[KaiNa Muses] Silent Love

muses

Title : Silent Love

Author : Ima (@bling0320)

Casts : Kim Jongin (Kai), Lee Hana (@inhanaLee)

Other casts : Park Chanyeol, Luhan

"Here’s a little story about how I found the guy of my dreams."

Oneshot (6.837 words)

Enjoy ^^

© INDAYLee’s Staffs 2013

[KaiNa Muses] Silent Love

Terkadang gadis itu tidak mengerti apa yang tengah terjadi pada dirinya. Ia membenci dan mencintai dua hal yang berbeda tetapi pada waktu yang sama. Ketika kedua matanya hanya bisa memandang jauh dari seberang jalan. Tidak berani melangkah sedikit pun dari tempatnya berdiri. Setiap sore sepulang sekolah, ia tidak akan pernah lupa untuk memandang ke seberang jalan di perempatan dekat jalan menuju rumahnya sambil tersenyum. Mungkin sebagian orang mengangganya gila. Terserah.

“Kau mau jadi apa saat besar nanti, kkamjong?”

“Barista.”

“Barista itu apa?”

“Pembuat kopi sekaligus seniman.”

“Seniman? Kenapa bisa?”

“Karena kita membuat seni di dalam cangkir kopi itu.”

“Jinjja? Sepertinya menyenangkan.”

“Keurae. Kalau besar nanti, aku akan ajarkan Hana menjadi barista yang handal.”

“Waah! Kau keren, kkamjong-ah!!”

Sebenarnya Hana sangat ingin memasuki coffee shop di seberang jalan. Memastikan bahwa sosok laki-laki berkulit sedikit hitam yang menjadi barista di balik meja itu adalah teman kecilnya. Kim Jongin. Namun ketakutan akan mobil yang berlalu-lalang selalu bisa mengalahkan keinginan Hana untuk melakukan itu. Pada akhirnya ia hanya menghela napas kemudian kembali berjalan menuju rumah mungilnya.

***

Dromophobia.

Ketakutan akan menyeberang jalan sudah dialami Hana sejak ia berumur tujuh tahun. Saat itu Hana meninggalkan ibunya yang tengah berbelanja ke seberang jalan untuk menghampiri toko permen yang baru buka dan membagikan permen gratis. Hana kecil mengambil permen itu dan kemudian kembali berbalik untuk menghampiri ibunya. Namun disaat yang sama Hana melihat ibunya itu berteriak histeris lalu berlari menyeberang jalan. Hingga kejadian selanjutnya berlangsung cepat, ketika sebuah mobil mini van menghantam tubuh ibunya. Hana kecil yang tidak mengerti apa-apa hanya diam dan menjatuhkan permen lolipopnya.

Tidak berhenti disitu saja. Adik laki-laki kesayangannya juga meninggal ketika Hana berusia 10 tahun. Hal itu dikarenakan lampu penyeberang jalan yang error. Saat menyeberang di pertigaan dekat sekolah, adiknya itu melihat lampu penyeberang jalan sudah hijau. Namun ketika menyeberang, sebuah mobil sedan membunyikan klakson dengan keras lalu menghantam tubuh mungil adiknya yang baru berusia limatahun.

Dan semua kejadian itu meninggalkan bekas pada dirinya hingga dewasa.

Hidup memang kejam. Hana bahkan harus hidup dengan sangat sederhana bersama bibinya. Tinggal di sebuah rumah mungil di pinggiran kota Seoul. Dengan kesendirian dan ketakutan akan menyeberang jalan.

Selama bertahun-tahun Hana hidup, bersekolah dengan hanya berjalan kaki atau naik bis dan langsung pulang ke rumah bibinya. Yang penting ia tidak harus menyeberang jalan. Namun kebiasaan ‘langsung pulang ke rumah’ itu berubah saat laki-laki itu muncul di café seberang sana. Hana sudah seperti orang bodoh yang hanya duduk di halte tanpa berniat naik bis agar bisa memandangi laki-laki yang selalu terlihat serius dalam mengerjakan seni dalam kopinya melalui kaca besar yang mengelilingi café itu. Sampai waktu beranjak sore dan Hana memutuskan untuk pulang sebelum bibi Lee mencarinya.

***

“Kai! Aku pulang duluan!” Seorang pria bertubuh tinggi menepuk pundak temannya yang tengah mencoba seni baru dalam cangkir kopinya.

“Ne, Channie hyung. Hati-hati di jalan,” Kai melambai singkat lalu tersenyum puas saat foam lattenya bisa berbentuk kupu-kupu.

“Kau sendiri mau jadi apa?”

“Aku? Mungkin kupu-kupu.”

“Hahaha. Tidak mungkin, Han-ah. Kau tidak bisa jadi kupu-kupu.”

“Kenapa? Aku bisa bebas terbang kemana saja.”

“Tapi itu tidak mungkin, Lee Hana. Dasar bodoh.”

“Ya! Aku tidak bodoh, kkaman!”

Seulas senyum muncul di bibirnya. Sosok gadis kecil berusia tujuh tahun itu masih teringat jelas di dalam pikirannya. Lee Hana. Gadis yang menjadi tetangga barunya selama beberapa bulan sebelum pindah rumah lagi entah kemana, setelah ia tahu bahwa ibunya Hana meninggal dunia. Kemudian keluarga Kai memutuskan untuk pindah juga beberapa tahun kemudian, meninggalkan banyak kenangan bersama Hana di halaman belakang rumahnya.

Kai membereskan meja ‘kerjanya’ lalu memutuskan untuk duduk di salah satu kursi cafe. Setelah berusaha membuat proposal untuk diberikan pada orangtuanya, akhirnya Kai mendapatkan kesempatan untuk memulai usaha sendiri dengan membuka coffee shop. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan belajarnya selama satu tahun ini sebagai seorang barista di Italia. Dan entah sejak kapan Kai selalu suka memandangi jalanan di sekitar coffee shop miliknya. Berada di belokan perempatan jalan dan membuat ia bisa melihat seluruh kendaraan atau pedestrian yang berlalu-lalang. Hingga Kai menyadari bahwa akhir-akhir ini sering melihat sosok gadis yang sama setiap harinya duduk di halte seberang jalan dan melihat ke arah coffee shopnya. Atau mungkin ke arahnya, Kai tidak pernah mau tahu. Ia terlalu sibuk mengurus usahanya hingga tidak mau tahu hal yang lain.

Hari sudah beranjak sore dan hujan. Kai terpaksa menutup cafénya sore itu karena Chanyeol –teman sekaligus satu-satunya karyawan di café harus pulang karena tidak enak badan. Ya, Kai bahkan terlalu baik karena mengizinkan pegawainya beristirahat. Lagipula sejak dibukanya café sekitar sebulan yang lalu, pengunjung yang datang selalu banyak setiap harinya. Mungkin karena ketampanan dan keramahan Chanyeol.

Kai baru saja membuka payung dan melangkah meninggalkan café ketika matanya menangkap sosok gadis yang sama sedang tertidur di halte seberang jalan. Sebenarnya Kai tidak pernah mau peduli, tapi melihat langit yang sangat gelap dan hujan yang cukup berangin, ia bukan tipe pria yang akan setega itu meninggalkan seorang wanita disana.

Setelah melihat lampu penyeberang jalan menjadi hijau, Kai dengan setengah berlari memasuki halte dan berdiri di depan gadis itu. Sejenak ia memandangi lekuk wajah yang entah kenapa terasa sangat familiar.

“Dasar bodoh!”

“Jangan menyebutku bodoh, Kim Jongin! Dasar pesek!”

“Hello, Han-ah. Kau punya cermin ‘kan? Silakan liat dirimu sendiri.”

“Ya! Kau menyebalkan, kkamjong!”

Suara teriakan bercampur ledekan itu kembali berputar dalam ingatan Kai. Gadis itu mengingatkannya pada sosok Hana kecil. Tidak terlalu mirip memang, tapi ada sebagian wajah gadis itu yang entah kenapa mengingatkannya pada Hana.

“Ya. Ayo bangun,” Kai menundukkan sedikit kepalanya untuk mencoba membangunkan gadis itu.

