Red Little Daisy ~Strike 3~

redlittle

 

Title : Red Little Daisy

Author : Neez ^^ (@suhofocus)

Genre : Alternative Universe, Romance, Family, Drama

Length : Chaptered

Rate : PG

Cast :

  • Kim Junmyeon / EXO Suho
  • Oh Jaehee (OC)
  • Eric SHINHWA
  • Han Yeseul
  • Others

Strike 1 || Strike 2 

Strike 3

Jaehee berdiri di depan gedung belasan lantai, dengan billboard besar bertuliskan SHINHWA. Ia menarik napasnya dalam-dalam sambil memeluk map kulitnya erat-erat. Sebelumnya, ia ingat-ingat pesan ibunya di rumah tadi. Orang Korea selalu lebih mementingkan kesopanan diatas segala-galanya. Ibunya juga mengingatkan, agar mulut ceriwis Jaehee bisa ditahan. Ibunya tahu betul bagaimana kecepatan mulut Jaehee jika sudah mulai berkomentar.

   ”Jangan berkomentar sembarangan! Ingat, ini Korea Selatan, bukan Amerika Serikat!”

   Jaehee menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kuat-kuat lagi melalui mulutnya. ”Padahal apa salahnya berbicara jujur daripada bicara di belakang?” dan ini, yang ibunya takutkan lagi, satu sikap Jaehee, yaitu tidak bisa mengontrol gerutuannya. Masih mending kalau gerutuan Jaehee cuma sekedar gumaman, masalahnya gerutuannya keras.

   Jaehee melangkahkan kakinya perlahan-lahan ke dalam bangunan pencakar langit tersebut. Ia langsung disambut dua orang petugas keamanan yang memeriksanya dan barang bawaannya, kemudian barulah ia ditunjuk untuk menunggu di ruang tunggu lobi. Seorang resepsionis menghampirinya, meminta kopian dari CV yang Jaehee bawa, serta memberikannya nomor urut.

   Nomor urut 271. Jaehee mengembuskan napasnya berat-berat, belum-belum sudah nomor dua ratus sekian saja. Menenangkan diri, Jaehee mencoba berkonsentrasi pada hal lain, misalnya memperhatikan detil bangunan perkantoran yang dihuni oleh pegawai-pegawai berwajah serius, dan berpakaian monoton. Ia berdecak, kalau nanti dia diterima disini, dia tidak akan mau memakai pakaian-pakaian macam itu. Jaehee kemudian teringat wajah direktur fashion di Shinhwa ini, dan kembali menahan diri agar tidak tertawa terbahak-bahak. Direkturnya saja macam itu, bagaimana pegawainya? Dan bagaimana mall-nya mau maju. Jaehee geleng-geleng dan menyimpan opininya terlebih dahulu.

   Menginjak tengah hari, jumlah pelamar yang datang semakin membludak, dan Jaehee melihat, bahkan berbincang dengan beberapa diantaranya, banyak dari mereka yang berbakat dan berpengalaman juga. Dibandingkan dengan dirinya, yang meski magang di brand terkenal, namun hanya magang di tokonya saja, bukan bertemu dengan pemilik langsungnya atau apa, ia menjadi sedikit ciut. Oh Jaehee dalam hidupnya baru kali ini merasa ciut! Biasanya ia hanya akan cuek dan membiarkan apa pun yang mengganggunya berlalu begitu saja.

   Shinhwa, siapa yang tidak mau kerja disini, bukan? Pikir Jaehee.

   ”Oh Jaehee-ssi, silakan naik ke lift ketiga di sisi kiri. Lima orang lagi giliran Anda, ini kopian CV Anda, terima kasih. Semoga sukses.”

   Jaehee berdiri, menerima kopiannya dan memasukkannya kembali ke dalam map kulitnya, sambil membungkuk dan mengucapkan terima kasih, kemudian ia mengikuti instruksi resepsionis itu langsung menuju lift ketiga di sisi kiri. Lift tersebut otomatis berhenti di lantai sang direktur, asumsi Jaehee, karena dilihatnya empat pelamar sedang duduk di empat buah kursi yang berjejer rapi di depan ruangan berpintu kayu mengkilap tinggi dengan pegangan mahal, khas Romawi.

   Jaehee duduk di kursi yang tersisa dan geleng-geleng. Hari gini, dimana mode tengah bergerak ke gaya minimalis, bangunan ini kaya akan tanda-tanda kejadulan yang membuat Jaehee agak-agak jengah. Ia pernah main ke rumah temannya yang bergaya romawi, atau renaissance bleh bleh bleh itu, dan walaupun gaya itu kuno, tapi kuno di Shinhwa ini… benar-benar kuno! Atau kudet. Sudah itu banyak sekali space-space yang tidak digunakan karena tatanan bangunannya yang makan tempat. Tidak efisien.

   ”Oh Jaehee-ssi.”

