[KaiNa Piece] Birthday Boy

Image

Title : Birthday Boy

Author : Ima (@kaihyun0320)

Casts : Kim Jongin (Kai), Lee Hana (@inhanaLee)

Other casts : EXO, Kang Yun Woo

Please read Lee Hana’s Profile first.

Enjoy ^^

© INDAYLee’s Staffs 2013

[KaiNa Piece] Birthday Boy

Sunday, January 12th 2014

07.13 PM KST

EXO’s Dormitory

Suasana dorm begitu ramai ketika dua belas laki-laki dan lima wanita berkumpul bersama di sana. Merayakan ulang tahun Kyungsoo dengan berbagai macam makanan dan dua kue besar di atas meja makan. Ada banyak sekali kue ulang tahun yang dikirim fansite dan Kyungsoo sebenarnya bingung bagaimana memakan semua kue itu. Jadi setelah mencicipinya satu per satu, ia meminta tolong pada manajernya untuk memberikan beberapa potong dari setiap kue itu ke setiap apartemen yang satu lorong dengan dorm EXO.

Nayeon, Hanji, dan Chanra terlihat sibuk memakan kue di ruang tengah, sementara Ri-Ah hanya diam di sudut sofa dengan Sehun –yang mencoba membuat lelucon di dekatnya. Namun Ri-Ah lagi-lagi memasang wajah tanpa ekspresi menanggapi semua ucapan Sehun –yang menurutnya aneh itu. Semuanya terlihat bahagia dan Hana merasa beruntung karena memiliki keluarga yang sangat besar di Korea. Harusnya ia tidak merasa kesepian, masih banyak orang yang bisa menemaninya jika Kai benar-benar sibuk dengan kegiatannya.

Neo mwohae?” Baekhyun tiba-tiba muncul di samping Hana –yang duduk sendirian di meja makan.

“Sedang bersyukur,” jawab Hana singkat seraya tersenyum simpul. “Aku punya banyak keluarga di sini.”

Ya. Sejak kapan uri dongsaeng jadi dewasa seperti ini?” Baekhyun mengacak rambut Hana dengan gemas kemudian menarik kursi di dekat gadis itu. “Jadi… Kau mau kuliah dimana?”

Ucapan Baekhyun kembali mengingatkan Hana dengan semua pemikirannya selama satu bulan terakhir ini. Hanya tinggal menghitung bulan sebelum hari kelulusan dan Hana harus segera mengabari kedua orangtuanya untuk memastikan kelanjutan sekolahnya.

Seolma, kau tidak akan kuliah di Jerman ‘kan?” tiba-tiba saja Chanyeol muncul dan duduk di sisi kiri Hana.

Hana mengendikkan bahu dan hanya melempar senyum polosnya. “Aku masih memikirkannya, oppa. Kalau aku masih bisa kuliah di Korea, aku pasti kuliah di sini.”

Keurae. Kau harus tetap mendampingi Jongin apapun yang terjadi,” balas Baekhyun dengan nada serius namun malah terdengar suara menahan tawa dari Chanyeol sedetik kemudian.

“Pfft, kau tidak cocok, Baekhyun-ah,” Chanyeol menghentikan tawanya untuk memberitahu Baekhyun lalu beranjak dari meja makan begitu saja.

Eish, dasar aneh,” gumam Baekhyun, membuat Hana terkekeh geli. Hana malah memperhatikan Chanyeol yang mulai membuat rusuh di ruang tengah dan mengganggu adik perempuannya.

“Ah iya, dua hari lagi ulang tahun Jongin ‘kan?” tanya Baekhyun antusias, dengan suara yang sedikit ditahan. “Kau mau buat pesta sendiri atau apa?”

Molla.”

“21 tahun ya? Aigoo, dia akan ikut hari kedewasaan tahun ini,” Baekhyun menggeleng pelan seraya memperhatikan Kai –yang sedang tertawa bersama Chen dan Suho di ruang tengah. “Ya. Kalian sudah pernah kisseu?

Mwo?” Hana bertanya dengan setengah gugup dan seketika ingatannya kembali pada kejadian satu bulan lalu, membuat wajahnya memanas seketika. “A-anhi, kita belum—.”

Gojitmal. Kenapa tiba-tiba merah seperti itu?” tanya Baekhyun dengan senyuman menggoda khasnya. Sedetik kemudian Baekhyun malah tersenyum lebar karena Hana menjatuhkan kepalanya sendiri ke atas meja, mencoba menyembunyikan wajah merahnya. “Jadi kalian sudah pernah kisseu? YA! YEDEURA~! JONGIN DAN HANA SUDAH— PFFT.”

Sial. Hana segera membekap mulut Baekhyun dengan tangannya, namun perhatian sudah terlanjur tertuju pada mereka berdua. Ia melemparkan senyum polosnya pada Kai lalu segera melepaskan tangannya dari Baekhyun. Ia bukan seorang gadis yang pandai berbohong tentu saja.

“Astaga, tenagamu besar juga,” protes Baekhyun seraya menggelengkan kepala dan mengusap daerah sekitar bibirnya.

Dwaesseo,” balas Hana lalu beranjak dari meja makan, bergabung dengan yang lainnya di ruang tengah. Ia menyelinap di antara Yichan dan Kris di sofa kemudian menonton film yang tengah diputar dengan kalem. Tidak peduli tatapan membunuh dari pasangan –yang tadi masih saling merangkul mesra itu.

Ya. Kau cari mati, hah?” Chanra mendesis pelan kemudian melirik Kai yang juga terlihat kalem menonton film. “Jongin-ah, pacarmu ini, eish.

Kai hanya melirik sejenak, melakukan kontak mata beberapa detik dengan Hana lalu kembali menatap layar televisi tanpa mengucapkan apapun. Chanra merutuk dalam hati kemudian beranjak dari sofa ke arah balkon, diikuti Kris beberapa saat kemudian. Keduanya memang selalu membutuhkan waktu dan tempat ekslusif untuk dilewati bersama. Sama seperti kejadian dua tahun lalu yang membuat gempar seluruh penghuni dorm dengan apa yang dilakukan keduanya di balkon. Karena masih cukup sore, sepertinya mereka tidak berani melakukan hal aneh di luar sana.

Suara tawa Chanyeol terdengar paling mendominasi di ruang tengah ketika permainan yang dilakukan member EXO itu dimenangkan oleh dirinya dan Kai yang menghela napas pasrah karena kalah. Malam menjelang berakhirnya ulang tahun Kyungsoo harus dihabiskan dengan membersihkan dorm yang sangat berantakan. Rasanya Kai lebih baik pergi dengan Hana saja keluar –seperti apa yang dilakukan Kris hingga tidak harus ikut permainan dan berakhir dengan membereskan sisa-sisa makanan mereka semua.

Kai melirik Hana yang masih asyik mengobrol dengan Nayeon sambil menghabiskan snack di sofa. Sementara member EXO lainnya mulai membubarkan diri dan memasuki kamar masing-masing, kecuali Kyungsoo yang ikut menemani Nayeon tentu saja. Keduanya terlihat lebih akur sekarang.

Ya. Han-ah, bantu aku bersihkan dorm,” seru Kai seraya bangkit dari karpet dan mulai membereskan gelas-gelas kertas serta piring-piring plastik yang tergeletak di meja.

Sirho, aku mau pulang saja,” balas Hana lalu beranjak dari sofa. Ia baru saja akan melarikan diri dari perintah Kai ketika laki-laki itu menarik tangannya dan menyodorkan nampan berisi sampah dari meja. Tatapan Kai terlihat sangat tajam dan sedikit mengintimidasi Hana sebenarnya.

