[Merely SongFic] My Turn to Cry

Image

My Turn to Cry

EXO’s Member | You

‘Aku ingin kau bahagia, meskipun bukan aku yang ada disisimu lagi.’

©Indayleeplanet 2014

***

I’m still holding a crying you,

This nightmare is too real,

I’ll wake up in a second

***

Kau terus menutup wajahmu dengan kedua tanganmu, enggan menatap wajahku. Kau masih membelakangiku,seakan sengaja menunjukkan padaku punggungmu yang bergerak naik-turun mengikuti  alur nafas cepatmu, seperti sengaja memperlihatkan padaku kepedihan mendalam yang kau rasakan di lubuk hatimu yang rentan.

Aku menarik tubuhmu kebelakang dan melingkarkan tanganku di atas perutmu, meletakkan daguku di atas pundakmu yang terus bergetar kemudian menempelkan bibirku pada daun telingamu yang memerah dengan perlahan. Aku memanggilmu, mengucap namamu sepelan dan selembut mungkin, berusaha membuatmu mau untuk membalikkan tubuhmu dan menatap diriku yang tak pernah ada disini –disampingmu.

Aku memejamkan mataku, membiarkan cairan bening yang sejak tadi terbendung di pelupuk mengalir melewati pipi yang kemudian berakhir di sweater favoritemu yang kau kenakan saat ini. Katakan aku bohong. Katakan aku munafik setelah apa yang aku lakukan padamu. Aku tak peduli. Aku tak peduli dengan apa yang kau pikirkan tentangku saat ini. Yang aku pedulikan saat ini adalah –ikut merasakan kepedihan hatimu karena diriku, karena kebodohanku.

“Maafkan aku-“

***

Aku membuka mataku dengan cepat,mengerjap-ngerjapkan mataku yang letih dan mengatur deru nafasku yang cepat tak beraturan. Aku terdiam. Berusaha mengembalikan kesadaranku yang sedikit buram. Aku bangkit dan duduk, lalu memendam wajahku dengan kedua tangan dan merenung sedalam yang aku bisa.

Maafkan aku…’

Kata-kata yang pernah kuucapkan itu terus terngiang di kepalaku.  Kata-kata yang tak akan pernah bisa aku ucapkan padamu lagi, kata-kata terakhirku, penyesalanku.

Penyesalanku yang terlambat, untuk aku dan dirimu.

***

My heart sighs,

I open the window and write a letter,

Dreaming that the moon is shining in sorrow like me

***

Aku masih terdiam, duduk di kasur sambil terus menatap lurus kedepan. Membayangkan kejadian saat itu. membayangkan dirimu berada disini bersamaku, didepanku.

Hey, ayo bangun! Kau mau malas-malasan terus, huh?’

Aku ingat.

Ketika dirimu menggoyang-goyangkan tubuhku yang masih terus menempel dikasur meskipun sebenarnya aku sudah membuka mataku ketika kau membuka pintu apartmentku tadi. Aku bahkan dengar ketika kau mengumpat dan berkomentar tentang piring-piring kotor bekas semalam yang masih ada dimeja makan itu.

Panda, ayolaaah~ kau mau lingkaran di matamu itu bertambah?’

Aku mengerang pelan, lalu berguling mendekatimu yang duduk disamping kasur dan memeluk pinggangmu dengan erat dan manja. Tapi kau terus berusaha melepaskan tanganku –yang tak akan bisa berhasil dan mengancamku.

‘Kalau kau seperti ini terus, aku tak akan membuatkan sarapan untukmu lagi.’

Aku mau tak mau membuka mataku dan memajukan bibirku, kesal karena ancamanmu yang selalu berhasil membuatku menurut padamu. Kau tertawa, kemudian mengacak-acak rambutku pelan. Aku bangun dari tidurku, mengerjap-ngerjapkan mata memfokuskan pandanganku, kemudian terkejut ketika melihat kedua mata indah-mu memerah.

Aku tak apa. Aku hanya lelah karena aku tidur terlalu pagi.’

