[SeYeol Reverie] A Beginning

a beginning

A Beginning

Ra & Neez | Park Chanyeol, Cha Sera, EXO Members | Oneshot | Canon

kindly read Cha Sera’s Profile before you read this new story 😉

©indayleeplanet2014

***

23 May 2014 – Adelaide Café

Gadis itu melangkahkan kakinya dengan ringan, berjalan melewati meja-meja penuh pelanggan sambil membawa nampan berisi dua gelas frappe dan dua piring red velvet yang dihias sedemikian rupa hingga menarik perhatian setiap mata yang meliriknya.Dress pink yang ditutup dengan apron putih yang dikenakannya serta rambut hitam kemerahan yang diikat kebelakang tak membuat kecantikannya hilang.

Ia lalu berhenti di meja yang terletak paling ujung dari ruang café tersebut dan meletakkan minuman dan makanan tersebut di meja.

“Dua frappe dan dua red velvet, ne?”Pelanggan itu lalu menganggukkan kepalanya, “Ada yang kalian butuhkan lagi?”

Setelah memastikan kebutuhan pelanggan telah terpenuhi, gadis  itu membungkukkan badannya lalu segera beranjak dari meja pelanggan itu.

Chogiyo…”

Gadis itu menoleh, mendapati seorang pria tengah mengangkat tangan kirinya. Ia menghampiri pria itu dan tersenyum begitu melihat wajah pria itu, “Sejak kapan kau disini?”

“Sejak  1 jam yang lalu.” Ujar Pria itu sambil menyunggingkan senyumnya.

Gadis itu tertawa, lalu menarik kursi yang berseberangan dengan pria itu dan duduk di kursi tersebut, “Mwoya…1 jam disini dan kau tak memanggilku, oppa?

Ya Cha Sera. Oppa ‘kan hanya menunggu waktu yang tepat untuk memanggilmu kesini. Oppa lihat kau sangat giat dalam bekerja eoh?”

Keurom. Oppa yang mengajariku untuk selalu giat dalam bekerja.” Sera menyunggingkan senyum bangganya pada Cha Daeho, kakak semata wayangnya.

Daeho mengangkat tangannya, lalu mengelus puncak kepala adiknya pelan. “Tapi kau juga harus ingat kesehatanmu, Sera-ya. Dan kau istirahatlah sekali-sekali.”

Arayo~.” Sera menganggukkan kepalanya mengerti lalu menatap oppa-nya penuh tanya, “Keundae oppa, apa yang oppa lakukan disini? Bukankah hari ini oppa super sibuk? Bahkan oppa menyuruhku pulang dengan Hyun oppa.”

“Ah, matda!” Daeho menjetikkan jarinya, teringat akan tujuannya mengunjungi adiknya itu. Ia lalu merogoh backpack yang ia bawa tadi dan menyerahkan selembar kertas berbentuk persegi panjang pada Sera, “Datanglah. Hubungi oppa saat sudah selesai dan oppa akan menjemputmu.”

Sera menerima kertas pemberian kakaknya, membacanya sekilas dan langsung menatap kakaknya dengan bingung, “Oppa, igemwoya? Oppa menyuruhku menonton konser?”

Daeho mengangguk, “Kau harus berterima kasih pada oppa-mu ini. Susah payah oppa mendapatkan tiket ini secara gratis, dan section itu adalah section yang paling diinginkan oleh fans-fans mereka.”

“Jadi pasti kan dirimu datang, Sera-ya.” Daeho bangkit dari kursinya dan membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakan, diikuti Sera yang ikut berdiri dan masih menatap oppa-nya bingung.

“Tunggu sebentar oppa,” Sera mendekati oppa-nya dengan cepat, “oppa ‘kan tahu kalau aku tak pernah menonton konser dan aku memang tak ingin menonton konser.”

Oppa tahu. Tapi kali ini oppa ingin kau datang, Sera-ya. Oppa ingin kau santai sedikit.”

Daeho tahu dongsaeng-nya bukanlah tipe seorang gadis yang suka dengan satu boyband sampai-sampai ia rela mengorbankan waktunya untuk menonton konser mereka, ia adalah gadis yang hanya suka mendengarkan lagu dari boyband itu jika ia memang suka lagunya. Bukan karena ketampanan member-nya yang mampu membuat setiap gadis melayang ketika melihatnya.