“Bantu aku atau bibirmu tidak akan selamat lagi, Lee Hana,” bisik Kai dengan hanya sedikit menggerakkan bibir agar tidak terdengar Kyungsoo di belakang Hana.

Sial. Hana meneguk ludah gugup saat senyuman miring Kai mulai muncul dan ia segera merebut nampan itu dari tangan Kai. Berjalan dengan cepat ke dapur lalu mencuci barang-barang kotor yang bisa dibersihkan di sana. Membayangkannya saja membuat Hana bergidik, walaupun sudah satu bulan berlalu, rasanya bibir Kai yang bergerak masih terasa di bibirnya. Sepertinya dunia Hana sudah mulai gila.

***

January 13th, 2014

Cheongdam Secondary High School

12.20 PM KST

Jam makan siang yang hanya dilewati Hana dengan berdiam diri di kelas sendirian. Tadi pagi Kyungsoo mengantarkan kotak bekal berisi sisa kue ulang tahun semalam dan Hana menerimanya begitu saja karena memang tidak sempat membuat roti untuk sarapan. Lagipula Hana tidak perlu berjalan ke kantin untuk membeli makan siang dan kebetulan sedang butuh banyak waktu untuk berpikir mengenai rencana ulang tahun Kai besok.

Lamunan Hana buyar ketika merasakan ponselnya bergetar di dalam saku. Ia melihat panggilan masuk dari Taemin muncul di layar ponselnya. Helaan napas keluar dari mulut Hana sebelum mengangkat telepon Taemin dengan ragu.

Waeyo?”

‘Ya. Kenapa nada bicaramu seperti itu, Hana-ya? Kau sakit?’

Anhi, aku hanya sedang bingung. Kenapa menelepon?”

‘Nanti datang ke gedung SM ya. Kita rencanakan ulang tahun Jongin besok, aku ada disini sampai malam’

“Tapi Jongin ada di sana juga, oppa.

‘Dia ada di gedung baru, Hana-ya. Kau datangnya ke gedung lama, SHINee latihan di sini. Jangan sampai lupa, bwayo~ng.’

Sebenarnya Taemin dan Kai tidak berbeda jauh sifatnya dalam hal memerintah. Hanya Taemin terdengar menyenangkan dan Kai menyebalkan.

Dan sejak tadi Hana masih bingung akan membeli hadiah apa untuk kekasihnya. Tahun kemarin ia hanya memberikan selamat dan kaus biasa saja. Jika ia membeli yang mahal pun, pasti Kai akan mendapatkan yang lebih mahal lagi dari para fansnya. Jadi mungkin hadiah Hana akan tertutup oleh hadiah dari para fans Kai sendiri. Menyedihkan.

Tatapan Hana tertuju pada Yura dan Ri-An yang berjalan memasuki kelas sambil membahas tentang EXO tentu saja. Mereka adalah fans setia EXO sejak dulu dan tidak pernah melewatkan satu pun ulang tahun member EXO. Mereka juga selalu ikut mengirim hadiah melalui fanparty atau bahkan fansite yang selalu tiba di tangan member EXO. Hana selalu mengecek tentu saja.

Ya. Hana-ya, kau mau beli hadiah untuk Kai juga?” tanya Ri-An seraya duduk di hadapan Hana dan menghadap gadis itu.

“Kenapa aku harus beli?” tanya Hana tidak mengerti. Oh, atau berpura-pura tidak mengerti.

“Ah, matda. Kau ‘kan fansnya Baekhyun oppa, jadi tidak mungkin beli hadiah untuk Kai,” balas Ri-An kemudian mengangguk mengerti.

“Tapi wallpaper ponselmu foto Kai ‘kan? Aku tidak sengaja lihat saat ponselmu ketinggalan waktu itu,” Yura mengendikkan bahu tidak acuh lalu melipat tangan di depan dada sambil bersandar di pinggiran meja dekat Hana.

Hana mengecek ponselnya sendiri dan merutuk dalam hati saat foto Kai –kembali menjadi wallpaper ponselnya. Padahal kemarin-kemarin ia sudah mengganti dengan foto Baekhyun, namun Kai lagi-lagi mengubah dengan seenaknya.

Molla, mungkin otakku sedikit error saat memasang wallpaper foto ini,” Hana membuka kunci ponselnya dan segera mengganti foto Kai dengan foto Baekhyun lagi. Kedua temannya itu selalu memperhatikan apapun mengenai EXO, termasuk apa yang dilakukan Hana –untuk membuktikan bahwa dirinya adalah fans EXO juga.

Yura terkekeh pelan lalu menepuk pelan pundak Hana. “Gwenchana. Aku hanya bercanda, Hana-ya.”

Hana baru saja akan ikut tertawa ketika mendapati telepon masuk di ponselnya. Dan jantungnya hampir saja berhenti berdetak ketika nama ‘kkaman’ muncul di layarnya. Ia menatap Yura dan Ri-An satu persatu sebelum menolak panggilan itu. Sepertinya tidak akan aman jika ia mengangkat telepon di sana, apalagi kedua temannya itu selalu sensitif dengan hal yang menyangkut EXO –termasuk suara sekali pun.

“Siapa? Kenapa ditolak?” selidik Ri-An dan membuat Hana semakin gugup. Lagi-lagi ia bukan seseorang yang pandai berbohong.

“Pacarku. Dia sedang menyebalkan.”

Jinjjayo? Kau sudah punya pacar, Hana-ya?” tanya Yura antusias dengan membulatkan kedua matanya –tidak percaya. “Apa dia sekolah di Cheongdam juga?”

Anhi, dia lulus dua tahun yang lalu dari SOPA,” Hana hanya menjawab secara singkat dan mengakhirinya dengan melemparkan senyum pada keduanya.

“Dia satu angkatan dengan Kai? Jinjja? Kenapa kau tidak pernah cerita? Aku ‘kan bisa minta foto Kai dari pacarmu, Hana-ya. Ah siapa namanya?” tanya Ri-An, semakin antusias dengan cerita Hana.

Sepertinya Hana baru saja menggali kuburannya sendiri karena memberikan penjelasan mengenai Kai –yang pasti akan diketahui kedua wanita itu. Sekarang Hana harus berpikir keras mengenai nama orang yang akan dipakai untuk menjadi pacarnya. Kepala Hana sudah mulai sakit karena berpikir dengan cepat ketika nama Minkyu terlintas di kepalanya.

“Namanya Park Minkyu, dia sedang kuliah di Jerman.”

***

SM Building, 521, Apgujeong- dong, Gangnam-gu, Seoul

05.30 PM KST

Tidak biasanya EXO dipindahkan untuk latihan di gedung lama SM hari itu. Kai yang bertanya pada sang manajer hanya dijawab dengan tidak jelas, padahal member lainnya pun tidak tahu kenapa mereka semua pindah tempat latihan. Sebenarnya mood Kai juga sedang tidak beres karena Hana selalu menolak panggilan darinya sejak tadi siang, jadi ia menerima saja semua yang dilakukan manajernya.

Kai bersandar pada dinding kaca dan baru saja akan mengambil napas saat melihat Suho masuk dengan ragu. Leadernya itu sudah izin akan datang telat karena harus menepati janji dengan seseorang. Mungkin dengan Jae-Hye dan Kai tidak ingin bertanya lebih jauh mengenai masalah hyungnya.

