[KaiNa Piece] After That Day

After that day

Title     : After That Day

Author : Ima (@bling0320)

Casts   : Kim Jongin (Kai), Lee Hana (@inhanaLee), EXO

Please Read Lee Hana’s profile, before read this story–

Enjoy ^^

© INDAYLee Staffs

October 24th, 2012

A café in Cheongdam-dong

02.21 PM KST

Karena jam pulang yang lebih cepat, Hana memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar sekolahnya. Bersama Yura. Untuk melupakan semua sikap Kai –yang kembali berubah menjadi dingin akhir-akhir ini. Dan terkadang tidak membalas pesannya, walaupun ia selalu berpikiran positif bahwa mungkin Kai dan member EXO lainnya tengah sibuk. Ditambah Kai yang tidak pernah mengunjungi apartemennya lagi sejak satu bulan yang lalu.

“Hana-ya, kau mau pesan apa?” tanya Yura, membuyarkan semua lamunan Hana. Hana melirik sekilas pelayan wanita yang berdiri di dekat mejanya lalu tersenyum kaku.

“Err, orange juice saja. Aku tidak lapar,” jawab Hana. Langsung dicatat oleh pelayan wanita itu sebelum pergi meninggalkan meja mereka –Hana dan Yura.

Hana memperhatikan gerak-gerik Yura yang terlihat gelisah. Gadis itu terus-menerus melirik jam tangannya. Seolah menunggu sesuatu –yang tidak kunjung datang.

“Ah, jinjja. Kenapa dia belum datang juga?” pertanyaan yang keluar dari bibir Yura itu meyakinkan dugaan Hana. Gadis itu memang tengah menunggu seseorang.

“Kau menunggu siapa, Yura-ya?” tanya Hana, sedikit merasa penasaran.

Yura mengangkat kepalanya, menatap Hana sejenak kemudian tersenyum manis, “Temanku dari sekolah lain. Dia mau mengembalikan buku.”

Hana membulatkan mulutnya. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku almamater lalu berjengit kaget karena sebuah telepon yang masuk secara tiba-tiba.

Jihoppa calling…

Kening Hana berkerut. Tidak biasanya Jiho menghubunginya di tengah hari seperti itu. Kecuali jika menyangkut hal penting mungkin. Karena selama ini ia dan Jiho hanya chatting melalui skype atau sekedar berkirim pesan saja. Tidak pernah meneleponnya.

“Kenapa, oppa?” tanya Hana, sesaat setelah ponsel itu menempel di telinganya.

‘Hana-ya.’

Eoh?” balas Hana. Saat mendengar Jiho hanya memanggilnya dengan nada parau.

Sepertinya hal itu memang berhubungan dengan sesuatu yang penting.

‘Kau ada dimana sekarang?’ tanya Jiho lagi di seberang sana.

“Di café bersama temanku. Kenapa, oppa?” Hana kembali mengulang pertanyaannya. Ia tidak suka menjadi penasaran karena Jiho mencoba berbasa-basi dengannya.

‘Datanglah ke Jerman, Hana-ya. Aku… tidak bisa mengatakannya di telepon.’

“Jiho oppa. Jangan membuatku khawatir. Kau kenapa?” kali ini Hana tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Ia tahu ada yang tidak beres dengan kakak laki-laki kesayangannya itu.

‘Beli tiket pesawat ke Jerman paling pagi besok. Aku akan menggantinya nanti. Ini…. Sangat penting, Hana-ya.’

Hana menghela napas panjang, “Keurae. Aku akan pergi ke Jerman besok.”

‘Jangan bilang pada eomma atau appa, ne? Bye.’

Hana menurunkan ponselnya dan kembali memasukkannya ke dalam saku almamater. Ia penasaran, sungguh. Jiho adalah seseorang yang suka bercanda, sama seperti Minkyu. Dan Jiho tidak akan menjadi serius seperti itu, jika tidak membahas sesuatu yang penting. Ia takut kalau saja Jiho memberitahu sebuah berita buruk nantinya.

“Ah, akhirnya dia datang juga,” gumaman Yura menarik kembali kesadaran Hana. Hana menolehkan kepalanya untuk mengikuti arah pandang Yura. Hingga sedetik kemudian ia memekik pelan ketika melihat wajah laki-laki itu.

