[KaiNa Piece] Fallin’

PicsArt_1401646695868

 

Title : Fallin’

Author : Ima (@kaihyun0320)

Casts : Kim Jongin (Kai), Lee Hana (@inhanaLee)

Other casts : EXO

Rating : PG-17

Please read Lee Hana’s Profile first.

Enjoy ^^

© INDAYLee’s Staffs 2013

[KaiNa Piece] Fallin’

May 18th, 2014

Coffeebene, Cheongdam-dong, Seoul

08.28 PM KST

Jam kerja Hana sudah akan berakhir sebentar lagi dan ia merasa dunianya akan kembali. Besok Hana akan mendapat libur setelah seminggu penuh bekerja dan kehilangan banyak waktu untuk berkomunikasi dengan Kai. Bahkan ketika laki-laki itu mendapat cedera dan beberapa rumor yang menimpa EXO akhir-akhir ini. Hana sangat butuh konfirmasi dari Kai sendiri, menyuruh laki-laki itu bertanggung jawab karena sudah membuat hidupnya tidak karuan selama satu minggu itu.

“Kau sudah mau pulang?” suara Hyun Mi—teman kerjanya menginterupsi Hana yang tengah merapikan meja dekat kasir dan membuatnya menoleh ke arah gadis itu.

“Ah, ne. Kau baru datang?” Hana kembali bertanya dan dijawab anggukan singkat oleh Hyun Mi.

Mian. Kau tidak dapat libur selama seminggu karena aku harus pulang ke Busan,” jawab Hyun Mi dengan raut sedih dan penuh rasa bersalah.

Hana terkikik geli lalu menepuk pelan lengan atas gadis itu. “Ibumu ‘kan sakit, Hyun Mi-ya. Wajar saja kalau kau pulang dan mengurus ibumu di sana.”

Gomawoyo, Hana-ya,” Hyun Mi menyunggingkan senyum manisnya dan membuat Hana tersenyum juga.

“Aku pulang duluan ya. Fighting,” Hana mengepalkan tangannya ke udara kemudian berlalu ke dalam ruang ganti.

Beberapa saat setelah berganti baju, Hana segera membungkuk singkat pada atasan dan beberapa temannya lalu  bergegas keluar dari cafe –tempatnya bekerja itu sambil membuka ponsel. Seharian tidak membuka ponsel, grup line milik INDAYLee sudah sangat ramai serta ada beberapa chat dari kekasihnya. Tunggu. Kai?

Sudah beberapa hari sejak rumor mengenai Kris keluar dan Kai tidak mengabarinya sama sekali. Tapi malam itu Kai menanyakan kabarnya dan menyuruhnya pulang cepat ke apartemen. Entah mengapa sepertinya ada satu hal penting yang akan dibicarakan oleh Kai malam itu. Dan Hana pastikan malam panjangnya akan dihabiskan dengan bersama laki-laki itu saja.

‘Hana-ya! Jangan lupa hari kedewasaan Jongin besok!’

Sebuah highlight pesan dari Nayeon sontak menghentikan langkah Hana seketika. Ia menepuk keningnya sendiri kemudian menghela napas panjang. Pantas saja Kai mengajak bertemu malam ini, kekasihnya itu pasti sudah menyiapkan rencana agar Hana mau merayakan hari kedewasaan bersama-sama.

Eish. Aku harus beli bunga dimana?” Hana merutuk pelan saat menemukan beberapa toko sudah tutup di dekat tempatnya berdiri. Kalau parfum memang sudah ia siapkan dari lama karena tidak sengaja menemukan wangi yang cocok untuk kekasihnya. Sedangkan bunga harus dibeli H-Hitungan jam agar tidak layu.

Hana mengetik dengan cepat untuk membalas chat Kai dan Nayeon kemudian memutar balik ke arah pusat Cheongdam untuk mencari bunga. Masalahnya ia harus menemukan 100 tangkai bunga mawar merah untuk merayakan hari kedewasaan. Dan siapa yang masih menjual bunga segar di malam hari?

