[KaiNa Piece] Surfeit

Title : Surfeit

Author : Ima (@kaihyun0320)

Casts : Kim Jongin (Kai), Lee Hana (@inhanaLee)

Other casts : EXO, Kang Yun Woo

Please read Lee Hana’s Profile first.

Enjoy ^^

© INDAYLee’s Staffs 2013

[KaiNa Piece] Surfeit

December 14th, 2013

Hana’s Apartment

10.20 AM

Melewati libur musim dingin dengan kesendirian.

Hana hanya menghela napas panjang sembari berguling kembali di atas tempat tidurnya. Jika sedang sendirian seperti itu, banyak sekali pernyataan yang berkecamuk di kepalanya. Mengenai sekolah, Jerman, Kai, dan EXO. Tes masuk perguruan tinggi di Korea sudah ia lewatkan begitu saja. Hana bahkan tidak ingat sama sekali karena pertengkaran hebat –dan berpisah dengan Kai waktu itu. Kemungkinan terbesarnya, setelah lulus Hana akan benar-benar melanjutkan sekolah di Jerman.

Namun meninggalkan Korea dan Kai –lagi-lagi yang mengganjal pikirannya. Menjalin hubungan jarak jauh dengan idola super sibuk seperti Kai bisa membuatnya gila. Hanya berjarak dua lantai pun, Hana hanya bisa bertemu dua minggu sekali. Tidak pernah saling telepon. Dan memberi kabar seadanya saja. Hana terlalu mengerti dengan semua kesibukan Kai dan popularitas EXO yang meningkat drastis akhir-akhir ini. Apalagi sejak EXO Showtime dibuat, Hana sudah diceramahi oleh Seung Hwan agar tidak sering-sering bertemu EXO selama acara masih ditayangkan.

“Hfft.”

Dua kali akhir pekan sudah dilewati dengan bermain games di laptop saja seharian. Mungkin di akhir pekan ketiga akan sama saja. Lagipula Kai belum membalas pesannya sejak tadi pagi dan Hana malas untuk berusaha mendapat kabar dari laki-laki itu.

Bosan. Entah ada apa dengan dirinya sendiri, Hana tidak mengerti. Mendengar orang-orang selalu membicarakan EXO dan memuja kekasihnya, rasanya Hana harus sering-sering menelan batu besar dan menahan rasa mengganjal di kerongkongannya. Satu tahun lebih kemarin tidak pernah seberat itu menjalin hubungan dengan Kai. Dan disaat sudah mulai mengerti, Hana malah ragu dengan perasaannya sendiri. Mungkin Kai merasakan hal yang sama dengannya karena mereka memang tidak seperti pasangan kekasih pada umumnya –yang sering bertemu dan berkencan. Kai dan Hana terlalu sering menghabiskan waktu di apartemen saja, menonton televisi, bermain games, atau saling berdebat karena satu hal.

Tanpa sadar Hana malah menitikkan air mata. Hana ingin bertemu Kai. Kim Jonginnya dan bukan Kim Jongin milik fans. Hana ingin egois hari itu saja.

“Oh, Lee Hana. Dasar bodoh.”

Hana akhirnya merutuki diri sendiri sambil beranjak dari kasur dan menghapus air mata di pipinya. Ia masuk kamar mandi untuk sekedar menggosok gigi dan mencuci muka saja. Terlalu malas untuk menyiramkan air es ke tubuhnya di hari Sabtu menjelang siang itu.

Hanya tersisa dua potong roti untuk sarapan dan Hana akhirnya membuat segelas susu cokelat untuk membantu mengganjal perutnya. Ia menyalakan televisi di ruang tengah, menonton acara-acara yang tidak menarik. Hidupnya benar-benar tidak terasa menarik entah kenapa, Hana butuh hiburan lebih dari hanya sekedar televisi atau games.

Mungkin berjalan-jalan bersama Nayeon, Chanra, Hanji, atau Seri, bisa membuat moodnya sedikit naik.

***

The Quirrel Coffee and Kitchen

12.03 PM

Sosok gadis berambut cokelat sepunggung dan berambut panjang di dalam café itu terlihat heboh membicarakan sesuatu. Tidak peduli dengan orang-orang yang memandang aneh ke arahnya –dan sahabatnya karena selalu berdebat. Pada akhirnya sang gadis berambut cokelat hanya bisa mengalah dan tidak mau membahas lebih jauh masalah tidak penting yang mereka bicarakan.

Nayeon menyenggol lengan sahabatnya. “Kau marah, Ra-ya?”

Anhi,” Chanra memalingkan wajahnya lalu menggeleng pelan. “Kenapa Hana belum datang juga sih?”

Ya. Kau ingat berapa lama kita tidak bertemu Hana?” tanya Nayeon dan membuat Chanra kembali menoleh menatap gadis itu.

“Dua bulan? Atau tiga?” Chanra mengingat kembali pertemuannya dengan Hana, ketika mereka makan malam bersama di dorm EXO. Terakhir sebelum Chanra dan Nayeon fokus untuk mengikuti ujian tes masuk perguruan tinggi.

“Empat bulan, Ra. Empat bulan,” sahut Nayeon tiba-tiba.

“Kau bercanda?” tanya Chanra tidak percaya.

“Kita ujian SAT bulan Agustus. Satu bulan sebelumnya kita tidak keluar rumah, Park Chanra.”

“Astaga,” Chanra mengusap pelipisnya, merasa pusing karena waktu berjalan begitu cepat. Dan membuatnya ingat dengan Kris juga. Rasanya ia mulai merindukan pria itu.

Nayeon tiba-tiba saja diam dan mengingat pertemuan terakhirnya dengan Hana. Mereka membicarakan banyak hal dan terlalu banyak tertawa. Disaat itu juga mereka terakhir bertemu Hanji dan Ri-Ah. Jika Hanji dan Ri-Ah tidak mempunyai jadwal lain hari itu, mungkin mereka akan ikut berjalan bersama.

