[KaiNa Piece] DANGER

KaiNa

Title : Danger

Author : Ima (@kaihyun0320)

Casts : Kim Jongin (Kai), Lee Hana (@inhanaLee)

Other casts : EXO

Rating : PG+15

Please read Lee Hana’s Profile first.

Enjoy ^^

© INDAYLee’s Staffs 2014

[KaiNa Piece] Danger

July 9th, 2014

EXO’s dormitory, Seoul

04.14 PM KST

Keadaan dorm tidak begitu baik di mata Kai hari itu. Kepalanya pusing, badannya demam, dan batuk yang tidak juga berhenti. Ditambah cedera pinggangnya yang sedikit kambuh juga. Setelah jadwal yang sangat padat akhir-akhir ini, akhirnya daya tahan tubuhnya melemah juga. Bahkan ia tidak berniat untuk pergi dari dorm sedikit pun.

Kai merasakan pusing yang amat sangat ketika bangun dari posisi tidurnya. Kerongkongannya terasa sangat kering dan ia berjalan gontai keluar dari kamar untuk mengambil minum. Sepertinya semua penghuni dorm sedang punya acara masing-masing karena ia hanya ditinggalkan bersama Tao, Lay, dan Chen di sana. Ah ditambah Chanra juga berada di ruang tengah, gadis itu lebih sering main ke sana setelah kasus Kris waktu itu.

“Sudah lebih baik?” tanya Lay begitu melihat sosok Kai dengan wajah pucat keluar dari kamar dan beranjak ke dapur.

“Belum. Uhuk uhuk,” Kai duduk di meja makan dan menghabiskan air putih di dalam gelasnya dalam beberapa kali teguk saja. Ia bahkan harus sedikit mengernyit karena rasa sakit di kerongkongannya.

“Wajahmu pucat sekali, tidak mau periksa ke dokter?” Chanra tiba-tiba bersuara dari arah sofa, ikut memperhatikan Kai yang tengah menopang kepalanya di meja makan.

“Tidak perlu—uhuk! Aku istirahat saja,” jawab Kai seadanya lalu kembali beranjak dari kursi meja makan untuk kembali ke kamar.

“Hana tahu kau sakit?” tanya Chanra lagi tepat sebelum Kai membuka kenop pintu kamar.

Kai menghela napas panjang lalu menggeleng pelan. “Dia sedang kerja. Aku tidak mau mengganggunya karena berita ini. Tolong jangan beritahu Hana dulu.”

Chanra hanya mengangguk patuh lalu memperhatikan sosok lemah Kai yang menghilang di balik pintu. Masih bisa dihitung jari berapa kali Kai sakit parah seperti itu. Hanya ketika cedera pinggang atau demam saja sejak debut. Tidak sampai batuk yang tidak berhenti seperti itu. Dan Chanra sudah seharusnya memberitahu Hana tentang keadaan laki-laki itu.

Chanra segera membuka ponselnya dan mencari nomor telepon Hana. Semoga gadis itu sudah menyelesaikan jadwal shift kerjanya.

“Hana-ya?” Chanra bertanya dengan ragu ketika nada sambungnya berhenti setelah cukup lama menunggu.

Ne, Ra-ya? Ada apa?’ terdengar suara Hana yang membuat Chanra sedikit lega. Ia mencoba tidak memedulikan tatapan heran Tao di sebelahnya.

“Kau sudah pulang?”

‘Sebentar lagi. Kenapa?’

Chanra menghela napas sejenak. “Jongin sakit. Cukup parah juga dan dia tidak mau memberitahumu. Tapi kau harus tahu keadaannya, jadi jangan lupa mampir ke dorm pulang kerja nanti.”

‘Jongin sakit apa?’ terselip nada khawatir dari ucapan Hana di sana.

“Datang saja. Jongin sedang istirahat di kamarnya. Sudah ya, Hana-ya. Annyeong,” balas Chanra seraya tersenyum simpul kemudian menutup teleponnya pada Hana. Ia heran kenapa Kai tidak mau memberitahu dengan alasan mengganggu. Di dalam sebuah hubungan percintaan seperti itu, harusnya mereka saling memberi kabar dan saling mengerti. Mungkin hubungan Kai dan Hana memang belum benar-benar terbuka seperti apa yang dipikirkannya.

***

Tidak peduli dengan angin yang berhembus kencang, Hana menerobos orang-orang yang berjalan di pedestrian dengan berlari. Ia sesekali harus menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangannya dan meminta maaf pada orang yang ditabraknya. Yang ada di dalam pikirannya saat itu hanya segera sampai di apartemen dan menjenguk Kai. Laki-laki itu dengan bodohnya tidak memberikan kabar dan tidak memberitahu keadaannya.

Hana menekan bel pintu depan dorm sambil berusaha mengatur napasnya. Tidak butuh waktu lama bagi Hana untuk mendapati pintu di hadapannya terbuka dan sosok Chanra muncul di sana. Ia memeluk sahabatnya itu sekilas, merasa rindu karena sudah lama tidak bertemu. Ia terlalu sibuk mengurus pekerjaan dan melupakan sahabat-sahabatnya.

“Kyungsoo oppa tidak ada?” tanya Hana ketika memasuki dorm bersama Chanra. Biasanya laki-laki itu yang menjaga Kai saat sakit seperti itu.

“Dia syuting. Di dorm hanya ada Tao, Chen, dan Yixing oppa,” ujar Chanra sambil kembali duduk di ruang tengah bersebelahan dengan Tao. Hana kemudian menemukan Lay keluar dari kamar Kai dengan sebuah nampan berisi makanan.

“Akhirnya kau datang juga,” Lay berucap dengan nada lega lalu menyerahkan nampan itu ke tangan Hana. “Dia menyebalkan saat sakit, Hana-ya. Kau hadapi dia, ya.”

Hanya dengusan pelan yang Hana bisa keluarkan. Sudah beberapa kali ia menghadapi Kai yang sedang sakit dan memang tidak menyenangkan. Laki-laki itu menyebalkan sekali bahkan ketika sedang sakit. Oh atau mungkin lebih tepatnya, Kim Jong In akan menjadi sangat manja ketika sakit. Hana mengambil nampan di tangan Lay lalu menghela napas panjang sebelum memegang kenop pintu.

Hana kemudian membuka pintu kamar kekasihnya, lampu kamar yang menyala membuat Hana bisa melihat jelas sosok Kai yang tengah berbaring dilapisi selimut. Ia berjalan mendekat kemudian meletakkan nampan makan malam itu di atas nakas. Dengan hati-hati Hana menjulurkan tangannya untuk menyentuh kening lelaki itu dan sedikit tersentak ketika merasakan suhu tubuh Kai yang di atas normal.

Hyung, aku tidak mau makan.”