Aku terus menatap kedepan, melihat bayangan dirimu duduk didepanku dengan mata sembab dan senyum palsu mencoba meyakinkanku kalau kau baik-baik saja. Aku tahu. Aku tahu kalau kau tidak baik-baik saja.

Aku memaksamu. Aku harus memaksamu untuk mengatakan apa yang terjadi pada dirimu. Kau selalu berkata kalau kau baik-baik saja dengan suara pelan dan bergetar. Sampai kau tiba-tiba menangis, memecah keheningan dalam kamarku saat itu.

Aku tak bisa melanjutkan ini lagi, Zitao.

***

Remember you’re still here,

I don’t want you to cry,

I want to see the brightest smile on your face

Leave my heart and promise me don’t cry,

I am saddened by these endless tears

***

Saat itu kau menunduk dan terus terisak didepanku, kedua tanganmu menutup bibirmu yang bergetar. Dan dalam isakan kerasmu itu, aku bisa mendengar kalimat yang tak pernah aku perkirakan keluar dari mulutmu. Sekalipun.

‘Aku tak bisa lagi, Zitao. A-aku sudah-’

‘-mencintai pria lain.’

Aku bodoh. Aku adalah pria paling bodoh di dunia ini.

Aku terlalu tak peduli untuk melihat keadaan. Aku terlalu idiot untuk mengetahui segalanya. Aku terlalu bodoh untuk mengetahui dirimu, mengetahui tentangmu.

 ‘Kenapa?’

Aku mengangkat dagumu lalu menatap kedua matamu yang memerah dan menggenggam tanganmu yang bergetar dengan erat. Kau menggelengkan kepalamu perlahan, menolak untuk menjawab pertanyaanku, ‘Kenapa baru sekarang?.’

‘Aku tak tahu, Zitao-ya. Aku terlalu…takut dengan kenyataan ini.’

Kau tersenyum ditengah isakanmu itu. Senyum yang menjelaskan keadaan yang kita alami saat itu –saat terburukku

‘Kau ingat? Dulu, kau selalu mengacuhkanku.Kau tak pernah menganggap keberadaanku disisimu. Kau memang selalu mengatakan kalau kau kekasihku. Tapi, kau tak pernah memperlakukanku sebagai seorang kekasih.Kita tak akan pernah berbicara jika aku tak memulainya. Dan jika aku mulai bertanya tentang suatu hal, kau selalu menjawabnya dengan malas.Aku tau. Aku tau sikapmu seperti itu karena memang sifatmu yang seperti itu. Aku terus berada disampingmu. Aku selalu mengingatkan diriku sendiri untuk tetap tegar bersamamu, karena aku mencintaimu. Tapi –aku hanyalah manusia biasa, yang bisa jenuh dengan semua hal melelahkan ini.’

Tangisanmu semakin menjadi. Kau menundukkan kepalamu lagi, dan kini lebih dalam. Aku tak tahu. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan saat itu. Aku ingat. Aku dulu menganggapmu sebagai sebuah beban.

Aku selalu malas jika bertemu denganmu, aku tak pernah menghubungimu lebih dulu dan aku hanya membalas pesan  atau pertanyaanmu seperlunya saja, dengan singkat dan nada malas. Bahkan aku tak peduli ketika kau menemuiku dengan wajah kusut dan mata memerah. Aku benar-benar tak peduli.

Dan pada detik itu juga aku baru sadar, betapa kejamnya diriku memperlakukan dirimu yang selalu ada disampingku dan selalu menemaniku.

‘Aku muak dengan semua sikapmu. Aku tak tahan dengan semua perlakuanmu padaku. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku mencintaimu. Tapi hatiku sudah mencapai titik jenuh yang paling tinggi. Dan orang itu datang disaat aku berada di titik itu. Ia menghiburku, ia selalu memaksaku untuk tidak menangis dan membuatku tersenyum. Hal itu membuatku mau tak mau lupa dengan dirimu, lupa dengan perasaanku padamu, dan membuat diriku mulai menaruh titik kenyamananku pada dirinya. Aku siap melepasmu pergi. Tapi,kau tiba-tiba berubah. Kau bukan Zitao yang dulu lagi.’

