[YiLian Petals] Love Stories

Love Stories

Love Stories

A fiction by Yoo

Yoon NaraNishino KiaraWu LianKim SeowooKaji Yuki

Oneshot | Canon | General

© Indaylee 2014

.

“Love can make someone smiling or  having too much tears.”

.

Yoon’s House, Cheongdam-dong, Seoul

December, 25th 2013

Tangan putihnya menyibak korden jendela, membuka daun jendela lebar-lebar dan membiarkan cahaya mentari menelusup masuk. Meski sinarnya sedikit menyilaukan mata, segaris lengkungan tipis muncul di wajah gadis itu. Ia menikmati cahaya yang mengenai parasnya, menikmati hangatnya mentari dan terpaan lembut angin musim dingin. Sejenak menghirup udara pagi itu, menghembuskannya sembari memejamkan kedua mata.

Seakan teringat sesuatu, tiba-tiba gadis itu terkesiap. Buru-buru Nara berbalik dan mengerjap berkali-kali ketika matanya mendapati banyak bingkisan sudah berjejer rapi di meja yang ada di tengah ruang kamar. Ia langsung menggeser irisnya ke kalender mini yang tergeletak manis di meja belajarnya, memastikan sesuatu sebelum akhirnya bergerak mendekati bingkisan-bingkisan itu.

Ternyata benar, hari ini adalah hari ulang tahunnya. Tepat di hari natal tiba. Astaga, bagaimana ia bisa melupakan hari ulangtahunnya sendiri?

“Banyak sekali.”gumamnya, kedua tangannya kini sibuk dengan bingkisan-bingkisan yang memenuhi kamarnya. Tapi, sungguh, tahun ini lebih banyak hadiah yang ia terima jika dibanding dengan tahun lalu.

Hadiah ulangtahun pertama yang terjangkau oleh matanya adalah bingkisan paling besar berwarna biru laut dengan pita merah jambu. Nara tertawa kecil saat membaca inisial pengirim bingkisan terbesar itu. Sahabat kecilnya, Lee Hyunwoo, yang memberinya kado tersebut. “Apa yang dia letakkan di kotak sebesar ini?” Nara mendengus geli membayangkan barang apa yang ada di dalam bingkisan itu. Bukan, mungkin saja bukan barang normal yang pemuda itu letakkan, tapi sesuatu yang bisa membuat siapa saja melonjak kaget. Nara ingat betul kejadian yang sama pernah terjadi di tahun sebelumnya, tepat di hari ulangtahunnya. Hyunwoo memberinya kado dengan bingkisan paling mencolok dan ketika ia membukanya sebuah boneka badut meloncat keluar dari balik kotak. Sukses membuat Nara menjerit kaget.

Kali ini, ia tidak akan tertipu lagi dengan permainan konyol Lee Hyunwoo. Dengan pasti menggeser bingkisan besar itu dan mulai sibuk dengan bingkisan lainnya. Nara bisa melihat beberapa nama yang tercantum di setiap kartu ucapan di tiap kado ulangtahunnya. Satu per satu dibukanya, mulai dari hadiah pemberian kedua orangtuanya, Jiah, Jongsuk hingga Hyoseon. Bahkan bingkisan dari keenam oppadeulnya, termasuk Dujun. Keenam pemuda itu cukup membuat Nara terharu, di sela padatnya jadwal, mereka masih menyempatkan diri untuk mengirim hadiah-hadiah ini padanya. Setelah ini ia akan mengunjungi dorm Beast saat oppadeulnya sedang tidak sibuk. Kalau dipikir, sudah agak lama juga ia tidak berkunjung ke sana.

Setelah selesai membuka beberapa bingkisan dari keluarganya dan member Beast, Nara dibuat terpaku dengan salah satu bingkisan kotak kecil yang tergeletak paling ujung. Dengan segera tangannya meraih kotak kecil itu dan sontak membulatkan mata ketika membaca nama pengirimnya.

“Daemi-ya..” Seperti terhanyut ke dalam memori masa lalu saat Nara membaca surat kecil yang ada di samping kotak kecil itu. “Ck, bocah itu —tidak tahu kalau aku sangat rindu padanya, huh?”

Nara sontak terdiam ketika menddengar suara ketukan pintu. Gadis itu bangkit dan beranjak membuka gagang pintu. Mungkin baru saja ada bintang jatuh yang menghantam kepalanya hingga ia kehilangan akal sehat dan terlalu berfantasi di luar batas. Bagaimana mungkin ia membayangkan sosok gadis sembrono yang dirindukannya itu ada tepat di depan mukanya, berdiri di hadapan kedua mata.

Layaknya orang bodoh, Nara kembali menutup pintu. Menggumam tak jelas, dan mengutuk otaknya yang makin tidak berfungsi dengan baik dari hari ke hari. Tapi, apa benar tadi hanya imajinasinya semata? Dan, ia pun membuka pintunya lagi, perlahan dan penuh harap. Kali ini, jika tadi memang benar-benar hanya khayalannya saja, Nara akan menyumpahi dirinya sendiri yang idiot ini.

“Wajahmu seperti orang keterbelakangan mental, Rachan. Apa yang kau makan tadi malam? Keledai?”

Tidak. Ini bukan mimpi atau khayalan atau imajinasi belaka!

“DAEMI!!”

***

B.A.P’s dormitory

08.00 P.M KST

Happy birthday!

Suara riuh sontak terdengar tepat ketika pintu dorm terbuka. Nara harus berkali-kali mengerjap akibat kertas warna-warni yang beterbangan ke arahnya. Namun, ia bisa melihat enam pria yang sudah berdiri menyambutnya dengan segala pernak-pernik pesta ulangtahun. Terompet, topi, dan sebagainya, juga kue ulangtahun yang dibawa oleh Himchan dengan lilin berbentuk angka 20 menancap di atasnya, sesuai umur baru Nara di peringatan hari kelahirannya ini.

“Selamat ulangtahun, Nara! Selamat ulangtahun, Noona!”

Gadis itu tidak bisa berhenti tersenyum melihat keenam pemuda di depannya itu mengucapkan selamat padanya dan menyambut dengan hangat di hari kelahirannya ini.

Himchan yang pertama berjalan mendekat. Ia memajukan kue ulangtahun pada Nara. “Make a wish lalu tiup lilinnya.”

Untuk beberapa saat Nara memejamkan kedua matanya, membuat sebuah permintaan di hari istimewa ini, lalu mengangkat kelopak matanya dan perlahan meniup lilin. Disambut tepuk tangan yang tak kalah riuhnya dari awal tadi.

“Bagaimana bisa kalian memberiku kejutan di depan pintu?” gelaknya.

Himchan ikut tertawa lalu segera mengajak gadisnya masuk ke dalam. Tapi sebelum Nara masuk, ia berbalik dan melambaikan tangan ke arah lain di luar ruangan. Seperti mengajak seseorang ikut serta. Dan ketika orang itu muncul di depan semua pasang mata, suasana riuh yang baru saja terasa kini mendadak senyap. Diganti dengan keheningan yang berlanjut cukup lama.

***

Bukan hanya Himchan yang dibuat kaget oleh kehadiran gadis ini di dorm mereka. Daemi, gadis yang baru saja kembali dari Manchester setelah sekian lama. Yongguk, Youngjae, Jongup dan juga Junhong tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Tapi semua itu tidak seberapa dibanding reaksi Daehyun. Mungkin yang paling dibuat terkejut dengan kedatangan Daemi yang tiba-tiba ini adalah pemuda asal Busan itu. Pria yang dulu pernah menjadi kekasih Daemi. Hubungan yang sudah lama berlalu, tapi tetap saja meninggalkan bekas yang tersisa. Seperti kata orang, luka bisa diobati tapi itu akan menimbulkan bekas.

Kini mereka semua berkumpul di ruang tengah. Masih dengan suasana hening yang cukup membuat tegang.