“Kau mau mati hah?” Hana menyahut dengan cepat sambil duduk di sisi tempat tidur. Ia melihat Kai berbalik ke arahnya dengan mata setengah terbuka.

“Kenapa kau di sini?” tanya laki-laki itu dengan suara lemah dan sedikit serak.

“Kenapa tidak memberitahuku, bodoh,” jawab Hana seraya mengambil semangkuk nasi dari nampan. “Ayo makan. Jangan manja.”

“Tidak mau. Tenggorokanku sakit, Han-ah,” Kai menjawab seadanya sambil memejamkan matanya kembali. “Aku hanya butuh istirahat.”

Selalu saja seperti itu, sebenarnya Hana tidak pernah suka jika Kai berubah manja seperti itu. Rasanya Hana ingin mengguyur laki-laki itu saja dengan air dingin agar bisa kembali berdebat dengannya. Dan kadang membuat Hana kesal –karena ia hampir selalu tidak bisa menolak keinginan lelaki itu. Kai yang selalu tebar pesona di atas panggung itu akhirnya jatuh juga.

“Makan atau aku pulang sekarang juga,” Hana sudah bersiap bangkit dari sisi tempat tidur, ia kemudian kembali duduk karena Kai tidak mencegahnya.

“Pulang saja sana, aku tidak memintamu datang,” ucapan Kai berhasil membuat jantung Hana mencelos.

Rasanya Kai sudah tidak menginginkannya lagi untuk saling berbagi duka dalam keadaan seperti itu. Laki-laki itu mungkin hanya ingin bersamanya dalam keadaan senang saja. Hana mendesis pelan lalu membanting mangkuk nasi itu kembali ke atas nampan. Merasa kesal dan sedih sekaligus karena Kai benar-benar tidak menganggapnya. Ia baru saja akan beranjak dari sana saat Kai menahan tangannya.

“Kenapa? Aku mau pulang, kau tidak butuh aku ‘kan?” tanya Hana dengan nada tidak suka. “Urus saja hidupmu sendiri. Aku pulang sekarang.”

Ya. Kenapa kau sangat sensitif, hah? Aku hanya bercanda,” cegah Kai lalu segera mengubah posisinya menjadi duduk dan menarik Hana untuk kembali duduk di sisi tempat tidur.

“Tidak lucu tahu? Kau menyebalkan, kkaman,” Hana sedikit menghempaskan tangan Kai yang memegangi tangannya lalu mendengus pelan. Sepertinya Hana memang sedang sensitif akhir-akhir ini mengingat jadwal bulanan yang sebentar lagi tiba.

“Kau sakit apa? Kenapa tidak memberitahuku?” tanya Hana cepat seraya menatap kekasihnya dengan khawatir.

“Hanya kelelahan. Gwaenchana—uhuk—uhuk,” Kai masih terus terbatuk sambil memegangi dadanya. Sebenarnya ia hanya tidak mau membuat Hana khawatir dengan keadaannya, mungkin ia hanya perlu istirahat saja setelah terlalu banyak jadwal kemarin.

“Jangan bohong, kkaman. Kau mau aku pulang sekarang juga hah?”

Baiklah. Kai mengakui bahwa tidak mau Hana meninggalkannya dalam keadaan seperti itu. Jadi ia kembali menahan lengan Hana yang akan berdiri dari tempat tidurnya. Terlihat Hana yang mendengus pelan sebelum duduk di sisinya lagi. Setelah menghadiri konser di China, sebenarnya Kai hanya ingin beristirahat dan tidak mengganggu Hana. Tapi setelah melihat langsung seperti itu, rasanya Kai malah ingin berlama-lama dengan kekasihnya.

“Demam, batuk, dan kelelahan. Pinggangku juga sakit lagi,” jawab Kai dengan pasrahnya dan ia melihat kedua mata Hana membesar –hampir keluar dari rongganya.

Sedetik kemudian Hana mendaratkan sebuah cubitan kecil di paha Kai. “Dasar bodoh. Kau tidak makan yang benar ‘kan? Tidak minum vitamin juga? Sudah kubilang jangan terlalu berlebihan di atas panggung, sekarang cederanya kambuh lagi ‘kan? Jadwalmu masih banyak sampai bulan depan, jadi jangan habiskan tenagamu di awal-awal, kkaman.

Ucapan Hana yang terus keluar –seperti seorang ahjumma cerewet yang tengah menasehati anaknya—itu terdengar sangat menggelikan di telinga Kai. Jika pinggangnya tidak sakit, mungkin ia akan tertawa lepas –menertawai gadis itu. Namun ia hanya tertawa pelan saja sambil memegangi perutnya.

“Kenapa tertawa? Ayo makan nasinya,” protes Hana sambil mengambil mangkuk nasi Kai, mencoba menyembunyikan rasa malu karena terlalu menunjukkan kekhawatirannya tadi. Dengan bodohnya ia berbicara secepat dan sepanjang itu untuk menasehati kekasihnya. Pasti Kai akan meledeknya habis-habisan setelah sembuh nanti.

***

Jarum-jarum jam sudah menunjuk pukul delapan malam ketika Hana keluar dari kamar Kai untuk menaruh piring kotor ke dapur. Hana menemukan Suho dan Sehun sudah berada di ruang tengah bersama ketiga lelaki yang menyambutnya tadi sore. Chanra juga masih betah berada di sana sambil menonton televisi bersama yang lainnya. Hana mencoba tidak menghiraukan orang-orang itu dan berlalu ke arah dapur.

“Jong In bagaimana?” suara Sehun menyeruak masuk ke telinga Hana. Ia menyadari Sehun sudah berdiri di sebelahnya –yang tengah mencuci piring di dapur, memperhatikannya sambil melipat tangan di depan dada.

Hana menoleh agar bisa menatap pria yang jauh lebih tinggi di atasnya itu lalu menghela napas panjang. “Masih demam. Batuknya juga tidak berhenti sejak tadi. Kalau pinggangnya kambuh harus dikompres atau apa?”

Sehun terkekeh pelan, tidak tahan dengan perubahan sifat Hana yang tiba-tiba menjadi khawatir seperti itu. “Kompres air hangat saja. Kau juga bisa minta vitamin ke Joonmyeon hyung.”

Araseo, gomawo Sehun-ah,” Hana segera mengambil panci yang ditemukannya di dapur dan mengisinya dengan air. Lalu dengan cepat menaruhnya di atas kompor untuk membuat air hangat. Sementara Sehun masih memperhatikannya di sana, berdiri sambil melipat tangan di depan dada. Membuat Hana sedikit risih dan melirik lelaki itu akhirnya. “Kenapa masih di sini?”

