[YiLian Petals] Dandelion

Dandelion

DANDELION

A fiction by Yoo

Zhang Yixing – Myung Cheol Soo

Vignette | Canon | General

-Please Read Myung Cheol Soo’s profile, before read this story-

Enjoy ^^

© Indayleeplanet 2013

.

 “Aku ingin hidup seperti dandelion. Memberikan senyuman bagi semua orang yang melihatnya.”

.

PERHATIKAN TANGGAL!

Jeju, South Korea.

April 14th, 2013

Udara musim semi terasa begitu hangat menerpa pori kulit. Bunga canola bermekaran di sepanjang jalan yang kulintasi, seakan memanjakan mata bagi setiap pengunjung yang berlalu. Suara deburan ombak dan aroma asin air laut menyempurnakan indahnya panorama alam pulau Jeju di bawah bentangan langit biru. Benar kata orang, tak ada tempat terindah di musim semi, selain pulau yang menyimpan sejuta kisah ini.

Dan di sinilah aku berada saat ini.

Berdiri di tengah lautan kuning canola yang bersemi, sejauh mata memandang. Di temani suara deburan ombak yang menyusup celah daun telinga.

Hari ini aku dan juga semua member EXO sedang menikmati hari libur musim semi di pulau Jeju. Dan tepat sekali, setiap awal musim semi akan ada festival canola di pulau ini dimana bunga cantik itu akan bermekaran serentak di sepanjang jalanan.

Aku sendiri sedang menikmati panorama alam yang tidak akan bisa kujumpai di Seoul. Membebaskan seluruh penatku. Sesekali memejamkan mata sembari menghirup aroma asin air laut. Membiarkan angin musim semi menerpa wajahku dengan lembut.

Hingga sosokmu membuyarkan lamunanku. Sosokmu yang berdiri tak jauh di depanku. Membelakangiku. Tampak mematung seorang diri, menjauh dari keramaian pengunjung festival lainnya.

Sebuah tarikan memaksaku untuk melangkahkan kaki, mendekati sosokmu. Kubiarkan kakiku menuntunku ke tempatmu berada.

Perasaan aneh selalu muncul tiap kali mataku menangkap keberadaanmu. Seperti ada hal magis yang terus-menerus menarikku ke tempatmu berdiri. Kapanpun. Dimanapun. Bukankah itu benar-benar aneh?

Namun—seperti biasa— aku selalu membiarkan kakiku melangkah menggapai sosokmu. Membiarkan sesuatu menggelitik perutku. Dan debaran aneh yang kurasakan tiap kali langkah kita semakin dekat.

“Lian?”

Tanpa komando dari otak, bibirku memanggil namamu dengan sendirinya. Dan ketika kau memutar pandanganmu, menghadapku, aku merasa seolah kupu-kupu menari di atas kepalaku. Mengelilingiku, dan juga dirimu.

“Oh, Yixing Gege.” Kau menjawab, dengan suaramu yang pelan. Berlalu bersama angin musim semi.

“Kenapa kau sendirian?” Pertanyaan bodoh yang kuajukan. Memang sudah kebiasaanmu selalu menyendiri di tempat yang tak terjangkau siapapun. Benar-benar kalimat basa-basi yang tak berguna.

Kau menunduk, iris pekatmu menatap lekat dandelion yang ada dalam genggaman tanganmu. Sedetik kemudian, kau mendongak dan mengarahkan telunjukmu ke arah pantai yang tak jauh di depan. “Aku memandangi gadis itu.” ucapmu. Nada datar yang selalu keluar dari bibirmu setiap berbicara dengan seseorang.

Kuikuti arah pandangmu, sedikit menyipitkan kedua mataku ketika tak ada sosok gadis yang tertangkap penglihatan. Keningku mengerut samar. Otakku segera mencoba mencerna maksud perkataanmu. Ah, benar saja. Kau memiliki indera keenam. Mungkinkah gadis yang kau maksud itu, bukanlah sosok yang sama seperti kita?

Aku menganggukkan kepala lambat-lambat. “Ah.. —apa gadis itu sendirian?” Aku tahu, pertanyaanku ini tidak begitu penting. Apa aku terdengar seperti orang bodoh sekarang?

Kau balas mengangguk singkat. “Dia kesepian.”

“Kesepian?”