“Jongin-ah, tolong keluar sebentar,” panggil Suho –dari arah pintu masuk. Tatapan seluruh member tertuju pada Kai, sang visual itu menghela napas sejenak sebelum menyeka keringatnya lalu beranjak menghampiri Suho.

“Kenapa, hyung?” tanya Kai heran ketika Suho menarik tangannya keluar dari ruang latihan.

Lagi-lagi Suho tidak menjawab dan hanya menarik tangan Kai saja melewati lorong menuju cafetaria SM. Kai kembali menghela napas sebelum mengikuti saja apa yang dilakukan hyungnya. Keadaan cafetaria tidak begitu ramai, beberapa trainee sedang menyantap makan malam di sana dan ia melihat Minho bersama Jonghyun juga sedang membeli makan malam. Suho dan Kai membungkuk singkat pada keduanya hingga kemudian matanya menangkap seseorang –yang dulu sangat dikenalnya tengah duduk di salah satu bangku. Ekspresi Kai seketika menjadi kaku saat tidak sengaja bertatapan dengan sosok itu.

“Kami duluan ya, Joonmyeon-ah,” Minho berseru sebelum menepuk pundak Suho dan Kai lalu beranjak dari cafetaria. Sementara Kai masih tenggelam dalam dunianya.

“Sepertinya masalah kalian belum selesai. Dia ingin bertemu denganmu,” gumam Suho seraya menunjuk sosok wanita yang sekarang tengah tersenyum manis padanya.

Kai menatap hyungnya sejenak, bertanya melalui tatapan ragu namun Suho hanya tersenyum kemudian menepuk pundaknya. Menyuruh Kai segera menemui gadis itu dan menyelesaikan masalah mereka di masa lalu. Kai mendesah pelan lalu berjalan menghampiri meja gadis itu. Ia sengaja menarik kursi yang berhadapan agar bisa menghindari tatapan –yang dulu pernah membuat Kai tergila-gila itu.

Dan keduanya terjebak dalam keheningan. Kai tidak tahu harus memulai pembicaraan apa dengan wanita cantik di depannya. Seingatnya tidak ada masalah yang harus diselesaikan, karena mereka sudah membuat keputusan bersama.

“Apa kabar, Jongin-ah?” tanya gadis itu, masih dengan nada lembut khasnya.

“Baik. Kau bagaimana, Hyun Ji-ya?” Kai bertanya dengan ragu. Dulu ia sangat menyukai setiap kali memanggil dan mengingat nama itu.

“Masih tetap dingin, eh? Kupikir kau sudah berubah sejak debut, tapi ternyata sama saja,” Hyun Ji tersenyum simpul seraya meremas jus kaleng yang sudah habis setengah di atas meja.

Rasanya kerongkongan Hyun Ji terasa kering ketika harus berhadapan dengan mantan kekasihnya itu. Harus diakui jika Kai jauh lebih tampan dan dewasa dari sejak pertemuan mereka terakhir kali sekitar tiga tahun yang lalu. Tiga tahun yang lalu di tanggal yang sama, ia sedang kebingungan memilih hadiah untuk Kai dan bekerja sama dengan Suho membuat kejutan untuk laki-laki itu. Namun sepertinya sudah ada wanita lain yang sedang menjadi dirinya sekarang seperti tiga tahun yang lalu.

“Ada apa?” tanya Kai tiba-tiba, menarik kembali lamunan Hyun Ji.

Anhi. Hanya ingin bertemu denganmu saja,” Hyun Ji menyunggingkan senyum manisnya, lesung pipi yang berada di sebelah kanan pipinya semakin menambah kecantikan wanita itu.

Kai melihat bagaimana senyum yang dulu membuatnya tergila-gila itu kini tidak berarti apapun. Memang masih sedikit membuat jantungnya berdetak lebih cepat, namun tidak secepat ketika ia melihat senyum polos Hana. Sampai sekarang Kai masih heran kenapa bisa mendapatkan Hana –yang sifatnya sangat berbeda jauh dengan Hyun Ji. Gadis bernama Im Hyun Ji adalah seorang yang sangat mudah mengutarakan perasaannya, selalu bersikap manja, pintar, tidak ceroboh, dan tentu saja pintar memasak. Sedangkan Lee Hana adalah seorang yang tak acuh, ceroboh, mementingkan gengsi –sama seperti Kai, selalu berusaha mengerjakan semuanya sendiri, bodoh, ceroboh, dan tidak bisa memasak.

Namun pada akhirnya Kai menjatuhkan pilihan pada gadis –yang tidak sempurna itu.

Wae?” tanya Kai singkat dan Hyun Ji lagi-lagi hanya tersenyum simpul.

“Memangnya tidak boleh? Tiga tahun kita tidak bertemu, Jongin-ah. Lagipula aku masih punya akses masuk ke sini,” jawab Hyun Ji seraya melirik beberapa trainee yang melihat ke arahnya.

Dan Kai sadar bahwa ia dan Hyun Ji tengah menjadi pusat perhatian saat itu. “Ayo pergi dari sini, kita cari tempat yang lebih aman.”

Aman. Entah kenapa Hyun Ji merasa tidak asing dengan kata-kata itu. Ia mengikuti Kai yang mulai beranjak dari kursi dan memberi jarak satu langkah di belakang. Sudah bisa ditebak kemana Kai akan membawanya pergi menuju tempat ‘aman’ itu. Balkon bagian belakang gedung SM di lantai tiga yang menghadap gang kecil itu selalu menjadi tempat favorit ia dan Kai –karena tidak terlihat dari jalanan. Haruskah ia mengingat semuanya yang sudah terjadi di sana?

***

05.35 PM KST

SM Building

Entah sudah berapa lama Hana menunggu di depan gedung lama SM dan menunggu kabar dari Taemin. Udara yang sangat dingin terkadang membuat Hana menggigil dan harus merapatkan mantel. Andai saja Kai latihan di gedung lama, pasti ia sudah meminta jemput pada laki-laki itu. Sepertinya Taemin sedang fokus latihan hingga tidak sempat melihat ponsel. Padahal Hana sudah menelepon laki-laki itu berkali-kali sejak pukul lima tadi.

Getaran ponsel dari dalam saku almamater membuat Hana sedikit terkesiap. Ia membuka kunci ponselnya dan segera membaca pesan dari Taemin. Akhirnya. Taemin menyuruhnya masuk ke gang kecil di bagian belakang gedung SM dan masuk melalui pintu darurat. Laki-laki itu terpaksa meminta kunci pintu belakang karena pintu depan dipenuhi fans. Hana hanya menghela napas lagi sebelum berjalan memutar ke belakang gedung.

Hening menyergap ketika Hana berbelok memasuki gang kecil yang dipenuhi genangan air dan lampu yang temaram itu. Suara kebisingan kendaraan bermotor seolah tertelan gedung-gedung tinggi di dekatnya. Sebenarnya bukan pertama kali bagi Hana melalui pintu belakang untuk masuk ke dalam, dulu ketika ia masih sering bersama Taemin, keduanya selalu masuk melalui pintu belakang.

“Kau tidak merindukanku?”

Suara seorang wanita membuat Hana menghentikan langkah sejenak. Ia mengangkat kepalanya dan melihat balkon kecil di lantai tiga. Seorang wanita cantik yang sedang berbicara dengan seorang laki-laki itu sedikit banyak menarik perhatian Hana. Sosok laki-laki itu hanya terlihat bagian belakang saja dan sosok wanita cantik itu terlihat tersenyum bahagia sambil menatap penuh harap ke arah laki-laki di hadapannya. Lucu sekali rasanya Hana bisa menemukan dua orang yang sedang bersembunyi untuk bertemu di balkon gedung SM –yang sangat jarang dikunjungi orang itu.