Sudah lebih dari satu bulan Hana tidak melihat laki-laki –yang pernah menjadi korban tabrak oleh sepedanya itu.

“Kang Yunwoo! Aku disini!”

Hana segera membalikkan tubuhnya lagi menghadap Yura –saat wanita itu melambaikan tangan pada Yunwoo. Hana terus mengumpat dalam hati seraya menundukkan kepalanya. Jangan sampai ia kembali bertatap muka dengan laki-laki itu.

“Maaf aku terlambat, Yura-ya,” ujar Yunwoo seraya menarik kursi tepat di seberang Hana –yang masih menundukkan kepala itu.

Gwenchana. Ah, kenalkan temanku dari Cheongdam,” Yura tersenyum semangat lalu menarik tangan Hana yang tergeletak di atas meja, hingga terulur ke hadapan Yunwoo. Membuat gadis itu –Lee Hana mau-tidak-mau mengangkat kepalanya dan menatap laki-laki di hadapannya.

Dan teriakan kaget itu pun tidak terelakan.

“YA! Kenapa kau bisa ada disini?” tanya Yunwoo, heboh.

Hana mendengus pelan lalu melipat tangan di depan dada, “Bukannya ini tempat umum?”

“Bukan itu. Maksudku, kenapa kau bisa ada—.”

“Dia temanku, Yun-ah. Kalian sudah saling kenal? Baguslah,” potong Yura seraya tersenyum lebar. Sepertinya rencananya untuk menjodohkan kedua orang itu akan sukses.

***

EXO K’s dorm

03.15 PM KST

Sebenarnya Kai sendiri tidak mengerti kenapa ia masih merasa kesal ketika melihat Hana. Ia hanya membalas secara singkat ketika gadis itu mengiriminya pesan dan tidak akan menghubungi duluan apapun yang terjadi. Kejadian seorang laki-laki asing yang menepuk puncak kepala gadisnya sudah sangat lama sekali, namun ia rasanya sangat ingin memukul laki-laki itu saat mengingatnya. Ia saja bahkan masih bisa dihitung dengan jari untuk –berani menepuk kepala Hana seperti laki-laki itu. Dan kenapa Hana membiarkan saja ketika kepalanya disentuh oleh orang lain.

“Ah, kkamjong. Kau bisa ambilkan mantelku di apartemen uri dongsaeng?” suara berat milik Chanyeol itu menyadarkan Kai yang tengah menonton siaran pertandingan baseball  di ruang tengah. Kai melirik sebentar ke arah Chanyeol lalu kembali menatap layar televisi di depannya.

“Mantel yang mana, hyung?” tanya Kai tak acuh.

Chanyeol –yang awalnya berdiri di depan pintu kamar pun kini melangkah ke bagian ruang tengah. Sedikit banyak merasa penasaran dengan tontonan Kai. Sesaat kemudian ia ber-oh ria. Ketika tontonan Kai berubah menjadi baseball, maka laki-laki itu tengah mempunyai masalah.

“Yang Hana pakai saat kalian beli makan malam itu. Kau tidak ingat? Memang sudah lama sih.”

Lagi dan lagi. Kai kembali diingatkan pada kejadian itu karena ucapan Chanyeol.

“Aku lupa,” jawab Kai singkat. Chanyeol mendesis pelan kemudian segera menghempaskan tubuhnya di sofa, tepat di sebelah sang visual itu.

“Ayolah. Kau bisa ambilkan di apartemen Hana ‘kan? Hanya kau yang tahu password apartemennya, kkamjong,” rajuk Chanyeol.

“Nanti saja, Hana belum pulang. Tidak sopan kalau aku masuk ke apartemennya sekarang, hyung,”  jawab Kai beralasan. Ia hanya sedang malas bertemu gadis itu untuk sekarang.

Chanyeol mengusap wajahnya, “Aku tidak tahu masalah kalian apa. Tapi aku butuh mantel itu, Kim Jongin. Kakakku mau mengambilnya sore ini.”

Kai mendongakkan kepalanya sejenak untuk mengambil napas kemudian segera berdiri dari sofa. Ia berjalan malas ke arah pintu dorm, memakai alas kaki seadanya lalu melangkah keluar begitu saja tanpa berpamitan pada Chanyeol.