Tapi Daeho ingin adiknya untuk sedikit ber-refreshing. Kuliah di pagi hari, kerja part time yang ia lakukan di siang sampai menjelang sore, dan tugas kuliah yang Daeho tau cukup banyak dan menguras pikiran yang harus ia kerjakan sampai dini hari.  Hanya membayangkannya saja, Daeho sudah merasa lelah dan tak tega melihat keseharian adiknya itu.

“Pokoknya setelah shiftmu berakhir, Jaehyun akan menjemputmu dan mengantarmu ke stadium. Jangan kabur darinya, Arro? Kau tak mau dia menerormu karena seenaknya meninggalkannya ‘kan?”

Daeho tertawa puas begitu melihat Sera menganggukkan kepalanya secara terpaksa. Memang, jika Daeho sudah menyinggung tentang ‘Jaehyun akan menjemputmu’ atau ‘Jaehyun menerormu’ atau apapun pada Sera, Sera mau tak mau harus menuruti kata-kata oppa-nya. Karena Sera sudah pernah meninggalkan Jaehyun yang menjemputnya, dan berakhir tragis karena Jaehyun menerornya selama satu minggu penuh dan membuat dirinya kapok untuk meninggalkan Jaehyun.

Oppa pergi dulu.Sampai bertemu nanti, Sera-ya.” Daeho menyentil hidung adiknya yang menggembungkan pipinya dengan telunjuk, sebelum akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari café.

“Haaah~ bagaimana ini…” Sera kembali melirik tiket konser yang ia pegang dan membacanya pelan, “The Lost Planet concert…hmm, sepertinya tak aka nmembosankan. Lagipula lagu mereka memang bagus-bagus.”

***

Seoul Olympic Stadium

Sera melangkahkan kakinya turun dari motor sport besar berwarna hitam itu, dan tersenyum lebar pada pengendaranya, yang dibalut jaket kulit hitam, dengan helm full face hitam. Sera bersyukur, orang yang mengantarkannya kini tidak melepas helmnya, karena hanya karena ia membawa motor sport dengan penampilan necis saja, ia sudah menarik perhatian para penonton konser yang didominasi oleh kaum hawa. Apalagi jika pria di hadapannya kini berani melepas helmnya, dan para wanita tahu siapa dia.

”Hyun Oppa, gomawo.”

Pria itu mengacungkan ibu jarinya. ”Baik-baik, dan nikmati konsernya.” Suaranya agak teredam helm.

”Pasti~ terima kasih sudah mau mengantarkanku dengan selamat ke sini~” cengir Sera sambil membuat gestur hormat.

”Aku harus segera kembali ke lokasi, jaga diri baik-baik, kalau ada apa-apa dan Oppamu masih sibuk, kau bisa hubungi aku. Oke?”

”Siap boss!”

Bye~”

Dan motor itu melaju begitu saja, Sera mengiringi kepergiannya sambil melambai-lambaikan tangannya. Setelah motor hitam itu benar-benar menghilang dan tidak terlihat, Sera berbalik menatap bangunan besar di hadapannya. Tempat berlangsungnya konser EXO yang tiketnya habis dalam dua menit saja, menurut teman kuliahnya.

Dan kakaknya memberikannya kepadanya, disaat semua orang susah payah mendapatkannya, ia harus benar-benar bersyukur, dan seperti pesan sang kakak, dan sahabatnya yang bawel, ia harus menikmati kesempatannya bersantai. Tak dosa bukan bersantai?

Sera menggenggam tiketnya erat-erat dan berjalan menuju pintu masuk dengan metal detector di hadapannya. Baru ia mau melangkahkan kakinya masuk, tangannya di tahan oleh seseorang.

”Permisi?”

Ia menoleh, mendapati seorang gadis bermata bulat, dengan rambut cokelat panjang, berbaju putih. Di kepalanya ia memakai bando besar bertuliskan ”L A Y” dan ia membawa banyak atribut di tangannya.

”Boleh aku tahu kau duduk di section apa?” tanya gadis itu.

Sera mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian menatap tiketnya, meski sedikit kaget dengan pertanyaan gadis itu. ”Ehm… disini,” ia malah menunjukkan nomor bangkunya.

”Ah syukurlah! Kami dari Lay Fan Union, dan aku dari Fansite Yixing,” tiba-tiba gadis itu berbicara panjang lebar, dan Sera harus merasa bersalah, karena dari deretan kalimat yang ia katakan, ia tidak mengerti satu pun. ”Kebetulan aku kurang memeriksa di section tempatmu duduk apakah sudah ada cukup banyak orang yang membawa hand banner… dan…” ia mengamati Sera dengan seksama. ”Sepertinya kau tidak membawa hand banner bukan?”