“Tapi, Hana-ya,” Sehun berujar kembali dengan ragu. “Jong In memang sering sakit sejak comeback dan persiapan konser yang gila. Apalagi sekarang kita harus konser berhari-hari di luar negeri dan itu membuat keadaannya semakin buruk.”

Hati Hana terasa sakit mendengar semua penjelesan Sehun. Sakit di pinggang memang sudah menjadi penyakit Kai sejak trainee. Namun rasa sakit itu hanya akan muncul ketika Kai tidak melakukan gerakannya dengan baik dan kelelahan. Melihat Kai yang selalu berusaha terlihat baik di depan orang banyak –dan bahkan di depannya, malah membuat Hana semakin sesak.

Dwaesseo, kau tahu dia memang selalu memberikan yang terbaik, Hana-ya. Jangan khawatir, sekarang dia memang sedang drop saja,” Sehun tersenyum simpul lalu menepuk puncak kepala Hana beberapa kali. “Ah dan pastikan kau tidak membakar dapur dorm.

“Oh Sehun!” Hana hampir saja memukul lengan Sehun jika lelaki itu tidak segera melesat dari dapur menghindari gadis itu.

Beberapa saat kemudian Hana sudah mendapatkan air hangat di panci –setelah ditambahkan air dingin—sambil membawa lap bersih dari lemari dapur. Tanpa mau melihat ke arah ruang tengah, Hana kembali memasuki kamar Kai, namun ia hampir saja menjatuhkan pancinya ke lantai ketika melihat Sehun berada di dalam sana bersama Kai. Sebenarnya yang membuat Hana kaget setengah mati adalah, Sehun yang duduk di sisi tempat tidur tengah membantu Kai membuka baju. Namun bajunya baru diangkat sampai atas perut saja dan Sehun kembali menurunkannya.

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Hana menginterogasi lalu berjalan mendekati keduanya. Ia meletakkan panci berisi air hangat itu di atas nakas lalu menatap bergantian ke arah Kai dan Sehun.

“Kau mau mengompres pinggangnya ‘kan? Jong In harus buka bajunya setengah kalau tidak mau masuk angin,” jawab Sehun cepat, menjelaskan kesalah-pahaman di dalam kepala Hana itu.

W-wae? Bi-biar aku saja,” Hana melihat senyuman miring –nan mesum yang tiba-tiba muncul di bibir Sehun. Lelaki setinggi tiang itu berdiri dari kasur lalu melirik Kai –yang tengah bersandar di kepala tempat tidur.

Ara-ara. Kalian berhasil dapat privasi, eoh? Aku akan suruh Jongdae dan Joonmyeon hyung tidur di kamar lain saja,” Sehun mengangkat kedua tangannya sambil berjalan mundur meninggalkan keduanya. Lalu keluar dari kamar itu sedetik kemudian, meninggalkan sepasang kekasih itu dalam kecanggungan.

Hana meneguk ludah gugup saat mata elang Kai mulai melirik ke arahnya. Asalkan tidak gelap, Hana masih berani jika harus menghadapi Kai berdua saja. Oh tapi ia harus membuka sedikit baju Kai agar bisa mengompres pinggang lelaki itu. Wajahnya tiba-tiba saja terasa panas ketika mengingat kencan mereka beberapa hari lalu. Sepertinya ia belum siap jika harus semalaman berada di sana bersama kekasihnya.

“Kenapa diam? Katanya mau membantuku buka baju,” ujar Kai dengan senyuman miringnya dan berhasil mendapat sebuah pukulan ringan di puncak kepalanya.

“Dasar mesum! Buka saja bajumu sendiri,” Hana masih berdiri di samping tempat tidur ketika melihat Kai berguling ke sisi tempat tidur lain dengan posisi tengkurap. Kai mengangkat bajunya setengah –dan Hana beruntung karena hanya melihat punggung lelaki itu saja tanpa harus melihat perut.

Hana kemudian beringsut ke atas tempat tidur tepat di sebelah kekasihnya setelah mengambil lap yang sudah sedikit dikeringkan dari dalam panci. Ia dengan hati-hati menaruh lap hangat itu ke sekitar pinggang Kai. Sementara tatapan lelaki itu terus saja tertuju padanya yang masih sibuk merapikan letak lap itu.

“Sebenarnya…” ujar Hana tiba-tiba seraya menyilangkan kakinya di atas kasur menghadap Kai. Sebelah alis Kai terangkat, menunggu lanjutan kata-kata gadis itu. “Appa meneleponku kemarin malam.”

“Kenapa?” Kai tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya dan tetap memiringkan kepalanya –dengan alas bantal menghadap ke arah kekasihnya. Dalam posisi tengkurap seperti itu ia bisa melihat dengan jelas ekspresi Hana dari bawah.

“Dia menanyakan keputusanku lagi,” Hana mendesah napas pelan, berusaha menyembunyikan kebingungannya. “Appa bertanya sampai kapan aku seperti ini terus. Berpacaran dengan laki-laki yang terikat kontrak selama lima belas tahun dengan dunia entertainment. Dia juga marah karena aku menolak kuliah di Jerman dan tetap tinggal di Korea sendirian.”

Kai terbatuk  –mencoba menghilangkan rasa sesak di dadanya dan tidak menunjukkan kekhawatirannya. Sebenarnya tubuhnya tidak benar-benar baik dan tidak siap untuk mendengarkan semua cerita Hana seperti itu. Namun ia harus tahu secepatnya daripada kembali menumpuk menjadi masalah yang besar.

“Tapi kau tenang saja, kkaman. Bukan Lee Hana kalau tidak bisa merayu appa,” Hana mengacungkan ibu jarinya ke udara lalu menepuk-nepuk kepala Kai dengan lembut. Seulas senyum muncul di bibirnya –padahal ia sangat khawatir setengah mati dengan ucapan ayahnya. Tidak ada yang salah, ia memang tengah berpacaran dengan seorang lelaki yang terikat kontrak lima belas tahun dalam hidupnya di dunia keartisan. Dan Hana tidak tahu apa ia bisa bertahan selama itu bersama Kai.

Terdengar ragu, tapi memang hal itu yang Hana rasakan sejak ayahnya menelepon. Ayahnya memberitahu mengenai banyak hal –termasuk ibunya yang tengah sakit juga di Jerman. Walaupun tidak begitu parah, tetap saja Hana merasa khawatir setengah mati. Setelah menelepon Jiho dan mendengar suara ibunya, ia merasa sedikit lega. Tapi rasanya aneh juga ketika ia malah lebih memilih merawat kekasihnya daripada ibunya sendiri.

Kai yang menyadari ekspresi Hana segera menepuk pelan punggung tangan gadis itu –yang masih menempel di puncak kepalanya. “Jangan khawatir, Han-ah.”

