[Another YiChan] Classic

 

classic

Title: Classic

Author: Ra(@datudecps)

Cast(s):Park Chanra(@ladychanra), Wu Yifan(EXO),Park Chanyeol(EXO)

This is for you,Kris. Happy birthday, wish the best come to you,Wu Yifan. Can say nothing but thanks and much much love for you, my inspiration 🙂

enjoy reading^^

 ©INDAYLee’s Staffs 2013

***

Kisah klasik selalu berhasil membuat kita terpana setiap kali kita membacanya,

Kisah romantis selalu bisa membuat jantung berdegup lebih cepat dari biasanya ketika kita melihatnya,

Kisah sempurna selalu membuat kita iri dan bermimpi, berharap bisa menjadi tokoh utama di kisah itu,

Tapi bagaimana kalau aku benar-benar mengalami kisah klasik yang romantis nan sempurna itu?

Bukankah itu indah?

***

Semburat matahari kembali muncul di permukaan bumi. Langit yang gelap dan kelam mulai berganti menjadi biru terang dan menampakkan keindahannya sehingga siapapun yang melihatnya akan terpana dan bersyukur bisa melihat indahnya langit di pagi hari itu.

Pagi ini semuanya terasa normal, tak ada sesuatu yang tampak ‘abnormal’ hari ini. Para pekerja yang bersiap untuk memulai rutinitas kerjanya, para istri yang rela bangun pagi-pagi dan menyiapkan sarapan  untuk suami dan anak-anaknya, serta para pelajar yang dengan bermalas-malasan mengenakan seragam almamater-nya dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.

Berbeda dengan gadis ini. Gadis yang tengah berjalan dengan semangatnya menuju stasiun kereta, sambil merapikan dasi yang sedikit miring akibat terburu-buru saat mengenakannya tadi. Senyum sumringah sepertinya tak mau lepas dari bibir gadis itu.

Gadis itu terus menyunggingkan senyumnya lebar-lebar sampai dirinya masuk kedalam kereta, lalu mengambil tempat duduk di dekat jendela dan menikmati pemandangan Kota Seoul yang sangat menakjubkan baginya.

Hari ini adalah hari pertama gadis itu memulai kehidupannya kembali di Kota Seoul. Gadis itu –Éliane, akhirnya kembali ke kampung halamannya setelah 10 tahun meninggalkannya, mengikuti Ayah-nya pulang ke Perancis, Negara asalnya setelah Ibu Éliane pergi meninggalkan dirinya dan Ayahnya karena sakit yang dideritanya. Sampai akhirnya ia sudah cukup dewasa untuk memutuskan berpisah dengan Ayah-nya, dan kembali ke Korea Selatan seorang diri.

Memang berat rasanya harus berpisah dari seorang Ayah. Éliane tahu ia tak bisa langsung bertemu dengannya jika ia merindukannya, mengingat jarak yang sangat jauh memisahkannya dengan Ayah-nya. Tapi Éliane sudah memutuskannya. Ia benar-benar ingin kembali dan menetap di kota kelahirannya itu.

Éliane segera turun dari kereta setelah kereta berhenti di tujuannya, dan berjalan kaki menuju ke sekolah barunya dengan santai karena hari masih terlalu pagi. Sepertinya Éliane terlalu bersemangat sampai-sampai ia tak sabar dan langsung bersiap begitu kedua matanya terbuka pagi tadi.

Éliane merutuk dirinya sendiri. Ternyata jarak sekolahnya dengan stasiun kereta lebih jauh dari perkiraan Éliane. Butuh sekitar 15 menit berjalan kaki dan gadis itu baru bisa melihat bangunan besar berdiri dengan kokoh dihadapannya. Bangunan 2 tingkat itu terlihat megah dengan arsitektur yang berhasil membuat Éliane berdecak kagum.

Sekolah pilihannya memang terkenal dengan bangunan indah serta kualitas pengajarannya yang tinggi, dan tak mudah untuk masuk ke sekolah ini apalagi masuk ditengah-tengah semester 4 seperti Éliane. Dan ia merasa beruntung bisa masuk ke sekolah ini.

Éliane masih takjub dengan bangunan yang akan ia datangi setiap harinya nanti. Ia memutuskan untuk berkeliling sebentar untuk mengagumi setiap inci bangunan sekolahnya ini sebelum menuju ke ruang administrasi untuk menyelesaikan urusan perpindahannya . Dan Éliane memilih untuk masuk kedalam aula yang letaknya tak jauh dari ruang administrasi itu.

Pemandangan yang Éliane lihat saat ini bukanlah pemandangan yang ia sangka akan dilihatnya saat ini. Pemandangan yang –entah kenapa membuat Éliane menghentikan langkahnya dan tak berpaling melihat pemandangan yang ada didepannya.

Seorang pria dengan peluh yang membasahi sekujur tubuhnya tengah melemparkan bola berwarna merah bata dengan kedua tangannya, dan bola itu dengan suksesnya masuk melewati ring yang tertempel di dinding aula itu. Setelah mendapatkan bolanya kembali, pria itu men-dribble bola itu dan menggiringnya menuju ke ring yang berseberangan dengan ring tadi.

Éliane tidak tahu apa yang ada dipikirannya saat ini. Jantungnya berdetak diatas rata-rata-nya, perutnya bergejolak seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan diperutnya. Matanya tidak pernah berhenti memperhatikan pria itu dengan serius. Saking seriusnya, Éliane tidak sadar bahwa pria yang ia perhatikan sejak tadi sudah menatapnya dengan panik dan tampak berteriak padanya.