   Jaehee mendongak, ia sampai tidak sadar bahwa ini sudah gilirannya untuk masuk dan di interview. Sedikit banyak, Jaehee berterima kasih atas gaya bangunan ini, karena ia sibuk berkomentar sebal mengenai bangunan inilah, maka ia tak sempat merasa gugup.

   Jaehee masuk dan membungkuk dalam-dalam.

   ”Annyeonghaseyo, Oh Jaehee-imnida.”

   Setelah membungkuk, Jaehee mendapati empat buah meja yang ditutupi oleh kain (kalau dia boleh jujur seperti alas tidur kucingnya di Arizona sana), dan dibelakang empat meja itu, berdiri berjajar empat orang pria dengan wajah yang, membuat Jaehee menelan celaannya terhadap penampilan menyedihkan meja mereka.

   ”Pagi, Oh Jaehee-ssi,” satu dari mereka menyapa.

   Jaehee menjawab salamnya.

   ”Oh Jaehee. Lahir di Arizona, Amerika Serikat, Juli 16, tahun 1991.” Pria yang tadi menyapanya membaca salah satu kopian riwayat hidupnya. ”Pengalaman kerja cukup baik, di tempat-tempat yang bergengsi pula. Lulusan University of Arizona, jurusan Fashion Design, lulus dengan nilai yang cukup baik.”

   Jaehee mengangguk-angguk, ia sudah hapal kok riwayat hidupnya, kenapa dia perlu mendengarnya lagi?

   ”Pertama-tama, kau disini hendak kami tempatkan sebagai asisten dari Direktur Fashion Shinhwa Corp,” pria lainnya, yang duduk paling ujung bicara. ”Apa yang kau ketahui tentang Departemen Fashion Shinhwa, Agassi?”

   Jaehee mengingat-ingat berita yang ia tonton beberapa hari terakhir. ”Hmm, Direktur Fashion yang lama mengundurkan diri karena dianggap sudah tidak mampu menjalankan Departemen Fashion. Dan saham Shinhwa turun karena hal itu?”

   Satu diantara empat orang itu tersenyum, yang lainnya lebih terlihat, melongo?

   ”Kalau mengenai produk fashion Shinhwa?” tanya yang tersenyum. ”Tahu sesuatu mengenai itu?”

   Jaehee menggeleng. ”Terkenal, kah?” tanyanya, polos.

   Sekarang tiga orang di hadapannya nyaris tersedak menahan tawa, sementara satu masih menatapnya tak percaya. Jaehee baru sadar, bahwa ia telah keceplosan! Ingin rasanya ia memukul kepalanya, namun sepertinya hal itu tidak sopan juga, maka ia memasang muka tembok.

   ”Kau tidak tahu produk Shinhwa? Bagaimana kau mau menjadi asisten di Departemen Fashion Shinhwa kalau begitu?”

   Jaehee menjawab cepat, ”Saya tinggal di luar negeri dan baru pertama kali ke Korea Selatan, dan jujur saja bahkan saya tidak tahu Shinhwa punya Departemen Fashion, jika bukan karena berita kemarin. Nah, bagaimana saya menjadi asisten? Saya bisa membantu kontribusi agar produk fashion Shinhwa terkenal!”

   ”Oh,”

   ”Wow,” entah meledek atau memang takjub.

   Jaehee menyunggingkan senyumannya, sekali lagi pasang muka tembok agar tidak malu karena telah kelepasan.

   ”Shinhwa memiliki sebuah mall khusus, kau tahu kan?”

   Jaehee mengangguk. ”Tapi tidak ada toko khususnya, bukan? Shinhwa Mall menjual produknya di departement store gabungan. Produk dari luar negeri saja punya store-nya sendiri di Shinhwa, bagaimana Shinhwa bisa terkenal sampai Arizona sana?”

   Keempat pria di depannya mengatupkan rahan mereka serempak. Sorot mata mereka mendadak berubah. Jaehee menelan ludahnya kuat-kuat, namun ia tetap masih memasang wajah cool muka temboknya. Kepalang jujur, jujur sajalah teruskan ini semua.

   ”Hmm, produk yang saya pakai ini produk Shinhwa,” satu dari mereka berdiri. Dan Jaehee baru bisa melihat profil jelas pria yang duduk di tengah ini. Ia tidak mengenalinya karena rambutnya… ditarik kebelakang? Aduh, gaya macam apa…

   Direktur Departemen Fashion.

   ”Oh,” Jaehee menatap pakaian itu lekat-lekat.

   ”Bagaimana menurutmu?”

   Jaehee menatap wajah sang Direktur. ”Bukan bermaksud menyinggung Anda, Sajangnim. Saya sudah pernah lihat foto Anda di televisi, dan dari pertama melihat foto Anda, menurut pendapat saya… Anda bukan orang yang tepat untuk fashion.” Dan tiga orang di sampingnya langsung terbahak.

