak foto taman ini, Jaehee-ssi.”

   ”Dan akan lebih banyak lagi nantinya.”

   ”Kenapa kau tidak mengambil gambarnya?”

   ”Aku mau, tapi ada kau…”

   ”Aku bisa minggir…” kata Joonmyun ragu-ragu.

   Jaehee menggeleng. ”Bukan begitu, sepertinya bagus mengambil gambarmu di taman ini. Tapi sayang, kalau nanti tersebar… lebih baik aku rekam dalam sini saja.” Ia mengetuk pelipisnya.

   Joonmyun tidak tahu harus bersikap apa dengan pernyataan Jaehee barusan.

   ”Hmm, karyamu… kau bilang kau senang jika orang bisa melihatmu dari karyamu.” Kata Joonmyun lambat-lambat. ”Boleh aku lihat?”

   Jaehee menoleh, menatapnya dalam-dalam. ”Serius kau mau melihat karyaku, pengambilan gambarku yang kuanggap paling berharga?”

   ”Hmm, tentu.”

   ”Oke.” Ia tersenyum tipis, dan mulai mengutak-atik kameranya. ”Yang asli masih kusimpan di kamera, salinannya sudah ada di komputerku. Tapi… ini gambarnya…” dan ia menyodorkan kameranya pada Joonmyun yang mengambilnya dengan hati-hati dari kedua tangan Jaehee.

   Apa yang ia lihat benar-benar di luar bayangannya. Ia berpikir, bahwa Jaehee akan memberikannya pemandangan yang indah. Tapi ternyata tidak, hanya pengambilan gambar sederhana. Tanpa editan, tanpa diberikan efek. Masih benar-benar segar dari kamera kesayangan gadis itu.

   Zhang Yixing.

   ”Yixing?”

   Jaehee mengangguk. ”Waktu itu sepertinya masih di bulan April atau Mei, tahun 2012. Aku bertemu dengannya di bandara, bertemu EXO M, pada saat itu aku belum menjadi penggemar EXO, seperti yang tadi ibuku bilang.”

   Joonmyun menatap display gambar Yixing di depannya dalam-dalam. ”Lalu bagaimana kau bisa mengambil gambarnya?”

   ”Kurasa itu yang disebut cinta pada pandangan pertama,” dan untuk pertama kalinya, Jaehee tertawa.

   Joonmyun menoleh. Ia begitu terkesima melihat cara Jaehee tertawa lepas untuk pertama kalinya. Tidak ada kerut kekesalan, kekeraskepalaan, bahkan keangkuhan yang tadi ada di depan orang lain. Joonmyun sedikit tersentuh, karena Jaehee berarti merasa nyaman dengannya. Tetapi, sedikit banyak Joonmyun iri.

   Iri dengan Yixing.

   ”Kata orang, jika kita mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati, maka hasilnya juga akan terlihat benar-benar sepenuh hati.” Jaehee tiba-tiba berkata. ”Penulis yang mencintai tulisannya, akan menghasilkan tulisan yang begitu indah. Pelukis akan menghasilkan karya yang indah. Begitu juga fotografer, aku tidak tahu benar atau tidak, karena kalau dari kacamataku sebagai penggemar Yixing jelas foto-fotoku penuh cinta. Tapi foto ini, spesial.”

   Joonmyun tersenyum, tipis. ”Foto ini terlihat penuh cinta, kok.”

   ”Benarkah?” keragu-raguan, kecemasan, penuh harap, semua terbaca jelas pada wajah Jaehee.

   ”Iya, kau pasti sangat menyukai Yixing.”

   ”Itulah kenapa aku mengikutinya kemana-mana sejak itu. Seperti yang Ibuku bilang tadi…” Jaehee tertawa. ”Tapi kau jangan khawatir, aku tidak mengikuti kalian seperti sasaeng. Untuk apa ada teknologi dan lensa.”

   ”Kalau kau mengikuti Yixing kemanapun… berarti gambar Yixing bukan hanya ini, kan?”

   Dan diluar dugaan Joonmyun sama sekali, Jaehee mengangguk. Kedua matanya berbinar-binar, seolah-olah mengambil gambar Zhang Yixing adalah kebahagiaannya yang tak terkira di dunia ini.

   ”Wah, kau seperti fansite master saja.”

   ”Well, aku… memang punya fansite.” Aku Jaehee malu-malu.

   Kedua mata Joonmyun melebar kaget. ”Benarkah?!”

   ”Lovelyixing.”

   ”Astaga! Itu punyamu?!”

   Jaehee mengangguk-angguk. ”Joonmyun-ssi, kau tahu Lovelyixing, bagaimana kau bisa tahu?”