Sebenarnya Hana melihat sosok laki-laki itu sangat mirip dengan postur tubuh Kai. Namun tidak mungkin karena Taemin yang mengatakan sendiri bahwa EXO latihan di gedung baru. Jadi mungkin laki-laki itu hanya seorang trainee yang kebetulan mirip dengan Kai.

Ya. Kenapa tidak jawab? Kau merindukanku juga ‘kan, Jongin-ah?”

Jantung Hana rasanya berhenti berdetak saat itu juga tepat ketika Kai menoleh ke samping untuk menghindari tatapan gadis itu. Hana tidak berhenti menatap kedua orang di atas itu dan menunggu jawaban dari Kai. Sebelumnya Hana tidak pernah merasakan rasa penasaran yang berlebih seperti itu. Hana berharap bahwa Kai menjawab dengan lantang bahwa laki-laki itu sudah menemukan sosok lain yang bisa lebih dirindukan daripada wanita itu.

Geuriwoseo, Hyun Ji-ya.

Kenapa oksigen di sekitar Hana tiba-tiba menghilang? Rasanya sangat sulit untuk mengambil napas hingga membuat kerongkongan Hana terasa kering sekarang. Suara berat dan husky yang selalu dikaguminya itu baru saja mengatakan ‘rindu’ yang bahkan masih bisa dihitung jari berapa kali dikatakan untuk dirinya sendiri. Namun Kai dengan mudahnya mengatakan pada wanita bernama Hyun Ji itu.

Hana menundukkan kepala dan tidak mau melihat atau mendengar hal yang lebih menyakitkan dari itu lagi. Kedua matanya mulai tergenang air mata ketika mendengar pintu belakang itu terbuka dan sosok Taemin muncul di hadapannya.

“Hana-ya, kau kenapa?” tanya Taemin pelan seraya memegang kedua bahu adiknya.

Hana mengangkat kepala lalu tersenyum simpul pada Taemin. “Mataku kemasukan debu, oppa. Ayo cepat masuk.”

Tepat ketika pintu belakang tertutup, Hana meneteskan air yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya. Dada Hana terasa semakin sesak dan semakin sulit mengambil oksigen di ruang yang sedikit gelap itu. Sementara Taemin sudah berjalan lebih dulu di depan, meninggalkan Hana yang masih bersandar di pintu dan mengingat semua ucapan Kai tadi.

Siapa wanita itu? Kenapa Hana tidak pernah mendengar cerita apapun dari kekasihnya sendiri? Atau mungkin selama ini Kai menjalin hubungan dengan wanita lain selain dirinya?

Oppa,” Hana bergumam pelan dan berhasil menghentikan langkah Taemin yang sudah menaiki beberapa anak tangga. Taemin menoleh ke belakang dan terkesiap ketika menemukan air mata yang mengalir di pipi gadis itu.

Ya~, kenapa menangis?” Taemin kembali menuruni anak tangga dan menepuk puncak kepala Hana dengan lembut. Membuat tangisan gadis itu semakin menjadi dan Taemin dengan terpaksa menarik Hana ke dalam pelukannya.

Hana bukan seseorang yang cengeng dan mudah menangis seperti wanita lainnya. Namun ia tidak pernah bisa menyembunyikan apapun dari Taemin termasuk perasaannya –yang sedang terguncang itu. Ia sudah sering menangis dalam pelukan Taemin ketika merindukan kedua orangtuanya dulu. Dan bersama Kai, rasanya masih bisa dihitung berapa kali ia menangis di hadapan laki-laki itu.

Wae? Ingat orangtuamu lagi?” tanya Taemin, melepaskan pelukannya dan sedikit membungkuk untuk bisa menatap kedua mata Hana –yang masih mengeluarkan air mata.

Oppa,” Hana lagi-lagi bergumam pelan dan memberanikan diri untuk menatap Taemin. “Kau kenal Hyun Ji?”

Taemin menelan ludah gugup saat nama itu kembali memasuki indera pendengarannya. Otaknya memutar kembali pada sosok wanita cantik yang dulu selalu mengisi keseharian Kai dan terkadang bersamanya juga. Namun Taemin tidak terlalu dekat dengan Hyun Ji karena ia selalu bersama Hana waktu itu. Ia hanya sering mendengar cerita dari Kai mengenai wanita yang berhasil membuat hari-hari traineenya lebih bersemangat.

Dan kenapa Hana tiba-tiba bertanya itu padanya?

“Hyun Ji?”

“Aku tahu kau mengenalnya, oppa. Kau dan Jongin bersahabat sejak lama dan ia pasti selalu menceritakan hidupnya,” Hana sudah bisa sedikit meredakan tangisnya dan mendapati Taemin yang sedikit salah tingkah karena pertanyaannya. Sepertinya Taemin memang tidak pandai menyembunyikan sesuatu yang menyangkut Kai darinya. Cepat atau lambat Hana harus mengetahui hal –yang berusaha ditutupi Kai itu.

Dwaesseo. Mereka sudah putus sejak tiga tahun yang lalu,” Taemin menjawab dengan singkat seraya tersenyum simpul dan menepuk kedua pundak Hana. Mencoba mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

“Tapi Jongin masih menyayanginya ‘kan?” pertanyaan Hana seperti sebuah boomerang yang akan berbalik menyakiti dirinya sendiri. “Jongin merindukan gadis itu.”

Taemin merutuk dalam hati dan ia berjanji akan memberi pelajaran pada Kai karena sudah menyakiti Hana. Dengan seenaknya saja mengatakan rindu pada Hyun Ji sementara Hana menangis di hadapannya. Sampai kapan Kai tidak peduli dengan perasaan orang lain seperti itu.

Maldo andwae. Jongin pasti hanya bercanda.”

“Tapi dia mengatakannya langsung di depan Hyun Ji. Apa itu bercanda?”

***

SM Building

10.17 PM KST

Langkah Kai yang akan memasuki ruang latihan itu terhenti ketika melihat punggung seorang wanita yang baru saja berbelok di lorong. Terlihat seperti punggung Hana. Namun rasanya tidak mungkin jika Hana ada di sana karena mereka pasti bertemu di dalam gedung yang tidak terlalu luas itu. Atau mungkin Kai hanya berhalusinasi karena selalu memikirkan Hana –sejak mengobrol dengan Hyun Ji tadi.

Kai memasuki ruang latihan dan memperhatikan satu per satu member yang sedang latihan. Kyungsoo yang melihat kedatangan Kai segera menghentikan gerakannya dan menghampiri sang visual itu. Baru saja Suho memberitahunya akan kedatangan Hyun Ji dan sepertinya Kyungsoo harus bertanya lebih jauh pada sahabat terdekatnya itu.

Lagu MAMA sudah berakhir dan semua member segera merebahkan tubuhnya di atas lantai kayu. Sementara Kai masih berdiri di belakang pintu bersama Kyungsoo. Tanpa perlu bertanya pun, Kai tahu bahwa laki-laki itu tengah menyelidikinya melalui tatapan.

“Kenapa dia datang lagi?” tanya Kyungsoo tiba-tiba.

“Hanya merindukanku. Aneh,” jawab Kai seraya mengendikkan bahu tak acuh.

“Apa harus selama itu bersama Hyun Ji? Kau tidak takut ada orang yang lihat?” Kyungsoo kembali bertanya dengan nada mengintimidasi. Membuat Kai menghela napas panjang dan mengingat semua perbincangan yang dilakukannya bersama Hyun Ji.