Sera menatap tangan kosongnya, mengangguk, masih tidak mengerti.

”Kalau begitu ini, jangan lupa diangkat ketika lagu Lucky. Lalu ini, tolong diangkat setiap bagian Lay, ya.”

Dan tiba-tiba tangan Sera sudah penuh kertas warna-warni itu.

Gomawo, sampai jumpa di dalam. Ah iya, boleh kenalan? Aku Kang Sujin,”

”Oh, Cha Sera.” Sera menjabat tangan gadis itu.

Sera menatap sekali lagi kain-kain lucu di tangannya dengan heran, tapi kemudian ia mengangkat bahu dan membawanya begitu saja ke dalam setelah melewati pemeriksaan keamanan oleh petugas. Dengan suara yang amat riuh, ia bisa merasakan euforia konser merasuki dirinya begitu saja, teriakan-teriakan gembira, dan orang-orang yang memanggil-manggil nama para member.

Karena yang Sera tahu hanya Kai, nama member EXO.

Setelah butuh usaha keras untuk mencapai kursinya, Sera duduk dan memandang berkeliling dengan senang karena seisi stadium ini nampak amat sangat bersemangat, padahal konser jelas-jelas belum dimulai. Sera mengeluarkan kamera poketnya dan mulai mengambil dan mengabadikan dirinya di tengah kerumunan manusia hari itu.

Tiba-tiba saja, saat Sera mengambil gambar terakhir, lampu gelap, dan sorakan riuh rendah berubah menjadi amat sangat keras. Sera tahu, konser pastilah akan dimulai. Meski ia tidak begitu kenal dan mengerti, ia ikut bertepuk tangan dan bersorak heboh saat VCR mulai diputar, dan tampillah wajah-wajah tampan yang namanya belum bisa Sera ingat satu pun.

 

*           *           *

Sera berjalan keluar dari stadium. Bajunya basah, karena ia begitu bersemangat bersorak-sorak. Orang-orang di dalam pasti mengira dirinya adalah salah satu hard core fans yang selalu berteriak jika idolanya muncul. Sera agak bangga juga pada dirinya sendiri, karena hanya dalam sekejap ia bisa mengenali mana Lay atau Zhang Yixing, dan ia berhasil melambai-lambaikan banner yang diminta oleh gadis bernama Kang Sujin pada saat Yixing tampil.

Mungkin Zhang Yixing atau Lay bisa jadi biasnya, pikir Sera sambil cekikikan sendiri. Tidak bisa pungkiri ia sangat menikmati konser tersebut, sangat menyenangkan dan juga sedikit sedih, apalagi konser ini mereka lakukan setelah mereka sempat terkena masalah besar. Sera mungkin tidak tahu pasti siapa, tapi ia tahu kalau ada yang keluar dari EXO.

Sera melipat bannerbanner cantik itu dan memasukkannya ke dalam tas, sambil kemudian mengeluarkan ponselnya. Dicari nama Oppa kesayangannya, dan langsung menempelkan ponsel tipis itu pada telinganya.

Sera-ya, kau dimana?”

”Aku baru keluar dari stadium, Oppa. Kau dimana? Kau bilang aku harus menghubungimu.”

Oke, kau tunggu di meeting point ya, nanti kujemput disana. Pekerjaanku belum selesai, kau mau kan menungguku dulu? Lalu nanti malam Oppa akan traktir makan.”

Jeongmal?!” pekik Sera. ”Asyik, konsernya pasti daebak jadi Oppa dapat bonus, kan? Arasseo, kutunggu di meeting point.”

Oke.”

Dan Sera berjalan perlahan-lahan menuju meeting point sambil mengipasi tubuhnya yang terasa lengket. Ia mencatat di dalam kepalanya agar segera mandi begitu tiba di rumah nanti, ketika bunyi pesan masuk pada ponselnya berdering. Sahabat sang kakak, Ahn Jaehyun, mengiriminya pesan menanyakan keadaannya, apakah ia sudah bertemu dengan kakaknya atau belum.