   ”Setiap member punya fansite yang selalu terlihat mencolok dan menjadi favorit. Ya, semua gambar yang diambil oleh fans sangat kami hargai, tapi seperti yang tadi kau bilang… ada sesuatu yang membedakan setiap foto bukan? Itulah yang membuat member bisa mengenalinya, dan mengenali fansite satu sama lain.” Jelas Joonmyun.

   ”Lalu kalau bagimu, fansite apa yang seperti itu?” tanya Jaehee penasaran.

   Joonmyun menatapnya lekat-lekat, menilai, dengan senyum miringnya yang khas. ”Lalu kau akan memberitahu mereka bahwa aku memilih salah satu fansite dibandingkan yang lainnya? Eyy, tidak…”

   ”Tidak, aku tidak akan bilang siapa-siapa! Aku janji!” Jaehee buru-buru mengangkat tangannya.

   ”Kau bisa tebak? Kau kenal fansite-ku kan?”

   ”Kenal, beberapa temanku…”

   ”Nah, kalau kau melihat fotoku dari mereka, mana yang menurutmu… mengambil gambarku dengan istilah yang tadi kau katakan ’mengambil dengan penuh cinta’?”

   Jaehee mengernyit, berpikir keras. ”Siapa ya… Made in Heaven? Ideal J? Ah, La Noblesse?”

   ”Hahahaha, La Noblesse dan Made in Heaven, kau benar.”

   ”Lalu bagaimana dengan fansite lain?”

   ”Mereka juga bagus tentu saja,” Joonmyun tertawa. ”Aku selalu menyempatkan waktuku untuk melihat bagaimana mereka mengambil gambarku. Terutama mereka yang sepertimu… kalian, baik sekali mau mendukung kami dimana pun. Pasti lelah…”

   Jaehee menggeleng, ”Jika kau mencintai pekerjaan itu, kau takkan lelah, iya kan?”

   ”Kau benar.” Joonmyun tertawa.

   Dan hening lagi, tetapi kali ini Joonmyun tidak merasa canggung. Kali ini ia merasa Jaehee lebih ramah, lebih terbuka, dan lebih menyenangkan. Ia senang karena bisa membuat Jaehee merasa demikian.

   ”Aku senang bisa melihat sisi lainmu selain seorang idol, Joonmyun-ssi.” Tiba-tiba saja Jaehee berkata demikian, membuat Joonmyun sedikit terkejut. ”Tapi, kurang lebih aku senang… apa yang kau tunjukkan di televisi dan di kehidupan nyata tidak jauh berbeda.”

   ”Hmm, kau tidak suka yang di televisi bertingkah lain, dan kehidupan nyata bertingkah lain?”

   ”Betul!” Jaehee menjentikkan jarinya. ”Munafik. Untuk apa?”

   ”Mungkin mereka hanya gugup.”

   ”Ya, kalau memang ternyata alasan mereka karena gugup atau belum terbiasa sih aku maklum. Tapi kalau hanya dibuat-dibuat, pencitraan. Aku tidak suka… dan aku senang melihatmu ternyata tidak begitu.”

   Mau tak mau Joonmyun tertawa.

   ”Lalu, menurutmu… apakah Yixing adalah tipe orang yang berpura-pura, atau ia menunjukkan sikap aslinya di layar televisi?” tanya Joonmyun pelan. Ia merasa tidak seharusnya ia menanyakan hal itu, tetapi rasa penasarannya tetap tidak bisa dibendung.

   Dan Jaehee tidak merasa tersinggung dengan pertanyaannya.

   ”Tidak sedikit pun aku meragukan sikapnya.” Jawab Jaehee, tersenyum lembut menatap ke semak mawar yang melingkari kebun anggur di hadapan mereka. ”Aku bertemu dengannya, saat aku belum tahu siapa dia. Dan tidak sedikit pun sikapnya berubah…”

   Joonmyun menatap Jaehee dalam-dalam.

   ”Yixing beruntung ya…”

   ”Hmm?” Jaehee menoleh, terkejut dengan ungkapan Joonmyun barusan. ”Beruntung kenapa?”

   ”Memiliki seorang fans sepertimu.” Joonmyun menjawab, ”Kau yakin kau hanya menyukainya sebagai fans, Jaehee-ssi?”

   Wajah Jaehee sedikit merona, tapi tertawa. ”Yakin. Aku memang menyukainya, tapi… kurasa tidak harus sampai tahap itu.”

   ”Kenapa?”

   ”Entahlah, ada batas antara penggemar dan idola, bukan?”

   ”Bukan karena kau sudah ada yang punya?” Joonmyun balas bertanya dengan main-main.

