[KaiNa Piece] The World With You

TWWY

 

Title     : The World With You

Author : Ima (@bling0320)

Casts   : Kim Jongin (Kai), Lee Hana (@inhanaLee), EXO

“Aku hanya akan hidup di dunia dimana kau berada.” –Kai.

Please Read Lee Hana’s profile, before read this story–

Enjoy ^^

© INDAYLee Staffs, 2013

[KaiNa Piece]

October 28th, 2012

Ampelmann Restaurant, Berlin

11.03 AM Germany Time

Udara dingin musim gugur menembus mantel tebal yang digunakan Hana pagi itu. Gadis itu tengah duduk di balkon sebuah restoran dekat flat milik Jiho dan Minkyu, dan tengah menunggu kedatangan kedua pria itu di sana. Kedua matanya menyusuri setiap sudut restoran itu, membunuh rasa bosan karena sudah lebih dari setengah jam menunggu kedua kakaknya –yang tengah dalam perjalanan pulang dari kampusnya itu.

Seingatnya Humboldt-Universität zu Berlin tidak sejauh itu dari flat dan hanya akan memakan waktu 15 menit jika tidak terkena macet. Lagipula keduanya memakai mobil pribadi dan harusnya bisa lebih cepat di perjalanan ketika tahu ia sudah menunggu di restoran itu.

Pandangan Hana tidak sengaja terhenti pada kedua anak laki-laki yang tengah bergurau di dekat mejanya, terlihat bahagia dengan dunia mereka sendiri. Biasanya ia akan selalu tersenyum melihat hal itu. Namun rasanya semua kebahagiaan dalam dirinya sudah lenyap sejak dua hari yang lalu.

Sejak ia mendengar kabar bahwa kedua orangtuanya akan segera bercerai.

Tidak. Hana bukan seorang yang akan menangis tersedu-sedu ketika mendengar kabar seperti itu. Ia lebih baik diam, menahan kesedihannya sendirian dan tidak menunjukkannya pada orang lain. Bahkan ketika Jiho meneteskan air mata karena memberitahu berita itu padanya, ia yang beralih menenangkan sosok kakak kandungnya itu. Dan bukan sebaliknya.

“Na-ya, maaf kami terlambat. Tadi sedikit macet di jalan,” suara Minkyu menyeruak masuk ke dalam pendengaran Hana dan membuat gadis itu kembali ke alam sadarnya.

Gadis itu memberengut kesal pada sosok Jiho dan Minkyu yang sudah duduk di hadapannya, “Aku sudah hampir membeku, oppa.

Jiho tertawa pelan lalu mengacak rambut adik kesayangannya itu, “Maaf, ne? Kami harus menghindar dari wanita-wanita Minkyu dulu tadi—AW, Ya! Kenapa mencubitku bodoh?”

“Tidak, Na-ya. Kakakmu bohong. Wanitaku hanya kau saja, tidak ada yang lain,” sahut Minkyu, heboh. Membuat beberapa perhatian para pengunjung di restoran itu tertuju pada meja mereka.

Hana terkikik geli, “Wanitamu banyak juga tidak apa-apa, Chi oppa,” ujarnya seraya memperhatikan kedua sosok laki-laki yang masih saling melempar tatapan sinis itu.

Jika boleh memilih, Hana sangat ingin tinggal di Jerman saja bersama Jiho dan Minkyu. Tidak tinggal sendirian di Korea tanpa ada satu pun keluarga dekatnya di sana. Apalagi ketika mengingat bahwa kedua orangtuanya tidak akur lagi seperti dulu. Ia sangat butuh dukungan dari keluarganya sendiri. Ia hanya seorang wanita rapuh yang selalu berusaha terlihat kuat di luar. Ya, ia mengakui itu. Walaupun ia selalu berusaha terlihat bahagia di depan Kai, para wanita EXO atau ke sebelas member EXO lainnya, ia selalu merasa kesepian di dalam hatinya karena tidak mendapat perhatian dari keluarganya sendiri.

