[KaiNa Piece] Another Day

Title     : We’re One

Author : Ima (@bling0320)

Casts   : Kim Jongin (Kai), Lee Hana (@inhanaLee), EXO

Please Read Lee Hana’s profile, before read this story–

Enjoy ^^

© INDAYLee Staffs

[KaiNa Piece] Another Day

September 1st, 2012

11.30 AM KST

Chungdam Secondary High School

Hari pertama di bulan September. Udara musim gugur sudah mulai terasa bagi Hana yang tengah bersantai di halaman sekolahnya siang itu. Ia menyesap jus kaleng strawberry di tangannya seraya memandangi langit yang cukup terik. Begitulah kegiatan para murid di sekolahnya ketika jam istirahat tiba. Duduk di halaman sekolah atau menonton pertandingan basket antar kelas yang selalu diadakan di lapangan.

Hana merogoh saku almamater sekolahnya, memeriksa ponselnya yang tidak juga menerima satu pesan pun. Sudah seminggu terakhir ponselnya sepi dari pesan dan telepon. Tidak terkecuali kegiatan what’s app yang selalu dilakukannya bersama Nayeon dan Chanra. Sepertinya semua orang memang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Hana sadar bahwa sudah sangat lama sekali sejak terakhir kali ia bertemu dengan Kai. Hanya ketika ia meminta diajari Matematika oleh Suho, sekitar pertengahan bulan Agustus. Sebelum EXO benar-benar sibuk mengurus comeback mereka dan mengisi acara off air. Sudah dua minggu lebih, ia tidak bertemu dan mengobrol dengan Kai. Mereka hanya sekedar mengirim pesan-pesan singkat –yang bahkan tidak romantis sama sekali.

Baiklah. Hana mengaku bahwa ia merindukan sosok Kai. Biasanya Kai selalu mengunjunginya di malam hari, walaupun hanya untuk mengejeknya. Tapi hal itulah yang Hana rindukan sebenarnya.

Sebuah helaan napas panjang keluar dari bibir mungil gadis itu, “Kimjong~.”

Setelah berdiskusi dengan kedua eonninya –Nayeon dan Chanra, ia memutuskan untuk membuat nama panggilan lagi selain Kai dan kkamjong. Karena pasti orang mudah menebak nama itu. Mengingat bagaimana popularitas EXO sekarang. Apalagi Kai seorang visual yang pasti –hampir dikenal banyak orang.

Kimjong.

Bisa untuk Kim Jonghyun, Kim Jongin, Kim Jongwoon, dan sebagainya.

Salah satu nama yang bagus untuk menyamarkan nama laki-laki itu.

“Hana-ya.”

Hana menoleh ke belakang ketika merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang –yang ternyata ikut duduk di sebelahnya itu. Choi Yura. Teman wanita yang bisa dikatakan cukup dekat dengan Hana akhir-akhir ini.

Wae? Dimana yang lainnya?” tanya Hana heran seraya mencari sosok tiga wanita lain –yang selalu bersama Yura itu. Senyuman simpul tersungging di bibir Hana saat tidak melihat apapun di balik tubuh gadis itu.

“Mereka sedang makan siang di kantin. Karena aku tidak lapar, jadi aku mencarimu di sini,” jawab Yura dengan seulas senyum polos di bibirnya.

Hana mengangguk mengerti kemudian memasukkan kembali I-phonenya ke dalam saku almamater. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke depan. Bingung harus memulai pembicaraan apa dengan Yura. Karena sebenarnya ia sedang tidak mood berbicara dengan siapa pun.

Chagiya~.

Suara bernada manja –yang berasal dari Yura itu membuat Hana menoleh dengan cepat. Memperhatikan bagaimana Yura bersikap aegyo, padahal hanya lewat telepon saja. Sangat bisa ditebak, bahwa yang menelepon adalah kekasih gadis itu. Hana memutar bola matanya. Kesal.

Atau cemburu?

Entahlah.

“Ke dongdaemun? Hari ini? Aah, johtda!!” Yura terus memutar bagian ujung rambutnya, masih dengan nada manja pada seseorang di seberang teleponnya. Membuat Hana semakin merasa kesal.

Bogosipeo. Bogosipeo. Bogosipeo. Saranghae. Saranghae. Saranghae,” lanjut Yura lagi setelah cukup lama terdiam.

Tidak penting menurut Hana. Mengatakan hal itu secara berkali-kali dan membuatnya sedikit merasa geli. Jika ia dan Kai yang melakukan itu. Maka sepertinya kiamat sudah sangat dekat. Saling mengucap rindu? Bahkan ketika bertemu pun, mereka masih lebih suka bertengkar. Walaupun Kai sedikit bersikap romantis akhir-akhir ini.

“Hana-ya, kau sudah punya pacar?” tanya Yura tiba-tiba.

“Ap—apa?”

“Pacar. Kau tidak punya? Kalau kau mau, aku bisa mencarikannya untukmu,” Yura memasukkan ponselnya ke dalam saku almamater lalu memperhatikan gerak-gerik Hana yang terlihat gelisah.