   Dan sekali lagi ia mendapati Jaehee tertawa.

   ”Aku bisa pastikan aku single, Joonmyun-ssi.”

   ”Kalau Yixing mendekatimu, apa kau akan menerimanya?”

   ”Hei, pertanyaan macam apa itu?”

   Joonmyun mengangkat bahu. ”Tentu saja, aku bertanya seandainya… apa pun di dunia ini bisa terjadi.”

   ”Entahlah. Aku sudah sangat menyukainya, tapi bukankah sangat beresiko jika perasaan yang indah ini dipertaruhkan kalaupun ada kesempatan untuk bersama dengannya? Jika nanti kami berkencan lalu tidak berhasil… rasa ini cuma jadi kenangan saja, kan?”

   ”Benar,” Joonmyun mengangguk-angguk setuju. ”Jaehee-ssi, kalau begitu kau percaya pada kekuatan cinta pada pandangan pertama?”

   ”Ya, tentu saja.” Lalu Jaehee menoleh dan menatapnya heran. ”Kenapa kau bertanya begitu?”

   Joonmyun tersenyum, membungkuk. ”Karena sepertinya, aku jatuh cinta pada pandangan pertama.”

   ”Benarkah?” kedua mata cokelat Jaehee melebar. ”Dengan siapa?”

   ”Kalau kukatakan denganmu, apakah kau akan marah?”

   ”Apa?”

   ”Kalau kukatakan aku jatuh cinta, pada pandangan pertama denganmu… apakah kau akan marah? Dan memperlakukanku seperti anak-anak teman ayahmu yang lain?” tanya Joonmyun. Jantungnya berdebar-debar, ia tidak pernah melakukan hal seperti ini, senekat ini.

   Dan Jaehee, mulutnya ternganga, tidak mempercayai apa yang ia dengar, tetapi ia tidak dapat bergerak dari tempatnya duduk sekarang.

   ”Joonmyun-ssi kau sedang bercanda, kan?”

   Joonmyun menggeleng, ”Tidak, aku tidak bercanda.”

   ”Tapi… kita baru bertemu…” Jaehee terbata-bata.

   ”Iya, kita baru bertemu… maka, boleh aku mengenalmu lebih dulu?”

*           *           *

Minggu, 14 September 2014

09.00 KST

Seoul International Hospital

Kedua mata Jaehee terbuka, kerongkongannya terasa gatal, tak lama kemudian ia mulai terbatuk-batuk dengan hebatnya. Seorang wanita buru-buru membantunya duduk dan memberikannya minum, membantunya memegang gelas juga, dan dengan sigap segera menekan bel panggilan bagi perawat. Tak lama setelah Jaehee berhasil menghabiskan satu gelas air, perawat datang bersama seorang dokter. Keduanya berseragam putih bersih, di dalam ruangan yang putih bersih ini.

   Jaehee kembali berbaring. Matanya terasa berat, lehernya terasa ringan setelah ia meneguk air, tetapi sekujur tubuhnya kaku dan lemas. Ia membiarkan perawat memeriksa suhu tubuhnya, denyut nadinya, dan tekanan darahnya. Juga ketika dokter memeriksakan tubuhnya dengan stetoskopnya. Yang ia inginkan hanya tidur, karena matanya berat sekali, dan tubuhnya lemas sekali.

   ”Bagaimana perasaanmu, Nona Jaehee?”

   ”Mengantuk,” jawab Jaehee. Sedikit asing mendengar suaranya yang serak, seolah-olah ia berada dari jauh. Tapi Jaehee tahu itu karena ia tidak menggunakan suaranya sama sekali.

   Dokter menghela napasnya, ”Kau dehidrasi cukup parah, Nona Jaehee. Makan dan minum yang banyak, untuk mengembalikan kebugaran tubuhmu. Dan untuk sementara kau harus dibantu oleh selang infus.”

   Jaehee hanya bergerak mencari posisi yang nyaman pada tempat tidurnya, dan membuang pandangannya.

   ”Kudengar dari ayah dan ibumu, kau menolak makan dan minum sama sekali hingga nyaris tiga hari. Apa yang kau pikirkan, Nona Jaehee? Sudah lama kau tidak seperti ini. Kau bisa kembali seperti dulu…”

   ”Aku tidak apa-apa,” jawab Jaehee malas, dan tidak mau menatap dokter keluarganya yang sudah merawatnya sejak dulu. ”Dan hah… apa?” ia mendengus, tetap tidak mau menoleh, ”Ayah dan ibuku yang bilang aku tidak mau makan dan minum? Memang mereka ada dirumah? Ah iya, ada… tetapi mengurung putri mereka satu-satunya.”