“Hey, awas!”

Tubuh Éliane terjungkal kebelakang. Rintihan pelan keluar dari mulutnya ketika panas dan pedih ia rasakan di keningnya yang lebar. Pandangan mata yang sedikit kabur dan pusing mulai ia rasakan saat ia mencoba untuk bangun dari jatuhnya tadi.

“Kau tidak apa-apa?” Suara berat diiringi langkah kaki yang semakin mendekat ke arah Éliane membuat Éliane sadar apa yang terjadi padanya saat ini, sebuah bola basket mendarat dengan sempurna di keningnya itu.

Éliane berusaha mengembalikan penglihatannya yang kabur dengan mengerjapkan matanya berkali-kali dan terkejut begitu melihat wajah pria yang tadi ia perhatikan hanya berjarak 10 centimeter dari wajahnya.

Iris mata hazel yang menatapnya dengan rasa khawatir berhasil masuk menembus pikiran Éliane yang paling dalam. Tak hanya itu, Hidung mancung serta bibir tipis yang dipadukan dengan garis wajah yang terlihat jelas dan tegas berhasil membuat pikiran Éliane kacau dan bengong, bingung harus berbuat apa.

“Nona, kau baik-baik saja?” Tanya pria itu sekali lagi dan akhirnya berhasil membuat pikiran Éliane kembali normal.

“Ah, I’m fine.” Éliane tersenyum pada pria itu, dan mencoba berdiri lagi dan kali ini, pria itu membantu Éliane untuk berdiri. Dan Éliane sedikit tak percaya, bahwa pria itu ternyata jauh lebih tinggi daripada dirinya.

“Kau yakin? Bola-nya mengenai dahimu dengan cukup keras.”

“Aku yakin. Hanya sedikit pusing saja kok. Sebentar lagi pasti hilang.” Éliane mengelus keningnya yang masih terasa berkedut. Sebenarnya Éliane ingin mengumpat pada pria itu karena bisa-bisanya bola-nya mengenai Éliane yang jelas-jelas ada di situ.

Tapi Éliane tahu diri. Bukan salah pria itu ia terkena lemparan bolanya. Éliane yang menginterupsi permainan basket pria itu. Tidak seharusnya Éliane ada di tempat ini, tidak seharusnya Éliane memperhatikan pria itu.

“Tapi bisakah kau periksakan luka itu nanti, dan hubungi aku jika terjadi sesuatu dengan kepalamu? Aku merasa bersalah karena tidak melihatmu berdiri disitu.” Pria itu menggaruk tengkuk kepalanya, sambil tetap memasang wajah khawatir pada Éliane.

“Aku akan memeriksakannya nanti.”Jawab Éliane seadanya.

“Baiklah. Kau bisa menemuiku di sini setiap pagi. Jadi, tidak usah khawatir aku akan kabur dari tanggung jawab jika terjadi apa-apa dengan kepalamu itu.”

Pria itu mengangkat tangannya dan menyodorkannya pada Éliane, “Ah omong-omong, namaku Kris. Kris Wu.”

***

Kisah klasik selalu dimulai dengan pertemuan tanpa sengaja antara tokoh pria dan tokoh wanita,

Dimana sang tokoh wanita terpikat dengan sang tokoh pria, begitu juga dengan tokoh pria yang langsung jatuh cinta dengan tokoh wanita,

Lalu apakah kisah klasikku akan seperti itu?                           

***

Setelah memperkenalkan dirinya didepan kelas barunya, Éliane menggantungkan tas ranselnya di kursi yang berada tepat disamping jendela, yang langsung menampakkan pemandangan ke lapangan sepak bola milik sekolahnya.

Lapangan sepak bola itu tampak senggang, tidak ada siswa yang berolah raga hari ini. Hanya segelintir orang yang berjalan memotong di tengah lapangan untuk menuju ke gedung yang berseberangan dengan gedung kelasnya.

Éliane terpana. Gadis itu hampir saja menjatuhkan bukunya yang baru saja ia keluarkan dari tasnya ketika ia melihat pria itu –Kris berada di gedung seberang sedang duduk di kursi dan dengan serius memperhatikan guru yang tengah menjelaskan didepan kelas. Dan hebatnya, kursi Éliane bersejajar dengan kursi pria itu, sehingga ia bisa melihat Kris dengan jelas.

Annyeong.” Sapaan tiba-tiba itu membuat Éliane sontak menengok dan mendapati seorang pria sudah duduk di kursi menyebelahi Éliane, tersenyum dengan ramah sambil melambaikan tangannya pada Éliane, “Kau murid baru itu ya?”

“Murid baru…itu?” Éliane mengulang pertanyaan pria itu, bingung dengan maksud dari pertanyaan tadi.

Pria itu mengangguk, “Iya. Kau murid baru dari Perancis itu ‘kan? Beritamu sudah tersebar jauh sebelum kau sampai disini. Karena kami tidak pernah menerima murid pindahan sebelumnya.” Jelas pria itu. Sedangkan Éliane hanya menganggukkan kepalanya mengerti.

“Ah, aku lancang sekali berbicara denganmu tanpa memperkenalkan diriku. Aku Park Chanyeol, dan kau?” Pria itu menyodorkan tangannya pada Éliane.

Mata sipit, hidung mancung, dan kulit putih bak salju menandakan bahwa pria yang bernama Chanyeol itu adalah seorang pria asli Korea. Pipinya yang cukup berisi membuat wajah Chanyeol tampak imut, tidak selaras dengan umurnya saat ini. Dan karena ke-imutan-nya ini Éliane yakin, tidak akan ada orang yang akan bosan melihat wajahnya.