   Wajah sang direktur, mengerut, kemerahan. Namun ia memaksakan diri untuk tersenyum. ”Oh Jaehee-ssi, kau orang pertama yang jujur hari ini.” Dan ia tersenyum lebar. ”Aku butuh bantuanmu untuk menjalankan Departemen ini.”

   Kini, ganti Jaehee yang melongo. ”Mwo?”

   ”Selamat!”

   ”Chukadeurimnida, Oh Jaehee-ssi.”

   ”Selamat bergabung di Shinhwa Corp, Oh Jaehee-ssi.”

   Jaehee mengedipkan matanya beberapa kali, masih belum bisa mencerna. Bukankah seharusnya dia tidak diterima? Dia terlalu jujur mengkritik, bahkan dia merasa belum semua yang mau ia ungkapkan keluar, kenapa dia sudah diterima saja?

   ”Izinkan kami memperkenalkan diri. Aku, Lu Han. Direktur Promosi dan Pemasaran Shinhwa Corp.” Pria penuh senyum yang duduk paling pinggir menjabat tangan Jaehee. ”Yang ini, Kris Wu,” ia menunjuk yang wajahnya awalnya Jaehee kira paling galak, namun ternyata terbahak juga saat Jaehee mengatakan sang direktur tak punya kemampuan di bidang fashion. ”Dia adalah Direktur Produksi, dan yang ini, Zhang Yixing.”

   Jaehee menjabat satunya lagi, pria dengan wajah tenang.

   ”Dia adalah anggota Direksi Humas, dan yang ini, tentu saja yang sudah kau lihat di televisi,” dan Lu Han cekikikan. ”Kim Junmyeon.”

   Junmyeon tersenyum padanya.

   ”Sebentar,” sela Jaehee pelan-pelan. Semua begitu tiba-tiba terjadi di hadapannya. Bukankah ia melakukan kesalahan fatal? Bukankah budaya Korea Selatan menjunjung tinggi kesopanan? Bukankah apa yang ia lakukan sama sekali tidak menunjukkan hal itu? Ia mengkritik, bahkan Direkturnya, Demi Tuhan. Bagaimana dia bisa diangkat.

   ”Ada apa, Oh Jaehee-ssi?”

   ”Ini… benar?”

   ”Tentu, ini kontraknya.” Zhang Yixing menyodorkan sebuah map kulit.

   Jaehee ternganga. Dia tidak sedang, dikerjai bukan? Bukankah, seharusnya orang-orang ini tersinggung? Ibunya bilang meskipun kejujuran yang dikatakan Jaehee itu baik, ada baiknya jika tidak mengutarakannya secara gamblang seperti yang biasa ia lakukan.

   Tapi… kontrak ini?

   Dua puluh menit kemudian, setelah Direktur Humas menjelaskan panjang lebar dengan wajah datarnya (tapi punya lesung pipi) mengenai kontrak kerja, dan tentu saja job desk dari Jaehee, ia menanyakan kapan kira-kira Jaehee bisa mulai bekerja, dan tentu saja karena memang ia pengangguran dan tak punya pekerjaan, serta ibunya juga mau pergi. Jaehee siap bekerja sekarang juga bahkan.

   ”Mengenai seragam…” sang Direktur Fashion menyela.

   Jaehee mengernyit. ”Disini ada seragamnya?”

   ”Oh, bagaimana menurutmu?” sambar si wajah dingin, Kris Wu. ”Apakah Departemen Fashion butuh seragam?” Junmyeon menghela napas, wajahnya pasrah saja. ”Sebenarnya, aku sudah mau menyarankan sejak lama, kalau seharusnya Departemen Fashion berdandan lebih fashionable, tidak seperti Direktur kita ini. Seperti yang Jaehee-ssi katakan, untuk benar-benar membuat perubahan. Aku sudah pernah menyarankan hal ini, tapi nenek tua itu (direktur lama) tidak pernah mau mendengar.”

   Jaehee mengangguk-angguk. ”Kalau mengenai seragam, sejujurnya aku tidak masalah, tapi… seragam yang fashionable, seperti kata Sajangnim.” Ia menunjuk Kris.

   ”Ehem, tapi kan…” si putra CEO menyela, ”Kita tidak mungkin bekerja menggunakan kaus, Kris.”

   ”Baju bebas tidak harus selalu kaus, Junmyeon!” balas Kris.

   ”Tapi, kan…”

   Direktur Lu menatap Jaehee, ”Jaehee-ssi, sebagai asisten direktur, bagaimana menurutmu?”

   ”Hmm…” ditanya begitu Jaehee tidak bisa langsung mengutarakan pendapatnya. Ia berpikir lamat-lamat. Mengenai seragam, ia tidak keberatan dengan seragam memang, tapi kalau menuruti selera direkturnya ini, yang benar-benar tidak punya taste fashion, kapan majunya departemen ini? ”Mungkin kalau Junmyeon Sajangnim mau tetap berseragam, bisa dilanjutkan… tapi mungkin tidak, err… seperti ini seragamnya.”