“Na eon! Chanra-ya!” seru Hana dari pintu masuk café dan segera berlari menghampiri dua wanita –yang baru saja kembali ke alam sadarnya.

“Uwaa!” sahut Chanra heboh lalu menyambut pelukan Hana yang tiba-tiba. Begitu juga dengan Nayeon yang memberi pelukan hangat pada gadis itu.

Hana terkikik geli lalu menarik tempat duduk di dekat keduanya. Ia menatap satu per satu wanita yang lebih tua beberapa bulan darinya itu dengan berbinar. Berkumpul dengan sahabat memang satu-satunya jalan untuk mengobati semua kebosanannya.

“Ah, kalian ikut tes SAT?” tanya Hana antusias.

Chanra menghela napas panjang lalu mengangguk lemah. “Sudahlah jangan dibahas. Kau tidak ikut, ya?”

Eomma menyuruhku kuliah di Jerman, tapi tidak tahu juga. Aku masih bingung,” Hana melebarkan senyum polosnya lalu meneguk Americano panas milik Nayeon.

“Kau mau meninggalkan Jongin?”

“Uhuk. Uhuk,” Hana hampir saja menyemburkan kopi panas di mulutnya karena pertanyaan Nayeon. Ia dengan cepat membersihkan bibirnya lalu tersenyum polos. “Aku masih bingung, eonni.

“Kalian kenapa lagi?” tanya Chanra. Ia sudah terlalu mengerti jika Hana sudah mulai membahas negara asalnya. Karena Hana tidak mungkin akan kuliah di luar Korea jika gadis itu tidak bermasalah dengan Kai.

Wae? Aku kenapa?” tanya Hana polos.

“Kau dan Jongin. Kalian bertengkar lagi?” tanya Chanra.

Anhi. Komunikasi saja jarang, tidak mungkin kita bertengkar, Ra-ya,” Hana menggeleng lalu menghabiskan sisa kopi panas milik Nayeon, tidak peduli bagaimana tatapan iblis Nayeon sudah mengarah padanya.

Nayeon mengeluarkan ponselnya untuk mengecek jadwal EXO hari itu. “Kita ke Music Core?”

“Jangan.”

“Ayo!”

Hana dan Chanra berseru bersamaan namun berlawanan. Sebenarnya Hana sedang malas bertemu dan berinteraksi dengan Kai. Harusnya Kai yang menghampiri Hana ke apartemen dan bukan Hana yang selalu mengikuti jadwal sibuk laki-laki itu.

“Jalan-jalan di sekitar Cheongdam atau Hongdae saja. Tidak ada Jongin juga di Music Core,” elak Hana sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Terdengar helaan napas dari Nayeon. Sekali lagi, Hana hanya ingin egois hari itu saja. Perasaannya benar-benar sangat buruk dan menolak semua hal yang menyangkut EXO.

***

SM Building

03.15 PM

Suara tawa Kai terdengar menggema dari salah satu ruang latihan di gedung SM sore itu. Tingkah Chanyeol dan Sehun benar-benar membuat perutnya sakit karena terlalu banyak tertawa. Jika Baekhyun masih ada di sana, mungkin bisa lebih parah dan bisa membuat rahang Kai terasa kaku. Sementara member yang lain juga hanya ikut tertawa dan terkadang menambah kekonyolan itu. Kecuali Kai tentu saja, karena ia bukan seseorang yang suka berbicara.

Ya. Ya. Jangan mulai lagi, Sehuna,” protes Suho dan membuat Sehun diam seketika.

“Astaga, pipiku,” Xiu Min mengusap kedua pipinya yang mulai terasa pegal dan sudut matanya yang berair.

Sementara Kris menatap lurus ke arah enam orang yang ada di ruang latihan itu dengan datar. Sesekali ia memainkan ponsel untuk membalas pesan Chanra dan tidak memperhatikan lelucon Chanyeol. Sangat jarang mendapat waktu seluang itu untuk bisa menghubungi kekasihnya. Jika tidak ada jadwal di malam hari, mungkin ia sudah mengunjungi Chanra di rumahnya, sudah cukup lama tidak bertemu gadisnya itu.

“Aaah jinjja,” Kai akhirnya mengeluarkan suaranya yang masih setengah tertawa itu. Rasanya ia terlalu banyak tertawa akhir-akhir ini.

Namun entah kenapa semua tawaan itu bertolak belakang dengan perasaannya.

“Jongin-ah, temani aku makan,” ajak Kris seraya beranjak dari duduknya. Kai menatap pria yang lebih tua darinya itu kemudian segera berdiri.

“Jangan lama-lama, sebentar lagi kita berangkat ke Mount,” seru Suho dan Kris hanya mengangkat ibu jarinya ke udara.

Kai menutupi kepalanya dengan topi lalu menyusul langkah panjang Kris di depan –yang baru saja keluar dari gedung SM. Ia tidak memedulikan fans yang sedikit berteriak melihat mereka dan mensejajarkan langkahnya dengan laki-laki itu. Tidak perlu berjalan jauh, Kris sudah berbelok ke sebuah restoran jjangmyeon dan duduk di salah satu kursinya. Kai yang tidak mengerti hanya duduk saja dan menunggu Kris memesan makanan.

“Ada apa, hyung?” tanya Kai akhirnya. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan hyungnya itu karena berjalan sangat cepat tanpa berbicara.

Anhi. Gwenchana,” jawab Kris lalu tersenyum lebar. “Aku hanya lapar.”

“Astaga,” Kai mengusap wajahnya seraya menggeleng pelan. “Kukira ada masalah penting.”

“Sebenarnya ada masalah, mungkin tidak penting untukmu.”

Kai mengalihkan pandangannya untuk menatap Kris penuh tanda tanya. Tidak biasanya Kris berbicara dengan nada serius seperti itu.