Éliane menyambut tangan Chanyeol dengan ringan,“Éliane Béllérose.”

“Éli….apa?” Kening Chanyeol berkerut, merasa aneh mendengar nama Éliane yang cukup aneh dan sulit untuk dieja.

Just call me Éli, then.” Éliane dan Chanyeol saling melempar senyum.

Ada yang salah dengan diri Éliane hari ini. Terlalu bersemangat memulai hari pertamanya di Seoul, Berjalan kaki cukup lama menuju sekolahnya, Bahkan terpesona melihat pria yang tidak sengaja melemparkan bola basketnya ke arahnya.

Dan sekarang, ia terpana melihat senyuman lebar pria yang ada didepannya ini. Rentetan gigi putih dan rapi serta lesung pipit yang terukir indah di kedua pipinya, telah berhasil membuat Éliane tak bisa berkata.

“Baiklah, Éli. Oh, saat istirahat nanti kau mau ketemani berkeliling? Aku akan menjadi tour guide-mu hari ini.”

***

Éliane tidak tahu bagaimana awalnya, tapi saat ini ia tengah berjalan berdampingan dengan Chanyeol yang menjelaskan secara detail setiap bangunan-bangunan yang mengelilingi mereka dengan ceria dan penuh semangat.

Éliane awalnya menolak tawaran dari Chanyeol untuk menjadi tour guide-nya seharian ini. Karena sebenarnya, ia lebih memilih untuk mengeksplorasi sekolah barunya ini sendiri. Éliane lebih suka mengamati dan menilai sesuatu sendiri, tanpa bantuan dari orang lain. Tapi Chanyeol memaksa dan begitu bel istirahat berbunyi, tanpa jeda waktu Chanyeol langsung menarik tangan Éliane dan keluar dari kelas mereka.

Dan Éliane tak mengerti mengapa banyak siswa maupun siswi yang langsung berbisik-bisik begitu melihat mereka berdua melewati siswa-siswi tersebut. Bahkan ada siswi yang dengan jelas menilai penampilan Éliane dari ujung rambu hingga ujung kaki. Apakah mungkin karena Éliane adalah bahan gossip yang sedang hangat disekolah?

“Selamat siang, Sunbae.” Éliane langsung sadar mengapa semua pandangan kini tertuju padanya begitu seorang siswi menyapa Chanyeol sambil tersenyum dengan pipi yang merona kemerahan, terlihat malu.

Chanyeol hanya tersenyum saja membalas sapaan siswi tersebut, dan mulai menjelaskan kembali seluk beluk bangunan yang mereka berdua lewati saat ini.

“Kau terkenal ya disekolah ini?” Tanya Éliane blak-blakan dan disambut oleh tawa keras yang keluar dari mulut Chanyeol. Éliane hanya terdiam, menunggu Chanyeol menghentikan tawanya dan menjawab pertanyaan yang tadi Éliane lontarkan tadi.

Begitu tawa Chanyeol mereda, Chanyeol menatap Éliane dengan kedua alis terangkat dan senyum yang bisa dibilang senyum ‘agak’ mengejek, “Tergantung.”

“Kau mau mampir ke kantin? Kantin tak jauh dari sini.” Tanpa menerima jawaban dari Éliane, Chanyeol sudah menarik tangan gadis itu dan berjalan dengan cepat menuju kantin.

Kantin itu terlihat besar dan mewah di mata Éliane, tak seperti kantin sekolah seperti biasanya. Meja bundar dilengkapi kursi yang mengelilinginya tersebar di seluruh penjuru ruangan itu. Meja kotak yang ukurannya lebih kecil dari meja bundar terletak di pinggir-pinggir kantin itu, dengan 2 buah kursi yang melengkapi meja kecil tersebut.

Setelah memesan makanan, Chanyeol mengajak Éliane untuk duduk di kursi di pinggir ruangan, tempat yang sepi namun strategis untuk melihat kegiatan apa saja yang terjadi di kantin itu.

So,Ada hal apa yang membuatmu ingin bersekolah di Korea, Éli-ya?” Chanyeol mulai membuka percakapan mereka, sambil meniup-niup jjangmyeon yang asapnya masih mengepul, tanda bahwa mie tersebut masih belum bisa disantap oleh Chanyeol.

“Aku sudah bosan tinggal di Perancis dengan Ayah. Aku ingin mencoba hidup tanpa Ayah, dan aku merindukan kampung halamanku. Simple ‘kan?” Éliane mengedikkan bahunya, dan direspon dengan jawaban singkat ‘oh’ yang keluar dari mulut Chanyeol.

Mereka berdua terdiam, sama-sama larut dengan pikirannya masing-masing. Éliane sejak tadi tidak memakan makanannya, ia hanya mengaduknya sembarangan. Pikirannya jauh melayang pada kejadian-kejadian yang ia alami hari ini.

Sama-sama terlarut dalam pikirannya, baik Éliane maupun Chanyeol tak menyadari kehadiran Kris yang berjalan mendekat ke meja mereka berdua dengan senyum yang terlewat lebar, sehingga siapapun akan bergidik ngeri melihat Kris saat ini.