“Dia menunggu seseorang di sana, tapi orang itu tak kunjung datang.”

“Siapa yang ditunggunya?” Tampaknya aku sudah mulai terhanyut ke dalam obrolan lintas dunia ini.

“Kekasihnya.” Kau berucap, menjawab pertanyaanku singkat dan datar. Namun fokusmu tak beralih dari gadis itu —yang mungkin saja arwah gentayangan. Dan detik berikutnya, kau berhasil membuat kerutan samar di keningku muncul kembali. Saat tanganmu mempererat genggaman pada seikat dandelion yang kau bawa.

“Ada apa?”

Kau hanya terdiam. Masih tak memalingkan tatapanmu dari arah gadis tak kasat mata itu. Perlahan kau menggelengkan kepalamu, dan mulai tampak berbicara sendiri. “Tidak boleh, ini milikku.”

Aku hanya diam memperhatikanmu berbincang dengan arwah itu. Kendati bulu kudukku mulai meremang.

Tak lama, air mukamu melembut. Perlahan jemarimu mengambil satu tangkai dandelion yang ada. “Baiklah, aku akan memberimu satu.” Kau mengarahkan setangkai dandelion ke depan bibir mungilmu. “Semoga kau menemukan kebahagiaanmu di sana.” ujarmu, sembari meniup pelan dandelion itu hingga kelopak-kelopak putihnya terpisah dari induk dan berterbangan ke udara.

Manik mataku tak lepas dari serpihan kelopak dandelion yang melayang di udara, tertiup semilir angin. Bagai tersihir pada kecantikan bunga dandelion yang tak pernah punah meski kelopaknya terlepas dari induknya. Hingga suaramu memecah keheningan, terkesiap cukup lantang. Tak ayal, pandanganku beralih padamu yang kini nampak terkejut oleh sesuatu yang tidak kuketahui.

“Ah!”

“Ada apa?” tanyaku, kebingungan.

Kedua alis hitammu bertaut, hanya sekian detik, kemudian ekspresi datarmu kembali muncul. Namun —demi Tuhan— sepasang irisku sempat menangkap lengkungan tipis yang muncul dari ujung-ujung bibirmu. Sepersekian detik. Tapi entah mengapa, aku yakin melihat senyummu sekilas.

Kau tersenyum. Ya, kau tersenyum. Meski hanya sebuah senyuman tipis. Tapi, setidaknya tadi aku melihat segaris lengkungan samar itu. Sesuatu yang amat jarang kau tunjukkan pada orang lain.

“Dia menghilang.” tuturmu, lirih. “Semoga dia bahagia.”

Sekali lagi kuikuti arah pandangmu, ke tempat dimana arwah gadis yang kau ceritakan tadi berada. Apakah dia sudah menghilang dari sana? Mungkinkah gadis itu sudah kembali ke alamnya yang sesungguhnya dan tenang di sana? Karena itu, kau tersenyum. Apa tebakanku benar kali ini? Dalam hati, aku menertawai pemikiranku sendiri. Aku selalu merasa nampak bodoh jika sedang bersamamu. Memikirkan hal yang tidak pernah terpikir jika aku sedang bersama dengan yang lain. Memikirkan hal yang bahkan tak terpikir oleh otak manusiaku. Memikirkan hal-hal konyol yang selalu membuatku merasa seperti idiot. Namun, itulah yang membuatku selalu ingin berada dekat denganmu. Yang membuat mataku terus-menerus mencari sosokmu.

Karena aku merasa menjadi seorang Zhang Yixing yang berbeda saat bersamamu, Wu Lian.

“Apa dia juga menyukai dandelion sepertimu?” tanyaku, bibirku tak bisa menahan senyuman.

Kau mengangguk pelan. “Dia tersenyum saat aku meniup dandelionku, lalu dia menghilang.” jawabmu. “Tapi aku senang karena sebelum menghilang, dia tersenyum padaku.”

“Setidaknya kau masih punya sisa dandelion lainnya.” sahutku, tertawa renyah. Sekilas melirik ikatan dandelion yang masih kau genggam.

Kau menunduk, tanganmu yang bebas membelai lembut dandelion milikmu. “Dandelion selalu bisa membuat semua orang merasa bahagia. Gadis itu juga pasti merasakan hal yang sama denganku saat ini.”