***

Hyundai Apartment

11.03 PM KST

Sudah hampir tengah malam dan Kai tidak menemukan tanda-tanda kedatangan kekasihnya. Ia sudah berada di apartemen gadisnya sejak dua jam yang lalu saat Hana membalas kakaonya. Ia masih setia bersandar di sofa sambil menonton televisi dan sesekali memainkan games di ponselnya. Sebenarnya apa yang dilakukan Hana di luar sana, sedikit banyak membuat Kai khawatir. Bahkan sekarang Hana tidak kalah sibuk dengan dirinya setelah bekerja di coffebene.

Kai memutuskan untuk meninggalkan sofa dan beranjak ke dapur untuk mencari cemilan. Dapur gadisnya terlihat sangat bersih dan di dalam kulkas pun hanya terdapat beberapa kaleng kopi serta es krim. Apa yang dilakukan Hana selama ini sebenarnya? Biasanya Hana selalu menyimpan banyak makanan di dalam kulkas mengingat bagaimana kesukaan gadisnya dengan makan.

Eish. Dasar bodoh,” Kai menutup pintu kulkas setelah hanya mengambil sekaleng kopi dan kembali ke ruang tengah. Ia baru saja membuka penutup kaleng ketika menemukan ponselnya yang tergeletak di atas sofa berdering menandakan sebuah telepon masuk. Dari Suho.

Kai menghela napas panjang, ia meletakkan kaleng kopi itu ke atas meja lalu mengangkat telepon dari Suho. Sudah bisa ditebak apa yang akan dibicarakan Suho di dalam telepon. Harusnya ia tidak merelakan waktu latihannya begitu saja untuk hanya bertemu Hana.

YA! Kau dimana, Kim Jongin?!’

“Apartemen Hana, hyung,” Kai menambahkan sedikit kekehan namun suara Suho malah membuatnya bergidik ngeri.

‘Kembali ke gedung SM sekarang. Kenapa malah pergi ke sana?’

Hyung, aku izin sampai jam tiga. Chebalyo~, kau tahu Hana sesibuk apa sekarang ‘kan?” Kai dengan nada setengah merajuk berusaha membuat Suho luluh. Biasanya Suho akan selalu luluh dengan keinginannya jika sudah menyangkut Hana.

‘Yaish, aku tunggu jam tiga di sini. Titip salam untuk uri dongsaeng, katakan padanya semua baik-baik saja.’

Ara ara. Gomawoyo, hyung,”  balas Kai seraya tersenyum simpul kemudian melempar ponselnya begitu saja ke sudut sofa. Hanya kurang dari empat jam lagi waktunya untuk bersama Hana dan gadis itu belum juga datang.

Kai meneguk kopinya dengan gelisah. Sudah hampir jam dua belas dan benar-benar membuat Kai kesal –sekaligus khawatir. Bagaimana bisa setiap hari Hana pulang sendirian ke apartemen di jam hampir tengah malam. Jika tahu akan seperti ini harusnya ia melarang Hana untuk bekerja sejak awal. Apalagi Hana jauh lebih sibuk dan terkadang membuat Kai kesal karena gadis itu tidak juga membalas kakao darinya. Waktu luang Kai tidak begitu banyak akhir-akhir ini karena persiapan konser dan Hana juga tidak berusaha menghubunginya.

“Aku pulang.”

Kai segera berdiri dari sofa, menyambut Hana yang baru saja datang dengan sebuah buket bunga yang cukup besar di tangannya. Tatapan Hana langsung tertuju pada Kai yang tengah melipat tangan di depan dada. Hana hanya menggembungkan kedua pipinya seraya berjalan ke ruang tengah dan meletakkan buket bunga itu begitu saja di atas sofa.

“Kenapa baru pulang, bodoh? Kau tahu sekarang jam berapa ‘kan?” protes Kai ketika Hana melengos begitu saja ke dapur. “Dan kau habis kencan dengan siapa? Bunga dari siapa itu?”

Ucapan Kai lebih terdengar seperti seorang suami yang baru saja memergoki istrinya selingkuh di luar sana. Dan Hana yang masih merasa kelelahan –setelah berjalan-jalan di sekitar Cheongdam dan Hongdae itu sedang malas menanggapi kekasihnya. Setelah ini mungkin ia akan tertidur saja dan membiarkan Kai menghabiskan waktu sendirian di ruang tengah apartemennya. Sudah dua minggu tidak bertemu tapi Kai malah membuat moodnya semakin jelek.