Dan tidak ada respon apapun. “Agasshi. Kau bisa –Astaga!”

Kai bermaksud menyentuh tangan gadis itu ketika menyadari suhu tubuhnya tidak senormal cukup normal. Sangat panas. Ia mengumpat pelan, bergegas memberhentikan sebuah taksi dan membawa gadis itu ke rumah sakit terdekat.

***

Pagi-pagi sekali Kai sudah kembali ke café untuk menaruh barang-barang yang baru diterimanya dari supplier. Biji-biji kopi yang di import dari luar negeri dan ia yang harus mengurusnya sendirian, karena Chanyeol tidak bisa membedakan biji-biji kopi itu. Chanyeol benar-benar hanya sebagai seorang pelayan di café dan tidak mau tahu soal membuat kopi.

Suara denting bel di atas pintu café membuat Kai menoleh cepat. Kegiatan membuat kopinya terhenti dan ia menatap lurus pada seorang gadis berparas cantik yang menjadi pelanggan pertama di cafénya. Bahkan Chanyeol belum datang dan ia belum memakai apron hitamnya, karena café memang baru akan buka dalam beberapa menit lagi.

“Maaf, tapi kami belum buka,” ujar Kai seraya melebarkan senyumnya, mencoba seramah mungkin.

Gadis itu terlihat bersemu merah. “Namaku Hye Rin. Apa aku bisa bekerja disini?”

Kai membasahi bibir bawahnya lalu mengusap bagian belakang kepalanya, bingung mengenai keputusan untuk menerima pegawai baru di cafénya. Ia melihat pintu café kembali terbuka dan melihat Chanyeol melangkah masuk dengan santainya. Tatapan Chanyeol pun tertuju pada gadis berambut panjang yang berdiri beberapa langkah di depan meja bar.

“Uh, dia pacarmu?” tanya Chanyeol dengan kedua mata bulatnya dan nada tidak percaya. “Cantik.”

“Kau gila, hyung. Dia hanya seorang wanita yang baru kukenal dan mau bekerja disini,” Kai memakai apron hitamnya dengan cepat kemudian keluar dari meja bar, merapikan meja-meja dan kursi karena café sudah harus buka. “Keputusan terserah padamu saja.”

Chanyeol tersenyum lebar lalu segera mendorong punggung gadis itu memasuki ruang loker. “Kau diterima, nona….”

“Ahn Hye Rin,” jawab gadis itu, masih tidak bisa menyembunyikan semu merah di pipinya.

Kai hanya memutar bola mata ketika suara mereka menghilang dibalik pintu ruang loker. Tangannya masih sibuk membersihkan permukaan meja dan merapikan kursi-kursi. Membuka tirai yang menutupi seluruh kaca di sekeliling cafénya, membiarkan sinar matahari pagi masuk, dan kemudian membalik tulisan menjadi ‘open’.  Hingga kedua matanya tidak sengaja menangkap halte seberang jalan. Tempat dimana ia menemukan seorang gadis yang pingsan beberapa hari lalu.

Sebenarnya Kai hanya mengantar ke rumah sakit, membayar biayanya, dan tidak pernah mau tahu  mengenai kabar gadis itu. Sejak saat itu juga Kai tidak pernah melihatnya duduk disana lagi. Aneh memang. Tapi Kai akan selalu melihat ke halte setiap sore dan merasa bahwa ada yang hilang. Melihat sosok gadis itu setiap harinya selama satu bulan terakhir mungkin sudah menjadi rutinitas baginya.

“Panggil aku Chanyeol oppa saja, jangan sungkan,” suara baritone Chanyeol kembali terdengar dan membuat Kai tersadar. Ia beranjak dari dekat pintu masuk, berjalan kembali ke belakang meja bar untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang barista. Tatapan Kai tidak pernah lepas dari Chanyeol yang tengah mengajari melayani pelanggan pada gadis bernama Hye Rin itu. Pesona seorang Park Chanyeol memang segala-galanya.

“Jongin oppa,panggilan Hye Rin membuat Kai bergidik.

Yang memanggil Kai dengan nama seperti itu hanya orang-orang yang sudah kenal sangat lama dengannya. “Kenapa kau memanggilku dengan nama itu?”

“Ah, ma-maaf,” Hye Rin membungkuk cepat dan Chanyeol hanya tertawa sambil menegakkan kembali pundak gadis itu.

“Tidak perlu minta maaf. Kai memang sensitif kalau seseorang memanggilnya dengan nama itu,” ujar Chanyeol.

Kai memutar bola matanya. Hanya orangtuanya dan Hana yang memanggilnya seperti itu. Jika orang itu tidak istimewa maka belum boleh menyebut nama lahirnya. Kai tidak mau merusak moodnya untuk melayani para pelanggan seharian itu. Lebih baik ia diam dan tidak menghiraukan semua yang dilakukan Hye Rin.

***

Langit kembali menumpahkan persediaan airnya sore itu. Hana dengan setengah berlari turun dari bis dan memasuki halte, seperti biasanya. Hujan turun cukup deras, Hana tetap berteduh di halte dengan memeluk tubuhnya sendiri. Semoga bukan badai karena angin berhembus kencang, menerpa tubuh ringkih Hana yang hanya terbalut seragam sekolah. Pandangannya juga tidak cukup jelas untuk melihat ke bagian dalam café di seberang jalan sana. Hana menghempaskan tubuhnya ke bangku dengan lemas lalu menyandarkan kepala ke dinding kaca halte.

Beberapa hari tidak bertemu –atau lebih tepatnya melihat sosok laki-laki di balik meja bar itu rasanya aneh. Beberapa hari ini ia harus istirahat penuh karena kelelahan dan karena demam yang tidak turun juga. Bibinya menceramahi habis-habisan karena Hana sering hujan-hujanan dan pulang terlambat. Bukan galak seperti ibu tiri atau apapun, bibinya itu hanya khawatir dengan kesehatan Hana.

Dengan setengah hati Hana membuka resleting tasnya untuk mengambil payung, mungkin lebih baik ia pulang saja daripada tidak bisa melihat laki-laki itu di dalam café. Hana mengerutkan keningnya ketika tidak menemukan benda itu di dalam tasnya. Masih merasa penasaran, akhirnya Hana mengeluarkan satu per satu bukunya ke atas bangku halte. Namun ia tetap tidak bisa menemukan payungnya. Dan Hana lupa bahwa kemarin bibinya meminjam payung karena keluar di sore hari saat hari sedang hujan juga.

Pilihan terakhir adalah bahwa Hana harus menunggu disana hingga hujan reda.

“Butuh payung?” suara berat seorang laki-laki membuat Hana bergidik. Hana tidak berani mengangkat kepalanya dan pura-pura sibuk memasukkan buku-buku sekolahnya kembali ke dalam tas.

“Nona, kau butuh payung?” tanya pria itu lagi seraya menyentuh bahu gadis itu dan Hana refleks menghindar.

Hana berdiri dari bangku halte, tatapannya tertuju pada sosok laki-laki bertubuh tinggi –dan mungkin hampir seumuran mendiang ayahnya tengah berdiri satu meter di depannya. Hanya ada satu payung yang digunakan oleh pria itu dan Hana tidak tahu dimana letak payung yang akan dipinjamkan –jika pria itu mau meminjamkan untuknya.

“Ayo ke rumahku dulu, aku akan pinjamkan payung.”

Sial. Hana melangkah mundur dan punggungnya sudah menabrak dinding kaca halte saat pria itu berjalan mendekat. Wajah pria tua itu terlihat menyeramkan, dengan seringaian kecil dan tatapan yang sangat tajam menelisik Hana dari atas hingga bawah. Jika saja Hana bisa melakukan hal lain selain berteriak saat itu. Mungkin berlari di bawah hujan akan membantu.

“YA! Kau mau kemana, nona?!” suara teriakan pria itu terdengar ketika Hana berbalik dan berlari di bawah hujan lebat menuju rumahnya.