   Dokter Jung, nama dokter itu, terlihat sedikit tidak nyaman. ”Perawat Han kau boleh pergi, tolong ambilkan sarapan yang masih hangat untun Nona Oh ya.”

   ”Tidak perlu, aku tetap tidak mau makan!”

   ”Ambilkan,” Dokter Jung tetap memerintahkan perawat itu untuk pergi, yang langsung dipatuhinya tanpa banyak berkata apa-apa. Segera setelah perawat itu keluar, Dokter Jung kembali menatap Jaehee. ”Jaehee-ya,” ia menanggalkan sapaan formalnya, ”Kau tahu orangtuamu hanya mengkhawatirkanmu, bukan?”

   ”Tidak, mereka tidak mengkhawatirkanku. Mereka mengkhawatirkan apa yang terjadi pada Oh Enterprise jika pewaris tunggal mereka tidak memiliki kemampuan yang layak untuk meneruskan perusahaan mereka, Dokter Jung. Jangan kau kira aku bodoh,” dan kali ini kembali menoleh, menatap Dokter Jung tajam. ”Mereka tidak akan bisa mengontrolku sampai kapanpun!”

   Dokter Jung menghela napas dalam-dalam. ”Sebagai salah satu teman ibu dan ayahmu, aku mengerti kondisi itu. Tetapi, dari segi kesehatan, aku yakin orangtuamu juga tidak ingin melakukan ini padamu. Mereka mengurungmu demi kebaikanmu, agar kau dapat introspeksi diri.”

   ”Introspeksi diri apa? Dokter Jung, kau tidak tahu apa-apa! Kau tidak tahu apa yang aku alami, dan apa yang dua orangtuaku perbuat! Jadi sebelum kau lebih lanjut mempermalukan dirimu dengan ketidaktahuanmu mengenai aku dan keluargaku, lebih baik kau tutup mulut!”

   Dokter Jung terlihat shock mendengar kata-kata penuh kebencian yang keluar dari bibir Jaehee yang pecah-pecah dan luka di beberapa tempat karena digigit menahan marah ketika ia dikurung.

   ”Jaehee, aku hanya…”

   ”Diamlah! Jadilah dokter yang baik, yang hanya membantu pasiennya sembuh, dan berhenti ikut campur urusanku. Karena aku tidak butuh nasihat orang sok tahu lebih banyak lagi. Aku hidup untuk diriku, bukan untuk oranglain, apalagi menuruti kata-kata orang lain!”

   Dokter Jung menghela napas lagi, putus asa. ”Jaehee, kau ingat dulu kau pernah depresi kan?”

   ”Wow, kau kira ingatan itu mudah kuhapuskan, Dokter Jung? Kukira kau hanya bodoh, tidak benar-benar bodoh!”

   Dokter Jung harus menahan diri agar tidak terpancing emosinya. Kata-kata Jaehee selalu menusuk. ”Kurasa aku bisa mengatakan dengan posisi sebagai doktermu bahwa kedua orangtuamu melakukan hal yang tepat saat ini. Mereka hanya tidak ingin kau kecewa lagi, kecewa seperti dulu… saat…”

   ”Perlukah kau ungkit itu, Dokter Jung?!” tiba-tiba Jaehee duduk. Ia menatap Dokter Jung di manik matanya. Napas Jaehee memburu, dadanya sesak, karena ia benar-benar marah!

   Bagaimana bisa seorang dokter keluarga begini ikut campurnya dengan kehidupannya? Seolah tidak cukup hanya orangtuanya yang selalu menentukan pilihan yang harus ia ambil, dan kesalahan yang ia buat? Ia hidup, kesalahan, kebahagiaan, dan pilihan, Jaehee hanya ingin ia memutuskannya sendiri. Bukan orang lain!

   ”Kalau tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan lebih baik kau keluar! Karena semakin lama kau bicara aku semakin muak!”

   ”Maafkan aku, Nona Oh. Aku permisi.”

   ”Dokter Jung, kalau kau bisa carikan dokter lain aku akan sangat berterima kasih. Kau tahu? Itu hak pasien untuk meminta rekomendasi dokter lain ketika ia merasa dokternya begitu payah dalam menanganinya!”

   Dokter Jung tercengang, namun tak banyak berkomentar, ia akhirnya keluar dari dalam ruangan. Dan pelayan wanita yang selalu menemani Jaehee, yang tadinya menunggu di pojok kamar, diam saja, kini beringsut mendekat.

   ”Nona Jaehee, apakah Nona mau makan?”