“Tidak kusangka kau akan kembali, Daemi.” Himchan yang pertama memecah suasana. Ia mencoba bersikap luwes supaya suasana tegang sedikit memudar. Pemuda itu beringsut mendekat pada Daemi dan memeluk gadis itu layaknya adik perempuan yang lama tak dijumpainya. Tapi ada yang terasa ganjal dari sikap Daemi. Tidak seperti dulu, saat Himchan memeluknya tadi, gadis itu langsung menerimanya, bahkan balas memeluk. Namun yang paling membuat semuanya heran adalah betapa seringnya Daemi tersenyum. Sama sekali tidak seperti Daemi yang dulu.

“Bagaimana kabar kalian?” Daemi melempar pertanyaan, dengan seulas senyum tipis menghias di wajah cantiknya.

“Ba— baik-baik saja.” Yongguk yang pertama menyahut. Baru setelahnya yang lain ikut menjawab. Kecuali Daehyun, tentu saja.

Daemi menggeser irisnya ke arah pemuda itu. “Lama tidak berjumpa.”

Eoh? Ah— benar, lama tidak berjumpa.” balas Daehyun sedetik setelah tersadar kalau gadis itu menatapnya. Awalnya, ia tampak seolah menahan sesuatu yang siap meledak kapan saja, tapi kini ia kelihatan canggung saat gadis itu menyapanya lebih dulu.

Youngjae dan Junhong yang pertama kali melakukan gerakan seribu langkah. Beralasan hendak pergi ke minimarket untuk membeli cola —padahal persediaan cola mereka masih cukup banyak. Dilanjut dengan Yongguk yang mengatakan akan memesan ayam —padahal ayam yang mereka beli untuk pesta perayaan ulangtahun Nara sudah sangat berlebihan. Dan terakhir, Jongup yang melempar alasan paling logis di antara yang lain, berkata hendak ke toilet.

Kini Himchan yang memutar otak untuk kabur dari ruangan itu. Tentu saja dengan menyeret Nara ikut bersamanya. Ia ingin memberi waktu pada Daehyun dan juga Daemi untuk mengobrol berdua. Ingin atau tidak diinginkan oleh keduanya.

“Aku dan Nara ingin keluar sebentar.” seru Himchan kilat lalu buru-buru meraih tangan Nara dan beranjak keluar. Terlalu cepat, tentu saja untuk menghindari teriakan Daehyun maupun Daemi. Sedangkan Nara yang masih tidak mengerti maksud Himchan, berkali-kali bertanya, “Mau kemana kita? Pestanya ‘kan belum dimulai!”. Pertanyaan yang tak kunjung dijawab oleh pemuda itu hingga mereka sampai di taman dekat dorm.

“Kau ini— ck, kenapa kau menyeretku keluar? Pestanya bahkan belum dimulai.” gerutu Nara, melempar protes pada Himchan yang membawanya pergi sebelum pesta perayaan yang mereka buat untuknya dimulai. Apalagi di sana ada Daemi yang kini kembali ke Seoul setelah sekian lama.

Ya! Apa kau tidak melihat yang lainnya juga pergi? Kau pikir kenapa mereka keluar?” sahut Himchan cukup jengkel. Terkadang gadis itu memang tidak bisa peka dengan situasi yang tengah terjadi.

“Ke minimarket, memesan ayam, dan toilet.” Jawaban polos dari seorang Yoon Nara yang sukses membuat Himchan menjambak rambut frustasi.

“Itu alasan mereka untuk memberi Daehyun dan Daemi waktu berduaan, Narani.” Himchan berusaha menjelaskan dengan cukup sabar. “Kau mengerti?”

“Ah..”

“Kau paham, ‘kan?” Himchan tersenyum puas. “Sekarang hanya tersisa kita berdua di sini, jadi ayo merayakan ulangtahunmu berdua bersamaku!”

Nara mengernyit, menatap Himchan seolah pemuda itu alien yang berasal dari planet antah-berantah. “Tidak ada yang bisa dinikmati di sini, bodoh.” Irisnya memandang sekeliling taman. Seperti taman kebanyakan, hanya ada hamparan rumput hijau dan tanaman-tanaman penghias, bangku-bangku kayu yang ditumpuki salju, lampu tiang sebagai cahaya penerang di malam ini dan pohon-pohon yang mengelilingi tepi taman. Di luar dugaan, taman ini cukup sepi di malam natal. Bisa dihitung dengan jari beberapa orang yang berseliweran, entah hanya berjalan melintas atau duduk di bangku kayu taman. Sama seperti Nara dan Himchan sekarang, yang juga duduk berdampingan di bawah cahaya lampu temaram.

“Kita bahkan tidak membawa jaket.” Nara sekali lagi menggumam sebal, kedua tangannya merapat untuk menghangatkan badan. Udara malam ini sangat dingin, ditambah dengan salju yang menumpuk di sekeliling jalan, juga butiran salju yang turun.

Himchan berdeham, menyadari kebodohan yang baru saja ia lakukan. Menarik Nara keluar di cuaca musim salju yang cukup mencekam kulit tanpa pikir panjang dan bahkan lupa membawa jaket atau mantel atau bahkan syal. “Yaa! Hidupmu akan pendek jika terus mengeluh.” Pemuda itu menggerakkan kedua tangannya sembarang arah, seperti gerakan senam pagi, dan berkata, “Lagipula tidak terlalu dingin ‘kan.” Ia terbahak kaku, terlalu dibuat-buat. Berbanding terbalik dengan kenyataan kalau badannya kini juga tengah menggigil kuat.

“Aku heran kenapa orang sepertimu bisa menjadi idol.” gumam Nara sinis dengan lipatan dahinya yang makin bertambah melihat sikap aneh Himchan.

Kening Himchan rasanya berkedut parah mendengar komentar gadis di sampingnya itu. “Yaa, aku ini memang terlahir sebagai idol. Sejak lahir nasibku digariskan untuk menjadi seorang idol. Kau tidak melihat kharismaku yang besar ini terpancar dari dalam diriku, huh? Atau matamu saja yang tidak bisa melihat dengan baik.”

“Idiot.”

Aish—” meski sebal dengan ejekan yang selalu dilemparkan Nara padanya, Himchan tidak pernah benar-benar merasa marah atau tersinggung. Bukankah mereka memang pasangan yang aneh? Melempar ledekan, saling menyumpah serapah, bahkan beradu otot. Tak jarang tangan Nara melayang ke batok kepala Himchan atau tungkai kakinya yang menjadi sasaran empuk tendangan maut gadis itu. Dan pemuda itu yang selalu membalasnya dengan sikap sok manis —yang pasti berhasil membuat Nara bergidik geli— seperti sekarang, tangan Himchan yang dengan cepat melingkari pundak Nara dan menariknya semakin dekat. Senyuman menggoda pun tak lupa  ia tunjukkan, “—tapi kau menyukai idiot ini, benar ‘kan?”

“Menjauh dariku, dasar maniak!”

“AAW!! YAA!! BERHENTI MENENDANGKU, YOON NARA! KAU TIDAK TAHU SEBERAPA BERHARGANYA KAKI SEORANG IDOL, HUH?!”

~oOo~

Shingasane Night Club, Hongdae

December, 25th 2013

“Ada apa?”

Minhwan berhenti meneguk orange juice miliknya lalu mendongak menatap gadis yang duduk di sampingnya di bar. Seperti biasa, rambut panjang gadis itu selalu terikat berantakan, memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus dan tato yang tercetak di sana. Kiara masih sama seperti sebulan lalu terakhir kali Minhwan melihatnya.

Tak mendapat respon, gadis itu akhirnya menggeser pandangannya ke arah Minhwan yang masih terdiam di tempat. Ada yang mengganjal dari pemuda itu, begitulah yang terlintas di benak Kiara sesaat setelah melihat Minhwan datang mengunjunginya di kelab malam ini. Sudah hampir satu bulan pemuda itu tidak datang menemuinya —karena jadwal padat dan sebagainya— lalu hari ini tiba-tiba ia mengiriminya pesan singkat, berkata akan datang untuk bertemu. Ditambah sikap drummer FT Island yang sedikit aneh malam ini, makin membuat Kiara mengernyit heran. Sebenarnya ada apa dengan Minhwan?