“Err, tidak perlu. Aku bisa mencari sendiri,” balas Hana yakin. Ia tersenyum simpul pada Yura kemudian segera berdiri dari posisi duduknya, “Sudah mau bel. Aku ke kelas duluan, ya?”

Ya~, aku butuh teman, Hana-ya. Kenapa kau malah pergi?” tanya Yura tidak mengerti dengan kepala mendongak untuk bisa menatap Hana yang berdiri di dekatnya.

“Aku mau tidur sebentar,” Hana terkekeh pelan sebelum berjalan dengan cepat meninggalkan bagian halaman belakang sekolah.

Hana menghela napas panjang. Merasa berat karena harus berbohong pada Yura mengenai ‘statusnya’. Lagipula memang tidak mungkin ia mengatakan bahwa berpacaran dengan Kai. Kecuali jika ia mau dicap sebagai seorang fans fanatik karena mengaku sebagai kekasih laki-laki itu. Dan atau kecuali jika ia mau mendapat berbagai bully dan hinaan jika ketahuan berpacaran dengan laki-laki itu.

Berpacaran dengan seorang idola terkadang tidak seindah seperti apa yang berada di pikiran orang-orang.

***

02.00 PM KST

EXO K’s dormitory

Suara berisik muncul di area ruang tengah dorm siang itu. Baekhyun, Tao, dan Xiu Min terlihat tengah memandangi layar laptop dan bersorak bersamaan. Ketika melihat jumlah fans di fancafe mereka meningkat cukup drastis.

Wae?” Suho –yang merasa tidur siangnya terganggu itu akhirnya berjalan keluar kamar dengan kedua mata yang masih saling menempel satu sama lain. Berjalan dengan sedikit sempoyongan dan akhirnya berhasil mendarat di sofa –tepat di belakang ketiga member EXO itu.

Fans kita bertambah banyak, Jun Ma Hao,” balas Xiu Min bahagia. Dibalas anggukan semangat oleh Baekhyun dan Tao.

Jinjja?” tanya Suho tidak percaya lalu membuka kedua matanya sedikit lebih lebar untuk melihat layar laptop –milik Chanyeol itu.

Ne~, aku yakin fans kita akan semakin bertambah setiap hari,” jawab Tao dengan percaya diri.

“Dan mereka adalah fansku!!” sahut Baekhyun seraya mengancungkan ibu jarinya. Tapi kemudian ia meringis pelan karena pukulan pelan dari Xiu Min di kepala.

“Mereka fans kita, Byun Baekhyun,” Xiu Min menggelengkan kepala gemas saat menyadari sifat Baekhyun yang belum juga berubah itu. Selalu memiliki kepercayaan tinggi.

Tatapan Baekhyun segera tertuju pada pintu kamar lain yang terbuka. Memperhatikan sosok yang termasuk dalam line member tertinggi di EXO –yang tengah berjalan terseok menuju dapur. Kim Jongin. Hampir semua member –kecuali Baekhyun, Tao, dan Xiu Min sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing siang itu. Hanya hampir. Kris, dan Kyungsoo mengunjungi rumah kekasih mereka masing-masing. Luhan serta Sehun yang menjalani rutinitas mereka. Membeli bubble tea. Serta Chanyeol, Chen, dan Lay yang tengah tertidur di kamar

“Hari ini uri dongsaeng sekolah sampai jam 1 ‘kan, kkamjong?” tanya Tao tiba-tiba.

Kai membalikkan sedikit tubuhnya –tanpa melepaskan botol air minum dari mulutnya. Kedua pundaknya naik, menandakan bahwa ia tidak tahu-menahu tentang jam pulang Hana di hari Sabtu. Karena biasanya Hana selalu mengikuti kegiatan di sekolahnya lebih dulu.

“Tidak tahu? Eish, pacar macam apa kau ini,” sahut Xiu Min. Suho mengucek kedua matanya –lagi kemudian memperhatikan Kai yang terlihat tidak acuh dengan ucapan Xiu Min.

“Kau tidak takut Hana direbut orang lain?” tanya Suho tiba-tiba, membuat Kai tersedak air yang baru saja melewati kerongkongannya.

Mwoya. Tidak akan ada yang mau dengan gadis bodoh seperti Hana, hyung,” Kai menggelengkan kepalanya –ketika mengingat sikap Hana selama ini. Hanya ia saja yang bisa menanggulangi(?) sikap ceroboh dan kekanakkan gadis itu.

Jinjja? Aku juga mau kok, Jong— YA! Aish~, kepalaku,” ucapan Baekhyun terpotong saat sebuah sumpit kayu dari arah dapur mendarat tepat di kepalanya. Sepertinya virus iblis Nayeon sudah mulai menyebar ke seluruh penjuru dorm sekarang. (.__.)

Kai mendesis pelan seraya melangkah santai menuju sebuah sofa single yang bersebelahan dengan sofa lebar —yang tengah diduduki oleh Suho. Jika sudah menyangkut Hana, ia tidak akan main-main. Bahkan ketika harus melempar Baekhyun –hyungnya dengan sumpit kayu sekali pun.

