[YiChan ~ LuHanji] Before Their Comeback

btc (1)

Title: Before Their Comeback

Author: Ra & Mut

Congratulation for uri Alien, opps, Wolf comeback. XD

INDAYLee Staff

Enjoy

***

Hanji mengetukkan sepatunya dengan semangat begitu menempati bangku kosong di bagian tengah bus. Senyum pun tak kenal lelah untuk mengembang dengan penuh kebanggaan. Hari ini bukanlah hari ulang tahunnya tentu saja, bukan juga hari ulang tahun Luhan ataupun hari jadi mereka, bukan juga karna hari ini Hanji memenangkan undian yang dia isi disalah satu super market.

Hari ini memang bukan hari yang spesial untuk banyak orang, tapi untuk sebagian orang dalam kelompok tertentu yang disebut dengan EXO-L, tentu hari ini sangat spesial. Hanji menyukai banyak fandom, menggemari para pria tampan yang dilihatnya di layar kaca, tapi tentu dibalik semua fandom yang dia sukai, gadis itu mendukung sepenuhnya grup yang dinaungi kekasihnya.

Mungkin kali ini Hanji terlihat seperti orang gila. Memasang senyum sepanjang jalan dan melirik ponselnya dengan fokus penuh.

@HanjiDo240995: @ladychanra I got a plan. We go to school, meet on the gates, an then run to Mnet building. Agree?

Pagi ini Hanji sepenuhnya gila. Merencanakan bolos sekolah dengan terang-terangan. Dia memang sudah terbiasa membolos beberapa pelajaran untuk beristirahat, tapi tidak dengan membolos seharian penuh.

Berulang kali gadis itu meruntuki tingkah lakunya yang menarik perhatian beberapa pengguna bus disekitarnya. Ya, sekalipun dia meruntuki kebodohannya itu, lagi dan lagi dia tetap melakukan hal yang sama seperti gadis yang mendapatkan pernyataan cinta dari pria yang dicintainya.

@ladychanra: @HanjiDo240995 agree!!! See you soon in the gates Hanji-ya~~~!!!!

Hanji terkikik begitu Chanra meresponnya dengan positif. Oh ayolah, siapa yang mau meninggalkan saat-saat dimana melihat sang kekasih akhirnya kembali muncul dengan sesuatu yang baru. Oh, atau kali ini mereka lebih terlihat seperti fans yang tak sabar menunggu idola mereka tampil, dibandingkan dengan gadis yang menunggu kekasih mereka muncul.

@HanjiDo240995: @ladychanra Palli Ra-ya!!

Suhu dingin ditambah seragam sekolah yang tidak mendukung untuk memberikan rasa hangat sudah tidak menjadi pengganggu bagi Hanji. Seakan lupa dengan dimana dia berpijak, Hanji tertawa kecil, menghiraukan bisik-bisik orang disekitarnya.

@ladychanra: @HanjiDo240995 onmaway Hanji-ya~~~

Puluhan posting yang memenuhi account SNSnya tak luput dari perhatian, tersenyum semakin lebar begitu menemukan sesuatu yang menarik.

Hanji marah, tentu karna Luhan tidak memberinya kabar selama beberapa hari ini, pergi kesana-kemari dan membuatnya lagi-lagi khawatir dengan kondisi pria itu. Terlihat dari tulang pipi yang sedikit menonjol dari sebelumnya, membuat Hanji kesal dengan ketidak pengertian pria itu dengan kekhawatirannya. Luhan memang lah seorang pria, dilahirkan menjadi sosok yang tangguh dan tidak serapuh wanita. Tapi sekalipun lelaki itu menyanggah dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja, tubuh pria itu tetap saja tidak bisa dipaksakan untuk selalu bekerja tanpa henti.

Seperti mesin yang dipaksa bekerja dua puluh empat jam tanpa pelumas yang mencukupi. Pria itu sakit, dan nyaris jatuh. Yixing menceritakannya dan mengatakan pada Hanji untuk tidak khawatir dan membahas hal itu didepan Luhan, karna bagaimanapun pria pasti tidak suka terlihat lemah didepan gadis yang dicintainya.

Dan itu jugalah yang membuat Hanji semakin khawatir. Dibandingkan mencurahkannya keorang lain, Luhan lebih menyukai memendam masalah dan apa yang dia rasakan seorang diri. Bersikap selayak orang yang hidup tanpa beban.

Hanji hanya takut, muncul saat dimana pria itu tidak mampu bangkit lagi. Hanji memang tidak berharap Luhan menceritakan banyak hal padanya, Hanji hanya ingin pria itu lebih perhatian dengan kondisi tubuhnya dan tidak membuat orang lain khawatir.

Bus berhenti ketika Hanji memasukkan ponselnya kedalam tas. Berjejak turun dan berteriak memekik begitu menemukan Chanra sudah berdiri manis didepan gerbang yang tak jauh dari halte.

***

“Hanji-ya.” Chanra menyenggol lengan Hanji yang sedang asik menikmati pemandangan diluar bus.

“Ne?” Respon Hanji tanpa perlu menengok kearah Chanra. Chanra tampak bergeser dan merapatkan  duduknya dengan Hanji. “Eyyy, mau apa Ra?” Tanya Hanji.

“Errr…. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan nanti, Ji-ya. Aku bingung” Bisik Chanra.