“Hei, kenapa melamun, Hana-ya?” Jiho sedikit mengguncangkan pundak Hana ketika melihat tatapan kosong gadis itu.

Minkyu ikut mencondongkan tubuhnya, memperhatikan Hana yang terlihat salah tingkah ketika Jiho memergokinya tengah melamun tadi. Ia tahu bahwa gadis itu tengah memikirkan sesuatu.

Anhi. Kalian mau pesan apa? Sekarang sudah jamnya makan siang,” Hana melebarkan senyumnya seraya membuka buku menu di hadapannya.

Dan Minkyu tahu bahwa Hana tengah mencoba mengalihkan keadaan. Matanya melirik ke arah Jiho –yang juga tengah menatap heran padanya. Mungkin setelah ini –di flat, ia akan bertanya lebih jauh pada gadis itu.

***

Appartement Hackescher Markt, Germany

06.10 PM Germany Time

Suasana makan malam itu terasa lebih aneh dari malam-malam sebelumnya. Tidak biasanya Jiho dan Minkyu hanya diam saja ketika sedang makan bersama di flat seperti itu. Hana memperhatikan kedua laki-laki yang duduk di hadapannya, tidak mungkin keduanya benar-benar bertengkar hanya karena kejadian di restoran tadi siang.

“Na-ya.”

“Iya?”

Kedua mata Hana beralih pada Minkyu –yang tiba-tiba memanggilnya, “Kenapa oppa?”

“Kau sedang menyembunyikan sesuatu ‘kan?” tanya Minkyu. Bernada sedikit menginterogasi.

Hana tertawa pelan kemudian menggeleng semangat, “Menyembunyikan apa? Aku baik-baik saja,” ujarnya.

Jiho mendorong piring makan malamnya menjauh. Ia beranjak dari kursinya lalu menarik pergelangan tangan adiknya itu keluar dari flat. Meninggalkan Minkyu yang masih diam di kursinya dan menatap kedua punggung yang menghilang dibalik pintu itu. Ada perasaan aneh di dalam dirinya. Ia tidak begitu yakin. Namun ia tahu gadis itu sedang bermasalah dengan kekasihnya, mungkin.

Langkah Jiho terhenti di sebuah taman dekat flatnya. James-Simon Park. Tidak terlalu banyak orang di sekitar taman itu dan Jiho segera menarik lengan Hana semakin memasuki bagian taman. Hingga ia memutuskan untuk duduk di sebuah kursi yang tepat membelakangi sungai. Hana mungkin butuh sedikit privasi untuk menceritakan perasaannya. Ia takut gadis itu merasa tidak enak dengan kehadiran Minkyu.

“Kau tidak mungkin baik-baik saja, Hana-ya,” ujar Jiho, membuka pembicaraan mereka malam itu.

“Tapi aku—.”

Appa dan eomma akan bercerai, kau tidak mungkin baik-baik saja!” akhirnya suara bernada tinggi itu menghempaskan seluruh benteng pertahanan Hana.

Kedua mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Ia terisak kecil kemudian segera menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Tidak mau terlihat lemah di depan kakak laki-lakinya itu. Hatinya sakit. Ia merasa sakit ketika Jiho malah membentaknya dengan membahas berita perceraian itu. Ditambah keadaan hatinya yang memang sedang tidak enak karena pertengkarannya dengan Kai beberapa hari lalu. Sepertinya ia memang butuh menangis. Sangat butuh.

Dengan lembut Jiho merengkuh Hana ke dalam pelukannya. Ia mengelus puncak kepala adiknya itu, mencoba memberikan sedikit kekuatan.

“Kau malu pada Minkyu, Hana-ya?” tanya Jiho.

Namun tidak mendapat jawaban apapun dari Hana –yang masih terisak cukup kencang itu.

“Apa ada masalah lagi selain perceraian appa dan eomma?”

Dan tetap tidak dapat jawaban apapun.

“Kau bertengkar dengan kekasihmu ‘kan?”