Suara pintu terbuka disusul langkah cepat dari orang yang baru masuk itu, membuat kelima member EXO yang berada di ruang tengah itu sontak mengalihkan pandangannya. Memperhatikan Luhan dan Sehun yang masih mencoba mengatur napas mereka yang tersengal.

Ya~, kalian kenapa?” tanya Xiu Min heran. Luhan mengusap dadanya lalu menyikut Sehun –seolah memberi isyarat bahwa sang magnae itu yang harus menjelaskannya.

Sehun menarik napas panjang kemudian memasang ekspresi seriusnya seraya menatap Kai, “Kkamjong-ah. Uri dongsaeng.

Sebelah alis Kai terangkat. Menunggu ucapan Sehun yang terpotong dan menyangkut gadisnya itu.

“Dia—dia… Kami melihatnya makan bersama seseorang,” Sehun menjilat bibirnya sendiri setelah mengatakan itu. Menunggu reaksi Kai –yang ternyata tidak berubah sama sekali.

“Mungkin hanya teman sekolahnya, Sehuna,” balas Kai –dengan sebuah senyuman menenangkan di bibirnya.

“Tapi dia laki-laki.”

“Sudah kubilang mungkin— Mwoya?! Laki-laki?!”

***

02.00 PM KST

Hana meremas kuat kedua tangannya seraya menundukkan kepala. Tidak berani menatap seorang laki-laki –yang baru saja ditabrak dengan sepeda olehnya saat perjalanan pulang dari sekolah tadi. Sebagai konsekuensinya, ia harus menemani laki-laki itu makan siang. Semoga saja hanya makan siang. Tidak berlanjut ke hari-hari atau kejadian lainnya di masa depan.

“Hei. Kau sekolah di Chungdam?” tanya laki-laki itu, membuat Hana mengangkat kepalanya.

Dan well sebenarnya laki-laki di depannya cukup tampan juga setelah diperhatikan beberapa saat. Dengan rambut kecokelatan dan kedua bola mata berwarna hitam pekat. Tapi tetap tidak bisa mengalahkan ketampanan Kai-nya tentu saja.

Ne. Waeyo?” tanya Hana malas.

Laki-laki itu menyesap ice cappucchino miliknya sebelum kembali memperhatikan Hana, “Tanganku masih sakit karena sepedamu itu.”

“Iya, maaf. Sekarang kau mau apa lagi? Aku harus cepat pulang,” jawab Hana seraya melirik jam di pergelangan tangan kirinya dengan gelisah.

“Pulang? Kau masih harus tanggung jawab dengan tanganku ini, gadis bodoh.”

Kedua mata Hana membulat seketika. Gadis bodoh? Tidak ada yang pernah memanggilnya dengan seperti itu selain Kai. Dan entah kenapa hal itu terdengar aneh. Hanya suara dan nada bicara Kai yang cocok memanggilnya ‘gadis bodoh’. Bukan laki-laki lain.

“Aku tidak bodoh!” elak Hana cepat, “Dwaesseo! Tanganmu tidak patah ‘kan? Aku akan tetap pulang sekarang.”

Hana berdiri dari kursi dengan cepat kemudian melangkah lebar keluar café. Memundurkan sepeda –pinjamannya yang diparkir di depan café lalu menggiringnya di trotoar. Ia sudah tidak peduli lagi dengan laki-laki –yang bahkan belum dikenalnya itu.

“YA!”

Tubuh Hana sedikit terpelanting dan sepeda yang dipegangnya terjatuh begitu saja ketika pundaknya ditarik –dengan sedikit kasar oleh laki-laki itu. Ia meringis pelan lalu menepis tangan laki-laki –yang ternyata lebih tinggi dari Kai itu.

“Jangan menarikku kenapa sih?” protes gadis itu dengan nada sedikit tinggi. Membuat perhatian orang-orang yang berlalu-lalang tertuju pada mereka –Hana dan laki-laki itu.

“Kau mau lari dari tanggung jawab hah? Bagaimana kalau tanganku retak? Atau ada yang bergeser dari tempatnya?” ucap laki-laki itu dengan sedikit membentak seraya berkacak pinggang.

“Dengar ya laki-laki yang jauh lebih bodoh dari—.”

“Namaku Yunwoo, gadis bodoh!”

“Aku juga bukan gadis bodoh! Cish~,” Hana meraih sepedanya yang masih terguling di trotoar kemudian menatap laki-laki yang mengaku bernama Yunwoo itu dengan gemas, “Kalau terjadi sesuatu dengan tanganmu, kau bisa mencariku di Chungdam dengan nama Lee Hana. Puas? Sekarang aku harus pulang.”

Hana tidak menghiraukan apa yang dilakukan laki-laki itu lagi kemudian mengayuh sepedanya meninggalkan pelataran café di daerah Dongdaemun itu. Sebuah kerutan muncul di keningnya. Dongdaemun? Berarti ia menabrak orang itu di daerah Dongdaemun juga bukan? Dari Chungdam ke Dongdaemun. Rasanya sangat bertolak belakang. Ia benar-benar sedang melamun saat mengendarai sepeda tadi.

Dan semua itu karena sosok laki-laki yang terus mengganggu pikirannya seharian. Sosok Kim Jongin.