“Buang semua pikiran negatif tentang aku yang kencan di luar sana, sudah bisa tidur nyenyak saja aku sudah bersyukur,” Hana segera membuka kulkas untuk mengambil botol air dingin lalu menghabiskannya dalam beberapa kali tegukan saja.

“Keningmu kenapa?” Kai tiba-tiba saja masuk ke dapur dan mengusap kening Hana yang dibalut plester. Sontak membuat Hana tersedak –karena sentuhan Kai yang membuat aliran listrik di sekujur tubuhnya.

Eish,  dasar bodoh,” gerutu Kai seraya menepuk-nepuk pundak Hana dengan lembut.

Rasanya Hana semakin sulit untuk mengambil napas ketika dada bidang Kai hanya berjarak beberapa senti saja dari kedua matanya. Dengan tangan yang masih menepuk punggungnya, posisi Kai seolah akan memeluknya. Hana tidak ingat kapan terakhir kali merasakan rengkuhan Kai yang penuh kehangatan itu. Sepertinya Hana membutuhkan itu semua untuk menghilangkan semua rasa lelahnya selama satu minggu kemarin.

“Terbentur kaca di toko bunga.”

“Astaga. Kau masih bisa terbentur kaca? Dasar bodoh,” Kai kembali merutuk Hana atas kebodohan gadis itu. Seorang Lee Hana memang tidak akan pernah bisa lepas dari kecerobohan di dalam hidupnya.

“Siapa yang bodoh, Kim Jongin? Aku sedang malas bertengkar denganmu, cish,” balas Hana kesal seraya menampik tangan Kai dari samping tubuhnya kemudian berjalan cepat ke arah kamar.

Tangan Hana baru saja akan meraih gagang pintu kamar ketika sebuah tangan melingkari perutnya dari belakang. Hana semakin terlonjak kaget ketika pundak kirinya terasa berat karena kepala Kai yang terjatuh di sana. Ia juga merasakan deru napas Kai yang terasa hangat –sekaligus menggelikan di lehernya. Membuat Hana hampir gila rasanya.

“Aku izin latihan sampai jam tiga, Han-ah. Jadi selama tiga jam ini…. Tolong singkirkan gengsi dan kebodohanmu dulu.”

*

*

*

Ini memang gila.

Entah sejak kapan Hana sudah duduk menyamping di atas pangkuan Kai dengan tangan laki-laki itu yang masih melingkari pinggangnya dan kepala yang masih betah berada di pundaknya. Selama sejarah berpacaran mereka selama ini, skinship terjauh yang mereka lakukan hanya berpelukan –terkecuali ciuman yang dipaksa Kai waktu itu. Jadi Hana tidak bisa mengontrol detak jantungnya sendiri saat itu dan membiarkan rasa geli di perutnya tetap bergejolak.

Sudah selama satu jam mereka berada di sofa dengan posisi seperti itu. Dan entah kenapa semakin terasa tidak nyaman bagi Hana. Apalagi tidak ada suara televisi yang menginterupsi mereka hingga hanya terdengar suara deru napas Kai saja. Bahkan Hana pun merasa sungkan untuk membuka percakapan. Ia tidak mau mulutnya mengatakan hal yang berlawanan dengan pikirannya dan menghancurkan semua suasana itu.

“Han-ah.”

“Hm?”

Jinjja bogoshipeo. Saranghae.

Hana hanya tersenyum geli lalu mengusap rambut Kai –yang sekarang berawarna keabu-abuan itu dengan lembut. “Nado saranghae, kkaman. Kau kenapa?”

Anhi. Aku hanya sedang lelah dengan semuanya. Promosi Overdose, cedera pinggang,persiapan konser, rumor tentang Kris hyung, desakan netizen, desakan fans,” Kai menghela napas panjang seraya melepaskan tangannya dari pinggang ramping Hana. “Ditambah kau yang semakin sibuk.”

“Bagaimana kalian setelah Kris oppa menghilang? Apa ponselmu disita juga?” Hana menatap manik mata hitam milik Kai lalu beralih mengusap bagian bawah mata laki-laki itu dengan kedua ibu jarinya. Terlihat sekali raut wajah kelelahan kekasihnya dari kedua kantung mata yang semakin besar dan badan yang semakin kurus. Entah kemana perginya paha besar Kai –yang sangat disukai Hana itu. Bahkan wajah Kai sekarang terlihat sangat tirus, membuat garis-garis rahangnya semakin terlihat jelas.