***

Setelah mengetikkan password apartemen Hana, Kai bergegas masuk ke dalamnya –sebelum orang lain melihatnya memasuki apartemen gadis itu. Ia menyalakan saklar lampu ruang tengah lalu mermperhatikan ruangan –yang sudah sangat lama tidak dikunjunginya itu. Mungkin karena kesibukannya, ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali mengunjungi kekasihnya di sana. Menonton TV bersama, menemani Hana mengerjakan tugas, atau sekedar bertengkar.

Dan Kai merindukan semua itu.

Kai menggelengkan kepalanya dengan cepat dan segera melangkah memasuki apartemen Hana untuk kembali pada tugasnya semulai. Mencari mantel milik Chanyeol. Ia mengitarkan pandangannya ke seluruh sudut apartemen Hana dan tidak menemukan satu benda pun yang berbentuk seperti mantel. Untuk sekarang Kai tidak berpikiran untuk memasuki kamar Hana dan mencari mantel itu di sana.

Aish, aku tidak mungkin masuk ke kamarnya,” gumam Kai pelan. Ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah. Memparhatikan meja di depannya yang terlihat berantakan oleh beberapa bungkus makanan ringan dan juga buku-buku pelajaran Hana.

Eish. Gadis bodoh itu pasti tidak makan dengan benar,” ujar Kai berspekulasi. Tangannya terulur untuk membersihkan bungkus-bungkus makanan ringan itu dari atas meja lalu membuangnya ke tempat sampah di dekat dapur.

Kai baru saja akan kembali ke ruang tengah ketika mendengar pintu apartemen Hana terbuka. Ia mendadak panik dan segera bersembunyi di balik tembok –yang menghalangi ruang tengah dengan dapur itu. Dengan memberanikan diri, Kai mengintip sedikit dari balik tembok. Memperhatikan gerak-gerik Hana yang tengah tidur-tiduran di atas sofa sembari memainkan I-padnya.

Hanya orang bodoh sepertinya yang mengintai kekasihnya sendiri dari balik tembok bukan?

“Tiket ke Jerman paling pagi, ya?” gumam Hana –masih tetap memainkan internet melalui I-padnya.

Kai mengernyit saat Negara di bagian Eropa itu memasuki pendengarannya. Negara dimana kakak laki-laki Hana menuntut ilmu bersama Minkyu. Bahkan mengingat nama Minkyu saja, Kai sudah sangat malas. Untuk apa gadisnya mencari tiket ke Jerman?

“Pertama. Aku harus membuat surat izin ke sekolah,” Hana beranjak bangkit dari posisi tidurnya seraya meletakkan I-pad itu di atas meja, “Aish. Kenapa harus ke Jerman sih. Aku harus ulangan Matematika susulan nanti.”

“Jerman?” suara berat yang berasal dari belakang itu membuat Hana terlonjak kaget dan refleks membalikkan tubuhnya. Ia melirik sebentar ke arah pintu –yang tidak terdengar suara apapun lalu menatap Kai yang berdiri di dekat dapur.

“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Hana heran, “Teleportasi, ya? Aku tidak mendengar suara pintu tadi.”

Langkah Kai semakin mendekati gadisnya yang masih duduk di sofa. Ia mengambil I-pad milik Hana di atas meja, melihat pemesanan tiket ke Jerman di salah satu website perusahaan penerbangan. Ia mengalihkan pandangannya kembali pada gadis itu.

“Kau akan ke Jerman besok?” tanya Kai. Bernada sedikit tinggi.

“Apa kau benar-benar bisa teleportasi?”

“Kenapa tidak memberitahuku?”

“Atau aku lupa menutup pintu tadi?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan, Lee Hana!”

Hana menghela napas panjang, “Aku harus pergi ke Jerman selama beberapa hari, kkamjong-ah. Jiho oppa menyuruhku ke sana.”

“Kalau aku bilang, kau tidak boleh ke Jerman,” Kai menghentikan ucapannya sejenak seraya menatap kedua mata gadisnya, “Bagaimana… Han-ah?”