“Aku tahu kau aneh, tapi tidak biasanya kau sediam ini.” gumam Kiara sambil lalu. Ia meraih gelas di hadapannya dan meneguk martininya.

Bukannya tidak mendengar, hanya saja Minhwan tidak berniat untuk membalas perkataan Kiara. Ia masih menutup mulut dan memainkan gelas berisi orang juice pesanannya tadi.

Kiara mendesah singkat. Jika pemuda itu tidak ingin membuka suara, dia pun tak akan mendesak. Gadis itu melambaikan tangan pada bartender untuk meminta segelas martini lagi. Ia lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebungkus rokok. Jemarinya mengambil satu puntung rokok dan dengan lihai menyulut ujung rokok dengan korek api. Setelah hisapan pertama, Kiara melayangkan bungkus rokoknya pada Minhwan. “Mau?”

Pemuda itu cepat-cepat menggeleng. Ia tidak biasa merokok, jujur saja. Pernah sekali Minhwan mencoba, dulu, dengan iseng dan tanpa pikir panjang menghisap batang tembakau itu dan pada akhirnya terbatuk-batuk ketika asapnya masuk ke dalam tenggorokan. Sejak saat itu, Minhwan tidak ingin mencobanya lagi. Tidak juga sekarang, saat Kiara menawarinya rokok.

Sebenarnya Kiara sendiri tahu pemuda itu tidak terbiasa merokok. Minhwan bukan tipe laki-laki penghisap tembakau. Ia hanya berbasa-basi menawarinya, meski sudah tahu pasti bagaimana reaksi pemuda itu, yah, seperti yang baru saja terjadi.

“Kau tidak ingin berhenti merokok?” tanya Minhwan tiba-tiba.

“Tidak.” Kiara menghisap ujung rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya melalui bibir, juga hidung. “Merokok bisa membuatku tenang.”

“Benarkah?”

“Tapi tidak untuk pria lugu sepertimu.” sela Kiara, kembali menghirup rokoknya.

Kalimat Kiara tadi berhasil membuat Minhwan salah tingkah. Pemuda mana yang tidak malu jika ada seorang gadis yang mengatakannya lugu. Minhwan berdeham, menyembunyikan wajahnya yang kini memerah. Dengan cepat meraih orange juice dan meneguknya hingga tersisa setengah gelas.

“Kalau kau hanya diam saja, lebih baik kembali ke dorm dan tidur. Di sini bukan tempat yang cocok untuk seorang idol sepertimu.”

Minhwan mendesah dalam-dalam. Gadis ini benar-benar tidak berubah, masih sama seperti awal ia mengenalnya. “Dia tidak mengangkat teleponku beberapa hari ini.” Pada akhirnya pemuda itu mengeluarkan isi pikirannya. Ia kembali menghela napas berat saat melihat reaksi Kiara yang malah diam dengan tampang datar.

“Sudahlah, itu masalah pribadiku dan tidak terlalu penting untuk dibicarakan, jadi—“

Belum sempat Minhwan menyelesaikan kalimatnya, Kiara memotong. “Kau menemuiku karena dia?”

Sebaris pertanyaan yang baru saja terlontar dari bibir Kiara berhasil membuat Minhwan terdiam. Nada dingin kembali terselip dari cara bicaranya. Makin membuat Minhwan tidak tahu harus menjawab apa atau sekedar melempar balasan apa.

Kiara mendengus kasar, tertawa sinis seraya membuang muka. Gadis itu lalu bangkit dari duduknya, membuang puntung rokok yang masih tersisa ke lantai dan menginjaknya hingga padam. “Kau kira aku minimarket yang bisa kau datangi lalu kau tinggal seenaknya?” Kiara kembali tertawa sinis, sedikit memalingkan wajah ke belakang, ke arah Minhwan berada. “Kau pikir aku ini apa, Choi Minhwan?” ujarnya pelan, sengit. Sebelum kemudian melangkah ke tengah dance floor.

Minhwan yang tadi bangkit untuk mencegah gadis itu pergi, kini kembali terduduk. Ia belum sepenuhnya menangkap maksud perkataan gadis itu tadi. Malam ini otaknya memang tidak bisa berjalan dengan baik. Tidak, bukan hanya malam ini, tapi sejak Lena —kekasihnya— tidak menjawab pesannya atau mengangkat teleponnya beberapa hari ini. Ya, sejak itu Minhwan seperti pria bodoh yang tidak bisa berpikir dengan jernih. Ditambah sikap Kiara yang di luar dugaannya hari ini. Ia memang tidak pernah bisa membaca sifat Kiara, tidak bisa menebak apa yang sebenarnya ada di pikiran gadis itu. Tapi kali ini, Kiara benar-benar membuatnya tak mengerti. Kata-katanya tadi makin membuat Minhwan frustasi.

Dan kini, ketika kedua irisnya menatap Kiara yang tengah menari dan menghentakkan badannya di dekat seorang pria bertubuh tegap, dan tangan kekar pria itu menggelayuti pinggang ramping Kiara hingga keduanya hanya berjarak beberapa senti, membuat otak Minhwan semakin membeku. Seakan ada yang menggeliat di dalam perutnya dan ingin memberontak keluar. Sesuatu yang membuat aliran darahnya memanas, dan otot yang mulai menegang.  Tanpa sadar, kedua tangannya kini mengepal kuat. Menahan sesuatu yang juga tak dimengerti oleh akal sehatnya sendiri.

~oOo~

EXO’s dormitory

December, 25th 2013

Suasana riuh memang tidak pernah hilang dari ruang apartemen yang ditinggali dua belas pemuda tersebut. Tidak juga hari ini, di malam natal kali ini. Pesta kecil sudah disiapkan beberapa waktu lalu. Semua pernak-pernik khas natal sudah menghiasi seluruh sudut ruangan. Seperti pohon natal, lampu-lampu yang berkerlap-kerlip, kaos kaki warna merah ala santa yang menggantung di pohon natal maupun di dinding, balon warna-warni yang tadi ditiup dengan semangat oleh Tao, Kai dan juga Sehun. Tak lupa cake berukuran jumbo dengan lilin-lilin kecil yang menancap di tengah-tengahnya. Juga makanan yang kini memenuhi meja ruang tengah, tempat dimana semuanya berkumpul. Bukan hanya member EXO, tapi juga Chanra, Hana, Nayeon, Hanji dan Ri Ah. Tak terkecuali, adik sepupu Kris tersayang, Lian.

Merry christmas!” Tao meniup terompetnya keras-keras. Diikuti Kai, Luhan dan Chanyeol yang juga memegang terompet. Terdengar Baekhyun yang melayangkan protes pada Chanyeol karena pemuda bertubuh tinggi itu baru saja meniup terompet tepat di telinganya. Diikuti gelak tawa beberapa member yang menertawai reaksi Baekhyun.

Hanya satu orang yang tidak tertawa lepas dan hanya tersenyum simpul amat tipis. Gadis itu juga tidak ikut bernyanyi dengan yang lain, tidak meloncat-loncat kegirangan menikmati pesta layaknya Nayeon, Hanji, Riah dan Chanra. Tidak juga sekedar bertepuk tangan dengan senyuman lebar seperti Hana. Sedari tadi Lian hanya diam, sesekali melempar senyum singkat, lalu kembali tenggelam dalam dunianya sendiri.

Xiumin yang kebetulan duduk di samping gadis itu tentu saja menyadari sikap Lian. Sebenarnya ia tidak heran jika Lian hanya diam sepanjang pesta berlangsung, karena gadis itu memang terbiasa tak banyak bicara dan lebih banyak menghabiskan waktu dalam diam.

“Lian-ah?” tampaknya Xiumin berhasil membuyarkan lamunan gadis itu hingga Lian mendongak menatapnya. Pemuda itu tak bisa menyembunyikan senyumnya saat melihat wajah Lian yang kebingungan dengan kedua mata membulat lebar. Persis seperti seekor anak kucing.

Xiumin mengacak rambut Lian dengan gemas. Memang, pemuda itu salah satu member yang cukup dekat dengan Lian. Dalam arti, cukup sering mengajak ngobrol gadis itu jika sedang berkunjung ke dorm mereka. Selain Kris, dan Lay tentunya.