   Min, nama pelayan dan pengasuh Jaehee sejak kecil ini, terlihat khawatir. Benar-benar khawatir. Mungkin Min memang masih muda, ia mengasuh Jaehee kecil ketika ia sendiri masih amat muda. Ia memperlakukan Jaehee seperti adiknya sendiri, dan justru dari Minlah, Jaehee bisa merasakan rasa dan kasih sayang yang tulus.

   ”Aku tidak mau makan.” Keluh Jaehee kembali berbaring. ”Aku mau tidur!”

   ”Nona, perut Nona sudah bermasalah terus…” Min terus membujuk. ”Nona benar-benar tidak makan apa-apa selama beberapa hari ini. Saya mohon, Nona harus makan.”

   ”Ponselku mana?”

   Min memejamkan matanya kuat-kuat. ”Kalau Nona Jaehee mau makan, saya akan pinjamkan ponsel saya.”

   Dan untuk pertama kalinya semenjak dua minggu di kurung di dalam loteng oleh kedua orangtuanya, wajah Jaehee bercahaya. ”Jinjja?!” ia menaikkan alisnya. ”Kau janji?”

   ”Saya janji, Nona, tapi Nona harus makan!”

   ”Oke!”

   Sebetulnya Jaehee memang lapar. Dua minggu di kurung, ia mencoba menurut dengan tetap makan, namun tetap bersikeras tidak mau kembali kuliah jika orangtuanya tidak mau memindahkan jurusannya. Ponselnya disita, kameranya disita, dan tentu saja semua barang berharganya disita. Ia tidak bisa menghubungi siapa pun, dan minta tolong pada siapa pun.

   Tapi ia tetap tidak mau meneruskan pendidikannya yang membosankan itu. Politik bukan bidangnya, ia adalah orang yang tidak bisa diam, dan lebih senang di udara bebas. Maka ia mulai mogok makan, dan sepertinya kedua orangtuanya tetap tidak perduli meski ia sudah masuk ke rumah sakit begini.

   Ia harus cari cara lain! Dan demi menyukseskan rencananya itu, ia harus punya tenaga.

   ”Ya, Min Eonnie, kau tidak punya pakaian lain? Pakaian rumah sakit menggelikan.”

   ”Ada, Nona mau mandi?”

   Jaehee mengangguk, meneguk supnya. Makanan rumah sakit tidak pernah enak, tapi demi rencananya ia harus punya tenaga, dan bukan waktunya pilih-pilih makanan.

   Sarapannya habis dalam sekejap, dan kini Jaehee mandi. Mencuci rambut, hingga kaki, memberishkan wajahnya yang sudah kusam dalam dua minggu tidak melihat matahari, dan tentu saja menggosok gigi. Disimpannya dengan hati-hati perlengkapan mandi yang ia dapat dari rumah sakit di dalam pouch yang sudah disediakan, kemudian ia mengenakan blouse dan jins yang Min siapkan. Setelah sudah selesai, Jaehee keluar.

   ”Nona terlihat lebih segar.” Senyum Min.

   ”Ponselnya mana?” tanya Jaehee menyodorkan dua tangannya disertai dengan senyuman super manis.

   Min menghela napas dalam-dalam dan mengeluarkan ponsel dari dalam kantung seragam pelayannya.

   ”Eonnie, belikan aku buah dong.”

   ”Buah?”

   Jaehee mengangguk. ”Apel, anggur, kiwi, apa saja asal jangan jeruk, ya? Yang sudah dipotong-potong.”

   ”Baiklah,” Min berdiri dan bergegas meninggalkan ruangan.

   Jaehee menatap ponsel Min berbinar-binar, ”Untung semua kontak aku back up di email.” Dan ia mengutak-atik ponsel Min, hingga email-nya memberikan data lengkap kontaknya.

   Dan ini dia. Kontak Joonmyun!

   Sayangnya ponsel Joonmyun tidak dapat dihubungi, begitu juga ponsel member EXO lainnya. Mengerutkan kening, Jaehee memeriksa tanggal dan menepuk dahinya. Ia baru ingat.

   ”Konser Thailand.”

   ”Lalu siapa yang bisa aku mintai tolong… ah!” dan ia menghubungi nomor itu.

   Cukup lama terdengar nada sambung hingga seseorang disana menjawab ragu-ragu. ”Yeoboseyo.”

   ”Yeoboseyo, Nayeon-ah, ini aku… Jaehee.”

   ”OMONA!!! HANA-YA, HANA-YA! JAEHEE EONNIE! Eonnie, Eonnie gwenchana? Eonnie tidak apa-apa kan? Apa yang terjadi? Eonnie kemana saja??? Apartemen Eonnie disita…”

   Hati Jaehee mencelos. Nayeon dan Hana saja begini paniknya mencarinya, bagaimana dengan yang lain? Bagaimana… dengan Joonmyun. Lalu? Apa? apartemennya di sita?