   ”Memang ada apa dengan fashion-ku?” dan Jaehee hampir merasa Direkturnya ini merengek.

   Bagaimana dia bisa jadi Direktur, ya ampun?

   ”Ya, Kim Junmyeon!” Lu Han sepertinya bisa melihat tatapan skeptis Jaehee pada Direkturnya, Junmyeon langsung berusaha menguasai diri. ”Sekarang kau sudah punya asisten, jujur saja, Oh Jaehee-ssi, Junmyeon sama sekali tidak mengerti sedikitpun soal fashion, jadi kau harus membantunya sebaik mungkin, oke? Kami mengandalkanmu.”

   ”Ah, ye…” Jaehee menjawab.

   ”Kau bisa minta saran dariku,” Kris Wu menepuk lengan Jaehee. ”Diantara mereka berempat, akulah yang terbaik soal fashion.”

   ”Cih~” gumam Zhang Yixing.

   Lu Han memutar matanya, dan Junmyeon geleng-geleng kepala.

   ”Kalau begitu,” Junmyeon kemudian menatap Jaehee lamat-lamat. ”Kau bilang kau setuju kalau departemen kita masih terus mengenakan seragam, bukan?”

   Jaehee mengangguk.

   ”Bagaimana kalau kau yang mencarikan seragam?” tanya Junmyeon, dengan senyum pasta giginya. ”Anggap saja itu tugas pertamamu, kalau bisa senin ini kita sudah bisa pakai seragam itu.”

   Dan Jaehee menghitung, jika hari ini hari Rabu, maka dia punya waktu empat hari. ”Oke.”

   ”Empat hari, kau yakin, Jaehee-ssi?” tanya Zhang Yixing.

   Jaehee mengangguk, yakin.

   ”Jinjja?” Lu Han terbelalak. ”Kau yakin kau bisa, Jaehee-ssi?”

   ”Kalau belum dicoba, kenapa tidak? Oh iya, boleh aku minta daftar biodata para pegawai Departemen Fashion?”

 

*           *           *

Junmyeon duduk di belakang mejanya, mengamati pergerakan grafik saham yang ada di layar komputernya. Ia menghela napas, seharusnya ia tahu kalau pekerjaannya bukan hanya termangu menatap pergerakan saham, hanya saja, ia memijit pelipisnya, ia tidak tahu kalau Departemen Fashion ternyata sehancur ini dipegang si Nenek Tua, Kris memberinya panggilan.

   Tidak ada tawaran apa pun, tidak ada kontrak kerjasama apa pun, dan Junmyeon tahu, dia harus benar-benar merangkak dari bawah membangun Shinhwa Fashion. Benar-benar dari angka nol. Setelah Jaehee undur diri sambil membawa map besar berisi biodata pegawai, ketiga sahabatnya membombardirnya dengan pertanyaan apakah dirinya menguji Jaehee dengan memberikan pekerjaan berat dalam waktu yang singkat.

   Junmyeon menggeleng. Dia sama sekali tidak ada niat menguji gadis itu. Jujur dia kagum, dan merasa dia membuat keputusan tepat langsung mengangkat gadis itu sebagai asistennnya. Dia butuh asisten yang bukan hanya mengerti fashion, tapi juga mental baja.

   Meski mulut gadis itu sedikit kejam, tapi Junmyeon merupakan orang yang sangat terbuka terhadap kritikan. Junmyeon yakin dengan perubahan besar, Departemen Fashion bisa maju. Tapi, melihat betapa sepinya permintaan kerjasama untuk Departemennya ini, Junmyeon mau tak mau sakit kepala juga.

   Memang saham sudah mulai stabil, tapi jelas belum berada di garis meraih keuntungan karena memang ia harus melakukan sesuatu, tapi jujur dia belum bisa menemukan inovasi baru, dan dia harus menemukan inovasi itu dalam waktu cepat, tapi apa? Dia tidak punya waktu lama untuk mencari inovasi terbaru. Junmyeon membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya, frustasi.

   Kenapa dia harus mendapatkan posisi Direktur Fashion?

   ”Sajangnim,”

   Junmyeon mendongak, kaget mendapati asisten barunya tengah menatapnya dengan keheranan. Junmyeon buru-buru menegakkan dirinya. Setidaknya, wibawa, atau kharisma yang ia punya tidaklah luntur.

   ”Maaf, Sajangnim, saya tadi mengetuk pintu tapi Sajangnim tidak menjawab, dan pintu sedikit terbuka…”

   ”Tak apa-apa, tak apa-apa,” buru-buru Junmyeon menjawab. Dan menunjuk kursi di depannya. ”Silakan duduk, Jaehee-ssi.”