Jantung Hana berdetak lebih cepat. Ia menghindari kontak mata dengan laki-laki itu kemudian menarik napas panjang untuk menjernihkan pikirannya. Agar tidak terpengaruh dengan ucapan kekasihnya.

“Jangan seperti anak kecil, kkamjong. Aku hanya beberapa hari di Jerman. Kau juga tidak—.”

“Dan bersama laki-laki itu juga di sana?” tanya Kai, memotong ucapan Hana.

Hana tahu bahwa Kai tengah membahas Minkyu. Tapi sungguh, ia sedang tidak ingin bertengkar dengan Kai karena orang lain untuk saat ini.

“Kim Jongin, kenapa kau seperti ini sih?” tanya Hana tidak sabar. Ia beranjak bangkit dari sofa, agar bisa menyetarakan tinggi dengan laki-laki itu.

Kai tersenyum miring, “Kau pacarku, Han-ah. Aku tidak mau kau pergi ke Jerman.”

“Pacar macam apa yang bersikap dingin pada pacarnya sendiri, hah? Kemana saja kau selama ini, Kim Jongin?” pertanyaan bernada dingin yang meluncur dari bibir Hana itu membuat Kai membisu.

Apa Kai tidak salah lihat bahwa kedua mata Hana tengah berkaca-kaca sekarang? Kai membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan gadisnya. Namun sedetik kemudian ia menutup mulutnya kembali karena tidak tahu harus menjawab apa. Akhir-akhir ini ia memang berusaha menghindari Hana, agar tidak mengingat kejadian itu lagi.

“Tidak bisa jawab ‘kan? Gwenchana. Aku tahu kau sibuk, Jongin-ah,” Hana mengalihkan pandangannya seraya tersenyum manis –namun terlihat pahit itu, “Ah iya. Aku mau mengembalikan mantel Chanyeol oppa. Dorm selalu kosong setiap aku ke sana.”

“Han-ah.”

Hana meraih tas ransel sekolahnya di sofa kemudian berjalan cepat memasuki kamarnya. Ia segera mengambil mantel milik Chanyeol dari dalam lemarinya lalu menyerahkan mantel itu pada Kai –yang sudah berdiri di depan pintu kamar. Ia melebarkan senyum seraya menepuk-nepuk pundak laki-laki itu.

“Terima kasih mantelnya. Err, kkamjong-ah. Kau tidak keberatan kalau kusuruh pulang sekarang ‘kan? Aku mau mandi lalu menyiapkan baju untuk besok,” mohon Hana, tanpa menghilangkan senyum di bibirnya.

“Aku…. Pulang sekarang, Han-ah,” ujar Kai ragu seraya menatap Hana sejenak kemudian berbalik. Melangkah meninggalkan kekasihnya yang masih terpaku di pintu kamar –dan menatap punggungnya itu.

“Bodoh. Kenapa kau malah menangis, Lee Hana? Tch.

***

October 26th, 2012

SM Building

11.17 PM KST

Musik masih berdentum keras memenuhi ruangan berhiaskan gambar langit di dindingnya itu. Bayangan seorang laki-laki yang tengah menari itu terlihat jelas di cermin panjang di dalamnya. Keringat yang mengucur deras tidak membuat laki-laki itu berniat menghentikan latihan malamnya sama sekali. Yang berada di pikirannya saat itu hanya menari dan menari. Melakukan kegiatan yang sangat disukainya itu untuk melupakan masalah yang mengganggu pikirannya.

Bahkan ketika Kyungsoo memasuki ruangan itu untuk mengambil handuk kecilnya yang tertinggal. Kai masih saja menari lagu baru untuk comeback mereka itu.

“Jongin-ah,” panggil Kyungsoo dengan suara cukup keras. Namun sepertinya belum bisa mengalahkan volume musik yang diputar. Kyungsoo mendecak pelan kemudian segera menekan tombol stop pada player yang berada di sudut ruangan itu.

“Sedang punya masalah?” tanya Kyungsoo seraya memperhatikan Kai yang tengah mengambil sebotol air di dekat player. Meminum isinya hingga habis hanya dalam beberapa kali tegukan. Sang visual itu mungkin tengah menghadapi masalah yang cukup berat. Karena latihan dance sendirian di jam hampir tengah malam, sedangkan para member EXO lainnya tengah berjalan-jalan di sekitar gedung SM sebelum pulang ke dorm.