Hana mencoba menghentikan isak tangisnya. Ia mendorong kedua pundak Jiho menjauh, melepaskan pelukan –yang sangat hangat itu. Kedua tangannya terangkat, menyeka sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya.

Hana memejamkan kedua matanya, ia meremas bagian ujung mantel yang digunakannya, “Jiho oppa. Aku… kesepian. Apa aku boleh tinggal di sini? Bersamamu?”

Jiho hanya melontarkan seulas senyum. Kedua tangannya ia gunakan untuk merapikan anak rambut Hana yang terbang karena angin musim gugur. Matanya tepat menatap ke dalam manik mata milik adiknya yang berwarna cokelat itu.

“Selesaikan sekolahmu dulu di Korea, Hana-ya. Itu keputusanmu dulu. Setelah lulus nanti, kau bisa pilih universitas  terbaik di Jerman. Kemudian tinggal bersamaku dan Minkyu di sini,” jelas Jiho.

Hana mengalihkan tatapannya. Apa yang diucapkan Jiho benar. Ia yang membuat keputusan untuk tinggal di Korea dan sekolah di sana walaupun sendirian. Dan ia harus menyelesaikan semua masalahnya itu, tidak melarikan diri begitu saja.

***

EXO K’s dorm, South Korea

08.25 PM KST

Suara ribut yang ditimbulkan oleh beberapa gadis di dalam dorm itu tetap tidak membuat Kai bergeming. Laki-laki itu hanya duduk di meja makan, mengaduk-aduk nasi di dalam mangkuknya dalam diam dan menatap kosong ke dalamnya. Sesekali ia menghela napas panjang ketika kembali mengingat ekspresi menyedihkan Hana –beberapa hari yang lalu itu.

Ia merindukan sosok Lee Hana. Bagaimana ketika gadis itu tertawa karenanya. Bagaimana ketika gadis itu merengut kesal karenanya. Dan bagaimana ketika ia menatap wajah itu dari dekat, menelisik setiap lekuk wajah gadis itu ketika sedang tertidur pulas karena kelelahan.

“Jongin-ah, nasimu tidak akan berubah jadi Hana sampai kapan pun,” tegur Nayeon –yang entah sejak kapan  sudah berdiri di dekat Kai dan menepuk pundak laki-laki itu.

Kai mengangkat kepalanya, menatap malas pada Nayeon lalu menghembuskan napas panjang, “Aku tidak sedang memikirkannya, Nayeon-ah.”

“Tapi ekspresi wajahmu terlalu menggambarkan kalau kau merindukannya, kkamjong,” sahut Kyungsoo tiba-tiba seraya menggeser nasi –yang harusnya menjadi makan malam Kai itu ke sisi lain meja. Ia tidak suka jika hasil masakannya hanya diacak-acak seperti itu.

Anhi. Aku hanya sedang tidak enak badan,” elak Kai lalu mendorong kursinya menjauh, segera berdiri dari meja makan dan berjalan ke arah ruang tengah.

Kyungsoo menatap Nayeon dalam diam, mengisyaratkan bahwa sepertinya mereka –EXO dan wanitanya harus bergerak untuk kembali mengakurkan Kai-Hana. Jika menunggu Kai melakukannya sendiri, sepertinya hanya dalam mimpi saja.__.

“Jongin-ah, kau yakin tidak memikirkan Hana?” tanya Sehun –sedikit bergurau seraya menyikut lengan pria bernama Jongin yang tengah duduk di sebelahnya itu.

“Ya~ Oh Sehun, aku sedang tidak ingin bercanda,” balas Kai malas.

Ri-Ah mendengus pelan, “Ish. Kau hanya tinggal menghubungi Hana sekarang, jangan marah-marah seperti itu.”

“Aku tidak merindukannya, Riri,” sergah Kai cepat, menatap sinis pada kekasih Sehun itu.

Ucapan Kai berhasil menarik perhatian seluruh penghuni dorm. Ia mengatupkan kedua mulutnya lalu memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Sedetik kemudian ia beranjak dari sofa dan berjalan cepat memasuki kamarnya. Mungkin dengan tidur ia bisa melupakan Hana. Walaupun sangat kecil kemungkinannya untuk tidak memimpikan gadis itu.

