~Red Little Daisy~ [Strike 1]

cats

 

Title : ~Red Little Daisy~

Author : Anonymous

Length : Chaptered

Rate : PG

Genre : Alternative Universe, Romance, Family

Cast :

  • Oh Jaehee (OC)
  • Kim Junmyeon (EXO)
  • Eric (Shinhwa)
  • Han Yeseul (Yeoja Baewoo / Actress)
  • Yoon Se Ah (Yeoja Baewoo / Actress)
  • Others

Setangkai tulip putih.

   Yeseul mendongakan kepalanya, berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah. Di tatapnya wajah tampan, yang kini berkerut, menatapnya dalam. Tatapan yang tak pernah salah, tak pernah ia pertanyakan, dan tak pernah membuatnya merasa begitu terbebani seperti sekarang.

   Pria di hadapannya, Eric Kim, kekasihnya dua tahun belakangan ini, sahabatnya sejak remaja dulu, merupakan sosok pria yang diidam-idamkan wanita. Ia sopan, ramah, namun tegas dan jujur. Tak lupa, segala kelebihan fisik yang ia dapatkan, membuat siapa pun, wanita maupun pria, menolehkan wajah mereka untuk menatapnya. Wanita karena tertarik, pria karena iri, tentunya.

   Tapi, gurat-gurat halus kini memenuhi ekspresi pria itu. Wajah tampannya tidak lagi licin, dan menampakkan sorot bahagia saat memandang wajah kekasih hatinya, Yeseul itu.

   Han Yeseul, berkulit kecokelatan khas desa Jeollado, namun paras cantik dan anggunnya, mampu membuat pria sekelas Eric pun bertekuk lutut. Namun, kali ini, Eric terpekur, bukan untuk menyatakan cintanya lagi. Ia tahu, Yeseul adalah miliknya, Yeseul mencintainya, dan ia mencintai Yeseul sepenuh hati.

   Kenapa takdir begitu kejam padanya? Pada mereka berdua? Tidak bisakah dunia bersikap adil pada dua insan yang saling cinta tanpa syarat ini?

   ”Kau tahu kan, tulip putih itu artinya permintaan maaf?” tanya Yeseul dengan suara tercekat. Meski air mata menggenangi mata cokelatnya, ia berusaha tersenyum. Yeseul selalu berprinsip, jika ia mampu berdiri tegar saat badai menghadang, maka ia akan menjadi wanita yang lebih kuat di kemudian harinya.

   Walau kenyataannya, kali ini, takdir ini, begitu pahit.

   Eric mengangguk, menelan ludahnya kuat-kuat. Dadanya terasa sakit seperti terhimpit. ”Mungkin itu bunga terakhir yang bisa kuberikan padamu.” Jawabnya lirih.

   Yeseul kembali tersenyum. ”Sudah keluar hasilnya?”

   ”Iya, sudah.” Eric mengangguk.

   ”Kalau begitu, tak apa-apa.” Yeseul menarik napasnya dalam-dalam berusaha menenangkan diri. ”Kalau memang perpisahan ini jalan yang terbaik untuk kita berdua. Aku ikhlas,” ia kemudian meraih kedua tangan Eric ke dalam genggamannya. ”Eric, aku…” ia terdiam sebentar, tak kuasa… air matanya tumpah ke sisi wajah cantiknya, namun tetap ia tersenyum. ”Eric, aku… mendoakan yang terbaik untukmu…”

   Eric tak kuat lagi membendung seluruh pertahanan tubuhnya. Ia sedikit limbung saat membiarkan dirinya menangis. Persetan dengan kelaminnya yang mengharamkan kaumnya untuk menangis!

   ”Kita tidak bisa melawan takdir, Eric. Bagaimana pun, kita tidak bisa bersatu. Satu yang aku doakan, agar kita semua bisa melewati ini dengan baik… semoga…” Yeseul mulai tersedu. ”Semoga kau dan aku bisa melupakan satu sama lain, dan semoga… kita bisa menjalani kehidupan kita masing-masing dengan baik.”

   Eric menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha melepaskan genggaman Yeseul, tapi Yeseul tak membiarkannya. Yeseul justru melanjutkan kalimatnya. ”Berjanjilah, kau akan bahagia… kau akan memiliki keluarga yang bahagia, kau akan memiliki anak-anak yang cantik dan tampan. Dan kita berdua akan bahagia dengan kehidupan masing-masing. Berjanjilah, Eric!”

   Meski berat, meski tercekat. Melihat kesungguhan dan tekad di mata Yeseul, Eric terpaksa mengangguk. ”Aku… berjanji, Han Yeseul.”

   ”Baguslah.” Yeseul menarik napas lega. Ia melepaskan pegangannya dan menghirup tulip di tangannya. ”Aku memaafkanmu, karena dari awal memang ini bukan salahmu. Takdir kita memang berbeda… ketahuilah, walaupun kita tidak ditakdirkan bersama, aku… mencintaimu.”

   ”Aku mencintaimu, Han Yeseul.”