Dengan riang Sera membalas pesan tersebut, mengakatan bahwa sang kakak akan menemuinya, dan bicara soal itu, Cha Daeho benar-benar tiba di sampingnya. ”Halo~ adik Oppa yang manis~”

Sera mengangkat wajahnya dari ponselnya, senyuman lebar tetap tidak pernah lepas dari wajahnya. Dan itu membuat Daeho, yang penampilannya sebetulnya lusuh, namun tetap tampan, tersenyum bahagia. Rasanya kerja kerasnya seharian ini mempersiapkan keperluan anak-anak itu konser dibalas dengan sepadan, dan adiknya sangat menikmati penampilan anak-anak itu.

”Kau senang?” tanya Daeho, sambil merapikan anak-anak rambut di pelipis Sera.

Sera mengangguk-angguk. ”Tentu~ mereka hebat, Oppa.” Ia mengacungkan jempolnya. ”Aigo~” ia menyadari penampilan sang kakak yang lusuh, buru-buru ia menyeka keringat yang masih ada pada pelipis sang kakak. ”Oppa pasti kelelahan, ya?” tanyanya khawatir.

Daeho menggeleng. ”Sudah biasa,” jawabnya. ”Lagipula melihat kau menikmati konser ini, bukti bahwa kerja kerasku tidak sia-sia.”

”Ahahahaha, Oppa daebak!”

Keurom. Doakan Oppamu ini, suatu saat kita akan buat Cha Entertainment, bagaimana?”

Sera tertawa lepas, ia tahu impian kakak sematawayangnya ini. Dan melihat segala usahanya yang begitu gigih, serta pencapaiannya, Sera yakin, mimpi ituakan jadi kenyataan. ”Pasti, Oppa~”

”Kalau begitu, sebelum kita pulang… aku masih harus membereskan pekerjaanku terlebih dahulu. Kau sudah janji mau menungguku kan, gadis kecil?”

”Iya!”

”Bagus, kalau begitu ayo, sekalian Oppa kenalkan pada artis-artis asuhan Oppa, kau mau kan?”

Mwo?! EXO?! Maksudnya Oppa akan mengenalkanku dengan EXO?!”

Daeho mengedip, menggandeng adiknya yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh kakak sematawayangnya ini. Sera masih terpana, ketika ia benar-benar memasuki kamar ganti yang riuh rendah oleh suara-suara bersemangat, dan teriak-teriakan ”Kalian sudah bekerja keras.” ”Kamsahamnida.” Dan sebagainya lagi.

Sera menyadari, bahwa industri seperti ini, melibatkan banyak sekali orang, dan Sera semakin ingin membantu kakaknya mewujudkan impiannya. Industri seperti ini bisa membantu banyak orang yang membutuhkan pekerjaan. Setidaknya staff saja bisa ratusan jumlahnya.

”Nah, ini dia,” tiba-tiba Daeho berhenti di depan sebuah pintu dengan tulisan besar-besar EXO di hadapannya.

Oppa, apa kau yakin?” cicit Sera.

Daeho mengetuk pintunya. ”Anak-anak! Aku membawa perempuan masuk, jangan katakan ada yang bugil diantara kalian!”

Di dalam langsung terdengar gerabak-gerubuk, suara panik, dan tergesa-gesa. Suara-suara mencicit, melengking, mendesis bisa di dengar dari dalam. Sera sampai cekikikan sendiri.

”SUDAH!”

”Bagus~” Daeho kemudian membuka pintu ruangan itu. ”Halo~ jadi, kalian yang selalu menggodaku mengatakan bahwa aku sibuk mengurusi wanita saja…” dan Daeho menarik Sera masuk.

Sebelas pasang mata menatap dirinya, Sera bisa merasakan panas di kedua pipinya. Bukan karena EXO yang menatapnya, tapi siapa juga yang tidak memerah jika mendadak jadi pusat perhatian dalam waktu singkat, tanpa persiapan apa-apa. Hanya saja kali ini bonusnya, yang memperhatikan adalah sebelas orang pria-pria tampan.

Hyung~” keluh Tao. ”Astaga, kau membawa gadis disaat kami tidak pada penampilan terbaik kami. Baekhyun Hyung, rambutmu~”

Baekhyun buru-buru mengambil topi.

Dan spontan, ketika mendengar peringatan Tao, semua pria yang dilabeli nama EXO itu terlihat panik. Di depan wanita, yang tidak tahu mereka luar-dalam, adalah suatu kewajiban menjaga wibawa, dalam hal ini adalah penampilan mereka sebagai grup idola populer Korea Selatan.