“Beruntung kau membawa dandelion kemari, di tengah festival canola hari ini. Gadis itu pasti sangat senang.” ujarku sedikit melempar candaan. Mungkin hanya kau yang membawa dandelion –yang dibanding dengan bunga lainnya, hanyalah bunga liar yang biasanya tumbuh berdampingan dengan ilalang- di saat festival canola berlangsung. Kau memang berbeda. Seorang gadis yang memiliki keunikan tersendiri. Di kala orang lain memandangmu sebagai gadis aneh, sudut pandangku melihatmu dengan cara yang berbeda.

“Ah, ngomong-ngomong, kenapa kau membawa dandelion kemari? Ini ‘kan festival canola.”

Sejenak kau terdiam, sebelum membuka suara, menjawab pertanyaanku yang sedari tadi bergumul dalam otakku. Alasanmu membawa dandelion di tengah canola yang menghampar luas di tempat kita berpijak.

“Tidak ada alasan khusus. Hanya ingin membawa bunga yang kusukai di hari yang indah ini.”

“Kau sangat menyukai dandelion?”

“Hm, sangat. Ini… bunga kesukaan ibuku.” Matamu menatap sendu dandelion itu, kendati senyuman kembali muncul di raut wajahmu. Mendengar jawabanmu, membuatku merasa menyesal. Sepertinya aku membuatmu mengingat mendiang ibu kandungmu.

“Maaf, aku-“

“Tidak apa.” Kau masih tersenyum. Kali ini matamu menatapku. Dan seketika desiran aneh terasa di setiap aliran darahku saat mata kita berserobok. “Waktu kecil, aku selalu meminta bibi menceritakan semua hal tentang ibuku. Dari sana aku tahu kalau ibu sangat menyukai dandelion. Aku juga mulai tahu mengapa ibuku menyukai bunga ini.”

“Kenapa?”

“Gege tahu arti dari bunga dandelion?”

Aku menggeleng. “Tidak, memangnya apa?”

“Dandelion, bunga yang menyimpan sejuta makna. Kebahagiaan, kesetiaan, keinginan, kebebasan…” Aku memandangmu lekat, menyusuri tiap lekuk wajahmu. Memperhatikan kata yang terucap dari bibirmu. “—dan cinta.”

“Aku pernah membaca diary milik ibuku saat dia masih remaja, seumuran denganku. Di sana dia menuliskan sebuah catatan tentang dirinya dan dandelion. Ibu bilang dia ingin seperti dandelion, bunga yang kelihatannya rapuh namun kuat menentang angin, menari bebas tiap kali angin meniupnya, terbang tinggi membiarkan hembusan angin membawanya menjelajahi angkasa, hingga pada akhirnya sampai di suatu tempat untuk memulai kehidupan baru.”

Aku hanya terdiam, masih memperhatikanmu berbicara. Seolah terbius oleh sihirmu, di saat kau banyak mengeluarkan kata, dibanding hari-hari biasa. Entah, tapi aku menyukai caramu berbicara. Menjelaskan makna dari sebuah bunga dandelion. Bunga yang kau bilang bunga yang sangat kau sukai.

“Aku juga ingin hidup seperti dandelion. Bebas menjelajahi dunia luar, mengikuti kemana arah nasib membawaku nantinya, dan tetap bertahan di setiap perjalanan hidupku. Juga membawa kebahagiaan dan cinta untuk semua orang yang ada di sekitarku. Sama seperti yang dandelion lakukan. Memberikan senyuman bagi semua orang yang melihatnya.”

Kau menghentikan kalimatmu, dan aku pun hanya terdiam ketika kau menengadahkan wajahmu menghadap langit biru yang membentang. Sejenak aku termenung. Ada satu hal yang terpikir olehku. Hal yang —mungkin— tidak bisa kukatakan padamu, untuk saat ini.

Jika kau menjadi salah satu kelopak dandelion, terbang bebas menuruti kata angin berhembus, melayang di angkasa sebelum akhirnya hinggap di suatu tempat baru dimana kau akan memulai kehidupan yang baru pula. Bolehkah aku menjadi kupu-kupu yang mengikuti kemana pun kau pergi? Menjadi kupu-kupu yang hinggap dimana kau akan berlabuh, dan ketika kau tumbuh lagi menjadi dandelion yang berdiri tegak, aku bisa hinggap di sana hingga kau kembali terbang bersama sapuan angin.