 

 

*           *           *

22 Tahun Kemudian

 

”Selamat datang di Incheon Airport, Korea Selatan.” Yeseul melepaskan topi pantai besar dari jerami yang dililitkan pita biru elegan menoleh pada gadis muda di sampingnya, yang berpenampilan kurang lebih sama dengannya. Keduanya sama-sama memakai dress pastel tanpa lengan, topi pantai, dan sunglass besar yang menutupi mata.

   Gadis muda disampingnya melepaskan kacamatanya. ”Woah… untuk pertamakalinya, aku menginjakkan kaki di tanah airku.” Ia terkikik. ”Eomma, bahkan bandara disini kelasnya sudah sangat internasional.” Ia melirik ibunya dengan sebal. ”Kenapa setelah duapuluh tahun lebih aku lahir, kau baru mau membawaku kesini! Bahkan tidak ketika Appa meninggal, eoh?!”

   ”Gadis bandel!” Yeseul menjitak kepala putrinya dengan rasa sayang. ”Aku tidak mau kedatanganmu ke Korea hanya diingatkan pada kejadian pedih saat ayahmu meninggal. Dan sekarang… kau sudah dewasa, kau bisa mengenang dan mengingat Korea Selatan sebagai negara cantik tanah airmu, Oh Jaehee.”

   Jaehee mengeluarkan jurus andalannya, menjulurkan lidah kecilnya pelan-pelan. ”Aku akan mencintai Korea dengan kenangan apa pun itu. Seindah-indahnya rumput tetangga, tetap lebih indah rumput di pekarangan rumah sendiri. Betul, kan? Aku langsung kerasan  begitu tiba di sini. Ini Seoul, Eomma?”

   ”Ini Incheon, tadi kan aku sudah bilang?!” desis Yeseul.

   ”Ah, maaf… lupa~” Jaehee terkekeh. ”Aku langsung senang disini. Ayo kita ke rumah, Eomma. Oh iya, apa kita tidak bisa ke makam Appa dulu?”

   ”Aku ragu kalau kita berangkat sekarang rumah abu masih buka,” ibunya mengulurkan tangannya untuk memeriksa waktu. ”Lebih baik besok saja, lagipula aku sudah harus langsung ke kantor cabang di Seoul untuk melapor pekerjaanku hari ini.”

   Jaehee mengangguk, mengerti. ”Baiklah, tapi besok kita harus ke rumah abu.”

   ”Iya aku janji, Nak, tapi yang penting sekarang kita drop barang-barang kita ke apartemen terlebih dahulu, kemudian aku harus langsung ke kantor. Kau sendiri katanya mau cari kerja, bukan?”

   ”Eomma, kau yakin mau menyuruhku mencari pekerjaan ketika aku baru tiba dari luar negeri seperti ini?”

   ”Kau tadi yang bilang kan kalau kau langsung suka negara ini, bagaimana sih?”

   ”Tapi bukan berarti aku tidak capek, kan?”

   Dan kedua pasangan ibu dan anak itu berlalu begitu saja, mencari tumpangan untuk membawa mereka ke tempat tinggal yang sudah mereka sewa di daerah Seoul.

 

*           *           *

Shinhwa Corp.

”Aku tidak mau dengar apa pun tentang Departemen Fashion lagi! Shinhwa memiliki tujuh buah departemen, namun selalu dan selalu, departemen fashion membuat masalah! Persiapkan dirimu untuk kehilangan pekerjaanmu jika tidak bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik!” Eric membanting pesawat teleponnya begitu saja, kemudian menarik napasnya dalam-dalam. ”Orang-orang ini membuatku naik darah saja!” ia berusaha melonggarkan dasinya yang terasa kencang pada lehernya.

   ”Ehem ehem… sepertinya ada yang darah tingginya akan kumat lagi, nih.” Celetuk seseorang yang mengintip dari pintu jati cokelat berpelitur di hadapan Eric. Pria muda ini tampan, tak kalah tampan dari Eric, hanya lebih menang usia. ”Sepertinya Appa berjanji untuk tidak terlalu keras dalam berkerja, kalau nanti Eomma bertanya…”

   ”Ya ya ya, Kim Junmyeon, siapa yang menyuruhmu melapor?!” protes Eric sebal.

   Kim Junmyeon terkekeh, melebarkan pintu besar itu kemudian masuk. ”Appa sih terlalu stress bekerjanya. Kalau nanti tekanan darah Appa naik lagi, bagaimana? Appa bisa sakit terus, kalau dibiarkan Appa bisa stroke. Appa mau, belum punya cucu tapi sudah tidak bisa bergerak seperti itu?”

   Eric geleng-geleng kepala mendengar ocehan putra sematawayangnya tersebut. ”Kau ini ketularan ibumu, ya?”

   ”Yang Eomma katakan itu benar. Eomma kan hanya mengkhawatirkan kesehatan Appa. Nah, obat paginya sudah diminum belum?”

   ”Iya, Suho(guardian)-ku. Aku sudah minum obatnya tadi pagi~” gerutu Eric.

   Junmyeon terkekeh, lalu duduk di hadapan ayahnya. ”Bagus. Kalau begitu Appa akan selalu sehat, dan bugar. Kalau Appa sudah minum obat, Appa boleh periksa laporan keuangan Shinhwa Corp bulan kemarin, sudah kurekap menjadi tiga. Untuk kantor pajak, untuk bagian keuangan, dan untuk perusahaan. Yang ini copy-nya, tapi aku bisa menjamin kalau isinya sama semua, jujur tanpa pemalsuan apa pun.” Ia menyorongkan map kulit ke hadapan ayahnya.