“Hey nona, apakah kepalamu sudah kau periksakan?” Suara berat Kris sukses membuat Éliane sedikit terlonjak kaget dari kursinya. Tubuh Éliane terpaku. Tubuhnya membeku begitu melihat Kris bersama beberapa pria yang berdiri dibelakangnya, berdiri disamping kursinya sambil membungkuk, menghapus jarak antara mereka berdua sehingga wajah Kris kini sangat dekat dengan wajah Éliane.

“Nona, apa kau tidak apa-apa? Kenapa diam saja? Apa kepalamu masih sakit?” Kris dengan tanpa berdosanya mengangkat tangan kanannya dan menempelkannya di dahi Éliane, “Tubuhmu tidak panas ‘kan nona?”

“Hey, jauhkan tanganmu darinya.” Chanyeol menginterupsi kegiatan Kris dengan cepat dan tegas, tidak suka dengan sikap Kris yang terlalu dekat dengan Éliane.

Kris menjauhkan tangannya dari dahi Éliane lalu menoleh, kemudian detik berikutnya Kris sudah tertawa renyah dan memandang Chanyeol dengan tatapan merendahkan, “Ah, Park Chanyeol rupanya.”

Kris kemudian melanjutkan kalimatnya, “Apa yang kau lakukan bersama gadis ini, huh?”

“Aku mengantarnya berkeliling. Tidak boleh?” Tanya Chanyeol sinis.

Éliane memperhatikan kedua pria yang kini saling berhadapan dan saling melempar tatapan yang cukup menyeramkan dengan bingung. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Kris selalu mendekati wajah Éliane tiap kali mereka bertemu? Kenapa Chanyeol dan Kris justru malah beradu mulut dihadapannya? 

“Hei,hei. Sopanlah sedikit pada sunbae-mu.” Salah seorang pria yang sepertinya sejak tadi ada dibelakang Kris memperingatkan Chanyeol dan membuat Éliane terkejut. Ia pikir Kris adalah teman satu angkatannya.

Chanyeol membuang muka,“Aku tidak perlu berbicara sopan pada orang seperti dia.”

“Kau-“

“Sudahlah, Kai. Biarkan saja. Percuma kau memperingatkannya seperti itu. Mau sampai babak belur-pun orang ini tak akan mau berkata sopan pada seniornya.” Kris merentangkan tangan kanannya, menahan Kai –orang yang ada dibelakang Kris yang sudah bersiap maju kedepan dan mengambil ancang-ancang untuk menghantam Chanyeol.

“Cih,” Orang yang dipanggil Kai itu berjalan mundur, kembali ke tempatnya semula dengan wajah kesal karena keinginannya untuk memberikan hadiah bogem pada Chanyeol dihentikan oleh Kris, “Jangan mentang-mentang kau anak nomor satu disekolah ini, kau bisa semena-mena berbicara seperti itu pada seniormu, Park Chanyeol-ssi.”

“Aku tak peduli.Ayo Éli.” Chanyeol bangkit dari kursinya lalu menarik tangan Éliane yang masih memasang wajah bingung, tidak mengerti dengan kejadian yang baru saja ia saksikan tadi. Éliane hanya menurut saja begitu tangannya ditarik oleh Chanyeol dan pergi meninggalkan Kris beserta kawan-kawannya.

“Nona, aku beri tahu. Lebih baik kau menjauh saja dari orang itu. Kau akan menyesal nantinya.” Kris berteriak cukup keras hingga Éliane bisa mendengarnya dan membuatnya semakin bingung. Apa maksudnya?

“Jangan hiraukan mereka, Éli-ya,” Chanyeol membuka mulutnya, berbicara pelan hingga hanya Éliane yang bisa mendengar suaranya, “Mereka hanya iri padaku saja.”

“Iri?”

“Karena aku anak dari pemilik sekolah ini.”

***

Banyak alasan mengapa Éliane sangat menyukai pagi hari. Langit cerah berwarna biru yang selalu menumbuhkan semangatnya untuk beraktivitas hari ini, semilir angin segar yang membuat dirinya terbuai untuk memejamkan mata dan menikmatinya secara mendalam, selalu berhasil membuat Éliane begitu menyukai pagi hari.

Tapi tidak dengan pagi ini. Pagi ini adalah pagi ter-kelabu bagi Éliane.

Hari ini ia terbangun dengan bagian bawah mata yang menggelap dan pusing yang cukup parah. Ucapan Chanyeol kemarin terus terngiang di otak Éliane dan membuatnya tak bisa memejamkan matanya.

‘Kris itu sunbae kita. Dia ketua tim basket sekolah kita dan dia juga pemimpin dari murid-murid nakal di sekolah kita.’

‘Kau sebaiknya tidak berhubungan dengannya lagi, Éli-ya. Dia selalu bersikap manis jika bertemu dengan siswi sepertimu. Tapi-‘

‘Ia akan langsung menjatuhkanmu begitu kau jatuh cinta padanya.’

Semuanya berputar di kepala Éliane. Gadis itu tidak tahu harus percaya kepada kedua pria tersebut. Disaat ia terpana dengan sikap Kris yang tak terduga, Chanyeol membuatnya berpikir ulang tentang perasaannya pada Kris. Apakah Kris benar-benar seorang heart-breaker? Apa maksud dari Kris akan menyesal nantinya jika dekat dengan Chanyeol?

“Selamat pagi.”

Éliane hampir saja tersedak ludahnya sendiri begitu melihat Kris dengan seragam kusut dan rambut berantakan–khas berandalan, berdiri di depan apartment-nya sambil bersender pada mobil sport hitam yang bersembunyi dibalik tubuh Kris.

“A-apa yang kau lakukan disini, Sunbae?” Tanya Éliane gugup.