Aniyo,” Hana menarik tangannya lalu mengambil lap di pinggang Kai untuk dicelupkan kembali ke dalam air hangat. “Ya. Kau tidak bisa minta libur sehari? Keadaanmu masih parah begini.”

“Tidak bisa, Han-ah. Besok ada konser di Taiwan. Dua hari—uhuk—uhuk,” Kai mendesah pelan saat kerongkongannya kembali terasa perih. Ia memejamkan matanya sejenak untuk meredakan pusing yang menyerang kepalanya sambil merasakan lap hangat yang mendarat di pinggangnya.

Suara husky yang disukai Hana itu berubah menjadi suara parau khas orang sakit. Wajah yang selalu ceria dengan senyum jahil itu berubah menjadi sangat pucat juga. Hana memperhatikan Kai yang tengah memejamkan mata itu lalu tanpa sadar menyentuh kening lelaki itu. Mengecek suhu tubuh yang belum juga turun dan membuat Hana semakin khawatir. Bahkan Kai masih terus batuk seperti itu.

Hana beranjak dari tempat tidur kemudian melangkah menuju pintu kamar, bermaksud meminta vitamin atau obat pada Suho. Namun ketika membuka pintu, yang didapatinya adalah sosok Sehun dan Tao dengan posisi setengah berdiri dengan telinga yang menghadap  ke arahnya. Kedua laki-laki itu segera berdiri tegak kemudian menggaruk bagian belakang kepala sambil tersenyum lebar pada Hana.

Pabonikka?” tanya Hana heran lalu menerobos keduanya, menghampiri Suho yang tengah duduk di sofa.

Oppa, kau punya obat penurun panas? Atau vitamin apapun agar Jong In cepat sembuh,” Hana bertanya –sambil berdiri di depan Suho, menghalangi pandangan lelaki itu ke arah televisi.

“Ada di laci kamar, Hana-ya. Aku hanya punya vitamin,” jawab Suho seadanya seraya memiringkan kepalanya agar tidak kehilangan satu adegan pun dari drama yang sedang ditayangkan.

Hana memutar bola matanya kemudian melangkah cepat kembali ke kamar. Sebelumnya ia berdiri di hadapan Sehun dan Tao yang masih berdiri dekat pintu. “Kalian masih mau menguping? Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun dengan Jong In –seperti apa yang kalian pikirkan.” Kemudian ia berlalu ke dalam kamar dan menutup pintu dengan cukup kencang.

Meninggalkan Sehun dan Tao dalam keheranan. Uri dongsaeng sangat sensitif dan galak sekali hari itu.

***

Malam sudah semakin larut dan Hana masih bertahan di dalam kamar, ia bersandar di kepala tempat tidur sambil memainkan game di ponselnya. Sesekali ia juga mengganti lap di pinggang Kai dan mencelupkannya lagi ke dalam air hangat. Sepertinya Kai sudah tertidur setelah meminum vitamin tadi, tapi Hana belum mau meninggalkan lelaki itu karena suhu tubuh yang belum juga turun.

Noona-ya. Noona.

Kening Hana berkerut heran saat mendengar Kai mengigau memanggil kakak perempuannya. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Kai memiliki sifat ‘sister complex’ dan selalu melindungi kedua noonanya. Tapi Hana tidak pernah tahu kalau Kai ternyata suka memimpikan keduanya bahkan dalam keadaan sakit seperti itu. Padahal baru satu minggu yang lalu mereka bertemu dengan So Jung di Kamong.

“Han-ah.”

Hana hampir tersedak air liurnya sendiri ketika Kai mengigaukan namanya dalam tidur. Tiba-tiba saja Hana merasa geli lalu menepuk-nepuk puncak kepala Kai, mencoba menenangkan lelaki itu dan mengembalikannya ke tidurnya yang nyaman.

Gajima. Lee Hana pabo, gajima.”

Eish, apa aku masih tetap bodoh di mimpimu?” tanya Hana gemas lalu menarik tangannya kembali –sebelum Kai menyadarinya.

“Hana-ya,” suara berat Sehun yang muncul membuat Hana menoleh ke arah pintu. Lelaki yang lebih tua satu tahun darinya itu berdehem pelan dan masih tetap menyembulkan kepalanya dari balik pintu tanpa mau melangkah masuk.

“Joonmyeon hyung bilang, kau menginap di sini saja. Temani Jong In sampai pagi, kita harus ke gedung SM sekarang,” ujar Sehun dengan sedikit ragu sepertinya.

“Malam ini? Besok pagi kalian harus ke bandara ‘kan?” Hana bertanya dengan heran dan Sehun menjawabnya dengan sebuah anggukan singkat.

“Hanya sebentar. Tiga jam lagi kita pulang ke dorm. Tolong jaga Jong In, ya,” Sehun mengulas senyum simpul kemudian mundur selangkah untuk menutup pintu kamar itu kembali.

Hana hanya menghela napas panjang kemudian meraih ‘kotak sehat’ milik Suho dari atas nakas. Mencari benda apapun yang bisa membuat demam Kai cepat turun. Senyuman muncul di bibirnya ketika menemukan plester penurun panas di bagian bawah kotak.

“Sehun kemana?”

“Astaga, Kim Jong In,” Hana hampir terlonjak kaget saat Kai tiba-tiba bertanya padanya. Hana segera mengambil plester itu, membuka penutupnya dan menempelkannya pada kening Kai dengan sedikit kencang hingga menimbulkan suara. “Semoga cepat sembuh, Kim Jong In-ssi.

“Aish, kau tega sekali!” Jong In mengusap keningnya –dimana plester itu ditempel lalu menahan senyumnya sendiri. “Sekarang jam berapa? Kau tidak mau tidur?” Kai menyingkirkan lap hangat dari pinggangnya lalu mengubah posisinya menjadi duduk bersandar di kepala tempat tidur, bersebelahan dengan Hana. Mengabaikan rasa pusing yang kembali menyerang kepalanya.

“Baru jam sebelas lewat. Aku belum bisa tidur,” Hana kembali membuka ponselnya untuk memainkan game namun melirik Kai sesekali. Merasa gugup karena berdua saja di dalam kamar –setelah kencan panas kemarin dan Hana tidak sanggup untuk menatap lelaki itu.

“Tidur saja,” Kai memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah kekasihnya yang –pura-pura sibuk bermain games.

Namun Hana menggeleng cepat. “Tidak mau, kkaman. Kau saja yang istirahat, aku tunggu yang lain pulang ke dorm saja.”

“Tapi mereka baru pulang jam tiga nanti.”

“Kau istirahat duluan saja, kkaman.”

“Kau yakin bisa bertahan sampai jam tiga, Han-ah?”

“Bi-bisa! Aku mau main games di ponsel dulu.”