***

03.00 PM KST

Tidak terdengar nada sambung sama sekali, walaupun Kai sudah berkali-kali menghubungi nomor ponsel Hana. Sejak Luhan dan Sehun memberitahunya bahwa Hana tengah makan siang dengan seorang laki-laki, ia terus mencoba menelepon ponsel gadisnya. Tapi bukan seorang Lee Hana, jika gadis itu tidak lupa mencharge baterai ponselnya semalam.

Kai –yang tengah bersandar pada pintu apartemen Hana itu segera menegakkan posisi berdirinya ketika melihat sosok wanita yang ditunggunya itu berjalan dengan lesu. Ia memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku kemudian berjalan menghampiri Hana. Hingga kemudian langkah Hana tiba-tiba terhenti ketika tatapan mereka bertemu.

Dan rasanya ada energi lain yang mengaliri tubuh Kai saat bisa melihat wajah gadis itu lagi. Setelah kesibukannya sangat menyita waktu sejak dua minggu yang lalu, sampai ia bahkan tidak bisa mengunjungi apartemen gadisnya.

“Kau disini?” tanya Hana dengan nada pelan seraya berjalan menuju pintu apartemennya. Terlihat sangat tidak bersemangat.

Kai mengerutkan keningnya saat tidak melihat ekspresi senang di wajah Hana, padahal mereka baru bertemu lagi setelah waktu yang cukup lama.

“Kau harus ikut denganku sekarang,” seru Kai tiba-tiba lalu menarik tangan Hana menjauhi pintu. Menyeret gadis itu menuju lift –yang akan membawa mereka ke lantai dimana dorm EXO-K berada.

“Ya~, Kim Jongin,” protes Hana. Tidak berteriak dan tidak berusaha melepaskan tarikan tangan kekasihnya.

Kai bergegas menarik tangan Hana memasuki dorm EXO-K ketika baru saja membuka pintu. Ia menarik tangan gadisnya memasuki ruang tengah dan menyuruh Hana untuk segera melepaskan tas ransel sekolahnya.

Wae? Aku lelah, kkamjong,” Hana mendesah napas pelan seraya memperhatikan keadaan dorm yang sangat sepi. Tidak seperti biasanya.

“Kau harus membantuku membereskan dorm hari ini, Han-ah,” jawab Kai santai, melipat kedua tangan di depan dada dan tersenyum lebar pada Hana. Salah satu alasan untuk berdua bersama gadis itu saja seharian –untuk melepas semua rasa rindunya, walaupun harus dengan membersihkan dorm.

“Kenapa? Kau kalah lagi, ya?” tanya Hana, sedikit bernada mengejek.

Aish~. Ne, aku kalah lagi. Puas?” tanya Kai, merasa malu juga karena gelar ‘tak terkalahkannya’ harus hilang. Padahal ia tidak benar-benar kalah dan memilih untuk kalah saja agar bisa membersihkan dorm bersama gadisnya. Oh atau memang ia sedang tidak beruntung karena terkalahkan oleh para hyung dan dongsaengnya hari itu. (.__.)

“Baiklah. Karena aku baik hati hari ini, aku akan membantumu membereskan dorm, kkamjong-ah,” balas Hana seraya menepuk kedua pundak Kai, masih tidak bisa menyembunyikan senyum mengejek di bibirnya.

Kai memutar bola matanya lalu segera menurunkan tangan Hana dari kedua pundaknya, “Jangan mengejekku terus, Lee Hana. Lepas dulu almamaternya, kita bersihkan kamarku.”

Hana mengangguk patuh. Melepaskan tas ransel dan almamater sekolahnya, menggulung lengan kemejanya hingga siku lalu mengikuti langkah Kai menuju sebuah pintu yang bertuliskan nama Kai dan Kyungsoo di depannya. Menandakan bahwa pintu bercat abu-abu tua itu adalah milik keduanya.

Aigoo~,” Hana bergumam pelan saat melangkah memasuki kamar kekasihnya. Ia tahu bahwa Kyungsoo sangat suka kebersihan dan tidak mungkin membiarkan kamar mereka –Kai dan Kyungsoo sangat berantakan dengan buku-buku, majalah, dan beberapa CD musik yang berceceran di atas karpet.

Mungkin karena sangat sibuk, Kyungsoo bahkan tidak sempat membereskannya.

“Kyungsoo oppa kemana?” tanya Hana, masih dengan posisi berdiri di depan pintu. Memperhatikan Kai yang tengah memunguti buku dan majalah yang berantakan di atas karpet itu.

“Dia pergi ke rumah Nayeon, mungkin. Wae?

“Apa kalian sesibuk itu, sampai Kyungsoo oppa tidak sempat membereskan kamar?”

Pertanyaan Hana membuat tangan Kai terhenti di udara. Well, sebenarnya kamarnya dan Kyungsoo tidak pernah berantakan –seperti apa yang sudah di deskripsikan Hana saat itu. Kyungsoo memang sengaja mengacak-acak kamar mereka setelah Kai kalah dalam permainan ‘rock, paper, scissors’ tadi. Hanya kamar mereka saja, tidak dengan kamar Suho-Sehun ataupun Baekhyun-Chanyeol. Karena dengan hal itu, waktunya bersama Hana akan semakin banyak.