   Jaehee duduk di hadapannya dan meletakkan satu buah map kulit hijau, ”Ini desain kotor untuk seragam Departemen Fashion, saya juga sudah cantumkan bahan yang tidak terlalu mahal, tapi cukup bagus dan nyaman untuk dipakai para pegawai sambil bekerja. Setelah berkonsultasi dengan Luhan Sajangnim.”

   ”Hmm, biar kulihat,” Jaehee memberikan map tersebut pada Junmyeon. Dan meskipun Junmyeon tidak terlalu mengerti fashion, dan menurut Jaehee ini baru desain ’kotor’, Junmyeon bisa melihat kalau pakaian itu terlihat luwes, dan bagaimana anak-anak jaman sekarang menyebutnya?

   ”Aku suka desainnya.” Komentar Junmyeon sambil tersenyum.

   ”Terima kasih, Sajangnim.” Jaehee tersenyum kecil menanggapinya. ”Apakah ada yang Sajangnim butuhkan? Sepertinya… kalau boleh saya memberi komentar, tadi Sajangnim terlihat… down? Atau hanya mengantuk?”

   Junmyeon terkekeh kecil, kemudian mengangguk. ”Bisa dibilang down, begini… kau tahu sekali aku sama sekali tidak punya keahlian dalam bidang fashion, bukan? Dan aku minta maaf sekali harus bertanya seperti ini, dalam kapasitasku sebagai direktur… tapi aku benar-benar menemui jalan buntu.”

   Jaehee mengangguk, memberi isyarat agar Junmyeon meneruskan.

   ”Begini, kau lihat saham sudah mulai stabil. Tapi, aku jelas harus membangun departemen ini dari bawah. Tidak ada kontrak kerjasama yang dibuat selain departement store Shinhwa, yang seperti tadi kau katakan, tidak ada produk asli dari Shinhwa-nya…”

   Junmyeon menghela napas lagi, ”Aku mau ada perubahan disitu, Jaehee-ssi. Aku setuju ketika kau berkata bahwa di departement store sendiri, seharusnya Shinhwalah yang jadi Rajanya, bukan produk luar.”

   ”Saya mengerti, Sajangnim,” Jaehee mengangguk-angguk. ”Saya cukup terkesan dengan target Anda. Anda langsung mengejar target yang tinggi. Biasanya orang akan mulai selangkah demi selangkah.”

   ”Tidakkah kau berpikir kalau aku terlalu ambisius, Jaehee-ssi?”

   ”Tidak, tidak sama sekali, Sajangnim.” Jaehee tersenyum kecil. ”Kalau kita bisa melakukan hal besar secara langsung kenapa kita harus mulai dari hal yang kecil? Orang terbiasa dibuat rendah diri, makanya tidak berani menjadi besar. Menjadi orang besar butuh kerendahan hati, bukan rendah diri.”

   Alis Junmyeon terangkat, ”Ehm… apakah menurutmu aku bukan orang yang rendah hati?”

   ”Tidak sama sekali,” Jaehee menggeleng, wajahnya serius, ”Orang yang rendah hati akan mengakui, seperti Anda, bahwa Anda memang tidak menguasai bidang fashion.”

   Junmyeon tertawa mendengar balasan Jaehee yang jujur itu. ”Well, baiklah… cukup soal sifat orang. Aku tahu kau bukan pada posisi yang sama denganku, tetapi dengan keahlian dan kemampuanmu, juga posisimu sebagai asistenku, apa yang bisa kau sarankan?”

   ”Hmm, apakah saya boleh jujur, Kim Sajangnim?”

   Junmyeon mengangkat kedua tangannya, mempersilakan.

   ”Pertama-tama, Shinhwa Depstore ini termasuk salah satu pusat perbelanjaan paling bergengsi di Korea Selatan, bahkan di Asia Timur. Nama Shinhwa sendiri sudah terkenal dimana-mana. Maka, kalau kita mau membuat sebuah terobosan dalam hal fashion, Shinhwa yang sudah memajang produk-produk kelas dunia, dan bukan kelas lokal, harus bisa membuat produk yang standarnya sama seperti barang-barang yang dijual disini,” Jaehee menuturkan. ”Bahkan kalau bisa harus lebih dari itu.”

   Junmyeon mengerutkan keningnya, mengangguk-angguk. ”Aku paham, aku paham. Jadi kita harus membuat produk yang standarnya benar-benar internasional, benar?”

   ”Betul. Disini saya lihat banyak sekali karya-karya terkenal dunia. Dan memang itu tugas berat, dan… saya rasa budget yang kita miliki sangat terbatas, bukan? Ini tantangan besar bagi Anda, Sajangnim.” Tambah Jaehee, dengan wajah main-main. ”Tapi saya yakin Anda bisa.”

   ”Dana kita sangat terbatas,” Junmyeon memijit pelipisnya. ”Jaehee-ssi, apakah menurutmu dengan membuat satu buah produk saja, kita sudah bisa untung?”