Agar aku bisa melangkah di jalan yang kau lalui. Agar mataku tetap bisa menjangkau sosokmu, dimanapun tempatmu berada.

Bolehkah aku menjadi kupu-kupu yang terus mengikuti jejakmu?

Sepersekian detik, lamunanku terpecah saat kau berbalik menghadapku. Menjulurkan seuntai dandelion padaku. Aku melempar tatapan bertanya ketika kau tak kunjung membuka suara.

Gege mau meniupnya?” tanyamu. Sekali lagi alam bawah sadarku seakan terhipnotis oleh paras lugumu. “Ada mitos yang mengatakan, jika kau meniup kelopak bunga dandelion dan meminta satu permohonan, maka permohonanmu kelak akan terkabul.”

“Benarkah?”

“Sejauh ini dandelion selalu bersahabat denganku, dia membawa permohonanku terbang ke angkasa hingga Tuhan melihatnya dan mengabulkannya.” Kau membalas selayaknya seorang gadis kecil yang percaya bahwa keajaiban itu selalu ada. Membuatku ingin mempercayai perkataanmu. Kendati itu hanyalah sebuah mitos yang kebenarannya tak selalu akurat.

“Baiklah, biar aku meniupnya.” Sebelum meniup dandelion itu hingga serpihan kelopaknya terpisah dari induk bunga, aku memejamkan kedua mataku. Dalam hati menyerukan sebuah permohonan. Berharap dandelion juga bersahabat denganku kali ini, membawa permohonanku terbang bersamanya ke angkasa, ke tempat yang lebih dekat dengan Tuhan.

Ekor mataku bisa melihat raut wajah penasaranmu. Berusaha menahan kuat ujung bibirku untuk tidak tersenyum. Mungkinkah kau terlalu penasaran apa yang menjadi permintaanku tadi? Hingga akhirnya kau membuka mulutmu lagi.

“Apa yang Gege minta?”

Kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan senyumku. Kuarahkan sepasang irisku padamu, menatap wajahmu yang kembali datar namun masih menampakkan rasa penasaran. Ekspresimu membuatku ingin melempar senyum misterius. Sesekali menggodamu yang kini tampak sangat ingin tahu. Tak apa, ‘kan?

“Rahasia.”

-FIN-

HALO!!! /saltokelilingIDL/ saya datang membawa pair baru dengan kisah yang baru. gimana? absurd ya? jelek? ada yang kurang? ga jelas? maaf kalo ada yang masih kurang di sana sini /bow/ oh iya, karena di sini cuma dari sudut pandang lay aja, dan bukan dari sudut pandang orang ketiga atau cheol soo sendiri, jadi… soal arwah penasarannya cuma ada sekilas doang. buat selanjutnya, mungkin nanti bakal aku gambarin lebih detail MWAH /kecupbasah/ terakhir, er, semoga kalian menikmati YiLian yang pertama ini, walaupun agak gaje -_- dan, tentu komentar, saran ataupun kritikan sangat diharapkan buat kemajuan cerita selanjutnya 🙂

Ah! mau numpang promosi juga ya /duak!/ silahkan mampir ke Paper of Stories yaa, blog yang lumayan baru juga sih, come and enjoy the menus! ^^

canolanb: ini dia padang canola di jeju, sebagai tambahan~

YOUR COMMENT, MY OXYGEN

With love, 

Yoo

Advertisements

33 thoughts on “[YiLian Petals] Dandelion

  1. azureveur says:

    Well, terima kasih ya sebelumnya sudah ngetag saya hehe 🙂 ceritanya manis dan keren sekali lho.

    Pertama-tama memang agak membingungkan, tapi saya rasa di sana seninya, saya suka sekali saat pertama kali kamu menyampaikannya dengan wujud “aku”, lalu beranjak menjadi “aku/kamu” well, rasanya seperti ada sebuah kejadian, tapi kamu menuturkannya dengan perlahan, sehingga pembaca juga harus menyimak dengan baik tiap kata-katanya.