‘Kau selalu menghubungiku ,memberi kabar lebih dulu dan selalu mengajakku untuk bertemu dan pergi hanya untuk membeli ice cream favoriteku atau sekedar menikmati indahnya sore hari berdua di pinggir sungai Han. Kau berubah 180 derajat. Aku kembali padamu –bukan, aku mencoba kembali padamu. Aku mencoba menyatukan kembali perasaanku padamu yang sudah mulai menghilang. Aku pikir aku bisa melupakan perasaanku pada dirinya dan kembali padamu. Ternyata aku salah. Perasaanku tidak akan pernah bisa kembali lagi.’

Aku sekarang benar-benar sadar seberapa sakitnya aku telah melukai dirimu, seberapa hebatnya diriku telah menghancurkan hatimu menjadi berkeping-keping yang tak bisa dikembalikan lagi. Aku memang tidak becus. Aku tidak becus sebagai seorang pria, sebagai seorang kekasih. Aku adalah laki-laki jahat yang hanya memikirkan diriku sendiri, tak pernah memikirkan orang lain selain diriku. Ya, aku jahat saat itu.

Tapi aku sadar, saat kau memaksaku untuk pergi ke pantai dan melihat ketulusanmu mengagumi indahnya pantai  dan tertawa lepas saat bermain-main dengan pasir pantai . Aku benar-benar sadar bahwa kau, orang yang ada dihadapanku saat itu adalah orang yang sangat berarti bagiku. Orang yang berpengaruh di kehidupanku, gadis yang benar-benar aku cintai tanpa aku sadari.

Aku mulai mencoba merubah sikapku. Meskipun terkadang aku sangat jengkel ketika kau bersikap manja dan menggelayuti lenganku seperti anak kecil. Tapi aku menahannya, aku tak ingin menyakitimu sekecil apapun itu.

Tapi ternyata tanpa aku sadari, aku selalu menyakitimu selama ini.

Hatiku benar-benar kelu melihat gadis yang paling aku sayang  menangis. Terlebih lagi, menangis karenaku. Aku benar-benar tak bisa melihat kau serapuh itu, aku tak bisa. Aku melepas genggaman tanganku dan menghapus cairan bening yang mengalir melewati pipi salju-mu dengan jari tanganku,

‘Jangan menangis.Tersenyumlah.’

Kau menggeleng-gelengkan kepalamu pelan. Kau berbalik membelakangiku. ‘Aku tak bisa.Maafkan aku Tao.Aku..menyakatimu’

‘Aniya…Jangan berkata seperti itu. Kau tidak menyakitiku.’ Aku mengelus puncak kepalamu lembut, ‘Aku yang selama ini selalu menyakitimu.’

Aku tersenyum, ‘Maafkan aku.’

Ah, aku bukanlah seorang pembohong ulung. Nyatanya, aku sudah menarik tubuhmu dalam pelukanku dan cairan bening yang sejak tadi aku tahan akhirnya menumpuk di pelupuk mataku dan jatuh saat itu juga.

‘Maafkan aku.’

***

Love is leaving, it’s my turn to cry,

The stars are watching too, a sea of tears is forming

It’s my turn to cry,

the night is so beautiful, Stop the tears this time

***

‘Maafkan aku…’ Ujarku di pundakmu yang sudah basah karena air mataku.

Silahkan tinggalkan aku dan berbahagialah bersamanya.’

Kau mengangkat kepalamu yang sejak tadi menunduk, berbalik kemudian menatapku dengan pipi yang basah dan memerah. ‘Panda…’

‘Aku serius. Aku akan melepasmu. Kau tidak perlu berhubungan denganku lagi.’

Aku bisa saja menyuruhmu untuk tetap menjadi milikku. Aku bisa saja menyuruhmu untuk melupakannya dan menyuruhmu untuk kembali mencintaiku. Aku bisa memberikan 1001 cara agar kau bisa kembali mencintaiku. Tapi, bukankah aku terlalu egois jika aku melakukan itu, sedangkan aku sudah cukup –atau bahkan  terlalu mendominasi dirimu?