   Alis Eric terangkat tinggi, bibirnya mengulas senyum. ”Hebat juga, pelindung Appa satu ini.”

   ”Silakan diperiksa,” Junmyeon tersenyum formil.

   Eric meraih kacamata bacanya dan memasangkannya di hidungnya. Perlahan-lahan ia mulai membaca laporan keuangan yang dibuat oleh putra tunggalnya tersebut, dan dalam hati ia memuji-muji putra kesayangannya itu. Ayah mana yang tak bangga jika memiliki seorang putra pelindung seperti Kim Junmyeon?

   Junmyeon lulus dari Universitas Seoul jurusan Manajemen Bisnis hanya dalam waktu dua tahun saja, kemudian menyelesaikan masternya masih dalam bidang bisnis juga, dalam kurun waktu satu tahun. Sehingga di usianya yang baru menginjak dua puluh tiga ini, ia sudah bisa bekerja di Shinhwa Corp, perusahaan milik Eric, yang ia bangun bersama beberapa kolega bahkan bisa dibilang sahabatnya sejak remaja dulu.

   Yang membuat bangga Eric adalah, Junmyeon tidak memandang dirinya sebagai ayahnya, agar ia bisa mulus dalam Shinhwa Corp. Yang terjadi justru Junmyeon sangat ingin membuktikan diri, bahwa ia pantas dan dapat diterima sebagai salah satu orang penting di Shinhwa Corp karena kemampuannya, dan bukan karena statusnya sebagai putra dari CEO perusahaan tersebut.

   Eric, memang telah menawarkan posisi sebagai salah satu dewan direksi kepada Junmyeon, namun ditolak dengan halus oleh anak itu. Junmyeon merasa ia belum pantas mendapatkan kursi sebagai jajaran direksi jika ia belum membuktikan kemampuannya. Maka, alih-alih sebagai direksi, Junmyeon mengurusi bagian keuangan dan manajemen bisnis di dua departemen untuk percobaan awalnya sebagai pegawai di Shinhwa Corp.

   Dan hasilnya? Selalu brilian! Laporan keuangan yang biasanya selalu membuat bagian keuangan kalang kabut, dengan strategi-strategi jitu dari Junmyeon serta perhitungan yang akurat, selalu membuat Shinhwa Corp meraup keuntungan lebih, terutama di dua departemen yang Junmyeon manajemeni, bagian otomotif dan bagian elektronik.

   Awalnya mungkin, banyak pemegang saham di Shinhwa Corp yang merasa sangsi, namun hanya bisa berbicara di balik punggung ayahnya saja, karena bagaimana pun juga tetap sang ayahlah, pemilik terbesar saham di Shinhwa Corp, akan kemampuan Junmyeon. Namun, setelah satu tahun berlalu, Junmyeon benar-benar berhasil membalikkan keraguan orang-orang disekitarnya, yang justru menjadi terkagum-kagum akan bakat alamiahnya dalam berbisnis.

    ”Kau sangat jenius, Nak.” Ayahnya memuji, benar-benar kagum. Apalagi laporan bulan lalu sepertinya lebih dari biasanya karena mereka banyak mengadakan pameran dan banyak event lainnya, tetapi semua rapi dalam waktu yang on time, tanpa ngaret sedikit pun.

   Junmyeon terkekeh. ”Yep! Dan itu karena aku anakmu, bukan?”

   ”Kau sangat pintar,” ayahnya tertawa lepas. Bebannya karena masalah Departemen Fashion tadi seolah terangkat. ”Karena kau sudah selesai kau boleh main-main dulu sana.”

   Junmyeon langsung berdiri. ”Kau memang benar-benar tahu apa yang kumau, Appa. Aku mau ke kafe di sebrang kantor hingga selesai makan siang, boleh kan?” ia mengangkat alisnya seolah-olah meminta izin, padahal ia tahu ayahnya takkan pernah melarangnya.

   Eric hanya mengibas-ngibaskan tangannya seolah mengusir. ”Pergilah. Pergilah. Jangan lupa bawakan aku Americano saat kau kembali nanti ya, Suho-ya.”

   Junmyeon memutar matanya, ayahnya bisa saja memanggilnya ’guardian’ jika ada maunya seperti ini. ”Aku bisa dimarahi Eomma kalau ketahuan nanti.” Keluhnya tidak setuju. ”Tak ada americano lagi untukmu, Appa.”

   ”Baiklah, baiklah… teh lah setidaknya.” Tawar sang ayah.

   Junmyeon menghela napas, menyerah. ”Oke, teh… tapi hanya dengan satu kantung gula bebas kalori. Deal?”

   ”Tidakkah aku boleh mendapat lebih?” tawar Eric.

   ”Appa… take it, or leave it?”

   ”Oke, oke! Kau dan Eommamu sama saja, berlebihan sekali seolah-olah aku ini kakek-kakek tua saja.” Gerutu Eric.