“Kau takut aku menciummu lagi ‘kan?”

Pertanyaan skak mat itu berhasil membuat tangan Hana terhenti di udara dan secara tidak sadar melirik takut-takut ke arah Kai yang tengah menatap tajam ke arahnya. Hana berdehem pelan kemudian kembali menggeleng. “Aku belum mengantuk.”

“Tapi kau sudah sering menguap sejak tadi, bodoh—uhuk—uhuk,” Kai menutup mulutnya yang batuk lagi lalu segera merebut ponsel yang dipegang gadis itu.

“Kkaman!” protes Hana seraya mencoba mengambil kembali ponselnya yang diangkat Kai tinggi ke udara. Namun Hana segera menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu malah membuat jarak tubuhnya dengan jarak tubuh Kai hanya berjarak beberapa senti saja. Bahkan wajahnya sudah tepat berada di depan wajah Kai saat itu.

Hana menelan ludah gugup kemudian memundurkan tubuhnya kembali ke tempat semula. Kecanggungan tiba-tiba melanda dan Hana hanya menggaruk-garuk pipinya saja, bingung harus melakukan apa sementara ponselnya masih berada di tangan lelaki itu. Tiba-tiba saja ia menyadari bahwa Kai beranjak dari tempat tidur, membawa ponselnya menjauh begitu saja.

“Mau kemana?” tanya Hana heran ketika Kai akan membuka kenop pintu kamar. Padahal laki-laki itu berjalan dengan gontai dan sedikit limbung untuk mencapai pintu saja.

“Kamar mandi. Wae? Mau ikut?” Kai bertanya dengan senyuman miringnya –dan tatapan yang sayu lalu berjalan begitu saja keluar dari kamar. Meninggalkan Hana sendirian di dalam kamarnya.

Kai memasukkan ponsel Hana ke dalam saku celana tidurnya lalu segera memasuki kamar mandi. Pikirannya tiba-tiba saja menjadi kalang kabut ketika Hana berada di dalam satu ruangan yang sama dengannya. Di satu tempat tidur dan mungkin mereka akan tidur bersama sampai pagi. Oh sebenarnya Kai sudah sering menginap di apartemen gadisnya, namun ia selalu tidur di sofa dan Hana tetap di dalam kamar. Mereka tidak pernah berada di atas tempat tidur. Berdua. Di malam hari. Seperti itu.

Mungkin Kai harus menguatkan pertahanannya malam itu menghadapi sifat polos Hana.

Setelah menuntaskan kegiatannya di kamar mandi, Kai mencuci tangannya lalu melangkah dengan lemah melewati ruang tengah untuk kembali ke kamarnya. Ia kembali terbatuk pelan sebelum memutar kenop pintu kamar lalu memutarnya setelah menghela napas cukup panjang. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Hana berbaring di atas kasur menghadap dinding, membelakanginya sambil memainkan entah—apa—itu karena terdengar suara kekehan dari gadis itu.

“Bhuahaha,” Hana tertawa cukup keras saat melihat foto-foto selca Kai yang cukup banyak. Sudah lama tidak memeriksa ponsel kekasihnya dan Hana cukup puas karena foto-foto Kai berhasil menghiburnya. Lelaki itu sangat jarang sekali membagi foto selcanya ke orang-orang bahkan para fans sekali pun, tidak seperti Sehun, Chanyeol, atau member lainnya yang mempunyai akun Instagram.

Jantung Hana tiba-tiba saja berdetak berpuluh kali lebih cepat dan gelak tawanya terhenti ketika sepasang tangan melingkari perutnya dari belakang. Ia berani bertaruh bahwa itu adalah tangan Kai dan ia baru saja akan protes saat Kai malah menarik tubuhnya semakin merapat. Wajah Hana memanas seketika, ia merasakan suhu tinggi dari tubuh kekasihnya menempel di punggung dan itu membuatnya seluruh tubuhnya menghangat juga. Hana bisa gila jika berada di sana terus bersama kekasihnya.

“Ayo tidur, bodoh. Besok kau masih harus kerja,” ujar Kai dengan nada rendah dan suara huskynya –walaupun bercampur dengan suara parau. Ia menyandarkan keningnya pada kepala Hana sambil berusaha mengatur napasnya agar bisa mengendalikan diri.

“K-kkaman,” Hana berucap ragu sambil menurunkan ponsel Kai dari depan wajahnya. Seumur hidupnya selama berpacaran dengan Kai, ini pertama kalinya Hana berada di satu tempat tidur –sambil berbaring bersama lelaki itu. Dan bahkan Kai memeluknya seperti itu, membuat Hana gelisah dan berdebar di saat yang bersamaan.

“Aku akan menelepon ayahmu nanti, Han-ah. Kau tenang saja, eoh?” tanya Kai setelah memikirkan ucapan gadis itu dengan waktu yang cukup lama tadi. Mungkin ia memang harus meminta izin pada ayahnya Hana agar membiarkan gadis itu tinggal di sana, mendampinginya.

Hana menghela napas panjang. “Ayahku itu keras kepala, kkaman. Kalau sudah membuat keputusan, dia pasti akan tetap pada keputusannya. Meminta untuk tinggal di Korea sendirian saja aku harus tidak keluar kamar selama satu minggu.”

“Lima belas tahun itu lama, ya?” Kai tidak menghiraukan ucapan Hana dan malah memikirkan ucapan yang disampaikan oleh ayahnya gadis itu. “Kita…bisa bertahan selama itu ‘kan?”

“Jangan mendahului takdir, bodoh,” sahut Hana cepat, tidak bisa menyembunyikan debaran jantungnya yang terasa sakit ketika mendengar ucapan Kai seperti itu. Entah kenapa Hana merasa semakin sulit. “Kau sudah pernah bilang, berapa lama pun waktu yang kita lewati, yang penting dilewati bersama-sama. Kita tidak pernah tahu besok, minggu depan, atau beberapa tahun lagi kita masih bisa seperti ini atau tidak. Jalani saja, Jong In.”

“Aigoo, uri dongsaeng sudah lebih dewasa, eoh?” Kai bertanya dengan nada menggoda sambil menautkan jemarinya yang berada di perut Hana. Ia selalu menunggu saat-saat seperti itu dimana Hana tidak berusaha merusak suasana romantis yang sedang dibangun. Karena ia sendiri sangat susah bersikap romantis seperti itu dan lebih banyak bersikap tak acuh serta dingin pada gadisnya sendiri.

Dan Hana juga kelewat polos dan bodoh hingga selalu menghancurkan momen yang bagus.

“Tapi lima belas tahun lagi itu berarti umurku…,” Hana menghitung jari-jarinya sendiri sambil bergumam pelan. “Kau baru dua tahun debut, masih sisa tiga belas tahun lagi. Umurku sekarang dua puluh…. OMO! Aku pasti sudah mulai keriput di umur 33 nanti-.-.”