Jalanan sudah cukup sepi mengingat langit mulai gelap dan hujan berangin seperti itu, Hana sudah tidak berpikir apapun lagi selain cepat sampai di rumahnya. Namun Hana tetap seorang gadis biasa yang larinya kalah cepat dari seorang laki-laki. Langkah Hana terpaksa harus terhenti ketika pria tua itu menarik bahunya dan membuat Hana berbalik. Seragam Hana sudah basah kuyup dan membuat tubuhnya semakin terlihat jelas. Pria itu tertawa puas lalu mencengkeram pergelangan tangan Hana, berusaha menarik gadis itu untuk mengikutinya.

“Ayo berteriak nona. Tidak akan ada yang menolongmu.”

Andai saja Hana bisa melakukan itu semua.

“Jangan memaksa seorang wanita, ahjussi.”

Hana merasa cengkeraman pria itu terlepas ketika seseorang menarik tubuhnya mundur ke belakang. Laki-laki yang menolongnya itu hanya menyerahkan payung kemudian maju selangkah, hingga Hana hanya bisa melihat punggungnya saja. Sembari menundukkan kepala, Hana tidak mau melihat pertengkaran yang terjadi antara kedua laki-laki itu. Ia benci kekerasan. Kedua mata Hana tertutup rapat dan ia bisa mendengar suara benturan antara trotoar bercampur air dengan tubuh manusia. Setelahnya tidak terdengar apapun, Hana mencoba membuka matanya lalu menatap punggung laki-laki itu yang masih membelakanginya.

“Kau harusnya berteriak,” laki-laki itu berbalik dan menatap tepat ke dalam manik mata Hana.

Katakan bahwa yang dihadapan Hana saat itu bukanlah sosok laki-laki yang selama ini ia duga sebagai seorang Kim Jongin. Rambut hitam laki-laki itu sudah lepek karena hujan, begitu juga dengan kemeja putih dan apron hitam yang dipakainya. Hana tidak bisa berkata apapun karena terlalu speechless, terlalu kaget ketika bisa melihat laki-laki itu dalam jarak dekat.

Oh atau Hana memang tidak bisa mengatakan apapun.

“Bawa saja payungnya dan kembalikan nanti. Cepat pulang ke rumah,” laki-laki itu berkata dengan nada dingin, mengambil tas plastik di dekat kakinya kemudian berlari menyeberang jalan untuk memasuki café dengan cepat. Meninggalkan Hana yang masih terdiam di tempatnya dan memperhatikan laki-laki itu. Mungkin sebaiknya Hana cepat pulang ke rumah, sama seperti apa yang diucapkan laki-laki itu.

***

Kai tidak memedulikan pertanyaan dari ibunya yang tengah duduk bersantai di ruang tengah dan lebih memilih untuk menaiki tangga, memasuki kamarnya. Ia segera mengganti kemeja putih dan apron hitamnya yang basah dengan celana pendek selutut dan kaos abu-abu polos. Ia juga mengambil handuk dari dalam kamar mandi untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Masih dengan handuk kecil di lehernya, Kai memutuskan untuk merebahkan diri di tempat tidur.

Mungkin Kai sudah sedikit tidak waras karena sudah menolong gadis itu di tengah hujan. Look-like a drama. Waktu yang tepat ketika ia baru saja membeli beberapa bahan untuk di café dan melihat gadis itu dalam kesusahan karena dipaksa oleh seorang pria tua. Dan ia –lagi-lagi bukan seorang laki-laki kejam yang akan membiarkan seorang wanita kesusahan seperti itu.

Kai mengepalkan tangan lalu mengangkatnya ke depan muka, melihat sedikit lebam yang muncul dari sana. Harusnya ia tidak perlu repot-repot membuat tangannya terluka hanya untuk menolong gadis itu tadi. Sudah lama tidak memakai kepalan tangannya itu.

“Jongin-ah,” suara lembut ibunya terdengar dan kemudian sosoknya itu muncul dari balik pintu kamar.

Tanpa mau mengubah posisinya yang masih merebah di tempat tidur, Kai bisa tahu bahwa sosok ibunya itu tengah berjalan mendekat. “Appa tadi menelepon.”

“Kenapa?” tanya Kai, acuh tak acuh.

Ibunya kemudian menyerahkan sesuatu pada Kai. Kai terpaksa mengubah posisinya menjadi duduk dan melihat sebuah amplop di tangan ibunya. “Appa kenapa?”

“Lihat saja dulu,” Yu Hyeon memaksa Kai untuk menerimanya dan membiarkan anak laki-lakinya itu melihat apa yang ada di dalam sana.

“Tiket pesawat?” tanya Kai tidak mengerti lalu menatap Yu Hyeon heran.

“Kami sudah menuruti semua keinginanmu selama ini, Jongin-ah,” ujar Yu Hyeon menghentikan ucapannya sejenak untuk melihat reaksi Kai. “Itu tiket pesawat ke Jepang. Appa memasukkanmu ke sebuah universitas di sana dan tahun ajaran barunya akan mulai bulan depan.”

Eomma,” sahut Kai sedikit meninggikan nada suaranya. “Aku belum menyetujuinya.”

“Kau sudah menyia-nyiakan satu tahun untuk belajar menjadi barista di Italia. Appa mau kau kuliah bisnis di Jepang, untuk membantu meneruskan perusahaan suatu saat nanti,” balas Yu Hyeon.

Detik berikutnya Kai menggeleng. “Aku baru buka café ini sebulan yang lalu, eomma. Bulan depan aku harus ke Jepang lagi, siapa yang mau mengelolanya?”

“Masih ada Chanyeol ‘kan?”

“Chanyeol hyung? Astaga eomma, dia tidak bisa membuat kopi atau apapun lainnya. Dia hanya seorang pelayan,” jawab Kai seraya melempar amplop berisi tiket pesawat itu ke sudut tempat tidur dan mengacak rambutnya frustasi.

“Ajari dia,” titah Yu Hyeon.

“Dia tidak akan pernah mau. Eomma~, kenapa tiba-tiba? Tahun depan saja,” tiba-tiba sifat dingin Kai berubah, laki-laki itu merengek sambil menatap kedua mata ibunya dengan nada manja. Yu Hyeon akan selalu luluh dengan rayuannya yang seperti itu, sama seperti ketika ia meminta untuk sekolah barista di Italia dan ketika ia meminta proposal cafénya untuk disetujui.

“Jangan merayuku lagi, Kim Jongin. Ini keputusan appamu,” tolak Yu Hyeon kemudian melangkah cepat meninggalkan kamar anak laki-lakinya.

Aish~,” Kai mengacak rambutnya lagi lalu kembali menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.

Menatap langit-langit kamarnya dengan kosong. Kai Tidak bisa membayangkan bagaimana cafénya berjalan dengan hanya mengandalkan Chanyeol. Cafénya bisa saja bangkrut karena Chanyeol memberikan kopi-kopinya secara cuma-cuma pada gadis cantik. Atau bahkan bangkrut karena Chanyeol sama sekali tidak bisa membuat kopi.

***

Sebenarnya Hana bermaksud untuk mengembalikan payung itu pada sosok laki-laki yang sudah menolongnya kemarin. Sekolahnya pulang lebih cepat hari itu dan Hana sudah berada di halte sejak pukul satu siang atau sekitar satu jam yang lalu. Jika saja laki-laki itu kembali menyeberang jalan untuk membeli sesuatu dan bertemu dengannya, maka ia akan mengembalikan payung itu. Namun sepertinya ia akan berada disana hingga sore hari –seperti kemarin-kemarin karena café di seberang jalan sana tengah ramai dengan pengunjung.

Jika tidak salah lihat, Hana juga melihat seorang pegawai baru. Seorang wanita cantik yang berhasil menarik pengunjung laki-laki. Sebelumnya ia hanya melihat gerombolan wanita yang berusaha menggoda laki-laki bertubuh tinggi dan laki-laki –pujaannya di dalam sana.

Dua jam berlalu dan Hana melihat café sudah sepi pengunjung. Rasa kantuk mulai menyerang Hana, padahal ia belum mau beranjak dari sana untuk pulang ke rumah. Masih belum puas memandangi sosok laki-laki di dalam café itu yang selalu serius ketika mengerjakan kopinya atau ketika tersenyum ramah kepada pengunjung. Seberapa keras mengendalikan kedua matanya, Hana terpaksa menyandarkan kepalanya pada dinding kaca halte dan tertidur. Hanya sebentar.