“Ponselmu mana?” tanya Kris tiba-tiba seraya mengulurkan tangannya.

“Kenapa?” tanya Kai namun tetap merogoh saku celana lalu meletakkan ponselnya di atas tangan besar Kris.

Laki-laki yang lebih tua empat tahun darinya itu memainkan ponsel Kai dalam diam, sementara sang pemilik ponsel hanya mengernyit heran. Tidak mengerti dengan tingkah hyungnya yang tiba-tiba menjadi seorang penyelidik seperti itu.

Kris hanya tersenyum simpul lalu menyerahkan kembali ponselnya pada Kai. “Kau tahu masalah apa –yang tidak penting untukmu itu?” Tepat ketika Kai menggeleng, Kris malah menyeringai kecil dan sedikit mendekat untuk berbisik pada laki-laki itu.

“Sekarang Chanra sedang bersama Hana dan gadis itu benar-benar tidak baik.”

***

Coffeebene, Cheongdam-dong, Seoul

09.43 PM KST

Sebenernya Hana tidak suka menyendiri. Sooyeon dan Chanra harus pulang lebih dulu satu jam yang lalu dan Hana masih tetap di sana, malas untuk menghabiskan waktu –sendirian lagi di apartemen. Ia bahkan sudah menghabiskan dua gelas macchiato dan bisa dipastikan tidak akan bisa tidur semalaman. Hana memang terlalu bodoh karena memesan minuman yang malah membuatnya akan semakin sendirian nanti malam.

Hana sudah bercerita pada kedua sahabatnya –secara tidak sengaja. Dan Chanra menyarankan ia harus segera bertemu Kai dan membicarakan masalah itu. Masalah rasa bosan, kesendirian, kesibukan, dan kuliah. Bahkan masalah keduanya sejak dulu hanya itu saja, namun rasanya kali ini Hana sudah merasa lelah.

“Ah, jinjja,” Hana merutuk ketika sisa macchiato dalam cangkirnya tumpah ke atas mantel cokelatnya. Ia meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja lalu segera mengambil tisu untuk membersihkannya.

“Kau masih tetap bodoh?”

Hana mengangkat kepalanya dan menemukan seorang pria tengah berdiri di depan mejanya sambil melipat tangan di depan dada. Dan jangan berharap Kai yang berdiri di sana.

“Kenapa kau disini?” tanya Hana malas tanpa mau menatap laki-laki itu.

“Jalan-jalan,” Yun Woo menjawab singkat kemudian menarik kursi di hadapan Hana. “Ah, terima kasih ya.”

Kening Hana berkerut heran. Ada yang aneh dengan kata-kata Yun Woo, namun Hana tidak tahu apa. Sepertinya Yun Woo tengah berusaha menyuruh Hana untuk berpikir lebih cepat, namun gagal.

“Kau kenapa?” tanya Hana akhirnya. Menyerah dengan semua spekulasi di kepalanya.

“Ponselmu yang tertinggal di kelas. Kau tidak mau berterima kasih?” Yun Woo menyeringai pelan seraya menaikkan sebelah alisnya. Bertanya secara sarkastik pada gadis itu.

“Ah, jinjja,” ternyata Yun Woo sama saja seperti Kai –yang haus akan ucapan terima kasih. “Aku sudah bilang terima kasih. Kukira ponselku hilang di bis atau supermarket waktu itu.”

“Kalau benar-benar hilang, kau pasti sudah menjadi headline di setiap website dan Koran, Lee Hana,” sahut Yun Woo dan menatap Hana –yang kini sudah menundukkan kepala menghindari tatapannya.

W-wae?” tanya Hana gugup. Hana meremas ujung mantelnya dan berharap Yun Woo tidak membahas Kai –atau moodnya akan semakin memburuk.

Ah, dwasseo. Aku tidak mau ikut campur,” Yun Woo mengalihkan pandangannya untuk melihat papan menu di dekat kasir. “Ya. Traktir aku Americano.

“Aku mau pulang sekarang, kau beli saja sendiri. Cish~,” Hana meraih beberapa tas karton di dekat kakinya kemudian berjalan cepat keluar dari café itu.

Hana merapatkan mantelnya saat angin berhembus. Ia menghirup napas sedalam mungkin –agar wajah Kai menghilang dari kepalanya dan memutuskan berjalan lebih lambat untuk menikmati suasana malam di Cheongdam. Mengingat ponsel, Hana sengaja tidak membawa ponselnya seharian itu agar tidak terus berharap Kai membalas pesannya. Dan agar Hana tidak sering membuka twitter, mengecek foto atau mencari tahu apa yang sedang dilakukan kekasihnya.

Tidak, Hana bukan seseorang yang cengeng dan suka menangis. Namun mengingat Kai memang akan selalu membuat matanya berkaca-kaca, Hana tidak mengerti. Mungkin ia harus memeriksakan diri ke dokter dan memastikan matanya baik-baik saja. Ia benci ketika harus menjadi lemah dengan menangis seperti itu.

“Kau menangis?”

Hana mengusap pipinya dengan cepat ketika Yun Woo kembali muncul dan berdiri di hadapannya. “Neo mwoya?”

Eish, ternyata kau bisa menangis juga. Ah, biar kutebak, kau merindukan laki-laki itu?” tanya Yun Woo seraya menyingkir dari hadapan Hana dan berjalan bersama gadis itu. “Berapa lama kalian tidak bertemu?”

“Bukan urusanmu, Yun Woo-ssi,” jawab Hana malas.

Keuraeseo,” Yun Woo mengusap dagunya sendiri. “Kau sudah mengecek ponselmu? Mungkin ada yang berubah dari sana.”

Seolma. Kau tidak menghapus foto-foto Jongin ‘kan?” tanya Hana tiba-tiba seraya menghentikan langkahnya. Yun Woo ikut berhenti kemudian sedikit memutar tubuhnya agar bisa menatap Hana. Laki-laki itu malah tersenyum simpul.