Secara tidak sadar sebenarnya Kai juga merindukan gadis itu. Namun perasaannya sudah berbeda, ia hanya ingin bertemu saja dan benar-benar tidak ada keinginan untuk kembali bersama Hyun Ji. Ia sangat tidak mau kehilangan Hana walaupun Hyun Ji kembali lagi seperti itu.

“Hana tidak datang ke sini, hyung. Gwenchana.”

Ya. Kim Jongin, kau kemana saja? Uri dongsaeng ada di sini sejak tadi,” seru Baekhyun tiba-tiba membuat Kai menoleh dengan cepat untuk menatap laki-laki itu.

“Ah, tapi dia sudah pulang. Katanya dia mau menginap di dorm SHINee malam ini,” lanjut Tao dengan polosnya.

Kai tidak mengatakan apapun kemudian kembali berbalik untuk keluar dari ruang latihan. Ia berbelok di koridor –dimana punggung wanita tadi terlihat dan menyusuri setiap ruang latihan yang dilewatinya. Hingga langkahnya terhenti saat lagu Everybody terdengar dari celah pintu salah satu ruang latihan. Ia membuka sedikit pintunya, melirik ke dalam dan hanya menemukan Taemin di dalam sana. Dengan ragu Kai melangkah masuk, menghampiri sahabatnya –yang masih saja menggerakkan tubuh di depan kaca dan hanya menyunggingkan sedikit senyum pada dirinya. Kai duduk di belakang Taemin dan memperhatikan bagaimana laki-laki itu bergerak. Hingga lagu Everybody selesai dan Taemin menghempaskan diri di sebelahnya.

“Tadi Hana—.”

Pabo aniya? Kenapa kau bertemu dengan Hyun Ji lagi?” tanya Taemin tiba-tiba masih dengan napas terengah.

“Dia yang tiba-tiba datang, Taemin-ah,” jawab Kai cepat, namun Taemin malah memalingkan wajah ke arah lain dan meneguk habis air dari dalam botol di dekatnya.

“Kenapa harus di sini? Kau tahu apa akibatnya kalau Young Min hyung melihat kalian bersama seperti itu ‘kan? Apalagi kalau Hana yang melihatnya,” Taemin mendesis pelan, mencoba menahan rasa kesal pada sahabatnya itu. Ia sangat jarang terjebak dalam suasana serius bersama Kai selama ini dan memang tidak pernah ada masalah yang harus mereka ributkan. Namun rasanya sesekali Taemin harus memberitahu Kai bahwa sifat tak acuh dan gengsian laki-laki itu bisa menyakitkan bagi orang lain, termasuk Hana.

Ya. Hana tahu semuanya?” tanya Kai panik  dengan kedua mata membulat tidak percaya.

Taemin mengendikkan bahu tak acuh. “Kau yang bilang sendiri merindukan Hyun Ji, hah? Aku terpaksa menceritakannya pada Hana.”

“Tapi aku tidak akan kembali bersama Hyun Ji lagi. Dimana Hana sekarang?” Kai kembali bertanya dengan nada sedikit khawatir. Namun Taemin hanya menoleh, menatapnya beberapa saat sebelum beranjak dari posisinya. Lagi-lagi ia harus bersikap agak serius walaupun sangat ingin bergurau dengan sahabatnya itu.

“Di dorm. Hana sudah pulang bersama Jonghyun hyung tadi,” Taemin mengacak rambutnya sendiri lalu menghela napas panjang. “Aku tahu kau sangat menyayangi Hyun Ji dan harus berpisah dengan terpaksa dulu. Tapi sekarang Hana yang  ada di sampingmu, Jongin-ah.”

Ya. Lee Taemin, aku juga tidak tahu Hyun Ji akan datang dan Hana melihatnya,” elak Kai seraya berdiri dan menatap sahabatnya. Ia tidak ingat kapan terakhir kali beradu mulut masalah serius dengan Taemin seperti itu.

Dwaesseo. Hana di tempatku dulu, aku pulang ya,” Taemin menepuk lengan atas Kai seraya tersenyum simpul kemudian beranjak keluar ruang latihan. Meninggalkan Kai –yang masih tenggelam dalam pikirannya sendirian di dalam sana.

Harusnya Kai tidak bertindak ceroboh dengan membiarkan Hyun Ji menemuinya. Atau ia yang dengan mudahnya mengatakan ‘merindukan’ Hyun Ji, padahal ia sangat jarang mengatakan hal itu pada Hana. Ia tahu Hana bukan seorang wanita yang peka akan hal seperti itu, namun suatu saat ketika ia mengetahui Hana merindukan laki-laki lain di luar sana, pasti ia akan marah juga. Satu hari menjelang ulang tahun yang diisi dengan kekhawatiran mengenai Hana. Sepertinya Kai akan menghabiskan waktu di ruang latihan dan memilih tidak pulang ke dorm sampai pagi.

***

January 14th, 2014

Hana’s apartment

05.00 AM KST

Hana membuka kedua matanya –yang tidak bisa terpejam semalaman. Ia melirik jam di atas nakas dan menyadari bahwa masih terlalu pagi untuk bersiap ke sekolah. Tidak ada rasa kantuk sama sekali. Mungkin Hana terlalu banyak berpikir mengenai ucapan Kai semalam. Banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya, namun hanya ada dua yang terus mengganggu pikirannya.

Jika Kai masih menyayangi Hyun Ji, kenapa harus ia yang dijadikan pelarian? Atau mungkin Hana yang terlalu bodoh karena menerima saja perintah dari pria yang disukainya untuk berpacaran?

Rasanya Hana sudah tidak ingin menangis dan malah ingin memberi pelajaran pada Kai. Laki-laki itu harus menjelaskan padanya dan tidak membiarkan rasa penasaran Hana terus berkecamuk. Sudah bukan saatnya lagi menghindar dan bersikap kekanakkan, Hana sadar itu, mereka sudah dewasa dan harus menyelesaikan masalah secepatnya –sebelum ada kesalahpahaman lebih jauh lagi.

Hana beranjak dari tempat tidur lalu berjalan keluar kamar sambil menguncir rambutnya. Ia memasuki dapur, membuka kulkas dan tersenyum simpul ketika menemukan kue untuk Kai masih tersimpan rapi dalam kotak. Semalam Jonghyun mengantarnya mencari kue untuk Kai sebelum pulang ke apartemen. Dan sebenarnya ia sudah bekerja sama dengan member EXO dan Taemin dengan mengatakan bahwa ia menginap di dorm SHINee. Ia tahu pasti Kai tidak menyukainya dan memilih latihan di gedung SM sampai pagi. Apalagi setelah mendengar dari Taemin bahwa Hana mengetahui pertemuan Kai dan Hyun Ji.

Tiba-tiba saja Hana merasa sesak ketika mengingat kejadian semalam lagi. Hana berharap Kai menyadari masalah itu dan segera menyelesaikannya.

Suara bel membuat Hana tersadar dan segera menutup pintu kulkas. Ia mengecek tamunya melalui layar dekat pintu lalu tersenyum lebar saat melihat Suho dan Baekhyun di sana. Dengan cepat Hana membuka pintu dan memperhatikan keduanya satu per satu. Tidak biasanya mereka datang sepagi itu ke apartemen Hana.

“Jongin belum mau pulang dari gedung SM,” ujar Suho tiba-tiba.

“Ayo masuk,” Hana mempersilakan keduanya masuk sebelum ada orang lain yang melihat.