Kai baru saja akan merebahkan tubuhnya ketika melihat Suho melangkah masuk ke dalam kamarnya –bersama Kyungsoo itu lalu duduk di sampingnya. Dengan membawa sebuah Handycam –yang entah punya siapa dan kemudian menyerahkan benda itu padanya.

“Kenapa, hyung?” tanya Kai tidak mengerti.

Suho menaruh handycam itu ke atas tempat tidur Kai lalu menatap sang visual itu dengan kedua mata teduh miliknya, “Aku tahu bagaimana kau selama ini, kkamjong. Kalian sedang ada masalah, Kyungsoo yang menceritakannya padaku. Dan kau harus segera menyelesaikan masalah itu sebelum menyesal nantinya. Karena aku tahu kau merindukan uri dongsaeng, sampai membuat hidupmu kacau seperti ini.”

“Tapi… handycam ini untuk apa?”

“Lupakan gengsimu untuk sekarang, Jongin-ah. Minta maaf pada Hana dan katakan semuanya –yang memang harus kau katakan. Hana tidak bisa menunggu terlalu lama. Buat video permintaan maafmu padanya dengan handycam ini. Aku yang akan mengirimkannya pada Hana lewat e-mail nanti,” Suho menepuk pundak Kai dengan lembut lalu beranjak dari sisi tempat tidur laki-laki itu.

Kai mengangkat kepalanya untuk bisa terus menatap kedua mata Suho, “Apa aku harus melakukannya?”

“Kalau kau mencintai Hana dan tidak mau kehilangannya, kau sangat harus melakukannya. Dia sedang berada di Jerman, Jongin. Kau lupa kalau dia sedang bersama kakaknya dan pria itu di sana?” tanya Suho, membuat Kai kembali ingat pada wajah Minkyu –yang sangat menyebalkan itu menurutnya.

Kai mengangguk paham, mengiringi langkah Suho yang beranjak keluar dari kamarnya. Tatapannya kini beralih pada sebuah handycam kecil berwarna hitam yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Ia meraih kamera itu, menghidupkannya dengan ragu kemudian bergegas menaruhnya di meja belajar. Mengatur posisi sedemikian rupa hingga seluruh wajahnya masuk ke dalam layar handycam yang menghadap ke arahnya itu. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya untuk menekan tombol rekam, lalu duduk kembali di kursinya dengan canggung.

Langkah awal yang dilakukannya hanya tersenyum bodoh sambil melambaikan tangan ke kamera.

“Hello, Lee Hana…”

***

October 29th, 2012

07.15 AM Germany Time

“Na-ya~. Lasst uns aufwachen, ist es Frühstück.[1]

Selimut tebal yang menutupi tubuh gadis bernama lengkap Lee Hana itu terangkat dengan cepat ketika Minkyu menariknya. Hana memeluk tubuhnya sendiri saat udara pagi Jerman yang sangat dingin itu menusuk kulitnya –yang hanya dilapisi piyama. Ia membuka sebelah matanya, memperhatikan Minkyu yang tengah berdiri di samping tempat tidurnya.

“5 Minuten erneut[2],” tawar gadis itu seraya menarik kembali selimutnya.

Minkyu menggeleng cepat, “Nein, sie sollten jetzt aufwachen. Gehe wasche dein gesicht und treffe mich am esstisch[3].”

Hana menggosok-gosok kakinya di dalam selimut lalu merengek malas. Rasanya ia hanya ingin bergelut di atas tempat tidur seharian saja, tidak mau bertemu dengan udara musim gugur di Jerman –yang hampir mirip dengan udara musim gugur Korea. Sangat dingin.

“Na-ya~.”

Ja. Ich bin jetzt wach, man muss nur am Esstisch warten[4],” gumam Hana malas, akhirnya.

Seulas senyum kemenangan muncul di bibir Minkyu. Laki-laki itu mengacak rambut Hana sekali lagi sebelum melangkah keluar dari kamar.