Hanji memalingkan wajahnya kearah Chanra dan menatap Chanra dengan penuh Tanya. “Wae?”

Chanra menghembuskan nafasnya berat. “Yah well…. 1 bulan tanpa komunikasi, tanpa bertemu, tanpa skinship,-“ Chanra dan Hanji saling memandang lalu tertawa bersama-sama. “Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat bertemu dengannya.”

“Kalau kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan saat bertemu dengan Yifan ge, lebih baik kau tidak usah menemuinya. Cukup menonton comeback mereka secara sembunyi-sembunyi lalu pulang.Lumayan, menyembuhkan sedikit kerinduan pada,-“

“Aku ingin menemuinya Hanji-ya. You know, I’m desparately miss him.” potong Chanra. Hanji tertawa. Lalu menggenggam tangan Chanra dan meyakinkan Chanra.

If you wanna meet him, Just be yourself, Ra. Aku yakin kau bisa. Dan aku juga yakin, begitu bertemu dengannya, kau dan Yifan akan melakukan banyak adegan skinship daripada berbicara.” Selesai berbicara, Hanji segera melindungi kepalanya dengan tangannya dari timpukan keras yang dilayangkan Chanra. “Hanji-ya~~~”

“Sudahlah akui saja. Kalau kau bertemu dengannya, apa yang akan kalian berdua lakukan? Skinship. Kalau kalian berduaan di dorm atau diapartementmu, apa yang kalian lakukan? Skinship. Kalau kalian bertemu di café atau-mmmmhhh!!!!!” Jeritan Hanji tertahan begitu Chanra membungkam Hanji dengan tangannya.

“Cukup Hanji-ya. Cukup. Mendengarmu mengucapkan kata skinship, it’s drive me crazy. Chanra melepas bekapannya pada Hanji lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku bis.

“Hanji-ya”

“Hmmm?”

“Apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan Luhan ge?” Tanya Chanra pada Hanji.

“Ckk. Aku tidak akan bertemu dengannya. Jangan harap” Jawab Hanji ketus.

***

Chanra dan Hanji akhirnya sampai di gedung Mnet dan segera mengantri untuk masuk kedalam gedung Mnet. Ini masih terhitung pagi, suasana di Mnet sudah cukup ramai sedangkan M! Countdown baru akan mulai recording di sore hari.

Chanra mengeluarkan ponselnya untuk mengeceknya “Dan dia tetap tidak menghubungiku meskipun dia mau comeback? Come on~” desah Chanra pelan lalu memasukkan kembali ponselnya kedalam kantong.

Sedangkan Hanji terlihat bingung dan gelisah dengan keramaian yang ada di sekitarnya, membuatnya tidak nyaman dan menunduk dalam. Sepertinya phobianya terhadap keramaian tidak akan pernah bisa hilang.

‘Ayolah Hanji-ya. Ini hanya sedikit. Kenapa mesti takut?’  Gerutu gadis itu dalam hati. Setelah masuk, Chanra dan Hanji langsung menuju ketempat penonton yang berada tepat di depan stage, melihat rehearsal para Kpop artist yang akan tampil di M!Countdown nanti.

Studio terlihat masih cukup lenggang, terkecuali deretan bangku yang sudah ditulis oleh nama pemesan, berakhirlah mereka dengan berdiri di depan row bangku. Beberapa gadis terlihat memeluk balon pemberian staff Countdown dan memainkan light stick di tangan mereka.

“Rehearsal EXO sepertinya masih agak lama, Hanji-ya. Bagaimana?” Tanya Chanra. “Kau sih, mengajak ke sini di pagi hari. Seharusnya tadi kita bisa sekolah dulu baru datang kesini.” cibir Chanra.

“Kita tunggu saja. Lagipula aku sedang malas masuk kelas. Daripada hanya membolos di sekolah, kenapa tidak sekalian kemari? Dan, Kau juga girang sekali ketika tadi kuajak. Jangan salahkan aku, Ra-ya.” Balas Hanji sekenanya.

“Tapi kan aku tidak tahu kalau rehearsal EXO masih lama.” Sambung Chanra dengan sengit.

“Sudahlah, Park Chanra. Tidak usah bahas itu. Kita tunggu saja. Just sit down and enjoy here. Gampang ‘kan? Atau kau mau kembali ke SOPA dan dihukum oleh Kim Seonsaengnim?” Ancam Hanji.

Chanra memajukan bibirnya beberapa centi karena sebal. Lalu membuat gerakan men-zipper mulutnya dengan tangan, menguncinya dan berpura-pura membuang kunci zipper yang dipasang di mulut Chanra.

Hanji-yang dari tadi memperhatikan Chanra terkekeh melihat tingkah laku Chanra. Chanra sudah 18 tahun dan sikapnya masih sama dengan anak berumur 13 tahun. Yah meskipun Chanra dan Yifan terkenal sebagai skinship couple, sandangan nama tersebut tetap tidak menghapuskan tingkah laku Chanra yang seperti anak-anak, pewarisan sifat bilogis dari kakaknya yang akan tetap melekat pada dirinya.

Chanra mengecek ponselnya lagi lalu membuka aplikasi twitter dan merefresh timeline-nya karena bosan. Lalu beberapa detik kemudian kedua bola matanya membulat besar  dan mulutnya membuka lebar, tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

“H-Hanji-ya-“ Panggil Chanra terbata-bata.