   ”Belum. Tapi kita bisa menarik perhatian orang untuk langkah pertama, Sajangnim.” Sahut Jaehee kalem.

   ”Dan agar semua mata memandang pada Shinhwa dan produk barunya…” Junmyeon berkata lambat-lambat.

   ”Tentu saja, kita harus memakai model, Sajangnim.”

   ”Model?”

   ”Hmm, siapa model muda, aktor, artis, atau public figure yang tengah digandrungi Korea Selatan sekarang? Kita pakai dia untuk menjadi model, kita bisa save banyak dari biaya produksi untuk biaya promosi, kan?”

   Junmyeon tersenyum tipis, kemudian mengangguk. ”Kau memang asisten yang baik. Tolong panggilkan Luhan sekarang!”

   ”Baik, Sajangnim.” Jaehee berdiri dari kursinya, membungkuk dan berbalik menuju pintu, ketika Junmyeon memanggilnya lagi. Ia berbalik dengan wajah penuh tanda tanya.

   Junmyeon melambaikan map hijau. ”Masukkan ke bagian personalia, katakan untuk memproduksi ini secepatnya.”

   ”Ne,”

 

*           *           *

 

”Wow, baru satu hari dia disini, dan kau sudah bisa ikut rencana gila gadis Arizona itu?” tanya Kris dengan kedua mata melebar, menatap sahabatnya, dengan sangsi dan tidak percaya.

   ”Apa yang salah dengan keputusan itu?” tanya Junmyeon kalem.

   Kris menggeleng, tidak yakin, ”Hanya heran saja, maksudku, kau kan bisa mengajukan pinjaman dan membuat produk dalam jumlah besar, daripada menghabiskan uang untuk menyewa model.”

   ”Hmm, Kris,” potong Luhan. ”Kurasa aku justru sependapat dengan Junmyeon disini. Ide Oh Jaehee-ssi itu benar. Untuk menarik perhatian kita perlu promosi, dan uang yang kita keluarkan untuk biaya produksi tidak akan terlalu banyak. Jika banyak permintaan, dan diminta restock kita sudah memiliki keuntungan. Nothing to lose, ini win win solution!”

   Junmyeon menjentikkan jarinya. ”Itulah kenapa aku setuju. Pikirkan, kalau produk yang kita keluarkan ternyata sebetulnya tidak begitu bagus, meski aku berharap sebaliknya, daya tarik model ini yang akan membawa pembeli meski yaa… barangnya hanya seadanya.”

   ”Benar! Ini jenius, Junmyeon-ah! Gadis itu luar biasa!” seru Luhan takjub, sementara Junmyeon tertawa.

   Yixing, yang sedari tadi hanya diam saja, tiba-tiba bertanya, ”Lalu, siapa modelnya? Produknya apa?”

   ”Kurasa ini pekerjaan lebih untuk Jaehee-ssi. Luhan-ah, tolong kau hitung jumlah yang tepat untuk membayarnya. Bukan hanya sebagai asisten, juga sebagai pembuat produk baru kita.”

   Luhan tertawa, ”Kau serius, Kim Junmyeon?”

   ”Tentu, dia bekerja bukan hanya sebagai seorang asisten. Mungkin seharusnya dia yang jadi Direktur.” Dan ketiga temannya tertawa bersama-sama, ya menertawakan kepolosan dan kejujurannya.

 

*           *           *

Jaehee duduk di mejanya, mengerjakan skesta yang terpikirkan di otaknya setelah melihat-lihat koleksi terbaru para perancang dunia. Mode apa yang tengah digandrungi pria-pria Korea Selatan, dan dunia tentunya. Sesekali goresan pinsilnya berhenti, digantikan oleh penghapus jika ia merasa gambarnya kurang pas.

   Ia berhasil menyelesaikan desain seragam untuk Departemen Fashion. Dalam waktu sehari, ya benar. Mungkin saking bersemangatnya dirinya, dan sekarang, mumpung semangatnya masih meluap-luap maka Jaehee meneruskan pekerjaan keduanya.

   ”Jaehee-ssi.”

   Jaehee mendongak. ”Oh, Luhan Sajangnim.”

   ”Ini sudah pukul lima sore, secara teknis kau sudah boleh pulang…” dia tersenyum, menghampiri meja Jaehee.

   Jaehee menatap ke sekelilingnya, meja-meja lain memang sudah mulai sepi, atau mungkin pemiliknya tengah membereskan barang-barang mereka. Ia melirik arlojinya dan terperangah.

   Bagaimana waktu bisa berlalu secepat ini?

   ”Terlalu fokus dengan pekerjaanmu?” tanya Luhan, sepertinya mengerti.

   ”Ahahaha, hanya saja desain adalah sesuatu yang saya amat sukai, Luhan Sajangnim.” Jawab Jaehee menutup buku sketsanya. ”Lebih baik saya bawa pulang ke rumah, dan melanjutkannya.”