“Jangan merusak, Lee Hana.”

“Tapi aku serius, kkaman. Umurmu nanti sudah 34 tahun juga. Aigoo, aku tidak yakin kau masih tampan seperti sekarang.”

“Kau bilang tampan?” Kai menyahut dengan cepat ketika Hana secara tidak sengaja memujinya. Seulas senyum miring muncul di bibirnya lalu tangannya –yang berada di perut Hana dipukul pelan oleh gadis itu.

“Tidak. Memangnya aku bilang apa?” tanya Hana, tidak bisa menyembunyikan rasa malunya karena memuji Kai tadi. Lelaki itu pasti akan besar kepala nanti.

“Dwaesseo!” sahut Kai cepat.

Keadaan kembali hening sedetik kemudian. Kai tahu bahwa waktunya memang tidak pernah banyak bersama Hana dan ia menghargai kebersamaannya dengan gadis itu walaupun hanya sebentar. Besok pagi ia harus kembali pergi ke China untuk konser dan meninggalkan gadisnya sendirian. Lima belas tahun memang waktu yang lama, namun ia mendedikasikan hidupnya memang untuk menari dan menyanyi. Ia sudah bermimpi untuk menjadi seorang penari bahkan sebelum Hana menginvasi hidupnya.

Semoga mereka masih bisa bertahan selama itu.

“Rambutmu kenapa cokelat lagi?” tanya Hana tiba-tiba.

Kai mengerutkan kening, merasa heran atas pertanyaan Hana. “Kau yang marah karena rambutku putih selama promosi Overdose. Kenapa tanya lagi?”

“Ah, aku lupa, heheh,” jawab Hana. Tiba-tiba saja suasana menjadi canggung dan Hana tidak tahu kenapa Kai juga tiba-tiba diam. Biasanya laki-laki itu membicarakan banyak hal dan menceritakan apapun yang bisa menjadi pembicaraan bagi mereka. Namun dalam posisi berpelukan –dengan Kai di belakangnya seperti itu, memang membuat Hana menjadi canggung sebenarnya.

Kai berdehem pelan. “Kau tahu Tae Min mau debut solo?”

“Ah, jinjja? Jinjjayo?” tanya Hana tiba-tiba dan dengan cepat membalikkan tubuhnya. Hingga tidak sadar bahwa wajah mereka sangat dekat dan tangan Kai beralih memeluk pinggangnya. “Kenapa bukan Jonghyun oppa? Ah, tapi suara Tae Min oppa memang sudah meningkat banyak sih.”

“Aku duet dengan Tae Min juga di mini albumnya,” ujar Kai, berusaha untuk tidak melakukan hal aneh-aneh lagi dalam jarak minimnya bersama Hana itu. Ia sedang sakit flu dan tidak mau membuat gadis itu sakit karenanya.

Bahkan kening mereka hampir menempel dan Kai harus sedikit menundukkan kepalanya –sama seperti Hana agar tidak menatap satu sama lain.

“Duet? Kau rap atau apa? Memangnya kau bisa bernyanyi—AWW jangan cubit pinggangku, kkaman!”

“Aku masih lebih bagus dari Sehun,” Kai tertawa pelan ketika mulut Hana masih mengeluarkan sumpah serapah untuknya karena sudah mencubit gadis itu.

“Tapi Sehun lebih tampan darimu,” ucapan Hana berhasil membuat Kai mengangkat kepala dan ia dengan cepat melepaskan tangannya dari pinggang gadisnya. Dan Hana tidak menyia-nyiakan kesempatan itu hingga memundurkan tubuhnya secepat yang ia bisa. Memberi jarak –atau ia benar-benar akan mati karena terlalu gugup.

“Cih, sekarang Sehun, hah?” tanya Kai dengan nada  dinginnya.

Lihat bagaimana Kai sangat mudah cemburu karena satu hal. Hana merasa geli karena Kai memang lebih mudah dibuat marah dengan memuji laki-laki lain. “Sehun memang lebih tampan sih, dia lebih tinggi juga, hidungnya bagus, bibirnya tipis, kulitnya putih, dan dia sangat bertolak belakang denganmu, kkaman.”

“Ya, ya, silakan puji Sehun sesuka hatimu, Han-ah,” sahut Kai kesal. Ia membalikkan tubuhnya hingga membelakangi Hana. Lebih baik tidur saja daripada menanggapi ucapan Hana yang membuatnya kesal. Dulu Baekhyun, sekarang Sehun, besok siapa lagi?

“Bhuahaha,” Hana tertawa geli sambil menendang-nendang kakinya ke betis Kai. “Uri kkaman cemburu. Bhuahaha.”

“Yaish, terserah saja, Lee Hana,” balas Kai –masih kesal karena Hana terus menggodanya. Kakinya bahkan harus sedikit dilipat agar tidak ditendang oleh gadis itu.

“Hahahah, kau marah, ya?” Hana masih berusaha menahan tawanya. Ia mulai beringsut mendekati Kai lalu menaruh dagunya di atas lengan kiri lelaki itu dan menaruh seluruh berat tubuhnya di sana. Dari posisinya ia bisa melihat bahwa Kai tengah memejamkan mata –namun dengan kening berkerut menahan kesal.

“Sehun bukan Jong In,” ujar Hana dan ia masih mendapati kedua mata Kai terpejam tanpa mau melihatnya. “Sehun tidak memiliki kulit hitam seperti Jong In. Sehun tidak sok keren di atas panggung seperti Jong In. Dan Sehun tidak menyayangiku seperti Jong In.”

“Aku juga tidak suka Sehun karena dia bukan Jong In.”

“Jangan menggodaku, Lee Hana,” Kai akhirnya membuka mata dan sedikit mendorong kepala Hana agar menjauh dari tangannya –sementara ia mengubah posisinya menjadi duduk. Pinggangnya jauh lebih baik setela dikompres oleh gadis itu tadi.

Terlihat seulas senyum miring –milik Hana yang duduk di hadapannya dan Kai tahu bahwa Hana tengah berusaha menggodanya. “Kau tahu kita sedang berdua di kamar ini ‘kan?” tanya lelaki itu.

Hana meneguk ludah gugup. “N-ne, aku tahu. Memangnya kenapa? Kalau kau macam-macam aku akan—.”

“Apa? Kau mau apa?” tanya Jong In cepat seraya memajukan wajahnya, mendekati Hana. Gadis itu cepat cepat mundur dan mendorong kening Kai dengan telunjuknya.

“Jangan dekat-dekat, bodoh!”

“Kau pacarku.”

“Demi Tuhan, kkaman! Kalau kau mendekat lagi, aku akan menendang perutmu!”