“Cek saja sendiri,” Yun Woo terkekeh pelan kemudian melanjutkan langkahnya, diikuti Hana sedetik kemudian.

Dan Hana sendiri tidak mengerti kenapa ia bisa berjalan bersama Yun Woo sekarang.

Wasseo,” ucapan Yun Woo membuyarkan lamunan Hana seketika. “Aku pulang sekarang.”

Hana bahkan belum sempat mencerna kejadian itu ketika melihat Yun Woo berbalik dan berjalan melewati jalanan yang baru saja mereka lewati. Apa Yun Woo baru saja mengantarnya pulang? Hana mendesis pelan, setelah memastikan punggung Yun Woo menghilang, ia dengan setengah berlari memasuki lobi gedung apartemen.

***

Hana’s apartment

10.00 PM KST

“Han-ah.”

Suara husky Kai terdengar menggema di ruang tengah apartemen Hana. Ia memakai sandal di dekat pintu lalu melangkah memasuki apartemen gadisnya. Tidak terlihat tanda-tanda keberadaan gadis itu dari arah mana pun. Kai bahkan menemukan ponsel Hana tergeletak begitu saja di atas meja ruang tengah bersama laptop dan piring kotor dengan setengah potong roti di atasnya.

Kai mendesis pelan, ia mengambil ponsel Hana dari atas meja lalu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Ia menemukan pesan dan panggilan tidak terjawab –dari dirinya sendiri lalu sebuah pesan yang baru saja masuk. Sebuah pesan dari kontak bernama Kang Yun Woo.

‘Sudah tahu apa yang berubah dari ponselmu? Keurae, ada nomorku sekarang ㅋㅋㅋ Ah, kau sudah sampai di apartemen?

Ige mwoya,” Kai mendecak pelan membaca pesan dari pria itu. Belum sempat keluar dari kotak masuk pesan itu,  Yun Woo kembali mengirim pesan.

Jangan membuang air di dalam tubuhmu di musim dingin seperti ini. Termasuk menangis. Ulljima.’

Kai masih menatap pesan dari Yun Woo itu ketika sekelebat bayangan Hana yang tengah menangis kembali berputar di kepalanya. Selama ini Kai tidak pernah tahu apa yang dirasakan Hana dan mengetahui keadaan gadisnya dari orang lain. Entah kenapa Kai merasa semakin takut. Ia takut Hana akan benar-benar meninggalkannya karena semua itu.

Suara pintu terbuka terbuka membuat Kai refleks meletakkan ponsel Hana ke atas meja. Ia segera berdiri dari sofa dan memperhatikan Hana yang berjalan dengan menundukkan kepala ke arah ruang tengah. Gadis itu terlihat semakin kurus.

“Kenapa baru pulang?”

Hana terlonjak kaget lalu mengangkat kepalanya. Apa laki-laki di hadapannya saat itu benar-benar Kim Jongin? Laki-laki itu terlihat semakin chubby dengan rambut yang lebih pendek dan berwarna hitam seperti itu. Membuat Kai semakin sempurna saja di mata Hana.

“Jalan-jalan dengan Na eonni dan Chanra,” jawab Hana malas seraya meletakkan tas karton di dekat meja lalu duduk di sofa –setelah meraih ponselnya di atas meja. Ia membuka panggilan tidak terjawab dan pesan dari Kai.

“Bukan dengan Kang Yun Woo?” tanya Kai sarkastik –tepat saat Hana menangkap nama Yun Woo di dalam kotak masuk ponselnya.

Ah, dwasseo. Aku hanya bertemu dengannya tadi,” Hana meletakkan kembali ponselnya kemudian menghela napas panjang. Ia tidak tahu sejak kapan atmosfer diantaranya dan Kai berubah menjadi canggung seperti itu.

Kai –ikut menghela napas panjang sebelum duduk bersama Hana di sofa. Ia menyalakan televisi di depannya kemudian bersandar pada sofa, mencari posisi senyaman mungkin. Sementara Hana hanya diam saja dan menatap kosong ke arah televisi. Ada apa dengan gadis itu sebenarnya?

“Ada masalah?” tanya Kai akhirnya, memberanikan diri untuk setiap jawaban yang akan diterimanya. “Atau kau sakit?”

Tangan Kai –yang akan memegang kening Hana terhenti di udara ketika gadis itu menoleh ke arah lain untuk menghindari tangannya. Kai selalu benci terjebak di suasana canggung bersama Hana. Dan selalu benci saat Hana tiba-tiba diam atau dingin seperti sekarang. Sosok Hana yang seperti itu adalah seorang yang asing bagi Kai. Ia hanya ingin melihat tawaan dan tingkah bodoh gadis itu.

Err, kau sudah makan belum?” tanya Hana akhirnya seraya mengambil tas karton di dekat kakinya dan mengeluarkan tas plastik berwarna hitam berisi tteokbogi  lalu meletakkannya di atas meja. Akhirnya Hana harus mengalah dan berusaha tidak membuat suasana menjadi lebih canggung lagi.

“Uwaa,” Kai bergumam heboh sambil membuka plastik wrap penutup tteokbogi lalu mengambil sebuah sumpit yang berada di dalam tas plastik itu juga. Ia melirik Hana –yang tengah menahan tawa di depannya. “Wae?”

“Kau selalu lapar, eoh? Aigoo~, kau harus lihat pipimu sekarang, kkaman,” ledek Hana dengan jari telunjuk menekan kedua pipi Kai secara bersamaan. Bagaimana pun keadaannya, Kai selalu bisa membuat jantungnya berdetak cepat dan mengobati semua rasa rindunya. Masalah yang seharian itu berkecamuk di kepalanya pun seolah menghilang begitu saja. Ia hanya ingin menghabiskan waktunya bersama Kai sekarang.

Dwaesseo, setiap promosi aku pasti kurus lagi. Aaa~,” Kai menyumpit satu potong tteok dan membawanya ke depan mulut Hana.