Dan Sera harus menekap mulutnya untuk menahan kikikan otomatis yang keluar, sementara di depannya sang kakak menatap kesebelas anak asuhnya kocar-kacir.

”Maafkan kami, Nona.” Luhan membungkuk, formal.

Sera geleng-geleng. ”Gwenchanayo.”

Hyung, kenapa kau bawa pacarmu kesini?” desis Suho pada Daeho, setengah marah setengah malu. ”Kami tadi masih belum memakai pakaian, dan sekarang kami tidak dalam kondisi baik. Kalau dia bilang pada teman-temannya bagaimana?” tanya Suho, khawatir.

Daeho terkekeh, merangkul Sera ke dekatnya, membuat Lay berdecak, ”Jangan pamer dong, Hyung.”

”Dengarkan aku, kalian selalu menggodaku belakangan ini!” Daeho menatap kesebelas anak-anak itu satu persatu. ”Dan biar kukenalkan gadis ini, agar kalian berhenti menggodaku.”

”Huh~”

”Gadis ini, Cha Sera~”

”HO?!”

”Cha?!”

Daeho mengangguk, kemudian melayangkan jitakannya pada kepala Chanyeol, Baekhyun, dan Chen bergantian. ”Eoh! Namanya Cha Sera, adikku satu-satunya, jadi berhenti mengatakan aku berkencan dengan gadis-gadis di luar sana, eoh?”

”Aw!”

”Sakit, Hyung~”

”Aduh, Sera-ssi tidak akan senang kau memukul kami~”

Sera justru menemukan situasi ini sangat lucu. Dibandingkan penampilan mereka yang penuh kharisma di atas panggung, EXO tetaplah pria-pria muda biasa, yang… seperti ini. Dan tentu saja, mengetahui hal ini, Sera justru semakin kagum dengan mereka.

”Jadi ini adikmu, Hyung? Annyeonghaseyo, Kim Minseok-imnida.”

Sera membungkuk. ”Annyeonghaseyo, Cha Sera-imnida.”

”Dia cantik,” puji Chen sambil tersenyum lebar, Sera bisa merasakan wajahnya memanas ketika kembali, sekali lagi ditatap oleh kesebelas pria di hadapannya. Dan sekali ini, ia ingin buru-buru menghilang dari kamar ganti mereka. Lagipula apa maksud kakaknya ini membawanya kesini?

Daeho geleng-geleng. ”Jangan ada yang macam-macam dengannya. Aku membawanya kesini karena aku sudah mau diledek oleh kalian lagi, mengerti? Sekarang kami mau pulang, ayo, Sera-ya.”

Sera mengangguk, lega. Biar EXO terlihat ramah dan tampan, tapi ia tidak begitu nyaman, mungkin karena baru dikenalkan pula. Sera membungkuk memberi salam pada tiap member.

Entah ini hanya perasaannya saja, atau bagaimana, ada satu orang yang terus menatapnya dengan senyum hangat, yang membuat jantungnya sedikit berloncatan, hanya karena tatapan hangatnya, yang mengikutinya terus hingga ia melangkah ke arah pintu.

”Hati-hati, Hyung… Sera-ssi.”

Ne,” ucap Daeho sambil melambai dan menutup pintu kamar ganti. ”Ah, mereka itu~” komentarnya. ”Sekarang kau tahu kan kenapa kau kuajak bertemu mereka? Mereka anak-anak nakal yang selalu penasaran,” masih sambil merangkul Sera, Daeho menjelaskan. ”Mereka selalu menggodaku jika aku terlihat menghubungimu, atau jika senggang aku menjemputmu, atau aku bermain ke kafe tempatmu bekerja… dan jika aku sedang benar-benar sibuk, mereka pasti meledekku juga saat aku menghubungi Jaehyun untuk menjemputmu.”

Sera tertawa renyah. “Memang kalau dipikir-pikir Oppa seperti pacarku saja,”

Keurom.” Daeho mencubit pipi Sera pelan. ”Mana bisa kubiarkan adikku ini sendirian.”

”Tapi aku sudah besar, Oppa~” Sera memutar matanya.

”Aku tahu, tapi tetap saja, kau adik perempuanku satu-satunya, dan satu-satunya yang aku punya.” Daeho bisa melihat Sera mengernyit mendengar pernyataannya. ”Kalau begitu, kau duduk disini dulu, aku mau absen pulang terlebih dahulu. Hanya sebentar, setelah itu kita bisa langsung makan.”