Aku tak ingin kau hancur karena aku untuk kedua kalinya –atau kesekian kalinya. Aku tak ingin kau memaksakan hatimu lagi hanya untuk membuatku bahagia. Tidak. Aku tidak mau. Aku ingin kau bahagia. Sekali ini, aku ingin kau bahagia, meskipun bukan aku yang ada disisimu lagi saat kau tersenyum bahagia.

‘Tapi Zitao-‘

‘Kau mencintainya ‘kan?’ Selaku.

Kau menggelengkan kepalamu,‘Tapi…aku tak ingin seperti ini. Aku tak bisa melihatmu menangis…’

‘Hey-‘ Aku menatap kedua matamu dengan pasti, meskipun aku yakin kalau mataku tetap terlihat sendu di matamu.

‘Kau tak ingat bagaimana caraku memperlakukanmu dulu? Kau lupa kalau aku sering membuatmu terluka? Kau tak ingat kalau aku selalu mengacuhkanmu? Kau lupa kalau aku selalu membuatmu menangis dan aku tak peduli dengan semua itu? Kau harus ingat itu.’

‘Jangan menangis lagi, okay? Aku rasa, ini saatnya kau berada di posisiku. Melakukan hal yang sama padaku. Jangan pedulikan aku lagi. Anggap aku tak  ada –tak pernah ada di dalam duniamu. Anggap bahwa aku hanyalah bayangan mimpi burukmu.’

‘Dan aku juga akan berada diposisimu saat itu. Ini saatnya aku merasakan menjadi dirimu yang telah aku lukai itu.’

Ya. Aku rasa, sudah saatnya aku menangis untukmu.

***

Our picture is yellowing with time,

My heart aches that I cannot go back

Every night I lie awake,

In the room after the lights go out,

I try to draw the shape of your face with my fingers

***

Aku mengacak rambutku kesal dan bangkit dari kasur, menjauhkan pikiranku dari kejadian yang benar-benar tak ingin aku ingat. Iris mataku lalu menjelajah setiap sudut kamar apartementku perlahan, kemudian menemukan sesuatu yang aku cari saat ini. Sesuatu yang seharusnya tak ada disini lagi.

Aku melangkahkan kakiku ke meja yang berada tepat didepan kasurku kemudian terdiam. Tatapanku tertuju pada bingkai-bingkai foto yang berjajar sedemikian rupa dan memenuhi meja itu. Aku mengambil salah satu bingkai tersebut dan tersenyum, tersernyum miris dan membayangkan wajahmu saat itu. Membayangkan apa yang kita lakukan saat itu.

Aku datang ke rumahmu lalu membangunkanmu di pagi hari dan memaksamu untuk ikut denganku. Kau yang bingung hanya mengikutiku dan terus bertanya padaku kemana kita akan pergi. Aku enggan menjawabnya dan terus menarikmu dalam genggaman tanganku. Setelah sampai ditempat itu kau terdiam, dan terus-terusan berdecak kagum melihat pemandangan yang ada dihadapanmu. Lalu aku mengeluarkan ponselku dan –untuk pertama kalinya mengajakmu untuk mengabadikan momen ini didalam sebuah foto.

Tampak dirimu sedang tersenyum lebar sambil merangkulku –yang memasang wajah datar dari belakang dengan background hamparan rerumputan hijau yang sangat-sangat luas, tempat yang benar-benar aku ingin perlihatkan padamu saat itu, tempat rahasia yang aku ingin tunjukan hanya padamu seorang –dan tempat terakhir aku tertawa bersamamu.

Hatiku sakit.

Hatiku pilu menerima kenyataan bahwa kau tak ada disampingku lagi, menerima kenyataan bahwa kau bukanlah milikku lagi. Kenyataan pahit yang harus aku terima karena kebodohanku sendiri. Aku selalu menyakitimu. Aku selalu membuatmu menghancurkanmu. Dan ini adalah pembalasan yang setimpal dengan perbuatanku itu.

Aku ingin berada disampingmu lagi. Aku ingin menemanimu disaat sedih ataupun susah. Aku ingin melindungimu. Aku ingin membuatmu menjadi miliku seorang. Aku ingin kembali bersamamu. Aku ingin semuanya kembali seperti semula. Tapi itu semua tidak mungkin, bukan? Karena aku tak ingin melukaimu jauh lebih dalam lagi.