“Apa yang kau lakukan sebenarnya?” suara husky seorang laki-laki berhasil menarik Hana dari alam bawah sadarnya.

Hana segera berdiri dari bangku lalu refleks menyodorkan payung di genggamannya, walaupun payung itu berakhir dengan memukul pelan dada bidang laki-laki itu. Kecerobohannya kembali muncul di saat yang tidak tepat.

“Namaku Kai, kalau kau mau tahu,” ujar Kai kalem seraya menurunkan payung itu dari hadapannya, kembali ke sisi tubuh Hana. “Kau selalu disini setiap hari, eh?”

Hana hanya bisa menundukkan kepala dan mengangguk pelan. Tidak. Laki-laki itu bukan Kim Jongin kecilnya. Harusnya ia tahu bahwa Seoul tidak sekecil itu untuk bisa menemukan Jongin begitu saja. Mungkin Jongin-nya sudah pergi dari Seoul atau bersekolah di luar negeri. Kenapa ia mudah terpesona hanya karena Kai adalah seorang barista di café. Memang cita-cita Jongin menjadi seorang barista, namun ada ratusan barista di setiap café di Seoul dan Kai adalah salah satunya. Selama ini ia menyia-nyiakan waktunya untuk memperhatikan laki-laki lain.

“Kenapa melamun?” tanya Kai tiba-tiba. “Namamu siapa?”

Setelah ini mungkin Hana akan menghentikan kegiatan stalkingnya pada Kai. Meminta maaf karena merepotkan dan mengganggu. Hana memaksa tangan Kai untuk menerima payung darinya. Ia segera membuka tas, merobek kertas dari salah satu buku tulis lalu menuliskan beberapa kata di sana.

‘Maaf sudah merepotkan dan terima kasih. Aku pulang dulu.’

Kening Kai berkerut ketika membaca tulisan itu. Mulutnya baru saja terbuka untuk membalasnya saat melihat gadis itu membungkuk singkat kemudian melangkah cepat meninggalkannya. Kepalanya menggeleng satu kali, tidak mengerti dengan tingkah aneh gadis itu. Hanya memberikannya secarik kertas dengan tulisan acak –walaupun masih bisa terbaca lalu pergi begitu saja. Detik berikutnya Kai menyadari sesuatu.

Ia tahu kenapa gadis itu tidak berteriak meminta pertolongan kemarin.

***

Dunia benar-benar sudah gila. Kai tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya hingga tidak bisa mengerjakan seni dalam kopinya dengan baik. Seminggu sudah berlalu sejak gadis itu mengembalikan payung padanya dan tidak pernah muncul kembali di halte. Setiap sore Kai selalu melihat ke arah halte dan tetap tidak menemukannya. Mungkin gadis itu ketakutan karena ia memperkenalkan diri secara langsung kemarin.

“Kita tutup saja,” Kai melepas apron hitamnya ketika pengunjung terakhir cafénya melangkah keluar. Sore itu bahan-bahan untuk kopinya sudah habis lagi dan terpaksa harus tutup lebih awal.

Chanyeol membalik tanda di pintu menjadi ‘closed’ lalu menutup tirai pada jendela yang mengelilingi café. Sebelum jam dimana gadis itu berada di halte, Kai memutuskan sengaja menutup cafénya. Ingin melihat reaksi gadis itu ketika turun dari bis nanti, sementara Kai akan menunggu di dalam halte. Entah kenapa ia malah merasa penasaran karena gadis itu menghilang tiba-tiba.

“Kau tidak langsung pulang?” tanya Chanyeol begitu selesai mengganti bajunya seraya memperhatikan Kai yang masih sibuk membersihkan meja barnya.

“Sebentar lagi, kau pulang duluan saja, hyung,” Kai menyunggingkan senyum simpulnya. “Ah, ajak Hye Rin juga.”

Chanyeol tersenyum lebar sambil mengangkat ibu jarinya ke udara. Ia beranjak menghampiri Hye Rin yang tengah duduk di dekat pintu keluar. “Kami pulang dulu, Kai. Jangan bekerja terlalu keras.”

Ara. Hati-hati, hyung.

Melihat punggung keduanya yang menghilang di balik pintu membuat ingatan Kai mengenai kepindahannya ke Jepang kembali muncul. Hanya tinggal beberapa minggu lagi waktunya mengurus café sebelum dipindahtangankan ke orang kepercayaan ibunya –yang merupakan seorang barista juga. Pria China yang kalau tidak salah ibunya memperkenalkan laki-laki itu dengan nama Luhan, Kai tidak begitu ingat.

Kai yang baru saja keluar dari café sedikit terlonjak –kaget bercampur senang—entahlah, ketika melihat sosok gadis itu di seberang jalan. Baru saja turun dari bis dan berjalan meninggalkan halte dengan menundukkan kepala. Seolah kehilangan semangatnya. Kai memutuskan untuk mengikuti langkah gadis itu dari seberang jalan. Walaupun pandangannya kadang terhalangi oleh pedestrian yang berlalu-lalang dan juga kendaraan bermotor. Ia cukup puas memandangi gadis itu dari kejauhan saja.

Oh, apa yang terjadi pada dirinya sebenarnya. Kai sendiri tidak mengerti.

“Na-ya!” panggil seseorang membuat Kai menghentikan langkahnya –yang diiringi dengan langkah gadis itu yang juga terhenti. Tatapan tajam Kai tertuju pada sosok laki-laki yang tiba-tiba saja merangkul gadis itu.

Kai sempat menahan napasnya sejenak.

Tidak terdengar pembicaraan yang mereka lakukan. Yang jelas Kai melihat gadis itu tersenyum lebar lalu melangkah bersama laki-laki –berambut merah dan berwajah sedikit asing itu. Kai menggelengkan kepala tidak mengerti lalu segera meninggalkan jalanan itu dengan langkah lebar dan cepat. Tidak mau tahu-menahu mengenai masalah gadis itu lagi.

***

Hana merasa telah menjadi gadis bodoh sedunia. Pria yang sebelumnya memperkenalkan diri dengan nama Kai itu tetap mengganggu pikirannya dalam seminggu terakhir. Setiap hari sejak saat itu, Hana selalu menahan diri untuk tidak melihat ke dalam café dan berjalan lurus menuju rumahnya. Ketika bibinya bertanya mengenai ia yang selalu terlihat murung, Hana tidak pernah mau menjawab.

Sore itu Hana baru saja melangkah keluar dari bis ketika hujan lagi-lagi mengguyur kota Seoul. Hana hanya menghela napas panjang lagi. Tidak tahu harus melakukan apa karena bibinya lupa mengembalikan payung sejak saat itu. Tidak mungkin ia berharap Kai akan menolongnya lagi ‘kan? Hana mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan melihat beberapa pesan dari bibinya. Sebagian besar menanyakan keberadaannya yang tidak kunjung pulang.

“Lupa bawa payung lagi?” suara husky –yang kini mulai terdengar familiar itu membuat Hana terpaksa mengangkat tatapannya dari sepasang sepatu tali hitam ke wajah pemilik suara itu. Kai.

Kai tetap menunjukkan ekspresi dinginnya sambil menyerahkan satu payung, sementara di tangan satunya lagi ia memegang payung yang lain. Hana menatap tangan Kai dengan ragu. Setelahnya ia harus mengembalikan payung itu pada Kai lagi.

Gwenchana. Kau bisa kembalikan kapan saja… Err, namamu siapa?” tanya Kai setelah Hana menerima payung itu dengan ragu.

Hana menatap kedua mata Kai sejenak lalu bergegas mengeluarkan kertas dari dalam tasnya –walaupun dengan agak kesusahan. Gadis itu duduk di bangku halte lalu menuliskan sesuatu. Kai hanya memiringkan kepalanya, sedikit banyak merasa penasaran dengan apa yang tengah ditulis gadis itu.

‘Call me Na-ya, anyway.’