Kris mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum licik pada Éliane, “Errr…menjemputmu?”

Éliane menatap Kris penuh tanya,“Aku tidak pernah meminta sunbae untuk menjemputku. Dan –bagaimana sunbae bisa tahu aku tinggal disini?”

Bukannya menjawab pertanyaan Éliane, Kris justru berjalan mendekati Éliane yang masih jauh berdiri terdiam darinya, lalu tanpa berbicara sepatah kata-pun Kris menarik lengan Éliane dan segera menariknya masuk kedalam mobil, dan segera men-starter mobilnya itu.

Éliane diam, Éliane tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Éliane –lagi-lagi terpana dengan sikap Kris. Sikap cool tetapi hangat yang dimiliki oleh Kris benar-benar membuat otak dari gadis yang saat ini duduk di kursi depan penumpang menjadi tak karuan.

“Ah-“ Kris membuyarkan lamunan Éliane. Ia menatap Éliane sebentar lalu berkonsentrasi lagi pada jalan yang ada didepannya, “Kau tahu ‘kan kenapa aku bersikap seperti ini padamu?”

“Tidak.”

“Oh ayolah Éliane! Apakah otakmu itu otak anak kecil?”

“Aku memang tidak tahu, sunbae.”

Kris menghembuskan nafasnya berat, terdiam sebentar kemudian berdehem pelan, “Karena aku menyukaimu.”

Deg

Rasanya Éliane ingin menjerit sekerasnya, melompat keluar dari mobil dan menari segila-gilanya. Pernyataan suka Kris pada Éliane benar-benar tak disangka dan tak diduga. Éliane ingin sekali membalas perkataan Kris tadi. Tapi, Éliane tidak bisa. Ia belum bisa membalas perkataan Kris tadi.

Kalimat-kalimat yang Chanyeol ucapkan kembali merangsek masuk ke pikiran Éliane. Kata-kata yang sangat menohok bagi Élaine, bagi perasaannya. Membuatnya berpikir dua kali untuk menaruh hati pada Kris.

Éliane menyukai Kris –tentu saja. Sejak pertama kali ia melihat Kris yang berpeluh, sejak pertama kali Kris menyodorkan tangannya untuk berkenalan dengan Éliane, bahkan saat Kris dengan tidak sengaja melemparkan bola-nya pada gadis itu. Éliane tak bisa memungkirinya.

“Maaf sunbae-“

“Aku tahu kau masih berpikir tentang reputasiku sebagai seorang heart-breaker. Yah, mereka benar. Aku memang sering mematahkan hati seorang wanita. Tapi kau-“ Kris yang masih berkonsentrasi menyetir menarik napas dalam-dalam, dan membuangnya dengan sekali sentakan, “Kau berbeda.”

“Kau adalah gadis pertama yang benar-benar membuat aku jatuh cinta. Memang aneh aku bisa jatuh cinta padamu padahal aku baru saja melihatmu kemarin. Tapi entahlah, begitu aku melihatmu aku langsung berpikir kalau aku, akhirnya menemukan seseorang yang pas untukku.”

Éliane masih diam, tak berkutik sedikitpun. Ia menundukkan kepalanya malu sambil memainkan jari-jari tangannya sendiri. Éliane salah tingkah!

“Dan untuk Chanyeol, aku sarankan kau menjauh darinya. Dia adalah orang yang picik. Apapun yang ia inginkan, ia harus mendapatkannya. Dan kurasa-”

“Ia ingin memilikimu.”

Entahlah, saat ini perasaan dan pikiran Éliane benar-benar tidak karuan.

***

Apakah kisah klasik selalu seperti ini?

Si tokoh wanita diperebutkan oleh dua tokoh pria yang bermusuhan,

Dan gadis dari cerita itu selalu dihadapkan dengan sebuah pilihan yang sangat sulit untuk ditentukan?

Kenapa aku harus mengalaminya?

Kenapa aku harus memilih yang terbaik dari yang terbaik untuk diriku?

***

“Duel basket?” Éliane membulatkan kedua matanya reflek, menatap Chanyeol yang dengan santainya duduk dikursi di samping Éliane, “Kau? Dengan Kris sunbae?”

Chanyeol menautkan jemarinya di belakang kepala dan dengan tanpa beban menganggukkan kepalanya dua kali, “Kris yang mengajakku bertaruh. Siapa yang berhasil memasukkan bola duluan, boleh mendekatimu dan siapa yang tidak, dilarang untuk mendekatimu.”

“Kalian gila ya?” Éliane mendesah pelan dan mengacak rambutnya frustasi, “Memangnya aku barang taruhan? Yang benar saja.”

Chanyeol tersenyum pada Éliane dan dengan suara pelan  membalas perkataan Éliane,“Kau lebih dari sekadar barang taruhan, Éli-ya.”

“Kau itu adalah sebuah harta karun yang hanya ada satu di dunia ini, dan tak ada yang bisa menggantikan dirimu. Meskipun ada harta karun yang nilainya jauh melebih dirimu, kau tetap tak tergantikan. Aku dan Kris adalah orang yang memperebutkan harta karun itu, memperebutkan dirimu. Kami sudah tau resiko kami untuk mendapatkanmu. Kami berdua yang akan menentukan siapa yang pantas untukmu. Diriku atau Kris.”

“Kau mana mungkin bisa menang melawan kapten basket sekolah kita, Chanyeol-ah.”

“Kau khawatir aku akan kalah, Éli-ya?” Chanyeol mengangkat sebelah alisnya, menatap Éliane dengan pandangan menyelidik.