   Jaehee menggeleng-gelengkan kepalanya. Ayahnya benar-benar sudah kelewatan.

   ”Aku baik-baik saja, Nayeon-ah. Untuk sekarang ini…” bisik Jaehee, sedikit tersenyum. ”Maaf sudah membuat kalian khawatir, tapi… bisa kita bertemu sekarang? Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan disini, ponselku juga… disita.”

   ”Iya, iya tak apa! eonnie mau bertemu dimana? Tapi, Oppa belum pulang… mereka sedang di perjalanan menuju Seoul.”

   ”Iya tak apa-apa, bagaimana kalau kita bertemu di sungai Han?”

   ”Sekarang? Aku dan Hana kesana!

   ”Oke, sampai ketemu.”

   Jaehee menghela napasnya dalam-dalam dan meletakkan ponsel Min di atas ranjangnya. Ia sudah cukup hapal peta rumah sakit ini. Dan ia yakin bisa melarikan diri. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, sedikit menyesal bahwa ia akan membuat Min kena masalah dengan perbuatannya ini, tetapi ia tidak bisa menemukan cara lain lagi.

   Menahan sakit, ia tarik infusnya hingga terlepas dari tangan kirinya. Rasa ngilu langsung mendera sekujur tangan kirinya, dan ia menggunakan handuk kecil untuk menyeka darahnya. Perlahan dengan bantuan jarum infusnya ia membuka gelang rumah sakit yang melilit tangan kanannya. Dan ia buru-buru keluar dari kamar perawatannya, melewati perawat yang tidak curiga karena penampilannya yang biasa-biasa saja, tidak seperti pasien, hingga akhirnya ia menemukan lift yang membawanya ke basement.

*           *           *

”Jaehee Eonnie mengajak bertemu?”

   Nayeon mengangguk. ”Kita harus cepat, sepertinya Eonnie sedang ada masalah. Kau kirim pesan saja untuk Joonmyun Oppa, jadi kalau nanti mendarat Oppa sudah dapat kabar.”

   ”Oke,” dan Hana menurut, mengeluarkan ponselnya memberi kabar.

   Berhubung ini adalah hari Senin, dan kesibukan orang rata-rata dimulai di hari ini, ditambah lagi Nayeon dan Hana tidak membawa kendaraan pribadi melainkan menggunakan kendaraan umum, maka cukup lama baru mereka bisa tiba di trek lari sungai Han, tempat dimana mereka berjanji bertemu Jaehee.

   Dan keduanya langsung berlari menghampiri sosok Jaehee yang tengah berdiri di jembatan menatap sungai di bawahnya, sambil melamun. Musim panas sudah mulai bergeser menjadi musim gugur, dan Jaehee tidak mengenakan mantel, sehingga Nayeon dan Hana bisa melihat gadis itu sedikit gemetar.

   ”Eonnie!”

   ”Jaehee Eonnie!”

   Jaehee menoleh, tersenyum lemah. Pada saat itu juga, Nayeon dan Hana merasa ada yang tidak beres dengan kakak mereka satu itu. Wajah Jaehee sedikit pucat, belum lagi tubuh berisinya yang kini terlihat lebih kurus, dan mata cokelatnya yang biasanya bercahaya, kini nampak kuyu.

   ”Eonnie! Astaga, Eonnie… apa yang terjadi?” tanya Nayeon begitu sudah tiba di depan Jaehee.

   Jaehee tersenyum, tidak langsung menjawab. ”Bagaimana kabarmu, Nayeon-ah? Hana-ya?”

   ”Eonnie, gwenchana?” tanya Hana khawatir.

   Jaehee mengibaskan tangannya. ”Panjang ceritanya. Intinya aku baru saja berhasil kabur.”

   ”Kabur?!”

   ”Sstttt!”
Nayeon dan Hana buru-buru menutup mulut mereka dengan kedua telapak tangan mereka. Jaehee memandang berkeliling, kemudian nyengir. ”Aku sebetulnya tidak mau merepotkan… tapi, apa boleh…” dan kepala Jaehee mendadak kembali berkunang-kunang.

   ”Eonnie, ada apa?”

   ”Eonnie…”

   ”JAEHEE EONNIE!”

   Dan tepat sebelum tubuh Jaehee yang limbung jatuh menghantam aspal, Nayeon dan Hana sudah menangkapnya. Sesaat sebelum kehilangan kesadarannya, Jaehee masih sempat berbisik. ”Jangan bawa aku ke rumah sakit, kumohon.”