Kedua alis Kai hampir menyatu saat membaca tulisan itu. Na-ya? Entah kenapa Kai berharap mengetahui nama lengkap gadis itu. Rasanya aneh menyebut sosok gadis itu dengan panggilan ‘Na-ya’. Seperti tidak cocok dengan lidahnya.

“Jadi, Na-ya?” tanya Kai lagi. Masih ragu. Dan dijawab dengan anggukan oleh gadis itu.

Hujan masih mengguyur kota Seoul dan Hana akhirnya duduk bersebelahan dengan Kai di dalam halte. Setengah jam berlalu dan Kai masih saja betah berada disana walaupun tidak melakukan pembicaraan apapun. Terdiam dengan pikiran masing-masing. Atau mungkin Hana yang malas untuk menulis-nulis ketika mengobrol dengan orang lain. Hanya bibinya yang mengerti bahasa isyarat darinya.

“Kau bisu…. sejak lahir?” Kai bertanya dengan ragu, takut menyinggung hati Hana.

Hana kembali menulis di kertasnya dan menunjukkannya pada Kai.

‘Anhi. Sejak sepuluh tahun yang lalu.’

Kai menatap wajah gadis di depannya dengan seksama. Duduk berdua dengan jarak yang tidak terlalu jauh membuat Kai bisa melihat jelas bagaimana lekuk wajah Hana. Mata bulat dengan tatapan yang selalu terlihat familiar. Kai tidak pernah mau yakin bahwa gadis itu adalah Hana kecilnya. Keduanya memang terlihat mirip.

“Kau tinggal dimana?” tanya Kai lagi, entah kenapa merasa tertarik semakin jauh lagi.

Hana menunjuk ke belakang tubuh Kai dengan dagunya lalu membuat angka lima ratus dengan jari-jarinya. Hanya lima ratus meter dari halte itu. Kemudian Hana kembali menulis sesuatu.

‘Di dalam gang dengan rumah kumuh yang saling berhimpitan. Kau pasti tahu dimana.’

Kai hanya menjawabnya dengan mengangguk kemudian terdiam lagi, tidak tahu harus memulai pembicaraan apa. Jika ia pintar dalam membuat kopi dan bersikap dingin, semua itu tidak berlaku ketika berhadapan dengan ‘Na-ya’. Dan Kai masih saja merasa aneh ketika menyebut nama gadis itu dengan nama panggilan saja.

‘Terima kasih payungnya, hujan sudah mulai reda. Aku pergi duluan.’

Tulisan tangan yang rapi itu muncul di depan Kai dan ia hanya memperhatikan bagaimana Hana membungkuk lalu pergi dari halte itu dengan setengah berlari di bawah hujan gerimis. Mungkin berada di halte sore hari dan mengobrol dengan gadis itu akan menjadi rutinitas barunya. Sebelum ia meninggalkan Korea untuk sekolah di Jepang dan tidak bertemu gadis itu lagi.

***

Hari minggu dan Hana sebenarnya tidak perlu susah payah untuk mencari kesempatan berjalan di sekitar halte dan melihat ke dalam café milik Kai. Sore itu bibinya menyuruh Hana membeli bahan-bahan untuk makan malam di supermarket dekat halte. Dan Hana dengan senang hati menerimanya. Dari seberang jalan ia melihat Kai bersama seorang pria lainnya di balik meja bar. Rasanya kemarin ia belum melihat orang lain di balik meja bar, selain Kai.

Hana masih berdiri di tempatnya dan memandangi café milik Kai, ketika sang pemilik nama itu mengangkat kepala dan menatap Hana. Kai tersenyum simpul, ia menepuk pundak Luhan, mengambil Americano buatannya kemudian bergegas keluar dari café itu. Menyeberangi jalan dengan cepat lalu berdiri di depan Hana.

“Mau mampir ke caféku?” tanya Kai ragu. Hana menggelengkan kepala sambil mengangkat tas plastik di tangannya.

Keurom, I neoreul wihan (Kalau begitu, ini untukmu),” Kai mengucapkannya dengan ramah lalu menyerahkan segelas Americano pada Hana.

Hana menunjuk dirinya sendiri, memastikan pemberian Kai untuknya. Iris matanya melirik sekilas gelas plastik berisi Americano di tangan Kai. Laki-laki itu mengangguk sambil tersenyum simpul  dan detik berikutnya Hana menerima Americano itu. Hana membungkuk berkali-kali, bermaksud mengucapkan terima kasih. Ia tidak pernah tahu bahwa Kai –yang sebelumnya dingin bisa berubah menjadi sangat baik dan ramah.

Pedestrian yang berlalu-lalang tampak memperhatikan Kai dan Hana yang berdiri di tengah trotoar. Menghalangi jalanan dan membuat beberapa orang menggerutu atau menyuruh keduanya untuk segera mencari tempat lain, daripada menghalangi jalan. Padahal baru beberapa menit Kai dan Hana berdiri di sana.

“Mau kuantar sampai rumah?”

Apa lagi yang terjadi pada Kai sebenarnya. Kai merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa mengkoordinasikan otak dan mulutnya dengan baik. Harusnya ia kembali ke dalam café, melayani para pengunjung dan meninggalkan Hana agar pulang ke rumahnya. Dimana sifat dingin seorang Kim Jongin, eh?

Hana berpikir sejenak. Memang susah jika kita tidak bisa berbicara layaknya manusia normal. Terlebih lagi jika yang diajak bicara tidak mengerti bahasa isyarat dan Hana harus susah payah menulis kata-kata yang ingin diucapkannya. Jadi Hana hanya menjawab dengan menggelengkan kepala.

“Apa kau yakin?” tanya Kai lagi. Baiklah, Kai membiarkan bibirnya mengucapkan apa yang diinginkannya. Ia tidak peduli lagi.

Hanya sebuah senyuman simpul yang dilontarkan Hana sebelum gadis itu membungkuk dan melangkah ringan meninggalkan Kai. Melihat punggung Hana yang menjauh dari pandangannya dan menghilang diantara pedestrian yang lain, Kai merasa semakin takut kehilangan gadis itu. Kai tidak pernah mengerti tentang ‘rasa takut’ yang menghantui perasaannya akhir-akhir ini. Karena ia merasa pernah mengenal gadis itu sebelumnya. Sangat mengenalnya.

***

Dua minggu menjelang keberangkatan Kai ke Jepang. Laki-laki itu tengah sibuk mengurus kepindahannya dan hanya sesekali datang ke café. Seluruh pekerjaannya sudah dipindahtangankan pada Luhan, sementara ia hanya mengawasi saja jika datang kesana. Chanyeol terlihat sangat semangat ketika Kai melangkah masuk ke dalam café. Pria bertubuh tinggi itu memeluk singkat Kai kemudian kembali melayani para pengunjung dengan senyuman lebarnya.

Kai hanya duduk di kursi dekat jendela sambil memandangi halte di seberang sana. Matahari sudah tergelincir hampir kembali ke peraduannya dan Kai belum menemukan sosok Hana turun dari bis. Entah bagaimana, ia merindukan gadis itu.

“Kau menunggu gadis itu lagi?” tanya Luhan, menarik kursi di hadapan Kai. Café tidak begitu ramai dan semua pesanan sudah dibuat hingga Luhan bisa beristirahat sejenak dari pekerjaannya.

Pandangan Kai beralih pada laki-laki yang –ternyata lebih tua empat tahun darinya itu. “Apa dia ada di halte selama aku tidak datang, hyung?”

Ne. Saat tidak melihatmu disini, dia hanya menghela napas lalu berjalan pulang. Tidak pernah lebih dari lima menit berdiri disana,” jawab Luhan seraya menopang dagunya ke atas meja dan melihat keluar jendela, memperhatikan kendaraan yang berlalu-lalang. “Tapi dua hari ini dia tidak pernah ada di halte.”

“Kau yakin?” tanya Kai heran. Harusnya Hana melewati halte itu agar bisa sampai ke rumahnya. Tidak mungkin gadis itu tidak melewati halte, kecuali jika gadis itu sakit dan tidak masuk sekolah. “Aku pergi dulu.”