“Bu-bukan seperti itu!” Éliane membantah, “Maksudku, untuk apa menerima sebuah taruhan yang sudah pasti dimenangkan oleh lawanmu?”

“Siapa bilang aku tidak bisa bermain basket? Aku adalah pemimpin tim basket di SMP-ku. Si Kris itu tak jauh lebih baik dariku. Kau tenang saja. Kau akan menjadi milikku. Apapun yang terjadi, menang atau kalah, kau tetap akan menjadi milikku.”

Éliane menatap Chanyeol ngeri. Kalimat terakhir yang Chanyeol ucapkan sedikit membuat Éliane terkejut. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Kris kalau Chanyeol adalah orang yang picik dan egois, dan hal ini membuat Éliane sedikit khawatir dengan duel yang ditawarkan oleh Kris.

Bel sekolah tiba-tiba berbunyi nyaring, menandakan jam pelajaran hari ini sudah selesai. Éliane dan Chanyeol segera membereskan buku-buku yang berserakan di meja mereka, dan berjalan keluar dari kelas dengan tas yang menggantung di pundak mereka.

“Kau mau kemana Éli-ya?” Chanyeol tiba-tiba menarik lengan Éliane yang hendak berjalan berlawanan dengan Chanyeol.

Éliane menatap Chanyeol dengan bingung, “Pu…lang?”

Chanyeol berdecak kesal mendengar jawaban dari Éliane dan tanpa aba-aba, ia menarik Éliane agar berjalan mengikutinya. “Pulang katamu?”

“Duelnya hari ini. Kau yakin tidak mau melihat siapa yang menang dan menyambutnya, Éli-ya?”

***

Rupanya berita di sekolah ini tersebar terlampau cepat. Bagaimana tidak? Saat ini aula sekolah sudah penuh sesak dengan para murid yang duduk di tribun, menantikan duel antara Kris dan Chanyeol. Kris yang duduk dengan tenang dipinggir lapangan basket berdiri begitu melihat Chanyeol dan Éliane masuk kedalam aula sekolah.

“Aku kira kau tidak menerima tawaranku.” Chanyeol hanya tersenyum sinis merespon ucapan Kris. Sedangkan Éliane masih blank, bingung harus melakukan apa.

“Aku akan bersiap. Kau tunggu disini saja ya Éli-ya.” Chanyeol lalu masuk kedalam ruang ganti, menyisakan Éliane dan Kris yang saling bertatapan dalam diam.

Éliane menggaruk tengkuknya yang tak gatal, tampak ragu sebelum akhirnya gadis itu membuka mulutnya dan berbicara pelan, “Kenapa kau melakukan ini?”

“Melakukan apa?” Tanya Kris balik.

“Ya, melakukan ini –untuk apa kau melakukan taruhan seperti ini?” Éliane mengikuti Kris yang berjalan menuju kursi yang ada di pinggir lapangan, lalu duduk menyebelahi Kris.

Kris memutar kepalanya dan menatap Éliane dengan tatapan penuh keyakinan, “Karena aku ingin memilikimu. Dan aku pikir hanya dengan cara ini Chanyeol tak akan mendekatimu lagi.”

Chanyeol tiba-tiba keluar dari ruang ganti sambil membawa bola basket di tangan kanannya dan handuk putih disebelah kanannya. Sepertinya Chanyeol sudah sangat siap untuk berduel dengan Kris.

“Baiklah, kurasa sudah saatnya.” Kris bangkit dari kursi, diikuti Éliane yang ikut berdiri dengan wajah khawatir, “Sunbae-”

“Tak usah khawatir Éli-ya,” Kris yang menyadari rasa kekhawatiran Éliane mengangkat tangannya dan mengusap puncak kepala Éliane lembut, dan mencubit pipi Éliane pelan, “Aku akan memenangkannya.”

Duel antara Kris dan Chanyeol dimulai seiringan dengan jeritan penuh semangat baik untuk Kris maupun Chanyeol yang terlontar dari murid-murid yang berada di tribun. Sedangkan Éliane hanya bisa memejamkan matanya, tak bernyali untuk melihat pertandingan itu.

Semuanya terasa begitu cepat berlangsung, begitu jeritan-jeritan para murid tiba-tiba menjadi semakin keras dan riuh. Éliane masih tak berani membuka matanya, takut untuk menerima kenyataan kalau-kalau Chanyeol-lah yang memenangkan duel ini.

Murid-murid yang berada dibelakang Éliane semakin riuh, membuat jantung Éliane semakin berdebar.Seseorang tiba-tiba menggoyang-goyangkan tubuh Éliane dengan cepat, membuat Éliane dengan reflek membuka matanya dan mendapati Kai –teman Kris-lah yang menggoyangkan tubuhnya.

“Bodoh! Buka Matamu! Kris memenangkan duelnya tapi Chanyeol langsung menghantamnya! Kau harus menghentikannya Éliane!”

Wajah Éliane memucat seketika. Hatinya mencelos. Hatinya mencelos seperti ada besi panas yang ditancapkan ke jantungnya begitu melihat kejadian yang berlangsung tepat dihadapannya.Kris dengan darah yang keluar dari multnya terkapar di lantai lapangan basket, dengan Chanyeol duduk diatas badannya sambil melayangkan tinju pada Kris secara brutal, tanpa henti.