“Ada apa? Apa Yifan akhirnya menghubungimu?” Tanya Hanji penasaran. Jarang-jarang Chanra berbicara terbata-bata seperti ini.

“Bu-bukan. Lihat ini.” Chanra menunjukan layar ponselnya pada Hanji dengan tangan gemetar.

“Siapa ini? Justin Bieber? Apakah dia mengeluarkan album baru?” Tanya Hanji heran. Setahu Hanji, Chanra tidak pernah memberikan perhatian penuh pada artis luar, terlebih lagi menyukai Justin Bieber. Tapi kenapa sekarang Chanra menunjukkan foto Justin Bieber?

“Perhatikan lagi.” ujar Chanra. Hanji lalu mengambil alih ponsel Chanra dan memperbesar gambar yang ditunjukkan Chanra. Begitu memperbesarnya dan memperhatikan gambar tersebut dengan seksama. Mata Hanji membulat. “I-ini…”

“Dia Henry, Ji. Henry Lau.”

“Oh jinjja, Dia debut solo artist? Dan kemana pipinya pergi?” Tanya Hanji tidak percaya.

“Apa aku percaya, Ji? Aku tidak percaya Henry menjadi seperti ini. Dia kurus sekali.” Ujar Chanra. “Dan sekarang dia berani half-naked?” Chanra memperhatikan penuh gambaran Henry dengan badannya yang setengah terbuka dan penuh coretan abtrak.

“Dulu dia paling anti dengan namanya pamer abs.” Lanjut Chanra.

Sedang asik melihat foto debut Henry, para penonton yang menunggu bersama Chanra dan Hanji berdiri dan membuat mereka ikut berdiri. Hanji, yang sebenarnya  sejak tadi gelisah semakin dibuat gelisah ketika para penonton berbondong-bondong  ke depan stage. Hanji berusaha menahan rasa phobia-nya dengan keramaian tetapi tak bisa. Hanji benar-benar tidak tahan dengan keramaian disini.

“Ra-ya.” Hanji menyenggol lengan Chanra tapi tidak digubris oleh Chanra. Fokus Chanra hanya tertuju pada kedua belas pria yang menaiki panggung, terutama seseorang yang berjalan paling depan dengan pakaian bebas.

Cukup lama Hanji menyenggol lengan Chanra hingga akhirnya ketakutan Hanji memuncak dan membuat Hanji memilih meninggalkan Chanra dan keluar dari kerumunan orang-orang.

Chanra masih terfokus pada satu orang yang sedang tersenyum ramah dan membungkukkan badannya menyalami para fans yang menanti mereka sedari tadi. Para fans berteriak kencang melihat idol mereka tersenyum dan melambaikan tangannya pada mereka. Tidak termasuk Chanra.

Tes

Tes

Tes

Tanpa disadari air mata Chanra mengalir dipipinya. Hati Chanra sakit. Bagaimana bisa Yifan tersenyum seperti itu? Tidak kah dia merasa bersalah atas keabsenannya memberikan kabar pada Chanra ? Apakah Yifan merasa biasa saja ketika Chanra tidak mencoba menghubunginya?

Kedua belas pria itu mulai memposisikan diri mereka sesuai dengan koreo yang ditentukan dan ketika music mulai, sorak-sorak penonton bergemuruh bersamaan dengan tubuh yang mulai meliuk diatas stage.

Pandangan mata Chanra yang buram masih tetap terfokus pada Yifan yang bergerak kesana kemari. Memperhatikan setiap gerak Yifan meskipun tertutup oleh air matanya. Namun Chanra tidak sadar ketika Yifan maju kedepan untuk menyanyikan bagiannya, lelaki itu terkejut begitu menemukan gadisnya berdiri di tengah-tengah penonton dengan wajah yang basah karena air mata.

Begitu selesai rehearsal, kedua belas pria itu berlari keluar dari panggung setelah sebelumnya membungkuk penuh terima kasih, Chanra membersihkan air mata yang mengalir dipipinya dengan tangannya. Namun tanpa aba-aba sebuah tangan menarik Chanra dan membawanya berjalan memotong kerumunan para gadis, masuk kedalam gedung Mnet yang jarang dilewati oleh orang-orang.

Orang itu langsung merengkuh Chanra erat dan mengelus puncak kepalanya dengan halus. Chanra tau, Chanra memahami setiap detail yang dilakukan oleh orang itu, Chanra sangat tahu kalau orang itu adalah Yifan.

“Apa yang kau lakukan disini? Kenapa menangis?” Bukannya menjawab, Chanra beralih mendorong tubuh Yifan menjauh dan menatapnya dengan sebal, masih dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya.

“Kau fikir aku ini apa? Hah?” Bentak Chanra dan membuat Yifan membulatkan kedua matanya. Lelaki itu menarik turun tudung jaketnya yang tadi dia pakai seadanya.

“Ra-ya-“ ucap Yifan tak percaya.

“Satu bulan, Wu Yifan! Satu bulan! Kau tidak menghubungiku, tidak menelfonku, tidak mengirimku pesan, mengabari kau dimana saja tidak! Aku ini apa, Wu Yifan?” Lanjut Chanra. Air matanya mengalir semakin deras dan membuat kedua matanya merah.