    Kedua, aku baru menjelaskan “aku” itu siapa, ternyata “aku” diambil dari sudut pandang cowok. Keren. Er, tapi mungkin kamu bisa memperkuat penokohan maskulin seorang cowok di depannya, karena di depan saya rasa, di depan ceritanya sudah sendu, dan saya agak sedikit miss-interpretasi karena menyangka si Yixing itu cewek hehehe. Tapi, tetap oke sih secara penggarapan plot, dan saya tetep suka gayamu.

    Begitu juga saat kamu menggambarkan klimaksnya, saat Wu Lian tersenyum. Saya beneran sukaaa banget, ngerasa bener-bener menaruh perhatian ke ffmu. (Padahal saya lagi ngerjain tugas juga ini) LOL. Memang yang bagian bertemu dengan hantu itu, saya merasa agak kagok sih, tapi menurut saya, ini bagian yang lumayan krusial juga, yang sengaja kamu taruh buat menjadi alegori dengan pengungkapan makna dandelionnya.

    Lalu, menyangkut statement sebelumnya, saya melihat kamu begitu paham soal sekuntum bunga dandelion, begitu juga dengan canola. Hehehe. Sebenernya saya agak beneran gak tau bunga canola itu seperti apa, kalau dandelion sih tau. Dan berkat ffmu ini, saya jadi punya gambaran tersendiri tentang keduanya.

    Well, sebagai penutup, saya merasa ffmu memang punya plot twist yang sedikit aneh, tapi saya suka kok, kesan fluffnya sangat kerasa 😀 juga memberi wawasan yang baru nan manis bagi pmebacanya.

    Love it.

    • indaylee says:

      haloo zuraa 😀 makasi ya udah nyempetin baca dan juga komennya ^^

      waktu baca komen kamu ini, jujur aku ngerasa masih jauh dari yang kamu bilang tadi. masih perlu banyak belajar gimana cara nulis yang baik dan gimana caranya biar cerita kita bisa sampai ke hati pembaca hehe. aku masih perlu banyak belajar juga dari author lain, termasuk dari karya kamu 😀
      makasi banyak buat komennya yang manis dan membangun ini, seneng deh kalo kamu suka sama fic ini ^^

      oh iya, semangat buat ujiannya ya! dan aku selalu nunggu karya kamu yang lain yaaa, semangat! \m/

      -yoo-

    • indaylee says:

      bingung di bagian mana? di bagian hantu itu kah? maaf ya kalo ceritanya masih absurd dan sulit buat dicerna ;_; /bow/
      makasi udah baca dan juga komennya ^^

      -yoo-

  2. Moonstear says:

    AAAAAAAAAAAAAA!!!!!! CHEOL SOO!! WELCOME TO ALAYERS, PHPERS, LENJERS, AND GALAUERS WORLD!!! HAHAHAHAHA/tabokbolakbalik/

    DUH DANDELION ;A; aku juga demen sama bunga itu kak, tapi aku lebih seneng bunga lily karena artinya sedih/lhajadicurhat/tabok/ OKE APAAAN SI KERIPIK LAY MAIN RAHASIA-RAHASIAAN TUH BIKIN PENGEN DICIUM AJA/ngaco/dzing!/

    Hihi aku suka pengambaran Jeju dan festival canola dari kakak, aku bisa ngebayangin secara utuh gimana indahnya jeju sama bunga-bunga itu ;A; sukaa! sukaaa! Dan itu si hantu………datang ga jelas pulang juga ga jelas, mirip kayak Chae nih, jangan-jangan doi saudara kembar berdua O.O/nahngacolagi/apaandahzen–“/abaikan/

    Tapi ngomong-ngomong soal hantu, kok aku malah ngebayangin si isabel Conjuring ya kak-_- padahal sekmenya ga tepat, tapi kenapa aku ngebayangi dia? Jangan-jangan….dia ikutan baca ff ini kak…………../hening/dor!/ Harap maklumlah ya kak, efek angin malam yang menerpa/kibaspantat/