Ya. Kalian bertengkar lagi?” tanya Baekhyun tepat setelah Hana menutup pintu dan berbalik ke arah ruang tengah. Suho terlihat menepuk pundak Baekhyun, memberi tanda untuk tidak terburu-buru.

Hana menghela napas panjang kemudian menghampiri keduanya di ruang tengah. “Anhi, kita tidak bertengkar. Jongin yang membuat masalahnya sendiri.”

“Tentang Hyun Ji, Hana-ya,” Suho berdehem pelan lalu menatap Baekhyun sejenak sebelum kembali menatap Hana dengan serius. “Dia meneleponku agar bisa bertemu Jongin sebelum pergi kuliah ke Jepang. Mereka memang pernah pacaran, tapi Jongin bilang padaku kalau dia hanya ingin bertemu Hyun Ji, tidak lebih.”

Penjelasan Suho sedikit meredakan rasa penasaran Hana. Hanya sedikit. Setidaknya ia butuh lebih banyak penjelasan lagi dari Kai sendiri mengenai mantan kekasihnya itu. Apalagi Taemin yang memberitahunya bahwa mereka harus berkorban banyak sebelum berpisah dulu. Dan Kai yang sempat tidak mau mengikuti trainee setelah berpisah dengan Hyun Ji. Dari cerita Taemin pun Hana sudah bisa menyimpulkan bahwa Kai sangat menyayangi Hyun Ji.

“Matamu kenapa? Ya. Kau menangis semalaman, hah?” protes Baekhyun seraya menunjuk kedua mata Hana dan memperhatikan ekspresi sedih gadis itu. “Aigoo, ternyata kau bisa cemburu juga.”

“Aku tidak cemburu,” Hana menyela dengan cepat. “Aku kesal karena Jongin tidak pernah mau cerita.”

“Singkatnya, kau cemburu, Lee Hana,” sahut Baekhyun lagi lalu mengacak rambut Hana dengan gemas. Kai dan Hana masih saja mementingkan gengsi dan tidak mau mengakui perasaan masing-masing.

“Terserah. Yang jelas Jongin tidak akan selamat hari ini.”

Suho tersenyum geli melihat ekspresi Hana –yang tengah menahan rasa amarah itu. Tidak bisa dipungkiri bahwa Hana sangat berbeda jauh dengan Hyun Ji. Dan Suho mengakui bahwa Kai lebih menjadi dirinya sendiri ketika bersama Hana. Tidak pernah berpura-pura baik untuk menjaga perasaan orang –seperti saat bersama Hyun Ji dulu. Walaupun menyayangi Hyun Ji, Kai selalu menyembunyikan perasaannya dan lebih banyak diam karena gadis itu yang mendominasi.  Ketika Hyun Ji dengan terang-terangan mengatakan rasa sayangnya pada Kai, laki-laki itu hanya tersenyum dan mengangguk saja. Sederhana, namun semua orang tahu betapa sayangnya Kai pada gadis asli Korea itu.

Termasuk dengan Hana. Ketika mereka bertengkar dan saling meledek satu sama lain, orang akan tahu semua itu karena kepedulian satu sama lain. Suho selalu memperhatikan dan mendengar cerita Kai sejak trainee. Dan sepertinya Kai jauh lebih menyayangi Hana daripada ketika bersama Hyun Ji dulu.

***

EXO’s Dormitory

06.30 AM KST

Kai menutupi kepalanya dengan topi dan bergegas turun dari van memasuki gedung apartemennya. Teriakan beberapa fans sedikit menusuk telinga dan Kai sedang tidak mood untuk tersenyum. Lagipula ia lebih baik diam saja daripada memaksakan senyum kepada fans. Seharusnya Kai bahagia di hari ulang tahunnya bukan? Ketika Kai tidak menemukan satu pun ucapan ulang tahun dari kekasihnya sendiri, bagaimana ia bisa bahagia? Walaupun semalam seluruh member EXO sudah memberikan kejutan di gedung SM, ia tetap tidak bisa merasa lengkap tanpa kehadiran Hana.

Suara lift berdenting dan pintunya terbuka di lantai 6. Kai baru saja akan menekan angka 8 –dimana letak apartemen Hana berada ketika matanya menangkap sosok Hana yang baru saja memasuki dorm. Kai kembali membuka pintu lift lalu dengan setengah berlari menuju pintu dorm dan dengan cepat juga mengetikkan password.

Ya. Lee Hana,” seru Kai tepat ketika memasuki dorm dan membuat seluruh tatapan beberapa member EXO di ruang tengah tertuju padanya.

Aigoo, birthday boy,” sahut Kris dari ruang tengah.

“Kenapa tiba-tiba mencari Hana?” tanya Baekhyun sontak membuat Chanyeol bersiul menggoda sang visual.

“Dimana Hana?” tanya Kai seraya berjalan ke ruang tengah dan memperhatikan Baekhyun, Chanyeol, Kris, Kyungsoo, Xiu Min, dan Luhan di ruang tengah. Sehun yang baru saja kembali dari dapur dengan membawa segelas air menatap Kai heran dari samping.

“Ini dorm, Jongin-ah. Bukan apartemen Hana,” jawab Sehun lalu ikut duduk di karpet ruang tengah.

Dwaesseo, mungkin kau kurang istirahat. Semalam tidak tidur ‘kan? Lebih baik kau istirahat dulu sebelum fansign nanti siang,” ujar Kyungsoo dan Kai hanya menghela napas panjang. Mungkin ia berhalusinasi melihat Hana memasuki dorm karena tidak tidur semalaman.

Kai menaruh topinya di atas meja ruang tengah kemudian berjalan menuju pintu kamarnya. Setelah tertidur sebentar ia tidak akan mungkin bisa bertemu Hana, karena gadis itu pasti sudah berangkat sekolah. Jadi mungkin ia akan mengirim pesan saja pada gadisnya untuk meminta maaf sebelum bertemu. Semoga saja ia bisa tertidur dan sosok Hana sedikit menghilang dari pikirannya.

Ketika masuk, Kai menemukan kamarnya dalam keadaan gelap gulita dan jendela yang masih tertutup tirai. Kai bergegas membuka tirai jendela lalu menatap langit yang masih gelap dan hanya sedikit cahaya yang berpendar dari arah timur. Ia baru saja akan menyalakan lampu di dekat lemari saat seseorang muncul dari belakang pintu –yang masih setengah terbuka dengan membawa sebuah kue. Kedua mata Kai membulat tidak percaya, mendengar suara yang amat dikenalnya menyanyikan lagu ulang tahun untuknya. Hana membawa kue dengan lilin di atasnya dan berjalan mendekati Kai –masih sambil bernyanyi.

Ya. Kenapa kau—.”

“Eish, tiup lilinnya dulu, kkaman,” potong Hana cepat setelah selesai bernyanyi. “Jangan lupa doanya.”

Kai mendecak pelan sebelum menutup mata untuk berdoa. Ia kemudian kembali membuka mata dan meniup semua lilin kecil itu dengan satu hembusan. Dalam kegelapan, ia memajukan sedikit wajahnya dan memberikan kecupan di pipi Hana.

N-neo mwoya?!” protes Hana seraya mengusap pipinya. Beruntung masih gelap sehingga Kai tidak bisa melihat wajahnya yang sudah semerah tomat sekarang.

“Kukira kau sedang marah. Kenapa tiba-tiba ada di sini?” tanya Kai seraya mengacak rambut Hana dengan gemas.

Hana mendesis pelan lalu menepis tangan Kai agar jatuh dari atas kepalanya. “Aku memang marah kok. Oppadeul yang memaksaku. Ya sudah aku pulang lagi, saengil chukhahae.