Sera duduk tepat di ujung pintu keluar sisi barat dari stadium, dimana banyak staff masih berkeliaran mengurusi ini-itu untuk persiapan konser besok hari. Beberapa staff bahkan mengenalinya sebagai adik Daeho, dan melempar senyum kepadanya.

”Cha Sera-ssi.”

Suara itu. Sera menoleh, dan kedua matanya melebar. Astaga, ini kan, pria yang tadi menatapnya terus (hanya menurut perasaannya saja, karena ia tidak berani benar-benar berharap kalau pria ini memperhatikannya), siapa tahu dia hanya mau mengembalikan jepit rambut.

Sera meraba rambutnya, jepitnya masih disana.

”Cha Sera-ssi.” Ia tersenyum, memamerkan giginya yang berderet rapi.

Sera tersadar bahwa ia belum menjawab sapaannya! Ia mengerjap, kemudian tersenyum, ”Oh iya, ada apa?”

”Hmm…” pria itu terlihat ragu-ragu, meski senyum masih menempel pada wajahnya. ”Kau tahu aku?”

”Oh…” gumam Sera tak yakin. ”Member EXO?” tebaknya.

Pria itu terkekeh. ”Kau tidak kenal aku. Kalau begitu aku akan mengenalkan diriku dengan resmi.” Katanya dengan senyum pasta giginya, entah kenapa, pancaran dan aura menyenangkan selalu keluar dan menguar dari pria ini. Menular pada Sera, yang tak berhenti senyum mendengar setiap kata-katanya. ”Annyeonghaseyo.” Pria ini membungkuk sembilan puluh derajat. ”Park Chanyeol-imnida.”

”Chanyeol-ssi, annyeonghaseyo.” Sera ikut berdiri, dan balas membungkuk. ”Cha Sera-imnida.”

Chanyeol memamerkan giginya lagi, karena ia tersenyum lebar sekarang. ”Sera-ssi, hmm… boleh aku minta nomor ponselmu?”

”Eh?”

Kaget, tapi tidak dipungkiri, jantung Sera berdebar-debar juga.

”Boleh minta nomor ponselmu?” ulang Chanyeol, kali ini lebih lembut, dengan senyuman lembut juga. ”Hmm, kau pasti merasa aneh, ya? Siapa aku, atau berani-beraninya aku meminta nomormu?” tanyanya melihat kebingungan di wajah Sera.

Sera menggeleng-geleng, benar ia bingung, tapi sejak Chanyeol ini menatapnya di dalam kamar ganti tadi, ia… merasa tersanjung. Dia kira itu hanya perasaannya saja, atau kepercayaan dirinya saja yang berlebihan. Tapi Tuhan memang memberinya kelebihan untuk membaca perasaan, dan itulah mengapa ia menjadi mahasiswi bidang psikologi.

”Tak apa-apa, Chanyeol-ssi, ini nomorku…” Sera buru-buru mengulurkan tangannya sebelum Chanyeol mengira dirinya adalah gadis sombong yang sok jual mahal.

Boro-boro jual mahal, dilihat seperti tadi oleh Chanyeol saja baru pertama kali Sera alami.

Chanyeol mengeluarkan ponselnya dengan bersemangat, nyaris menjatuhkannya saat menyerahkannya pada Sera. ”Maaf ya, aku memang sering gugup kalau berhadapan dengan wanita.”

”Ah, jinjja?” tanya Sera sambil terkikik. Ia menerima ponsel dari tangan Chanyeol dan mulai mengetikkan nomor ponselnya. ”Ini.”

Kamsahamnida. Sera-ssi.”

Ne.”

”Kalau aku menghubungimu, kau tidak keberatan, kan?” tanya Chanyeol, tak bisa menyembunyikan nada penuh harap dari suaranya. ”Aduh~” dia mengusap tengkuk dan kepalanya. ”Kau pasti menganggapku aneh dan menyeramkan kan, di hari pertama saja bertemu sudah menanyakan ini-itu, tapi kau bisa bilang pada kakakmu kalau aku memang kau tidak nyaman… aku tidak akan mengganggu…”

”Tak apa-apa, Chanyeol-ssi.” Potong Sera, ia tahu dari gestur, kata-kata yang digunakan, dan ketulusan dari kata-kata itu. Kali ini, Sera ingin mempercayai instingnya, yang mengatakan bahwa pria ini tidak akan macam-macam. ”Kau bisa menghubungiku.”