    Balik lagi ke komen ffnya, hoho aku ga bingung sih kak ngebaca ini. Udah pas, tapi apa ya, aku rasa alurnya cepet ga sih kak(tapi kakak detail nyeritain perasaan mereka berdua)? Maksudku, kenapa kakak ga ngasih beberapa scene lagi? Atau mungkin ini juga baru ff pertama kali ya kak, gapapalah. ATAU AKU YANG TERLALU NAPSU BUAT BACA INI LEBIH PANJANG LAGI?!/plak/ Aku juga kalau buat ff pertama absrud banget, ga tentu arah, apalagi alurnya yang suka kemana-mana/meringkuk/gegulingan/ kalau masalah penceritaan kakak dan sudut pandangnya, aku suka banget. Pake kamu/aku itu ngebuat aku rasanya ada di antara mereka/bahaseluzen-_-‘/ INTINYA AKU DEMEN KAK, AKU MENARUH HATI PADA FF INI SUMPAH SAMPE TUMPEH TUMPEH ENELAN MIE AYAM DEH!! ❤

    MENUNGGU KEDATANGAN JIN DENGAN SANGAT SABAR DAN SANTUN KAK/duduknyinden/ Semoga itu kokoh glodok cepet keluar di FF ini biar bisa aku godain :3/dordor!/ atau kakak mau masukin member TOPP DOGG? BEJOOK! MASUKIN BEJOK KAK!!/sinting/

    Duh komenku 99,9% isinya ga bermutu 1%nya sedikit bermutu-_- maap nyepam tijel kak, semua ini demi keluarga kita yang sakinah mawardah dan waromah/lha/ intinya terima kasih atas ff yang bikin aku inget sama isabel :3 dan menyegarkan ini(karena sifat Cheolsoo yang unik XD) Terus berkarya dan semangat malam!

    Salam olahraga!/salahmen/ salam alayers!

    Sincerely,

    Zen with Xero love^^

    • indaylee says:

      ZEEEEEN /saltocantik/ BUAHAHAHAHA CHEOL SOO MASIH PERLU DILATIH DULU SEBELUM MASUK KE GRUP KITA LOL
      kakak belum nonton film itu, jadi ga tau yang kamu maksud soal si isabel itu tapi mungkin waktu kakak bikin ff ini dia lagi ada di sebelah dan masuk ke alam bawah sadar kakak jadi penggambaran hantunya mirip kayak dia /okestopmulaingaco/
      kakak sengaja bikin satu scene doang karena niatnya emang bikin fluff, tapi dibanding fluff kayaknya ini lebih ga jelas mau disebut apa -_- INI FIC PERTAMA KAKAK YANG PAKE AKU-KAMU LHO /kenatimpukpenonton/ sebelumnya palingan cuma sekedar POV tiap cast, aku-dia bukan aku-kamu, dan agak ga pede sih sebenernya buat publish ini awalnya, tapi syukur deh kalo kamu suka 😀 /cipikacipikidenganunyu/
      JIN? JINI OH JINI AKAN MUNCUL SETELAH PESAN PESAN BERIKUT INI /salahprogramacara/ /dilempartomatbusuk/ dia muncul nanti di saat yang tepat, berduaan sama cheolsoo nyinden di tengah lapangan /NGACOPARAH/ maap otak lagi ga bisa mikir dengan baik, omongan ngelantur ga tentu arah /hening/
      AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA PENGEN SIH MASUKIN TOPP DOGG KE SINI tapi kakak mikir lagi kalo liat wataknya si lian yang begitu, agak ga cocok kalo kebanyakan kenal seleb ;A; padahal pengen kakak masukin sih…… entah siapa, er, mungkin hansol…………. /dilemparbotol/ BEJOOK?? dia mau kakak masukin ke seowoo aja HAHAHAHHAAHHAHAHAHA udah cocok mereka berdua sama sama bocah ababil xD
      maaf balasan komen kakak ngelantur ke sana kemari, dan makasi banyak buat komen kamu yang selalu manis buat dibaca, makasiiiiiii zeeeeeeeeeen /pelukhangat/ /cipikacipikidengancantik/

      -yoo with bjoo-

  3. selvi says:

    pertama msh agak bingung hbs kirain ini pkai sudut pndg orng ketiga trnyata pkai sudut pndng nya lay
    tpi crtanya bgus dan bikin penasaran
    di tunggu next chapternya ya
    fighting

  4. odultxoxo says:

    Author baru?._.
    Awalnya bingung, kirain pakai sudut pendang orang ketiga kayak biasanya~ ternyata sudut pandang Lay.-.
    Dan ini agak serem karena Lian punya indra ke-6 -_-v
    Kok agak mirip LuHanji ya? 😐 Lian suka dandelion kayak Hanji~
    Tapi bagus kok^^ ㅋㅋㅋ