Kai meraih jaket kulit hitamnya dari sandaran kursi, memakainya dengan cepat sambil berjalan keluar café. Menunggu lampu penyeberang jalan hingga hijau lalu berlari menuju halte. Rasa khawatirnya membuncah.  Kedua mata Kai tertuju pada jalanan menuju rumah Hana dari arah halte. Hanya lima ratus meter dan di tempat kumuh. Mungkin ia bisa bertanya pada beberapa orang mengenai rumah gadis itu. Aneh. Kai tidak pernah merasa khawatir pada seseorang hingga membuatnya rela berjalan cepat sejauh lima ratus meter agar bisa memastikan bahwa gadis itu dalam keadaan baik-baik saja.

Langkah Kai akhirnya terhenti di dekat sebuah gang kecil yang minim penerangan, karena cahaya matahari terhalangi oleh gedung-gedung tinggi. Dengan ragu ia memasuki gang itu. Beberapa orang yang tinggal di rumah-rumah mungil disana melihat Kai dengan sinis. Merasa heran karena orang kaya dengan pakaian bermerk seperti Kai bisa masuk kesana. Hingga kemudian seorang laki-laki menghentikan langkah Kai. Ia menatap laki-laki –yang terlihat seperti seusianya dan tidak lebih tinggi darinya itu dengan dingin.

Jika tidak salah ingat, laki-laki itu yang berjalan dengan Hana saat itu.

“Kenapa kau kesini?” tanya laki-laki itu.

Mungkin Kai bisa menggunakan kesempatan untuk bertanya. “Aku mencari rumah, Na-ya. Kau tahu dimana?”

Laki-laki itu mendesis, memperhatikan penampilan Kai  dari atas hingga bawah lalu bersiul pelan. “Jadi… Kau pacarnya gadis itu? Sudah kuduga, dia mencari pria kaya sepertimu.”

“Dimana rumahnya?” Kai berusaha mengacuhkan ucapan laki-laki itu dan bertanya keberadaan rumah Hana.

“Aah, rumah kelima dari sini. Silakan,” jawab laki-laki itu seraya menyingkir, memberikan jalan untuk Kai.

Kai menyeringai pelan lalu melangkah cepat menuju rumah yang ditunjukkan laki-laki itu. Tangannya mengetuk pelan pintu –yang terlihat hampir reyot itu dengan sangat hati-hati. Takut jika tenaga bercampur rasa khawatirnya bisa menghancurkan pintu itu.

“Siapa?” suara lembut seorang wanita menyahut dari dalam disusul dengan pintu yang terbuka perlahan. Sosok wanita paruh baya dengan rambut memutih menyambut Kai dengan senyuman hangat.

“Apa ini rumahnya, Na-ya?” Kai menyadari bahwa ucapannya terdengar aneh karena detik berikutnya wanita itu mengernyit heran.

“Maksudmu Hana?”

“Hana?” Kai balik bertanya. Tidak mengerti dengan ucapan wanita itu.

“Aku Kyung Soon, bibinya Hana. Memang orang-orang banyak yang memanggilnya ‘Na-ya’,” Kyung Soon terkekeh pelan, membuat kerutan di sekitar matanya terlihat jelas. “Ayo masuk, nak.”

Kai membungkuk dalam kemudian mengikuti langkah Kyung Soon masuk ke dalam rumah mungil itu. Rumah itu lebih terlihat seperti kamar jenis one-room karena tidak ada penyekat antara ruang tengah dan dapur. Hanya saja kamar diberi penyekat dinding triplek dengan pintu yang sama reyotnya seperti pintu depan. Kai kemudian duduk di sofa berwarna peach –yang sudah berwarna agak kehitaman, menghadap meja pendek dan televisi kecil di depannya.

Sebelumnya Kai tidak pernah tahu ada rumah seperti itu di Seoul.

“Kau temannya Hana? Namamu siapa?” Kyung Soon berjalan dari dapur sambil membawa gelas berisi air putih dan menaruhnya di meja. Wanita itu duduk di sebelah Kai dengan hati-hati.

Ne, namaku Kai,” jawab Kai singkat lalu memperhatikan pintu di dekatnya. “Apa dia sakit?”

Kyung Soon terlihat menghela napas panjang lalu mengangguk pelan. “Badannya panas. Akhir-akhir ini dia sering sakit karena selalu pulang telat dan kehujanan. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya setiap sore hingga pulang menjelang malam.”

Kai menggaruk pipinya yang tidak gatal kemudian berdehem pelan. Ternyata Kyung Soon tidak tahu bahwa Hana selalu menghabiskan sorenya untuk memperhatikan Kai di halte. Jika Kyung Soon tahu, mungkin Kai akan segera diusir dari sana karena membuat Hana sampai jatuh sakit seperti itu.

“Maaf kalau Hana sering merepotkanmu ya, Kai. Walaupun tidak bisa berbicara, tapi dia anak yang baik,” lanjut Kyung Soon seraya menepuk pundak Kai dengan lembut. Senyuman hangat yang muncul di bibir Kyung Soon membuat perasaan Kai mencelos. Pasti wanita itu sangat menyayangi Hana.

Hana? Entah Kai harus bereaksi apa ketika Kyung Soon selalu menyebut ‘Na-ya’ dengan nama Hana. Ia hanya tidak mau terlampau senang karena bisa menemukan seseorang bernama Hana. Karena kemungkinan ‘Hana’ yang sama dengan ‘Hana’ kecilnya sangatlah besar.

Ahjumma tahu kenapa Hana… bisu?” tanya Kai hati-hati.

“Sejak ibu dan adiknya meninggal,” Kyung Soon menjeda ucapannya dan melihat reaksi Kai yang sedikit kaget. “Ibu dan adiknya meninggal ketika sedang menyeberang jalan. Dan Hana selalu melihat kecelakaan itu dengan kedua matanya sendiri hingga meninggalkan trauma berat dan membuatnya tidak mau berbicara pada orang lain. Hal itu membuat Hana memiliki Dromophobia juga, ia takut dan tidak pernah mau menyeberang jalan.”

Semua ucapan Kyung Soon terekam jelas di dalam kepala Kai. Terlalu banyak kebetulan yang membuat Hana terlalu sama dengan ‘Hana’ kecilnya. Ibu dan adik ‘Hana’ kecilnya meninggal, tepat sepuluh tahun yang lalu sebelum pindah dari sebelah rumahnya. Kemudian tidak pernah ada kabar lagi mengenai gadis itu, sampai hari itu dimana ia menemukan Hana yang sama persis. Ia tahu sebelumnya bahwa memang ada kemiripan antara ‘Na-ya’ dan ‘Hana’ kecilnya.

“Sejak saat itu Hana hidup dengan sangat sederhana dan tinggal denganku disini. Aku merasa beruntung karena masih bisa menyekolahkan Hana sampai tingkat SMA,” Kyung Soon kembali melanjutkan ucapannya.

Kai menatap kedua mata Kyung Soon lalu menarik napas panjang, “Namanya Hana?” tanyanya sekali lagi.

“Ya, Lee Hana.”

***

Keadaan Hana sudah sangat membaik esok harinya dan ia terpaksa harus masuk sekolah karena ada ujian harian Fisika, pelajaran yang sangat ‘disukainya’. Pulang sekolah hari itu Hana bermaksud mengembalikan payung milik Kai karena sebelumnya tidak pernah menemukan laki-laki itu di café. Ketika bibinya menceritakan Kai yang tiba-tiba datang ke rumahnya, Hana sangat shock. Ia tidak pernah menduga bahwa Kai akan mencari rumahnya dan menjenguknya seperti kemarin.

Hana –lagi-lagi tidak menemukan Kai di dalam café dan hanya menemukan pria lain dibalik meja bar. Padahal ia berharap bisa bertemu Kai, mengembalikan payung, mengucapkan terima kasih, dan kembali mengobrol mengenai banyak hal. Walaupun harus menulis terus-menerus, Hana senang karena bisa melihat sisi Kai yang lainnya. Sebenarnya Hana juga ingin bertanya mengenai Kai yang tiba-tiba mengunjungi rumahnya kemarin. Laki-laki itu tidak mungkin mau menginjakkan kaki di tempat kumuh seperti rumahnya itu jika tidak ada keperluan penting.