   Junmyeon tertawa sambil berjalan meraih gagang pintu. ”Appa,” ia menoleh sebelum menghilang di balik pintu. ”Kalau kau marah-marah terus seperti itu, kau makin mirip kakek-kakek tua. Sumpah! Kau bahkan belum genap enam puluh tahun, aigoo…”

   ”YA!”
Tetapi Junmyeon keburu menutup pintu ganda itu sebelum mendengar omelan panjang pendek sang ayah lagi. Ia geleng-geleng kepala masih sambil terkekeh, ayahnya, meski sudah mulai tua, tingkahnya kadang-kadang masih bisa diibaratkan seperti anak kecil saja.

   Junmyeon mengangguk pada sekertaris ayahnya sebelum bergerak menuju kisi-kisi perak elevator yang terletak di ujung ruangan. Tangannya terulur menekan panah turun ketika tangan itu disambar.

   ”Disini kau rupanya!!!”

   Junmyeon menoleh dengan kaget. ”Oh, Hyung, kau disini?” ia tersenyum.

   ”Kau kucari di ruanganmu tak ada, dan ponselmu tidak diangkat seperti biasa di akhir bulan! Aku yakin kau menyerahkan laporanmu pada Sajangnim, dan benar saja… kau ada disini, untuk kabur minum kopi, benar bukan?” tembak Hyung, sekaligus Direktur Pemasaran dari Shinhwa Corp, sekaligus juga sahabat kentalnya sejak kecil.

   Lu Han.

   Ia merupakan putra dari salah seorang sahabat ayahnya yang bersama-sama membangun Shinhwa Corp, dan Luhan disini juga hampir sama seperti Junmyeon, karena pengaruh ayahnya, dan tentunya dengan kemampuannya sendiri juga ia bisa berada di posisinya sekarang. Seperti yang Luhan lakukan sekarang pada Junmyeon, pasti ada kaitannya dengan kariernya sebagai direktur pemasaran.

   ”Ada apa memang?” alis Junmyeon terangkat.

   Luhan menjawab. ”Junmyeon-ah, sebaiknya kau…” tetapi belum sempat ia sendiri menyelesaikan kalimatnya, ia sudah mengangkat tangannya meminta Junmyeon menunggu. ”Nona Lee, boleh kupinjam sebentar komputermu? Ini… err… darurat?” pinta Luhan pada sekertaris ayah Junmyeon.

   Alis Junmyeon mengerut. ”Hyung?” tanyanya heran.

   ”Sebentar,” Luhan duduk di meja Nona Lee setelah empunya memberi izin. Ia membuka laman Naver, dan beberapa saat kemudian ia melirik Junmyeon. ”Ehem… Suho…” batin Junmyeon mengatakan ada hal yang tak beres jika orang-orang di sekitarnya sudah memanggilnya Suho. ”Kau tahu apa headline di Naver?”

   Junmyeon menggeleng. ”Aku belum buka internet hari ini, ada apa memangnya, Hyung?”

   Luhan menghela napasnya. ”Shinhwa Corp, kehilangan saham karena Departemen Fashion.” Ia mengutip judul berita yang tengah menjadi topik perbincangan hangat di Naver. ”Hal ini sudah membuat penurunan nilai jual saham kita, dan tentu saja berpengaruh pada nilai-nilai produk kita. Dan ini sudah membuat sekitar… err… beberapa klien penting kita membatalkan kontrak yang…” ia menekan sesuatu lagi, dan memunculkan grafik. ”Ini membuat departemen-departemen lain di perusahaan kita terkena imbasnya. Kau tahu ini artinya apa? Dalam hitungan bulan, jika kita tidak memperbaiki citra Departemen Fashion Shinhwa Corp, maka perusahaan kita bisa defisit!”

   ”Apa?” bahkan Junmyeon pun tidak bisa mencerna begitu saja kata-kata Luhan barusan.

   Luhan mengeluh pelan. ”Kau dengar, kan? Itu semua yang terjadi. Mall fashion kita sudah semakin kalah bersaing dengan mall-mall lain yang semakin maju. Kalau ini dibiarkan terus, kita bisa jatuh hanya karena satu departemen, Suho.”

   Junmyeon mengangguk-angguk. Ia mengerti sampai disini. Lalu… apa lagi? Apa yang Luhan mau sampaikan?

   ”Suho-ya, aku bicara begini bukan karen aku temanmu. Aku berbicara sebagai Direktur Pemasaran dari Shinhwa Corp, serta salah satu pemegang saham di Shinhwa Corp. Kim Junmyeon, penyelamat kami! Kaulah satu-satunya yang bisa menyelamatkan Departemen Fashion dan Shinhwa Corp dari kehancuran.”

   Junmyeon mengerang! Harusnya ia tahu akan kesini arah pembicaraan Luhan! Ia pasti diminta jadi direksi kembali. ”Hyung, aku bahkan belum akan genap dua puluh tiga tahun, dan belum cukup berpengalaman untuk menangani satu direktori sendiri…”

   ”Oh, jangan omong kosong itu-itu lagi, kau Kim Junmyeon!” Luhan kini malah menunjuk-nunjuk Junmyeon. ”Kau sudah satu tahun di Shinhwa! Dan kau sudah membuktikan kau mampu saat memanajemeni dua departemen, bahkan kau mampu menyelesaikan laporan keuangan dengan teliti dan cermat tanpa pernah melakukan kesalahan!”