“Satu bulan aku tidak berhenti memikirkanmu. Dan kau tersenyum kepada,-“

Chanra berhenti berceloteh. Mulutnya dibungkam dengan sebuah ciuman hangat dari Yifan secara tiba-tiba.  Lalu Yifan meraih pinggang Chanra dan memeluknya dengan erat tanpa melepas bibirnya dari bibir Chanra.

Cukup lama hingga akhirnya Yifan melepas ciuman itu dan menatap mata Chanra dalam. Dengan tangan kanannya, Yifan memegang pipi kiri Chanra dan mengelusnya dengan ibu jari Yifan perlahan menikmati kelembutan pipi Chanra yang sudah lama dirindukan Yifan.

“Maafkan aku. Ponselku dibawa oleh manager dan dia tidak membiarkanku untuk membuka ponsel sama sekali. Aku sangat-sangat ingin menghubungimu, tetapi tidak bisa karna peringatan manager hyung untuk fokus pada comeback EXO ini. Feels like I’m gonna die if I can’t get you in touch. Dan aku hanya bisa berharap kau bisa menungguku.”

But I think you don’t miss me.” Ujar Chanra sambil terisak.

“I miss you a lot, I really do.” Yifan mencium pipi Chanra lembut. Lalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga Chanra.

I’m very glad to see you here, Ra. I love you.” Chanra tersenyum, menarik jaket Yifan dan melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang pria itu. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghirup aroma kekasihnya yang benar-benar dirindukannya. Begitu juga dengan Yifan, ia mengecup puncak kepala Chanra cukup lama sambil mengelus helaian rambut gadis itu.

Yifan merasa bersalah. Ia merasa bersalah membiarkan Chanra mengkhawatirkan Yifan selama sebulan. Ia juga merasa bersalah karena rasa kekhawatirannya itu, gadisnya menangis. Yifan benar-benar tak bisa melihat Chanra menangis, apalagi hal itu di sebabkan oleh dirinya sendiri.

“Ternyata kalian disini.”

Yifan melepaskan pelukannya dan mendapati Yixing tengah berdiri disamping tumpukan properti tidak jauh dari tempat Chanra dan Yifan berdiri, mendelikkan matanya dengan tangan yang terlipat di dada. “Manager mencarimu kemana-mana. Kau harus bersiap-siap.”

Yifan menganggukkan kepalanya mengerti. Yixing lalu berjalan duluan meninggalkan Chanra dan Yifan. Yifan menggenggam tangan Chanra erat. “Kau ikut ke waiting room saja ya.” Chanra mengangguk dan tersenyum. Yifan membalas senyuman Chanra lembut. Lalu tanpa diduga lelaki itu menarik Chanra dan mengecup bibir yang menjadi candunya cepat. Chanra dan Yifan meledak penuh tawa, dan lalu berjejak menyusul Yixing yang sudah jauh melangkah di depan keduanya.

 

***

 

Chanra menyambut kedua belas pria yang penuh keringat itu dengan senyum lebar dan bertepuk tangan. Perjuangan mereka untuk menampilkan yang terbaik pantas untuk diacungi jempol. Dengan latihan padat yang mengekang mereka selama waktu belakangan ini, kini mereka membuktikannya dengan perform terbaik.

Yifan yang berjalan paling depan langsung mendekati Chanra dan memeluknya tanpa peduli sorakan iri dari member yang lain. “Selamat, Wu Yifan. Selamat.” Ucap Chanra girang.

“Terimakasih, Ra. Semuanya lengkap. Apalagi ditambah denganmu.” Yifan lalu melepaskan pelukannya. Chanra berlalu kearah Chanyeol yang sedang membersihkan keringatnya di wajah.

“Oppa~” Panggil Chanra manja. Chanyeol menoleh dan tersenyum, menyambut pelukan adiknya dengan tepukan pelan di kepala dan kecupan di pipinya. “Selamat oppa. Eomma dan appa akan bangga padamu.”

“Terimakasih Ra-ya~. Aku senang sekali kau ada disini.” Balas Chanyeol. Chanra lalu melepas pelukannya pada Chanyeol dan mulai berbicara dengan member yang lain.

“Oh iya, Ra-ya. Kau kesini dengan siapa?” Tanya Yifan penasaran. Karena setahunya Chanra tidak biasanya menonton acara music sendirian.

“Oh, tadi aku dengan Han-ji,-“

“Dengan Hanji?” Tanya Luhan begitu mendengar nama gadisnya disebut. Luhan langsung mendekati Chanra. “Dimana dia sekarang?”

“Dia sekarang ada di-“ Chanra terdiam. Dia baru teringat bahwa seharusnya Hanji ada disini sekarang. Bersama dengan Chanra dan kedua belas pria yang lain. Tapi tidak ada. Hanji menghilang.

“T-tadi dia ada bersamaku kok.” Ucap Chanra bingung. “Tapi aku tidak tahu bagaimana dia bisa tidak ada disini.”

“Kurasa dia sedang menenangkan diri, hyung. Biarkan saja dia.” Tebak Jongdae. Luhan hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Memang Hanji selalu begitu. Mencari keheningan untuk menenangkan dirinya dari segala hal.

“Chanra-ya, kita akan merayakan comeback ini di dorm setelah kami mengisi acara di Sukira. Kau mau ikut?” Tawar  Chanyeol. Chanra mengangguk dan tersenyum. “Tentu saja oppa.”