    Keep writing, hwaiting!^^

    • indaylee says:

      bukan author baru, pair ini aku yang pegang kok, sama kayak authornya himnara ^^
      sama ya? mungkin bagian yang sama karena kita ambil perumpamaan bunga dandelionnya. tapi cerita yang diusung beda kok. penghubungan arti dari dandelionnya sendiri ke cerita yilian ini sama cerita di luhanji juga beda 🙂
      makasi udah baca dan juga komennya ya ^^

      -yoo-

  5. nadatiana says:

    ahh… unnie dateng sama couple baru.
    makin cinta sama unnie~ ❤ hehe
    ditunggu next story nya sama couple baru ini unnie 🙂
    keep writing. FIGHTING!! 🙂

  6. liya says:

    woah new couple xD
    welcome, welcome yilian..
    nggak sabar nih nunggu ceritanya mereka..
    jujur cerita ini malah bikin penasaran banget sama kelanjutan cerita dari hubungan mereka

  7. elsacessara says:

    wah ada couple baru 😀 awalny rada bingung bacany, tapi begitu baca ulang jadi ngerti haha 😀 /plak. ayo ayo buruan lanjut post ff yilian lainny thor, fighting ^^

  8. hyo1 says:

    wahhh…. couple baru!!!! keren….keren…..
    kirain td sudut pandang orng ketiga, eh ternyata dr sudut pandang lay…..
    Lian nya punya indra ke enam?
    jd gk sbr nunggu cerita lainnya
    KEEP WRITING EON FIGHTING!!!!

  9. abellbellaa says:

    lupa caranya bernafas~ *lebay
    ini keren tapi rada bingung, hehe aduh kata-katanya muah muah
    lay keren ahoi!! jadi berdua doang disini ngaa ada anak exo yang ngerecokin barang kali ._.
    keren!!

  10. Cicilia Stefani says:

    Aku suka banget sama pemakaian bahasanya. Aku ga terlalu bingung sama sosok lian soalnya aku udah baca profilnya dan tau sosok lian kaya gimana. Aku suka sosok lian yg punya indra keeanam, walau kayanya agak aneh tp jadi misterius. Ga tau kenapa penggambaran sosok Lian serasa cocok aja sama Yixing. Ditunggu YiLian selanjutnya ya eonni;)

  11. cheverlyjin says:

    wooo, ada couple baru lagi dsini..dan skarang gilirin yixinggggg~ yeayyy
    eh awal2nya rada bingung waktu baca tapi uda nggak pas kebawah2nya…hehehe
    ahhh, ga sabar tunggu petal2 laennya ^^

  12. dwityasw says:

    OMONAH DUH ABANG LAY KAU AHHHHH /meleleh/ pas pertama kali baca ff ini aku ngerasa kaya kembali nonton masters sun ada aura mistis tapi romantis gitu (?) TAPI AKYUUU SYUUUKAAA CEKALIIIHHH PAKE BANGET /nga-lay
    aku juga baru tau canola dari ff ini :3 jadi pengen men kesana bareng abang tao :3 /plaak/ udah bang lay kitah double date aja. aku sama tao kamu sama lian. oke? sip? deal. sah? sah? saaahhhh!
    Aku pikir canola itu semacam kapal yang buat nyebrang …itu gondola…
    krik…
    krikkk….
    /oke ini garing

    mari lupakan kita sambut yang baru. maap ya ini komen ndak bermutu. ujung ujung nya malah curhat hiks.
    pokoknya dear author tersayang, yang ga diterima adalah KENAPAAAA KENAPAAA HANYA SEGITU. WE WANT MORE. AYO LANJUTKAN SAYA JEBAL JUSEYONG /maksa /selipin baek di amplop /wink

  13. kauramints says:

    woah new couple!
    mash agak binggung sama ceritanya dan sudut pandang siapanya pas diawal tadi ..tp lama lama jadi ngerti, fighting! ditunggu next chaptnya :3

  14. Momoe025 says:

    Ugh sweet banget sih iri >,<. Aku suka banget sama karakternya lian yang misterius jarang ada karakter yeoja kayak gitu. Ditunggu ff YiLian selanjutnya eon.

Leave a Reply to Moonstear Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s