“Kau ingin keluar?” bisiknya pada Lian. Gadis itu tidak langsung menjawab. Masih menatap kebingungan. “Ikut aku.” Sekali lagi membisikkan sepatah kalimat pada gadis itu, lalu menggandengnya menjauh dari yang lain. Mengabaikan Jongdae yang bertanya kemana mereka pergi.

Juga tidak menyadari ketika sepasang mata tak melepaskan pandang dari keduanya.

***

Woah, saljunya turun!”

Layaknya murid taman kanak-kanak, pemuda bernama asli Kim Minseok itu menghentak-hentakkan kaki dan mengacungkan telapak tangannya ke udara. Membiarkan butiran salju mendarat mulus di sana. Dengan cengiran lebar pula ia mengamati salju yang mencair di tangannya.

Ia memalingkan wajah menatap gadis yang kini hanya berdiri diam memandangi salju yang turun. “Indah, bukan?”

Eoh?” Lian —gadis itu— sontak mendongak.

“Saljunya.” Cengiran lebar masih terukir sempurna di wajah Xiumin.

Mengerti apa yang dimaksud pemuda itu, Lian pun langsung mengangguk setuju. Gadis itu lalu ikut menengadahkan tangan kanannya ke udara dan tak bisa menyembunyikan senyumnya kala salju mengenai telapak tangannya yang mengarah bebas.

“Kau tidak kedinginan?” tanya Xiumin pada gadis itu yang di badannya hanya melekat t-shirt tipis bermotif garis putih biru. Berada di balkon apartemen di cuaca musim dingin malam ini memang cukup membuat badan menggigil. Belum sempat Lian menjawab, pemuda itu buru-buru melepas jaketnya dan menyampirkannya ke tubuh gadis keturunan cina itu. Layaknya cuplikan drama, ketika seorang tokoh pria memakaikan jaketnya untuk sang gadis. Jika di drama, sang gadis akan tersipu malu dengan wajah yang memerah, berbeda dengan Lian yang hanya mengangguk singkat dan mengucapkan kata terimakasih.

Lain halnya dengan Xiumin yang sekarang mengarahkan badannya pada tepian balkon dan menyandarkan tangannya di sana. Membiarkan fokusnya teralih dari gadis itu, seperti tengah menyembunyikan sesuatu yang berdebar dari balik rongga dadanya.

Hyung.”

Mendengar seseorang memanggilnya, seketika Xiumin memutar badan, menoleh pada sosok pemuda yang kini berdiri di samping pintu keluar yang menuju balkon. Begitu pun Lian yang ikut mendongak.

Oh? Yixing?”

Tak perlu bertanya mengapa pemuda itu memanggilnya, Xiumin sepenuhnya paham ketika irisnya menangkap sebuah kotak bujur sangkar berbalut pita merah muda di tangan dongsaengnya. Ia menunduk sejenak seraya mendesah napas pelan. Tentu saja ia tahu untuk siapa kado kecil itu. Ia lalu segera beranjak dari tempatnya, “Aku masuk dulu.” ujarnya pada Lian sebelum benar-benar pergi.

Xiumin sempat menepuk pundak Yixing —yang masih berdiri mematung— saat melewatinya masuk ke dalam ruangan. Xiumin mengerti, tidak ada kesempatan baginya untuk maju, jadi untuk apa ia berharap lebih. Yang harus dilakukannya hanyalah mengalah. Untuk kesekian kalinya. Dan mungkin untuk selamanya.

Di sisi lain, Yixing bukanlah seorang idiot yang tidak mengerti apa yang baru saja terjadi di depannya tadi. Ia melihatnya. Semua. Bahkan, bukan hanya kali ini saja. Beberapa kali ia melihat pemandangan serupa. Dan dari cara Xiumin memandang gadis itu, caranya memperlakukan Lian, caranya berbicara setiap berada di dekat gadis itu, sudah cukup membuat Yixing mengerti. Tapi egonya terlalu besar hingga ia berlagak layaknya orang bodoh yang berpura-pura tidak memahami keadaan yang jelas-jelas terpampang di depan mata.

Tidak. Ia tidak akan mundur dan memberikan kesempatan pada orang lain. Ia bisa mengalah untuk banyak hal, tapi tidak untuk satu hal ini.

“Hai.” Yixing beringsut mendekat pada gadis itu yang masih berdiri di tepi balkon. Matanya tak bisa lepas dari jaket yang tersampir menutupi punggung Lian. Rahangnya mengeras tanpa sadar, namun ia buru-buru mengendalikan emosinya. “Tidak masuk?” tanyanya, mengalihkan pembicaraan.

Lian menggeleng pelan. “Tadi Xiu-Ge mengajakku kemari, tapi dia malah masuk lebih dulu.”

“Memangnya.. apa yang baru saja kalian lakukan di luar begini?”

“Melihat salju.” Gadis itu mengulum bibir, sementara irisnya memandangi gumpalan-gumpalan putih kecil itu melayang turun.

Hanya sebuah senyuman tipis, tapi mampu membuat hatinya berdesir kala menatap senyum itu. Mungkin memang benar, hanya memandangi senyum orang yang kita sukai bisa memberi sensasi hangat tersendiri, bahkan meskipun hanya dengan menatap wajahnya.

“Lian-ah.” Gadis itu menggeser irisnya pada Yixing. Sementara pemuda itu sibuk menata hati, hanya sekedar untuk memberikan sesuatu yang tengah ia genggam di balik punggung. Perlahan namun pasti, tangannya mengulurkan kotak itu. “Untukmu.”

“Untukku?” Lian membulatkan matanya, mengerjap beberapa kali, seakan tidak percaya jika pemuda itu baru saja memberinya sebuah hadiah.

Hm.” Yixing mengangguk, melempar senyum lembut. “Bukalah.”

Dan ketika Lian melepas pita yang terikat mengelilingi kotak itu dan membuka tutupnya, ia lagi-lagi melebarkan mata. Celah bibirnya pun tak lagi terkatup. Cukup takjub dengan pemberian pemuda di sampingnya tersebut. Sebuah bola kaca yang di dalamnya tampak dua patung kecil pria dan wanita tengah duduk berdampingan di bangku taman, juga butiran-butiran kecil serupa salju yang melayang di sekeliling.

Pemberiannya itu bukan benda dengan harga selangit atau sesuatu yang bersinar seperti berlian dan sebangsanya, hanya bola kaca sederhana yang bahkan tidak bisa disandingkan dengan emas atau permata. Tapi Yixing terus berharap —berharap dan berharap, bahkan sejak ia membelinya dari toko— gadis itu akan menyukai hadiahnya.

“Kau suka?”

Mungkin malam ini Yixing tidak akan bisa memejamkan matanya, ketika gadis itu mengangguk dan tersenyum padanya. “Terimakasih, Gege.”

~oOo~

GK Entertainment building, Cheongdam-dong, Seoul

December, 25th 2013

“Kau tahu hari ini natal, ‘kan?”

Jungsan —salah satu manajer REINE, girlband naungan GK Entertainment— mengerutkan dahi dan melipat kedua tangannya di dada ketika gadis belia yang diajaknya berbicara tidak merespon. Gadis itu malah melanjutkan gerakan dancenya, meliuk mengikuti alunan musik. Kim Seowoo —nama gadis itu— adalah seorang trainee GK Entertainment, yang merupakan salah satu agensi artis yang telah mengorbitkan satu boyband, ORION. Agensi tersebut belakangan ini juga berencana mengeluarkan girlband, REINE, grup yang beranggotakan tujuh personil, salah satunya Seowoo sebagai lead vocalist sekaligus member termuda. Treaser tiap personil sudah berhasil diluncurkan, dan respon masyarakat juga cukup bagus menyambut kehadiran grup tersebut.