“Tapi kau harus tetap makan yang banyak, jaga kesehatan,” sahut Hana seraya membuka mulutnya dan menerima suapan tteok dari Kai. Rasanya aneh ketika ia dan Kai melakukan hal yang romantis seperti itu.

Ya! Memangnya sesusah itu mengetik pesan untukku, Kim Jongin?”

Kai masih mengunyah tteok di mulutnya ketika pukulan ringan Hana mendarat di lengan atasnya dan membuatnya tersedak. “Uhuk. Ya! Ambilkan aku air.”

Hana hanya mendesis pelan sebelum beranjak dari sofa dan dengan setengah berlari memasuki dapur. Mengambil sebotol air dingin dan dua buah gelas dari dalam lemari kemudian membawanya ke ruang tengah. Laki-laki itu segera mengisi gelasnya penuh dengan air dan menghabiskannya dalam beberapa kali teguk.

“Kenapa tidak membalas pesanku, kkaman?” tanya Hana lagi –akhirnya setelah melihat Kai sudah bisa kembali bernapas normal.

Tatapan Kai tertuju pada ponsel Hana di atas meja. “Aku sudah membalasnya, Han-ah.”

“Kenapa baru hari ini? Kau pasti tahu sebanyak apa pesan yang kukirim sejak kemarin-kemarin. Dasar bodoh,” sahut Hana seraya mendesis gemas lalu kembali memukul lengan atas Kai. “Aku benci mendengar kabarmu dari media sosial.”

“Tapi kau juga bersenang-senang dengan Yun—ho, Yun—ha atau siapapun namanya temanmu itu ‘kan?” Kai malah balik bertanya dan Hana mencubit lengannya dengan cukup keras. “Ya. Ya. Jangan membuat tanda disana.”

“Memangnya kenapa kalau aku pergi dengan Yun Woo? Itu lebih baik daripada sendirian di apartemen dan menunggu pesan darimu, Kim Jongin.”

Ucapan Hana berhasil menyentuh titik tersensitif di hati Kai. Saat ini Kai berpikir bahwa Hana mungkin memang sudah bosan dengan hubungan ‘semu’ mereka dan memberikan kode seperti itu agar Kai bisa memberi keputusan pertama.

“Kau mau kita putus…. lagi?” tanya Kai sontak membuat Hana menoleh cepat.

Museun iriya? Kenapa malah bertanya seperti itu?” Hana merasakan hatinya mulai terasa sakit ketika kata-kata –yang paling dibencinya itu keluar dari bibir Kai.

“Kau bilang jalan dengan Yun Woo jauh lebih baik daripada menungguku ‘kan?” Kai bisa mendengar suaranya sendiri mulai bergetar. Astaga. Gadis itu sudah berhasil mengacak-acak hatinya.

Pabo,” kali ini Hana yang merutuk karena melihat tatapan Kai mulai berubah padanya. “Aku tidak mungkin bisa pergi dengan laki-laki lain sementara kau tidak ada kabar sama sekali. Tadi siang aku pergi dengan Nayeon dan Chanra, bukan dengan Yun Woo. Jadi kau tidak perlu takut atau cemburu seperti itu.”

“Cemburu? Eish, aku bukan tipe laki-laki yang seperti itu, Lee Hana,” elak Kai seraya menyuapkan tteok ke dalam mulutnya lalu kembali menyumpit potongan lainnya untuk Hana.

“Ya sudah, aku akan telepon Yun—mmmhhwoyah,” ucapan Hana terpotong saat Kai memasukkan tteok ke dalam mulutnya secara tiba-tiba.

“Jangan membahasnya lagi.”

***

Suasana menjadi hening beberapa saat setelah tteokbogi sudah habis dan hanya ada suara dari televisi yang menemani keduanya. Kai menoleh sejenak dan menemukan Hana sudah terkantuk-kantuk dengan mencoba menahan posisi kepalanya agar tetap tegak. Ia menyeringai pelan sebelum bergeser mendekati Hana dan meletakkan kepala gadis itu di pundaknya. Matanya tidak sengaja menangkap noda kehitaman di bagian bawah mantel Hana dan memastikan bahwa noda itu berasal dari kopi. Sudah minum kopi pun Hana bisa dengan mudahnya tertidur seperti itu.

Kai meletakkan kepala Hana sejenak di sandaran sofa lalu berusaha membuka mantel tebal yang dipakai gadis itu. Apartemen Hana sudah dipasang penghangat dan ia tidak mau gadisnya kepanasan karena mantel itu. Apalagi ada noda kopi yang akan mengundang semut jika dibiarkan. Jadi Kai dengan hati-hati mengeluarkan tangan Hana dan tangan yang berada di sisi lain membuatnya secara tidak sengaja memeluk tubuh gadis itu.

Sejak kapan tubuh Kai tiba-tiba menjadi panas ketika bersentuhan kulit dengan Hana?

Tanpa memedulikan rasa aneh di tubuhnya sendiri akhirnya Kai berhasil melepaskan mantel Hana dan tetap membuat gadis itu terlelap. Kai membiarkan Hana tertidur bebas di sofa sementara dirinya membereskan meja ruang tengah dan mencuci beberapa piring kotor yang ada. Semua yang ia –paling tidak mau lakukan di dorm pun terpaksa harus ia lakukan di sana.

Eish, Lee Hana bodoh,” Kai merutuk ringan ketika menemukan beberapa bungkus ramen terselip di tempat bumbu dan panci yang juga kotor di atas kompor. Gadis itu ternyata selalu makan makanan cepat saji –yang jelas-jelas sudah Kai larang sebelumnya.