   ”Well, sebetulnya tidak ada tenggat waktu, tapi kalau lebih suka menyelesaikannya aku tidak melarang. Efisien waktu.” Luhan terkekeh. ”Oh iya, Suho memintaku untuk memberitahumu bahwa ia menyiapkan ruangan untukmu, kau bukan lagi sekedar asisten, kau juga merangkap desainer eksekutif Shinhwa Fashion Departement.”

   Apa?

   Jaehee mengerjapkan kedua matanya. ”Apakah saya tidak salah mendengar, Luhan Sajangnim?”

   ”Yah aku kesini hendak memberikan kabar itu, tapi berhubung Junmyeon itu terlalu lembek, ia memberikanmu pilihan. Apakah kau tetap mau sebagai asisten saja, atau mau merangkap dua jabatan. Jadi ya, ini baru penawaran… karena menurutnya kau harus dibayar lebih karena telah menyelamatkan Departemen Fashion.”

   ”Sajangnim, saya belum melakukan apa-apa,” Jaehee geleng-geleng. Agak panik juga. Bagaimana tidak? Tawaran ini, promosi kenaikan jabatan ini, harus ia pegang dengan hati-hati. Tanggung jawabnya juga besar, dan Jaehee tidak yakin ia telah siap untuk itu, meski tersanjung perusahaan ini menghargai kerjanya. ”Saya baru satu hari disini.”

   ”Ya, aku paham maksudmu. Ini baru penawaran, Jaehee-ssi. Kalau kau memilih untuk memikirkannya dulu, aku mengerti. Kau kerjakan dulu semampumu… tapi kami akan tetap membayarmu lebih, oleh setiap karya yang kau buat. Apa kita sepakat kalau soal itu?”

   ”Baiklah, Sajangnim, terima kasih banyak!” Jaehee membungkuk dalam-dalam, dan pada saat yang sama, ponselnya berdering. Baik dirinya dan Luhan menatap ponsel tipis yang mulai berputar di atas meja kerjanya.

   Luhan tersenyum tipis, ”Sepertinya itu tanda aku harus undur diri. Terima kasih, Jaehee-ssi, atas waktumu. Sampai ketemu besok.”

   ”Terima kasih, Sajangnim.” Jaehee membungkuk kembali, dan meraih ponselnya untuk menggeser kursor pada layar sentuh Apple-nya. ”Halo Eomma~”

   ”Hai, tidak ada kabar darimu, bagaimana harimu?”

   ”Ah~ Eomma tidak akan percaya!” seru Jaehee penuh semangat, tidak sabar untuk menceritakannya pada sang ibu.

   ”Oh, oh… don’t tell me…”

   ”Yeah, Mom, you got it right! Aku diterima bekerja, dan posisiku bagus, posisi yang kuinginkan~” suara Jaehee melengking saking senangnya ia menceritakan hal ini kepada sang ibu.

Benarkah?! Woah, selamat Jaehee-ya! Aku tahu kau yang terbaik~”

   ”Gomawo, Eomma~”

   ”Kalau begitu, Eomma akan menjemputmu. Eomma mau lihat dimana kau bekerja, bisa berikan alamat kantormu?”

 

*         *           *

Junmyeon keluar dari ruangannya, mendapati meja Jaehee yang terletak tepat di depan ruangannya sudah rapi. Junmyeon menoleh ke sekeliling ruangan besar tempat beberapa pegawai yang menjadi orang-orang yang harus selalu terhubung dengannya sudah tidak ada.

  Luhan juga belum bilang mengenai hasil perundungannya dengan Jaehee soal promosi jabatannya, yang langsung ia tawarkan, begitu melihat kemampuan Jaehee. Junmyeon hanya berharap, dengan langkah drastis yang ia buat hari ini, ia bisa menjadi seorang Direktur yang dapat diandalkan, yang bukan hanya menerima jabatan karena ia adalah putra sang pemilik.

   Ponselnya berdering.

   Ayahnya.

   ”Oh, Appa…”

   ”Hai, Nak… bagaimana kabarmu hari ini? Kudengar dari Kris, kau sibuk sekali hari ini sampai-sampai tidak mampir untuk menawarkan teh ke ruangan Appa…”

   Junmyeon terkekeh. ”Iya, Appa… aku membuat beberapa perubahan hari ini. Dan lagipula, Appa tidak bisa sehari saja tidak meminum teh atau kopi? Aish, kalau diabetes bagaimana… gula darah Appa sudah mulai tinggi…”

   ”Dan… inilah anak Appa, sama saja seperti ibunya~ ayolah, kau selalu memberikan Appa gula bebas kalori, yang rasanya merusak teh dan kopi-kopi Appa. Kenapa masih saja melarang? Nah, bagaimana kalau sebelum pulang kita mampir ke Coffee Bene?”

   Junmyeon memutar matanya, ayahnya ini. ”Baiklah, baiklah… aku sudah selesai kok.”