Kai melempar botol air itu ke dalam tempat sampah. Ia meraih handuk milik Kyungsoo lalu menyeka keringat di sekitar leher dan wajahnya, “Bukan masalah besar. Gwenchana.

Kyungsoo mendesis pelan. Ia hanya bisa pasrah saja ketika handuk miliknya dipakai oleh roommatenya itu. Sikap Kai akhir-akhir ini memang sedikit berubah. Tidak ada lagi tawaan lepas khas seorang Kim Jongin ketika BaekYeol melontarkan lelucon. Hanya seulas senyum yang dilontarkan laki-laki itu dan Kyungsoo tahu bahwa mungkin Kai tengah memiliki masalah dengan Hana.

“Dengan uri dongsaeng?” tanya Kyungsoo lagi, lalu mendudukkan tubuhnya di sebelah Kai. Kai menghentikan sejenak kegiatan mengeringkan rambut –dengan handuk Kyungsoo itu. Kedua matanya menatap lurus ke depan. Memikirkan tatapan sedih yang dilihat dalam kedua manik mata Hana ketika mereka terakhir kali bertemu.

Bukan masalah. Hanya saja ia yang merasa terlalu bersalah karena tidak bisa bersikap baik pada gadis itu. Ia benar-benar seseorang yang tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan sesuatu dengan baik. Dan semua itu terjadi pada Hana. Hana sudah merasa sakit terlalu banyak karena sikap dinginnya selama ini.

“Kau tahu kalau dia pergi ke Jerman?” tanya Kyungsoo tiba-tiba.

Kai menoleh dengan cepat, “Aku yang harusnya bertanya seperti itu. Kau tahu dari mana Hana pergi ke Jerman?”

“Nayeon. Hana mengupdate twitternya sedang berada di Jerman. Kukira kau tidak tahu, makanya uring-uringan seperti ini,” jawab Kyungsoo seraya mengendikkan bahunya.

“Aku tahu. Tapi bukan itu masalahnya,” Kai menghela napas panjang. Mungkin ia memang harus menceritakannya pada Kyungsoo. Laki-laki terlalu mengenalnya –walaupun ia berusaha berbohong sekali pun.

Kyungsoo memiringkan posisi duduknya sehingga menghadap Kai. Siap mendengarkan keluh-kesah teman sekamarnya itu. Tanpa perlu meminta pun, Kai pasti akan menceritakan masalahnya cepat atau lambat.

“Menurutmu… Aku bagaimana?” tanya Kai, ambigu.

Kyungsoo menaikkan sebelah alisnya, “Kau tampan, jelas. Dancemu juga sangat bagus. Tinggi. Kulit sedikit hitam. Rambut—.”

“Bukan itu, Kyungsoo-ya. Maksudku…. Sikapku pada Hana selama ini. Bagaimana?” pertanyaan Kai membuat Kyungsoo harus menahan diri untuk tidak tertawa saat itu juga.

Mungkin Hana sudah menyinggung Kai mengenai sikap dingin laki-laki itu selama ini.

“Dingin. Tidak peduli. Walaupun aku sering berdebat dengan Nayeon, tapi aku tidak pernah mengabaikannya, kkamjong. Kau tahu? Wanita seperti Hana membutuhkan perhatian lebih. Tidak memiliki anggota keluarga di Korea dan hanya kau yang diharapkannya untuk mengisi kekosongan itu. Tapi kau terlalu menyia-nyiakan kebaikan Hana selama ini. Bersikap kekanakkan hanya karena Hana dekat dengan teman laki-lakinya.”

Perkataan Kyungsoo tidak ada yang meleset sedikit pun. Kai menyandarkan kepalanya pada cermin besar di belakangnya. Mengingat-ingat bagaimana ia tidak terlalu mempedulikan Hana dalam dua bulan terakhir ini. Hidup sendirian di Korea dan hanya ditemani oleh laki-laki –dingin sepertinya pasti membuat gadis itu merasa kesepian. Harusnya ia tidak marah ketika Hana berusaha mencari teman di luar sana –walaupun laki-laki. Karena ia memang tidak sepenuhnya berhak atas gadis itu. Hana yang menentukan hidupnya sendiri untuk dekat dengan siapa pun.