“Kenapa bertanya? Kau tahu alasannya ‘kan, Lee Hana?” jawab Kai akhirnya, setelah berpikir cukup keras mengenai alasan yang akan dilontarkan.

“Ah, jinjja? Kalian sangat sibuk, ya?” Hana melangkahkan kakinya memasuki kamar Kai, lalu duduk di sisi tempat tidur. Untuk kesekian kalinya –dan masih bisa dihitung dengan jari, ia memasuki kamar kekasihnya. Dan entah kenapa rasanya ia merasa sangat bahagia karena bisa memasuki daerah yang terkadang menjadi sebuah privasi bagi sang pemiliknya. Tidak sembarangan orang bisa memasuki kamar itu, kecuali seseorang yang special bukan?

“Hei, kenapa diam? Ayo bantu aku,” gerutu Kai, dengan beberapa tumpukan Compact Disk di tangannya.

“Iya iya. Aku mau istirahat dulu sebentar, Kim Jongin,” balas Hana seraya mengerucutkan bibir kesal.

“Istirahat apa? Member lain sebentar lagi pulang, Han-ah. Ayo cepat bantu,” pada akhirnya Kai menarik paksa tangan Hana untuk segera berdiri dari tempat tidurnya. Tidak peduli ketika gadis itu memasang wajah aegyo agar ia tidak menyuruh membersihkan kamar itu.

“Aku bereskan kamar lain, ya? Biar lebih cepat,” tawar Hana, dengan tangan kanan yang masih ditarik oleh laki-laki itu.

Kai menghentikan tarikan tangannya kemudian menggeleng cepat, “Anhi. Kau bantu aku dulu di sini, arachi?”

“Tapi itu ‘kan lebih efisien, Jongin. Jadi kita bisa selesai sebelum oppadeul datang,” Hana melebarkan senyum polosnya, namun tetap dibalas sebuah gelengan oleh Kai.

“Aku yakin kau akan tidur di kamar Joonmyun hyung, bukan membereskan kamarnya.”

Bingo.

Ucapan Kai tepat sekali dengan pikiran Hana sebenarnya. Gadis itu baru saja berpikir untuk sedikit bersantai di kamar Suho. Tapi Kai terlalu pintar untuk dibodohi oleh gadis bodoh seperti dirinya bukan?

“Ayo bereskan meja belajarku,” titah Kai dengan kedua tangan mendorong Hana menuju sebuah meja belajar bercat putih di sudut kamar.

Pada akhirnya Hana ikut membereskan ruangan itu bersama Kai.

Kai tersenyum lebar ketika melihat punggung gadisnya yang terlihat lesu dan tidak bersemangat membereskan buku-buku yang berantakan di atas meja belajar itu. Yang terpenting baginya adalah, bisa mendapati Hana dalam jarak pandangnya. Berminggu-minggu tidak bertemu, rasanya ia sangat ingin memeluk gadis itu saja seharian. Membunuh rasa panas di dalam hatinya karena mendengar ucapan Sehun –mengenai Hana yang tengah makan siang bersama seorang laki-laki itu.

Tapi itu sangat tidak sesuai dengan gaya –dan gengsinya tentu saja.

Dan Hana harus sering-sering menarik napas untuk menormalkan detak jantungnya yang berdegup cepat. Menyadari ia berada di kamar kekasihnya dan hanya berdua saja bersama laki-laki itu. Orang-orang pasti tahu apa yang mungkin akan ‘terjadi’ ketika pria dan wanita berada di dalam satu kamar. Namun entah kenapa, Hana sangat yakin bahwa Kai tidak mungkin melakukan hal seperti itu padanya. Kai pasti akan melindunginya sebagai seorang wanita.

“Han-ah,” panggilan yang bersamaan dengan sebuah tepukan pelan di pundak, membuat Hana memekik kaget. Gadis itu segera membalikkan tubuhnya seraya mengacungkan sebuah penggaris —yang ia temukan di atas meja belajar tadi ke depan wajah kekasihnya.

“Hya! Kau mau apa?” tanya Hana penuh selidik. Masih merasa takut dengan apa yang sempat berada di pikirannya tadi, “Jangan menyentuhku!”

Sedetik kemudian suara tawa membahana di dalam kamar yang berukuran tidak cukup besar itu. Kedua mata Kai semakin menyipit, sebelah tangannya memegangi perut yang mulai terasa sakit karena tertawa terlalu keras. Apa yang berada di pikiran gadisnya tadi? Apa Hana baru saja berpikir bahwa ia akan melakukan ‘sesuatu’? Demi apapun, ia bahkan hanya akan menyuruh gadis itu untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.

“Kenapa tertawa, Kim Jongin?!” tanya Hana gemas, melihat Kai yang terus tertawa. Padahal tidak ada yang lucu menurutnya. Ia tetap harus merasa was-was, bukan?

“Dasar bodoh!” umpat Kai di sela-sela tawanya lalu mengacak rambut gadis itu, “Kau tetap saja Lee Hana bodoh yang polos, hah? Memangnya kau pikir aku mau apa?”

