[KaiNa Piece] Offertory

offertory

Title : Offertory

Author : Ima (@bling0320)

Casts : Kim Jongin (Kai), Lee Hana (@inhanaLee)

Other casts : EXO

Please read Lee Hana’s Profile first.

Enjoy ^^

© INDAYLee’s Staffs 2013

[KaiNa Piece] Offertory

November 23th, 2013

Cheongdam Secondary High School

05.30 PM KST

Harusnya Hana sudah bisa menghirup udara bebas di luar sana jika guru Fisika ‘kesayangannya’ itu tidak memberikan kuis mendadak seperti itu. Sepertinya guru Kim tahu bahwa hampir sebagian anak kelasnya tidak memperhatikan penjelasan mengenai Torsi hingga diberikan kuis mendadak. Dan Hana hanya bisa menggigiti ujung pensilnya sambil menatap tiga soal yang berada di papan tulis itu dengan gemas. Andai saja ia bisa sepintar Ri An –yang terlihat serius mengerjakan soal di meja di depannya.

Hana menghela napas panjang lalu menatap keluar jendela kelasnya. Guru Kim mengatakan bahwa kuis itu bisa menjadi salah satu nilai tambah ujian semester lalu, namun Hana sepertinya membiarkan saja Fisikanya hanya mendapat nilai C tanpa tambahan apapun. Setidaknya ia berhasil menaikkan satu nilai setelah di tingkat satu dan dua mendapat nilai D.

“Nona Lee, kau sudah selesai?” tanya guru Kim dan membuat Hana kembali mengalihkan pandangannya ke depan.

Hana tersenyum polos. “Sedikit lagi, sonsaengnim.

“Cepat selesaikan,” guru Kim terlihat menyunggingkan senyum tipis sebelum kembali sibuk pada kertas-kertas di atas mejanya.

Hana tidak tahu senyum itu bermaksud mengejek atau kagum –karena selama kuis Fisika Hana hampir tidak pernah menyelesaikannya. Mungkin guru Kim merasa dirinya hebat karena membuat Hana bisa mengerjakan soal, walaupun pada kenyataannya tidak. Dan Hana sebenarnya lebih baik mendapat nilai jelek daripada menyontek pekerjaan orang lain –seperti yang Yura lakukan bersama Ri An saat ini.

Dengan sebuah helaan napas panjang, Hana berusaha fokus pada soal di papan tulis dan mengerjakannya berdasarkan rumus yang tersangkut di otaknya. Mencorat-coret beberapa rumus asal dan memasukkan angka yang ia temukan. Hanya tiga soal, harusnya Hana bisa. Seharusnya, jika ia tidak sebodoh itu.

Drrrt. Drrrt.

Hana merutuk siapa pun yang menelepon ke ponselnya dan membuyarkan semua konsentrasinya itu. Ia mendesis pelan lalu melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja, melihat nama Kai muncul di layar tiba-tiba membuat Hana panik.

“Kau kenapa, nona Lee?” tanya guru Kim lagi dan membuat Hana semakin panik.

“Aku—aku sudah selesai,” Hana mengangkat kertasnya, membereskan alat tulisnya secara asal ke dalam tas lalu berdiri dari kursi. Seluruh murid di kelas itu melirik Hana dengan kagum –sekaligus heran mungkin. Hana tidak peduli. Ia melangkah cepat ke depan, menyerahkan kertas kuisnya lalu berlari keluar kelas.

Semalam Hana tertidur lebih awal dan tidak menyaksikan M!net Asian Music Awards –seperti yang sudah dijanjikannya pada Kai. Hingga terbangun tadi pagi, berangkat ke sekolah, lalu baru sadar bahwa EXO  memenangkan penghargaan besar semalam. Hana bahkan belum sempat mengucapkan selamat  karena terlalu sibuk menyiapkan kuis Fisika.

Apa Hana keterlaluan? Semoga saja Kai tidak marah karena sifat pelupa akutnya.