“Tapi kau harus ikut kami ke Sukira dulu, Ra-ya.” Chanra hanya mengangguk setuju dengan permintaan Yifan.

***

“Menyebalkan.”

Hanji kembali melemas begitu mengingat nominal yang terpajang dipostingan beberapa account fanbase. Untuk mencapai angka segitu memang mudah, sebagaimana pola hidupnya yang ditanggung oleh agensi, jadi untuknya mengumpulkan uang hanya menunggu hitungan hari. Tapi yang menjadi masalahnya adalah kenapa tidak pria itu memberikan album mereka secara gratis pada Hanji, bukannya malah menyuruh gadis itu membelinya.

Fakta yang mengatakan bahwa pria itu tidak pelit berbagi adalah kebohongan besar.

“Saat tadi aku sedang menenangkan diri, kau memerintahku untuk menunggu di gedung SM. Dan sekarang kau memerintahku lagi. Kau benar-benar menyebalkan, Lu.”

“Ayolah, dibandingkan album, merayakan keberhasilan bersama itu lebih spesial, Xi.”

“Tapi tetap saja menyebalkan.” Hanji menarik kakinya keluar dari gedung SM, membungkuk sopan pada Tiffany yang menyapanya, dan menyapa beberapa trainee yang berkumpul dalam kelompok kecil disisi meja resepsionis dan kemudian melenggang keluar dari.

“Seharusnya kau membelinya dalam jumlah banyak dengan begitu kau mendukung kami dalam penjualan album terbaik.”

“Ish, yang seharusnya itu kau memberikanku album dengan tanda tangan kalian penuh.”

Luhan berdecak diseberang sana, menghembuskan nafas berat. “Satu bubble tea dan aku tidak mau mendengar penolakan.”

“Tiga.”

Mungkin orang lain akan tertawa mendengar perundingan kesepakatan ini. Album penuh tanda tangan ditawar dengan tiga gelas bubble tea. Tapi siapa peduli.

“Ok, tiga. Dan aku ingin kau ke dorm sekarang.”

“Hei, hei. Kalian masih akan mengisi acara di Sukira dan kau menyuruhku untuk datang sekarang? Kau mau membuatku menjadi penunggu dorm?”

“Tidak ada protes!”

***

Cahaya televisi berpijar remang-remang, ditambah dengan Hanji yang sengaja mematikan ruang tengah dan hanya meninggalkan satu lampu di dapur untuk tetap menyala. Hanji melirik malas-malas televisi yang kini menayangkan drama, dan di lain sisi telinganya mendengarkan lagu yang mengalun perlahan dari earphonenya.

Hari ini dia tidak bisa dibilang melakukan banyak hal, tidak juga bisa dibikang tidak melakukan apa-apa.

Bersemangat penuh berkunjung ke gedung Mnet bahkan dengan membolos, menularkan virus fan girlingnya pada Chanra, terjebak diantara puluhan gadis yang tak henti-hentinya bercakap, memilih berlari keluar meninggalkan Chanra, menenangkan diri diluar gedung dan berakhir di gedung SM dengan Daemi yang bersedia menemaninya, menenangkan ketakutannya sesaat.

Hanji kembali merasa baikan begitu ada Daemi yang menenangkannya. Tapi lagi-lagi dia kembali kehilangan seusai kembali dari toilet.

Mungkin hari ini adalah hari terbaik Hanji, namun juga menjadi hari terburuk baginya karna insiden yang terjadi selama hari ini.

Diam, hening, mengingatkan Hanji kembali dengan kelima sosok yang sering memenuhi dorm ini. Kebisingan yang diciptakan karna teriakan pada gadis yang mengalahkan teriakan Chanyeol dan Baekhyun.

Dapur yang selalu dikuasai oleh Kyungsoo dan Nayeon, membuat kebisingan dari hantaman alat-alat masak, umpatan kesal dan ledekan. Sofa yang selalu menjadi tempat ternyaman bagi Sehun dan Riah untuk bermesraan tanpa peduli dengan anggota yang lain. Permadani di depan televisi yang menjadi sasaran pertengkaran kekanak-kanakan Jongin dan Hana. Balkon yang selalu menjadi background terindah bagi Yifan dan Chanra untuk memulai adegan drama mereka. Dan juga meja makan yang dulu menjadi tempat bagi Joonmyun dan Jaehye memulai percakapan kaku mereka.

Hanji merindukan saat-saat itu, saat dimana mereka sering menghabiskan waktu bersama, membuat bising dan keonaran dimana saja mereka berada –terutama di dorm itu. Saat dimana mereka tidak sesibuk saat ini.

Dengan tergesa, Hanji menarik keluar ponselnya dari dalam tas, menekan tombol yang dia hafal dan menedekatkan benda pipih itu kedaun telinga.

“Xiao Lu, apa masih lama?” Hanji membalas sapaan Luhan dengan pertanyaan yang terdengar terburu-buru.

“Masih dua segmen lagi, Xi. Wae?”

Hanji menekur lantai keramik dalam keheningan, menghembuskan nafas begitu Luhan mengulang pertanyaanya. “Aku baik-baik saja, Lu.”