Butuh beberapa saat bagi Hana untuk mengumpulkan nyawanya kembali. Gadis itu meraba-raba ponselnya di atas nakas. Dan kemudian ia meringis pelan saat mengingat bahwa ponselnya itu tidak diaktifkan sejak ia berada di Jerman.

Hana menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur, ia beralih mengambil I-pad miliknya di atas nakas. Alisnya bertaut heran ketika melihat sebuah surel masuk ke dalam e-mailnya. Ia lalu membuka surel yang berasal dari ­alamat ­e-mail milik Suho itu dan bergumam bingung saat menyadari bahwa surel itu hanya berisi video. Dan ia pun segera membuka video itu.

‘Hello, Lee Hana..’

Jantung Hana sempat berhenti beberapa saat ketika melihat wajah pria –yang sangat mengganggu pikirannya itu muncul di layar I-pad. Ia membetulkan posisi duduknya kemudian memperbesar volume, memperjelas suara berat khas pria itu. Kim Jongin.

Seulas senyum geli muncul di bibir Hana ketika Kai tidak mengeluarkan kata-kata apapun lagi. Hanya bertingkah bodoh dengan melihat ke sekeliling dan mengacak rambutnya sendiri. Seolah kehabisan kata-kata.

“Dasar bodoh.”

‘Jangan anggap aku bodoh, Han-ah. Aku hanya tidak tahu harus mulai dari mana. Astaga. Rasanya lebih baik berdiri di depan panggung daripada harus membuat video seperti ini.’

Hana terkikik geli. Bagaimana mungkin ucapan Kai seperti menjawab ucapannya tadi. Dan beberapa saat kemudian wajah Kai berubah menjadi sedikit lebih serius.

‘Baiklah. Aku akan mulai dari sini saja.’

Kai terlihat menghela napas panjang sebelum kembali menatap lensa kamera. Matanya menunjukkan sorot keseriusan. Dan Hana tidak pernah melihat Kai dengan tatapan seperti itu selama ini.

‘Maaf. Maaf karena aku selalu bersikap egois atau bersikap tidak peduli padamu, Lee Hana. Kau pasti tahu kalau aku bukan seseorang yang pintar mengekspresikan sesuatu. Kita sudah kenal lebih dari satu tahun. Selama itu juga aku selalu berusaha untuk menjadi lebih baik. Ah ya, mungkin sikap dinginku tidak berubah.’

Ada jeda beberapa saat. Hana bisa melihat dengan jelas bahwa Kai tengah menarik napas panjang. Mungkin menekan rasa gugupnya dalam-dalam.

‘Semuanya bisa kita lewati bersama-sama ‘kan? Aku bukan laki-laki sempurna yang bisa menemanimu setiap saat, Han-ah. Tapi aku janji, tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi. Aku hanya akan hidup di dunia dimana kau berada. Dan kau harus terus bersamaku, Han-ah, di Korea. Jangan pernah coba untuk keluar selangkah pun dari negeri ini, kau mengerti? Cepat pulang. Bye, Lee Hana. Saranghae.’

Durasi video yang tidak begitu panjang, namun berhasil membuat seluruh tubuh Hana membeku. Tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaannya setelah mendengar semuanya. Mendengar kata-kata yang tidak pernah diucapkan seorang Kim Jongin sebelumnya. Ia tidak pernah tahu bahwa Kai bisa bersikap seperti itu.

Video itu berhenti pada gambar Kai yang tengah tersenyum manis sambil melambai ke kamera. Dan Hana tahu bahwa ia sedikit merindukan laki-laki itu. Bertengkar, bermain game, atau mengobrol tidak penting. Hal yang memang sering dilakukan bersama. Bolehkah ia segera pulang ke Korea dan bertemu laki-laki itu?

“Na-ya, kau belum bangun juga?!” sosok Minkyu yang tiba-tiba muncul dari pintu membuat Hana sedikit terlonjak.