***

EXO’s dormitory

06.00 PM KST

Kai masih tidak mengerti kenapa EXO bisa memenangkan penghargaan terbesar semalam, akhirnya mereka mendapat penghargaan album terbaik tahun ini. Mungkin perjuangannya –dan member EXO lain memang tidak akan pernah sia-sia dan terbayarkan. Bahkan hanya beberapa member yang bisa menahan tangis setelah acara selesai dan masuk backstage. Ia bahkan menangis hebat sampai Chanyeol harus memeluk dan menenangkannya.

“Uwaa jinjja, ada kiriman makanan lagi!” seru Tao dari arah pintu depan dengan membawa tiga kotak pizza dan menaruhnya di meja makan.

“Astaga, perutku~,” keluh Baekhyun –yang masih berusaha menarik napas setelah menghabiskan satu kotak ayam goreng. Sangat banyak kiriman dari fans karena kemenangan mereka di MAMA semalam.

Namun mereka juga harus merasa berduka karena keadaan Kyungsoo. Karena cedera yang cukup parah di pergelangan kakinya dan harus diperiksa ke rumah sakit. Hari itu kyungsoo bahkan hanya duduk di sofa ruang tengah, bergurau bersama yang lain dan tidak beranjak dari sana.

Sementara Kai masih berusaha menghubungi kekasihnya sejak satu jam yang lalu. Ia tengah duduk di kursi meja makan sambil sesekali mengambil makanan di atas meja, dan tangannya yang lain sibuk menekan nomor ponsel Hana. Ia berjanji akan segera memberi gadis itu pelajaran karena tidak menghubunginya sejak kemarin malam. Hana tahu bahwa ponsel Kai memang disita karena acara penghargaan semalam, namun gadis itu bahkan tidak menghubunginya di pagi hari –sampai sekarang untuk memberinya selamat.

Dan Kai hanya ingin mendengar suara gadisnya mengucapkan selamat, ikut berbagi kebahagiaan dengannya. Namun Hana malah mengabaikannya dan membuatnya kesal seperti itu.

“Masih tidak diangkat?” tanya Sehun, sedikit bernada jahil. Geli karena Kai begitu mengkhawatirkan gadisnya dan tidak berhenti berusaha menelepon gadis itu.

Aigoo, lihat ekspresinya. Kurasa sebentar lagi akan ada perang,” sindir Xiu Min yang juga tengah duduk bersama Kai di meja makan.

Chen tertawa pelan lalu menyenggol lengan Kai –yang duduk di sebelahnya. “Ya. Kau Kim Jongin ‘kan? Kim Jongin yang selama ini tidak peduli dengan Hana ‘kan?”

“Aku peduli, hyung,” jawab Kai singkat lalu beranjak dari kursi seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia memakai sandal secara acak di dekat pintu kemudian keluar dari dorm. Langkah terakhir yang harus dilakukan Kai mungkin menghampiri Hana di apartemennya.

Kai baru saja melangkah keluar dari lift di lantai dimana apartemen Hana berada ketika menemukan seorang laki-laki tengah berdiri di depan pintu apartemen gadisnya. Pria itu membawa sebuah tas plastik berukuran cukup besar sambil bersandar di dekat pintu. Kai berdehem pelan, memasukkan tangannya ke dalam saku celana lalu melangkah santai ke arah pria itu.

Pria itu terlihat kaget dengan kedatangan Kai –yang berhenti di depan pintu apartemen Hana juga.

“Oh, kau…” pria itu segera menegakkan tubuhnya kemudian membungkuk singkat. “Annyeonghaseyo. Yun Woo imnida. Aku tidak menyangka bisa bertemu idola disini. Dorm EXO di sini juga?”

Kai merutuk dalam hati. Tidak menyangka bisa bertemu laki-laki –yang pernah membuat hubungannya dan Hana kritis juga. Pria yang ditemukannya menepuk kepala Hana saat di restoran dulu, berjalan bersama Hana ketika teaser EXO baru saja keluar dan membuat Kai kesal setengah mati karena Hana lebih memilih pria itu. Walaupun pada akhirnya Hana hanya salah paham dan Kai malah mendapat hal tidak terduga. Namun tetap saja, seorang Kim Jongin tidak suka dengan pria manapun yang dekat dengan Lee Hana.