Tepat sebelum berbalik badan meninggalkan halte untuk pulang ke rumah, Hana mendengar namanya dipanggil oleh seseorang. Ia berbalik dan menemukan pria berambut pirang yang –akhir-akhir ini menggantikan Kai di belakang meja bar. Laki-laki itu menyeberang jalan, menghampiri Hana dengan napas terengah. Hana mengerutkan keningnya. Heran.

“Kau harus tetap disini,” titah laki-laki itu. Dan Luhan baru ingat kalau gadis itu tidak bisa berbicara –seperti apa yang sudah diceritakan Kai waktu itu.

“Kai akan datang sebentar lagi. Tunggu disini sebentar,” Luhan mendorong kedua pundak Hana kembali duduk di halte.  “Aku harus ke dalam lagi, kau jangan pergi kemana-mana.”

Hana hanya mengangguk patuh dan menatap kepergian Luhan –masih dengan heran. Waktu berlalu dan rasanya sudah hampir setengah jam Hana berada disana. Kedua kakinya mengayun-ayun sambil sesekali melirik ke kanan-kiri, mencari keberadaan Kai yang tidak kunjung datang. Ia tidak tahu kenapa Kai tiba-tiba menyuruhnya menunggu seperti itu. Mungkin Kai benar-benar memiliki keperluan penting yang menyangkut dirinya.

Sesaat kemudian Hana melihat sebuah mobil berhenti di dekat café milik Kai. Lalu selanjutnya pintu terbuka dan Kai keluar dari sana lengkap dengan Rayban hitamnya –yang entah kenapa membuat laki-laki itu semakin tampan. Hana meneguk ludah gugup saat Kai tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi sambil melambai ke arahnya. Tidak pernah sebelumnya Hana merasa segugup itu ketika Kai menemuinya.

“Han-ah.”

‘Mwo?’ Hana menggumam sendiri dalam hatinya ketika Kai meneriakkan namanya seperti itu. Hana berdiri dari bangku halte, memastikan pendengarannya lagi. Dan ia berharap dapat mendengar dengan baik.

“Lee Hana bodoh, YA!”

Ada apa dengan dunia sebenarnya. Hanya satu orang yang akan memanggilnya dengan ‘Han-ah’ dan embel-embel bodoh seperti yang Kai katakan tadi. Hanya Kim Jongin. Jongin kecilnya yang selalu meledek kebodohan Hana semasa kecil.

“Jongin oppa, aku pulang duluan,” pelayan wanita dari dalam café itu berpamitan pada Kai lalu berjalan cepat meninggalkan laki-laki –yang masih berdiri di dekat mobilnya itu.

‘Jongin?’ Hana semakin bertanya pada hatinya sendiri. Kepalanya tiba-tiba pusing, ia tidak mengerti dengan keadaan yang tiba-tiba berubah. Kai berubah menjadi Kim Jongin. Atau mungkin yang ia duga sebelumnya adalah benar, Kim Jongin telah berubah menjadi Kai selama ini.

Kai tersenyum lebar ketika melihat Hana menatap kosong ke arahnya, seolah tidak percaya pada kenyataan yang ada.

Mobil berlalu-lalang dengan cepat tetapi Hana masih memfokuskan pandangannya pada Kai. Detik berikutnya laki-laki itu berdiri di seberang jalan, melihat kanan-kiri dan memperhatikan lampu penyeberang jalan. Tepat ketika lampu penyeberang jalan berubah hijau, Kai –masih dengan senyuman simpulnya menyeberang jalan dengan santai. Seolah mengulur waktu agar bisa bertemu gadisnya. Namun disaat yang sama Hana melihat mobil melaju dengan kecepatan tinggi, menuju ke arah Kai yang masih berada di tengah jalan.

Hana menggeleng cepat. Ia tidak mau melihat orang yang disayanginya kembali pergi karena tertabrak mobil ketika sedang menyeberang jalan. Ia tidak mau pertemuannya dengan ‘Jongin’ hanya seperti itu saja. Tolong bantu Hana mengeluarkan suaranya. Tolong ia agar bisa memperingatkan ‘Jongin’ kecilnya.

KKAMAN!!

***

Rumah sakit. Hal kedua yang selalu dibenci Hana setelah menyeberang jalan. Karena ia melihat ibu dan adiknya meninggal di tempat itu. Walaupun ia masih menahan rasa takutnya pada rumah sakit demi Kai. Ia membawa laki-laki itu setelah terserempet mobil dibantu oleh Luhan dan Chanyeol tentu saja. Dokter mengatakan bahwa Kai harus mendapat beberapa jahitan di sikunya karena mendarat dengan keras ke aspal. Dan harus dirawat selama sehari untuk menormalkan kembali keadaan laki-laki itu.

Hana masih menunggu di kursi tunggu depan kamar rawat Kai sambil menunggu Luhan dan Chanyeol keluar dari sana. Ia ingin mendapatkan waktu eksklusifnya bersama Kai saja, tidak dengan keduanya. Masih ada beberapa hal yang ingin ditanyakannya pada Kai. Ah tidak, sangat banyak hal.

“Hana-ya, kami pulang duluan,” Chanyeol tiba-tiba menepuk pundak Hana, menyadarkan gadis itu dari lamunannya. “Jongin menunggumu di dalam.”

Hana segera berdiri dari kursinya, mengangguk singkat lalu membungkuk berkali-kali pada keduanya hingga menjauh di koridor. Kedua tangan Hana mulai berkeringat dingin. Pertemuan secara langsung dengan Kai. Atau lebih tepatnya dengan Kim Jongin. Jongin kecilnya.

Kepala Hana menyembul sedikit dari balik pintu, mengintip apa yang tengah dilakukan Kai setelah ditinggal kedua sahabatnya. Laki-laki itu terlihat tengah bersandar dengan tangan sibuk memainkan ponsel sambil tersenyum simpul. Senyumannya itu kadang melebar setelah melihat sesuatu di ponselnya. Dan Hana tidak tahu apa.

Tatapan Kai beralih dari layar ponselnya pada Hana. “Ya. Kenapa berdiri disana? Masuk, Han-ah.”

Hana menundukkan kepala dan melangkah dengan ragu memasuki kamar rawat Kai. Ia belum berani menatap kedua mata Kai secara langsung setelah kenyataan yang ada. Masih belum siap, Hana hanya belum siap jika Kai tidak mau menerimanya. Karena Hana yang dulu telah berubah menjadi Hana yang tuna wicara.

“Menghilang selama sepuluh tahun dan bertemu lagi sekarang. Unmyongeun aningayo?  (Takdir bukan?),” tanya Kai setelah Hana mengisi kursi di samping tempat tidurnya.

Marhae. Panggil namaku seperti tadi.”

Bibir Hana terkatup rapat. Karena terlalu panik, Hana –tidak sengaja berteriak untuk memperingatkan Kai. Dan laki-laki itu berhasil menghindar karena teriakannya walaupun harus jatuh ke aspal juga. Namun suaranya kembali hilang. Hana belum berani mengeluarkan suaranya. Ia masih takut.

“Atau aku harus seperti tadi lagi supaya kau mau mengeluarkan suara?” Kai kembali bertanya lalu menepuk puncak kepala gadis itu. “Han-ah.”

Museowo (Takut).

Suara yang lebih terdengar seperti bisikan itu memunculkan seulas senyum muncul di bibir Kai. Kai membuka selimutnya kemudian menurunkan kedua kakinya untuk berdiri di hadapan Hana. Kedua tangannya memegang kedua bahu gadis itu.

Dasi marhae,” pinta Kai, membuat Hana mengangkat kepalanya dan menatap Kai dengan kedua mata yang sedikit berkaca-kaca.

Kkaman,” panggil Hana , masih dengan suaranya yang pelan.

Kai berlutut lalu memeluk Hana dengan erat. Melingkarkan tangannya pada punggung kecil Hana lalu menopang dagunya pada pundak gadis itu. Ia sudah tidak tahan untuk memeluk ‘Hana’ kecilnya. Pencariannya selama sepuluh tahun akhirnya bisa membawanya kembali pada Hana. Membuktikan bahwa Korea tidak sebesar itu untuk menyembunyikan Hana dari sisinya.