“Tidak ada ponsel yang disita, Han-ah. Kita hanya terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing dan kalang kabut karena berita itu. Apalagi kita harus mengubah vcr dan formasi di seminggu sebelum konser dimulai.”

“Tapi kalau sedang stres seperti ini, kau berubah,” ujar Hana tiba-tiba sambil terkekeh geli dan Kai malah melayangkan tatapan dinginnya.

“Jangan menghancurkan suasana, Lee Hana,” protes Kai tidak suka.

Araseo, mianhae,” Hana kemudian membuat gaya mengunci mulut dan kembali duduk tenang di atas pangkuan laki-laki itu.

Melihat Hana dengan jarak sedekat itu membuat Kai tidak ingin kembali ke gedung SM dan menghabiskan harinya bersama gadis itu saja. Bersama-sama saling menatap satu sama lain, menghirup aroma gadisnya, tertawa dan saling mengejek, atau bahkan memeluk gadis itu. Kai benar-benar membutuhkan waktu bersama Hana untuk hari-hari yang lebih sibuk ke depannya. He needs ‘vitamin’.

Ya. Kenapa kau malah lebih sibuk dariku? Kau pulang jam berapa setiap hari?” Kai bertanya dengan nada menginterogasi sambil memainkan jemari Hana dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya tetap ia lingkarkan di pinggang gadis itu.

Hana hanya mengendikkan bahu tak acuh. Mengingat ia sudah membuat gaya mengunci mulut agar tidak menghancurkan suasana. Sekarang siapa yang berusaha menghancurkannya dengan bertanya seperti itu?

“Aah, bibirmu dikunci?” Kai bertanya sambil menaikkan sudut bibirnya membuat seringaian kecil. “Bagaimana cara membukanya? Kiseu?”

“Dasar mesum!” sahut Hana cepat seraya mencubit lengan atas Kai dengan cukup keras. “Memangnya kau saja yang bisa sibuk? Pulangnya tergantung jadwal shift.

“Pipimu semakin hilang, bodoh. Tidak ada yang bisa kucubit lagi,” balas Kai, memperhatikan bagaimana pipi-pipi chubby itu menghilang dan tubuh gadisnya yang semakin kurus. “Makan yang benar, Han-ah. Aku akan semakin jarang datang ke sini dan melihat keadaanmu. Jadi tolong jaga kesehatan dan kurangi tingkat kecerobohanmu itu.”

Hana melihat sorot keseriusan di kedua mata Kai walaupun laki-laki itu berusaha tersenyum jahil di depannya. Ia tidak mengerti ‘semakin jarang’ yang dimaksud Kai itu berapa lama. Selama ini saja mereka hanya bertemu dua minggu atau satu minggu sekali jika beruntung. Jadwal EXO benar-benar berada di puncak dengan konser di berbagai negara dalam beberapa bulan ke depan. Jadi mungkin tiga jam yang ia habiskan sekarang akan digantikan lagi beberapa minggu yang akan datang.

“Kenapa diam?”

“Aku sedang berpikir, kkaman.

“Kenapa harus berpikir? Itu hanya perintah,” jawab Kai cepat. Sedetik kemudian kedua matanya tidak sengaja menangkap kembali buket bunga yang tergeletak begitu saja di sofa single sana. “Itu bunga untuk apa?”

Eoh?” Hana mengalihkan tatapannya ke arah buket mawar berwarna merah pekat itu lalu kembali teringat dengan tujuan utama Kai ke sana. Tapi tunggu. Kai malah bertanya ‘untuk apa’?

Hana segera beranjak dari pangkuan Kai dan mengambil buket bunga itu. Sementara tatapan heran Kai masih mengintainya dari belakang. Jika Kai tidak ingat dengan hari kedewasaannya, mungkin Hana harus merasa bersyukur karena ia tidak harus memberikan hadiah terakhir untuk laki-laki itu. Tapi rasanya sia-sia saja semua perjuangannya untuk mencari bunga jika tidak memberikannya sekarang.