Biar aku saja yang terluka kali ini. Karena aku sudah meninggalkan luka yang dalam di hatimu.

Biar aku saja, yang terjebak dalam bayangan dirimu yang selalu ada di malam sebelum aku memejamkan kedua mataku.

***

Your shy face, those dreaming eyes,

What do I do? I want to hold you so much

After I leave, don’t cry and say goodbye,

You can no longer return to my arms

***

Aku merindukanmu. Aku benar-benar merindukan dirimu. Aku ingin sekali mendengar suara lembutmu ditelingaku. Aku ingin mengelus helaian rambutmu yang selalu menjadi favorite bagiku. Aku ingin sekali menarikmu kedalam pelukanku dan tak akan membiarkanmu lepas dari pelukanku itu, lepas dari kehidupanku.

Aku mencoba untuk melupanmu. Aku mencoba menghapus semua memoriku denganmu. Aku selalu mencoba untuk menjadi seseorang yang dingin lagi, seseorang yang tak pernah menganggap keberadaanmu di hidupku. Aku mencobanya. Tapi nyatanya aku tak bisa. Aku tak bisa melupakanmu begitu saja. Aku tak bisa –bukan, aku tak sanggup dan tak akan pernah sanggup melakukan hal itu.

Kedua pipimu yang merona akibat ucapan manis yang sengaja aku lontarkan padamu, kedua matamu yang selalu menatapku dengan lembut. Kedua tangan kecilmu yang selalu memainkan rambutku ketika kita bertemu terus terlintas dalam pikiranku. Ingatan akan kenangan-kenangan indah yang kita lalui bersama selalu berhasil membawaku terbang tinggi, kemudian terjatuh karena kenyataan kalau kau tak akan bisa kembali padaku.

Aku tak bisa membuatmu kembali ke sisiku. Kau tak bisa kembali ke sisiku. Aku sendiri yang menyuruhmu untuk pergi dari hidupku.

Semuanya sudah terlanjur.

***

I (Really) Am (Can’t) Even (Give up) Now (My love) Loving (For you) You,

So I let you go

Please (Wipe away) Do (Those tears) Not (You’re still) Cry (In my heart)

I’m missing you

***

‘Berjanjilah padaku kalau kau akan bahagia.’

Aku mengelus kedua pipimu dengan ibu jariku, menghapus air mata yang terus mengalir dari mata indahmu, mata terindah yang pernah aku lihat. Kau menggelengkan kepalamu, lalu memegang tanganku yang menempel dipipimu, ‘Aku tak bisa.’

‘Kau harus bisa. Dan aku yakin kau pasti bisa.’

‘Bagaimana jika suatu saat nanti aku merasa kalau penilaianku ini salah, Zitao? Bagaimana jika ternyata aku tak bahagia bersamanya? Bagaimana jika ternyata aku tak mencintainya? Bagaimana-‘ Ucapanmu terhenti ketika aku menempelkan jari telunjukku pada bibirmu, menyuruhmu untuk berhenti bicara.

Aku lalu tersenyum padamu, ‘Kau akan bahagia bersamanya.’

Aku mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku ingin memilikimu, aku ingin sekali menahanmu disini selamanya, di kehidupanku. Tapi aku tak ingin melihatmu menangis lagi. Aku ingin melihat kau tersenyum dan tertawa lepas seperti dulu.

‘Zitao..’  Kau akhirnya tersenyum, senyum yang sejak tadi aku nanti. Kau lalu melingkarkan kedua tanganmu di pinggangku dan menempelkan dahimu pada pundakku. Kau memelukku dengan erat dan membiarkanku menghirup aroma tubuhmu untuk terakhir kalinya, menghirup heroin-ku sebelum aku mencoba untuk lepas dari ketergantunganku itu.

Aku rela melepasmu. Aku rela melepasmu dari kehidupanku demi kebahagiaanmu, meskipun aku tak yakin bagaimana hidupku nanti tanpamu –tanpa gadis yang telah mewarnai kehidupanku selama ini.