“Kenapa kau disini?” tanya Kai to the point. Yun Woo terlihat mengangkat tas plastik di tangannya lalu sebuah ponsel berwarna biru tua –milik Hana.

“Yura menyuruhku mengantar ponsel Hana yang tertinggal di kelas tadi,” jawab Yun Woo –masih tidak bisa lepas memperhatikan Kai di depannya.

Entah pria di depannya pura-pura bodoh atau apa, padahal mereka –Kai dan Yun Woo sudah pernah bertemu sebelumnya. Waktu itu Kai memakai topi untuk penyamaran di malam hari dan tidak menyangka bahwa Yun Woo tidak mengenalinya.

“Berikan ponsel Hana,” ujar Kai seraya menyodorkan tangannya, menatap kedua mata laki-laki yang tidak lebih tinggi darinya itu.

Yun Woo melipat senyumnya seketika dan kembali memasang ekspresi dinginnya. Tidak kalah dingin dari Kai –yang tengah menatap tajam ke arahnya saat itu. “Kau siapanya Hana?”

“Bukan urusanmu. Berikan saja ponselnya,” jawab Kai malas.

“Aku tidak akan memberikannya pada orang asing,” Yun Woo memasukkan ponsel milik Hana ke dalam saku celananya dan kembali menatap tajam ke arah Kai.  Tidak peduli lagi bahwa di hadapannya saat itu adalah salah satu anggota boy group yang tengah populer. “Yura sudah menitipkannya padaku tadi.”

Ya. Apa yang kalian lakukan?”

Suara Hana sontak membuat Kai berbalik, memperhatikan sosok wanita yang rambutnya sudah berantakan dengan napas terengah –seolah habis berlari. Hana mengambil tas plastik dari tangan Yun Woo lalu kembali menatap Kai yang masih diam di posisinya.

“Kenapa kau malah lari setelah menitipkan tas plastiknya padaku hah?” tanya Yun Woo tiba-tiba, memecah suasana hening di antara ketiganya. “Ponselmu tertinggal di kelas. Yura menyuruhku mengantarnya, tapi kau malah lari tadi. Dasar bodoh.”

Oh, apa Kai baru saja mendengar orang lain memanggil gadisnya ‘bodoh’?

“Aku panik. Kukira ponselnya hilang di supermarket, jadi aku lari ke supermarket dekat halte bis,” Hana masih berusaha mengatur napas dan sesekali melirik Kai yang menatap tajam ke arahnya. “Mana ponselku?”

Yun Woo melirik Kai sejenak sebelum menaruh ponsel itu ke tangan pemiliknya. “Kau mengenal Kai? Dia tadi memaksaku untuk memberikannya ponsel ini.”

“Ah ya, dia tinggal dua lantai di bawah,” jawab Hana tidak mau mendeskripsikan Kai secara berlebihan, karena sadar bahwa tidak boleh ada orang luar yang mengetahui hubungan mereka. Dan Hana tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat menemukan puluhan panggilan tidak terjawab dari Kai.

“Dari tadi banyak panggilan masuk. Tapi aku tidak berani mengangkatnya. Dari ‘kkaman’, kau sengaja menamainya seperti itu?” tanya Yun Woo, entah kenapa tiba-tiba menjadi cerewet bertanya berbagai macam hal pada Hana.

Gomawo. Kau boleh pulang sekarang,” Hana malas menjawab pertanyaan Yun Woo lagi lalu segera mengetikkan password pintu apartemennya.

Ya. Aku sudah mengantarkan ponselmu dan kau malah menyuruhku pulang?” protes Yun Woo lagi. “Setidaknya ajak aku masuk sebentar atau—.”