Bahkan ketika Hana memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka pun, ia rela. Jika pada akhirnya Hana tidak mencintainya lagi dan mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik darinya.

“Kurasa kita harus pulang sekarang, Jongin-ah. Seung Hwan hyung sudah meneleponku,” ajak Kyungsoo seraya berdiri dari duduknya. Ia menepuk pundak bagian kanan sahabatnya, mencoba memberikan kekuatan pada laki-laki itu. Ia sangat berharap akan kemajuan hubungan keduanya.

***

Jiho’s flat, Germany

01.16 PM GT

Matahari tidak begitu menyengat siang itu ketika Hana baru saja bangun dari tidurnya. Setelah mengalami sedikit jet lag kemarin, ia membutuhkan jam tidur yang lebih banyak. Jadi sebelum jam makan siang tiba tadi, ia memutuskan untuk tidur sebentar. Tidak sebentar sepertinya karena ia sudah tertidur selama dua jam.

Hana mengucek kedua matanya lalu memperhatikan keadaan sekelilingnya. Kamar Jiho. Ya, ia tidak bermimpi tengah berada di Jerman sekarang. Berada di flat milik Jiho –dan Minkyu. Tinggal selama beberapa hari di sana sampai Jiho mengatakan masalah –yang membuat ia harus rela terbang ke Negara kelahirannya itu.

“Sudah bangun, tuan putri?” pintu kamar Jiho terbuka dan memunculkan sosok Minkyu di baliknya. Laki-laki itu tersenyum ramah kemudian melangkah pelan menghampiri Hana yang masih duduk dalam keadaan setengah sadar di tempat tidur.

Seulas senyum muncul di bibir Hana, “Kenapa kau yang muncul? Dimana Jiho oppa?”

“Karena aku libur hari ini dan kakakmu itu sudah berangkat kuliah satu jam yang lalu. Ada lagi yang ingin kau tanyakan, Na-ya?” tanya Minkyu seraya mengambil tempat duduk di dekat Hana di sisi tempat tidur.

Hana menggelengkan kepalanya polos. Hingga sedetik kemudian rambutnya –yang sudah berantakan menjadi lebih berantakan lagi karena Minkyu mengacak rambutnya dengan gemas. Akhirnya ia bisa kembali melihat sosok Minkyu yang sebenarnya lagi sekarang.

“Chi oppa.

“Hmm?”

“Apa kau tahu Jiho oppa mau mengatakan apa? Sepertinya…. Agak serius,” tanya Hana. Dan kalau tidak salah lihat, Minkyu memang mengetahui sesuatu tapi berusaha menyembunyikan hal itu darinya.

“Nanti juga dia akan memberitahumu, Na-ya. Sabar saja,” Minkyu kembali mengacak rambut gadis itu sebelum berdiri dari sisi tempat tidur, “Ayo makan siang dulu. Dan kalau kau tidak keberatan, kita akan jalan-jalan keluar setelahnya.”

Dengan senyum lebar di bibirnya, Hana membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan turun tergesa dari tempat tidur. Namun karena ia seorang yang ceroboh, kakinya malah terbentur pinggiran nakas dan membuatnya tubuhnya berguling ke lantai. Minkyu bergegas berjongkok di dekat Hana, dan melihat luka yang berwarna sedikit lebam di lutut kiri gadis itu.

Gwenchana?” tanya Minkyu khawatir.

“Aku sudah biasa terjatuh seperti ini, oppa. Gwenchana,” Hana tersenyum polos kemudian segera bangkit dari posisi –terjatuhnya. Ia melangkah cepat menuju pantry, tidak sabar untuk menyantap makan siangnya –karena memang perutnya terus berdemo sejak tadi.

Minkyu duduk berhadapan dengan gadis itu. Ia memperhatikan bagaimana cara Hana menghabiskan nasi goreng buatannya. Mereka baru saja dua bulan tidak bertemu, namun Minkyu merasa bahwa sudah sangat lama sekali tidak melihat wajah Hana. Ia tidak begitu mengingat wajah Hana ketika pulang ke Jerman karena rasa sakit yang masih mengganjal di dadanya.

“Na-ya. Apa laki-laki itu membuatmu menangis?”