‘Terima kasih Panda.Aku…menyayangimu.’

Aku harus rela.

***

Stop the tears this time, stop the tears this time, stop the tears this time

I’m still loving you, still loving you,

I love you, I love you,

Don’t cry, stop the tears

***

Hai! Tebak ini siapa? Saya ga akan kasih tau siapa saya. biar kalian tebak sendiri aja wkwkwk /iniapa. intinya, saya mau liat gimana reaksi kalian kalo baca ff tanpa tau siapa yang buat :p

Dan saya sengaja milih cast yang belom ada pasangan/FFnya di idl, biar kalian bingung ini siapa yang buat /ditabok

Jadi, gimana menurut kalian? Rada ga nyambung ya? ;_; Maaaf itu sebenernya saya rada bingung gimana mau ngepasin ceritanya sama lagunya, soalnya lagunya intinya hampir sama, jadi bingung mau bikin scene kayak apa-_-. maaf ya /bow

Terus, mungkin. Mungkin yaa. Mungkin saya bakalan bikin yang semacam ini (?) buat semua member EXO dan mungkin bakalan galau semua wkwk /hobi bener bikin anak EXO galau/. tapi ga menutup kemungkinan juga saya bakal bikin yang happy happy gitu (?) So, tunggu saja yaa~

Terima kasih sudah baca~~~ dan saya lebih berterima kasih lagi jika kalian ngisi box dibawah dan komentar tentang SongFic ini :*

Gamsahamnida~

We ❤ You!,

Indaylee’s Staff

Advertisements

10 thoughts on “[Merely SongFic] My Turn to Cry

  1. elsacessara says:

    Pagi pagi gini udah disuguhin ff galau ya luhan :” sampe nangis baca ff nya. Kasian tao, tapi dia jg sih dulu cuek sama cewekny u,u author yg entah siapapun itu/? 😀 besok kalo mau buat ff ginian untuk member yg lain jangan galau dong, yg happy aja hoho ditunggu lah pokokny ff yg lainny

  2. lisa says:

    awalnya aku ngebayangin kyungsoo loh eh ternyata tao hoho, sama line lah:p kereennn.. feelnya dapet sekalii… ditunggu yang begini yang lebih lebih antimainstream lagi ya thor, biar

  3. minjoongsoo says:

    Hobi banget sih buat orang galau.. Aku baca ini dipagi hari.. -_- jadi intinya pagi-pagi udah dibuat galau.

    Ff ini ngena banget sebenernya, soalnya bener-bener nunjukkin perasaan menyesalnya tao sama perasaan dia yang bener-bener sayang sama ceweknya..

  4. lollicino says:

    KIRAIN SIAPA TERUS ADA KATA PANDA… sudah tertebak…. Zitaooooohhhzzzzzz, aku bersedih untukmu 😥
    it feels weird when i read every fics that tells about Zitao. apalagi kalo genre sad, masih mending kalo action. tapi disini ngga terasa terlalu aneh, zitao cocok perannya. sometimes, cold guy could be a nice and warm-hearted guy, right? mana pernah ngeliat zitao nangis, jadi cocok disini 😀 i like it.
    tiba-tiba berharap supaya zitao bisa masuk jadi salah satu couple indaylee ‘3’

  5. Kauramints says:

    tidak disangka castnya Tao, dikira couple idl hmm.. for the first time baca ff Tao genre romance, angst begini, sedih jadinya waktu baca dan kebayang waktu Tao nangis T.T
    ditunggu next storynya 🙂

  6. hyo1 says:

    baru buka page ini, tp udh langsung disuguhi ff sedih ini… DAN YANG MAIN CAST NYA SI PANDA OMG… keren.. keren…

    Ff nya keren bngt eon, feel nya dpt bngt. walaupin aku jarang baca ff angst yg cast nya tao, tp ini dpt bngt feel nya…

    ditunggu cerita tao yg lainnya FIGHTING!!!

  7. Park Yurin says:

    ini keren bangeeeettt
    sampe nangis bacanya 😥
    sula bgt sama lagu ini
    ceritanya juga pas sama lagunya klopp ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s