BRAK

Ucapan Yun Woo berhenti tepat ketika pintu apartemen Hana tertutup dengan kencang. Dengan sosok Kai yang juga menghilang di dalamnya. Banyak pertanyaan mulai muncul di pikiran Yun Woo dan hanya ada satu kemungkinan besar dari semua pertanyaannya. Bahwa Kai dan Hana memang saling mengenal dan atau bahkan lebih dari itu.

***

Hanya keheningan yang muncul ketika Kai berdiri di dekat sofa ruang tengah sementara Hana berlalu ke arah dapur dengan membawa tas plastik. Apa Hana tidak berniat untuk mengucapkan selamat setelah membuat Kai kesal setengah mati? Harusnya Kai tidak berharap pada wanita yang selalu meninggikan harga diri –sama sepertinya itu.

Kai mendesis pelan, menghela napas panjang untuk meredam emosinya kemudian segera menyusul Hana ke dapur. Dan apa yang tengah dilakukan gadis itu di sana membuat Kai terkejut. Seorang Lee Hana tengah mendidihkan air di sebuah wajan dan tengah memilih bahan-bahan makanan dari dalam lemari es.

“Kau sedang apa, bodoh?” tanya Kai, membuat Hana terlonjak kaget dan terantuk bagian atas lemari es –yang tidak lebih tinggi darinya.

Hana mundur selangkah untuk sedikit keluar seraya mengusap puncak kepalanya. “Jangan menggangguku. Kau tunggu saja di dalam.”

“Apa yang kau lakukan?” tanya Kai lagi, matanya menelusuri meja counter yang dipenuhi sayuran.

“Masak.”

Kai menahan senyumnya sejenak sebelum meledakkan tawanya. Suara tawa yang hambar dan husky laki-laki itu memenuhi apartemen dan entah kenapa terkesan meledek. Hana sadar bahwa dirinya memang tidak pintar memasak, namun jika hanya ramen rasanya ia masih bisa.

“Kubilang jangan mengganggu, tunggu di dalam saja,” titah Hana seraya mendorong Kai keluar dari area dapur.

Detik berikutnya Kai sudah bisa berhenti tertawa lalu memperhatikan punggung Hana yang sudah kembali memasuki dapur. Sementara dirinya sudah duduk di pinggiran sofa dan melipat kedua tangan di depan dada. Sepertinya Kai tidak pernah ‘benar-benar’ bisa marah pada gadis itu. Sikap Hana selalu bisa membuat emosinya mereda, walaupun masih terselip rasa kesal di dalam hatinya. Kesal karena ada pria lain yang memanggil Hana ‘bodoh’ selain dirinya.

“Jangan main-main dengan api, Han-ah,” seru Kai sebelum beralih ke sofa dan menyalakan televisi untuk menghibur diri.

Waktu berlalu dan rasanya sudah hampir satu jam Hana tidak juga keluar dari dapur. Kai sesekali menolehkan kepalanya untuk memastikan tanda-tanda kehidupan di sana. Hana bukan seseorang yang suka berada di dapur dalam waktu yang lama dan Kai harus mengakui bahwa usaha keras Hana patut diapresiasi. Jika berhasil membuat sepiring makanan tentu saja.

Ya. Kau masih hidup ‘kan?” gurau Kai dan hanya terdengar suara teriakan Hana saja.

Sebenarnya Kai tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, tentang apa yang tengah dilakukan gadis itu di dapur hingga hampir satu jam. Rasanya bosan juga karena menonton acara tidak jelas dan menunggu Hana sendirian seperti itu. Kai baru saja akan memprotes Hana, ketika melihat gadis itu melangkah keluar dari dapur dengan sebuah kue kecil dan lilin di atasnya.

Susang chukhahamnida. Susang chukhahamnida. Saranghaneun uri EXO. Susang chukhahamnida.

Hana tersenyum lebar saat nyanyiannya terhenti dan kue kecil itu berada di hadapan Kai –yang berdiri dari sofa agar bisa lebih tinggi dari gadisnya. Terlihat tulisan ‘EXO Saranghaja’ yang sangat kecil di atas kuenya dan entah kenapa membuat Kai tidak bisa menahan senyum gelinya.