Kamsahamnida.” Chanyeol membungkuk. ”Erm… kalau boleh aku bertanya lagi, kalau kau tidak keberatan menjawab…”

Sera memberinya senyum.

”Berapa umurmu?”

”Ah, aku… dua puluh satu tahun,” jawab Sera. ”Chanyeol-ssi?”

”Ah, aku… dua puluh tiga tahun,” Chanyeol menjawab malu-malu, sambil menunduk.

Jinjja? Kau mau kupanggil Oppa?”

Wajah Chanyeol sepertinya langsung bersinar begitu Sera menawarkan diri memanggilnya Oppa. ”Kau tidak keberatan kita menggunakan banmal?”

Sera mengangguk lagi.

”Kenapa kau baik sekali?” tanya Chanyeol nyaris meringis. ”Kau boleh memanggilku Chanyeol saja, tidak perlu pakai Oppa.”

Alis Sera mengerut. ”Kenapa?”

”Tak apa-apa. Terima kasih atas nomornya,” Chanyeol melambaikan ponselnya. ”Aku akan menghubungimu, hmm… kalau kau tidak keberatan lagi…” ia menambahkan, ragu. ”Ah tidak-tidak, cukup itu saja sekarang. Aku tidak mau membuatmu lari dariku.”

Sera harus menahan diri agar tidak tersipu mendengarnya.

”Kalau begitu…”

YA! Park Chanyeol, apa yang kau lakukan disini?!”

Sera dan Chanyeol menoleh, mendapati Daeho tengah memelototi Chanyeol. Sera tahu kakaknya itu bermaksud galak, tapi memang wajah Daeho terlampau manis, sehingga jadi mirip kucing persia yang marah. Semarah apa pun, tetap imut.

”Hanya mengajak kenalan adikmu, Hyung.” Sahut Chanyeol.

Ya! Berani kau merayu-rayu…”

Oppa! Kenapa kau galak sekali? Dia tidak jahat kok,” bela Sera, menatap kakaknya tidak setuju. Wajah Chanyeol langsung berseri-seri di bela oleh Sera di hadapan Daeho.

Omo! Cha Sera, kau!”

Sera mengerjap. ”Memang dia tidak jahat, Oppa~”

”Terserah lah. Park Chanyeol, kau berani macam-macam dengan adikku, kau mati!” ancam Daeho langsung meraih tangan Sera. ”Ayo kita pulang, Sera-ya. Yeol, kami pergi… jangan memandangi adikku terus!!!”

Chanyeol berdecak.

”Chanyeol…” Sera memanggil Chanyeol dengan menggantung, bingung harus menyapa Chanyeol dengan sebutan apa, karena belum selesai mereka memutuskan, Daeho sudah mengganggu tadi. ”Pulang dulu ya…”

”Hati-hati, Sera-ya.” Chanyeol tersenyum, melambaikan ponselnya.

Mengisyaratkan, nanti malam kuhubungi…

Dan Sera sudah tidak sabar~

*           *          *

Haiiiiiiii!

Kaget ya? kok tiba-tiba ada ini? kok tiba2 yeol mau di pair-in?

jadi begini…aku emang pingin bikin yeol punya kopel. karena…kasian dia terbully terus </3 dan kasian dia ngerecokin Chanra terus huahahahaha. dan jadilah SeYeol Couple ini~

Semoga kalian suka yaaaaa hehehehe

Thank you udah mau bacaaa /kiss/

XOXO,

Ra&Neez

Advertisements

53 thoughts on “[SeYeol Reverie] A Beginning

  1. exolines88 says:

    Kaa ra sama ka neez .. chanyeol makin hari makin boyfriend material loh. Uhuk. Ayolaaaah canon ini worth it koook, suka bangeet sama flirting nya chanyeol yang masih malu maluu.semangat!!!

  2. natasya says:

    chanyeol ngebet bener mau kenalan,hahahha…
    sera sm kk ny bkn dr kluarga berada?atau ap?soalny waktu baca profil cha sera,kkny ga setuju karna status sosial,kn si chanyeol kaya bingow(aku baca d profil park chanra)

    seyeol series emg baru ini ya??atau ad lg?aku bingung mau nyari dmn ._. d tales library blm d update/? jd susah nyarinya._.

Leave a Reply to natasya Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s