   Junmyeon menyela. ”Tentu saja aku pernah melakukan salah!”

   ”Karena memang tidak ada orang yang sempurna! Dan jika ada orang yang mendekati sempurna untuk posisi ini ya hanya kau, Kim Junmyeon! Siapa lagi?! Kau mau Shinhwa Corp bangkrut, hah?!” begitu dilihatnya Junmyeon tidak menjawab, Luhan berdiri. ”Kau tahu? Lebih baik kita beritahu ayahmu soal ini sekarang!”

   ”Hyung! Tidak!!!”

 

*           *           *

Skyfall Apartement, 11th Floor

Jaehee menekan-nekan tombol remote di genggamannya pada televisi layar datar di hadapannya. Ia begitu terpesona dengan segala macam partikel kebangsaannya yang baru ia temukan, setelah sejak lahir hingga besar ia hidup di belahan dunia lainnya.

   Ya, bahasa Korea-nya fasih. Ya, ia tahu beberapa budaya Korea Selatan, dan tentu saja ia berbangsa Korea Selatan. Dae haminguk… plok plok plok plok plok. Apalagi kedua orangtuanya mengajarkannya bahasa dan budaya Korea Selatan. Dan kini begitu ia tiba di tanah airnya, ia bertekad akan menghapuskan jejak-jejak kebarat-baratan yang menempel padanya.

   Cara pertama dan sederhana, adalah mengetahui situasi dan kondisi negaranya tentunya, dengan menonton berita. Jadi, sekarang Jaehee duduk di depan televisi dan menonton salah satu stasiun televisi lokal yang tengah menayangkan berita ekonomi mengenai sebuah perusahaan, yang sepertinya cukup besar di negaranya.

   ”Setelah Michelle Yun, mantan Direktur Departemen Fashion Shinhwa Corp, resmi dicopot dari jabatannya, siang ini… diumumkan bahwa Putra kandung dari CEO Shinhwa Corp, Eric Kim, yaitu Kim Junmyeon, telah resmi menjadi Direktur Departemen Fashion di Shinhwa Corp yang baru…”

   Alis Jaehee mengerut, kemudian muncullah foto si direktur baru yang bernama Kim Junmyeon itu di layar televisi, bersama narasi prestasi-prestasinya di bidang bisnis dan pendidikan.

   ”Huahahahahaha…” tawanya lepas. ”Imut sekali yang jadi Direktur. Dia masih terlalu muda… berapa usianya?” mata Jaehee dipicingkan pada layar televisi, tepat di samping wajah Kim Junmyeon, terdapat riwayat hidu pria itu, termasuk usianya. ”Duapuluhtiga… omo! Seumuran denganku!” pekiknya.

   Jaehee melipat tangannya. ”Melihat dari penampilannya,” Jaehee, yang memang memiliki kebiasaan, menjadi komentator, kalau kata ibunya karena ayahnya dulu ingin sekali jadi pelatih sepakbola, mulai mengomentari fisik Kim Junmyeon. ”Dia tidak ada perawakan bisa jadi Direktur Fashion. Apa dia mendapatkannya karena dia putranya CEO?”

   Walau nada suara Jaehee, lebih mirip pembaca acara E!Buzz, dan terlihat berkomentar sembarangan, kalian salah. Jaehee adalah lulusan fashion desain sebuah universitas ternama di Arizona, Amerika Serikat. Maka, dari banyak orang yang berhak berkomentar pedas soal dipilihnya pria bernama Kim Junmyeon ini sebagai direktur, mungkin Oh Jaehee adalah salah satunya.

   Ia bahkan mendapat titel lulusan terbaik di kampusnya.

   ”Bagaimana orang yang tidak tahu fashion seperti ini bisa jadi Direktur Fashion? Astaga,” dan ia serius lagi mendengarkan penjelasan si pembaca berita yang menyebutkan latar belakang keterpurukan Departemen Fashion. Rupanya Departemen Fashion dari Shinhwa Corp tersebut down, karena direktur sebelumnya menikah, dan setelah menikah sepertinya kehidupan pernikahannya jauh lebih menarik daripada perusahaan yang ia pegang.

   Dan BAM! Bisa dibuat hampir bangkrut begitu saja hanya karna disepelekan begitu saja. Jaehee geleng-geleng. Dia memang mendengar kalau negaranya ini memiliki selera dan kiblat tinggi ke arah fashion, namun dia baru benar-benar menyadari arti penting fashion serta dampak akibat yang bisa ditimbulkan salah satu departemen fashion terbesar di Korea Selatan.

   ”Kalau begitu…” gumam Jaehee. ”Korea Selatan tepat memiliki pemudi bangsa sepertiku. Aku bisa menyelamatkan perusahaan itu… hahaha.” Dan dengan pedenya ia tertawa sendiri.