Pabo,” Kai menepuk puncak kepala Hana lalu meniup lilin itu dengan sekali hembusan. “Aku tidak percaya kau membuat kue ini, Lee Hana.”

“Memang tidak. Aku juga tidak mau repot-repot membuatnya. Masih ada toko kue yang dengan senang hati menjualnya untukku,” jawab Hana seraya melebarkan senyumnya dan menaruh kue itu di atas meja.

Kai memutar bola matanya mendengar jawaban gadis itu, sudah bisa ditebak bahwa Hana memang tidak akan menyusahkan dirinya untuk memasak karena masih banyak toko yang menjual makanan jadi diluar sana.

“Tapi aku serius. Aku sudah membuat makan malam,” seru Hana, menarik Kai kembali pada dunianya.

Jinjja?” Kai bertanya dengan setengah mengejek.

Hana memukul lengan atas laki-laki itu kemudian berbalik untuk mengambil ‘makan malamnya’ dari dapur. Jika boleh jujur, Kai berharap lebih pada Hana –yang sudah membuang waktunya selama satu jam tadi. Kai berharap makan malamnya bukan sekedar ramen yang dimodifikasi dengan sayuran. Dan atau lebih buruknya, Hana hanya memasak ramen instant yang ditambahkan sayuran saja.

Jjan,” Hana membuat efek suara heboh saat meletakkan mangkuk besar di atas meja ruang tengah. Menjatuhkan angan Kai mengenai makanan selain ramen di pikirannya. Karena gadis itu benar-benar hanya memasak ramen instant dengan tambahan sayuran, beberapa potong daging, dan semangkuk kecil kimchi.

Kai mengacak rambutnya frustasi, sementara Hana hanya menatap polos ke arah laki-laki itu. “Selamat atas semua penghargaannya~. Lagu terbaik dan album terbaik, EXO jjang!!”

“Selama satu jam hanya membuat ramen?” protes Kai lalu menyentil kening Hana dengan gemas. “Kau membuang satu jam untuk semangkuk ramen seperti ini?”

“Eish, ini sudah percobaan yang ketiga kali. Setidaknya ini lebih enak dari ramen yang gagal sebelumnya,” jawab Hana seraya menjulurkan lidah lalu duduk bersila diatas karpet ruang tengah. Tidak mau memedulikan Kai lagi.

Kai mengusap wajahnya frustasi sambil merutuk dalam hati. Sepertinya Kai memang harus memikirkan pelajaran yang cocok untuk Hana. Agar mengubah sifat ceroboh, bodoh, polos, dan pelupa yang sudah akut itu. Beruntung Hana sudah memberikan password di ponselnya hingga tidak ada orang lain yang bisa membuka, kalau tidak, sepertinya Kai sudah menjadi headline di berbagai situs online karena ketahuan memiliki kekasih. Sama seperti L Infinite.

“Kenapa diam saja? Ramennya enak, aku serius,” Hana segera menarik tangan Kai agar duduk di sebelahnya lalu menyerahkan sepasang sumpit besi pada laki-laki itu.

Ya. Aku sengaja masak ini untuk merayakan kemenangan EXO. Kemarin-kemarin aku sibuk ujian jadi tidak bisa sering bertemu. Dasi hanbon chukhahae, EXO jjang, Kim Jongin jjang, SHINee jjang, Lee Taemin jjang,” Hana mengeluarkan sebotol cola dari tas plastik yang diletakkan di dekat sofa, serta dua gelas kertas yang juga berasal dari sana.

Kai hanya bisa menghela napas panjang sambil memandangi gadisnya yang tengah menuangkan cola ke dalam gelas. Ia kemudian mencubit pipi kanan Hana dengan cukup kencang, gemas karena gadis itu masih bisa terlihat polos setelah berbuat salah padanya. Pada akhirnya ia makan malam bersama Hana, memakan ramen –yang rasanya hampir hambar dan terlalu banyak berisi sayuran itu. Yang penting waktu yang berkualitas bersama kekasihnya, Kai masih bersyukur karena bisa mencuri waktu di antara jadwal padatnya.