Setelah menyelesaikan semua tugasnya di dapur Kai kembali duduk di sofa dengan meletakkan kepala Hana di atas pahanya sebagai bantal. Sementara dirinya sendiri mengotak-atik ponsel gadisnya dan menghapus pesan tidak penting dari Yun Woo. Ia membuka aplikasi kamera dan mengambil gambar dirinya sendiri –dengan sedikit memasukkan wajah Hana yang tertidur.

Neo mwohae,” gumam Hana seraya mengucek kedua matanya –karena terkenal blitz kamera kemudian mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Ia menatap Kai –yang tengah tertawa geli saat melihat ponselnya.

“Kau dihukum karena tidak mengerjakan tugas Fisika?” tanya Kai seraya menunjukkan foto Hana –yang tengah berdiri di depan kelas menghadap papan tulis dan membelakangi kamera.

Dwaesseo. Kau belum mau pulang juga? Aku mau tidur,” Hana menguap lebar dengan mata setengah terbuka dan mencoba meraih ponselnya dari tangan Kai.

“Ayo tidur bersama.”

PLETAK

Tangan Hana pun dengan refleks memukul kepala Kai –yang mulai berbicara aneh di malam hari. “Pulang sekarang atau aku akan telepon polisi.”

“Memangnya apa, bodoh? Aku mau menginap di sini, jadi jangan menyuruhku pulang ke bawah,” balas Kai gemas seraya meletakkan ponsel Hana kembali ke atas meja.

Seharusnya Hana bisa  mengabaikan pertanyaan yang kembali berkecamuk di kepalanya. Namun sepertinya kali ini ia memang harus membicarakannya dengan serius. Karena cepat atau lambat, ia memang harus membuat keputusan.

Kkaman,” panggil Hana –dengan kedua mata setengah terbuka mencoba menatap mata kekasihnya. “Aku akan kuliah di Jerman.”

Mwoya? Kau mimpi apa?

“Aku tidak ikut tes SAT untuk kuliah tahun depan.. Jadi mungkin appa akan menyekolahkanku di Jerman. Tapi aku belum membahasnya dengan appa, masih pertimbangan di kepalaku saja,” Hana kembali menguap lebar dan baru saja akan kembali tertidur ketika Kai memeluknya dari samping dan kepala laki-laki itu jatuh di pundaknya. Rasa kantuk yang ada pun menghilang begitu saja.

Tidak ada suara yang keluar dari Hana maupun Kai. Keduanya masih berada di posisi yang sama dan Kai semakin melingkarkan lengannya di leher Hana. Terkadang Kai merasa bersalah karena Hana mengabaikan kuliah hanya karena dirinya. Mengabaikan tes SAT karena pertengkaran hebat mereka. Jika Hana tinggal di Jerman, Kai tidak bisa menemukan seseorang yang selalu bisa menghapus rasa lelahnya. Tidak ada Hana ceroboh dan bodoh yang selalu menjadi tempat keluh kesahnya.

Kkaman,” Hana bergumam pelan seraya menarik napas dalam. “Aku juga tidak mau kuliah di Jerman. Tapi kalau keadaan memaksa, aku harus apa?”

“Kau harus tetap di sini, Han-ah.”

“Kim Jongin,” suara Hana mulai terdengar bergetar, membayangkan semua yang sudah dilewatinya selama ini dengan Kai. Namun ia masih berusaha menahan tangisnya. “Aku sendirian dan kau semakin sibuk. Setiap pulang sekolah hanya buka SNS, main game, makan, dan tidur. Dua atau tiga minggu sekali kau baru bisa datang ke sini. Mungkin aku….. bosan seperti ini terus.”

Kai melepaskan tangannya dari leher Hana kemudian menghela napas panjang. Sudah bisa ditebak apa yang mengganggu pikiran Hana sejak tadi. Hubungan mereka memang tidak sehat karena sangat jarang berkomunikasi dan sangat jarang jalan-jalan bersama. Harusnya Hana bisa mendapatkan kenangan yang lebih baik dengan pria lain di luar sana.

“Mau jalan-jalan keluar?”

***

Sudah lewat tengah malam, udara sangat dingin dan Kai yang menggenggam tangan Hana dengan sangat erat. Berjalan-jalan di sekitar sungai Han walaupun Hana harus sedikit menggigil karena angin yang selalu berhembus, namun tetap menyenangkan jika bersama kekasihnya sendiri. Sementara Kai –yang tanpa make up dan topi yang direndahkan berjalan dengan ekspresi dingin di sampingnya. Hana tidak salah bukan? Ia hanya berusaha mengungkapkan apa yang berada di kepalanya saja pada Kai. Tidak menyangka bahwa Kai akan berpikir keras hingga tidak mengacuhkannya seperti itu.

Hana menarik tangan Kai hingga membuat langkah keduanya terhenti. Kai sedikit berbalik untuk bisa menatap gadisnya yang tiba-tiba berhenti melangkah. “Wae?”

“Kau yang kenapa kkaman, cish~,” Hana menghela napas sebelum duduk di anak tangga –yang baru saja mereka lewati. Ia duduk menghadap sungai Han yang memantulkan cahaya dari gedung-gedung tinggi Seoul. “Apa yang kau pikirkan sih?”

“Ucapanmu yang tidak bisa hilang dari kepalaku, Lee Hana,” balas Kai lalu ikut duduk di sebelah Hana. Sudah lama rasanya ia tidak menghirup udara luar dengan bebas seperti itu. Jadwal yang sangat padat dan fans yang selalu berkeliaran selalu membuatnya tidak bisa bebas keluar. Jika syuting EXO Showtime pun, ia diawasi kamera dan harus melakukan hal sesuai arahan produser agar tidak keluar konsep. Dunia Kai selalu penuh dengan kepura-puraan dan aturan yang mengikat.

Hana menggosok kedua tangannya, mencoba mencari kehangatan dari sana. “Keurae, jangan dipikirkan. Itu ‘kan hanya isi pikiranku saja.”

“Tapi itu hal yang serius, Han-ah.”