-Kkeutt-

Holaaaa, long time no see~ sekali ini tembus 5000 words, jadi udah cukup panjang yah… 25 page lho aku ngetiknya hahaha. Biasanya cuma 12-15. Sampai jumpa di Veiled berikutnya ppyooong~

38 thoughts on “.:JunHee Veiled:. Flashback

  1. elsacessara says:

    Itu jaehee kenapa pingsan astaga? Dan itu yg di awal flashback pertemuan pertama suho sama jaehee ya? Eon buruan dilanjut lagi ff ny? Gak sabar pengen tahu gimana akhirny hubungan suho sama jaehee. Konflikny jangan lama2 ya eon *eh 😀 fighting! ^^

  2. galakto_gal says:

    KYAAA EOON!!
    INI FLASH BACK PAPA KIM KETEMU SAMA JAEHEE YA?! UWAAAH!! PAPA KIM SOK SWEET. PAKE ACARA CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA!!

    Duuuh. bisa bayangin muka suho malu-malu kucing ngomong suka.
    Kaaaak ini uda panjang tetep aja ujung-ujungnya nanggung. kapan lanjutnyaaaa???

    SUKA KAK SUKAA DITUNGGU LANJUTANNYA YAAA

    XOXO
    GAL

  3. hyena lee says:

    Tnyata bgini tooh flashbacknya jaehee sama suho oppa…. so sweet bgt. Itu suho oppa pake bilang jatuh cinta oada pandangan pertama. Cie cie. Sebenernya masih penasaran sih gmana cara suho oppa itu ngedeketin jaehee eonni. Dan ternyata jaehee eonni itu mogok makan gara gara kuliah ya? Apa gara” pacaran sama suho oppa juga? Akhirnya jaehee bisa kabur jugaa. Tapi dya pingsan. Kasian ama jaehee eonni. Ditunggu nextnya eon. Penasaran bgt niih. Hehehe

  4. Prihartini khoirun nissa says:

    CERITANYA NGEGANTUNG EONNII!!? itu jaehe kenapa, aku kira pas dia dikurung itu ada hubungannya sama EXO tapi ternya masalah jutusan kuliah toh,. Lanjut dong peliss ngegantu sampe pingsan masa kan lagi seru-serunya nihh
    semagat eon bikin ceritanya!

  5. Lisa says:

    Ini knapa gini kak? Kok jaeheenya galak banget? Mulutnya tajem sekaliii:3 selamatkan jae kak biar sembuh biar ketemu joonmyun lagiiii.. Ditunggu lanjutannyaa… Asap hohoh…..

  6. baekmyeons says:

    aaaaaa finally update juga JunHee nya.
    akhirnya dri beberapa ff diselimuti rasa rindu dan sepi sekarang ada pencerahaan.
    Ohh kisah awal jaehee da junmyeon dri acara amal keluarga bnr2 psangan yg cocok sama2 chaebol. Jaehee emang gak habis akal deh. apapun dia lakukan biar keluar dri kurungan sang ayah. junmyeon, rasa rindumu akan segera berakhir!
    Jaehee pingsan?? pasti karena gak makan berhari2 deh.
    hanna, nayeon take care jaehee eonni.
    duh jdi gak sabar next chapt nya. ditunggu ya ka nisya
    pyongg~~~

  7. it'sme Min2 says:

    tumben banget panjang dan saya puas ngebaca’a ,,,, jadi jaehee pernah depresi dan ada apa dgn keluarga Oh ????? penasarannnnnnnnnnn

  8. hana ardhani says:

    yaampun jaehee pernah depresi ternyata.Ampe galak gitu hihi.Gara gara gamakan jadi pingsan hadeuh._.v jaehee harus sembuh biar bisa ketemu joonmyun! ditunggu next chapternya ya kak!

  9. winnurma says:

    wahh jd gitu awal pertemuan mereka?? lucu
    kasian jaehee sempet depresi juga
    udah gak sabar ni eon mau lihat reaksi junmyeon pas ketemu lgsg sama jaehee…
    fighting eon

  10. shantyjung says:

    sedih baca endingnya 😥 kasihan amat di sandra jaeheenya.. org tuanya pabbo itu mah..ternyata gthu yah ketemuan mereka 🙂 lanjutkan….