“Jangan pergi lagi, Han-ah. Aku janji akan mengajarkanmu membuat kopi ‘kan?” ujar Kai dengan suara rendahnya, ia melepaskan pelukan itu dan kembali menatap kedua mata Hana.

“Tunggu aku sebentar lagi.”

Wae?”

“Masih ada urusan di Jepang yang harus aku selesaikan. Jogeum deo gidaryeo (Tunggu sedikit lagi).”

Pada akhirnya mereka bisa bertemu lagi. Takdir terkadang memang sangat baik karena bisa mempertemukan kembali Kai  dengan ‘Hana’ kecilnya yang sudah tumbuh menjadi gadis cantik seperti itu. Takdir memang tidak pernah bisa ditebak, karena mungkin gadis itu memang selamanya akan menjadi takdirnya.

God bring me to you because god knows I will always and forever love you. Stay that way and never go away..

[KaiNa Muses] Silent Love—END

 Ima’s note :

Halooo, aku bawa seri lain kaina haha Ini cerita absurd yang dibuat ga sengaja karena pengen cari suasana baru kaina hahaha sebelum galau-galauan di piece selanjutnya. Dan yang ini ngga di protect, tapi untuk piece selanjutnya tetep di protect ^^ Makasih yang udah mau sempetin baca dan komen.

With Love

XOXO, Ima

Advertisements

133 thoughts on “[KaiNa Muses] Silent Love

  1. CHANZ says:

    jadi ingat cerita Silence nya Vic Zhou dan Park *mikir lupa namanya Park-siapa.. -__-‘
    ceritanya keren, like always..

    piece Kaina diprotek ya.. 🙂
    tapi, sy *mencoba* tau dirilah untuk tdk minta PW.y,, karena sometimes sy mmg sider kalau lg malas komen.. 🙂
    well, cukup sedih…
    tapi inilah konsekuensi sider kan? 😀
    saya juga pernah nulis FF dan tau bgmn rasanya kalau ada sider. itu menyebalkan!!! *lah, malah curhat*
    setidaknya masih ada Kaina yg tdk diprotek.. thanks a lot..
    saya senang.. 🙂
    ditunggu,, Kaina-yang-tidak-diprotek nya.. 🙂
    ^from sider yang mencoba untuk tau diri dan tengah galau^

  2. @rabyung says:

    Uwaa keren eonni..
    bhsa nya ringan bgt, alur nya juga bkin pnasaran. kirain bkal sad ending, entah tu Kai nya yg mati ato Hana yg mati nyelametin Kai haha tpi smua hanya hayalan ngaco ane..:D
    overall bagus, aduhh saya telat bgt bacanya miann.. ne

  3. kaisooday says:

    KAiiiiiiiii…….Kaiiiii……
    (Triak2 ga jelas)
    Annyeong aq michel reader baru disini…
    Wah ff ini bener2 bkin berrrrr….. Aku suka banget, zhende haobang(keren bnget)….
    Sangat terhibur n menyentuh, perannya kai aku suka bnget lain dr yg lain…
    Xie_xie buat author ff ini n salam kenal ^_~

  4. kyula says:

    Ahhh… Aku nangis bacanya T.T
    Ya walopun alurnya udah banyak dipake tapi cerita nya bagus thor.
    Membayangkan kai jadi barista kayanya keren juga. keep writing 🙂

  5. minjoongsoo says:

    Annyeong eonni, reader baru nih (baru nemu ni blog) hahahahahahaa
    Salam kenal 🙂

    Ceritanya bagus banget, ngalir
    Kai Deabak XD
    Aku baru tau kai bisa begitu .__. Biasanya kan kai dingin banget sama cewek, wkwkwkwk..

  6. miauw~ says:

    Aku selalu suka dengan cerita yang mengambil tema dari sebuah masa lalu, dan dengan sebuah trauma yang merubah sikap seseorang, tentang sebuah pencarian. Rasanya memberi kesan tersendiri, banyak kesempatan untuk menggunakan kata kiasan, jujur, aku suka sekali dengan sebuah karya sastra yang banyak menggunakan kata kiasan, lebih terkesan “Wah.” Di cerita ini’pun author membawakannya dengan sangat baik, perlahan menuntun pembacanya memasuki detail kejadian dari setiap bagian cerita. Komposisinya pas, karena menurut aku, sebuah alur dalam ceritalah yang paling penting. Kesesuaian tema dengan isi cerita itu bisa ditemukan sendiri oleh pembaca, yang penting adalah maksud dan cara penyampaian author yang mencoba menjelaskan apa inti dari cerita itu dapat tersampaikan dengan baik. Konsepnya bagus, juga tata bahasa yang author gunakan selalu ringan dengan diselingi kata kiasan. Coba diperbanyak mengambil tema seperti ini 🙂

    Kim Hye Hi-

  7. Lalala97 says:

    Imajinasi author nya keren bgt! Suka bgt kai disini, dibuat jd respect dan gentle.

    Keep fighting eonni nulis ff nya;) DAEBAKKKK pokoknya

  8. Chuznul de Vice says:

    wah, aku readers baru disini tapi aku kemaren udah baca ff yang kaina, wahhh
    aku suka banget couple ini, tapi yang nightmare, daydream, sama X or O nya di protect ‘3’

    minta passnya dong on … makasih sebelumnya
    dan maaf minta PWnya urakan, hehe ^^v

  9. @vhixox_ says:

    on ak readers baru on , ak uda follow twitternyaa eonii @vhixox_ follbek yaah , ak bru tau wp ini rekomendasi dri tmn akuu eonii ^^

  10. Huston_ELF says:

    OMG, romance nya ituloh bikin orang terharu. :’)

    kaina emang keren. Kkamjong keren. Kai keren. Kim Jongin juga keren 😀

  11. Ama Cho says:

    ah daebak..
    jalan ceritanya keren..
    gak nyangka kalau hana (disini) bisu.. sedih juga 😦 kasihan hana harus menyaksikan ibu dan adik nya yang meninggal gara gara ditabrak dijalan.. haduh gak bisa kebayang deh kalau itu kenyataan gimana.. 😦
    ah tapi kai dan hana lamban juga.. masa’ gak ada yang nyadar satu sama lain..
    kira-kira ada sequel gak ya?
    kkk~
    pengen sequel, suka sama cerita kaina yang ini..

    next story about KaiNa ditunggu..
    i’m always waiting for this story 🙂
    Fighting!!!!!!
    Jjang~

  12. ririna says:

    untunglah 😀 dikira hana bisu beneran,
    untung ternyata masih bisa ngomong…

    finally, senang happy end ff ny
    daebak eonn

  13. natasya says:

    terhura baca nya =”)
    cn smpe situ aja kk?kirain bakal nulis smpe kai blik dr jpg trus blik k hana…tp ga ap lh..haha

  14. Shim young says:

    Aaahhh panjang ya chap ini hohoho
    Kenapa aku jadi suka jongin??!!!!!!
    Aaaahh kkkaaman! Neomu johaeeee wkakakakaka
    Kak aku bingung ada df aja ygbdu orotect:(:(:(

  15. Princess Bikini Pink says:

    Aaahhh sumvah k sweet bgt..
    Keyeenn (y) pkoknya lah..
    Makin suka sama nih Couple :* and tmbh cinta nih sama si Jong In cckckckck

  16. myze says:

    yg q heran adl emg dibaju hana g ada name tagnya????
    crtnya msh gantung,atau apa emg sengaja dibuat kyk gne?
    cr mrk ktmu ala2 drama korea,jika reader pgnnya jongin n hana lgs slng mengenal saat mrk kenalan trnyt g,mlh dibuat kai dtg kerumah hana,n jongin tau fktanya dr bibinya hana.membuat reader gregetan aja……
    2 adegan jongin ketabrak emg udah direncanain z 5 mrk bertiga(kai,chanyeol,_luhan)spy suara hana bs keluar????

  17. Wulan says:

    Udh lahh ini bgs bgt crt y…selalu suka sama couple ini mahh….
    Mw donk ada cwo yg nungguin walo ampe 10 thn..hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s