Jadi Hana memilih untuk duduk di samping Kai dan menyodorkan buket bunga itu. Tidak peduli bagaimana Kai masih memasang wajah datarnya dan menatap Hana serta bunga itu secara bergantian. Detik berikutnya Hana juga menyerahkan sebuah kotak –berukuran tidak begitu besar yang baru saja diambil dari tasnya.

“Selamat hari kedewasaan, Kim Jongin. Yehet! Ohorat!” seru Hana, berusaha menyembunyikan rasa gugup di dalam dadanya. Ia melihat ekspresi Kai masih sama datarnya hingga kemudian tawa laki-laki itu menggema di apartemennya.

“Bhuahahaha. Gyahaha—wajahmu, hahahahah.”

Suara tawa khas seorang Kim Jongin yang tidak bosan didengar Hana, tapi untuk saat ini terdengar sangat menyebalkan di telinganya. Seharusnya Kai tersenyum lembut, mengucapkan terima kasih, dan memeluknya lagi(?). Hana mendengus pelan lalu melempar buket bunga itu ke atas meja begitu saja.

“Terserah saja, dasar Jongin bodoh! Aku tadi harus jalan di Hongdae dan Cheongdam untuk mencari toko bunga yang masih buka! Salahkan Nayeon yang mengingatkan hari penting di minggu ketiga bulan Mei ini, hufft,” gerutu Hana dengan teriakannya dan tidak lupa mengerucutkan bibir kesal.

Ya~, Lee Hana,” Kai akhirnya berhasil menghentikan tawa mengejek itu dan memanggil Hana dengan suara huskynya. “Jinjja, aku tidak ingat sama sekali tentang hari ini.”

Aish, dasar bodoh,” ujar Hana, entah untuk merutuk Kai atau dirinya sendiri. “Kau yang menghancurkan suasana, Kim Jongin. Aku mau tidur saja.”

Ya. Ya.,” Kai segera menarik pinggang Hana yang akan beranjak dari sofa dan membuat gadis itu kembali duduk menyamping di pangkuannya.

Dan lagi-lagi Hana tidak bisa mengontrol detak jantungnya sendiri karena tingkah kekasihnya itu. Berada di atas pangkuan Kai sama saja membunuh Hana dengan perlahan. Apalagi ketika Kai lagi-lagi melingkarkan tangan di pinggangnya dengan sedikit menggoda(?) dan atau mungkin hanya ia yang berpikiran seperti itu. Kai pasti tidak bermaksud menggodanya bukan?

“Hari kedewasaan, eoh?” Kai kembali menunjukkan senyuman kecil dengan seringaian sambil memandang wajah gadisnya dari samping. “Kau sudah membawa bunga dan parfum. Masih kurang satu lagi untuk melengkapinya.”

Seketika wajah Hana terasa memanas dan perutnya semakin bergejolak geli saat suara rendah Kai mengeluarkan kata-kata terakhir. Ia benci ketika harus terjebak di dalam suasana –yang memaksanya untuk melakukan kiseu. Astaga. Membayangkannya saja membuat kepala Hana pusing.

Waeyo? Kau sudah janji ‘kan? Ya. Aku sudah legal untuk melakukan ‘apapun’ sekarang.”

“Dan kau akan cepat mati, Kim Jongin bodoh,” ancam Hana dengan cepat. Namun Kai malah tertawa geli karena ekspresi takut gadisnya. “Kau seperti ahjussi mesum yang sedang merayu anak polos, kkaman.

Ya. Kau tidak kasihan padaku? Aku butuh ‘vitamin’ untuk beberapa minggu ke depan, Han-ah.”

Ara ara. Tutup matamu sekarang!”

Detik berikutnya Kai hanya memejamkan kedua mata dan menunggu apa yang akan dilakukan gadisnya. Sementara Hana menelan ludah gugup ketika melirik bibir Kai –yang entah kenapa terlihat menggoda dengan warna pink alami itu. Hana dengan perlahan meraih tengkuk Kai dengan kedua tangannya dan mulai memajukan wajahnya.

Jantung Kai sebenarnya sudah hampir meledak ketika tangan Hana mulai memegang tengkuknya –dengan ragu. Setelah merasakan deru napas Hana yang terasa di bibirnya, ia malah mendapati napas itu menghilang dan digantikan dengan sebuah kecupan hangat di kening. Bibir Hana berada cukup lama di sana kemudian turun ke kedua mata dan berhenti di sudut bibirnya saja. Karena pada akhirnya Kai sudah tahu bahwa Hana bukan seorang gadis yang akan dengan mudahnya memberikan sebuah ciuman untuknya.