Jungsan mendecak lidah, memang butuh kesabaran lebih untuk menghadapi gadis kecil ini. Saat ia ditunjuk menjadi manajer REINE, ia berpikir itu adalah keberuntungan besar yang akhirnya ia dapatkan, tapi pikiran itu memudar ketika bertemu dengan ketujuh membernya secara langsung. Ia sempat berpikir, bagaimana bisa CEO Kang menempatkan tujuh karakteristik berbeda tiap kepala dalam satu kelompok. Bukan hanya watak yang berbeda, tapi sifat-sifat yang terlampau ajaib yang dimiliki tiap member yang bisa membuat siapapun melompat dari gedung tertinggi jika tidak memiliki ketahanan mental yang bagus untuk menghadapi mereka. Butuh kesabaran ekstra meladeni mereka semua. Mungkin hanya Kiwoong —manajer REINE lainnya, sekaligus partner Jungsan— yang tahu bagaimana Jungsan harus menelan emosinya bulat-bulat saat pertama kali menghadapi tingkah member REINE.

Masih segar dalam ingatan, ketika CEO Kang menunjuknya sebagai manajer REINE sambil berkata, ‘Kau dan Kiwoong adalah orang yang tepat untuk mengurus tujuh putri kita’. Oh, ia juga masih sangat ingat senyum penuh misteri yang ditunjukkan CEO Kang padanya kala itu.

Ia baru sadar sudah didorong ke dalam jurang gelap bersama makhluk-makhluk ajaib itu sejak CEO Kang melempar senyum menyebalkannya.

“Hari ini natal, hari yang tepat untuk berlibur dan beristirahat tapi kau malah memaksaku menemanimu kemari?” Jungsan kembali menggerutu. Gadis itu lagi-lagi tidak meresponnya dan sibuk berlatih sendiri. Merasa jengkel, Jungsan langsung mematikan music player yang berbunyi nyaring dan sukses membuat gadis itu berhenti menari.

Seowoo malah menghentakkan kakinya kesal dan melempar tatapan sengit. “Ahjussi!”

Yaa! Berhenti memanggilku ahjussi, aku tidak setua itu! Umurku masih 28 tahun, kau dengar?”

“Apa bedanya dengan wajahmu yang tua.” seloroh Seowoo, menghidupkan music player lagi. Single pertama REINE kembali berdendang memenuhi ruang latihan.

Bocah ini memang benar-benar tidak tahu bagaimana harus bersikap. Jungsan selalu bertanya-tanya, apa keluarganya tidak pernah mengajari Seowoo sopan santun.

Sudahlah, lagipula Jungsan sudah mengerti dan sangat hafal bagaimana perangai Seowoo. Bukan pertama kalinya gadis itu berkata tidak sopan padanya, termasuk pada Kiwoong. Bahkan kepada member REINE lainnya yang lebih tua, Seowoo tidak pernah bersikap sepantasnya selayaknya maknae.

“Nanti malam teaser MV kalian akan dirilis.” ujar Jungsan, mengalihkan pembicaraan. “Kang-nim juga mengundang kita semua untuk merayakan rilisnya teaser REINE, sekaligus merayakan Natal bersama di rumahnya.”

Seowoo terdiam sejenak. Jika saja Jungsan tidak mengingatkannya soal perayaan di rumah CEO Kang, ia tidak akan mengingat agenda itu. “Apa ORION juga akan datang?” tanyanya pelan, namun tajam.

“ORION? Hm, hari ini mereka akan tampil di salah satu acara musik spesial natal.” jawab Jungsan. Untuk sesaat membuat Seowoo bernapas lega karena dengan begitu semua member ORION tidak akan datang ke perayaan. Tapi gadis itu tiba-tiba mengerang, ketika Jungsan kembali melanjutkan kalimatnya, “tapi mereka akan segera menyusul setelah acara selesai.”

“—aku tidak akan datang.”

“Apa?”

Seowoo kembali mengulang kalimatnya, sekaligus memberi penekanan. “Aku tidak akan datang. Aku tidak mau datang.”

“Kau harus datang. Semua member juga akan datang dan tidak boleh ada satupun yang tidak ikut serta, kau dengar?” Bukan Bang Jungsan jika ia tidak bisa balas memberi penekanan pada bocah satu ini.

“Aku tidak akan datang! Tidak akan! Tidak akan!”

“Aku yang akan menyeretmu untuk datang apapun yang terjadi, jadi berhenti berteriak.”

Ahjussi!”

Baru saja Seowoo akan melempar protes, saat pintu ruang latihan menjeblak terbuka. Keduanya sontak terdiam ketika mendengar langkah seseorang. Bukan hanya seorang, tapi beberapa orang. Tak disangka kelima member ORION yang datang memasuki ruangan tersebut.

Jungsan buru-buru memasang senyuman ketika leader ORION —Hiero, yang bernama asli Kim Namhyun— membungkuk sopan dan menyapanya. “Annyeonghaseyo, Jungsan-ssi.”

“Oh, annyeong.” sapa Jungsan bersahabat. Dari semua member ORION, ia paling menyukai Hiero karena sikapnya yang sopan dan ramah pada semua orang. “Kalian datang sepagi ini untuk latihan?”

“Benar, tapi kelihatannya Seowoo masih memakai ruang latihan.” ujar Hiero, tersenyum menyapa gadis itu, yang masih memasang wajah kesal.

Seowoo sempat mengerling pada sosok pemuda yang berdiri di samping Hiero, Ryu Minwoo atau biasa dikenal sebagai Dion. Gadis itu menggertakkan rahangnya tanpa sadar. Mengutuk pagi yang sial ini. Mengapa ia harus bertemu dengan pria itu sepagi ini?

Seowoo juga refleks membuang muka ketika ia mendapati Minyeol —maknae ORION— yang menyapanya dengan cengiran lebar —menunjukkan barisan gigi putih sempurnanya— sembari melambai tangan. Bukan karena ia membenci pemuda itu, tapi ada sesuatu yang membuatnya selalu canggung jika berhadapan dengan Minyeol. Sesuatu yang menjadi bagian dari masa lalunya.

“Kami boleh meminjam ruangan ini untuk berlatih sebentar?” Kali ini Dion yang bersuara, meminta ijin hanya pada Jungsan. Alih-alih menanyakannya pada Seowoo, ia bahkan tidak memandang gadis itu sedikit pun.

“Apa kalian tidak bisa antri? Aku dulu yang memakai ruangan ini.” sambar Seowoo. Menatap sengit pemuda itu.

Jungsan langsung berbalik, dan memarahi Seowoo lewat tatapan. Mengisyaratkan agar gadis itu menutup mulut dan tidak berlaku kurang ajar pada member ORION yang jelas-jelas adalah senior.

“Ah, kalau begitu kami akan menunggu.” ucap Hiero, mencoba meredam ketegangan yang terjadi.

“Kalian bisa memakai ruangan ini kalau kalian membutuhkannya. Seowoo bisa beristirahat sebentar sampai kalian selesai berlatih.”

Ahjussi!” Seowoo kembali melayangkan protesnya pada Jungsan yang baru saja memberi ijin pada kelima pemuda tersebut untuk bergantian memakai ruang latihan.

“Tidak apa, Jungsan-ssi. Kami akan menungggu, sementara Seowoo berlatih. Dia pasti butuh waktu lebih banyak untuk mempersiapkan diri sebelum debut stage nanti.”  Hiero kembali memasang senyum ramah, sebelum menyuruh semua membernya untuk keluar bersamanya.

Jungsan menghela napas panjang setelah kelima pemuda itu menghilang dari balik pintu. “Aish, bocah ini.. Lain kali jangan bersikap seperti itu pada seniormu, mengerti?!” gertaknya pada Seowoo, sebelum beranjak menyusul Hiero dan yang lain. Tentu saja ia harus meminta maaf atas kelakuan Seoowoo barusan.

Seperti biasa, kata-kata Jungsan hanya angin lalu yang tidak akan didengar Seowoo. Apalagi setelah kejadian tadi, Seowoo yang diliputi kekesalan tidak akan menganggap kata-kata manajernya itu sebagai peringatan untuk bersikap lebih baik ke depannya.