Detik berikutnya Hana meletakkan kue itu secara asal ke atas tempat tidur lalu berbalik untuk keluar dari kamar. Ia baru saja meraih gagang pintu untuk menarik pintu –yang masih setengah terbuka itu ketika tangan Kai menjulur dari kedua sisi kepalanya untuk menutup pintu lalu beralih memeluknya dari belakang. Sontak membuat aliran darah Hana mengalir ke atas dan membuat wajahnya memenas seketika.

Mwoya, lepaskan aku, kkaman,” protes Hana sambil berusaha memberontak agar Kai melepaskannya.

“Kau cemburu ‘kan?” tanya Kai dan malah mempererat pelukannya.

“Cemburu apa? Aku mau siap-siap ke sekolah,” Hana masih berusaha melepas tangan Kai dari lehernya dan berusaha kabur dari sana. Ia bisa gila jika terkurung di kamar bersama Kai dengan posisi dipeluk seperti itu.

“Siap-siap apa? Kau sudah pakai seragam,” ucapan Kai membuat Hana merutuk dalam hati membodohi dirinya sendiri.

“Bu-bukunya, aku belum bawa—.”

“Hyun Ji hanya masa lalu. Kau tidak perlu tahu ceritanya kenapa kita berpisah dulu, yang jelas dia tidak akan pernah datang lagi.”

“Kau merindukannya, kkaman,” sahut Hana cepat lalu mendengus pelan. Tidak sadar bahwa ia malah menunjukkan rasa cemburunya dan membuat Kai tersenyum geli.

Keurae, aku merindukannya. Hyun Ji memang baik, tidak bodoh, tidak ceroboh, bisa memasak, pintar dalam pelajaran apapun, tidak gengsian, cantik, dia juga—.”

“Bla bla bla. Aku tidak peduli siapa Hyun Ji-mu itu, Kim Jongin. Aku harus pergi sekolah sekarang,” Hana merasakan telinganya mulai memanas karena mendengar setiap pujian Kai untuk Hyun Ji. Ia kembali mendesis pelan dan mencubit lengan Kai agar pelukan itu bisa terlepas.

YA!” Kai memekik lalu dengan refleks melepaskan tangannya.

Hana tersenyum miring, ia menjulurkan lidah pada Kai lalu bergegas membuka pintu kamar. Namun lagi-lagi Kai lebih cepat untuk menutup pintu kembali dan memutar tubuh Hana untuk menghadap kekasihnya itu. Hana menelan ludah gugup ketika wajah Kai tidak berada dalam jarak yang aman dan hanya berjarak tidak lebih dari 20 senti. Tangan kiri laki-laki itu berada di samping kanan wajah Hana dan disandarkan pada pintu. Cahaya matahari yang baru saja terbit dan berpendar di belakang tubuh Kai itu, entah kenapa semakin membuat Hana gugup.

M-mwo? Kau mau apa?” tanya Hana lalu menelan ludah gugup. Kai menatapnya lekat dengan ekspresi dingin –dan Hana masih ingat tatapan itu yang didapatkannya sebelum dicium satu bulan yang lalu. Jangan katakan bahwa Kai akan menciumnya lagi pagi itu. Atau Hana benar-benar tidak akan bisa menghentikannya.

“Aku belum selesai, Lee Hana,” Kai berujar dengan nada rendah suaranya dan membuat Hana bergidik. Sejak kapan Kai menjadi mesum dan suka menggodanya seperti itu. “Im Hyun Ji masa lalu dan Lee Hana masa depan. Kau tahu perbedaannya?”

Anhi. Kau juga pernah menyayanginya ‘kan? Siapa tahu perasaanmu kembali ke masa lalu,” Hana mengendikkan bahu tak acuh seraya melipat tangan di depan dada.

“Memang kau pernah jalan mundur, hah?” Kai bertanya dengan gemas lalu menyentil kening gadis itu. “Kau ada di depanku sekarang, jadi aku melihat ke depan, bukan ke belakang.”

“Jangan menyentil keningku seenaknya, dasar bodoh,” protes Hana dengan mengabaikan ucapan Kai –yang berhasil membuat jantungnya semakin berdetak cepat itu.

Kai merutuk dalam hati lalu menghela napas panjang. Mungkin memang takdirnya menjalin hubungan dengan wanita tidak peka –ketika ia selalu berusaha romantis. Namun ia bisa melihat semburat merah di pipi gadisnya yang tengah menunduk sambil mengusap keningnya itu. Kai tersenyum geli kemudian sedikit membungkuk untuk melihat ekspresi gadisnya.

Ya. Wajahmu merah. Phuahaha,” Kai memegangi perutnya yang terasa geli ketika wajah Hana semakin memerah. Sementara Hana sudah menahan rasa malunya dan mendorong Kai menjauh dari hadapannya.

“Ah, molla. Aku pergi sekolah sekarang,” Hana mendengus pelan lalu membuka pintu dengan cepat. Namun Kai lagi-lagi mendorongnya dan menyebabkan bunyi berdebam yang cukup keras. “Kenapa lagi? Masih belum puas menggodaku, hah?”

Kai meredakan tawanya –dengan tangan yang masih memegangi pintu. “Mana kadonya? Kau hanya membawa kue?”

“Kau pasti sudah dapat banyak kado dari fansmu, kkaman. Kenapa masih minta padaku?” Hana menggeleng tidak mengerti seraya melipat tangan di depan dada.

Cish~. Berikan kadonya atau kau tidak bisa pergi sekolah hari ini,” Kai kembali menggoda Hana sambil memajukan wajahnya hingga menyisakan beberapa senti saja. Refleks membuat Hana mundur dengan cepat dan kepalanya terbentur pintu. “Pabo-ya, jinjja.

Hana masih meringis –meratapi nasib bagian belakang kepalanya ketika tangannya merogoh saku almamater untuk mengambil hadiah. Sebenarnya ia tidak tahu harus memberikan hadiah apa –yang tidak akan pernah diterima Kai dari fans. Mungkin hadiah darinya bisa membuat Kai sedikit senang, walaupun tidak ada harganya sama sekali.

Igeo. Suka atau tidak, ini hadiah dariku.”

Kedua alis Kai hampir menyatu saat melihat dua lembar foto Polaroid berada di atas telapak tangan Hana. Dan yang membuatnya semakin heran, foto itu adalah selca gadisnya sendiri. Ia tidak tahu sejak kapan seorang Lee Hana mau memberikan foto selcanya dengan mudah seperti itu. Sebelumnya saja Kai harus meminta diam-diam ketika Hana sedang tidur atau lengah.

Hana memperhatikan Kai yang malah diam menatap foto-fotonya. Baiklah, Hana mengakui bahwa ia harus menekan rasa malunya dalam-dalam karena memberikan fotonya pada Kai. Sebentar lagi laki-laki itu pasti akan tertawa dan meledeknya.

Sajin? Kau memberikanku foto?” tanya Kai, bernada sedikit tidak suka. Hana menangkap dari sorot mata laki-laki itu.

“Kalau kau tidak mau, aku bisa simpan lagi,” Hana mengerucutkan bibirnya dan baru saja akan memasukkan fotonya kembali ke dalam saku ketika Kai merebut dengan cepat dua lembar foto itu dari tangannya.

Mwoya, kau bilang ini kado, kenapa diambil lagi?” Kai memasukkan foto Hana ke dalam saku celananya kemudian kembali menangkap Hana yang terlihat salah tingkah di depannya. “Waeyo?”