 

*           *           *

Shinhwa Corp. Ruang Direktur Baru

 

   ”Nah,” Luhan meletakkan Samsung Galaxy Tab 3 mulusnya di hadapan direktur baru, yang baru saja duduk di ruangannya yang baru. Ya ruangan ini baru saja ditempati Kim Junmyeon, atau yang Shinhwa Corp sekarang resmi juluki ia sebagai Suho–guardian, sang pelindung, atau penyelamat. ”Kau lihat berapa harga saham Shinhwa Fashion Department saja, sejak kau diumumkan sebagai Direktur terbaru dari Shinhwa Fashion Departement.”

   Suho mengembuskan napas, yang tanpa ia sadari, ia tahan semenjak Luhan memberikan berita terbaru mengenai laporan harga saham yang langsung meroket naik semenjak pengumuman dirinya diangkat sebagai direktur yang baru.

   ”Luhan Hyung,” Suho memulai.

   Luhan duduk dan mengeluarkan note pen-nya dari dalam tab, sambil menatap Suho serius. ”Ya?”

   ”Hyung, aku tidak mengerti… err, dasar-dasar fashion!” seru Suho pada akhirnya. ”Hyung kau gila, ya?! Tadi di rapat pemegang saham, kau melimpahkan semua sahammu, untuk mendukung sahamku sebagai Direktur Fashion Shinhwa. Tapi, Hyung… kalau kau memintaku jadi direktur, apalah… aku mungkin masih bisa menerima dan bisa menjalankannya dengan baik. Tapi… ini fashion!” ia tak menyadari entah sejak kapan suaranya sudah berubah menjadi desisan rendah macam ular derik.

   Luhan terkekeh. ”Aku tahu kau tidak mengerti… err…” Luhan sengaja melihat penampilan Suho, dengan pandangan sok menilai. ”Soal fashion,” ia mengisyaratkan penilaiannya pada penampilan Suho dengan gerakan tangannya. ”Dan aku sudah memikirkan bagaimana caranya untuk membantumu, Kim Suho Junmyeon.”

   ”Dan, please bisa tidak kau memanggilku Kim Junmyeon saja, Hyung?” Suho memutar matanya, sebal.

   Luhan mengabaikannya dan meneruskan, ”…menurutku kau harus mencari seorang asisten, boleh asisten magang. Kurasa fashion di Shinhwa Fashion Mall sudah mulai ketinggalan zaman, sudah waktunya ada sentuhan anak muda disini. Bagaimana menurutmu?”

   ”Ya, mungkin saja,” Suho hanya mengangkat bahu.

   Luhan mengetuk-ngetukkan buku-buku jarinya di atas meja. ”Jadi kau setuju untuk mengangkat asisten, yang berasal dari luar Shinhwa Corp, bukan? Supaya ada ide segar disini?”

   ”Ya, aku setuju,” pelan-pelan Suho berpikir, ide dari Hyungnya itu tidak buruk. Dan memang benar, ia membutuhkan orang yang benar-benar mengerti mengenai fashion design. ”Jadi kita akan mulai mencari asisten? Kuharap tidak perlu lama-lama, karena pekerjaan ini sangat… err… urgent.”

   Luhan menepuk-nepuk dagunya, berpikir. ”Kita harus meninggikan kualifikasinya jika memang mau langsung mencari yang benar-benar hebat, bagaimana menurutmu?”

   ”Memang ada orang dengan kualifikasi setinggi yang kita harapkan?”

   ”Semoga. Kita coba saja dulu,” Luhan berdiri. ”Aku akan siapkan soal pencarian asistenmu, sementara kau kerjakan sebisa kau dulu saja sekarang, oke?”

-To Be Continued-

Hello ^^

As you can see, my name is anonymous lol~ of course that was not my real name… if you want to know me (who cares) please leave this comment, maybe you can guess who am I…

nice to meet you all

and please take care of me, salam kenal semuanya ~~~

Advertisements

27 thoughts on “~Red Little Daisy~ [Strike 1]

  1. elsacessara says:

    Uwaa ceritanya keren >< ini new author kah? Daebak!! Buruan dilanjut ya thor ff ny. Ini keren banget sumpah. Akhirny ada lagi ff suho di idl 😀

  2. indaylee says:

    HAHAHAHAHAHA KIM JUNMYEON HAHAHAHAHA /ketawa dulu/ /apaan/

    Ra ketawa sendiri bayangin Suho jadi CEO dan jadi orang pinter banget wahahahaha aduuuh /digampar/
    jadiiii apa yang terjadi antara Eric sama Yeseul? apa yang terjadi? kenapa? kenapaaaaa? /a la sinetron/
    dan si Jaehee pede banget dah itu dan bayangin dia ketawa2 sendiri lol /plak
    Ih udah lama banget ga baca ff buatan *piiiiip* deh hihihihi akhirnya baca jugaaaa dannn kata-katanya tetep keren bingit daaaah ra selalu sukaaa hihihi ❤