Gadis itu segera meletakkan I-padnya di atas tempat tidur kemudian berlari ke kamar mandi yang memang berada di dalam kamar itu. Sementara Minkyu hanya bisa menggeleng-geleng melihat tingkah adik ‘kesayangannya’.

Setelah pintu kamar mandi itu tertutup, Minkyu melangkah memasuki kamarnya –yang tengah digunakan Hana untuk menginap itu. Ia membereskan beberapa barang Hana yang berantakan di atas nakas dan tempat tidur. Tangan Minkyu yang tengah terangkat untuk memindahkan I-pad dari atas tempat tidur itu pun terhenti seketika. Ia membalikkan layar I-pad itu, memperhatikan wajah seseorang yang sangat dikenalnya.

Minkyu tertawa miris. Ia sangat tahu bagaimana perasaan Hana pada laki-laki itu sekarang. Bahkan ketika gadis itu berada di Jerman pun, Hana tetap terus melihat video Kai untuk menghilangkan rasa rindunya. Dan ia mungkin memang tidak bisa menyelip di antara keduanya.

***

November 3rd, 2012

Incheon Airport

10.00 AM KST

Pandangan gadis berambut cokelat itu terus tertuju pada pintu kedatangan luar negeri. Sesekali ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, memastikan waktu yang sudah dihabiskannya untuk menjemput sahabatnya, Lee Hana. Sudah satu jam lebih sedikit.

Gadis itu –Lee Nayeon berjengit kaget ketika Hana memeluknya secara tiba-tiba –bahkan sebelum ia mengangkat kepala. Senyuman bahagia muncul di bibir Nayeon, mendengar tawaan bahagia Hana. Sepertinya video yang dikirimkan Kai sangat berpengaruh pada gadis itu.

“Na eonni!! Aah, aku merindukanmu!!” Hana melepaskan pelukannya lalu menggoyangkan kedua bahu Nayeon dengan gemas.

“Ya! Ya! Jangan berlebihan!” balas Nayeon seraya menurunkan kedua tangan Hana dari bahunya. Ia melirik dua buah koper kecil di samping tubuh Hana kemudian berdehem pelan, “Aku sudah menunggu satu jam di sini, mungkin kau—.”

“Aku sudah belikan oleh-oleh, tenang saja eonni. Hihi. Untuk Chanra, Ri-Ah, Hanji, dan Jaehye juga,” potong Hana, sudah tahu apa yang tengah dipikirkan oleh kekasih Kyungsoo itu.

“Tidak untuk pacarmu?” tanya Nayeon, sedikit menyindir.

Hana pura-pura tidak mendengar ucapan Nayeon lalu segera menarik kedua kopernya. Ia bahkan tidak peduli teriakan Nayeon dan hanya tersenyum simpul. Ia sudah membeli sesuatu untuk laki-laki itu, tentu saja.

“Hana-ya! Ish, jangan tinggalkan aku!” Nayeon berseru seraya mengambil alih salah satu koper di tangan Hana. Berjalan berdampingan bersama gadis yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri itu.

Keduanya berhenti di bagian depan bandara. Hana baru saja akan memberhentikan taksi ketika melihat Nayeon berbelok ke arah tempat parkir. Kedua alisnya bertaut heran, tanpa sempat bertanya ia segera mengejar langkah Nayeon yang ternyata cukup cepat juga.

“Na eonni, kau sudah bisa bawa mobil?” tanya Hana heran. Dan sepertinya kali ini Nayeon yang pura-pura tidak mendengar (.__.).

Langkah Hana melambat ketika kedua matanya menangkap sebuah mobil van yang terlalu dikenalnya. Dan kemudian semua dugaannya terpatahkan saat Nayeon menghampiri van itu, membuka salah satu pintu untuk memasukkan koper miliknya. Bahkan kedua matanya tidak sengaja menangkap sosok laki-laki yang tengah duduk di sisi lain bagian van. Menatap secara lurus padanya.

“Hana-ya, mau sampai kapan berdiri di sana? Ayo naik!” Nayeon menarik koper lainnya dari tangan Hana, sekalian menarik lengan gadis itu untuk segera memasuki van.