“Aku ‘kan hanya jaga-jaga,” cibir Hana seraya membetulkan rambutnya yang berantakan.

“Ya~, aku juga akan berpikir dua kali untuk melakukan hal ‘seperti apa yang kau pikirkan’, Lee Hana. Memangnya tubuhmu sebagus apa?” tanya Kai –tanpa nada bersalah sama sekali.

Hana membulatkan kedua matanya kemudian segera mencubit lengan atas Kai dengan sangat keras. Tidak peduli ketika Kai sudah memekik keras karena cubitannya.

“Kau menyebalkan! Aku pulang sekarang!” Hana mendengus kesal kemudian berjalan cepat keluar dari kamar kekasihnya. Ia membereskan almamater dan tas sekolahnya di sofa ruang tengah lalu melangkah menuju pintu depan.

Namun kemudian langkahnya terhenti ketika Kai menahan pergelangan tangannya. Ia berbalik –tanpa mengubah ekspresi kesalnya, memandang Kai yang menatap lurus ke arahnya.

“Kenapa?!” tanya Hana ketus. Kai menahan senyumnya, ia melepaskan tangan Hana yang masih berada di genggamannya lalu segera beralih memeluk gadis itu dengan sebelah tangannya. Membuat Hana –lagi-lagi diam membeku untuk yang kesekian kalinya karena pelukan laki-laki itu.

“Bohong kalau aku bilang tidak merindukanmu, Han-ah. Jangan marah, ne?” tanya Kai dengan tangan mengusap bagian belakang kepala Hana.

Molla,” jawab Hana singkat. Masih merasa kesal.

Kai terkekeh pelan dan baru saja akan membalas ucapan Hana ketika melihat pintu depan dorm terbuka. Disusul suara-suara ribut –yang mungkin berasal dari para member EXO. Karena memang mereka berencana untuk menonton film bersama-sama di malam hari. Hingga kemudian suara ribut itu berubah menjadi hening seketika.

Kai bahkan baru sadar bahwa ia masih memeluk Hana –dan tatapan sebelas orang laki-laki yang baru memasuki dorm itu tertuju ke arah mereka. Ke arah Kai dan Hana yang masih setengah berpelukan.

“UWAA!!” teriak Sehun, Baekhyun, dan Chanyeol heboh.

“Astaga! Park Chanyeol, cepat foto pemandangan langka ini!” titah Chen, ikut-ikutan heboh bersama yang lainnya.

“Joon Myun, hyung!! Akhirnya mereka berpelukan!”

***

05.30 PM KST

Luhan tidak bisa menyembunyikan senyum gelinya ketika melihat gerak-gerik Hana maupun Kai yang selalu salah tingkah. Setelah ketahuan berpelukan tadi, tidak ada interaksi apapun antara kedua pasangan kekasih itu. Kai yang sibuk menonton TV di ruang tengah, sementara Hana yang sibuk mengerjakan tugas di meja makan. Luhan sendiri tengah duduk di hadapan Hana saat itu, memperhatikan bagaimana ekspresi adik perempuannya yang pura-pura serius pada buku Matematika di depannya.

Uri dongsaeng-ah, jangan memaksakan diri,” gumam Luhan akhirnya, karena merasa tidak tahan dengan Hana yang terus-terusan menghela napas panjang karena tidak bisa mengerjakan soal-soal Matematika di bukunya.

Eoh?” tanya Hana heran.

“Kau tidak fokus ‘kan?” tebak Luhan seraya tersenyum lebar.

“Ah, anhi. Aku hanya bingung cara mengerjakannya,” elak Hana dengan sebuah senyuman polos di bibirnya.

“Tapi selama dua jam kau terus terpaku pada soal itu, Hana-ya,” Luhan menggelengkan kepalanya. Pertanda bahwa ia merasa bingung dengan tingkah gadis itu.

Jinjja? Sudah dua jam?” tanya Hana tidak percaya seraya berbalik, melihat jam dinding di ruang tengah. Namun matanya malah tidak sengaja menangkap sosok Kai yang tengah tertidur dengan posisi duduk di sofa. Terlihat sangat kelelahan.

“Luhan oppa,” panggil Hana, setelah kembali berhadapan dengan laki-laki berambut cokelat keemasan itu. Dibalas sebuah senyum simpul oleh laki-laki itu.

“Apa kalian sangat sibuk akhir-akhir ini?” tanya gadis itu lagi, bernada pelan. Percakapan di antara keduanya saja.

“Kami hanya sibuk rekaman dan latihan dance, Hana-ya. Wae?”

Hanya?

Terkadang Hana merasa heran dengan ke dua belas laki-laki yang tergabung dalam EXO itu. Ia sudah tahu bagaimana sulitnya melewati masa-masa trainee untuk menjadi terkenal seperti sekarang. Latihan bernyanyi selama 7 jam per hari, atau latihan dance dari pagi, hingga hampir pagi lagi. Dan sekarang saat sedang menyiapkan album baru, ia yakin latihan yang dilewati para member EXO tidak berbeda jauh dari saat mereka yang akan debut beberapa bulan lalu.