Kemudian suasana kembali menjadi hening. Hana sendiri tidak tahu apa yang diinginkannya setelah mengutarakan isi pikirannya tadi. Yang jelas, ia tidak mau berpisah dengan Kai walaupun merasa bosan dengan semua hal yang dilakukannya dan dengan kuliahnya sebentar lagi. Meninggalkan Kai jelas bukan tujuan utama atas semua permasalahan di kepalanya.

Ya. Aku lapar,” rengek Hana dan membuat Kai menoleh dengan cepat.

“Lalu aku harus apa?”

“Ya sudah, aku beli sendiri saja,” jawab Hana kesal seraya bangkit namun Kai malah menahan kedua pundaknya.

“Tunggu di sini,” Kai merapatkan mantel milik Hana lalu berjalan cepat menaiki tangga ke arah jalanan.

Begitulah Kai yang selama ini dikenalnya. Selalu mencoba untuk menjaga gengsinya, namun akhirnya selalu mengalah untuk dirinya. Sekali pun, Hana tidak pernah menyesal menjalin hubungan dengan Kai. Ia hanya merasa bosan harus sendirian setiap hari dan menunggu balasan pesan dari Kai. Mungkin Hana hanya menyesal karena tidak memaksa Jiho menemaninya tinggal di Korea waktu itu.

“Aku beli oden, sate ikan, dan….. soju,” seru Kai lalu kembali duduk di sebelah gadisnya.

Ya! Kau beli soju?” tanya Hana tidak percaya ketika Kai membawa botol berwarna hijau berlabel soju dan meletakkannya di dekat Hana. “Kita belum cukup umur, Kim Jongin.”

“Kau kedinginan ‘kan?”

Dwaesseo,” Hana meraih botol soju di dekatnya lalu melemparnya secara asal ke depan. Menghantam pavement bebatuan dan membuat botolnya pecah seketika.

Neo mwoya?! Kenapa melemparnya, bodoh?!” tanya Kai kesal dan Hana malah menatap polos ke arahnya. Gadis itu tersenyum simpul kemudian merebut tas plastik berisi makanan di tangan Kai.

Eish, neo jinjja,” Kai mendorong pipi Hana dengan telunjuknya, gemas karena gadis itu selalu mengandalkan wajah polos untuk meredam kekesalannya.

Selanjutnya Kai kembali tenggelam dalam semua pertanyaan di dalam benaknya. Apalagi ketika ia baru saja meminta izin pada Sooman dan pria itu mengizinkannya berpacaran, namun dengan syarat tidak boleh bertemu atau berjalan keluar selama promosi EXO. Mungkin syarat yang tidak masuk akal, tetapi Kai beruntung karena kekasihnya sendiri masih berada di gedung apartemen yang sama. Setelah mendapat izin seperti itu, Kai tidak akan pernah mau meninggalkan Hana untuk alasan apapun. Melanggar aturan terikat yang sudah dibuat terkadang menyenangkan bukan?

Sudah terlalu banyak hal yang sudah dilaluinya bersama Hana selama ini.

“Kita sudah mau dua tahun, ya?” tanya Kai tiba-tiba dan membuat Hana tersedak.

Ya. Kau ingat? Daebak~,” Hana bertepuk tangan ringan setelah meletakkan sisa makanannya kembali ke dalam tas plastik. “Sebentar lagi kau ulang tahun dan ah, hari kedewasaan…..juga.”

Suara Hana melemah di ujung kalimatnya sendiri. Ia melihat senyuman miring muncul di bibir Kai dan sepertinya ia salah bicara. Rose, perfume, and kiss. Di hari kedewasaan, seseorang akan menerima hadiah seperti itu dari kekasihnya. Hana menekankan hadiah kiss tentu saja. Bagaimana mungkin ia bisa memberikan hal itu pada Kai? Membayangkannya saja Hana tidak bisa.

“Kenapa diam? Kau memikirkan apa, Lee Hana? Kiseu?” tanya Kai bertubi dengan senyum jahilnya dan sedikit memiringkan kepala agar bisa melihat ekspresi Hana. “Ya. Lihat wajahmu sendiri, phuahaha.”

Suara tawa khas Kai menyadarkan Hana dari lamunannya. Sudah lama tidak mendengar tawa yang menggelitik perut itu dan Hana merindukannya. Hana mendengus pelan lalu mencubit lengan Kai dengan cukup keras.

“Hanya rose dan perfume. Tidak lebih,” sahut Hana seraya menyilangkan tangan di depan wajahnya. “Tidak ada kiss.

Keurae?” Kai menghentikan tawanya secara tiba-tiba. Tatapannya berubah menjadi serius dan mengunci mata Hana ke dalam matanya. “Aku tidak keberatan kalau kau mau memberikan’nya’ sekarang.”

“Apa-apaan kau—YA! Jangan coba-coba mendekat, Kim Jongin!” seru Hana, menahan dada bidang Kai –ketika wajah laki-laki itu semakin mendekat. “Aku akan teriak kalau kau mendekat lagi. Yaaa~~~!!!—.”

Kedua mata Hana membulat saat Kai benar-benar menempelkan bibir dan malah menahan kedua pipinya agar tidak bisa menghindar. Sebenarnya Hana sendiri tidak mengerti kenapa tubuhnya tidak bisa memberontak. Selanjutnya Hana benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan karena masih sangat buta dengan hal seperti itu. Jadi Hana hanya mengikuti alur permainan Kai –yang sudah mulai melumat bibirnya secara perlahan.

Sepertinya dunia sudah mulai gila. Tolong hentikan Kai sekarang juga atau Hana benar-benar tidak bisa menolak apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dan sepertinya doa Hana terkabul karena sedetik kemudian Kai melepaskan ciuman –terlama sepanjang sejarah satu tahun lebih hubungan mereka. Kai masih menatap kedua mata Hana dengan jarak yang sangat dekat dan napas yang sedikit terengah. Laki-laki itu malah tersenyum simpul kemudian berusaha menahan tawanya. Wajah blank Hana dengan pipi yang merona merah benar-benar membuat Kai –semakin ingin melanjutkannya. Walaupun Kai benar-benar harus menekan semua rasa malu dan perasaan membuncahnya saat bibir lembut Hana mendarat di bibirnya.