  11. Daeshi Lee says:

    Wuaaaaa akhirnya part yg paling bikin aku penasaran selama ini nongol. Flashback asal muasal couple kece ini. Ga nyangka Jaehee yg dlunya secuek itu bisa klepek2 ke Junmen kayak sekarang 😄 ㅋㅋㅋ
    Suka bgt bagian flashbacknya. Suka sifat kedua manusia yang dimabuk asmara ini. Hahahaha
    Aku penasaran maksimal sama alasan depresinya Jaehee dimasa lalu. Apa krna persoalan cinta juga? Duhhh penasaran bgt 😢
    Ditunggu bgt JunHee ketemuan. Lepas kangen berminggu2 ga ketemu. Pasti Junmen shock kl tau Jaehee pingsan dan ngeliat kondisinya kayak skrg. Smoga Jun bs bantu Jaehee.
    Pdhal kesan awal keluarga Jaehee ke Jun bagus bgt. Syg endingnya kayak ga terima gt Jaehee sm Jun 😢

  12. nayatiara says:

    jaehee kok kasian banget sih 😦
    makan dong, marah boleh tapi ngga boleh sampe menyakiti diri sendiri gitu dong 😦
    dan, Jaehee pernah depresi? whyyyyy?
    berani banget coba dia kabur kabur gitu, kalo ketauan gimana……
    going to read the next one, hihihi

  13. kjmlady says:

    jadi ternyata sebelumnya jaehee udh kenal junmyeon ya… waktu kecil juga
    tapi lucu pas jaehee nya jujur fans yixing ya ampun nyesek deh jadi junmyeon
    cinta pandangan pertamanya junmyeon, jaehee. cinta pandangan pertamanya jaehee, yixing. puk puk kimjun kkkkk
    jaehee maksa bgt sih ketemu, aturan telfon aja satu” trs jelasin semua. kan masih sakit

  14. sy_sagita says:

    Spertinya keluarga jaehee tajir gila yee,,hihiihi,,btapa konyolnya saat jaehee dng plos bilang gg ngefans sma suho tp yixing,,hahhahah,,sperrinya suho bneran jtuh cinta sma jaehee pndngan pertama,,dy iri sma yixing jaehee fans yixing,,hihiihi,,sdikit syok junmyeon nebak jaehee hri prtama ktemu,,ini bsa dibilang keren or nekat ya,,hahahha,,2 minggu disekap di loteng rmah,,ksian.nya jaehee,,spertinya dy tertkan bngt sama ortunya,,ortunya mmaksakan khendak sndiri,,gila jg sih gg makan minum bgiti lama,,untung jaehee gg ap2,,depresi???jaehee smpat depresi knp ya,,syok jg sih dng kata2 kasar jaehee sm dokter pribadinya smoga dokternya mklum,,dy kn hnya ingin mnyembuhkan,,jaehee kabur….n untung bsa ktemu sma hana nayeon cepet klo gg kburu pingsan duluan,,aahhggg smoga gg tmbah parah ya,,junmyeonie cpetan dteng donk tlongin jaehee,,

  15. dyorawr12 says:

    nah kan ada masalah besar banget wkwkwk aku kia nggabakal dapet cerita sebelum junhee jadian akhirnya ternyata ada juga hahaha cheesy juga ya junmen waktu ngajakin pacaran udah mulai cemburu2 juga ternyata sama yixing kkkk~

  16. Cloudy cho says:

    Idih flashbacknya.. Bgitu toh cerita Junhee awalnya bs bersatu? D luar ekspektasi hahahaa
    oke, lalu makin k sini makin rumit.. Itu Jaehee knp? Masa lalunya knp?? Ortunya tega bgitu, smpe” Jaehee harus kabur x.x

  17. Hyorim says:

    Baru tau, jadi begini awal ketemunya couple favorit ini.
    love at the first sight yaa oppa?

    nyesek bgt ya baca part ini
    masa depan jaehee diatur bgt yaa sama ortunya
    smg jaehee gak disuruh memilih

  18. yaengg says:

    Yihaaaa akhirnyaa bisa kabur! Bener bener deh orang tuanya niat banget ngurung wkwk. Keliatan banget ya si jaehee orang yang nggak mau dipaksapaksa wkwk aku kaget pas si jaehee marah marah sama dokter jung wkwk padahal dia temen orang tuanya loh. Udah pusing sama frustrasi banget mungkin ya:( ngomong ngomong jaehee fristrasi apa kak? Kok kayak parah sampe nggak mau diingetin huhu

  19. handayaniwidya0 says:

    Akhirnyaaaaaa…
    ternyata gini toh awal mula junmyeon nembah jaehee… kalo aku jadi jaehee udah aku tampol muka junmyeon.. cz I don’t believe in love at first sight. (oke cukup sebelum aku koar2 curcol di sini dan nyepetin mata kamu..hehe)
    moga aja junhee bisa ketemuuuuuuuuu.

  20. Junmyunni says:

    Sempet bingung apa aku bacanya kurang teliti? Ternyata flashback, wkwkwk
    Sediiih, ga bayangin jadi joonmyun gmana siiiih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s