Secepat kilat ia mematikan music playernya, lalu menyambar iphonenya dengan ganas sebelum kemudian beringsut ke tepi ruang latihan. Ia menyandarkan diri pada dinding ruangan, sembari menyumpal kedua telinga dengan headset putih miliknya. Tangannya dengan gesit memutar lagu dengan volume penuh. Tidak memedulikan telinganya yang kini berdenging kesakitan.

Yang ingin ia lakukan saat ini hanyalah melepas emosinya, dan bernyanyi sekeras mungkin untuk mengeluarkan beban pikiran yang mulai kembali menggelayuti jiwanya. Dan membiarkan airmata jatuh mengalir di kedua pipinya, ketika satu per satu memori masa lalu berkelebat dalam benak.

Ryu Minwoo. Mengapa takdir harus mempertemukannya dengan keparat itu? Keparat yang dulu pernah memenuhi hatinya. Keparat yang mempermainkan perasaannya dan meninggalkannya terjebak sendirian di dalam masa lalu.

“Aku membencimu.”

***

“Kau belum melupakannya, ya?”

Tidak ada seorang pun yang tahu jika saat ini pemuda itu tengah berdiri menyandar di balik pintu ruang latihan. Kepalanya terkulai, seakan tidak ada energi untuk meneruskan hidup. Atau ia sedang meratapi nasib yang tidak berpihak padanya setelah sekian lama? Bukan hanya kali ini, sejak dulu nasib memang tidak bersahabta dengannya. Selalu memaparkan dengan jelas hal yang sebenarnya tidak pernah ingin ia akui, fakta bahwa gadis yang ia sukai untuk sekian lama —sejak dulu hingga sekarang— tidak kunjung memberinya kesempatan untuk memasuki hatinya. Karena sejak dulu yang memonopoli hatinya hanyalah pemuda itu, bukan dirinya.

Haruskah takdir terus-menerus membiarkannya berdiri mematung menanti gadis itu berbalik padanya? Yang bahkan ia sendiri pun tidak tahu kapan semua ini akan berujung.

Apakah nasib senang sekali terus-menerus mempermainkannya seperti ini?

Ia tersenyum lemah. Ryu Minyeol, yang dulu maupun kini harus menelan perih sakit hati. Cintanya yang bertepuk sebelah tangan, atau mungkin selamanya tidak akan pernah terbalas.

Tidak. Tak apa jika memang dirinya yang harus tersakiti. Tak apa jika seumur hidup ia harus menelan kekecewaan tanpa ujung. Asalkan ia bisa memutar balik waktu, kembali ke masa di saat mereka bertiga masih tertawa bersama.

“Aku memang bodoh, masih saja terjebak dalam masa lalu.”

~oOo~

Seoul, December, 25th 2013

Sepasang bola matanya tak kunjung berhenti menyusuri tempat dimana ia berada saat ini. Tiap sudut ruangan ia amati tanpa terkecuali. Cukup takjub dengan interior mewah kelas satu yang dimiliki restauran tersebut. Suasana natal juga terasa di restauran itu, semua pernak-pernik natal dihias secara apik tanpa meninggalkan kesan ekslusif. Pengunjung yang datang pun bisa ditebak bukan berasal dari kalangan biasa. Terlihat dari pakaian yang mereka kenakan dan cara mereka bersikap. Berkali-kali Yuki mengubah posisi duduknya, tampak tak nyaman. Dengan penampilannya yang ala kadarnya —dress pink selutut ditambah cardigan putih— ia merasa kurang pantas berada di restauran mewah ini.

“Jae— Jaehwan-ah..” Yuki mencondongkan badannya, berbisik amat pelan.

Pemuda bernama Lee Jaehwan —main vocal VIXX— yang semula sibuk memilih makanan di menu kemudian mendongak. “Hm?”

Yuki meneguk ludah, kembali mengecilkan suaranya hingga terdengar serupa dengan cicitan tikus. “Kenapa kau mengajakku kemari?”

“Memangnya kenapa?” Jaehwan malah balik bertanya dengan polos. Melihat sikap Yuki yang ganjil, ia lalu kembali bertanya, “Kau tidak suka tempat ini?”

Kedua mata gadis itu membelalak lebar dan dengan cepat menggeleng kuat-kuat sembari menggoyangkan kedua tangan. “Ti —tidak! Bukan begitu!”

Jaehwan tersenyum penuh kemenangan, lalu mendorong daftar menu ke hadapan Yuki. “Kalau begitu, pilih makanan yang kau suka. Makan yang banyak, kali ini aku yang akan membayar semuanya.” senyumnya lebar.

Mau tak mau, Yuki menurut dan mulai memilih makanan yang ingin ia pesan di daftar menu. Kedua matanya melotot terlalu lebar hingga seakan bisa meloncat keluar dari rongga tulang. Lagi-lagi ia meneguk air ludah selagi membaca harga-harga yang terpampang di daftar menu. Ini seharga jatah makanku seminggu!, batinnya.

Yuki menggeser manik matanya ke arah Jaehwan yang duduk di hadapannya. Pemuda itu juga tidak memakai pakaian yang terlalu mewah seperti jas atau apa, tapi auranya sungguh berbeda dengan Yuki. Hanya dengan memakai kemeja denim sudah membuat Jaehwan kelihatan tak kalah bersinarnya di tempat semewah ini. Aura bintang memang berbeda dengan orang biasa, batinnya lagi.

“Yuki-ah!”

Daftar menu di tangan gadis itu hampir saja melayang, saking terkejutnya Yuki mendengar Jaehwan memanggil namanya dengan begitu tiba-tiba. Gadis itu mendecak sebal saat Jaehwan menertawainya. “Berhenti tertawa, tuan Lee.” tukasnya.

“Kau sedang memikirkan apa?” tanya Jaehwan, masih terkekeh.

Yuki tidak menjawab. Ia mengerucutkan bibir mungilnya dan berpura-pura sibuk dengan daftar menu. Membolak-balik halaman demi halaman. Matanya juga kembali melebar seolah hendak mencuat keluar ketika ia membuka halaman menu satu per satu. Makin ke belakang harga yang tertera makin melangit. Rasanya Yuki ingin melempar daftar menu ini ke lantai dan berteriak ‘harga macam apa ini?!’ tapi buru-buru ia telan kembali kata-kata yang siap meluncur keluar itu, karena jika ia benar-benar melakukannya bisa saja orang-orang akan menganggapnya pasien gila yang baru saja kabur dari rumah sakit jiwa.

“Kau benar-benar tidak suka dengan tempat ini, ya?” Lagi-lagi Jaehwan memecah lamunannya.

Wajah Jaehwan yang kini terlihat memelas membuat Yuki benar-benar tidak tega mengatakan apa yang sebenarnya ia pikirkan. Kalau sejujurnya ia tidak nyaman berada lama-lama di restauran mewah dengan harga selangit ini.

“Bukan begitu, tempat ini sangat cantik. Sungguh!” bantahnya cepat. “Tapi.. kita pindah tempat saja, bagaimana? Aku tahu tempat yang tidak kalah bagusnya dengan restauran ini~!”

“Tidak! Kita tunggu sebentar lagi, hm? Untuk apa buru-buru pergi?” Jelas saja Jaehwan menolak mentah-mentah permintaan Yuki barusan. Ia sudah menyiapkan momen ini baik-baik dari jauh hari. Melakukan reservasi di restauran ini di malam natal bukan hal yang mudah. Ia harus menunggu jawaban dari pihak restauran apakah ia mendapat tempat atau tidak, karena begitu banyaknya antrian pemesan reservasi di hari natal. Tapi setelah ia berhasil mendapatkan tempat di sini, gadis ini malah memintanya untuk pergi? Tidak tahukah Yuki sesulit apa Jaehwan hanya untuk memesan tempat di restauran mewah ini? Oh benar, gadis itu tidak akan tahu.

“Ayolah, kita pindah tempat saja, ya ya ya~?” Yuki yang tak mau kalah kini memasang wajah memelas dengan aegyo jitunya.

“Tapi—“ Pemuda itu masih bersikeras untuk tetap tinggal di restauran ini. Ada sesuatu yang ingin ia perlihatkan. Karena itulah, ia tidak bisa dengan begitu mudah melepas peluang dan semua yang sudah ia siapkan matang-matang kali ini.