“Éliane hanya boleh menjadi milikku! Tidakkah kau mengerti hal itu? hah?” Chanyeol menjerit keras, meluapkan semua emosinya pada Kris. Kris melawan, dengan sekuat tenaganya ia mendorong Chanyeol dan membalik keadaan. Kris lalu mulai menghantami Chanyeol dengan keras dan tanpa ampun, memberinya pelajaran.

“Kau tidak pantas mendapatkan Éliane! Kau harusnya sadar diri!” Kris berdiri sambil menarik kaus yang dipakai Chanyeol, memaksa pria yang memukulnya tadi itu untuk berdiri. Kris bersiap melayangkan tinju kerasnya pada Chanyeol, sebelum akhirnya Kris terpaku begitu seseorang menabraknya dari belakang.

“Sudah cukup, Sunbae. Jangan memukulnya lagi.” Éliane berujar pelan, ia membenamkan wajahnya pada punggung Kris berusaha menghentikannya.

Kris melepas cengkraman tangannya pada Chanyeol hingga membuat Chanyeol kembali terjatuh ke lantai. Kris luluh. Kris luluh dengan suara lembut Éliane yang memintanya untuk berhenti. Ia benar-benar tak bisa menolak permintaan dari Éliane, meskipun Kris rasa Chanyeol masih kurang diberi pelajaran.

Kris berbalik dan menatap kedua mata Éliane yang sudah basah karena air mata. Tangan Kris reflek menyentuh kedua pipi Éliane dan menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi Éliane dengan ibu jari-nya. Kris tersenyum lembut pada Éliane,“Kenapa menangis? Aku menang ‘kan?”

“Kau babak-belur, Sunbae.”

“Hanya seperti ini, kok. Besok pasti sudah baik-baik saja.”

“Jangan menangis ya? Aku tak bisa melihat kau menangis.” Éliane mengangguk menjawab pertanyaan Kris sambil tersenyum. Éliane lega. Gadis ini benar-benar lega Kris-lah yang memenangkan duel ini –meskipun dengan sedikit babak-belur

“Mungkin ini saat yang tepat untuk mengatakan ini,” Éliane menatap Kris bingung, tak mengerti maksud dari Kris.

Kris meraih kedua tangan Éliane, lalu menatap gadis itu dengan dalam dan lembut, “Ini bukan pernyataan suka ataupun pernyataan cintaku untukmu. Ini juga bukan pertanyaan yang akan mengekangmu dan membuatmu tak bisa berkutik. Ini hanya sebuah permulaan. Dimana semua cerita dimulai, dimana sebuah kisah akan berkembang dan waktu yang akan menentukan segalanya nantinya.”

“Éliane, bolehkah aku mengenalmu lebih jauh lagi?”

***

Kisah klasik romantis memang kisah yang sangat indah bagiku,

Kisah sempurna memang selalu membuat pikiranku melambung jauh kedalam impian-impian yang selalu menempel di dalam otakku,

Kisah-kisah itu tidak pernah bosan untuk membuatku mabuk akan kisah klasik yang aku impikan,

Tapi, aku rasa kisah yang aku alami pada diriku sendiri,

Adalah kisah klasik terbaik di sepanjang hidupku.

***

Hahahaha Ra tau ini cerita ga banget sebenernya, cerita super duper mainstream kan? wkwkwkwk

Yah mau gimana lagi. Ra lagi ga ada ide buat ff tentang ultahnya Kris, dan lagi males liat muka Kris karena skandal yang agak sangat kurang mengenakkan dan bikin Ra sakit hati huhuhu ;_; dan itu juga yang menyebabkan poster kali ini tanpa ada gambar mukanya XD

Dan juga /kebanyakan kata dan/ /duak/ kebetulan Ra dapet tugas buat bikin cerpen, Kan ga mungkin kan ya Ra ngumpulinnya pake ff Yichan yang mayoritasnya penuh dengan adegan….. lolololol. Jadilah Ra bikin ini sekalian buat ultah Kris._.

Buat Suivre, ditunggu aja deh ya. doain aja semoga cepet selesai^^

Terimakasih kalian kalian yang udah mau baca dan komen di ff ini~~~~ /kissss/

XOXO,

Ra

31 thoughts on “[Another YiChan] Classic

  1. Cicilia Stefani says:

    Sebenrnya jalan ceritanya terlalu cepet, tapi masih bisa ditangkap ko alur dan jalan ceritanya. Aduh Eli diperebutin duo jangkung. Ga ngebayangin kris babak belur kaya gmn. Tp tetep keren YiChannya;) Ditunggu karya YiChan selanjutnya eonni:)

  2. Minhyo-Kim says:

    HABEDEEE WU YIFANNN!!
    Wah wah tapi katanya skandalnya boong aja tuh eon.
    Lucu eon ceritanya. Bener bener kayak cerita yg di komik” sekolah”an gmanaaaa gtuuuu. Hehehe
    Ditunggu ff slanjutnya eon! 🙂

  3. kimsohee says:

    Beruntungnya chanra diperebutkan oleh 2 orang jangkung di exo gak bisa ngebayangin tiba-tiba chanyeol jadi orang yang ambisius wkwkwk ini keren loh ditunggu yichan selanjutnya ^^

  4. nadatiana says:

    ahh.. eonnie ternyata galau juga liat skandalnya kris sama artis cina itu. aku juga galau bgt eonnie 😦
    aku kira chanyeol di sini tetep jadi kakanya chanra. ternyata beda lagi ceritanya. so sweet bgt~ 🙂
    ditunggu suivre nya, eonnie..
    keep writing. FIGHTING!! 🙂

  5. it'sme Min2 says:

    Chanra d’rebutin sama Oppa’a sendiri agak aneh serasa maksa kalo es campur musti d’pakein ice cream hehehhehee ,,, maklum sugesti Yichan kenceng bener d’otak 😀

  6. paperofstories says:

    RAAAAAA!!!!!!! Hayo tebak ini siapaa? Zen lho/duagh/ puahaha.