   ”Appa tunggu di bawah, oke?”

   ”Ne, Appa…”

   Junmyeon geleng-geleng dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku sembari berjalan menuju elevator, dan menekan panah ke bawah tepat di samping kisi-kisi elevator. Dan dalam waktu singkat, Junmyeon sudah berada di lobi, dan berjalan mendekati pintu berputar, pintu utama Shinhwa Corp.

   Ia bisa melihat ayahnya tengah berdiri, di dekat mobilnya. Menjawab sapaan karyawannya, ia mengikuti kisi-kisi pintu putar itu, dan menghampiri ayahnya, dan Byul, yang sepertinya tengah memperhatikan sesuatu.

   ”Appa…” panggil Junmyeon, kini benar-benar berdiri di samping ayahnya. Ia menatap ayahnya yang pandangannya nanar, terpaku pada satu titik, begitu juga Byul. Keduanya seolah-olah tidak menyadari kedatangan dan kehadiran Junmyeon di tengah-tengh mereka.

   Akhirnya Junmyeon ikut menoleh, dan mencari. Apa objek yang membuat ayah dan supirnya ini terkesima, dan jawabannya sebetulnya tidak jauh dari situ. Dan yang membuat Junmyeon kaget. Ia mengenal, siapa yang ayah dan supirnya perhatikan.

   Asisten barunya, Oh Jaehee. Dengan seorang wanita, mungkin seusia ayahnya, yang mirip dengan Jaehee, mungkin ibunya?

   Samar-samar, Junmyeon bisa mendengar percakapan antara kedua wanita itu. Ibunya terlihat, tidak terlalu senang. Apakah Jaehee telah melakukan sesuatu yang membuat ibunya tidak suka? Lalu, membuat ayah dan supirnya memerhatikan keduanya.

   ”Apa yang kau lakukan disini?!”

   ”Ini kantorku, Eomma… aku diterima bekerja disini…”

   ”Shinhwa?! Kau bekerja di Shinhwa?!”

   ”Iya, Eomma… memang kenapa?” Jaehee terlihat bingung melihat ketidaksukaan yang begitu kentara pada wajah sang ibu. ”Disini Eomma, yang aku bilang aku diterima…”

   ”Cukup!” ibunya memotong, wajahnya menjadi keras. ”Kalau Eomma tahu disini kau bekerja, Eomma lebih baik membawamu ke Pulau Jeju!”

   Junmyeon menegang, tapi ia menyadari bahwa ayahnya di sampingnya juga mengepalkan tangannya.

   ”Eomma… ada apa? Memangnya kenapa dengan bekerja di Shinhwa?” Jaehee menatap ibunya bingung.

   ”Keluar! Kau harus resign!”

   Perut Junmyeon seolah diaduk begitu saja, ia bisa melihat wajah Oh Jaehee memucat mendengar permintaan ibunya. Tapi, kenapa? Memang apa salah Shinhwa pada ibu Jaehee?

   ”Tinggalkan perusahaan ini! Kau bisa bekerja di tempat lain!”

   ”Tapi kenapa?!” Jaehee tak kalah nyaring menjawab seruan sang ibu. ”Eomma, bisa jelaskan kenapa? Ada apa?”

   ”Karena…”

   Dan Junmyeon semakin kaget, ketika di dengar suara berat yang jelas-jelas dimiliki oleh ayahnya menjawab pertanyaan asistennya.

   ”Karena ini perusahaanku, Han Yeseul?”

-TBC-

Ah~ lama nggak update ini~

Semoga masih pada inget sama ceritanya hehehe… 

komennya di tunggu

6 thoughts on “Red Little Daisy ~Strike 3~

  1. hyena lee says:

    Uaaah akhirnya ketemu juga appa suho sama eommanya jaehee. Sebegitu benci nya jah eomma jaehee sama suho appa. Pas jaehee jujur soal pendapatnya ttg suho lucu hgt eon. Aku sampe ketawa sndiri ngebayanginnyaa kekeke… trus jaehee keren juga uda mau diangkat jadi desainer sekaligus asisten direktur. Tgl liat aja niih gmana kelanjutan dari mereka b4. Ditunggu nextnya eon..

  2. Lisa says:

    Masihh masiihh inget bangeettt:3 ahh parah pas yang ke tbc nya malah tegang banget unn, paraahhh…. Lanjutannya harus banget kilat nih unn, parah parahhh:3

  3. elsacessara says:

    Wah akhirny dilanjutin nih ff, udah nunggu lama hoho jaehee jujur banget duh ngomentarin suho oppa wkwk buruan dilanjut lg lah pokokny nih ff daebak eon. Gak tau harus komen apa lg haha fighting!

  4. winnurma says:

    akhirnya dilanjut juga ni ff
    udah lama banget eon
    hehehe
    si junmyeon direktur fashion yg kudet heheh
    dan penasaran sama kelanjutannya
    fighting eon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s