Dan Hana tidak bisa mengelak ketika tubuhnya sudah duduk di dalam van. Tepat bersebelahan dengan laki-laki –yang masih menatap lurus padanya. Kim Jongin. Sementara Nayeon sudah sibuk dengan urusannya sendiri di bagian belakang van. Mendengarkan lagu. Bagus, karena sekarang Hana tidak tahu harus melakukan apa.

“Hai,” sapa Hana kaku, seraya menggaruk pipinya yang tidak gatal sama sekali.

Kai tersenyum miring, “Kenapa kau jadi seperti ini?”

“Memangnya kau mau aku seperti apa?” tanya Hana bingung.

“Seperti biasanya. Kita seperti dua orang yang baru kenal, tahu?” Kai memutar bola matanya ke arah jalanan di luar van.

Jika boleh jujur sebenarnya, ia merasa gugup ketika harus berhadapan dengan gadis itu. Karena semua member EXO, ia terpaksa harus ikut Nayeon menjemput Hana di bandara. Dan salahkan Kyungsoo yang tidak mau ikut bersama mereka, dengan alasan memberi privasi pada Kai dan Hana. Kai sendiri tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaannya setelah bisa bertemu dengan gadisnya lagi.

“Jadi… Bagaimana rasanya membuat video seperti itu?” tanya Hana, jahil.

Kai memutar kepalanya dengan cepat ke arah Hana. Wajahnya sudah memanas mengingat bagaimana ia harus membuat video memalukan –yang pasti sudah ditonton Hana ketika berada di Jerman itu.

“Ya~, wajahmu merah, kkamanjongie~,” ledek Hana kemudian terkikik pelan.

“Berhenti mengejekku, Lee Hana.”

“Kau makan apa sampai bisa mengatakan hal seperti itu, ha?” tanya Hana lagi lalu malah tertawa semakin keras.

“Aku serius, Han-ah.”

Eoh?” tawaan Hana terhenti. Kai menatapnya lekat. Tatapan yang sama dengan tatapan yang laki-laki itu tunjukkan di dalam video. Dan ia benci ketika harus mengontrol detak jantungnya yang mulai menggila karena tatapan itu.

Kai menghela napas panjang lalu mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut Hana, “Aku serius, Han-ah. Aku akan berusaha untuk berubah.”

Ya~, mwoya?! Aku tidak terima perubahanmu,” tolak Hana seraya menggeleng cepat, “Aku mau Kim Jongin apa adanya. Yang selalu menatap dingin padaku, bersikap tidak peduli atau yang selalu memarahiku ketika bertindak ceroboh.”

Kai baru saja akan membuka mulut untuk menyela saat Hana kembali memotong ucapannya, “Aku tidak peduli lagi kau sibuk, tidak sering menelepon, atau tidak sering bersamaku.Yang penting adalah kau yang tidak akan pernah pergi meninggalkanku, Jongin-ah.”

Mulut Kai mengatup sempurna. Ia tidak tahu bagaimana harus membalas ucapan Hana. Gadis itu berubah banyak setelah selama beberapa hari tinggal di Jerman. Dan ia menjadi tahu bahwa Hana masih membutuhkannya. Masih membutuhkan kehadirannya untuk terus berada di samping gadis itu. Ia tertawa pelan kemudian mencubit kedua pipi Hana dengan gemas, “Aku janji, Han-ah.”

“Aduh! Sakit, kkamjong!”

“Sudah selesai? Baterai ponselku sudah habis untuk merekam percakapan kalian,” suara Nayeon menyeruak di antara percakapan Kai dan Hana. Membuat keadaan hening seketika dan mengalihkan perhatian dua orang di depan itu mengarah padanya.

Hana melirik Kai sejenak sebelum kemudian menyadari sesuatu, “YA! LEE NAYEON! BERIKAN PONSELMU!”

“YA! YA! LEE HANA, JANGAN MENARIK RAMBUTKU! ASTAGA!”

“TIDAK MAU! BERIKAN PONSELMU DULU!”