Ya. Tidak boleh ada yang memanggilmu bodoh lagi,” ucapan Kai sontak membuat Hana tersedak.

W-wae? Kau memanggilku bodoh juga ‘kan.”

“Hanya aku yang boleh, bukan ‘temanmu’,” balas Kai, menekankan setiap kata-kata terakhirnya. “Dan jangan ceroboh meninggalkan ponselmu sembarangan, Han-ah.”

Hana mendengus pelan seraya membanting pelan sumpit besinya ke dalam mangkuk yang sudah kosong. Sementara Kai menepuk puncak kepala Hana dengan lembut. Entahlah, Hana sudah mulai terbiasa dengan sentuhan yang sering dilakukan Kai akhir-akhir ini. Ia juga sudah bisa mengatur denyut jantungnya dan bersiap-siap jika saja Kai menyentuh pipi atau kepalanya.

Ya. Bagaimana rasanya berdiri di panggung untuk menerima penghargaan besar?” Hana menggunakan tangannya sebagai microphone lalu menyodorkannya ke depan wajah Kai setelah pertanyaannya selesai.

“Wartawan apa yang memanggil artisnya sekasar itu hah?” potong Kai lalu tersenyum geli karena Hana mengerutkan wajahnya kesal. “Rasanya… banyak. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aku bersyukur karena banyak yang mencintai dan mendukung EXO.”

Jinjja? Apa rencanamu selanjutnya?” Hana kembali menyodorkan kepalan tangannya untuk menjadi mic, dan Kai malah memegang pergelangan tangannya dengan erat. Ditambah tatapan lekat milik Kai yang menembus ke dalam matanya dan membuat Hana harus menelan ludah gugup, kedua mata itu entah kenapa terlihat bahagia dan lelah secara bersamaan.

“Berusaha lebih keras dan lebih keras lagi. Lebih baik berlutut daripada menyerah, Lee Hana, ingat motto itu. Terima kasih dan terus cintai EXO ke depannya,” Kai mengakhiri ucapan formalnya dengan senyuman lebar –dan tanpa mau melepas pergelangan tangan Hana di genggamannya.

Hening sesaat. Hana segera mengalihkan pandangannya dari tatapan lekat Kai lalu menarik tangannya dengan cepat. Sejak mereka lebih sering melakukan skinship, Hana merasa lebih waspada ketika harus berdua bersama Kai saja. Apalagi fakta di dunia maya yang mengatakan bahwa Kai suka menonton yadong bersama Taemin dan member EXO lainnya. Baiklah,Hana mengakui bahwa pria normal pasti akan seperti itu. Namun jika mengingat itu, rasanya Hana sangat ingin menghindari Kai saja.

Hana hampir terlonjak kaget ketika Kai tiba-tiba saja menyandarkan kepala pada bahunya. Lalu Kai –secara tiba-tiba lagi menggenggam tangannya.

“Dan kau harus tetap di sisiku, sampai EXO hanya tinggal kenangan saja.”

[KaiNa Piece] Offertory—CUT

 Ima’s Note:

Ampun~ lagi males bikin poster haha

Karena ini dikit jadi ga aku protek, bonus buat siders ahihi tapi selanjutnya bakal tetep di protek. Siapin jantungnya masing-masing ya buat di selanjutnya, ada sesuatu. Sesuatu loh ini 😀

Sebenernya aku lagi potek gara-gara seseorang. Trus malah diluapin di ff ini, gatau bagus atau ngga haha pokonya kalian jangan lupa komen, di yg selanjutnya aku bakal ngeliat id komen dari sini juga ^^ Gomawo~^^

Jeongmal gomawo:D

^Regards Ima^

151 thoughts on “[KaiNa Piece] Offertory

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s