“Latihan dari pagi hingga pagi lagi?” tanya Hana akhirnya.

Dan Luhan menjawab dengan sebuah anggukan, tanpa menghilangkan senyum simpulnya.

“Itu memang kewajiban kami, Hana-ya. Kau tidak perlu khawatir,” jawab Luhan, dengan kedua mata berbinarnya.

“Tapi kesehatan kalian jauh lebih penting dari apapun, oppa.”

“Kalau pun sakit, kami semua tidak akan memaksakan diri. Gomawoyo uri dongsaeng,” senyuman Luhan yang semakin lebar dan kedua mata indahnya yang semakin menyipit, membuat hati Hana sedikit lega.

Setidaknya ia tahu bahwa Kai mungkin akan melewati semuanya dengan baik-baik saja.

“Ya! Kim Jongin, ayo bangun. Tugasmu belum selesai,” suara bernada intimidasi dari Kyungsoo itu membuat Hana sedikit membalikkan tubuhnya. Melihat bagaimana sang lead vocal EXO-K itu menggoyangkan pundak sang visual.

Hyung~, aku masih mau tidur,” rengek Kai masih dengan kedua mata saling terpejam.

Mollayo…. Kau harus beli makan malam untuk kami semua. Ayo bangun,” Kyungsoo menarik kedua tangan Kai dengan sekuat tenaga, berusaha membuat laki-laki itu bangkit berdiri dari sofa. Tapi sepertinya tubuh mungilnya tidak mampu melakukan itu. (.__.)

“Kyungsoo oppa. Aku saja yang beli makanannya,” ujar Hana, menawarkan diri. Membuat Kyungsoo menoleh –begitu juga dengan Kai yang langsung membuka kedua matanya dan melihat pemilik suara cempreng itu.

Kyungsoo melepaskan kedua tangannya dari Kai seraya tersenyum, “Jinjja? Waah, kau pacar yang baik, Hana-ya.”

Hana beringsut dari duduknya kemudian mengambil mantel milik salah satu member EXO –mungkin yang tergeletak di sandaran kursi meja makan. Ia memakainya secara asal lalu melangkah keluar dorm. Sementara semua tatapan member EXO kini terarah pada Kai yang tengah bersiap untuk tidur kembali.

“Aku yakin kau tidak akan membiarkannya jalan sendirian, Kim Jongin,” ujar Xiu Min –yang kebetulan duduk di sebelah Kai saat itu.

“Kecuali kalau kau tidak berperasaan karena membiarkan Hana membayar dan membawa makan malam kami semua,” timpal Kris.

Kai mengacak rambutnya frustasi lalu segera bangkit dari sofa. Mengambil jaket berwarna merah miliknya dan topi –pemberian Hana dari dalam kamar lalu berjalan cepat mengejar Hana yang mungkin sudah memasuki lift menuju lantai bawah.

***

Hana merapatkan mantel berwarna cokelat yang dipakainya ketika melangkah keluar lobi gedung apartemen. Ia mengitarkan pandangannya ke kanan-kiri, memilih jalan untuk mencari makanan bagi para member EXO itu. Akhirnya Hana memutuskan berjalan ke kanan. Ia hanya akan membeli lauknya saja dan menyuruh Kyungsoo untuk membuat nasi di dorm.

“Lee Hana!” langkah Hana terhenti lalu segera membalikkan tubuhnya. Kedua matanya menyipit, mencoba melihat sosok laki-laki berjaket merah dan bertopi yang berlari ke arahnya. Sedetik kemudian Hana menghela napas panjang. Ternyata Kai masih berperasaan juga untuk menemaninya membeli makanan.

“Kukira kau masih mau tidur,” gumam Hana, setengah mengejek ketika mereka –Kai dan Hana sudah berjalan beriringan.

“Lalu membiarkan gadis bodoh, polos, dan ceroboh sepertimu keluar sendirian?” lanjut Kai, balas mengejek.

“Mulai lagi ‘kan? Pulang saja sana, aku bisa pergi sendirian,” Hana baru saja akan mempercepat langkahnya ketika bahunya menabrak seseorang hingga tubuhnya sedikit terpelanting ke belakang. Namun Kai sudah lebih dulu menahan lengannya, membuat ia tidak jadi merasakan kerasnya trotoar.

Kai mendecak pelan seraya membantu Hana kembali berdiri, “Sudah tahu ceroboh, masih mau mengelak.”

Mulut Hana yang sudah terbuka untuk membalas ucapan Kai itu tiba-tiba tertutup kembali. Ketika tangan kirinya merasakan sesuatu yang hangat karena genggaman laki-laki di sebelahnya. Dalam seumur hidupnya dan demi apapun, Kai tengah menggenggam tangannya sekarang. Terasa hangat bahkan sampai ke wajahnya sendiri.

“Err, kkamjong. Tanganku… Kau—.”

“Aah, jinjja. Kita harus beli makanan dimana?” ucap Kai, memotong ucapan Hana sekaligus mengalihkan pembicaraan.

Hana memalingkan wajah ke depan lalu mengulum senyumnya. Tidak bisa menahan geli pada tingkah Kai. Laki-laki itu selalu pura-pura tidak peduli, padahal mengkhawatirkannya setengah mati.