    Aduh rasanya udah lama ga main ke rumah ;_; /berasaapaan/ dan langsung disuguhin sama karya sastra kamu yang meningkat drastis 😮 sukaaaaaaaaa (/.\) ceritanya singkat, manis, dan….euh enak diikutin kyaaa kyaaa~

    Aduh YiChan mah selalu romantis yak, ga bisa jauh-jauh sih dari sana tapi itu yang ngebuatnya beda. Dan romantis kamu itu lho…geez ga ada yang bisa nandingin :p

    Intinya aku suka sama another YiChan ini, entah karena ceritanya yang manis dan penulisan kamu yang meningkat banget. Nulisnya beneran pake hati nih kayaknya huahahaha semangat Chanraaaa!!!!! Kalau Kris sama itu artis cina, kamu sama mochi aja :3

    Makasih Ra atas karyanya yang menghibur dan manis ini 😀

    Sincerely,
    Zen with Killua love ❤

    • indaylee says:

      AAAAKKKKK ZEEEEEENNNNNNNNNNN /pelukkkkkkkk/
      Kangen bangettttttttt ;________________;

      Aih Zen malu ihhhhh >////////,
      Alhamdulillah Zen Ra meningkat ya wkwkwkwk

      Ah Zen hahahaha masih banyak kok romantis yang lebih romantis daripada Ra hahahaha

      Pake hati banget ini Zennnnnn hahahaha bikinnya sambil nangis nangis ini /lho/

      Hahahahha makasih juga ya Zen nyempetin mampir di rumah <33333

      XOXO,
      Ra yang kangen sama Zen banget banget XD

  7. hyo1 says:

    aahhh…. gk bs bayangin kris sm chanyeol berantem, tp beruntung nya jadi chanra yang diperebutkan duo tiang listrik…

    Keep Writing ya Eon
    FIGHTING!!

  8. delusiaa says:

    kereeeeeennnnnnnn aku suka aku suka apalagi ada badboy nya huuuuuhhhh daebaaaaakkkkkkkk
    omooooooo ko chaenyeol gitu sih kaya psikopat, semiga ini dilanjutin lagi yah ga ampe sini
    aku tunggu onflik yg meneganhkan dan romancenya juga yah
    fighting uat eonnie yg nuliiiisssss,
    a .mau pas tanding nya kelar terus kehidupan dia di sekolah ampe kuliah dooongggg atau ga ampe kriss nya lulus duluan deh heheheheee

  9. imas says:

    gak kebayang yoel jdi orang ambisius….. ttp suka ama yichan disini…. walau kurang skinshipnya….. ditunggu cerita yichan selanjutnya…

  10. lollicino says:

    CLASSIC! Well, chanyeol menyebalkan. jadi sentimental atau apalah itu bahasanya .-. mentang-mentang pemilik sekolah sih -__-” kerenlah heart-breaker macam kris wu itu ampe bela-belain duel, terus ditonjokkin ama Chanyeol demi seorang Eliane~ namjachingu impian! 😀

  11. Zein_Ggamjong says:

    suka sama kisah klasik mreka b2 huhu
    v is getting so fast haha v tetep love it…
    unnie all your words is so meaningful jjang!!
    last fighting!!

  12. elsacessara says:

    waaaah krisny keren di sini >< tapi kenapa yeol dinistakan gitu /plak /apaini 😀 semangat ya thor nulisny. buruan lanjutin post ff yichan terbaru :)) fighting fighting

  13. Baek Soo Yeon says:

    ahhhhh~~~ >< yichan couple favorite kuuhh!! ra unni selalu berhasil bikin ff yang ceritanya ga mainstream(?) ah love you Ra unni <3<3<

  14. Lee Hye Ran says:

    Kok, jadi kayak cepet banget gitu ya? Ditambahin kris pov nya dong, biar tau feelnya kris ke eliane gimana hehe..trus itu chanyeolnya……..brutal banget cowo gue yaaaa-_- jadi serem nih wkwkw. Okey, i think that’s all from me~ keep writingg

  15. Ayoona says:

    Berasa kayak drama picisan banget yah 🙂 Diperebutkan 2 cowok ganteng tuh rasanya……
    Sempat mikir keras pas scene Chanyeol mukul Kris, soal’a gak pernah kebayang sih kalo Chanyeol punya karakter seperti itu 🙂 Hehehe 😀

  16. kauramints says:

    chanyeol jadi ambisius gitu serem juga bzzz
    yeay! wu fan yg menang, ah chanra just for wu fan :3
    ditunggu next chaptnya

  17. lollicino says:

    iya. klasik. klaaasik banget. Chanyeol yang muka derp dan tingkah laku gaje sedunia disini malah jadi brutal gitu -____- tapi seru. ngebayangin mukanya Chanyeol pas esmosi tuh kayak sesuatu banget ._. klasik lah pokoknya, tapi terlalu cepet. harusnya ada Kris POV biar makin gereget ‘-‘)b

  18. Huston_ELF says:

    Saya jadi bener-bener bayangin krisnyeol tanding basket.

    Enak bnget jadi chanra direbutin duo tiang listrik, saya envy berat 😀

Leave a Reply to indaylee Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s