    *piiiip* ayok lanjutkan ayoook wkwk yang cepet ya keluarnya *piiip* hahaha

    ra bingung mau komen apalagi, pokoknya semangat (?) deh *piiip* wkwkwk

    With ❤ from kipas kipas tata surya,

    Ra

  3. Yoo says:

    HALOOOOOOOOO /salto keliling idl/
    buat piiip, maklumin kalo komen ini bakalan panjang kayak kereta api jurusan malang-jakarta hahaha

    wohoooooooooo suho muncul tiba tiba jadi anaknya om eric aaaaaaa anak sama bapak kok ganteng sih, aku mau jadi ibunya suho kalo begini /PULANG KAMU TIR/ wkwk
    oke mulai ngespam komen dulu, aku suka awalan ceritanya, sedih menyayat hati mengorek jiwa raga meleburkan hati menjadi butiran debu /lalu karaokean/ /ditendang author/ oke maap ini absurd banget, maklumin otakku emang begini, piiiiip (?) masa lalunya om eric sedih sekali harus pisah sama wanita yang dia suka ;_;

    daaaan, jeng jeng! ternyata jaehee anak dari cinta masa lalunya om eric dan om eric punya anak suho DOR! percintaan antar anak dan ortu nih >< /woo reader sotoy/ /ditimpuk bakiak/
    aku suka karakter jaehee disini, periang banget orangnya, trus beneran ternyata dia cerewet wkwkwk

    trus aku juga suka hubungan suho sama eric disini, bapak anak yang akur & harmonis banget duh jadi beneran pengen daftar calon emak buat suho /BUBAR TIR SANA KE LAUT AJA/ tapi serius aku mau jadi emaknya suho kalo suaminya si om eric HAHAHAHAHA. suho anak baik banget ya sama bapaknya, perhatiannya full haha beneran guardian sejati hihi

    aku senyam senyum sendiri waktu jaehee liat beritanya si suho trus komentar kalo suho imut hahaha dia jodoh kamu mbak, jodoh memang tak kemanaaaaaaa /nyanyi/ dan, ehem, itu ada isyarat jaehee bakalan gabung sama perusahaannya suho ya? hoho penasaran sama kelanjutannya, terutama hubungan jaehee-suho disini

    trus itu apaaaa luhan ikutan nyempil, dasar kamu numpang eksis aja /ditabok luhan/ wkwk, luhan bikin ceritanya makin manis, dengan muka dia yang manis untuk dibayangkan /mimisan/

    sekian aja spam komen ga mutu dari aku, nanti kalo dilanjutin malah makin absurd /emot nangis ketawa/

    ini manis! ficnya manis! dan konfliknya juga udah mulai kerasa, bikin penasaran buat nextnya hihi

    -yoo-

  4. Syafira Larasati says:

    Ceritanya masih awal yah, jadi belom ada konflik yang muncul
    Tapi aku penasaran sama kelanjutan ceritanya, akankah jaehee masuk shinwa corp?
    Ditunggu next chapter

  5. nadatiana says:

    ini author baru yaa? salam kenal yaa~ ♡
    sepertinya, couple ini gak asing deh. apa couple lama yg dimunculin lagi? rasa2nya kaya pernah baca couple ini. tapi emang perasaanku aja atau iya tinggal tunggu aja konfirmasi dari idl. hihihi 😀
    ceritanya manis. tapi masih kurang panjang nih. 😉
    ditunggu cerita couple Suho-Jaehee selanjutnya, buat mastiin ini bener2 couple baru atau mingkin couple lama yg mencuat kembali. hahaha
    para eonnie idl bilang bakalan ada surprise. jadi ditunggu jg surprise nya!!!
    keep writing. FIGHTING! 🙂

  6. nadatiana says:

    ini author baru yaa? salam kenal yaa~ ♡
    sepertinya, couple ini gak asing deh. apa couple lama yg dimunculin lagi? rasa2nya kaya pernah baca couple ini. tapi emang perasaanku aja atau iya tinggal tunggu aja konfirmasi dari idl. hihihi 😀
    ceritanya manis. tapi masih kurang panjang nih. 😉
    ditunggu cerita couple Suho-Jaehee selanjutnya, buat mastiin ini bener2 couple baru atau mungkin couple lama yg mencuat kembali. hahaha
    para eonnie idl bilang bakalan ada surprise. jadi ditunggu jg surprise nya!!!
    keep writing. FIGHTING! 🙂

  7. lollicino says:

    ini author baru ya?
    oh my. mungkin juga bakal ada couple baru.
    indaylee makin rame! 😀
    awalannya bagus kok. lanjutannya pasti heboh, menurut tebak-tebakan asal. /dilempar sepatu/ ngga sabar nungguin kelanjutannya ^,^)
    serius kalo ada couple baru rasanya bahagia banget. Jadi inget SuJae :’) berharap couple yang satu ini (kalo jadi couple) lebih heboh dari SuJae :’)

  8. winnurma says:

    lg ngecheck indaylee ee ada ff baru dan akang /? suho yg jadj pemeran utamanya…hahah seneng banget eon
    ceritanya seru walaupun masih awal,,penasaran ama kelanjutannya trus konfliknya
    keep fighting eonni

  9. Selvi says:

    Cerita nya bgus tpi di sini ak lbh ska ama eric
    Kyk nya keren gtu pnya papa kyk eric
    Di tunggi next chapter nya ya
    Fighting

  10. Minhyo-Kim says:

    omoooooooooooo!!! cerita baru dengan pemain suho-ssi. tulisannya gak asing hahahaha. mau bacaa yang kedua nya tapi masihhh dii protect dan belum dpt pw jd lagi menunggu.
    Salam kenal authornim…. yang aku belum tau namanya hehehehe

  11. sehunyehetxx says:

    Huaa, ff baru \(^^)/
    Authornya siapa ini, kayak ask.fm aja anonymous’-‘)/

    HAHAHA JUNMYEON HAHAHA
    HAHAHA SUHO HAHAHA /?