Ja~ Kau sudah dapat vitaminmu, Kim Jongin,” Hana melebarkan senyum polosnya ketika kedua mata Kai terbuka dan menatapnya. Sudut bibir Kai melengkung membentuk sebuah senyuman, merasa senang karena bisa mendapat tenaga yang lebih lagi.

Saranghae, Han-ah. Jinjja.

Nado~.”

*

*

*

Baru lima belas menit yang lalu Hana tertidur di dalam pelukannya dan Kai yang terpaksa membopong gadis itu ke dalam kamarnya. Sementara ia masih betah berada di sana untuk memandangi wajah gadisnya. Wajah yang tidak akan dilihatnya dalam beberapa minggu ke depan. Rasanya ia ingin meminta Tao menghentikan waktu sejenak agar tiga jam yang dilewatinya tidak cepat berakhir.

Namun semua yang dilewatinya selama tiga jam ini sudah jauh lebih dari cukup. Ia benar-benar menghabiskan waktu dengan gadisnya tanpa gangguan apapun. Ia sudah mendapat ‘vitamin’ dan sudah puas menghirup aroma tubuh Hana untuk diingat ke depannya. Setelah ini Kai berjanji akan selalu memberi kabar pada Hana dan mengingatkan gadis itu untuk makan.

Mungkin Kai benar-benar berubah di hari kedewasaannya.

“Dasar bodoh. Kenapa kau menggodaku, kkaman.

Kening Kai berkerut ketika menyadari bahwa Hana masih saja menggumam namanya ketika sedang tidur seperti itu. Ia hanya tersenyum kecil kemudian kembali mengusap puncak kepala gadisnya. Sebenarnya Kai juga sudah sangat menahan diri agar tidak tergoda dengan Hana yang berada di pangkuannya. Dan Kai serius dengan usahanya agar tidak tergoda tadi. Apalagi ketika ia berada di ceruk leher dan menghirup aroma gadis itu dari sana. Jika tidak bisa menahan diri, mungkin ia tidak akan kembali ke gedung SM sekarang.

Tepat ketika mengingat gedung SM, Kai malah menghela napas panjang. Itu sama saja dengan mengingat jadwal-jadwal padat yang menanti. Persetan dengan semua rasa gengsinya karena ia benar-benar mencintai dan merindukan gadisnya hari itu. Bahkan mungkin di hari-hari ke depannya juga ketika ia bertemu dengan Hana lagi.

Annyeong, Han-ah. Aku akan sangat merindukanmu.”

***

03.30 AM KST

SM Building

Entah sudah ke berapa kalinya lagu yang sama diputar di dalam ruangan yang tidak begitu luas itu. Sepuluh orang di dalamnya sudah hampir kehilangan napas ketika lagu berhenti dan mereka segera menghempaskan tubuh masing-masing ke atas lantai kayu. Kebanyakan dari mereka hanya menatap kosong ke langit-langit sambil mengatur napas. Membayangkan semua yang sudah dilewati selama ini dan berubah 180 derajat saat satu orang dengan egoisnya meninggalkan mereka.

Mungkin egois dari sudut pandang beberapa orang. Namun tidak dengan sebagian orang lainnya. Keputusan satu orang itu pasti karena alasan yang kuat yang memang tidak bisa diselesaikan dengan baik-baik. Tapi semuanya ini hanya sebuah proses yang akan kita lihat akhirnya. Mereka hanya berusaha menampilkan yang terbaik ketika konser nanti tanpa mau memikirkan hal lain.

Ya. Kalian tahu kenapa Jongin kabur latihan sekarang?” tanya Chanyeol tiba-tiba.

Suho mengangguk ringan, “Dia hanya ingin bertemu Hana.”

Anhi,” Sehun memotong dengan cepat kemudian segera bangkit dari posisi tidurnya. “Sekarang masuk minggu ketiga bulan Mei. Hari kedewasaan untukku dan Jongin ‘kan?”