“Tapi kau tidak terdengar baik-baik saja.” Kebohongan Hanji adalah hal yang mudah untuk Luhan ketahui, jadi seberapa licin pun gadis itu mencoba menyembunyikan sesuatu, pada akhirnya Luhan akan tetap menyadarinya. “Merindukan mereka?”

“Eum.” Hanji menggumam pelan. Melirik dapur, meja makan, balkon, permadani dan sofa yang ditempatinya secara bergantian, kemudian memejam begitu linangan air mata itu berkumpul diujung pelupuk matanya.

“Uljima.”

Mau tidak mau Hanji terkikik, menertawai kelebihan Luhan yang selalu mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya. “Sudah terlanjur, Lu.” Dan kemudian kembali tertawa dengan air mata yang mengalir di sudut matanya.

“Eiii, jangan menangis, Xi. Percayalah kalau nanti akan ada saat dimana kalian semua akan kembali bersama. Menghabiskan waktu dengan membuat onar, menghancurkan dorm kami, dan membuat semuanya menjadi seperti lapangan perang.”

“Ah, dan juga sahabat barumu itu. Siapa namanya? Dae-daemi? Ajak dia merayakan bersama-sama di dorm.” Luhan selalu mengetahui hal baru apapun yang masuk ke kehidupan gadis itu, termasuk mengetahui siapa yang kini menjadi sahabat dekat gadisnya.

“Tidak bisa, Lu.”

“Wae?”

“Dia menghilang.”

***

Kedua belas pria itu dengan Chanra yang mengikuti dari belakang akhirnya sampai di dorm dengan masing-masing tangan yang membawa sekantong plastic bersisi snack ringan dan minuman yang baru mereka beli untuk merayakan comeback mereka. Chanra yang masuk pertama, kaget melihat Hanji sedang tiduran disofa sambil menonton televise.

“Hanji-ya!” jerit Chanra lalu mendekati Hanji dan menariknya bangun.

“Astaga kau ini! Aku fikir kau menghilang kemana. Dan ternyata kau malah disini.” celoteh Chanra. Hanji mendengus kesal.

“Ini semua karena Lulu memintaku kemari.” jawab Hanji malas.

“Dan pakaian siapa ini? Kenapa besar sekali? Mana seragammu, Hanji-ya?” Tanya Chanra panjang lebar. Hanji tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Errr….Aku tidak membawa pakaian selain seragam itu. Sudah malam, dan aku risih terus menggunakan kemeja dan rok itu. Jadi… Aku meminjam pakaian Lulu.” jawab Hanji jujur. Mau bagaimana lagi. Tidak mungkin Hanji bilang kalau itu miliknya kan? Jelas-jelas tidak mungkin.

“Eiyyyyy, seperti di film-film saja.” celoteh Baekhyun. “Si tokoh wanita menggunakan pakaian si tokoh pria.” lanjutnya.

“Kalian romantic juga.” ujar Chanyeol. Kedua pipi Hanji memerah malu sedangkan Luhan hanya memasang cengirannya tidak tahu apa yang harus dilakukannya ketika melihat Hanji seperti itu dan digoda oleh member yang lain.

“Bisa kita bicara?” Chanra-yang sedang asyik menyaksikan adegan tadi, tiba-tiba ditarik oleh Yifan dan dibawa kedalam kamar Chanyeol.

***

Detik jarum jam menggema pelan.

Hanji melirik Luhan yang masih setia memainkan rambutnya dari samping, menghirup aroma yang menguar dari sana dan memasang cengiran polosnya begitu bertemu pandang dengan Hanji.

“Kau cantik.” Hanji ingin sekali melayangkan satu pukulan pada kepala pria yang kini dihiasi oleh helaian rambut merah itu. “Terlebih lagi dengan baju itu.”

“Kau meledekku?”

Hanji tidak bisa menemukan baju lain yang lebih kecil selain baju ini, baju yang mungkin terbilang kecil untuk Luhan namun masih terlalu besar untuknya. Dia tidak punya pilihan lain selain memakainya, dibandingkan dengan mengenakan seragam sekolah yang sedari tadi pagi tidak diganti. Hanji tidak mungkin mengenakan baju Kyungsoo atau Baekhyun, selain karna Baekhyun yang pelit dan Nayeon yang mungkin saja cemburu.

Semuanya karna Luhan yang dengan semena-mena memerintahnya untuk berkunjung ke dorm.

“Aniya, aku memujimu,-”

“,-Dan kau menggoda.”

Beruntung kamar ini tertutup, beruntung pencahayaannya redup, dengan begitu tidak akan ada yang melihat momen dimana Hanji merasa seperti gadis labil yang sedang berbunga-bunga, tersipu dengan pipi yang memerah.

Hanji menarik cepat selimut yang berada disamping tubuhnya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya yang tidak mengenakan apapun. Dan Luhan terkikik oleh apa yang gadis itu lakukan.

“Bagaimana penampilanku hari ini?”

“Buruk.” Hanji menjawabnya dengan mantap, tersenyum miring.

Satu cubitan kecil mendarat didaun telinga Hanji. “Mian, itu demi kebaikanmu.” Luhan menarik tubuh gadis itu mendekat hingga masuk kedalam rengkuhannya. “Melihatmu menunduk diantara banyak orang membuatku khawatir.”