Kai hanya bisa tertawa melihat pertengkaran kedua wanita di depannya. Sekarang gadis itu yang merasa malu karena ucapannya berhasil direkam oleh Nayeon untuk disebarkan ke semua member EXO. Seorang Lee Hana yang polos itu bahkan tetap bisa menjadi anarkis ketika menjunjung tinggi gengsinya.

[KaiNa Piece] The World With You—CUT


[1] Ayo bangun, ini waktunya sarapan.

[2] 5 menit lagi.

[3] Tidak, kau harus bangun sekarang. Cuci mukamu dan temui aku di meja makan.

[4] Iya. Aku bangun sekarang, kau tunggu di meja makan saja.

Ima’s Note:

Wohoo, Ima is back~ back~ back~. Ngahaha.. emang sengaja rencananya mau post kaina pas di ulang tahun uri kkamanjongie~

 

Happy birthday, Kim Jongin, Kai, kkamjong, etc..~ Wish all the best for you and EXO ({})

Dan untuk anak-anakku/eselemeh/ Ra, Zi, Zen, Mai, sama Mut! Miss you so much hihi kapan kapan umma mampir ke WA dah :*

Maaf kalau ceritanya aneh atau apapun. Tolong tinggalin komen yaa, di cerita-cerita lain di blog INDAYLee juga hehe Mudah-mudahan aku bisa pos lanjutannya cepet karena emang lagi libur panjang 😀

Thank You~

 

Regards Ima

 

 

75 thoughts on “[KaiNa Piece] The World With You

  1. serlia says:

    haha kai lucu deh bikin video kek gitu, pasti kai gugup bngt pas bikinnya. aku jadi senyum senyum sendiri 🙂

    akhirnya KaiNa baikan lagi 🙂

    iih Nayeon jail deh, masa dia ngerekam percakapan KaiNa 😀

  2. hasna nabilah says:

    aaaaaaa so sweet banget sihhhh ini couple kkkkk~ apalagi video yg dibuat sama kaiiiiiiii waaaaa ngiri banget liat couple ini. akhirnya kai mau berubah jg yaaaaaaa, ayooo kaiii jgn sia2in hana yaaaa

  3. Bubble Gum says:

    lagi-lagi harus member lain yg turun tangan buat bikin kai sama hana balikan, hahaha
    romantisnya kata-kata kai buat hana sama kata-kata hana buat kai pas waktu di van, uuuuhhhh makin seru

  4. sy_sagita says:

    Sabar ya hana,,asih ad jongin,,n member exo yg selalu buat hana,,smoga mreka tau dn mnghibur hana,,hahahha..bisa bnyangin muka jongin yg bikin video tu,,hihiihih..n nayeon forever,,tingkahnya mmng gg ad matinya,,benar2 ratu iblis,,hahahah

  5. byunbaek says:

    ngebayangin jongin bikin video kaya gitu lucu kayanya wkwkwk udh dag dig dug pas tadi hana pengen tinggal di jerman untung kaga jadi siah… fighting buat hana

  6. Dean says:

    kai hana udah baikan asikk.. semoga gak marahan lagi deh.. lee hana kena kau hukan cuma kai aja yang malu kamu juga pasti malu karena percakapanmu direkam oleh iblis seperti nayeon…

    #

  7. Khyunpawookie says:

    Hahahahahhahaha kelakuan Nayeon gkgkkgkgg jail jg selain galak wkwkwkkwkw
    Nahhh gtu kan so sweet tuh mrka tuh sbnernya bsa rommtis2n yh hmzzzz klo gtu enak kan liatnya akur wkwkwkwkwk
    Aq suka perubahan Kai…. Yeyyyy kai pertahankan hahahahha

  8. Nona Novi says:

    Sumvah demi apa aku ikutan ngefly pas baca videonya jongin, ahhh so swet bgt sih jongin? Ya allah ada gg sih stock kyak jongin satu aja buat aku 😂😂😂, part ini romantis bgt aku sampek baper 😱😱 ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s