“Hadiah lainnya menyusul,” jawab Hana dengan kedua mata yang melihat ke arah lain, tanpa mau menatap kekasihnya. Sebenarnya ia menyiapkan hadiah lain untuk diberikan saat hari kedewasaan nanti. Mungkin sedikit lebih istimewa dari hanya sekedar dua lembar foto.

Kiseu?”

YA!”

[KaiNa Piece] Birthday Boy

Hello hello yang ngepost ini Zi hahahah^^ Ima eon lagi sibuk jadi mumpung aku udah ujian praktek jadinya aku yang ngepost 😀

Oh ya doain juga buat Ime eon soalnya dia besok audisi SM Town! Hwaiting unni! We Love you kyakyaa /kecup basah/

Salam, Zi

128 thoughts on “[KaiNa Piece] Birthday Boy

  1. iekafatma says:

    yah, sebenernya konflik ceritanya bagus tapi menurutku ceritanya masih ngegantung dan gak nyambung sama judulnya hehe. terus buat masalah kaina kayaknya belum bener2 ending deh. gatau kenapa tiba2 muncul mantannya kai, hana jealous terus perasaan kai sebenarnya gimana (?) yah walaupun kai udah bilang kalau dia lebih milih hana daripada mantannya itu.

  2. Febe_QueeN96 says:

    Aigoo~ ff ini emang ff favoritku kkk~ kirain si hana bener2 jealous nya sampe woww gitu, ehhh di sempetin buat surprise juga hahaa

  3. kkamjongiechoco says:

    Sebenernya udah baca semua cerita nya KaiNa dari yang Hello, Goodbye. cuman ga bisa commeng soalnya belom bikin akun wordpress waktu itu-_- mianhe ya eonnie T^T tolong jangan kutuk tunangan Jongin inihhhh. btw, kan sekarang udah punya akun wordpress…..jadi, aku bakalan komen disetiap cerita yang aku baca! /yeay/. Oke sekarang komen tentang KaiNa: GREGET BANGET ASELI EEERRR~ Lopelope diudara sama pasangan ini♥♥♥ feel nya dapet banget. ketawa, sedih itu campur aduk pas baca ini. Aku inget banget lg baca yabg loseness disekolah terus temen ada yg nanya ‘lo kenapa nangis?’ dan aku baru nyadar kalao mata udah ngembeng;’| Huwaaaa big applause deh ya buat author kedjeh INDAYLee /prokprokprok/ *kecup basah*

  4. hasna nabilah says:

    aduuuuh ini dtg lagi satu pengangguT.T untungnya gak sampe bikin mereka kenapa2 huaaaa bete banget liat kai blg kangen sm hyunji-_- kaiiii kamu cuma punya hana-_- kkkk tuhkan kai makin gak malu2 cium2 hana aduuuuuh~

  5. dyndrakm says:

    Omonaaaaa!!! Emang ya kai bisa aja bikin melting hffff. Kaina itu cute bgtttt aslii walaupun gak yang selalu romantis, cuman aku pikir couple yg kyk gini yg lebih cute kyaaa~♡♡ suka banget deh pas kai nya back hug hana omgggg… jadi imagine kalo jongin gituin aku hahahahahaha.. sumpah pas yang kata hyunji itu… nyesek bgt kerasa deh kl di posisi hana gimana.. hwaaaaㅠㅠ dan ngebayangin suaranya jongin pas blg kangen jg sama cewek ituㅠㅠ nangis langsung deh kyaaaaaa>. < sori ya hyunji kkaman cmn punya hana seorang!!!! Gatau kenapa kalo baca ff disini ga ada rasa envy sama sekaliii malah suka bgt sama cast2 nya!!! Kak ima, Keep writing KaiNa Yaaaaa!!!!♡♡♡♡

  6. heeryaa says:

    eoooh? disini ada mantannya kai…. tapi gak bakal jadi konflik ya kayaknya? dia uda mau ke jepang kan haha

    umm ini hana nya di akhir langsung maafin jongin T_T aku kira bakal lanjut lama marahannya XD

  7. sy_sagita says:

    Gemesin hana polos bngt gg bisa bohong ma oppadeul..mmmm jongin psti selalu kalah klo main ma chanyeol n berakhir dng bereskan dorm. Omoo hana liat jongin hyunji parahnya denger jongin kangen hyunji,,iihhggg jongin..bersyukur hana punya shabat merangkap kk seperti taemin yg syang bngt ma hana. Sempet mngira reaksi taemin akan marah besar n meledak2 sma kai krna bikin hana nangis trnyata mreka berdua mmng kya soulmate yeee taemin jongin gg penuh emosi..suka bingit a pershabatan kdua idol nii,n finally hana makin dewasa mnghadapi msalah gg meledak2 n mminta pnjelasan kai,wlaupun ttep hana yg polos selalu menagis sndiri,tinggal jonginnya nii hrus dewasa n gg cmburu buta, surprise..hana mmberikan kado selca polaroid untuk kai..gemesin liat reka berdua,,meledak2 membara polos n sweet,,kaina jjang!! Ouugghhh apa nnti hana kasih kisseu???pnasaran

  8. Nafff says:

    Kirain mereka bakal bertengkar lagi eh ternyata enggak. Lega deh
    Uwaaah kenapa itu si kai minta kisseu kisseu? -_-

  9. byunbaek says:

    Makin kesini kai makin pervert, seneng banget kai ngegodain hana wkwkwk… aku kira hana bakal dingin gitu ke kai cemburu ga jelas gitulah, ternyata engga.. hana bakal kuliah di korea kan ya?

  10. Song hyun in says:

    Hari kedewasaan itu apa ??
    Apa sama dgn hari Valentine ???

    Waahhh benarkah k ima ikut audisi SM ?? Daebak~
    lalu hasil-nya bagimana ??
    Gw rasa, gw telat bgt masa –“

  11. Miqo_teleporters says:

    eyyyy sempet kezeeel tadi gegara hyun ji hahahah untung aja hana gak terlalu marah kaya biasanya lol ciyeee makin ke sini jongeen makin byuntae hahaha

  12. iqohh says:

    Mantan mah emang suka wae !! Greget ama hana .. Liat pacar sama mantan kgk marah gila*an cem cewek umumnya Lol .. Andai gua punya sifat kek dia ..Haha .
    Hadiah dari hana buat hari kedewasaan (?) apaan? Kisseu? Penasaran ehh.. Sensitif lah denger kata kisseu .. Ngebayangin si kai kisseu cewek .. Eya🙋

  13. handayaniwidya0 says:

    Suka banget sama cara mereka nyelesein masalah.. ga pake nangis meraung2 dan ngambek berhari2 ato berminggu2.
    Kok aku ngebayangin yg adegan terakhir ya. Itu kan kai berkali2 nutup pintu dan bahkan yg terakhir ampe berdebam rada keras.. Kira2 reaksi mereka yg di ruang tengah gimana ya? hahaha

  14. Khyunpawookie says:

    Asikkkk asikkkk asikkkkk lai udh gk canggung dkt2 hana yh wlpun hana y malah jd overdose gegara d godain sma kai hahahahah mrka tuh luci deh kekerabatan mrka, ksih syang aneh kaina blm lg sikap2 para member exo hmzzzzz aq bner jatuh cinta sma tulisanya keceh bnget dehhhhh

  15. rinskai says:

    y ampun bikin deg degan aja aku kirain hana bakal marahan sm kai , untung kai jelasin semuanya
    hmmm kira2 kado yg menyusul tuh apa y ?
    mereka berdua kenapa makin so sweet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s