“Aku sedang sakit, Han-ah—HATSYI!”

“AAH!! Dasar jorok!! Astaga, tanganku!!”

***

Kekehan pelan keluar dari bibir Sehun setelah ia baru saja keluar dari kamar Kai. Kesembilan member lainnya yang baru saja menghempaskan diri di ruang tengah itu pun ikut melirik Sehun. Sang maknae itu tampak masih tertawa pelan dan sesekali menahan senyumnya. Sehun sendiri tidak mengerti. Ia hanya merasa geli karena melihat Kai dan Hana berada di tempat tidur yang sama.

Kai dan Hana sudah tertidur di dalam sana dengan posisi yang cukup romantis. Keduanya jarang terlihat akur dan ketika sedang tertidur itu, keduanya terlihat jauh lebih damai. Sehun tidak tahan untuk terus tersenyum karena akhirnya rencananya bersama Tao –membuat Kai dan Hana tidur bersama—itu berhasil.

Biarkan Sehun menjelaskan bagaimana posisi Kai dan Hana yang dilihatnya tadi.

Kai dan Hana tidur saling berhadapan. Tidak saling memeluk satu sama lain. Namun tangan Kai berhasil mencuri tempat di pinggang Hana, seolah melindungi gadisnya dari gangguan. Bahkan kening Kai menempel pada puncak kepala Hana. Uh, Sehun bahkan merinding ketika mengingat apa yang dilihatnya tadi. Hari itu akan menjadi rekor pertama dimana Kai dan Hana akhirnya bisa tidur bersama di satu tempat tidur.

“Kau mengambil fotonya?” tanya Tao tiba-tiba seraya menyelinap duduk di sebelah Sehun. Membuat Suho bergeser –dari samping Sehun, membiarkan duo maknae itu mengobrol.

“Keurae! Aku akan menggunakan foto ini untuk menggoda Jong In atau Hana nanti,” Sehun tertawa pelan –seperti setan dan diikuti Tao sedetik kemudian.

Sementara member lainnya kini tengah berebut ponsel Sehun untuk melihat hasil foto itu. Ya, selamat pada Kai dan Hana karena image mereka akan mulai berubah di mata EXO mulai saat itu.

[KaiNa Piece] Danger—CUT

Ima’s note:

HOLAAA

Siapa kangen KaiNa disinii!! /sayaaa!!/

aah gemes banget sama mereka aku teh, gagal mulu tiap mau bikin romantis 😀

Hufft, sabar ya Kai ngadepin Hana di sini T.T

 

Daaan makasih yang udh baca ff Over Bride aku juga di sini heheh

udh mau tamat aja 😦

karena lagi seneng jadi langsung post 22nya dan ga diprotek. YESHH

jangan lupa kritik dan sarannya di komen yaa~^^

 

Best Regards,

Ima♥♥

Advertisements

95 thoughts on “[KaiNa Piece] DANGER

  1. ciciliastfni says:

    The best couple emg KaiNa ini. Ga nyangka mereka tidur brg. Makin kesini mereka makin mesra ih seneng. Selalu senyum2 sendiri kalo baca kaina. Semoga kaina bisa terus sampe 15 thn kedepan

  2. adindacynthia says:

    Ini sudah cukup terbilang romantis kok. Suka semua scene KaiNa di series ini. Feelnya berasa. 😀
    Kapan ada lanjutannya lagi?
    Oh iya Over Bride kapan chapter barunya dipublish? Sedih juga kalo inget mau tamat. 😦

  3. Mia(rodiatularmia) says:

    Eonniiii, kenapa sih kalo bikin ff feelnya ngena banget? Aduh, bikin gereget tau gak? :’) ah aku gak tau mau coment apa jadinya ini :’) ff unni selalu bagus, aku selalu suka juga. Oiya, aku juga baca ff unni yang over bride juga loh, tapi aku gak pernah coment di ff itu -_- maaf yaaa u,u tapi bagus kok unn ffnya! Banget malah! sayangnya udah tamat 😥 dibikinin sequelnya gak unn? Bikinin dong ya :’) udah ah ya, kepanjangan nih kayakya tulisan -_- kekeke
    Oiya, moment romantis KaiNa tambahin lagi yaaaaaa! disini udah romantis kok, tapi kalo bisa tambahin lagi yaaaa!
    Fighting! Kak ima daebak! Love :*

  4. Lee Hye Ran says:

    Demi apapu. Aku baru kembali dari semedi panjang ku ke blog ini untuk membaca surat-surat malaikat(?) *oke ini lebay tp yaudalah* ini lagiiii! Omg gapernah aku gak senyam-senyum macam ngeliat bae kalo baca kaina<3 MEREKA GEMAAAASHHH😆 gakuat ah eonni aku tak kuasaaa~ mereka makin unyu2 kampretttt! Ini beneran suatu kemajuan untuk mereka bgt gasih tidur berdua gt sedangkan dulu mereka gengsian bangettt. Dan untuk sehun, kali ini aku tidak akan menganggapmu musuhku karena aku jg akan melakukan hal yang sama kalo aku jd kau HUAHAHAHA😈 kaina yg lanjutannya bikin sehun sama tao digebukin ya eonni😅 it would be fun to imagine it! Okeh, sekian komen panjang kali lebar kali tinggiku kali ini karena eonni bacanya mungkin akan enek jg wkwk semangat eonni!! Muaaah😘

  5. widyaJ says:

    Kyaaaaaaa…kangennn…kangen sangat dengan pasangan ini buahahahha…

    Hoaaaaa jinjjaa…ga berhenti senyam senyum gaje baca part…ya Tuhannn… Senangnya bukan main arghhhhh. *Loncat-loncat…buahahha.

    Dan part selanjutnya bikin penasaran..aihh. Bagaimana kisah mereka selanjutnya. Jadwal kai yang semakin padat..dan bagaimana reaksi ayahnya hana saat kai meneleponnya. Ya ampun semoga saja diberi ijin. Dan demi apapun….15 tahun itu memang lama..huee… Beneran mereka akan terus dengan status pacaran sampai umur 34? *Hela napas. Ya ampun. Padahal ngarep kai cepetan dapat momonga (?) *bah.digampar wkwkkwk

    Blushh..lanjut chap selanjutnya

  6. hasna nabilah says:

    waaaaaaa mereka makin romantis ajaaaa, jongin kalo lagi sakit manja nya gak ada dua yaaaa, untung hana gitu2 juga sabar ngadepin jongin kkkk.

  7. ohvee12 says:

    Pretty Boy … Wuuuh siapa yang ga kesemsem sama Kai disana aku bahkan udah berkali – kali puter tuh lagu … Walau bias Sehun tapi setiap baca FF disini dan baca KaiNa secara tdk langsung Sehun turun di bias kedua dan Kai di peringkat pertama … hihi Author JJANG !