“Ini pertama kalinya kita jalan berdua, Jongin-ah. Kau sadar tidak?” tanya Hana, kembali membuka pembicaraan ketika mereka masih berjalan di antara lalu-lalang orang-orang. Ada sebersit rasa khawatir di dalam diri Hana mengenai identitas Kai sebenarnya. Jika tahu seorang artis rookie sudah mempunyai seorang kekasih dan berjalan bersama di luar, nyawanya mungkin tidak akan selamat.

“Kita butuh hiburan seperti ini, tahu? Jalan-jalan berdua di luar, tidak di apartemen terus,” Kai menolehkan kepalanya dan tersenyum lebar pada Hana. Hana balas tersenyum lalu memasukkan genggaman tangan mereka ke dalam saku mantelnya.

“Aku baru sadar, ternyata kau cukup tinggi juga,” ujar Hana kemudian terkekeh pelan melihat ekspresi kaget Kai.

“Atau mungkin kau yang terlalu pendek.”

“YA! Tinggiku 166 senti, tahu? Tidak pendek,” protes Hana.

Kai menarik tangan mereka keluar dari mantel Hana kemudian semakin mengeratkan genggaman tangan itu, “Araseo. Kau cukup tinggi juga.”

“Itu termasuk tinggi di—.”

“Kita beli di sini saja,” potong Kai seraya menarik tangan Hana memasuki sebuah kedai makanan Korea. Membuat Hana lagi-lagi harus meneguk ludah kesal karena ucapannya terpotong.

“Kau tunggu di meja. Aku pesan makanannya,” titah Kai, melepaskan genggaman tangan mereka –dengan sedikit tidak rela. Hana mengangguk patuh lalu mengambil tempat duduk di dekat jendela.

Hana merogoh saku mantelnya, mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Kyungsoo agar membuat nasi. Ia baru saja akan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku mantel ketika pergelangan tangannya di pegang oleh seseorang. Hana mendongak dengan cepat kemudian memekik pelan saat melihat sosok laki-laki yang sama dengan laki-laki –yang ditabrak olehnya tadi siang.

“Kita bertemu lagi di sini, Lee Hana-ssi,” ujar laki-laki itu seraya tersenyum lebar. Memamerkan eye smile yang cukup menarik sebenarnya.

“Ya~, lepaskan tanganku,” balas Hana, menarik tangannya dari laki-laki bernama Yunwoo itu.

“Jangan coba kabur dariku, ne? Besok aku mau ke dokter, memeriksa tulang-tulang di tanganku yang kau tabrak tadi siang,” Yunwoo menyeringai pelan, ia menepuk puncak kepala Hana kemudian berjalan santai keluar dari kedai itu.

Meninggalkan Hana yang masih terpaku di tempatnya. Laki-laki lain yang berani menepuk kepalanya selain para member EXO dan Taemin.

“Dia temanmu, Han-ah?” suara bernada berat dan menyeramkan itu membuat Hana berbalik.

Eoh?”

“Kalian terlihat mesra.”

[KaiNa Piece] Another Day End

Ima’s Note :

Aduuh maaf banget postnya sangat ngareet~

biasanya dua minggu sekali ada cerita KaiNa, tapi ini ngga sama sekali

maaf ya.. ternyata kuliah emang sibuk banget T.T

Daan, besok aku UTS hari pertama di kuliah teman-teman

doakan aku yaa. Kalau lancar, aku post KaiNa nya cepet deeh hoho

gomawoyo~

Advertisements

67 thoughts on “[KaiNa Piece] Another Day

  1. byunbaek says:

    yunwo ngeselin ya minta tanggung jawabnya -_- enak banget ya jadi hana diperhatiin semua member. eh ini ot12 jadi kangeng huhuuu… yunwo dateng lagii sebenernya disaat yg ga tepat sih tp menurut aku tepat hahaha abis ada kaii.. kai mulai cemburu ehemehem

  2. Dean says:

    kai cemburu nihh yee.. udah tenang aja hana cintanya cuma sama abang dkang koq.. lagi itu si yunwo kyaknya suka deh sama hana, menyingkir sana hana udah punya pacar tau..

  3. Khyunpawookie says:

    Bingung sma Kai y gk mu nanya sma hal2 y dy liat ky kmrn hana mkan sma laki2 kata sehun luhan tp dy gk konfirmasi ???? Jd sbnernya dy msh syang ap gk gtu yh?????
    Syang lah ahhahaha pst itu mah aq yakin cma yh gengsi wkwkwkwkw
    Heiiiii klo dpkir2 y sering hebih krna Kaina mlai suka nunjukin skinskip trio Chanyeol, baekhyun, sma Sehun selalu mrka y pling berkooar besar hahahahahha tp iya seh bisa meluk ajj perubahan besar hahhaha kapan kira2 ciumn nya wkwkwkwkwk mode eroe mlem2

  4. Nona Novi says:

    Ciee yang pelukan, cie yang salting , cie yang jalan bareng , cie yang cemburuu, ahhh couple ini bner* bikin aku ngiri 😭😭😂😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s