Tapi tampaknya wajah Yuki yang memelas sukses meluluhkan hati seorang Lee Jaehwan. Atau, membuatnya bodoh dengan melepas semua ini?

Tidak!

“Jaehwan-ah..”

Desahan napas keluar dari cuping hidup mancung pemuda itu, sejenak memejamkan mata dan melapangkan dada untuk melepas peluang berharganya kali ini demi gadis di depannya yang sudah merajuk untuk segera pergi. “Baiklah, ayo kita pindah dari sini.”

***

“Nah! Apa kubilang, tempat ini tidak kalah bagusnya dengan restauran tadi, ‘kan?” ujar Yuki bersemangat. Meski bisa dibilang kafe tempat mereka berdua berada saat ini jauh dibanding restauran yang tadi mereka hampiri sebelum gadis itu merengek meminta pergi. Lagipula bagaimana bisa kafe kecil ini disejajarkan dengan restauran kelas atas. Walaupun tidak bisa dipungkiri, kafe ini cukup nyaman untuk disinggahi. Mungil, luasnya hanya beberapa petak namun interior ruangannya didesain sedemikian rupa hingga membuat pengunjung merasa nyaman berada di dalamnya. Warna peach yang mendominasi dan aroma kue yang lembut makin membuat siapapun betah berlama-lama di sini.

Namun sepertinya itu tidak berlaku pada Jaehwan. Personil VIXX ini hanya memberengut sejak melewati pintu masuk kafe hingga duduk di bangkunya sekarang.

Bukannya Yuki tidak menyadari sikap Jaehwan. Gadis itu amat sadar, kalau pria yang biasa dikenal dengan nama Ken ini kehilangan mood sedari tadi. Tapi jika mereka masih berada di restauran mahal itu, Yuki yang tidak bisa menahan diri dan pasti akan merasa sungkan jika Jaehwan benar-benar menraktirnya di restauran berkonsep eropa klasik tersebut.

“Aku yang akan menraktirmu hari ini, Jaehwan-ah~” ujar Yuki, menarik sudut bibirnya lebar-lebar dan berharap pemuda itu juga ikut tersenyum bersamanya. Tapi Jaehwan masih duduk mematung di kursinya, menatap strawberry cheese cakenya tanpa minat.  Yuki memutar otak agar pemuda itu kembali bersemangat lagi, ia pun menyodok cake miliknya dengan garpu kecil dan menyuapkan ke mulutnya sendiri. “Hm~ cakenya enak sekali!” Yuki berlagak seolah-olah cake yang ia makan adalah cake paling lezat di penjuru dunia. Ia lalu mengambil beberapa potong cake lagi dan berniat menyuapkannya pada pemuda itu. “Ayo buka mulutmu, Jaehwan-ah~”

Ck, apa aku seperti anak kecil?”

Kata-kata Jaehwan barusan sontak membuat Yuki berhenti mencoba menyuapinya cake.  Sekarang gadis itu kelihatan seperti orang bodoh dengan tangan yang menggantung di udara dengan sesendok kue.

Tapi sebelum gadis itu menarik tangannya, Jaehwan buru-buru melahap cake itu dalam satu suapan. Agak membuat Yuki terkejut dengan reaksi tiba-tiba darinya. Namun gadis itu langsung mengulum bibir ketika Jaehwan melempar senyuman.

“Enak, ‘kan?”

“Tidak seenak kue buatan ibuku.” kilah Jaehwan yang kini melahap cake pesanannya sendiri.

Yuki mendecak lidah, lalu sedetik kemudian tertawa pelan. Setidaknya ia bisa lega karena pemuda itu sudah bisa tersenyum kembali. Tidak melipat wajahnya seperti tadi.

“Padahal ada yang ingin kuperlihatkan padamu tadinya.” celetuk Jaehwan tiba-tiba.

Eoh?”

“Malam ini di restauran tadi akan ada permainan biola. Tadinya aku ingin memperlihatkannya padamu, dan juga ada yang ingin kukatakan. Kupikir mengatakannya di tengah-tengah permainan biola akan sangat mengesankan.” Yuki masih belum sepenuhnya mengerti apa maksud dari perkataan Jaehwan. Pemuda itu berbicara panjang lebar dan Yuki hanya mendengarkan seraya mencerna maksud pembicaraan itu. “Tapi kau malah merengek meminta pergi dari sana, bahkan sebelum permainan biolanya dimulai.”

Yuki berdeham untuk menyembunyikan rasa bersalahnya. Menggumamkan sesuatu yang hanya bisa didengarnya sendiri.

“Kau merusak momen yang sudah kupersiapkan sejak kemarin.” gerutu Jaehwan. Hanya beberapa detik mengeluh sebelum kemudian kembali mengulum bibir. “Tapi meski begitu, aku akan mengatakannya malam ini.”

Gadis itu mendongak, melempar tatapan bingung. Sebelum ia membuka suara, Jaehwan langsung memotong. Tidak berniat memberi gadis itu giliran untuk berbicara.

“Aku sudah berlatih beberapa kali untuk mengatakan ini, berbicara sendiri di depan kaca hingga Ravi dan lainnya meledekku, mereka bilang aku benar-benar sudah tidak waras. Walaupun sebenarnya mereka sangat mendukungku, entah bagaimanapun hasil akhirnya nanti.”

Yuki masih membungkam bibir. Mencermati setiap kata yang Jaehwan ucapkan, meski ia sendiri masih belum mengerti. Berbicara di depan kaca, hasil akhir dan sebagainya, sungguh membuat Yuki harus memeras otak hanya untuk memahami maksud perkataan pemuda itu.

Jaehwan mendesah dalam-dalam, mendongak menatap kedua mata gadis itu, dan mengumpulkan semua keberaniannya untuk mengungkapkan sesuatu yang sudah ia persiapkan jauh hari. Sesuatu yang ia rasakan bahkan jauh sebelum malam ini bergulir. Sebuah perasaan yang dipendamnya sejak pertama kali bertemu dengan gadis asal Jepang ini, hingga menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya pada gadis itu.

“Aku menyukaimu.”

Untuk sesaat waktu seolah berhenti ketika kata-kata itu meluncur dari bibir Jaehwan. Setidaknya itu yang Yuki rasakan. Waktu berhenti dan gravitasi seakan menghilang, membuatnya merasa melayang ke udara. Dan sebersit perasaan aneh muncul dalam dirinya. Perasaan hangat yang mulai menjalar di sekujur tubuh.

Apa?

Buru-buru Jaehwan melanjutkan, “Tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku mengerti mungkin ini berat untukmu, jadi kau bisa memikirkannya dulu. Aku tidak akan mendesakmu untuk memberi jawabannya sekarang, sungguh. Aku —akan menunggu jawabannya.”

“Jaehwan-ah..”

“—dan malam ini aku yang akan menraktirmu!” sambung Jaehwan. Ia terlalu gugup saat ini, karenanya ia berbicara tidak teratur dan tergesa-gesa. Atau mungkin ia terlalu takut dengan jawaban gadis itu yang mungkin saja berbanding jauh dari apa yang diharapkan.

Di sisi lain, Yuki kini menunduk, menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas. Bisa ia tebak, sekarang mukanya tak jauh berbeda dengan kepiting rebus. Dan jantungnya, mengapa berdebar begitu keras?

Natal tahun ini benar-benar berbeda dengan tahun sebelumnya. Kejadian demi kejadian tak terduga terus bergulir bergantian hingga malam berakhir.