    Huaa, papa Erick /mata D.O/ mau kali punya papa kayak gitu. Mau punya Suho juga *plak

    Ini nanti Jaehee jadi asistennya Suho ya? ;3

    WAHAHA, aku baca waktu strike 2 udah ada~ pengen cepet bacaa ;3 semoga eonniedeul cepet bales mention yaa;b
    Eh gatau sih ‘anonymous’ ini eonnie atau bukan, tapi kayaknya iya /pasangtampangsokunyu/

    HAHA, yaudah aku mau mention minta pw dulu~ ^^

  12. galakto_gal says:

    hehee.
    maaf. lupa banget buat komentar kemarin-kemarin.

    authornya anonim hahahaa
    sebenere langganan baca disini
    dan paling sering lupa buat komentar. apalgi kalo pake hape

    so disini harus komentar

    asik ceritanya bakalan dibikin complicated. haha. suho suka sama jaehee. trus ortunya ketemu. surpriseee!!!

    seru-seru!!
    author kapan kebuka indentitasnya?? di strike 2??
    uda ah kebanyakan nyepam~~~
    xoxo

    gal

  13. andin says:

    eh buseeeeet baru sempet buka blog ini gara gara jadwal dan tugas kuliah yg semakin mencekik dan ffnya sudah banyak astagaaa aku ketinggalan banyak dooong yaa,aaa mesti main kebelakang belakang niiiih aduuuhhh suhoooo. aduuuh mau cepet cepet baca yg lain nih mesti jalan jalan kebelakang dulu berarti yaaa…. aaaaa kangen sama semuanyaaa

  14. Lee Hye Ran says:

    Author baru😄 yeaaaaah inday makin makin deh serunyaaa! Couple baru♥ aw! Ini udah bagus awalnya, sukaaa! Lanjutannya bikin yang menggemparkan yah! pake konflik dikit lah biar makin unyu;;) wkwk longlast for this coupleee♥😍

  15. Unknown Yeoja says:

    Seharusnya ya, seharusnya. Seharusnya saya bayangin imej Eric disini keren pake banget. Tp apa daya, imej dia di Shinbang menggelayut manja di pelupuk mata xD Jadi ya cukup ngakak puas pas junmyeon nakut2in bapaknya soal stroke. Emang dasar kakek kakek tua HHAHAHAHAHAHAH /dibunuh shinchangjoo/

    Makanya Junmeyon ini jangan ngadepin kertas angka-angka moloooo. Gilew masa ga bisa belajar pesyen dikit gitu.. Belajarlah sama si lulu xD

    Tp Junmyeon jd direktur cocok kok. Kebayang bawahannya bakal manggil dia “Kim Sajjang”. Sy mau deh jadi sekertarisnya! /plakk

    Oh Jaehee ini kayanya tipe tipe cewek yg mulutnya minta disumpel demi kebaikan khalayak ramai ya.. Komennya asli jujur banget dr hati terdalam xD

  16. Momoe025 says:

    Author baru ya? Salam kenal aku juga readers baru disini.
    Wah ada couple suho :D, suka sama karakter jaehee yang PD abis xD

  17. minjoongsoo says:

    Woahhh.. Suhonya keren.keren.keren, pinter, anak CEO pula. Hahaha. Mau dong, ada stok lagi gak?

    Penasaran eonni sama kelanjutan ceritanya, emm.. Sepertinya saya kebayang konflik yang akan muncul. “Sok tau”

  18. Laksita Rahma says:

    Suho-Jaehee new couple kah? Uwaa ini FF bgus bgus bgus aku suko, apalagi Suho jadi CEO muda gitu bgus pokoknya, cOcOk kaya image Suho, kkkk ..udah ada capter 2 yah gak sabar pingin baca, mention ke indaylee dulu deh..

  19. wari says:

    apakah ini kisah cinta yang menurun pada anak mereka nantinya ?
    menarik masa lalu orang tua mereka dan kisah mereka

  20. hyena lee says:

    Waaah aku baru ngotak ngatik wp ini. Dan baru nemu story jaehee lagii. Aku nunggu banget loh kelanjutannya setelah ff trust.

    Penasaran gmana sih caranya suho oppa sama jaehee eonni bakalan ketemu di shinhwa. Aku penasaran bgt gmana suho oppa jadi direktur fashion yg jelas jelas dya kgk ngarti fashion sama sx. Hahaha

    Oya eon, aku mau lanjut baca part 2 nya. Tapi di protect. Aku uda minta pw nya d twitter. Jadi tgl nunggu aja deeh. Jadi gak sabar hahaha.

  21. Anita says:

    ini cerita sampingannya junhee kah eon? 😮
    strike 1 aja udah lucu gini wkwk. masa sih suho selera fashionnya parah gitu? xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s