“Uhuk. Uhuk.” Hana menepuk-nepuk dadanya, tersedak karena pertanyaan Minkyu. Ia meraih gelas air di dekatnya dan meminumnya sedikit. Hanya sekedar menurunkan makanan yang menyangkut di kerongkongannya.

“Dia tidak membuatmu meneteskan air mata ‘kan?” tanya Minkyu sekali lagi. Meyakinkan.

Dan Hana tidak tahu harus menjawab apa sebenarnya. Ia bukan seseorang yang pintar berbohong. Bisa dipastikan bahwa Minkyu mungkin bisa langsung mengetahui kebohongannya jika ia menjawab ‘tidak’. Karena pada kenyataannya, ia baru saja menangisi Kai kemarin. Sebelum ia melarikan diri ke Jerman, menjauhi Kai untuk sementara.

“Tidak juga. Aku menangis karena merindukannya, oppa. Apa itu termasuk?” pada akhirnya Hana lebih memilih untuk berbohong dan berharap Minkyu tidak menyadarinya.

Minkyu tersenyum ragu lalu menggeleng lemah. Hal seperti itu menandakan bahwa Hana sangat mencintai laki-laki itu. Membuatnya yakin bahwa tidak ada celah lagi untuknya memasuki kehidupan gadis itu untuk saat ini.

[After That Day End]

Ima’s note:

Holla holla haha maaf ya kainanya ngaret sangat T.T dan aku juga sedih kenapa ceritanya ancur banget begini .__. sebenernya pengen banget ngepost kaina, tapi berhubung gaada internet di asrama dan ehm ehm saya baru beli modem baru buat di asramaa yee hahaha jadinya gaperlu nunggu pulang dulu u.u daan karena aku juga gaada waktu buat ngetik sebenernya… maklum yang tertua, tugas kuliah juga seabreknya minta ampun u.u

# oke abaikan aja curhatan saya di atas hehe

Let’s comment guys ^^

Advertisements

66 thoughts on “[KaiNa Piece] After That Day

  1. byunbaek says:

    demi apapun ini sedih loh ga sedih juga deng pokonya gitu lah, ga nyangka jongin bakal diemin hana lama banget sampe berapa bulan gatau lupa tadi hehe..kira aku masalah mereka bakal terselesaikan cuma 1 hari tapi -,-… mpus lu jong hana di jerman kangen kangen lu

  2. Dean says:

    ini hana beneran di jerman jadinya terus kai ditinggalin sendiri.. yang sabar yah.. semoga cepet bertengkar lagi ehh salah semoga cepet baikan lagi.. aminn

    #

  3. handayaniwidya0 says:

    oke di sini marahnya kai udah mulai masuk ke titik ekstrem.
    abang kyungso ngena banget. emang si kai terlalu sering bersikap dingin ke hana.
    jadi penasaran apa yg mau Jiho omongin ke hana. moga aja bukan bad news ya.

  4. Khyunpawookie says:

    Kai msh blm mau bngun udh add Yunwoo trus Chi oppa nya msh blm mau bngun kaiiiiiii aduhhhh klo udh d rebut bru two dy…….
    Tp bdw mu apa yh jiho ngomong serius gtu jngan2 suru sekolah d jerman woahhhh jngan donkkkkkkkkk
    Apa mu d jodohin sma Minkyuk jngan jg beuhhhh bner2 menarik tiap chapnya hahahhhhaha

  5. Wulan says:

    Sama2 tersiksa…melunak sedikit donk jongin..demi hanna..heheheh….kyungsoo ush kaya soulmate y bgt lahh..ngerti bgt…

  6. Nona Novi says:

    Jongin sih terlalu dingin, sumvahh ini kok nyesekk bgt ya? Jonginnya jg gitu uda salah gg mau mnta maaf jg, tp emangg di butakan oleh cemburu sih makanya di balik ngambek sma dingin ke hana 😭😭😭, ahh molla aku ikutan nyesekk klo gini moga aja cepet baikan couple gesrek ini 😘😘😘

  7. rahsarah says:

    huhu jongin jahattt
    seharusnya jangan bersikap ngejauh gtu ke hanaaaa
    bener banget apa yg di katakan kyungsoo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s