  8. kaisooday says:

    Hihihi uda lama ngga buka Kaina… Kangen sma Ima eonni juga :* maafkan readermu yg satu ini karena melupakan pasangan terkece ini ya Eonn XD tapi aku nongol lagi kok dan ngerusuhin disini lagi hihihi 😀 cieeehhh Kaina uda makin sosweettttt ajahh,, pke bobok bareng lagi,, ookee aku lanjut baca dehh,, penasaran sma cerita nextnya hohohoho~

  9. Jung Hyun Mi says:

    KAINAAA DUHH YAA😍
    lucuu bangett kalo udaj berantem gituuu/\ relationship goals bangett sih jadi ngirii:’)
    aaaaa kenapa gaada adegan ekhem nya.GA
    enggaa deng canda hana masih terlalu polos kalo dikasih gituan😁
    ahhh makin sayang sama kaina, sama ka ima nyaa jugaa😜
    mauuu lanjut baca yang lainnya mweheh:3
    see youuu di chapter lainnyaa👋👋

  10. Soojinssi says:

    Suka sama semua ff tentang kaina ini , kerasa real banget apalagi mereka juga punya twitter
    Gambaran kakak tentang Kai di ff ini tu persis banget sama apa yg dibayangin tentang sosok Kim Jongin , cuek , jail , tapi sayangnya cuma sama satu orang aja
    Hihihi pokoknya semangat ya kak ngelanjutin FF nya^^

  11. Arkaime says:

    Aihhhh manis nya kalian berdua, akhirnya bisa bobo berdua, gemes, ikut seneng deh kalo kai sama hanna lagi adem adem begini hihi, udah lama nih ga baca kaina pas di buka ternyata udah ketinggalan banyak cerita nya. Sukses buat cerita nya thor 😘☺️🙈🎈

  12. shazkiasw says:

    Kamjongg tambahhh romantiss,get well soon uri kamjongg-ii😘yaaa sehunn kamu masih kecill nak ahaha 😄😀kerenn 😎

  13. natasya says:

    hana perhatian sm kai tp msh rada d tutup2in._.
    it ending mwreka tidur berdua,mwahaha..aku kira bakal ad ap2…hehehe..

  14. natasya says:

    hana perhatian sm kai tp msh rada d tutup2in._.
    it ending mwreka tidur berdua,mwahaha..aku kira bakal ad ap2…hehehe..
    sehun sm tao jahil ihhh -^-

  15. byunbaek says:

    kai sakiitt gws….itu maknae jail banget -,- tp gapapa akhirnya kaina bisa satu kasur pasti romantis wkwkwk makin kesini makin greget demi deh suka banget sama ff ini love u baek eh salah love u ka ima

  16. Nafff says:

    Awwwwww mereka makin romantis aja :3 seneng banget ngeliatnya.
    Sehun sama tao iseng banget nge fotoin orang tidur, untung kai-hana gak terbangun

  17. Song hyun in says:

    Eemmmm kasian bang jong sakit :3

    hehe
    seru2 ka, kpn ini sesi KaiNa yg bner2 sweet tanpa dirusak :v

    mereka psangan yg cukup aneh?/ menurut ku :v tapi yaaa sperti itulah mereka memiliki rasa yg bgtu dlm..

    Terkadang saya merasa IRI disitu :v

  18. dyndrakm says:

    Uwaaaaaaaa kkaman manja gitu omg.. selalu suka kl namja lg sakit manja gitu hahaha lucu ajaaaa selalu senyum2 sendiri kalo bayangin kaina!!! Asli bikin baperㅠㅠ tanggung jawab ka ima!!!huffff.. dasar sehun tao iseng aja.. sini hun sama aku ajaaaa >< /plak ehiya btw cowok abis jongin mau telfon bokapnya hana minta izin gt…omg gakuat mennnn. Melting! Kaina itu salah satu couple idamankuuu parah pengen bgt kl pcrn kyk gini ga yg selalu romantis tp sekalinya Romantis bikin inget terus gt omgggg… couple paling realistis yg ga selalu manis2 gt kyk di drama wkwkwk walaupun ini jg cmn ff but, aku selalu berharap kaina itu real..yeaah aku lebih milih exo dating sama org biasaaa:') dan andai aja hana itu beneran ada!!! Keep writing ka ima!! Fighting♡

  19. flo says:

    Hallo kak imaaaaa sayaaaaaaaaaaang
    Aaaaaaa gk bisa bla blaa
    Ini keren lebih kereeeen mereka ^^
    Sebenernya bis kencan apaan ciw? Msh dipotek nunggui balesan dr kakak jg . Berondong banyak kyknya kak imaaa maaf repotin trus

  20. iqohh says:

    Kemaren dipangkuan . Sekarang tidur bareng ..asli makin sayang ama jongin.. Haha udah ngFly bayangin ini couple astaga

    Berharap 2016 kai kgk sakit lagi terutama sakit pinggang kek rahun* sebelumnya

  21. handayaniwidya0 says:

    Sial. Aku speechless.
    Pas baca ok aku was2 ya kalo kai ga bisa ngendalin diri.
    Tapi untung ga kejadian apa2 jatohnya malah sweet2 kampret gini hehe.
    Ima Fighting!!! AKU NGEFANS SAMA TULISAN KAMU!!! WAAAAAAAAAAAAAA

  22. Khyunpawookie says:

    Ya ampunnnnn klo Sehun two posisi mrka y seblmnya sling memeluk dr belkng beuhhhhh gempar dorm pst hahahahahahahah
    Aq mst koment apa cba si Kamjong gila yhhhhhhhh heiiiii kesmbet apa mnis bnget kelakuan loh hahahhh sukaaaa sukaaaaa skinskip mrka udh add peningkatan pesat kerennn kerennn kerennnn

  23. syafirasl says:

    ceileh udah tidur berdua aja ni..sehun makin aneh aneh aja tuh pikirannya
    sukses banget deh mereka buat kai sama hana jadi skinship couple two..wkwk
    Keep writing kak..Fighting

  24. rahsarah says:

    makin kesini makin romantis kalian

    klo di rawat sma hana ga bakalan lama ya sakitnya pasti langsung sembuh

    wkwk si sehun bisa aja buat idenyaa
    penasaran sma fotonya *lah

  25. rinskai says:

    cieeee mereka berdua makin mesra aja
    jong in udah g malu2 y nglakuin skinship sm hana
    y ampun jd itu ide sehun buat kai sm hana tidur bareng
    gimana reaksi mereka nanti kalo bangun tidur ? hmmm pasti mereka berdua bakal canggung
    jd penasaran lanjutan critanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s