Aah, matda!! Astaga, aku sampai lupa hari kedewasaanmu, Sehuna,” ujar Tao dengan nada –sok bersalahnya. Dan Sehun hanya meringis pelan mendengar panggilan Tao yang terdengar menggelikan itu.

Baekhyun tersenyum miring menanggapi ucapan Sehun. “Jadi Jongin mengambil hadiahnya hari ini? Aigoo~, dasar bocah mesum.”

“Kita lihat wajahnya nanti, pasti dia sudah dapat ‘vitamin’ dari Hana,” cetus Chen akhirnya. Sementara Suho sudah mengusap wajah frustasi mendengar celotehan anak-anaknya. Jika Kai bisa mendapat ‘vitamin’nya, kenapa ia tidak?

Tidak sampai bibir Chen menutup setelah mengatakannya, pintu ruang latihan terbuka dan Kai masuk dengan membawa sebuah tas plastik putih. Wajah laki-laki itu tertutupi snapback yang direndahkan –namun masih bisa terlihat oleh member EXO lain yang tengah duduk di lantai kayu itu. Tatapan mereka tidak lepas dari Kai yang tengah meletakkan tas plastik dan melepas snapbacknya.

Wae? Ayo makan dulu, kalian pasti lapar.”

Baekhyun mendapati bahwa Kai tidak bisa berhenti tersenyum ketika menyuapkan satu persatu potong tteokbokki ke dalam mulutnya. Sudah bisa ditebak kalau laki-laki itu benar-benar sudah mendapat ‘vitamin’ dari kekasihnya. Lihat bagaimana Kai bahkan sesekali menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyum.

“Apa yang kau lakukan dengan Hana sebenarnya?” selidik Sehun –sama seperti pertanyaan yang akan Baekhyun lontarkan.

Eoh?” tanya Kai heran lalu memperhatikan tatapan member EXO yang tertuju padanya.

“Kau dapat hadiah apa di hari kedewasaanmu?”

“Pasti lebih dari kiseu. Iya ‘kan?”

Pertanyaan bertubi dari Lay dan Tao itu semakin memojokkan Kai –yang tengah berusaha menyembunyikan perasaan membuncah di dadanya. Rasa hangat dari kecupan bibir Hana di kedua matanya masih berhasil membuat perut Kai terasa geli dan terus tersenyum seperti orang gila.

Aigoo~, aku jadi iri,” gumam Baekhyun sedih sambil bersandar di bahu Chanyeol.

Kai mendesis pelan melihat tingkah hyungnya lalu kembali tersenyum kecil saat tatapan penuh rasa penasaran itu masih tertuju padanya. Jadi Kai meletakkan sumpit kayu di genggamannya lalu segera menarik kepala Baekhyun dan memegangnya di tengkuk –sama seperti yang Hana lakukan tadi. Sepertinya menggoda anak-anak yang lain terdengar menyenangkan.

“Aku dapat hadiah di sini,” Kai memberikan kecupan singkat di kening. “Tutup matamu, hyung.

Mwoya! Kau menggelikan, Jong—.”

“Di sini,” Kai kembali memberikan kecupan singkat di mata Baekhyun. “Di sini dan di sini.”

Selebihnya Kai hanya menunjuk bibir Baekhyun dan sesuatu yang berada di bawah perut laki-laki itu. Semua yang ada di ruangan itu pun bersorak heboh, termasuk Tao dan Sehun yang sudah bertepuk tangan.

Jinjja? Kalian melakukan apa? Ya!” suara berat Chanyeol terdengar paling menonjol di antara member lain yang tengah melontarkan berbagai macam pertanyaan padanya.

“Kau pikir kau sudah legal melakukannya? Lee Hana belum dewasa, pabo,” Suho juga sepertinya tengah merutuk di antara suara-suara itu dan Kai malah tertawa sedetik kemudian. Tidak bisa menahan rasa gelinya karena berhasil menggoda member EXO.

Eish, dia membohongi kita,” sahut Xiu Min dan membuat member lain malas menanggapi tawaan Kai yang semakin menjadi.

Kai memegangi perutnya yang mulai sakit kemudian memperhatikan satu per satu member yang beringsut menjauhinya. Astaga. Apa yang mereka pikirkan tadi? Ia tidak akan pernah menyakiti Hana tentu saja.