Pa—bo, jinjja pa—bo, Kim Jongin,” gumam Hana pelan –masih dengan wajah blank. Ia kemudian mendorong Kai dengan cukup kuat sebelum berdiri dari posisi duduknya dan berlari menaiki anak tangga.

Sebentar lagi Hana pasti akan kembali karena takut. Jalanan sudah sangat sepi dan tidak ada orang yang berlalu-lalang –kecuali jajanan pinggir jalan yang berjarak beberapa meter dari sana. Detik berikutnya Kai mendengar suara langkah kaki Hana di belakang tubuhnya. Kai melihat wajah merah gadis itu lagi sebelum tertawa puas dan berdiri untuk mensejajarkan tinggi.

“Ini tempat umum, Jongin. Kalau ada paparazzi bagaimana?” protes Hana, masih mencoba menyembunyikan rasa malunya.

“Kau mau melanjutkannya di apartemen? Mungkin bisa lebih parah dari itu,” Kai tersenyum miring –memberikan tawaran yang jelas membuat Hana semakin bergidik ngeri.

“Jangan masuk apartemenku sampai otakmu bersih. Kkaman pabo. Dasar mesum,” rutuk Hana kemudian kembali menaiki tangga meninggalkan Kai sendirian di bawah sana.

Kai menghela napas panjang lalu menyentuh bibirnya sendiri. Ia masih bisa merasakan kelembutan bibir Hana di sana. Mungkin setelah ini ia akan menghindari menatap kedua mata gadis itu untuk sementara atau ia benar-benar akan kehilangan kendali. Dan sekarang Kai mengerti apa yang membuat pasangan-pasangan di luar sana bisa terus bersama-sama hingga menikah. Ia harus melindungi Hana dan mempertahankan gadis itu di sisinya apapun yang terjadi.

[KaiNa Piece] Surfeit—CUT

HAPPY BIRTHDAY KAI!! KKAMAN!

KIM JONGIN! KIM JONGKAI!

I LOVE YOU~:*

Ima’s note :

Jadi gini ceritanya~, Baekhyun di EXOST episode berapa ya lupa haha manggil Kai itu kkaman. Oke sepertinya saya jodoh sama Kai /pletak/. Jangan timpuk aku ya ceritanya absurd dan posternya juga absurd banget gitu haha ampun juga yaa jangan kutuk aku, aku lagi uas nih T.T Minta doanya ya biar sukses trus kalau libur kan bisa sering post KaiNa 😀

Sengaja juga ga di protek soalnya aku ga akan sempet balesin kalau lagi UAS u.u Tapi jangan lupa komennya yaa hihi seru baca komen kalian, bikin semangat, bisa perbaikin tulisan juga, walaupun ga bisa dibales satu-satu~^^ Terima kasih semuanyaaa~^^ Maaf buat yang ga kebales mentionnya di twitter juga ya u.u

Ah iya satu lagi, yang domisili Bogor dateng ke Dinas Pendidikan tanggal 25 Januari yaa 😀 Promosi nih promosi ceritanya, aku mau goodbye stage (?) sekaligus debut (?) cover dance ahihi

Gomawo~

Regards, Ima ^^ 

Advertisements

115 thoughts on “[KaiNa Piece] Surfeit

  1. byunbaek says:

    Aku ga tau hari kedewasaan itu apa ._. CIEEE KAI UDAH KISEU KISEU HANA CIEE HAHA… seneng banget ya kayanya klo ngegodain hana sama kai wkwkwk utung pas nyiunya di luar coba di dorm terus ketauan member mampus sj haha

  2. Miqo_teleporters says:

    wooahhhh akhirnya kai hanna kissing scene hahahahahahaha seneng bangettttzzzz itu apaan coba yun woo deket2 sama hana huft

  3. iqohh says:

    Kisseu !! Kisseu !! Kisseu !! .. Sumpah .. Baca part ini udah senyum* cem orang gila .. Jongen ninggalin sikap sok gengsi ny buat kisseu hana /pletak/ udah kek terbawa suasana ama ini ff !! Jonginn kesayangan ! Kamu yang terbaik🔫

  4. iqohh says:

    Kisseu!! .. Sumpah .. Baca part ini udah senyum* cem orang gila.. Jongen ninggalin sikap sok gengsi ny buat kisseu hana /pletak/ udah kek terbawa suasana ama ini ff !! Jonginn kesayangan ! Kamu yang terbaik🔫😂

  5. handayaniwidya0 says:

    Sebenernya cuma adegan kiss… tapi deg degannya kayak….. ah sudah lah.
    Ima, kamu pinter banget sih mainin kata buat “mbungkus” cerita semanis ini.
    Haha… As usual, selalu bisa bikin pikiran aku hanyut di cerita.

  6. Khyunpawookie says:

    Kak IMA km dr bogor… Heiiii aq jg d bogor loh??????? Hehehehhe ishhh seneng bnget add tmn d FF y berdomisilu dket biasnya tmn2 FF ku dr jauh2 wwoooahhhhhhhh tepatnya dmn kak?????
    Aaaiishshhhhh jinjjaaa Kaii melting liat km berubah jd power ranger hahahahah jiahhhh maksudnya berubah manis gilaaaa meleleh klo jd Hana… asikkk perubajan kedewasan kai wkwkkwkw bdw aq bru two d korea add gri kedewasaan itu d rayannya pas kpan yh??????

  7. rahsarah says:

    selalu cengo gue klo jongin membuat skinskip sma hana yg lebih berani wkwkw
    duhh hana bakalan tetep tinggal di korea apa kuliah di jerman ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s