“Aku baik-baik saja, Lu. Hanya pusing. Kau tidak perlu khawatir, aku sudah terbiasa mengalaminya.” Hanji mungkin terbiasa dengan phobianya akan tempat ramai, tapi Luhan tidak. Melihat gadis itu menunduk dan mencengkram dadanya yang kembang-kempis dengan susah payah, menyakitinya secara tidak langsung. “Tapi terima kasih.”

“Aku yang seharusnya mengatakan itu. Terima kasih sudah mendukung kami dari jauh, menyemangatiku dari sini.” Luhan menarik tangan Hanji dan meletakannya di atas dada bidangnya. “Ini sangat membantu.”

“Terima kasih karna kau sudah mengisi ini dengan ketenangan.” Tangan Hanji yang lain ditarik Luhan untuk mengelus pipinya yang kini terlihat menirus. “Terima kasih untuk selalu mengisi keseimbangan.”

Tangan Luhan beralir pada kepala Hanji, menyelipkan jemarinya di rambut gadis itu, memejamkan mata dan memberikan kecupan singkat pada keningnya. “Terima kasih, Xi.”

“Dan sebagai hadiah keberhasilan comeback kami, kau tidak memberikan sesuatu padaku, Xi?”

“Kau menghancurkan suasana, Lu.”

“Ei, aku hanya minta hadiah, bukan menghancurkan suasana. Ayolah hanya hadiah kecil.”

“Kau menyebalkan.”

“Aku tidak menyebalkan. Tapi menggemaskan.”

“…”

“Ayolah, Xi. Bagaimana dengan poppo, eum?”

“Mesum menyebalkan.”

***

“Ada apa?” Tanya Chanra. Yifan lalu duduk di kasur dan menyuruh Chanra untuk duduk disebelahnya. Begitu duduk disebelah Yifan, Yifan lalu mengambil tangan kiri Chanra dan menyentuh cincin yang Chanra gunakan. Cincin pemberian Yifan.

“Aku ingin membicarakan ini.” Jawab Yifan singkat. Chanra menatap Yifan tidak mengerti. “Ada apa?”

“Apa kau siap untuk membicarakan ini dengan ayah dan ibumu?” Tanya Yifan. Chanra terdiam. Chanra bingung harus menjawab apa.

“A-aku tidak tahu.” jawab Chanra bingung.

“Wae?”

“Aku takut Wu Yifan.” Chanra menundukkan kepalanya. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika kedua orang tua Chanra tidak setuju dengan Yifan.

“Yah well, kau tau kan, Wu Yifan. Aku masih sekolah. Orang tuaku tidak mungkin akan mengizinkannya,-”

“Hey. Kita tidak menikah sekarang juga, Chanra-ya. Aku hanya meminta izin pada mereka untuk beberapa tahun kedepan nanti, mengikatmu dan membuktikan pada dunia kalau kau milikku dan tak ada yang bisa merubah itu kecuali kau dan diriku.” Yifan mengangkat dagu Chanra dan menatap kedua mata Chanra.

“Dan aku yakin orang tuamu akan mengijinkan kita.” kata Yifan yakin.

“Kenapa kau bisa yakin sekali, Wu Yifan?”

Yifan menyentil hidung Chanra dengan telunjuknya dan tersenyum. “Perasaanku mengatakan bahwa orang tuamu akan mengijinkan kita. Lagi pula siapa yang mau menolak menantu sesempurna diriku? Jadi tenang saja.”

“Pede sekali kau ini” Chanra mencubit perut Yifan dan membuat Yifan meringis kesakitan.

“Ya! Berani sekali kau.” Yifan lalu mencoba menggelitiki pinggang Chanra dan terjadilah aksi saling serang menggelitiki antara Chanra dan Yifan hingga akhirnya Chanra terjungkal kekasur sedangkan Yifan terjatuh diatas Chanra dan beruntung Yifan masih bisa menahan tubuhnya dengan kedua lengannya. Chanra dan Yifan saling bertatapan dan tersenyum. Sebelum akhirnya Yifan menempelkan bibirnya pada kening Chanra lama lalu berpindah di pipinya.

“Ah iya!” Yifan tiba-tiba teringat akan sesuatu lalu bangun untuk membetulkan posisinya.

“Ada apa?” Tanya Chanra heran.

“Kita harus meminta persetujuan.”

“Dari?” Chanra semakin penasaran ketika melihat Yifan tersenyum lebar.

“Kita harus minta persetujuan dari para member”

***

Chanra dan Yifan duduk di sofa selayaknya raja dan ratu yang menguasai singgah sananya, dikelilingi oleh kesebelas pria yang menatapnya sebal dan Hanji yang hanya melirik bingung. Lelaki berperawakan tinggi itu benar-benar meneybalkan, mengumpulkan semua orang dalam satu teriakan kencang, berlagak seperti raja dan tak membiarkan satu orang pun menempati sofa selain dirinya dan Chanra.

“Jadi begini,-“ Yifan terdiam dan menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya Yifan meraih tangan Chanra dan meletakkannya di atas pahanya.

“Mungkin kalian akan kaget mendengar hal ini, terutama kau, Yeol-ah.”

“Aku ingin meminta persetujuan kalian semua,-” Yifan menarik nafas lebih dalam lagi.

“Bahwa aku ingin menikahi Chanra.” Mungkin pernyataan Yifan terdengar seperti pengumuman undian. Membuat para pria itu terdiam cukup lama, menganalisa apa yang baru terjadi. Pikir mereka mungkin Yifan sedang mengigau seperti kebiasaannya ketika tidur, atau mungkin pria itu sedang bercanda.