“Gadisku istimewa, hyungdeul. Jadi hanya aku yang boleh tahu bagaimana bentuk hadiahnya tadi. Yang jelas, dia memberikannya dengan cara yang istimewa juga.”

Rasanya Kai semakin jatuh ke dalam lubang yang sudah ia buat selama dua tahun terakhir ini. Tidak tahu sudah sedalam apa ia terjatuh. Tapi Kai sama sekali tidak bisa menemukan jalan keluarnya.

[KaiNa Piece] Fallin’

Ima’s note:

Oh, too much, KaiNa, this is overdose /kejang/

halo semuanyaa xixi aku kembali /muahmuah/ kalian harus tahu gimana aku ngetik KaiNa episode ini dan yah berhasil bikin aku kejang kejang ga karuan haha susah banget bikin mereka romantis kaya gini/?/

Dan aku dapet banget feel kai pas ngetik ff ini tapi gatau kalian haha tengilnya, seksinya, romantisnya, muka mesumnya Kai, semuanya kebayang banget haha

Leave COMMENT, karena part selanjutnya akan di protect lagi. Maaf saya galau…. haha Tapi tetep tinggalin komen di ff ini, maupun ff yang lain. Gomawoyo~^^

 

Regards Ima

P.S: Aku lagi males banget bikin poster karena bikin di hp. Jadi ya begitulah haha

163 thoughts on “[KaiNa Piece] Fallin’

  1. flo says:

    Jatuhhh hati adeeek bang :3 masya allah abang kai hmmm
    Bikin dosa deh
    Wkwkwk , tp emng keliatan cinta gk nafsu uh kalo model bang kai kyk gni maaau dong hihi
    Tp msumnya jg abang kai bgt haha
    Aaaaaaaaw kaina

  2. iqohh says:

    DudukdipanGkuannya..pangkuannya..pangkuannyaaa!! Tuhan !! Part ini .. Ini ff .. Baper antara plesbek kasusnya kris ..ama tingkah skinshipnya jongin sama hana ..hua.. Kai andai gua hana ..andai !! Angan*gila /plak/ sadar aku mah .. Haha ..kerenn ..ini paling kaporit

  3. handayaniwidya0 says:

    Sh*t!!! Pangku2an lho… GILAAAAAAAAAAAAA!!!!!
    Aku ampe tahan nafas bacanya -.- ngefly deh nih adek abaaaaaaang.
    Asli.. ane lg ngadep PC nahan ngakak sambil nepuk2 meja.. grasak grusuk ribut sendiri (dikira stres bikin proposal) haha..
    rasanya pengin njeriiiiiiitttt… imaaaa ini sweet banget sumpah… aku ga tahan TT

  4. Khyunpawookie says:

    Ya ampunnnnnnnn mama gilaaaaaaaaaa hayati terguncang meleh melebur bagai ombak hahahahahahaha apa sihhhh !!!!!!
    Liat Kai bner2 nunjukin klo dy bneran pacaran lah selama ne mrka gk ky y pacaran dn skrng poor Kaiiiiiiiiii ahhahaaha dewasa cieeeeee gkgkgkgkgkgk mantab deh sukaaaa bngetttt kai ky gni y d rindu2n hahahaha semoga kdpannya msh bnyak kaina y full roman ky gni sukaaaaaaaaaaaa

  5. Wulan says:

    Bbrqn overdose ini mh..mereka bnr2 sweet bgt sich…really2 love this couple..ahh hanna bnr2 jjang..and jongin menang byk yachh…gadis y hebat..yg lain pasti iri ini mh..

  6. syafirasl says:

    Ampuunn dehh so sweet banget ini orang dua
    Untung aja Hana belom ngelewatin hari kedewasaan kalau tidak /waaa/
    makin unyu deh thor ff buatan kamu
    Keep writing..Fighting

  7. rahsarah says:

    wahhh menang banyak kai di hari kedewasaannyaaaa senengnya yg dapet vitamin dari hanaaa
    kalo hari kedewasaan kai hana duduk di pangkuannya apa lagi pas hari kedewasaan hana? wkwk

  8. rinskai says:

    y ampun aku sampai senyum2 sendiri baca chap ini
    hmmm kai makin romantis
    kenapa mereka makin sweet aja sih
    kai kayaknya bahagia bgt y habis dpt vitamin dr hana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s