-FIN-

Ini fic yang berisi 5 kisah berbeda yang memang sengaja saya jadiin satu oneshot, iseng kepikiran pengen bikin oneshot dengan beberapa cerita yang beda-beda dan akhirnya saya bikin cerita dari OC saya di Indaylee sama beberapa OC saya di POST hehe. Judulnya memang sederhana banget, malah saya sempat mikir “ini kok judulnya agak norak ya” tapi karena ga nemu judul lain yang pas dan memang pertama bikin fic ini yang kebayang cuma judul ini doang jadinya saya pakai deh. Ceritanya memang ga ada yang nyambung satu sama lainnya, memang disini saya sengaja lebih menonjolkan kisah masing-masing tokoh dulu. Sebenernya tiap OC berhubungan satu sama lain, tapi sengaja ga saya jelasin disini dan mungkin di lain fic. Dan buat reader yang masih bingung soal siapa Kiara, Seowoo & Yuki, bisa dilihat di POST , saya juga udah cantumin link-nya di atas jadi tinggal klik trus baca biar paham hehe. Yang masih bingung siapa sih REINE atau siapa sih ORION, kalian bisa baca disini REINE’s profile & ORION’s profile. Sekian ocehan ga jelas dari saya, hope you enjoy it! Jangan lupa tinggalkan jejak~ ^^

-yoo with love-

4 thoughts on “[YiLian Petals] Love Stories

  1. Moonstear says:

    😦 syedih karena bukan pertamax kak ;AA; tapi gaapalah yang penting aku tetep jadi pertamax di hati kak/huoo/dilemparkelaut/abaikan.

    DAEMI IS BACK BACK BACK DUDUDU~ Cie yang sekarang udah berubah lebih berwarna dan senyum-senyum lebar wkwk bahkan Yongguk sampe :O gitu HAHAHAHA. Mau kawin ya mbak? Atau tunangan? sama siapa, Jack?/ditendang/ Walaupun sedikit, tapi aku seneng banget kakak udah mau ngungkit soal Daemi di sini kkk ❤ saranghaek!!

    btw, Nara happy birthday! hihi~! DAN ITU HIMNARA YAALLAH THETHEP CO CWIT PRIKITIW BINGITS SYALALA POKOKE HAHAHA ga ada yang ngalahi sweet-galak couple disini :3

    ECIE MINARI GALAU~ LENNA GA NGAPELIN YA? DIA SIBUK NOH SAMA SEUNGHYUN~/salah/ ya elah, hare gene masih nunggu sms dari ceweknya, datengin lah apatenya :3 masa iya harus Lenna yang gerak waakakak/sinting/siplemparsaja/ ADUH KAK SCENE INI GALAU MAKSIMALNYA DAPET, apalagi pas si Kiara ngambek gegara Minari ngomongin ceweknya, dududu mangstap bingits, dan bagian dia joget-joget terus minari ngegepalin tangan IH BIKIN GREGETAAAN! UDAH SIH JADIAN AJA, LENNA BIAR SAMA AA' SEUNGHYUN ❤ cocok maksimalz pake 'z'

    LHO? aku kira lian sama Yixge udah jadian .___. ternyata belum toh. eh kak, aku demen sama sifat polosnya si Lian sama Yixing, jadinya gimana gitu, bikin gemes juga ❤ cinta jugalah sama couple ini!! Dan si bakpao, ya allah, cintamu bertepuk sebelah tangan nak? Sini sini, kamu mau apa? Rumah, mobil, apartemen aku kasih, cinta juga boleh! /abaikan/duagh!

    REINE DAN ORION INI YA KAK AKU NOBATKAN SEBAGAI SCENE TERPAPORIT DI 'LOVE STORIES' ini yuhuu! ada abang Jungsan lagi bonusnya kak HAHAHA aduh ini manager terkejteh di GK Ent ❤ ❤ :* Ya ampun dion, raja playboy alay, kok Seowoo ga digodain dulu sih? /eh/ DION HARUS SAMA CHAYO, NTAR MINYEOL SAMA SEOWOO AJA :3 /apaah!/ aduh kak, tapi si Seo kasian juga lho, apalagi pas dia nangis gitu T____T aduh nak, aku jadi terhura liatnya dan bisa ngerasain juga apa yang Seo rasain di situ SIP BANGET SCENE ITU. Apalagi pas Minyeol nguping dan kecewa T_T duh, tenang nak, masih ada kesempatan sebelum janur kuning berkembang(?) serobot lah! pake bajaj, paling berapa doang bayarnya, biar gesit! saat saaat saaat! /iniapajen-_-/

    Sekilas sebelum penutup kak, ada beberapa typo menggeliat/? tapi don't cemas, itu ga merusak BAGUSNYA CERITA INI ADUUUH!

    Aku udah baca cerita ini siang pas ujian praktek tadi kak, dan langsung histeris!!! akhirnya yang ditunggu-tunggu dateng juga. Dan karena ff kakak ini aku jadi ikutan gatel nulis FF XD semoga aja kali ini ga kena wb lagi. Nanti aku masukin kiara juga deh :3 ada percakapan bagus antara dia sama Yuya (lho jadi curhat disini) INTINYA MASYA ALLAH KAK, INI CERITA PENUH WARNA DAN INSPIRASI BANGET! MAKASIH BANYAK BANYAK BANYAK DAN TERLALU BANYAK BUAT FF INI. KAKAK BUAT AKU BAHAGIA DI TENGAH UJIAN YANG NGEJELIMET INI /CIUUUMCIUUUM/

    okelah, sekilas komenku kak. Maap ngespam.

    Salam,

    Sang Pertamax hatimu :3

    • Yoo says:

      zeeeen!! kamu selalu pertamax di hati kakak jadi don’t worry be happy /lah

      DAEMI BAAAAAAAAAAACK!!! wkwk salah satu yang bikin kakak semangat nulis fic ini gegara daemi<3 hayooo ada apa gerangan sama daemi yang lebih berseri seri? mungkin dia habis pake clean n clear jadi lebih cerah ekspresinya /krik/ hanya sang empu yang tau ada apa daemi bisa sumringah begitu kkk~ /lirikzen/

      thanks, zen-ssi 🙂 /ininarayangngomong/ /plak/ dia nanya mana kadonyaaaa???? wkwkwk
      himnara di manis manisin dulu sebelum diremuk remukin nantinya /eh/ HAHAHAHAHAHAHAHA

      TAU ITU SI MINARI GA BISA GERAK DULUAN APA, NUNGGUIN AJA KERJAAN! /dijitakminhwan/ BUAHAHAHAHA LENNA LAGI SIBUK SAMA HYUN DAN NASIB MINHWAN NGENES DITINGGALIN SUKURIN KAMU MINHWAN! kiara juga ga mau sama cowok yang ga peka /eaaaaaa/ hahahahaduh perut mules nahan ketawa xD

      beluuuum, lian sama yixing belum jadian tapi masih dalam proses tapi juga belum tentu jadi sih /LOH/ TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK XIUMIN UDAH KAKAK BOOKING DI HATI PALING DALAM BUAHAHAHAHA /ditimpukfansnyaxiumin/ rasanya puas bisa bikin bakpao galau disini HA HA HA

      bagian reine-orion kakak bikinnya pake emosi, cucu kakak yang paling dicintai -sebut saja namanya dion /wkwkwk/- bikin seowoo nangis emang dasar playboy cap kecoa dia mah ga ada bener benernya sedikitpun! ngapain juga seo nangisin cowok macam dia!! /iniempunyakenapa/ dion aslinya juga cenat cenut papasan sama seo tuh tapi dia sok cool aja eh salah maksudnya sok jutek /? wkwk. IYAAAAA SAMA GA TEGA BIKIN MAKNAE MINYEOL KICIWI PITIH HITI KAYAK GITU ;___; tapi puas juga sih /buagh/ kakak suka nistain cast cowok, ga ngerti kenapa NGAHAHAHAHA /ketawasetan/

      KAMU JUGA MANA FIC SEUNG-LEN NYAAAAAAAAAAA???? hihi kakak selalu setia nungguin karya kamu oke adek sehati senasib seperjuangan yang selalu pertamax di hati /lovesign/ SEMANGAT UJIANNYA YA ZEN PASTI BISA!! /sorakalacheerleader/ SEMANGAT BERKARYA JUGA! FIGHTO!! ^^

      makasi udah ngespam komen di fic kakak ini, spam komen kamu bikin kakak semangat buat nulis lagi hehe. SARANGHAE<3

      -yoo with dujun-

Leave a Reply to Yoo Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s