“Aku serius.” Tekan Yifan, yang lalu diinterupsi oleh teriakan Chanyeol.

“TIDAK BISA!!!”

***

*END*

*Ra*

Holaaa readers-readers sekalian /kiss/ ini FF terakhir sebelum Ra ulangan kenaikan kelas yaaaaaaaaa. Doain semoga UKK Ra lancar /amin/

Dan ff ini aku sama Mut buat karena kestressan kita kita liat MV bocah-bocah serigala itu sampe buat kita berdua nangis saking gilanya. Wkwkwk. Dan kita buat ini ngebut banget! jadi maklum ya kalau typonya banyak. dan faktot Mut Ms. Typo hehehe /kabur/

Dan ini juga Ra lagi stress karena si Henry Lau kombeeekkk!!!! Jadi maapin yak kalau si Mochi mnyempil di FF. wkwkwk

Bye~ selamat menikmati ff dari kita,

XOXO

*Mut*

Sebenarnya udah diwakilin sama Ra sih, jadi aku cuma mau minta maaf karna Colour aku longkap langsung ke bagian ini.

Demi apapun yang ada di dunia ini, LUHAAAN GANTENG GILA DI MV DAN PAS COMEBACK!!

XINGXING GANTENG! BAEK GANTENG! YEOL GANTENG! SEMUANYA GANTENG!!!! KYAAAAA!!!

Ah ini juga ada sedikit curhatanku tentang IDL. Kalau Ima eon dan Mai eon baca. kalian pasti ngerti dimana bagian aku curhat. Hehehe XD

Yasudah, begitu aja.

Makasih udah tetap baca dan ninggalin jejak di IDL.

XOXO

~XOXO~

~KISS & HUG~

Advertisements

27 thoughts on “[YiChan ~ LuHanji] Before Their Comeback

  1. Jung Hana says:

    Tinggalin jejak dulu 😀
    Wah bukan hanji aja yang kangen suasana dorm, aku juga :”
    ditunggu ff yang lainnya ya 🙂
    fighting !

  2. kimsohee says:

    Bukan hanji doang kok yang kangen sama semuanya aku juga 😦 seru banget ff ini apalagi pas chanyeol langsung bilang tidak bisa lucu ^^ ditunggu ff yang lainnya ^o^

  3. nanda says:

    uwaaaa, Luhan nyebelin yah (?)
    Chanyeol nggak setuju? Wae?
    aku baca duakali waktu hanji nginget-inget suasana dorm.
    Aku juga kangen, apa lagi Hana jongin.
    masih penasaran kenapa bang Yeol teriak TIDAK BISA

  4. selvi says:

    paling lucu pas chanyeol teriak Tidak Bisa
    tpi kangen sma couple2 yg lain jga nih
    couple yg lain nya mana????

  5. Nely says:

    Huwaaa..
    Akhir’nya YiChan and LuHanji kambek jga..
    Sumpah.. Kangen banget sma couple” IDL..
    Aq gk ngerti eon,, kok banyak Yixing”nya yah?? #kepo
    semakin lama LuHanji semakin co cwet ajha..
    Si yifan mah maen narik” tangan anak org ajha.. Maen cium” tampa ijin >.<
    Kenapa Si Chanyeol bilang "TIDAK BISA"??
    Dy kaga mau punya Adek ipar kya kris yah??

  6. cheverlyjin says:

    yeay, finally exo comebackkk..yihaaaa~ ^^
    dan yichan muncul lagi disni setelah sekian lama dan crita waktu hanji di dorm sendirian trus ngebayangin suasana dorm yg dlu penuh sama para pasangan bikin kak juga pengen nangis ini, kak juga kangen sama couple2 laennya macam sooyeon, kaina, seri, sama sujae~

    dan ya, yichan mmg ga bisa jauh dr skinship yg banyak banget terjadi dsini..hehe
    untung pas dikamar kris sadar langsung bangun gara2 pengen minta persetujuan para member yg tentu aja ditolak keras yeol sebagai kakaknya..hahhah

  7. junhongirin93 says:

    kyaaaaa seruuuuuu lucuuuuu skali” kasih scene si lulu nyium hanji dong wkwkskkk xD sukaaaaaa nice ff ^^

  8. Zein says:

    eem kris kyak’a udah kena demam drama haha

    jadi inget dy suka bgt liat drama dan gk nyangka hdup’a jg kyak drama haha#abaikan
    eon fighting !!

  9. Ama Cho says:

    daebak.. (y)
    suka sama couple ini yang selalu skinship..
    kkk~
    aigo, spertinya yeol cemburu 😀
    respon para member lamban 😀
    hahaha
    Jjang ^^
    Fighting!!!!!!

  10. sy_sagita says:

    Bru liat sosok hanji,,mungkin di fiction berbeda luhanji,,critanya bersinambungan,,,klo ak mnamakan pasangan yichan tu romantic couple..so sweet bngt di stiap kesempatan,,luhanji??? Jadi penasaran fiction.nya kya ap,,pasti okey jga,,hihihii..penasaran chanyeol dn member lain gmn stelah pengumuman kris,,yeol..tanggung bngt triaknya,,hahahha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s